Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 3

JIMIN POV

Sekarang adalah hari ulang tahun ibuku. Taehyung sudah dua kali meneleponku menanyakan apakah aku akan menelepon ibu. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Dia sedang berada di pantai di Jeju bersama dengannya. Hal ini sama sekali tidak mempengaruhinya. Sekali lagi dia kabur untuk menikmati hidupnya sementara itu meninggalkan anaknya di belakang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Taehyung menelepon lagi. Kau ingin aku menjawabnya dan mengatakan padanya agar meninggalkan kau sendirian?"

Hoseok berjalan masuk ke ruang tamu memegang ponselku di tangannya sementara ponsel itu berdering. Dua orang itu bertengkar seperti layaknya saudara kandung,

"Tidak, berikan itu padaku," jawabku sambil dia melemparkan ponsel itu padaku.

"Taehyung," sapaku dengan hangat.

"Apakah kau akan menelepon Eomma atau tidak? Dia sudah dua kali meneleponku sekarang bertanya apakah aku bicara padamu dan jika kau ingat ini adalah hari ulang tahunnya. Dia peduli padamu. Berhenti membiarkan pria itu menghancurkan segalanya, Jimin. Dia menodongkan senjatanya padaku, demi Tuhan, senjata, Jimin. Dia gila. Dia…"

"Berhenti. Jangan berkata apa-apa lagi. Kau tidak mengenalnya. Kau tidak ingin tahu tentangnya. Jadi hentikan. Aku tidak akan menelepon ibu. Lain kali dia menelepon katakan padanya seperti itu. Aku tidak ingin mendengar suaranya. Aku tidak peduli akan liburannya atau apa yang dia dapatkan saat ulang tahunnya."

"Ouch," gumam Hoseok saat dia merebahkan diri pada sofa diseberangku dan menopangkan kakinya.

"Aku tidak percaya kau berkata seperti itu. Aku tidak memahamimu. Dia tidak mungkin baik dalam…"

"Jangan Taehyung. Percakapan ini selesai. Telepon aku jika kau butuh aku."

Aku menekan tombol end, kemudian melemparkan ponselku ke kursi disampingku dan menyandarkan kepalaku pada bantal.

"Ayo pergi. Sedikit minum. Berdansa dengan beberapa pria. Lupakan semua omong kosong ini. Semuanya." kata Hoseok.

Dia menyarankan ini beberapa kali selama lebih dari tiga minggu. Atau setidaknya sejak aku berhenti memecahkan sesuatu dan dia merasa itu sudah cukup aman untuk bicara.

"Tidak," jawabku tanpa melihatnya .

Tidak ada satu alasan pun untuk bersikap seolah aku baik-baik saja. Sampai aku tahu Yoongi baik-baik saja, aku tidak akan pernah baik. Dia mungkin tidak akan memaafkanku. Masa bodoh dia mungkin tidak akan pernah melihatku lagi tapi aku ingin tahu apakah dia sudah pulih. Aku ingin tahu sesuatu. Apa saja.

"Aku sangat baik untuk tidak ikut campur. Aku membiarkanmu menjadi gila, berteriak pada semua yang bergerak dan menyebalkan. Kupikir ini saatnya kau bilang sesuatu padaku. Apa yang terjadi ketika kau pergi ke Daegu? Sesuatu pasti telah terjadi. Kau tidak kembali menjadi orang yang sama."

Aku menyayangi Hoseok seperti saudara tetapi tidak mungkin aku mengatakan padanya tentang malam di kamar hotel bersama Yoongi. Dia telah terluka dan aku sangat putus asa.

"Aku tidak ingin membicarakannya. Tapi aku ingin pergi keluar. Berhenti menatap pada semua dinding ini dan mengingatnya... ya, aku perlu keluar."

Aku berdiri dan Hoseok melompat dari tempat duduknya di sofa. Kelegaan nampak nyata di matanya.

