Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 2
JIMIN POV
Ombak yang menerjang pantai biasanya menenangkanku. Aku sudah terbiasa duduk di dek ini mengamati air sejak aku masih kecil. Ini selalu membantuku menemukan sisi pandang yang lebih baik dalam banyak hal. Namun itu tidak berpengaruh lagi untukku. Rumah sudah kosong. Ibuku dan... pria yang kuingin agar ia terbakar selamanya di neraka sudah pergi, segera setelah aku kembali dari Daegu tiga minggu yang lalu.
Aku marah, rusak, dan liar. Setelah mengancam nyawa pria yang dinikahi ibuku itu, aku mendesak mereka untuk segera pergi. Aku tidak ingin melihat salah satu dari mereka. Aku harus menelepon ibuku dan bicara dengannya tapi aku belum mampu memberanikan diri untuk melakukan itu. Memaafkan ibuku lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan. Taehyung, adikku, mampir beberapa kali dan meminta aku agar bicara dengannya.
Ini bukanlah kesalahan Taehyung tapi aku juga tidak bisa bicara dengannya tentang hal ini. Dia mengingatkanku tentang sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang pernah hampir aku miliki. Sesuatu yang aku tak pernah berharap bisa menemukannya. Ada gedoran keras berasal dari dalam rumah dan membuyarkan lamunanku.
Berbalik, aku menoleh dan menyadari ada orang di depan pintu ketika bel pintu berdering diikuti dengan suara ketukan lagi. Siapa itu? Tidak ada yang datang kesini lagi kecuali adikku dan Hoseok sejak Yoongi pergi. Aku meletakkan bir di atas meja sampingku dan berdiri. Siapapun itu, mereka harus punya alasan yang benar- benar kuat mengenai kedatangan mereka ke sini tanpa diundang. Aku berjalan melintasi rumah yang tetap bersih sejak kunjungan terakhir Kim Ahjumma, pembantu rumah ini.
Dengan tidak adanya pesta-pesta atau kehidupan sosial maka menjadi lebih mudah untuk menjaga segala benda dari kerusakan. Aku menyadari bahwa aku jauh lebih suka keadaan seperti ini. Ketukan terdengar lagi ketika aku sampai di pintu depan dan aku menyentaknya hingga terbuka, bersiap untuk memberitahu siapa pun itu agar segera pergi namun tak sepatah katapun sanggup keluar dari mulutku.
Dia bukan seseorang yang kuharap bisa kulihat lagi. Aku hanya bertemu pria itu sekali dan aku langsung membencinya. Sekarang dia ada di sini, aku ingin meraih bahunya dan mengguncangnya sampai ia menceritakan bagaimana keadaan Yoongi. Apakah dia baik-baik saja. Di mana dia tinggal? Oh Tuhan, aku berharap Yoongi tidak tinggal bersamanya. Bagaimana jika dia telah... tidak, tidak, tidak, itu tidak mungkin terjadi. Dia tidak akan mau. Bukan Yoongi-ku. Tanganku mengepal erat membentuk tinju di sisi tubuhku.
"Aku perlu tahu satu hal," Zhoumi, pria dari masa lalu Yoongi, berkata saat aku menatapnya dengan pandangan tak percaya dan kebingungan.
"Apakah kau," ia berhenti dan menelan ludah.
"Apakah kau... meniduri…" dia melepas topinya dan mengusap rambutnya.
Aku melihat lingkaran hitam di bawah matanya dan ekspresi lelah di wajahnya. Jantungku seakan berhenti. Aku meraih lengan atasnya dan menggoncang tubuhnya.
"Di mana Yoongi? Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja... Maksudku, dia tidak dalam masalah. Lepaskan aku sebelum kau mematahkan lenganku," bentak Zhoumi, menyentak lengannya menjauh dariku.
"Yoongi masih hidup dan sehat di Daegu. Itu bukan alasan kenapa aku ada di sini."
Lalu kenapa dia ada di sini? Kami hanya punya satu keterkaitan. Min Yoongi.
"Ketika dia meninggalkan Daegu ia pria yang polos. Sangat polos. Aku pacar satu-satunya. Aku tahu betapa polosnya dia. Kami sudah bersahabat sejak kami masih kecil. Yoongi yang pulang bukan pria yang sama saat dia pergi. Dia tidak bicara soal itu. Dia tidak mau bicara soal itu. Aku hanya perlu tahu apakah kau dan dia... apakah kalian... Aku hanya akan mengatakan ini sekali, apa kau pernah menidurinya?"
