Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 5
YOONGI POV
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh kaki Jin untuk membangunkannya. Dia telah tertidur selama hampir dua jam. Kami berada di luar pantai Gwangali dan aku memerlukannya untuk mengemudi agar aku bisa melihat mobil Zhoumi pada semua motel murah di sini.
"Kita sudah sampai?" gumamnya mengantuk dan duduk di kursinya.
"Hampir. Aku memerlukanmu untuk menyetir. Aku akan mencari mobil Zhoumi."
Jin menatap bosan. Aku tahu dia melakukan ini hanya dengan harapan bisa membawaku ke Gwangali dan menjagaku disana. Dia kurang peduli tentang menemukan aku butuh tumpangan. Aku akan pergi ke rumah Zhoumi. Dia dan aku akan berbicara. Dia tidak punya urusan untuk datang menemui Jimin. Aku hanya berharap dia tidak mengatakan pada Jimin tentang apa yang kubeli.
Bukan berarti aku ingin menyimpan rahasia itu dari Jimin. Hanya saja aku tidak akan membiarkan semuanya hilang begitu saja. Aku perlu memprosesnya. Mencari tahu apa yang harus kulakukan. Kemudian aku akan menghubungi Jimin. Zhoumi pergi menemui Jimin seperti orang gila bukanlah hal yang kuinginkan. Aku tetap tidak percaya dia melakukan itu.
"Berhenti dulu. Aku ingin masuk kesana dan pertama-tama aku mau latte untukku," perintah Jin.
Aku melakukan sesuai yang dia katakan dan memarkir mobil di depan Starbucks.
"Kau mau sesuatu?" tanya Jin saat dia membuka pintu.
Aku tidak yakin kalau kafein bagus untuk... untuk si bayi. Aku menggelengkan kepalaku dan menunggu sampai dia keluar dari pintu sebelum aku mengeluarkan isakan dari dadaku yang tidak kuharapkan. Aku tidak berfikir apa arti dua garis merah itu. Seorang bayi. Bayi Jimin.
Oh, Tuhan.
Aku keluar dari mobil dan berjalan mengelilingi mobil untuk menuju pintu penumpang. Saat aku kembali ke mobil dan hendak masuk Jin sedang berjalan menuju mobil. Dia terlihat sedikit waspada sekarang. Aku mendorong kembali pikiran tentang bayiku dan fokus untuk menemukan Zhoumi. Aku bisa menjalani masa depanku, masa depan bayiku nanti.
"Ok. Aku punya kafein. Aku siap menemukan pria ini."
Aku tidak membetulkannya. Aku tahu dia sudah tahu namanya sekarang. Aku mengucapkannya beberapa kali. Hanya saja dia menolak untuk mengetahuinya. Baginya ini adalah bentuk dari pemberontakan. Zhoumi mewakili Daegu dan dia tidak ingin aku pergi ke Daegu. Malahan kejengkelannya itu membuatku hangat. Dia menginginkanku dan rasanya menyenangkan.
"Dia meninggalkan Gwangali karena harga kamar hotel terlalu tinggi. Jadi, dia mungkin ada di suatu tempat yang sesuai dengannya. Bisakah kau membawaku ke beberapa tempat itu?" tanyaku.
Dia menggangguk tetapi tidak menatapku. Dia mengetik pesan. Bagus. Aku memerlukannya untuk fokus dan dia malah sepertinya mengatakan pada Namjoon kalau kami hampir sampai. Aku benar-benar tidak ingin Namjoon mengetahui sesuatu. Kami mengemudi selama tiga puluh menit dengan aku memeriksa tempat parkir pada semua motel murah di Busan. Hal ini membuatku frustasi. Dia pasti ada di suatu tempat.
"Bisakah aku meminjam ponsel-mu? Aku akan meneleponnya dan memberitahu kalau aku mencarinya. Dia akan mengatakan padaku keberadaannya kalau dia tahu aku sudah berkendara sampai sejauh ini."
Jin memberikan ponsel-nya padaku dan aku dengan cepat memencet nomor Zhoumi. Terdengar nada dering dua kali.
"Halo?"
"Zhoumi. Ini aku. Kau ada dimana? Aku ada di luar kota Gwangali dan aku tidak bisa menemukan mobilmu dimana pun."
Sunyi, kemudian
"Sialan."
"Jangan marah. Aku hanya ingin mengecekmu. Aku datang untuk membawamu pulang."
Aku tahu dia putus asa kalau aku datang mendekati Gwangali lagi.
"Kubilang padamu aku akan pulang segera setelah aku menyelesaikan semuanya, Yoon. Tidak bisakah kau tetap berada disana?"
Kejengkelan dalam suaranya menggangguku. Seolah-olah mengatakan dia tidak bahagia ketika aku datang untuk mendatanginya.