"Untuk apa kau pergi keluar? Bir atau pria atau keduanya?"

"Musik yang keras," jawabku.

Aku benar-benar tidak perlu bir atau pria... Aku hanya tidak siap untuk itu.

"Kita harus keluar kota. Mungkin ke Ulsan?"

Aku melemparkan kunci mobilku padanya,

"Tentu, kau yang menyetir."

Bunyi bel menghentikan langkah kami berdua. Terakhir kali aku punya tamu tak diundang berakhir dengan tidak baik. Seolah ada polisi yang datang untuk menahanku karena memukul wajah Zhoumi. Cukup aneh, aku tidak peduli. Aku tidak takut.

"Aku yang akan membukanya," kata Hoseok, menatapku dengan gelisah.

Dia memikirkan hal yang sama. Aku duduk kembali di sofa dan menopangkan kakiku ke atas meja kopi di depanku. Ibuku tidak menyukainya ketika aku meletakkan kakiku di atas meja ini. Dia membelinya pada waktu liburan luar negerinya dan meja itu dikirimkan kesini. Tiba-tiba perasaan bersalahku datang karena tidak meneleponnya, tapi ini hidupku. Aku membuat wanita itu bahagia dan menjaga Taehyung untuknya. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku sudah selesai dengan semua omong kosongnya.

"Namjoon, ada apa? Kami baru saja akan keluar. Kau mau ikut?" kata Hoseok sambil melangkah mundur dan membiarkan Namjoon masuk ke dalam rumah.

Aku tidak bangun. Aku ingin dia pergi. Melihat Namjoon mengingatkanku pada Jin yang mengingatkanku pada Yoongi. Namjoon harus pergi.

"Uh, tidak, aku uh... Aku perlu bicara padamu, Jimin, tentang suatu hal," kata Namjoon, menyeret kakinya dan memasukkan tangannya ke sakunya.

Dia kelihatannya siap untuk melompat keluar dari pintu.

"Oke," balasku.

"Hari ini mungkin bukan waktu yang baik untuk berbicara dengannya, kawan," kata Hoseok, melangkah ke depan Namjoon dan menatapku.

"Kami berdua mau keluar. Ayo pergi. Namjoon bisa bicara nanti."

Sekarang aku penasaran,

"Aku bukanlah orang yang tidak terkendali, Hoseok. Duduklah. Biarkan dia bicara."

Hoseok menghembuskan nafas dan menggelengkan kepalanya.

"Baiklah. Kau akan mengatakan padanya omong kosong ini sekarang, maka katakan padanya."

Namjoon menatap Hoseok dengan gugup kemudian dia menatapku kembali. Dia berjalan dan duduk di kursi yang paling jauh dariku. Aku menatap saat dia mengusap telinganya dan ingin tahu apa yang akan dia katakan adalah hal penting.

"Jin dan aku menjadi lebih serius," dia memulai.

Aku sudah tahu ini. Aku tidak peduli. Aku merasakan rasa sakit terbuka di dadaku dan aku mengepalkan tanganku. Aku harus fokus untuk memasukkan udara ke dalam paru-paruku. Jin adalah teman baik Yoongi. Dia tahu bagaimana Yoongi.

"Dan uh... tempat tinggal Jin sewanya naik dan tempat itu juga buruk. Aku merasa tidak aman dia tinggal disana. Jadi, aku bicara pada Jungkook dan dia bilang bahwa ayahnya punya kondominium dengan dua kamar yang kosong jika aku ingin menyewanya. Aku uh, menyewanya untuk Jin dan membayar uang sewa dan semuanya. Tapi ketika aku mengajaknya untuk melihatnya dia marah. Sangat marah. Dia tidak ingin aku membayar uang sewanya. Dia bilang itu membuatnya merasa murahan,"

Dia menghembuskan nafas dan tatapan maaf yang tetap terlihat di matanya tetap tidak berarti. Aku tidak peduli tentang pertengkarannya dengan Jin.

