Karin tidak pernah membayangkan akan mendapat pekerjaan lebih baik selain menjaga toko. Dia hanya gadis berpendidikan rendah yang tidak berpengalaman, tapi Tuhan sangat baik padanya hingga mengirimkan orang yang memintanya bekerja di sebuah perusahaan besar, perusahan terbesar di Konoha. Karin tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Hidupnya akan berubah. Dia akan memiliki hidup yang lebih baik. Gadis itu berlari ke rumah kecilnya di dekat tempat membuang sampah. Ia membuka pintu dengan terburu dan langsung memeluk pamannya yang tua dan sakit-sakitan dengan haru. "Paman..."

Jiraya termenung mendapat pelukkan tiba-tiba dari keponakan kebanggaannya. Pria tua itu kebingungan mendengar isakan Karin yang memeluknya dan dia mulai khawatir. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba ... (kau menangis) apa kau dipecat?" Tanya pria tua itu khawatir.

Sembari menghapus air mata di pipinya Karin menggeleng. "Dimana bibi?" Ia berjalan ke dapur mencari Tsunade bibinya.

"Bibimu belum pulang. Ada apa Karin, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

Karin duduk di samping Jiraya, gadis cantik berambut merah itu tersenyum. "Paman, aku berhenti bekerja di toko." Jiraya terkejut, pria tua itu menatap keponakannya prihatin, karena dia sangat tahu betapa sulitnya Karin untuk masuk bekerja di toko itu. Mendapati ekspresi terkejut Jiraya Karin tersenyum dan menggenggam kedua tangan pria itu. "Aku mendapatkan pekerjaan lebih baik dari menjaga toko,"

"Apa?"

Mata secantik batu rubi Karin berkaca-kaca. "Dan gajinya lebih besar. " Jiraya merasa takut dengan pekerjaan keponakannya, dia takut itu pekerjaan kotor mengingat pendidikan Karin. Pria tua itu ingin bertanya pekerjaan apa itu namun Karin lebih dulu menjawab ketakutannya. "Aku bekerja di perusahaan Namikaze corp paman," katanya bahagia, "menjadi asisten manager!" Pekiknya tak percaya.

Jiraya yang tidak tahu apa-apa tentang Namikaze corp menatap Karin. Pria itu bertanya-tanya perusahaan apa itu Namikaze corp. Apa perusahaan membuat koko?

Karin menjelaskan pada pamannya tentang perusahaan tempat ia bekerja. Bahkan gadis itu membawa koran dan majalah yang memuat berita tentang Namikaze corp, betapa besar dan majunya perusahaan itu di konoha.

Naruto si hantu berdiri tidak jauh dari Karin dan Jiraya yang sedang berpelukkan bahagia. Dia menghela napas dan menatap sekelilingnya. Mengapa orang yang mirip dengannya tidak memberitahunya tentang hal ini? Kenapa pria itu menyembunyikan ini darinya? Dan perasaan bersalah menyusup di hatinya. Pria itu terlalu baik untuk ia jadikan alat memenuhi keegoisannya. Dia merasa ... menjadi roh paling jahat di dunia.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

...

Naruto menandatangi dokumen-dokumen yang membutuhkan tanda tangannya. Pria pirang itu mengacak rambut dan menghela napas lelah. "Ada apa?" Tanyanya malas dan sedikit sebal. Bagaimana tidak sebal? Dia sedang bekerja di sini tapi pria tak kasat mata di depan meja terus menatapnya, dan pria itu menatapnya sudah hampir satu jam. "Jangan menatapku! Kau pikir aku apa, lelucon." Pemuda itu tidak bergerak melainkan menaikkan alisnya seperti menunggu jawaban dari kebingungannya. "Kau ingin mengatakan sesuatu?"

"Banyak hal yang ingin aku tanyakan,"

Naruto membenarkan posisi duduknya dan kembali fokus pada kertas-kertas dan laptop di atas mejanya. "Hm?" Tanyanya dengan gumaman.

"Kenapa... kenapa kau memperkerjakan Karin? Apa karena kasihan? Karena itu? Keluargaku tidak butuh belas kasihan darimu!" Karena aku tidak pantas untuk dikasihani. Karena aku memanfaatkanmu. Andai kau tahu akan hal ini, Naruto.

Naruto menghentikan pekerjaannya. Kepalanya menunduk menatap kosong hasil kerjanya. Dari nada suara dan tatapannya Naruto tahu dia marah, dan mungkin bila ia diposisi sama sepertinya dia juga akan melakukan hal yang sama. Otaknya berputar mencari alasan masuk akal agar tidak melukai harga diri pemuda tak kasat mata di depannya. Pria pirang itu mendongak menatap langsung wajah pemuda di depannya. "Kalau kau berpikir seperti itu, kau salah besar. Karin berpotensi, pintar, karena itu aku memilihnya. Aku tidak menerima pegawai sembarangan. Asal kau tahu."

Mereka terdiam. Naruto si hantu tidak bicara lagi setelahnya. Perlahan tubuhnya menipis dan menghilang meninggalkan Naruto yang menghela napas kasar sembari mengacak rambut pirangnya.

...

Sebuah ZENVO ST1 putih terparkir di sudut kota dekat rumah tua dan seorang pria tinggi berambut pirang berdiri di depan pintu rumah itu. Dengan ragu pria itu membuka gembok serta rantai yang mengunci pintu rumah. Suara khas derit kayu tua mengiring langkah kakinya memasuki rumah itu. Sebuah rumah kecil dengan sarang laba-laba di setiap penjurunya.

