Sudah sebulan lamanya Naruto tidak bertemu Sakura, setelah malam itu Sakura tidak lagi menunjukkan batang hidungnya. Dia tidak lagi pergi ke padang ilalang, pemakaman atau toko bunga seperti biasa. Tidak hanya Sakura, Naruto si hantu pun sama, dia menghilang. Naruto tidak pernah bertemu dengan mereka berdua. Bila Naruto ingin melihat Sakura dia harus bersembunyi, menatap diam-diam wanita itu di balkon kamarnya, karena bila Sakura melihat keberadaan Naruto wanita itu akan segera masuk dan menutup pintu kaca serta menutup gorden. Naruto sering melihat Sakura melamun di balkon ditemani teman wanita berambut pirangnya yang tidak Naruto kenal. Setelah malam itu semuanya menjadi lebih buruk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
.
.
.
Koizora [Sky Of Love]
.
.
.
.
.
.
.
...
Cintanya sudah pupus, dan Naruto yakin apapun yang ia lakukan ia tidak akan bisa menggenggamnya, memilikinya. Naruto berdiri di bawah pohon di padang ilalang menatap rumput liar melalui kacamata hitamnya. Dia semakin tampan dengan kemeja putih bergaris fertikal yang dipadu celana bahan mahal berwarna hitam, rambut pirangnya yang berstale acak-acakan membuatnya semakin terlihat mempesona. Putra Namikaze Minato itu melepas kacamatanya saat seekor kupu-kupu bersayap kuning akan hinggap di hidungnya. "Hush... pergilah." Kupu-kupu bersayap kuning itu melewati Naruto mengikuti perintah pria itu. Tatapan Naruto lurus ke depan pada ilalang yang bergoyang mengikuti arah angin.
Dulu, ada seorang wanita berambut merah muda yang selalu datang ke tempat ini. Dia wanita merah muda pendiam dengan sepedanya yang selalu menyempatkan diri datang hanya untuk melihat rumput ilalang dan mengenang masalalu. Seorang wanita yang menenggelamkan dirinya dalam kenangan yang sudah mati. Dan seorang wanita yang kini menghuni seluruh bagian disetiap sudut hatinya, yang dengan kejamnya tidak menyisakan sedikitpun tempat kosong untuk orang lain. Memaksanya untuk selalu ingat dan memikirkannya setiap waktu.
Selama ini Naruto sadar dia tlah menjadi sosok pria lemah yang menjungjung tinggi sebuah perasaan yang bernama Cinta. Dia bukan lagi seorang Naruto Namikaze yang dulu suka bermain dengan wanita berbeda setiap malamnya dan hampir meniduri seluruh gadis dan wanita Suna. Konoha... belum satu wanita pun ia tiduri.
Naruto memejamkan kedua matanya kemudian membukanya kembali. Tatapannya jauh memandang ujung padang ilalang, "untuk apa mengejar satu wanita kalau aku bisa mendapat sepuluh wanita." Dan untuk apa jatuh cinta kalau berakhir menderita. Lebih baik bercinta yang bisa membuatnya melupakan sakitnya cinta, walau hanya sesaat, dan merasakan sebuah kesenangan, sesaat.
Mereka bilang, cinta itu indah. Dia bisa membuatmu terbang ke langit ke tujuh, membuatmu tersenyum tanpa sebab, dan merasakan debaran menyenangkan di dada.
Tapi...
Tidak semua cinta berakhir indah.
...
Di balkon kamarnya Sakura duduk melamun menatap bintang yang menghiasi malam. Wanita itu jauh memandang ke ujung langit dengan emeraldnya yang meredup ketika sekilas bayang Naruto yang mati di depannya, di pangkuannya, membayang di matanya.
"Tidak! Jangan! Aku mohon jangan!"
"JANGAN! JANGAN PUKUL DIA! JANGAN PUKUL DIA! DIA BISA MATI!"