"Itu dua kali lebih... atau, setidaknya, Jin berpikir itu dua kali lebih mahal dari tempat tinggal lamanya. Dan sebenarnya itu empat kali lebih mahal dari tempat lamanya. Aku meminta Jungkook merahasiakannya. Aku membayar bagian yang lain tanpa dia ketahui. Ngomong ngomong. Dia, uh... dia... pergi ke Daegu hari ini. Dia menyukai kondominium itu. Dia ingin tinggal di properti klub atau di pantai. Tapi satu-satunya orang yang dia anggap cocok sebagai teman sekamarnya adalah... Yoongi."

Aku berdiri. Aku tidak bisa duduk.

"Whoa bro... duduklah."

Hoseok menahanku dan aku menepisnya.

"Aku tidak marah. Aku hanya perlu bernapas," kataku, menatap keluar ke pintu kaca menatap ombak yang menghantam pantai.

Jin pergi untuk mendapatkan Yoongi. Jantungku berdetak cepat. Apakah dia akan datang?

"Aku tahu kalian berdua berakhir dengan tidak baik. Aku memintanya untuk tidak melakukannya tapi dia marah dan aku tidak suka membuatnya marah. Dia bilang dia merindukan Yoongi dan Yoongi membutuhkan seseorang. Dia, uh, juga bicara pada Jungkook agar memberi Yoongi pekerjaan lagi jika dia bisa mendapatkan Yoongi kembali."

Yoongi. Kembali...

Dia tidak akan kembali. Dia membenciku. Dia membenci Taehyung. Dia membenci ibuku. Dia membenci ayahnya. Dia tidak akan kembali ke sini...

Tapi ya Tuhan, aku ingin dia kembali. Aku menoleh dan melihat Namjoon.

"Dia tidak akan kembali," kataku.

Rasa sakit di suaraku tidak bisa dipungkiri. Aku tidak peduli untuk menyembunyikannya. Tidak lagi. Namjoon mengangkat bahu.

"Dia mungkin butuh waktu untuk memikirkan hal ini. Bagaimana jika dia kembali? Apa yang akan kau lakukan?" Hoseok bertanya padaku.

Apa yang akan kulakukan? Aku akan memohon.

.

.

.

YOONGI POV

Jin menghentikan mobil Namjoon ke Starbucks. Aku melihat mobil Volkswagen kecil berwarna biru milik Henry dan memutuskan untuk tidak keluar dari mobil. Aku hanya pernah bertemu Henry dua kali sejak aku kembali dan dia sudah siap mencakar keluar mataku. Dia telah menyukai Zhoumi semenjak SMA. Aku pulang kembali dan mengacaukan apa pun jenis hubungan mereka yang akhirnya telah berhasil mereka jalani. Aku tidak bermaksud seperti itu. Dia bisa memiliki Zhoumi. Jin mulai keluar dari mobil dan aku meraih lengannya.

"Mari kita bicara di dalam mobil saja," kataku, menghentikannya.

"Tapi aku ingin minum dan beberapa kue dengan taburan keju diatasnya," keluhnya.

"Aku tidak bisa bicara di sana. Aku kenal banyak orang," jelasku.

Jin menghela napas dan bersandar di kursinya.

"Oke baik. Lagipula diriku tidak membutuhkan minuman dan kue."

Aku tersenyum dan santai, berterima kasih atas jendela berwarna gelap. Mengetahui aku tidak akan terlihat saat orang berhenti dan menatap mobil Namjoon itu. Tidak ada seorang pun di sini yang mengendarai mobil yang bahkan dekat dengan lingkaran ini.

"Aku tidak akan bertele-tele dengan ini, Yoongi. Aku merindukanmu. Aku tidak pernah punya teman dekat pria sebelumnya. Tidak pernah. Kemudian kau datang dan kau pergi. Aku benci ketika kau pergi. Pekerjaan menjadi menyebalkan tanpamu ada di sana. Aku tidak memiliki seorangpun yang bisa di ajak cerita tentang kehidupan seksku dengan Namjoon dan bagaimana manisnya dia yang mana takkan pernah kudapatkan bila aku tak mendengar nasihatmu. Aku hanya merindukanmu."