Naruto menatap sekeliling atap serta lantai berdebu rumah itu. Ia menempelkan tangannya ke dinding untuk mengukur seberapa tebal debu yang menempel. Membenarkan letak masker di wajahnya ia kemudian berjalan melihat setiap ruangan yang ada.

Ruangannya kecil diisi dengan lemari kecil reot yang sudah tidak memiliki pintu. Ada beberapa buku dengan sampul sudah terlepas dan hitam karena debu tertinggal di sana. Naruto membukanya kemudian meletakkannya kembali saat melihat buku itu hanya buku paket bukan dairi atau semacamnya. Pria pirang itu beranggapan ruangan ini kamar Naruto dan Karin, melihat sisa barang-barang yang tertinggal.

Drtt... drtt..

Melepas maskernya Naruto mengangkat ponsel sembari berjalan keluar ketika mendengar suara ramai.

"Selamat pagi Namikaze- san."

...

Kiba menghentikan obrolan dengan temannya saat melihat jalan mobil yang ia tumpangi. Ia mengenal jalan ini, sangat. Mobil berhenti di depan rumah yang sangat ia kenal, tidak jauh dari sebuah mobil mewah dan ia tersentak saat ketuanya berteriak.

"Turunkan semua peralatannya!"

Kiba dan dua temannya segera turun kemudian menurunkan alat-alat untuk merenovasi dan alat pembersih rumah.

"Selamat pagi Namikaze- san."

Kiba menaikkan topi bangunan kuningnya untuk melihat pria kaya mana yang menyewa dia dan timnya untuk merenovasi rumah ini.

"Hm. Pagi."

Seorang pria berambut pirang dan bertubuh tinggi tegap dengan tangan kanan memegang ponsel besar berlayar datar. Kiba terkejut. Dia sangat mengenal pria itu. Semua barang yang dibawanya terjatuh dengan keras karena keterkejutannya membuat pria yang tadi tersenyum pada ketua timnya menoleh menatapnya. Tatapan mereka bertemu. Kiba yang menatap pria itu tidak percaya dan pria itu yang menatapnya heran.

"Hei! Apa yang kau lakukan. Kau bisa merusaknya!" Ketua tim Kiba berteriak marah.

Dengan cepat Kiba mengambil barang yang terjatuh dan melanjutkan pekerjaannya. "Maaf." Gumamnya sambil lalu. Pria berambut coklat itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian menoleh menatap pria itu lagi. Tatapan mereka bertemu. Dengan cepat Kiba menoleh dan melanjutkan pekerjaannya.

Naruto mematikan ponselnya. Dilihat dan diperhatikannya pria berambut coklat yang sedang naik tangga membenarkan atap. Dahinya mengernyit, siapa pria itu? Kenapa pria itu seolah mengenalnya? Dan saat pria itu melihatnya pria itu seperti melihat... hantu?

"Namikaze- san." Ketua tim renovasi mendekati Naruto.

"Aku tidak bisa berlama-lama di sini." Naruto melihat jam tangannya. "Selesaikan hari ini. Gantikan lemari dengan lemari yang sama. Jangan rubah sedikit pun rumah ini."

"Baik Namikaze- san."

"Ah ya, jangan cat rumah ini." Tatapannya serius menatap pria bertopi kuning ketua tim renovasi yang dia sewa. "Dan satu hal lagi, jangan terlalu keras pada mereka."

...

Semua orang sudah siap untuk pulang karena tugas mereka untuk merenovasi rumah sudah selesai. Sementara Kiba masih berdiri di ruang tamu rumah melihat dan memperhatikan sekelilingnya mengenang masa lalu. Wajah pria berambut coklat itu terlihat muram dengan tatapan merindukan sebuah kenangan. Setiap kali temannya mengajak dia pulang Kiba menolaknya dengan sebuah senyuman dan mengatakan atap masih membutuhkannya.

"Kiba, kau belum pulang?" Tanya pria yang siang tadi memarahi Kiba. Pria ketua tim renovasi itu mendekati Kiba.

Kiba mengusap permukaan wajahnya dan memaksakan senyum. "Masih ada yang harus aku kerjakan," melepas topi kuningnya dia menggaruk kepala seraya tertawa. "Atapnya masih membutuhkanku."

Orang itu mendongak melihat atap kemudian kembali menatap Kiba. "Baiklah, ini kuncinya. Jangan lupa kunci rumah ini. Jangan kecewakan klien kita."

Kiba menerima kunci dan melambaikan tangan pada pria itu. "Sampai jumpa ketua! Hati-hati di jalan!" Dan berteriak padanya.

Setelah merasa dia hanya sendiri Kiba membaringkan tubuhnya di lantai ruang tamu rumah itu. "Sudah berapa lama ..." kedua matanya terpejam sesaat kemudian terbuka kembali. Ditatapnya langit-langit rumah dan menghela napas. Ingatannya kembali pada kejadian pagi tadi ketika dia bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan temannya. "Siapa dia? Kenapa bisa semirip itu? Apa Sakura tahu?" Mengingat Sakura Kiba merasa harus memberitahu Sakura kalau Naruto masih hidup, dia berharap pria pagi tadi Naruto temannya. Ya, dia harus memberitahu wanita itu. Kiba langsung berdiri dan memakai topinya. Dia mengunci semua pintu kemudian pergi ke rumah Sakura menggunakan jasa kendaraan umum.