Dia menangis bukan karena kepalanya berdarah karena pukulan orang-orang itu, bukan pula karena punggungnya dipukuli, tapi karena orang dalam pelukkannya tidak bernapas, dada pemuda itu tidak bergerak naik turun sedikit pun. Sakura mengisak sendu. Dipeluknya tubuh Naruto semakin erat.
Dalam pelukkan Sakura, Naruto terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya. Sakura melepaskan pelukkan, menatap Naruto penuh harap dan linangan air mata. Gadis itu tersenyum saat jemari berumuran darah pemuda itu mengusap aliran darah di pipinya, "kau berdarah ..." kata Naruto lirih, hampir tak terdengar. Bahkan di saat seperti ini pun, Naruto masih mengkhawatirkan, di saat pemuda itu sendiri sedang sekarat.
Sakura menggeleng, "aku tidak apa-apa," kemudian menangis melihat kepala Naruto dilumuri darah hitam pekat, darah kental.
Sedikit tersenyum tangan Naruto yang mengelus pipi Sakura kemudian jatuh. Bibirnya sedikit terbuka, matanya terbuka lemah namun kosong, dadanya benar-benar berhenti bergerak.
Sakura diam menatap kosong langit. Setitik demi setitik air mata jatuh membasahi pipinya yang tirus, terus turun dan kemudian jauh membasahi lengannya yang memeluk lutut. Ia menenggelamkan wajahnya dilipatan lutut. Perlahan, ia menangis mengisak-isak. Kenapa Naruto kembali bukan untuk menjemputnya, membawanya bersama pria itu. Kenapa Naruto kembali meninggalkannya dalam lubang gelap yang sama. Sebuah lubang sempit nan gelap yang membuatnya sesak.
"Kau kejam. Kau sangat jahat Naruto ..." isaknya.
Dia menunggu. Menunggu dengan sabar sebuah keajaiban, berharap siang malam pria yang dicintainya hidup kembali. Selalu pergi ke tempat-tempat yang sering dikunjunginya bersama Naruto dengan harapan Naruto akan kembali, menemuinya di padang ilalang, seperti dalam film bodoh. Atau Naruto kembali ketika ia mengunjungi makamnya.
Ino menatap sedih Sakura dari balik balkon. Wanita cantik berambut pirang itu kemudian mendekati Sakura dengan dua gelas teh hangat di tangan kanan-kirinya. "Apa yang kau lakukan?" Senyumnya kemudian mengambil duduk di samping Sakura.
Sakura menatap sejenak sebelum kembali menatap bintang di langit. "Melihat bintang." Dia tersenyum palsu pada Ino dan kembali melamun.
Ino terdiam beberapa saat, kemudian menghela napas. "Mau teh?"
...
Karena paksaan Ino, Sakura mengikuti wanita berambut pirang itu pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di Konoha. Ino merasa harus mengajak Sakura yang tidak pernah keluar rumah untuk bersenang-senang, berbelanja. Wanita pirang itu membawa Sakura ke toko baju, mengajak wanita berambut merah muda itu memilih baju model terbaru. Tapi Sakura sepertinya tidak tertarik, wanita itu berdiri diam di samping Ino yang sedang memilih pakaian.
"Kau sudah selesai, Ino?"
Ino menghela napas dengan sikap sahabat pinknya. Wanita cantik berambut pirang itu menunjukkan baju di tangannya. "Coba ini," dia tersenyum. "Ini pasti cocok." Bujuknya. Sakura menatap Ino dan baju itu bergantian kemudian menggelengkan kepalanya. "Ayoo Sakura..." Ino mendorong tubuh Sakura ke sebuah ruangan.
...
Ino tersenyum puas dengan hasil perburuannya, dua tangannya penuh oleh kantung pakaian, parfum, dan sepatu tinggi. Di sampingnya Sakura berjalan dalam diam dengan satu kantung berisi pakaian di tangan kirinya. "Bagaimana menurutmu?"
"Hn?" Sakura menoleh dengan cepat.
"Malam ini. Apa kau senang?"
"Ya, Ino. Terima kasih."
Ino menyenggol main-main pundak Sakura seraya tersenyum jenaka. "Jangan berterima kasih padaku." Sakura tersenyum tipis pada Ino.