Pandanganku kabur saat aku bergerak tanpa memikirkan yang lain kecuali membunuhnya. Dia telah melewati batas. Dia tidak boleh bicara tentang Yoongi seperti itu. Dia tidak boleh mengajukan pertanyaan semacam itu atau meragukan kepolosannya. Yoongi masih polos, dasar sialan. Dia tidak punya hak.
"Astaga! Jimin, bro, turunkan dia!"
Suara Hoseok berteriak padaku. Aku mendengar suaranya tapi seakan begitu jauh dan terdengar seperti di dalam terowongan. Aku terfokus pada orang di depanku saat kepalan tanganku mengenai wajahnya dan darah menyembur dari hidungnya. Dia berdarah. Aku butuh dia berdarah. Aku butuh seseorang untuk berdarah. Dua lengan melilit lenganku dari belakang dan menarikku menjauh saat Zhoumi terhuyung mundur memegangi hidungnya dengan tatapan panik di matanya. Ya, salah satu matanya. Mata yang lain sudah bengkak dan tertutup.
"Sebenarnya apa yang kau katakan padanya?"
Tanya Hoseok dari belakangku. Ternyata Hoseok yang telah melilitku.
"Jangan kau katakan!"
Bentakku saat Zhoumi membuka mulutnya untuk menjawab. Aku tidak mau mendengar dia bicara tentang Yoongi seperti itu. Apa yang kami lakukan memang lebih dari sekedar sesuatu yang kotor atau salah. Dia bertingkah seolah aku telah menghancurkan Yoongi. Yoongi masih polos. Luar biasa polos. Apa yang telah aku lakukan tidak pernah mengubah hal itu. Lengan Hoseok mengencang di tubuhku saat ia menarikku ke dadanya.
"Kau harus pergi sekarang. Aku hanya bisa menahannya untuk sementara waktu. Dia punya otot sepuluh kilo lebih banyak dibanding denganku dan ini tidak semudah seperti yang terlihat. Kau harus lari, bung. Jangan kembali. Kau beruntung karena aku muncul."
Zhoumi mengangguk, dengan terhuyung kembali ke mobilnya. Kemarahan sedikit mereda dalam pembuluh darahku tapi aku masih merasakannya. Aku ingin lebih menyakitinya. Untuk mencuci bersih pikiran apapun yang mungkin dia miliki di kepalanya bahwa Yoongi tidak sesempurna seperti saat ia meninggalkan Daegu. Dia tak tahu apa saja yang telah Yoongi lalui. Penderitaan yang telah dia lalui karena keluargaku. Bagaimana dia bisa merawat Yoongi? Yoongi membutuhkanku. Aku membutuhkannya.
"Kalau aku melepaskanmu apa kau akan mengejar mobilnya atau kita berdua sudah tenang?" tanya Hoseok mulai melonggarkan cengkeramannya pada tubuhku.
"Aku sudah tenang," aku meyakinkannya saat aku membebaskan diri dari kungkungannya dan menghampiri pagar untuk berpegangan, lalu menarik nafas dalam-dalam.
Rasa sakit itu kembali dengan kekuatan penuh. Aku telah berhasil mengubur rasa itu hingga hanya terasa berupa denyutan samar, tapi melihat si pengecut itu, membuatku mengingat segalanya. Malam itu. Malam yang tak akan pernah bisa kupulihkan ke asalnya. Malam yang telah dan akan membekas dalam diriku untuk selamanya.
"Bisakah aku bertanya padamu sebenarnya apa yang terjadi atau kau juga akan menghajarku?" tanya Hoseok sambil menjaga jarak di antara kami.
Bagaimanapun dia adalah saudaraku, di atas semua kepentingan dan tujuan yang melatar belakanginya. Orangtua kami dulu pernah menikah ketika kami masih kecil. Pernikahan yang cukup lama bagi kami untuk membentuk ikatan itu. Meskipun ibuku memiliki beberapa suami setelah itu tapi Hoseok masih tetap keluargaku. Dia cukup paham untuk mengetahui bahwa ini adalah tentang Yoongi.
"Mantan pacar Yoongi," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
Hoseok berdeham.