...

Tujuan awal Naruto datang ke tempat ini hanya untuk melihat hasil renovasi. Tapi ketika masih ada orang di dalam rumah Naruto memilih untuk bersembunyi. Naruto pikir orang di dalam itu orang jahat yang berniat mencuri, tapi ketika dia tahu orang itu hanya tiduran di lantai Naruto tidak jadi memukulnya. Yang membuat Naruto terkejut ketika ia mendengar pria itu menyebut nama Sakura. "Siapa dia?" Gumamnya sembari menatap pria berambut coklat yang sedang berjalan mendekati pintu.

Ketika pria itu sedang mengunci pintu Naruto dengan cepat masuk dalam mobilnya dan menyembunyikan mobilnya di tempat gelap. Diam-diam dia mengikuti pria itu menggunakan mobil. Sampai pria itu naik sebuah bus pun Naruto tetap mengikutinya.

Naruto menatap penasaran pria yang sedang berdiri di depan pintu pagar rumah Sakura dan memencet bel rumah. Dan dia sangat dibuat penasaran melihat pria itu bersembunyi saat seseorang membuka pagar.

...

Kiba tidak bisa melakukannya. Dia tidak ingin merusak kehidupan normal Sakura hanya karena dia melihat seseorang yang sangat mirip dengan Naruto. "Mungkin aku salah lihat." Dia meyakinkan dirinya sendiri kalau dia salah lihat. Kiba berjalan menjauh dari rumah Sakura. Untuk sesaat ia kembali menoleh ke arah rumah itu sebelum kemudian melanjutkan langkahnya.

Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan siapa pria itu? Dan apa Sakura harus tahu? Sedikit banyak Kiba tahu perjalanan cinta Sakura dengan sahabatnya karena dulu Naruto tidak bisa berhenti mengoceh menceritakan gadis berambut merah muda itu. Dia juga saksi hidup bagaimana akhir cinta mereka yang tragis. Kiba sangat tahu betapa hancurnya Sakura saat itu, betapa mereka hancur melihat Naruto mati di depan mata mereka. Kiba mengusap matanya yang terasa panas. Kepalanya mendongak ketika melihat kaki seseorang tepat di depannya.

"Bisa kita bicara?"

Kiba menjatuhkan topi kuningnya karena terkejut. Mulutnya menganga tidak percaya melihat pria di depannya. Seorang pria berambut pirang dengan setelan jas biru gelap yang terlihat mewah dan berkelas. "Nar-uto?" Kiba tergagap melihat pria di depannya.

Benar dugaannya kalau pria ini ada hubangannya dengan Naruto. Mungkin mereka berteman. Pikirnya. Naruto tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Namikaze Naruto. Kau?"

Kiba terlihat linglung. Dia terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Keterkejutan di wajahnya hilang digantikan kebingungan. Dia nyata?

...

Begitu Kiba masuk dalam mobil Naruto menjelaskan siapa dirinya. Dia juga mengatakan pada Kiba kalau dia mengenal temannya dalam bentuk roh. Kiba terlihat antara percaya dan tidak percaya pada apa yang Naruto katakan. "Kalian sangat mirip."

"Aku tahu." Sembari menyetir mobilnya Naruto kembali berkata. "Seseorang mengatakan ada orang yang sangat mirip kita tanpa kita tahu, di belahan dunia lain. Bedanya kami di negara yang sama." Pria berambut kuning itu menoleh pada Kiba dan tersenyum pada pria itu.

Naruto mengajak Kiba ke sebuah restoran mewah tapi Kiba menolaknya. Pria itu bilang dia tidak terbiasa dengan makanan di sana. Lalu Kiba mengajak Naruto ke tempat makan di pinggir jalan yang tempatnya hanya terdiri dari tenda berwarna putih lecek. Mereka membicarakan banyak hal, saling bercerita satu sama lain. Perlahan, mereka semakin dekat. Sampai pada akhirnya Kiba menceritakan tentang Naruto dan Sakura seperti yang pria berjas biru gelap itu inginkan.

...

Naruto tidak bisa menemui Sakura karena pekerjaannya. Tiga puluh menit lagi dia harus pergi ke korea karena urusan pekerjaan. Itulah alasan kenapa dia berdiri di dekat mobilnya tidak mendekati Sakura yang sedang duduk di bawah pohon di tengah padang ilalang. Naruto ingin melihat Sakura. Dia ingin melihat gadis itu sebelum dia pergi. Ponsel dalam saku celananya bergetar. Naruto mengambil ponsel dan mengangkat telefon dari asistennya. "Aku segera ke bandara," tatapannya lurus ke depan menatap Sakura dari kejauhan. "Siapkan semuanya. Buat ini selesai lebih cepat." Kemudian mematikan telefon.

Selama satu minggu Naruto akan pergi meninggalkan wanita merah muda itu. Pedahal dia sudah membeli serta merenovasi rumah lama Naruto si hantu untuk Sakura, untuk memberi wanita cantik itu kejutan. Tapi... Hhh... sudahlah. Mungkin bisa lain kali. Dengan ragu Naruto masuk dalam mobilnya. Untuk beberapa saat ia termenung di dalam. Rasanya tidak rela meninggalkan Sakura di kota ini. Rasanya, Naruto ingin selalu di samping gadis itu, sekalipun harus jadi orang lain. Naruto menghela napas seraya menyalakan mesin mobilnya. Dalam hati dia meyakin dirinya sendiri. 'Hanya satu minggu,' kedua matanya terpejam sesaat. 'Tidak lama.' Ia kembali menatap lurus ke depan menatap Sakura kemudian melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.