Aku merasa airmata mulai menggenang. Hanya merasa dirindukan terasa begitu baik. Aku merindukannya juga. Aku merindukan banyak hal.

"Aku juga merindukanmu," jawabku , berharap aku tidak menjadi cengeng.

Jin mengangguk dan senyum terpasang di bibirnya.

"Oke baik. karena aku ingin kau kembali dan tinggal bersamaku. Namjoon menempatkanku di kondominium tepi pantai di properti klub. Aku, bagaimanapun, menolak untuk membiarkan dia membayarnya. Jadi, aku butuh teman sekamar. Tolong kembalilah. Aku membutuhkanmu. Dan Jungkook mengatakan kau akan mendapatkan pekerjaanmu kembali segera."

Kembali ke Busan? Kembali ke Gwangali? Dimana Jimin berada... dan Taehyung... dan ayahku. Aku tidak bisa kembali. Aku tidak bisa bertemu mereka.

Mereka akan berada di klub. Apakah ayahku akan mengajak Taehyung untuk bermain golf? Bisakah aku melihatnya? Tidak, aku tidak bisa. Ini akan menjadi terlalu menyakitkan.

"Aku tidak bisa," aku tercekat.

Aku berharap aku bisa. Aku tidak tahu kemana aku akan pergi sekarang mengetahui bahwa aku hamil tapi aku tidak bisa pergi ke Gwangali dan aku tak bisa tinggal disini.

"Kumohon, Yoongi. Jimin merindukanmu juga. Dia tidak pernah meninggalkan rumahnya. Namjoon mengatakan dia begitu menyedihkan."

Rasa amarah seketika menggelegak dalam dadaku. Mengetahui bahwa Jimin juga sakit terasa terlalu berat. Aku membayangkan dia mengadakan pesta dirumahnya dan meneruskan hidupnya. Aku tidak ingin dia masih sedih. Aku hanya perlu bagi kita untuk melanjutkan hidup. Tapi mungkin aku tidak akan pernah bisa. Aku akan selalu mengingat Jimin.

"Aku tidak bisa melihat mereka. Salah satu dari mereka. Ini akan terlalu berat," aku berhenti.

Aku tidak bisa memberitahu Jin tentang kehamilanku. Aku sendiri hampir tidak punya waktu untuk memahaminya. Aku belum siap untuk memberitahu siapa pun. Aku mungkin tidak akan pernah memberitahu siapa pun selain Zhoumi. Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Kemanapun aku pergi aku tak ingin mengenali seorangpun. Aku akan mulai lagi dari awal .

"Ayah... eh Jiwon dan Hyori tidak ada. Mereka pergi. Taehyung ada tapi dia lebih tenang sekarang. Kurasa dia mengkhawatirkan Jimin. Akan sulit pada awalnya, namun setelah kau mencoba melupakan lukamu kau bisa mengatasi mereka. Bahkan segalanya. Selain itu, dari gaya mata Jungkook yang mengerjap bahagia ketika aku menyebutkan kau akan kembali kau bisa mengalihkan dirimu padanya. Dia jauh lebih menarik."

Aku tidak ingin Jungkook. Dan tidak ada yang dapat mengalihkan perhatianku. Jin tidak tahu segalanya. Aku pun tidak bisa mengatakan padanya. Tidak hari ini.

"Sebanyak yang ku inginkan... aku hanya tidak bisa. Maafkan aku."

Aku menyesal. Tinggal bersama Jin dan mendapatkan kembali pekerjaanku di klub akan menjadi jawaban untuk masalahku, hampir. Jin mendesah frustrasi dan membaringkan kepalanya kembali di kursi dan memejamkan mata.