"Jadi, eh, dia datang ke sini untuk mengejekmu? Atau kau menghajarnya sampai babak belur hanya karena dia pernah menyentuh Yoongi?"
Dua-duanya. Atau bukan. Aku menggeleng.
"Tidak. Dia datang ke sini mengajukan pertanyaan tentang aku dan Yoongi. Sesuatu yang bukan urusannya. Dia menanyakan sesuatu yang salah."
"Ah, aku mengerti. Itu masuk akal. Hm, dia sudah membayar perbuatannya. Pria itu mungkin mengalami patah hidung ditambah matanya yang tertutup karena bengkak."
Aku akhirnya mengangkat kepalaku dan kembali menatap Hoseok.
"Terima kasih sudah menahanku darinya. Aku hanya tiba-tiba sangat marah."
Hoseok mengangguk lalu membuka pintu.
"Ayo. Mari kita mencari udara segar dan minum bir."
.
.
.
YOONGI POV
Makam ibuku adalah satu-satunya tempat yang ada dalam pikiran untuk kutuju. Aku tidak punya rumah. Aku tidak bisa kembali ke rumah Wang halmeonni. Dia adalah nenek Zhoumi. Zhoumi mungkin ada di sana menungguku. Atau mungkin tidak juga. Mungkin aku juga sudah mendorongnya pergi. Aku duduk di ujung makam ibuku. Aku menarik lutut di bawah dagu dan melingkarkan tangan di kakiku. Aku pulang kembali ke kota Daegu karena ini satu-satunya tempat yang kutahu akan aku datangi. Sekarang, aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini. Sekali lagi hidupku akan segera menikung tajam. Keadaan yang tidak siap untuk kuhadapi.
Ketika aku masih kecil ibuku pernah membawa kami ke gereja. Aku teringat sebuah ayat suci yang mereka bacakan untuk kami dari Alkitab tentang Tuhan tidak memberikan beban lebih banyak daripada beban yang mampu kita hadapi. Aku mulai bertanya-tanya apakah itu hanya untuk orang-orang yang pergi ke gereja setiap hari Minggu dan berdoa sebelum mereka pergi tidur di malam hari. Karena Tuhan tidak tanggung-tanggung memberikan pukulannya terhadapku.
Mengasihani diri sendiri tidak akan menolongku. Aku tidak bisa melakukannya. Aku juga harus mencari tahu jawabnya tentang yang satu ini. Menumpang di rumah Wang halmeonni dan membiarkan Zhoumi membantuku mengatasi urusan hidup sehari-hari hanyalah untuk sementara. Aku tahu saat aku pindah ke kamar tidur tamu bahwa aku tidak bisa menumpang terlalu lama. Terlalu banyak sejarah antara Zhoumi dan aku. Aku tidak punya niat untuk mengulangi sejarah itu. Jawaban tentang kapan aku akan pergi berada di sini tapi aku masih tetap tidak mengerti kemana aku akan pergi dan apa yang akan kulakukan sama seperti tiga minggu yang lalu.
"Aku berharap kau ada di sini, Eomma. Aku tak tahu harus berbuat apa dan aku tidak punya siapa pun untuk kutanyai," bisikku sambil duduk di pemakaman yang tenang.
Aku ingin percaya bahwa dia bisa mendengarkanku. Aku tidak senang memikirkan dia berada di bawah tanah, tapi setelah saudara kembarku, Suga, meninggal aku duduk di sini, di tempat ini bersama ibuku dan kami bicara dengan Suga. Eomma mengatakan arwahnya sedang mengawasi kami dan dia bisa mendengar kami. Aku sangat ingin percaya itu sekarang.
"Ini aku. Aku rindu kalian. Aku tidak ingin sendirian… tapi begitulah. Dan aku takut."
Suara yang terdengar hanyalah desiran angin yang menerpa daun-daun di pepohonan.
"Kau pernah memberitahuku kalau aku mendengarkan dengan cermat aku akan tahu jawabannya di dalam hatiku. Aku mendengarkannya Eomma, tapi aku sangat bingung. Mungkin kau bisa membantuku dengan menunjukkan padaku ke arah yang benar, entah bagaimana?"
Aku menyandarkan dagu di lututku dan memejamkan mata, tidak mau menangis.