Di tempat lain Sakura menoleh menatap kepergian mobil Naruto. Dia bukannya tidak tahu mantan bosnya itu menatapnya sejak tadi. Sakura terus menatap mobil Naruto sampai mobil itu mengecil dan hilang tertutup pohon. Sakura mengalihkan tatapannya pada rumput ilalang yang hijau. Menatap rumput-rumput itu yang bergoyang tertiup angin. Tatapannya kosong. Sekilas bayang kenangan saat bersama Naruto Namikaze melintas di benaknya. Sakura mengira-ngira siapa Naruto sebenarnya.

...

Selama Naruto pergi Naruto si hantu mengbiskan waktunya di atas pohon mati di pemakaman umum tempat ia dimakamkan. Angin dingin yang terkesan mistis berhembus menerbangkan daun-daun kering dan daun-daun tua pohon di sana. Tatapan Naruto mengikuti arah angin membawa daun-daun itu sampai suara derit besi tua mengalihkan perhatiannya. Tatapannya jatuh pada wanita berambut merah muda dengan bunga di tangannya. "Sakura ..." bagai tertiup angin tubuhnya melayang mengikuti wanita itu.

Sakura duduk di samping pusaran Naruto tidak menyadari Naruto yang duduk di depannya seraya menatap dirinya. Seperti hari-hari yang lalu wanita itu tersenyum muram dan meletakkan bunga di pusaran itu. Dia kembali menjadi wanita cengeng menyedihkan yang menangisi gundukan tanah. Tapi sampai kapan dia akan seperti ini? Sampai kapan dia menjadi wanita bodoh dan tolol. Sampai kapan? Apa sampai dia mati?

Butuh waktu lama bagi Naruto untuk menyadari satu hal. Dia sudah mati. Dia sudah lama mati. Seharusnya ia menerima kenyataan itu. Dan seharusnya Sakura tidak seperti ini karena cinta bodohnya.

Semuanya akan berakhir. Naruto akan mengakhiri semua ini. Demi dirinya, demi Sakura, dan demi pria kaya berambut pirang yang tlah menolongnya. Ya. Ini akan berakhir.

...

"Seminggu tidak melihatmu kau semakin tua saja."

Naruto menoleh ke sumber suara dan melihat Naruto si hantu yang duduk di atas lemari dua pintu miliknya. Naruto tersenyum dan melepas jas serta kancing-kancing kemejanya. "Menurutmu begitu," ia duduk di atas tempat tidur dan melepas sepatunya. "Kau pasti sangat merindukanku sampai kau tidak tahan ingin mengejekku."

Naruto si hantu tertawa. Perlahan, tubuhnya menimpis dan menghilang. Entah bagaimana caranya tiba-tiba dia sudah tiduran di ranjang Naruto. "Bagaimana korea?"

"Tidak semenyenangkan Konoha,"

"Tentu saja." Katanya bangga pada negaranya. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Naruto si hantu dan Naruto saling diam di tempat masing-masing. Naruto si hantu di atas tempat tidur seraya menatap langit-langit kamar. Sementara Naruto di bibir ranjang sedang melepas jam tangannya. "Naruto."

"Hm?"

"Katakan padaku bagaimana perasaanmu pada Sakura."

Naruto diam sesaat. "Entahlah. Mungkin tidak sedalam perasaanmu, mungkin."

Naruto si hantu melirik Naruto dari tempatnya. "Apa yang kau inginkan darinya?"

"Bahagia, mungkin. Aku ingin dia bahagia. Kalau aku bisa menghidupkanmu dengan uangku, aku pasti sudah melakukannya. Dia pasti bahagia." Naruto tertawa kecil dan menoleh pada Naruto si hantu. "Ini konyol. Jangan dianggap serius." Dia masih tertawa saat pergi ke kamar mandi meninggalkan Naruto si hantu yang memikirkan kata-katanya.

Naruto menutup pintu kamar mandi dan langsung menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia mengusap permukaan wajahnya kemudian menghela napas. "Ya. Ini sangat konyol. Aku merasa jadi pria terkonyol dan terbodoh di dunia." Mereka bilang cinta itu buta dan tuli. Dulu Naruto tidak mempercayainya, tapi sekarang, ia tahu bagaimana rasanya.

...

Sakura menuntun sepedanya mendekati pohon di tengah padang ilalang. Langkah wanita itu terhenti melihat seorang pria memakai topi rajut berdiri dengan punggung bersandar pada batang pohon. Pria itu tersenyum seraya mendekati Sakura. Ia mengambil alih sepeda Sakura dan menyandarkannya di bawah pohon meninggalkan wanita merah muda itu yang terbengong melihatnya. "Punya waktu untukku?"

"Apa?"

"Aku anggap itu 'iya'. Ayo." Naruto menarik Sakura mendekati motor king tua yang terparkir di pinggir jalan. Ia memberikan helem pada Sakura dan memakai helemnya sendiri. "Naiklah."