Mereka berdua sampai di tempat parkir mall tanpa menyadari sejak tadi mereka diikuti. Ino berjalan lebih dulu dan membunyikan alaram mobilnya. Dan saat ia berbalik ia dikejutkan dengan hilangnya keberadaan Sakura dan hanya ada kantung pakaiannya saja yang tergeletak di lantai.
Dengan panik Ino berlari ke tempat tadi Sakura berdiri dan memungut kantung milik Sakura. "Sakura!" Teriaknya. Dia menatap sekelilingnya dengan mata merah menahan tangis. "Sakura." Gumamnya parau seraya berlari menyusuri bastman mall mencari Sakura.
...
Dua pria berjas hitam membekap Sakura menggunakan sapu tangan dari belakang dan membawa Sakura ke tempat gelap saat Ino melewati mereka. Sakura berusaha memberontak sebelum kesadarannya menghilang. Wanita merah muda itu perlahan tak sadarkan diri.
Pria berambut abu-abu panjang diikat ke belakang tersenyum pada temannya yang menahan tubuh Sakura. "Barang bagus." Dia menyentuh pipi wanita itu seraya tersenyum. "Bos pasti suka."
Pria lain yang berambut pirang panjang ikut memperhatikan wajah Sakura, dan tersenyum. "Hm."
"Ayo cepat." Mereka membawa Sakura mendekati sebuah mobil hitam dan memasukkan wanita itu dalam mobil.
Mereka membawa Sakura ke kamar hotel di sebuah club malam, menggeletakkan begitu saja tubuh wanita itu di lantai berkarpet kamar itu. Mereka berdiri di antara tubuh Sakura yang tergeletak tak sadarkan diri. Tidak jauh dari mereka ada tempat tidur besar yang tertutupi gorden putih tipis, menyamarkan kegiatan seorang pria yang sedang bercumbu dengan dua wanitanya. Kain tipis itu bergoyang ketika angin bertiup dan cahaya samar dalam kamar itu memberi kesan romantis bagai blue film .
"Tuan."
Kegiatan pria bertelanjang dada dan dua wanita tanpa pakaian itu terhenti sesaat. "Siapa?"
Salah satu dari dua pria itu berdehem. "Kami tuan, Kabuto dan Deidara."
Samar terdengar desahan rendah ketika salah satu wanita itu menyusupkan tangan dalam celana pria itu. "Apa yang kalian bawa."
Deidara tersenyum, dia yakin akan mendapatkan uang yang sangat banyak malam ini. "Wanita tuan."
Laki-laki di balik gorden tipis itu mencium panas dua wanitanya. Kedua wanita itu terkikik dengan perlakuan pria tampan itu, tangan mereka meraba tubuh polos bagian atas pria itu, dan tatapannya menggoda menatap tepat kedua mata indahnya. Pria itu tersenyum sebelum berdiri dari tempat tidur dan meninggal wanita-wanita lapar itu. Dia berjalan mendekati Deidara dan Kabuto. Mereka berdua menunduk sopan padanya yang kemudian tidak ia pedulikan. Kedua matanya menatap terkejut wanita yang tergeletak di lantai kamarnya.
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Deidara dan pipi kiri Kabuto dengan sangat cepat dan keras sampai sudut bibir keduanya berdarah karenanya. Deidara dan Kabuto mengusap pipi mereka dan menatap tak mengerti tuan besar mereka. "Bodoh! Apa yang kalian lakukan padanya?!" Teriaknya marah. Dua wanita di atas tempat tidur tadi dibuatnya terkejut oleh kemarahannya.
"Kami hanya membiusnya,"
Plak!
Satu tamparan mendarat lagi di pipi mereka. "Kenapa membawa wanita ini ke sini?! Aku tidak menginginkan wanita ini. Cepat bawa dia pergi dari tempat ini! Dan pasti tidak ada seorang pria pun menyentuhnya!"
Perlahan, kelopak mata Sakura terbuka mendengar suara keributan di sekitarnya. Wanita itu memegangi kepalanya dan menatap sayu sekitarnya. "Di mana aku?"