"Ingat saat kau bilang aku harus mengatakan kepada Zhoumi bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Bahwa aku tidak akan merasa lebih baik sampai aku menumpahkan semuanya keluar. Aku melakukannya hari ini. Bahkan jika dia memaafkanku keadaan tidak akan pernah akan sama lagi. Bagaimanapun aku tidak bisa terus-terusan bergantung padanya dalam banyak hal. Sudah waktunya aku mencari tahu sendiri. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya."
Hanya bertanya padanya membuatku merasa lebih baik. Tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban sepertinya tidak menjadi masalah. Suara pintu mobil ditutup memecah kedamaian dan aku menurunkan tangan dari kakiku dan menoleh kebelakang di pelataran parkir dan melihat mobil yang terlalu mahal untuk kota kecil ini. Memutar mataku untuk melihat siapa yang telah melangkah keluar dari dalam mobil aku terkesiap kemudian melompat. Itu Jin. Dia ada di sini. Di Daegu. Di kuburan ini... mengendarai mobil yang terlihat sangat, sangat mahal.
Ada senyum tersungging di bibirnya saat mataku bertemu dengan matanya. Aku tidak bisa bergerak. Aku takut aku berkhayal yang tidak-tidak. Apa yang Jin lakukan di sini?
"Kau tidak punya ponsel seperti seekor burung. Bagaimana bisa aku meneleponmu dan bilang aku datang untuk menemuimu kalau aku tak punya nomor yang harus dihubungi? Hmmm?"
Kata-katanya tidak masuk akal namun hanya mendengar suaranya membuatku berlari mempersempit jarak di antara kami. Jin tertawa dan membuka lengannya saat aku melemparkan diriku kepadanya.
"Aku tak percaya kau ada di sini," kataku setelah memeluknya.
"Ya, aku juga. Ini perjalanan yang panjang. Tapi kau sepadan dan mengingat bahwa kau meninggalkan ponselmu di Busan aku tak punya cara untuk bicara denganmu."
Aku ingin menceritakan semuanya tapi aku tidak bisa. Belum. Aku perlu waktu. Dia sudah tahu tentang ayahku. Dia tahu tentang Taehyung. Tapi yang lainnya... Aku tahu dia tidak tahu.
"Aku sangat senang kau ada di sini tapi bagaimana caranya kau menemukanku?"
Jin menyeringai dan memiringkan kepalanya.
"Aku menyetir mengelilingi kota untuk mencari mobilmu. Itu tidak sulit. Tempat ini punya sesuatu seperti lampu merah. Kalau aku berkedip dua kali aku masih akan melewatkannya."
"Mobil itu mungkin menarik perhatian warga kota," kataku melirik ke arah mobil itu.
"Itu milik Namjoon. Mobilnya sangat nyaman dikendarai."
Dia masih bersama Namjoon. Bagus. Tapi dadaku terasa sakit. Namjoon mengingatkanku pada Busan. Dan Busan mengingatkanku pada 'dia'. Pada mereka.
"Aku akan menanyakan bagaimana kabarmu tapi, kau terlihat seperti tongkat yang berjalan. Apakah kau pernah makan sejak kau pergi meninggalkan Busan?"
Semua pakaianku sekarang longgar. Makan terasa sulit dilakukan mengingat simpul besar yang terus terikat erat di dadaku setiap saat.
"Ini adalah beberapa minggu yang buruk tapi kurasa aku semakin membaik. Melupakan banyak hal. Menghadapinya."
Jin mengalihkan tatapannya ke kuburan di belakangku. Keduanya. Aku bisa melihat kesedihan di matanya saat ia membaca kedua batu nisan itu.
"Tidak ada yang bisa mengambil pergi kenanganmu. Kau memilikinya," katanya sambil meremas tanganku.
"Aku tahu. Aku tidak percaya mereka. Ayahku seorang pembohong. Aku tidak percaya satu pun dari mereka. Dia, ibuku, dia tidak akan melakukan apa yang mereka tuduhkan. Jika ada yang harus disalahkan itu adalah ayahku. Dia menyebabkan rasa sakit ini. Bukan Eomma-ku. Eomma-ku tak akan pernah."
Jin mengangguk dan menggenggam tanganku dengan erat. Hanya memiliki seseorang yang mendengarkanku dan tahu bahwa mereka percaya padaku, bahwa mereka percaya Ibuku tidak bersalah sudah cukup membantu.
"Apa saudara laki-lakimu sangat mirip denganmu?"