Naruto mengemudikan motornya dengan cepat, Kiba bilang Sakura suka kebut-kebutan. Kedua tangan wanita itu melingkari perutnya, Naruto juga bisa merasakan tubuh Sakura yang menempel dengannya. Naruto tersenyum dan melirik tangan Sakura yang melingkari perutnya. Sakura memeluknya? Sungguh? Pelukkan ini berbeda seperti pelukkan sebelumnya. Jauh lebih hangat dan nyaman.

Kedua mata Sakura terpejam kemudian terbuka perlahan. Hatinya berdebar nyeri melihat jalan yang dilewatinya. "Kita mau ke mana?" Tanyanya panik. Naruto tidak menjawab melainkan hanya meliriknya sesaat dan menambah kecepatan sepeda motornya.

Sepeda motor Naruto berhenti di depan rumah yang sangat Sakura kenal. Masih sama seperti dulu. Tanpa sadar Sakura berjalan lebih dulu mendekati pintu rumah meninggalkan Naruto yang berdiri menatapnya. Sakura berusaha membuka kunci gemboknya. Dengan emosi wanita itu menarik-narik gembok dan memukulnya. "Dikunci. Kenapa dikunci?" Katanya kesal.

Dengan cepat Naruto mendekati Sakura dan membuka gemboknya. "Aku punya kuncinya." Sakura menatap Naruto. Bagaimana bisa? Bukankah rumah ini disita bank? Tatapan mereka bertemu. "Masuklah. Kau sangat ingin melihatnya bukan?" Naruto menarik tangan Sakura membawa wanita itu masuk ke dalam.

Semuanya masih sama seperti dulu, ukurannya, motif dan bentuknya sama. Yang membuatnya berbeda mereka seperti barang baru. Atapnya dan semua ruangannya jauh lebih rapih. Dan dindingnya... masih sama. Kusam dan berdebu. Sakura menatap sekelilingnya. Dia sangat merindukan tempat ini.

Naruto maupun Sakura tidak menyadari kehadiran mahluk lain di antara mereka. Naruto si hantu duduk dengan posisi terbalik seperti kelelawar di flafon memperhatikan Naruto dan Sakura.

...

Sebuah ZENVO ST1 putih memasuki garasi keluarga Namikaze. Tak lama setelahnya sang pemilik keluar dari mobilnya. Naruto disambut ramah oleh para pegawai di rumahnya. Pria itu tersenyum setiap kali orang yang ia lewati menyapa ramah dirinya.

Sampainya di dalam kamar seperti biasa Naruto melepas jas, sepatu, jam tangan dan kancing-kancing kemejanya. Kegiatan melepas kancing-kancing kemeja Naruto terhenti saat tiba-tiba Naruto si hantu muncul di depannya. "Ada apa?" Naruto dengan sabar menunggu Naruto si hantu mengatakan sesuatu. Lama menunggu Naruto menghela napas dan berniat pergi ke kamar mandi.

"Kau bilang 'Kalau aku bisa menghidupkanmu dengan uangku, aku pasti sudah melakukannya.' ," Langkah Naruto terhenti. Dengan cepat pria itu berbalik menatap Naruto si hantu. "Aku ingin kau membuktikannya."

Menghidupkan orang mati dengan uang? Itu tidak mungkin. "Apa?! Kau bercanda, ya?" Tanya Naruto tidak percaya.

...

Naruto si hantu mengajak Naruto jalan-jalan dengan mobil ZENVO ST1 putih Naruto. "Berhenti di sini." Pinta Naruto si hantu. Naruto menatap bingung tempat pemberhentian mereka.

"Kita harus jalan, lampunya hijau." Protes Naruto seraya menginjak gas, tapi mobilnya tidak mau jalan. Naruto mendengus. Ini pasti ulah Naruto si hantu.

"Tidak ada orang. Cepat keluar."

"Untuk apa?"

"Aku membutuhkan banyak lampu lalu lintas."

"Kau menyuruhku, mencuri?"

"Ya."

"Kau akan mendapatkan lampumu tapi tidak dengan cara mencuri." Naruto mengeluarkan ponselnya. "Berapa banyak?"

"Sebanyak yang bisa kau dapatkan."

"Apa? Baiklah." Naruto menggaruk kepalanya, tidak habis pikir untuk apa lampu lalu lintas sebenyak itu, kemudian menghubungi salah satu orangnya untuk membeli lampu lalu lintas. "Apa lagi yang kau inginkan?" Ia mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.

"Taman."

"Taman?" Naruto melirik Naruto si hantu kemudian kembali menatap lurus ke depan. Untuk apa? Mobil Naruto berhenti di sebuah taman kota.

"Terlalu ramai. Tempat lain."

Naruto menghela napas lelah tapi tidak menolak keinginan Naruto si hantu. Ia mengemudikan mobilnya ke gedung Namikaze dan membawa Naruto si hantu ke taman gedung. "Bagaimana?" Tanyanya bangga dengan taman luas dan indah yang dimilikinya.

"Tidak cocok."

"Sebenarnya tempat seperti apa yang kau cari?" Tanyanya kesal.

"Sebuah tempat dengan pohon, bunga, rembulan dan danau. Tempat seperti itu," Naruto mengerang kesal dan kembali ke mobilnya.

Dengan kekuasaan yang dimilikinya Naruto membawa Naruto si hantu ke taman wisata dimana ada bunga, pohon, dan danau dengan jembatan terbuat dari kayu yang didesain sedikian rupa dengan tanaman rambat melilit di kiri-kanan pegangannya. Naruto si hantu menatap sekelilingnya, tampak menyukai tempat itu, kemudian mendongak melihat rembulan. Tempat yang sempurna. Dia memejamkan kedua matanya menikmati semilir angin malam.