"Kau ada di mana Zhoumi?" tanyaku lagi.
Kemudian aku mendengar suara pria di belakangnya. Teleponnya jadi teredam. Tidak diperlukan otak pintar untuk mencari apa yang dilakukan Zhoumi dengan seorang pria dan dia mencoba untuk menyembunyikannya dariku. Hal ini membuatku marah. Bukan karena kupikir Zhoumi dan aku punya kesempatan tetapi karena dia membiarkanku berfikir dia terluka dan sendirian di kota asing. Pecundang.
"Dengar. Aku tidak punya waktu untuk permainan bodohmu Zhoumi. Aku akan kesana, selesai. Lain kali, bisakah kau tidak membuatnya terdengar seolah kau membutuhkanku padahal jelas kau tidak butuh."
"Tidak, Yoon. Dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak bisa tidur setelah aku menelepon jadi aku kembali ke mobil dan pulang ke rumah. Aku ingin menemuimu."
Seorang pria berteriak marah dari sisi lain dari telepon. Dia marah pada siapapun yang bersamanya. Pria ini bodoh.
"Pergilah buat temanmu merasa lebih baik. Aku tidak butuh penjelasan. Aku tidak butuh apapun darimu. Aku tidak membutuhkanmu lagi."
"Yoon! Tidak, aku mencintaimu, Yoon. Aku sangat mencintaimu. Tolong dengarkan aku," dia memohon dan pria yang bersamanya menjadi lebih histeris.
"Diam Henry!" dia menggeram, dan aku tahu dia telah kembali ke Daegu.
Dia bersama Henry.
"Kau sedang bersama Henry? Kau sudah pulang jadi aku tidak perlu khawatir lagi dan pergi menemui Henry? Kau aneh, Zhoumi. Kenyataannya kau tidak bisa menyakitiku lagi. Tapi berhentilah dan berfikir untuk mengubah perasaan orang lain. Kau tetap bercumbu dengan Henry dan itu salah. Berhentilah berfikir dengan kejantananmu dan dewasalah."
Aku menekan tombol end dan memberikan kembali ponsel-nya pada Jin. Matanya melebar saat dia menatapku.
"Dia sudah kembali ke Daegu," kataku menjelaskan.
"Ya... aku tahu," kata Jin pelan.
Dia menunggu. Dia layak mendapatkan lebih. Dia telah membawaku kembali kesini. Dia juga satu-satunya sahabat sejati yang kupunya. Zhoumi bukanlah teman. Tidak juga. Seorang sahabat sejati tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang dia lakukan.
"Bisakah aku tidur di tempatmu malam ini? Kupikir aku tidak akan kembali kesana. Aku akan segera pergi. Aku akan mencari tahu kemana aku akan pergi besok dan kemudian ketika aku sampai disana aku akan meminta Wang halmeonni mengirimkan sisa barangku. Sepertinya aku tidak punya terlalu banyak barang. Mobilku berada di pemakaman dan sudah cukup tua. Mobil itu tidak akan pernah bisa dipakai untuk perjalanan lagi."
Jin mengangguk dan menyalakan mobil kemudian keluar menuju jalan.
"Kau bisa tinggal bersamaku selama kau membutuhkannya. Atau lebih lama," jawabnya.
"Terima kasih," kataku sebelum menyandarkan kepalaku ke kursi dan menghirup nafas dalam-dalam.
Apa yang akan kulakukan sekarang?
.
.
.
Aroma dari bacon menjadi lebih tajam dan semakin tajam saat aku menghirup udara sekitar. Seolah bacon itu mengambil alih semua indraku. Tenggorokanku sesak. Perutku bergulung oleh bau yang tajam itu. Bunyi desis minyak terdengar dari suatu tempat. Sebelum aku benar-benar bisa membuka mataku, kakiku telah menapak lantai dan aku lari ke kamar mandi. Untung saja apartemen Jin tidak telalu besar dan aku tidak perlu berlari jauh.
"Yoongi?" suara Jin memanggil dari dapur tapi aku tidak bisa berhenti.
Menjatuhkan lututku di depan toilet aku memegang tempat duduk porselen dengan kedua tanganku dan mulai memuntahkan semua isi dari perutku hingga tidak ada yang tersisa selain didera kekeringan yang melumpuhkan tubuhku. Setiap kali aku berfikir telah selesai aku mencium lagi bau bacon bercampur dengan muntahan dan aku akan mulai muntah lagi. Aku begitu lemah tubuhku bergetar saat aku mencoba untuk muntah dan tidak ada lagi yang keluar.