Memori terakhirku dari Suga adalah saat dia tersenyum. Senyum riangnya jauh lebih manis dibanding senyumku. Gummy smile-nya sempurna. Matanya lebih cerah dibanding mataku. Tapi semua orang mengatakan kami identik. Mereka tidak melihat perbedaannya. Aku selalu heran kenapa. Aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Kami kembar identik," jawabku.
Jin tidak akan memahami kebenaran.
"Aku tidak bisa membayangkan dua Min Yoongi. Kalian pasti sudah mematahkan hati seluruh pria di kota kecil ini."
Dia mencoba untuk meringankan suasana setelah bertanya tentang saudara laki-lakiku yang sudah meninggal. Aku menghargainya.
"Hanya Suga. Aku bersama Zhoumi sejak aku masih kecil. Aku tidak mematahkan hati siapapun."
Mata Jin sedikit terbelalak kemudian membuang pandangannya sebelum berdehem. Aku menunggu sampai ia berpaling lagi padaku.
"Meskipun melihatmu sangat menyenangkan dan kita bisa benar-benar menggoncang kota ini, aku sebenarnya datang ke sini karena suatu tujuan."
Aku menduganya, aku hanya tidak tahu dengan tepat apa tujuannya.
"Oke," kataku menunggu lebih banyak penjelasan.
"Bisakah kita bicara tentang ini sambil menikmati kopi?"
Dia mengerutkan kening kemudian melirik kembali ke jalan.
"Atau mungkin Starbucks karena sepertinya itu satu-satunya tempat yang kulihat ketika aku melewati kota."
Dia tidak nyaman berbicara di kuburan sepertiku. Itu normal. Sedangkan aku tidak.
"Ya, oke," kataku dan berjalan untuk mengambil dompetku.
"Itu jawabanmu," bisik suara lembut yang sangat pelan hingga aku nyaris berpikir kalau aku hanya berkhayal.
Berbalik menengok kembali ke arah Jin dia tersenyum dengan tangannya terselip di saku depannya.
"Apa kau mengucapkan sesuatu?" Tanyaku bingung.
"Eh, maksudmu setelah aku menyarankan kita pergi ke Starbucks?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Ya. Apa kau membisikkan sesuatu?"
Dia mengernyitkan hidungnya dan kemudian memandang ke sekeliling dengan gelisah dan menggeleng.
"Tidak... um... kenapa kita tidak keluar saja dari sini?" katanya meraih lenganku dan menarikku di belakang punggungnya menuju mobil Namjoon.
Aku menengok menatap makam ibuku dan kedamaian datang padaku. Apakah itu merupakan...? Tidak. Jelas tidak. Menggelengkan kepalaku, aku berbalik dan menuju ke sisi penumpang sebelum Jin mempersilahkanku masuk.
-TBC-
[Note: memang FF series ini sengaja kubuat per-series, sampai uda series ke-3 ini, nggak digabung. Alasannya karena di tiap series fokusnya beda & endingnya juga beragam. Prequel itu moment pertama minyoon ketemu (pwp). Sequel lebih ke moment minyoon saling cinta & rahasia besar taegi. N threequel deh sekarang masih on going dengan issue yang pasti berbeda juga :')]
[Jadi biar gak bikin bingung untuk dibaca + kasih 'jeda' buat reader milih lanjut baca atau stop (hiks)(ehm... ngarepnya sih ttp lanjut dibaca) hehehe...]
[Thank you & ditunggu reviewnya :D]
.
.
.
Preview: Chapter 3
-Jimin POV-
Dia tidak akan kembali. Dia membenciku. Dia membenci Taehyung. Dia membenci ibuku. Dia membenci ayahnya. Dia tidak akan kembali ke sini...
Tapi ya Tuhan, aku ingin dia kembali.
"Dia tidak akan kembali," kataku.
-Yoongi POV-
Kembali ke Busan? Kembali ke Gwangali? Dimana Jimin berada... dan Taehyung... dan ayahku. Aku tidak bisa kembali. Aku tidak bisa bertemu mereka.
Mereka akan berada di klub. Apakah ayahku akan mengajak Taehyung untuk bermain golf? Bisakah aku melihatnya? Tidak, aku tidak bisa. Ini akan menjadi terlalu menyakitkan.
"Aku tidak bisa," aku tercekat.