Sementara Naruto, dia mengeratkan Blazernya merasakan angin yang sangat dingin tiba-tiba menyapa tubuhnya, membuat bulu romanya meremang. Naruto melihat jam tangannya. "Sudah hampir tengah malam, kita lanjutkan lagi besok." Tubuhnya bergetar karena kedinginan. Sedikit banyak Naruto merasa aneh dengan udara malam ini, tidak seperti udara malam yang biasanya.

"Di sana," Naruto si hantu menunjuk pohon-pohon di pinggir danau buatan taman itu. "Aku ingin gazebo di sana."

"Iya, kau akan mendapatkannya. Tapi sekarang kita pulang."

"Aku hanya membutuhkan semua alat dan material untuk membuatnya, juga lampu lalu lintas."

"Ini sudah malam," protes Naruto.

"Aku tidak peduli."

Naruto mendengus kesal, "kau ini," tapi kemudian mengeluarkan ponselnya. "Dasar keras kepala." Naruto menghubungi orang-orangnya, menyuruh mereka mengirimkan apa yang diinginkan si hantu keras kepala membuat Naruto si hantu diam-diam tersenyum.

...

Naruto tidak bisa tidur. Dari tadi tubuhnya berbalik ke kanan ke kiri gelisah mencari posisi nyaman. Ia sedang memikirkan Naruto si hantu dan semua permintaannya. "Apa benar dengan semua itu dia bisa hidup kembali?" Tanyanya pada diri sendiri. Naruto menutup kepalanya dengan bantal, "tidak mungkin. Itu tidak mungkin."

Naruto tidak bisa fokus pada pekerjaan karena tidak bisa tidur semalaman. Pria itu selalu menguap dan mengusap permukaan wajahnya karena mengantuk. Di atas meja sudah banyak gelas -gelas kopi kosong yang sudah dia minum, namun ngantuknya tidak mau hilang. Bukannya merasa lebih baik setelah minum kopi kepala Naruto malah terasa sakit karena kebanyakan minum kafein kopi, ditambah lagi dia kurang tidur, kepalanya semakin sakit saja.

Naruto memutuskan pulang lebih cepat. Ia menelepon Iruka untuk menggantikannya kemudian pergi keluar kantor. Dalam perjalanan Naruto menghentikan mobilnya di jalan sepi. Ia keluar dari dalam mobil untuk mengambil tas dalam bagasi kemudian masuk lagi. Dari dalam tas itu Naruto mengeluarkan peralatannya untuk menyamar menjadi Naruto pacar Sakura.

Ia mengganti pakaiannya di dalam mobil, memakai topi kupluk orange berbahan benang wol kemudian melihat pantulan dirinya di cermin. Sempurna. Naruto tersenyum melihat pantulannya di kaca mobil, yang membuatnya terkejut saat Naruto si hantu mencul tiba-tiba di depannya. "Apa yang kau lakukan? Kau hampir saja membuat aku mati karena jantungan." Kesalnya seraya mengemudikan mobilnya ke padang ilalang tempat biasa Sakura berada.

Mobil Naruto berhenti tiba-tiba. "Kau tidak boleh bertemu denganya,"

"Kenapa?"

"Karena ini masih sore."

"Memang apa hubungannya?" Tanya Naruto tidak peduli seraya berusaha menghidupkan mesin mobil. Sial! Mobilnya tidak mau hidup. Sepertinya ini ulah Naruto si hantu. Naruto mendengus dan menatap tak suka Naruto si hantu.

"Karena aku sudah menyiapkan semuanya."

"Apa maksudmu."

"Nanti malam kau akan menjemput Sakura dan membawanya ke taman itu." Naruto si hantu menjentikan jarinya. Topi rajut Naruto berubah menjadi topi rajut lain yang lebih bagus dan pantas dengan Naruto. Dia kembali mejetikkan jarinya. Pakaian, celana, serta sepatu Naruto berubah warna dan model menjadi lebih cocok di tubuh pria itu. Naruto menatap tidak percaya apa yang dipakainya. Semua ini memang miliknya, tapi bukankah ia menyimpannya rapih di dalam lemari. Naruto dibuat kembali terkejut saat tiba-tiba mesin mobilnya hidup sendiri. Naruto si hantu tertawa melihat wajah terkejut Naruto. Baginya itu sangat lucu. "Kau pikir kau saja yang bisa menjalankan benda ini." Dia kembali menjentikan jarinya membuat mobil Naruto jalan sendiri.

Naruto tidak protes, dia duduk melamun di kursi kemudi. Kalau benar Naruto si hantu bisa hidup kembali itu artinya ini semua berakhir. Dia harus belajar dan berusaha menjauhi Sakura. Kenapa waktu itu ia mengatakan hal seperti. Naruto menghela napas. Menyesal mengatakan itu pada Naruto si hantu. "Terserah kau saja." Jawabnya tak bersemangat.

...

Naruto berdiri di depan pagar rumah Sakura. Ia menghela napas dan memejamkan mata mempersiapkan diri untuk dimasuki Naruto si hantu. "Aku siap." Naruto si hantu masuk dalam tubuhnya. Menyusuaikan diri dengan tubuh Naruto sesaat ia kemudian membuka matanya. Naruto mengirim pesan pada Sakura kemudian memencet bel rumah wanita itu.