"Oke. Aku mengerti. Aku tidak menyukainya namun aku mengerti."

Aku mengulurkan tangan dan meremas tangannya erat. Aku berharap sesuatu yang berbeda. Jika saja Jimin hanya seorang lelaki dari beberapa lelaki yang telah putus denganku mungkin itu lebih baik. Tapi dia tidak. Dia tidak akan pernah. Dia lebih dari itu. Jauh lebih dari yang bisa Jin mengerti. Jin meremas tanganku kembali.

"Aku akan membiarkan ini berlalu untuk hari ini. Tapi aku tidak akan segera mencari teman sekamar. Aku memberimu waktu seminggu untuk berpikir tentang hal ini. Lalu aku harus mencari seseorang untuk membantuku membayar tagihan. Jadi kau mau kan? Memikirkan tentang hal ini?"

Aku mengangguk karena aku tahu itu apa yang dia butuhkan walau aku tahu dia menunggu dengan sia-sia.

"Bagus. Aku akan pulang dan berdoa jika Tuhan masih mengingat siapa sih aku ini."

Dia mengedipkan mata ke arahku dan kemudian melintasi kursi untuk memelukku.

"Makanlah makanan untukku, oke? Kau terlalu kurus," katanya.

"Oke," jawabku, bertanya-tanya apakah itu akan mungkin.

Jin duduk kembali.

"Nah, jika kau tidak akan berkemas dan kembali ke Gwangali denganku maka setidaknya mari kita pergi keluar. Aku perlu untuk menginap semalam sebelum aku melakukan perjalanan ini lagi. Kita bisa mencari tempat hiburan di suatu tempat dan kemudian lelah setibanya di hotel."

Aku mengangguk.

"Ya. Kedengarannya menarik. Hanya saja tidak ada country club."

Aku tidak bisa datang kembali salah satu dari mereka. Setidaknya tidak secepat ini. Jin mengerutkan kening.

"Oke... tapi apakah ada sesuatu yang lain di negara bagian ini?"

Dia punya tujuan.

"Ya... Kita bisa menyetir ke Gyeongju. Itu adalah kota besar terdekat."

"Sempurna. Mari kita bersenang-senang."

Ketika kami berhenti di parkiran jalan di rumah Wang halmeonni dia duduk di luar di teras sedang mengupas bawang. Aku tidak ingin menemui dia, tapi dia telah memberiku tempat tinggal selama tiga minggu tanpa pamrih. Dia berhak mendapatkan penjelasan jika dia ingin. Aku tidak yakin Zhoumi telah memberitahunya segalanya. Mobilnya tidak ada di sini dan aku sangat berterima kasih.

"Kau ingin aku tetap tinggal di mobil?" tanya Jin.

Akan lebih mudah jika dia melakukannya tapi Wang halmeonni akan melihatnya dan mengatakan betapa tidak sopannya diriku jika tak mengijinkan temanku untuk masuk.

"Kau bisa ikut denganku," kataku dan membuka pintu mobil .

Jin berjalan mengitari bagian depan mobil dan melangkah disampingku. Wang halmeonni tidak mendongak dari bawangnya tapi aku tahu dia mendengar kami. Dia sedang memikirkan apa yang akan dia katakan. Zhoumi pasti telah memberitahunya.

Sialan!

Aku memandang saat ia terus mengupas bawang dalam keheningan. Hanya rambut pendek berwarna putihlah yang bisa aku lihat darinya. Tidak ada kontak mata. Akan jauh lebih mudah untuk hanya masuk ke dalam dan mengambil keuntungan darinya yang tak berbicara padaku. Tapi ini adalah rumahnya. Jika dia tidak ingin aku berada di sini, aku perlu untuk berkemas dan pergi.

"Hei, Wang halmeonni," kataku dan berhenti, menunggu dia untuk mengangkat kepalanya untuk menatapku.