Mendengar gumaman seseorang yang sangat dia kenal dan ia rindukan pria itu mengalihkan tatapan tajamnya dari Deidara dan Kabuto pada wanita yang terduduk di lantai. Wanita merah muda itu menatap sekelilingnya dan berusaha mengingat apa yang terjadi. Tatapannya jatuh pada dua wanita tanpa pakaian di atas ranjang, dan ia ingat semuanya sekarang. Sakura menatap takut sekelilingnya ketika menyadari dia dalam bahaya dan berada di antara tiga pria tidak ia kenal. Cahaya tamaran kamar itu membuatnya tak bisa melihat jelas satu pun wajah dari mereka. Sakura menyeret tubuhnya menjauh dari pria-pria itu.
Pria bertelanjang dada itu memberi isyarat tangan pada dua bawahannya untuk pergi dan perlahan-lahan berjalan menjauh dari Sakura yang ketakutan. Tangannya meraba dinding mencari saklar lampu dan dalam sekejap kamar itu berubah gelap. Sangat gelap tanpa cahaya sedikitpun. Terakhir Sakura lihat hanya gelap, sampai pada akhirnya wanita itu pun kembali tertidur dalam ketakutan.
...
Bukan malaikat maut yang Sakura takutkan dalam dunia ini, melainkan manusia-manusia jahat yang seenaknya meniduri dan mempermainkan wanita. Dia pernah sekali diperlakukan sehina itu, bahkan lebih dari itu, dia tidak hanya menjadi hina melainkan ditinggal kekasihnya untuk selamanya, dan membuat trauma bertahun-tahun.
"Kau sangat cantik." Samar Sakura mendengar suara seseorang. Dan dia merasa tangan seseorang menyentuh pipinya lembut. Perlahan wanita itu membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria berambut pirang berpenampilan kasual di depan roda kemudi. Pria itu menghidupkan mesin mobilnya, dan ketika dia menoleh menatap Sakura dengan cepat wanita itu pura-pura tertidur.
...
Naruto menggendong Sakura mendekati mobilnya. Tidak henti-hentinya pria itu mengumpat kesal pada dua bawahannya yang sudah membuat kesalahan fatal. "Aku akan memecat mereka nanti." Kesalnya. Dengan hati-hati ia menidurkan Sakura di kursi samping kemudi. Pria itu terdiam menatap wajah Sakura yang terlelap, dan perlahan tersenyum. "Kau sangat cantik." Dengan gerakkan pelan dan hati-hati diusapnya pipi wanita itu. Dan kemudian dia teringat satu hal.
Naruto menghela napas seraya mengusap rambutnya. Dihidupkannya mesin mobil kemudian menatap Sakura sesaat. "Ku antar pulang."
...
"Aku tidak akan memaksamu lagi," Ino duduk di samping Sakura yang duduk diam di balkon. Wanita cantik berambut pirang itu menggenggam tangan Sakura membuat wanita berambut merah muda itu menoleh menatapnya. Ditatapnya Sakura bersalah. "Aku janji."
"Hm?" Sakura sedang memikirkan banyak hal, salah satunya adalah Naruto yang selalu ada untuknya, jadi dia tidak mendengar dengan baik apa yang Ino katakan. "Apa?"
"Yang kemarin malam. Untung saja Kiba menemukanmu dan mengantarmu pulang. Kau tahu, aku sangat khawatir." Kata Ino dengan wajah sedih. Saat Sakura hilang Ino langsung menghubungi Kiba dan meminta tolong pada pria itu. Dan malam itu Kiba bertemu dengan Naruto, dan Naruto memintanya untuk mengantar Sakura pulang menggunakan mobilnya. Sementara Naruto sendiri memilih pulang menggunakan taxi.
Sakura tersenyum. "Tidak apa-apa Ino, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Apa yang terjadi kemarin malam?"
Sakura mengalihkan tatapan pada langit sore. Ia terdiam cukup lama sampai akhirnya kembali bersuara. "Ino,"
"Hm?"