Sakura mengintip Naruto melalui balkon kamarnya. Naruto tersenyum melihat wanita itu, dia lalu melambaikan tangannya pada Sakura. Di balkon Sakura tampak terkejut melihat kedatangan Naruto, dia tidak pernah menyangka Naruto akan datang ke rumahnya. Kemudian Sakura ingat pada ayah dan ibunya serta Ino. Jangan sampai mereka melihat Naruto. Sakura segera berlari turun dari kamarnya takut orang lain selain dirinya membuka pagar. Sakura tidak ingin mereka melihat Naruto, mereka pasti mengira Naruto hantu.

Dengan terburu Sakura membuka pagar dan menutupnya kembali. "Bagaimana kau tahu rumahku? Dan untuk apa kau ke sini?"

Naruto tersenyum. "Aku mengingatnya di luar kepala," katanya dengan nada sombong dibuat-buat seraya menunjuk kepalanya. Sakura terbengong melihat Naruto. Cara dan nada dia berbicara berbeda dengan Naruto biasanya, dia seperti... "dan tentu saja aku merindukanmu."

Sakura berkedip. "Apa?"

"Ayo, temani aku jalan-jalan." Naruto menarik Sakura dalam pelukkannya dan membawa wanita itu mendekati mobil.

Sakura duduk di kursi dekat kemudi. "Tapi bagaimana dengan Ino, ayah dan ibuku? Aku bahkan belum meminta izin." Ditatap dan diperhatikannya Naruto yang sedang menghidupkan mesin mobil.

Mobil Naruto sudah menyala. Pria itu menoleh menatap Sakura kemudian kembali tersenyum. "Ini." Dia menyerahkan ponselnya pada Sakura. "Hubungi Ino, katakan padanya untuk tidak mengkhawatirkanmu."

"Kau kenal dengan Ino?" Sakura semakin menatap Naruto tidak percaya. Naruto tersenyum kemudian menatap lurus ke depan. Mobil Naruto pergi meninggalkan rumah Sakura membawa Sakura ke sebuah tempat yang sudah ia siapkan.

...

Sakura menatap sekelilingnya kemudian tersenyum. Naruto mengajaknya ke taman dengan pohon-pohon rindang, bunga, dan danau. Sakura mendongak menatap langit. Juga bulan. Dia kembali tersenyum. Di bawah redupnya cahaya bulan tanpa bantuan cahaya sedikitpun, seperti lampu. Ini mengingatkannya pada sesuatu. Kepala Sakura menunduk. Perlahan, tatapannya menyendu. "Ulang tahun Naruto."

Sebuah tangan terulur padanya. "Masih ingat caranya?" Naruto berdiri di depan Sakura, mengajak wanita itu berdansa.

Sakura terdiam, dia bahkan lupa cara berkedip. "Maksudmu?"

Naruto menarik tangan Sakura. Perlahan dan hati-hati pria itu membentangkan lengan kanan Sakura, sementara tangan kiri Sakura diletakkan di bahunya. Perlahan, air mata Sakura menitik di pipinya. Naruto tertawa pelan dengan tatapan rindu. "Kau lupa?"

"Jangan mempermainkanku," Sakura tidak bisa menahannya lagi, dia menangis. "Siapa kau sebenarnya?"

Naruto menghapus air mata Sakura menggunakan ibu jarinya. "Naruto Namikaze adalah Naruto Namikaze, dan aku adalah aku, Sakura."

Sakura mendongak menatap Naruto, "kau..." isaknya.

"Ya. Kau benar." Naruto memeluk serta memcium pucuk kepala Sakura. "Ini pertemuan ketiga kita,"

"Ketiga? Kapan kau menemuiku?" Sakura masih menangis dalam pelukkan Naruto. Dia sungguh tidak percaya kalau pria yang memeluknya ini kekasihnya.

Naruto tersenyum. "Kau akan tahu nanti. Aku tidak punya banyak waktu, apa kita bisa lanjutkan berdansanya?" Sakura mengisak dalam pelukkan Naruto. Dipeluknya Naruto erat-erat, seolah bila ia tidak melakukannya Naruto akan pergi meninggalkannya. Mereka melangkah perlahan, ke depan kemudian ke kanan, mundur kemudian ke kiri, seiring dengan irama yang Naruto senandungkan melalui hidungnya. "Angkat wajahmu dan buka matamu,"

Sakura membuka matanya, bersamaan dengan itu lampu-lampu lalulintas yang tlah Naruto si hantu pasang di setiap tempat menyala, berkelap-kelip di setiap tempat. Sakura menutup mulutnya tak percaya, ia kembali menangis karena terharu dan bahagia. Tempat ini begitu indah, pohon, bunga, danau dan jembatan kayu, semuanya tampak jauh lebih indah. Dan Sakura merasa setelah sekian tahun lamanya ia baru merasa sebahagia ini. Kepala Sakura bersandar di dada Naruto, menikmati setiap detik yang ia lalui bersama pria itu.

"Kau tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukku?"

Diam-diam Sakura tersenyum. "Kalau aku mengucapkannya kau pasti pergi. Aku tidak ingin mengucapkannya."

Naruto tersenyum sendu. "Aku tidak bisa,"

"Kenapa tidak bisa..." Sakura tidak bisa menahan air matanya. "Tetaplah di sini, di dalam tubuhnya, untukku."