Senyap. Dia marah denganku. Kecewa atau marah, aku tidak yakin yang mana. Aku benci Zhoumi sekarang untuk memberitahunya. Tidak bisakah dia menutup mulutnya?

"Ini temanku, Jin. Dia datang untuk mengunjungiku hari ini," lanjutku.

Wang halmeonni akhirnya mengangkat kepalanya dan kemudian tersenyum pada Jin selanjutnya tatapannya berpindah padaku.

"Kau ajaklah dia masuk dan suguhkan dia segelas besar es teh dan berikan dia sepiring pie goreng yang telah kudinginkan di meja. Kemudian kembalilah keluar sini dan bicara padaku sebentar, hm."

Ini bukan perintah, itu permintaan halus. Aku mengangguk dan memimpin Jin masuk ke dalam.

"Apakah kau membuat jengkel wanita tua itu?" bisik Jin ketika kami berada aman di dalam rumah.

Aku mengangkat bahu. Aku tidak yakin.

"Aku tidak tahu," jawabku.

Aku pergi ke lemari dan mengambil gelas tinggi dan pergi untuk menyuguhkan Jin segelas es teh. Aku bahkan tidak bertanya apakah dia menginginkannya. Aku hanya mencoba untuk melakukan apa yang dikatakan Wang halmeonni tadi.

"Ini. Minumlah ini dan makanlah sepotong pie goreng. Aku akan segera kembali dalam beberapa menit," kataku dan bergegas kembali ke luar.

Aku harus menyelesaikan masalah ini.


-TBC-

[Hai, semuanyaaa... curcol bentar n mau nanya: apa semuanya oke, fine, sehat di sanaaa? Uda pada denger dong news our Agust D aka Min Genius Suga yang bakal rilis mixtape-nya next Agustus?! Karena aku sangat sangat sangat gak nyante! hyper! exciting! Huaaaaa... Walo masih anticipating minimini sub-unit tapi kalopun only Yoongi himself rilis mixtapenya, aku akan tetep bahagiaaa... :') Dan demi apapun gak paham lagi kenapa bighit tiap bulan ada aja kelakuannya... btsmemories2015 br juga heboh, trs announcing SumPackInDubai bln ini, n bln dpn sub-unit & mixtape... Not that I hate it, cuma jadi berasa pen bgt hujan duit wahaha...]

[Now, back to this FF. Seperti yang udah ditulis as warning note di atas (yang memang sengaja ditulis dari chapter ini, ceritanya mau sok misterius tp gagal hohoho), kalau FF ini memang ada MPreg-nya.]

[Anyway, sekali lagi reader-nim yang sangat sangat pinterrrr, Yes, bingo! buat yang uda nebak Yoongi hamil di sini, emang bener tepat sekali, hehehe...]

[So gimana, kalian excited kah sama Min Suga + mixtapenya & Min Yoongi + kehamilannya (?) :D]

P.S:

[Note untuk semua reader FF2ku: Ffnet lg error nih dari 20 Juli, review2 kalian gak nongol di app n di web. Untungnya aku terima notif di email. Jadi aku baca semua kok review2 dari kalian ^^ Sorry gak bisa bales satu2 ky biasa, tiap mau klik link dari email itu selalu error huff ;_; Keep read n review yaaa, jangan bosen2 karena aku gak pernah bosen baca unek2 kalian hehe. Moga2 cepat 'sembuh' nih ffnet jd aku bisa reply2in kalian lagi deh :')]

.

.

.

Preview: Chapter 4

-Yoongi POV-

"Zhoumi. Ada apa denganmu? Apakah kau baik-baik saja?" tanyaku.

"Aku baik-baik. Aku hanya sedikit babak belur. Anggap saja pria itu tidak suka padaku, oke."

"Siapa?"

.

-Jimin POV-

"Aku tidak akan berbicara denganmu tentang kehidupan pribadiku, Luhan."

"Whoa sabar, tampan. Aku tidak berusaha untuk membuatmu kesal. Hanya berbasa-basi."