Sebuah lap dingin ada di wajahku dan Jin berdiri di depanku mengguyur toilet dan kemudian menyandarkanku pada dinding. Aku meletakkan lap pada hidungku untuk menghalangi bau. Jin tahu dan menutup pintu kamar mandi di belakangnya. Setelah dia menyalakan kipas angin dia meletakkan tangan dipinggangnya dan menatapku. Ketidakpercayaan di wajahnya membingungkanku. Aku sakit. Apa yang aneh dengan itu?
"Bacon? Bau bacon membuatmu mual?"
Dia menggelengkan kepalanya, tetap menatapku seolah dia tidak mempercayainya.
"Dan kau tidak akan mengatakannya padaku, bukan? Kau akan menaruh pantatmu pada bus sialan dan pergi begitu saja. Sendirian saja. Aku tidak bisa mempercayaimu, Yoongi. Apa yang terjadi pada pria pintar yang mengajariku agar pria-pria tidak mempermainkanku? Hm? Kemana perginya dia? Karena rencanamu disini payah. Sangat payah. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau punya teman disini. Kau akan membutuhkan teman... dan kuharap kau berniat mengatakan kepada Jimin tentang hal ini juga. Aku mengenalmu dengan baik kalau ini adalah... ini adalah bayinya."
Bagaimana dia tahu? Aku hanya muntah dan aku adalah seorang laki-laki. Banyak orang yang bisa sakit, terkena virus,
"Ini hanya virus," gumam ku.
"Jangan bohong padaku. Jokwon kalau kau tidak tahu, dia mempunyai anak, dan dia yang melahirkannya, jadi aku tidak kaget jika kau mengalaminya. Dan demi Tuhan, ini hanya bacon, Yoongi. Kau tidur begitu nyenyak di sofa dan saat aku mulai memasak bacon kau mulai mengeluarkan suara aneh dan terlonjak dan berbalik. Kemudian kau berlari seperti peluru yang hendak dimuntahkan. Ini bukan ilmu pengetahuan tentang roket, sayang. Hilangkan ekspresi terkejut itu dari wajahmu."
Aku tidak bisa bohong padanya. Dia adalah temanku. Mungkin satu-satunya yang kumiliki sekarang. Aku menarik lututku ke atas dagu dan membungkus lengan disekeliling kakiku. Ini adalah cara untuk memeluk diriku sendiri. Ketika aku merasa dunia seolah hancur disekitarku dan tidak bisa mengendalikannya aku akan selalu memeluk diriku seperti ini.
"Itulah kenapa Zhoumi datang kesini. Dia mengetahui aku membeli tes kehamilan kemarin. Aku tahu itulah mengapa dia kemari. Untuk bertanya pada Jimin... untuk bertanya tentang hubungan antara Jimin dan aku. Aku menolak untuk bicara dengan Zhoumi tentang hal ini. Aku tidak ingin bicara tentang Jimin sama sekali. Kemudian aku menemukan bercak darah di ranjangku. Lalu aku teringat perkataan ibuku mengenai diriku yang 'berbeda' dengan pria lain, kau tahu maksudku. Kupikir aku akan membeli beberapa tes dan itu akan jadi negatif dan semuanya akan baik-baik saja."
Aku menghentikan penjelasanku dan mengistirahatkan pipi pada lututku.
"Tes itu... semua nya positif?" tanya Jin.
Aku mengangguk dan tidak menatapnya.
"Kau akan mengatakannya pada Jimin? Atau kau hanya akan pergi begitu saja?"
Apa yang akan dilakukan Jimin? Adiknya membenciku. Ibunya membenciku. Mereka membenci ibuku. Dan aku membenci ayahku. Bagi Jimin menjadi bagian dari kehidupan bayi ini membuatnya menjauhi mereka. Aku tidak bisa memintanya melakukan itu. Meskipun mereka semua kejam. Dia mencintai mereka. Dan dia tidak akan menyerah pada Taehyung. Aku sudah tahu itu ketika terjadi padaku dan Taehyung, dia telah memilih Taehyung. Dia akan melakukannya sampai kapan pun. Ketika aku tahu semuanya. Dia akan menyimpan rahasianya. Dia memilihnya.
"Aku tidak bisa mengatakan padanya." kataku pelan.
"Apakah itu benar? Karena dia perlu tahu pentingnya menjadi seorang gentleman dan berada disana untukmu. Pelarian ini bodoh."
Dia tidak tahu semuanya. Dia hanya tahu sedikit dan hanya sepotong. Ini hanya cerita tentang Taehyung dan tidak ada yang lain di mata Jimin. Tapi aku tidak setuju. Ini juga ceritaku. Taehyung tetap memiliki kedua orangtuanya dan Hyung-nya. Aku tidak punya siapa-siapa. Ibuku telah meninggal. Adikku telah meninggal. Dan ayahku mungkin juga sudah meninggal. Jadi cerita ini lebih menjadi milikku daripada dia. Mungkin lebih.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap Jin. Dia satu-satunya temanku di dunia dan jika aku ingin bercerita tentang hal ini maka dialah orang satu-satunya.