"Dia laki-laki baik yang pantas untukmu. Dia sudah melakukan banyak hal tanpa kau tahu."

"Aku tidak peduli,"

"Tapi ... aku tahu, kau sangat peduli. Akui saja Sakura... akui kalau kau menyukainya, aku tidak apa-apa." Sakura memeluk Naruto lebih erat. Naruto tersenyum. Mereka berhenti berdansa, berdiri diam saling berpelukkan . Telapak tangan besar Naruto menggenggam tangan Sakura kemudian menciumnya. Pria berambut pirang itu memaksakan senyum. "Aku sudah mati. Aku sudah lama mati," cairan bening menitik di pipinya.

Mereka saling menatap satu sama lain. "Buat aku bahagia, aku mohon, biarkan aku pergi dengan tenang..." samar-samar tubuh Naruto mengeluarkan cahaya.

Sakura mengusap pipinya. "Apa kita akan bertemu lagi?" Naruto menggeleng. "Kenapa kau melakukan ini kalau kau meninggalkanku..." isaknya. "Kau jahat! Kau sangat jahat...!" Dengan marah Sakura mendorong tubuh Naruto menjauh darinya. Dia merasa dipermainkan. Baru beberapa saat lalu dia merasa bahagia, wanita itu terduduk lemas di batu ubin dan menangis sejadi-jadinya, tapi kini dia jatuh dalam jurang yang sama. "Untuk apa bertemu kalau berakhir seperti ini, hiks..."

"Kau harus menerimanya. Aku sudah mati! Kenapa kau tidak mau mengerti..." menghela napas mengatur emosi manusianya Naruto menghela napas. Setelah sekian lama ini pertama kalinya dia menangis. Kenapa sesakit ini? Rasa sakitnya sama seperti akan mati. Rasa takut itu juga sama seperti saat ia melihat malaikat pencabut nyawa mencabut nyawanya.

"Jangan pergi ..." Sakura memohon lirih.

"Maaf, aku harus." Naruto si hantu tidak memiliki banyak waktu, waktunya hanya dua puluh menit di dalam tubuh Naruto, waktunya sangat terbatas. Sekalipun dia tidak ingin pergi tapi dia harus pergi, keluar dari tubuh Naruto.

...

Naruto tidak tahu apa yang terjadi selama tubuhnya dipinjam Naruto si hantu. Yang dia tahu dia berdiri di taman itu, sebuah taman yang dihias sederhana dengan lampu lalulintas. Naruto bahkan tidak pernah berpikir kalau lampu lalulintasnya akan dijadikan lampu hias seperti ini. Ia mendengus menahan senyum. "Dasar..." gumamnya melihat yang dilakukan Naruto. Samar-samar dia mendengar suara isakan di dekatnya, dan saat Naruto mencari sumber suara Naruto dibuat terkejut melihat Sakura duduk di lantai ubin seraya menangis sedih. "Sakura ..."

"Jangan mendekat,"

Naruto tidak menghiraukan perkataan Sakura. Pria itu mendekati Sakura dan memeluknya. "Apa yang terjadi?"

Sakura meronta meminta dilepaskan. "Aku bilang jangan mendekat! Apa kau tuli?!"

"Kenapa menangis?"

Dengan marah Sakura mendorong Naruto menjauh. Ditatapnya pria itu tajam tapi kemudian tatapannya melemah karena air mata. "Aku menangis karena aku ingin. Kau pergi dari sini." Kata-katanya melirih di ujung kalimatnya. Tatapannya kosong, dan tubuhnya terlihat bergetar menahan isakkan. "Satu-satunya yang harus kau lakukan hanyalah pergi dari sini. Tinggalkan aku sendiri." Naruto diam menatap Sakura yang terlihat kacau.

Wanita itu terus menjerit menyuruhnya pergi, tapi Naruto tidak peduli, karena dia ingin tetap di sini menemani wanita itu. Dia bertanya-tanya kenapa Sakura menangis sampai seperti ini? Apa Naruto hantu gagal hidup kembali? Lalu ke mana dia?

Sakura berusaha menahan tangisnya, menekan perasaan sesak itu sekuat yang ia bisa agar dia tidak menangis. Tapi tidak bisa. Ini terlalu sakit. Sakura menangis kembali, dia merintih kesakitan di dalam tangisnya. "Aku mohon..." lirihnya. Naruto diam di tempatnya dengan kepala menunduk dan kedua tangan mengepal. "Tinggalkan aku sendiri."

Dengan berat hati Naruto pergi dari tempat itu meninggalkan Sakura sendiri. Bersyukur Naruto si hantu membawa mobilnya masuk ke taman. Naruto duduk di depan kemudi menatap lirih Sakura yang sedang menangis. Sakura beranjak dari tempatnya dan mendekati sebuah pohon. Wanita itu duduk melamun di bawah pohon, menangis, dan memeluk lututnya. Naruto memejamkan matanya sesaat sebelum membukanya kembali dan menatap Sakura.

Sementara itu Naruto si hantu duduk di atap sebuah gedung menatap sedih bulan malam itu. Itu kesempetannya yang terakhir meminjam tubuh manusia, dan itu artinya itu terakhir kalinya ia bisa memeluk tubuh dan mengatan cinta pada Sakura. Dia akan kembali seperti bayangan, bisa melihat, mendengar, tapi tidak bisa menyentuh dan berbicaranya dengannya.

.

.

.

.

.

T

B

C

.