"Bagaimana rasanya dicintai?"
"Apa?"
"Kalau kau harus memilih, dicintai atau mencintai, apa yang kau pilih?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku rasa aku menyukai keduanya."
"Hm. Begitu ya?"
...
Iruka memalingkan wajah dari pemandangan tak senonoh di hadapannya. Pria itu bahkan memakai kacamata hitam untuk menyamarkan penglihatannya. Dia tidak habis fikir kenapa Tuan mudanya kembali pada kebiasaan buruknya.
"Iruka,"
Iruka menoleh ke asal suara. Di sana, di atas ranjang besarnya, Naruto dengan tiga wanitanya bersenang-senang. Mereka polos tanpa sehelai benang pun. Bergerak dengan semangat menggebu-gebu mencari kenikmatan dan kepuasan sesaat.
"Apa kau juga mau?"
"Apa?"
"Hei, Iruka, biar aku yang berdiri di sana. Kau gantikan aku di sini."
Iruka mengernyit, merasa jijik ketika wanita-wanita telanjang yang sedang bermain dengan Naruto menatapnya dengan senyuman menggoda. Ia sangat ingin menolak tapi tidak tahu bagaimana cara menolak keinginan Naruto. Dan dia sangat bersyukur ketika pintu kamar Naruto diketuk dari luar. "Maaf Tuan, aku permisi sebentar."
Iruka membuka pintu kamar Naruto. Di depan pintu sudah berdiri ketua pelayan yang mengurus Naruto sewaktu kecil. Pria tua itu membisikkan sesuatu pada Iruka. Iruka tersenyum kemudian menutup pintu ketika pria tua itu pergi. Pria tampan berambut hitam diikat kebelakang itu mengambil remot LED TV di kamar itu.
Naruto membiarkan wanita-wanita di atas tempat tidurnya melakukan apapun yang mereka inginkan. Menciumi setiap sudut tubuhnya, naik ke atas tubuhnya, bahkan salah satu dari mereka akan menduduki wajahnya, meminta Naruto menjilati vaginanya. "Tuan muda." Naruto menoleh ke arah Iruka. Naruto mengikuti arah tatapan Iruka. Layar LED TVnya menunjukkan CCTV di gerbang depan. Di sana, berdiri seorang wanita berambut merah muda dan beberapa security. "Sakura." Dengan reflek Naruto mendorong wanita yang akan menduduki wajahnya. Pria itu dengan cepat memakai celananya. Tatapannya tajam menatap Iruka. "Kenapa dia berdiri di sana! Kenapa tidak kalian suruh dia menungguku di taman depan." Kesalnya.
"Maaf Tuan. Nona yang tidak mau, dia bilang dia tidak lama-lama."
Seraya berjalan cepat keluar kamar Naruto berteriak pada Iruka. "Tutup pintu kamar ini. Jangan biarkan Sakura tahu! Jangan sampai dia tahu ada wanita di rumah ini." Kemudian ia berlari ke kamarnya yang lain. Dengan cepat ia memakai kaus kusam dan memakai topi wolnya.
...
Mereka berdiri berhadapan di depan gerbang. Naruto masih tidak percaya Sakura datang ke rumahnya dengan keiinganannya sendiri. Berdiri di sini, berhadapan dengannya. Naruto mendekati Sakura, dan dia tidak bisa menahan senyumnya, senyumnya mengembang. "Kenapa berdiri di sini? Mari... masuklah."
Sakura tersenyum. Naruto terdiam melihat senyumnya. "Aku datang untuk bertemu dengan Namikaze Naruto, bukan Uzumaki Naruto."
Naruto berkedip. "Apa?"
Sakura tersenyum. "Tolong berikan ini padanya kalau dia sudah kembali," ia menyodorkan sebuah surat pada Naruto. "Dan tolong katakan padanya temui aku besok di taman waktu itu." Sakura kembali tersenyum kemudian pergi meninggalkan Naruto yang masih terdiam di tempatnya berdiri.
T
B
C
.
.
.
.