.
.
.
JIMIN POV
Sudah tiga minggu, empat hari, dan dua belas jam sejak aku melihatnya. Sejak dia menghancurkan hatiku. Jika aku mabuk, aku menyalahkan alkohol. Itu pasti hanya khayalan, khayalan yang menyedihkan. Tapi aku belum mabuk. Tidak setetespun. Tidak ada yang salah pada Yoongi. Itu memang dia. Dia memang benar-benar di sini. Yoongi kembali ke Gwangali.
Dia ada di rumahku.
Aku telah menghabiskan lima jam semalam mengemudi seluruh tempat sialan untuk mencari Jin, berharap dia akan membawaku pada Yoongi. Tapi aku tidak menemukan keduanya. Kembali ke rumah dan menerima kekalahan, sangat menyakitkan. Aku telah meyakinkan diriku bahwa Jin masih di Daegu bersama Yoongi. Mungkin pesan dari Jin adalah pesan ketika mabuk dan tidak lebih.
Dan sekarang dihadapanku…
Aku terpana melihatnya. Dia lebih kurus dan aku tidak menyukainya. Apakah dia tidak makan? Apakah dia sakit?
"Halo, Jimin," katanya, memecah kesunyian.
Bunyi suaranya hampir meluluhkanku. Ya Tuhan, aku merindukan suaranya.
"Yoongi," aku berhasil mengucapkannya, takut bahwa aku akan menakutinya hanya dengan berbicara.
Dia mengulurkan tangannya ke atas dan mengusap rambutnya dengan jarinya. Dia gugup. Aku tidak menyukai bahwa aku membuat dia gugup. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk membuat ini menjadi lebih mudah?
"Bisakah kita berbicara?" tanyanya lembut.
"Ya."
Aku melangkah mundur untuk membiarkan dia masuk.
"Masuklah."
Dia berhenti dan melirikku menuju rumah. Rasa takut dan rasa sakit yang terpancar di matanya membuatku diam-diam mengutuk diriku sendiri. Dia telah terluka di sini. Dunianya telah hancur di rumahku. Sialan. Aku tidak ingin dia merasa seperti itu tentang rumahku. Tidak ketika ada kenangan indah juga di sini.
"Apakah kamu sendirian?" tanyanya.
Matanya berpindah kembali menatapku. Yoongi tidak ingin melihat ibuku atau ayahnya. Aku mengerti sekarang. Ini bukan tentang rumah.
"Aku memaksa mereka untuk pergi di hari kau pergi,"
Aku membalas, menatapnya dengan hati-hati. Matanya membelalak. Kenapa ini mengejutkannya? Tidakkah dia mengerti? Dia akan menjadi yang terutama bagiku. Aku sudah memberitahunya di kamar hotel itu.
"Oh. Aku tidak tahu..." dia berhenti.
Kita berdua tahu dia tidak tahu karena dia menyingkirkanku dari hidupnya.
"Hanya aku. Kecuali untuk kunjungan sesekali Hoseok, selalu hanya aku."
Dia harus tahu aku belum pindah. Aku tidak pindah. Yoongi berjalan ke dalam rumah dan aku mengepalkan tangan menjadi genggaman ketika aroma familiar manisnya mengikutinya. Begitu banyak malam aku duduk disini dan bermimpi melihatnya berjalan kembali dalam hidupku. Duniaku.
"Bisakah aku mengambilkanmu sesuatu untuk diminum?" tanyaku, berpikir bagaimana aku benar-benar ingin meminta dia untuk berbicara denganku.
Untuk tinggal denganku. Untuk memaafkanku. Yoongi menggelengkan kepalanya dan berbalik untuk menatapku.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku... aku hanya... aku berada di kota dan... "
Dia mengernyitkan hidungnya dan aku melawan dorongan untuk meraih dan menyentuh wajahnya.
"Apakah kau memukul Zhoumi?"
Zhoumi. Sialan. Dia tahu tentang Zhoumi. Apakah dia di sini untuk membicarakan Zhoumi?
"Dia menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya. Mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya," jawabku melalui gigi terkatup.
Yoongi menghela nafasnya.
"Aku hanya bisa membayangkan," dia bergumam dan menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku dia datang ke sini. Dia tidak memikirkan sesuatu dengan keseluruhan. Dia hanya bertindak impulsif."
Dia tidak membelanya. Dia meminta maaf untuknya. Itu bukan tugasnya. Bajingan bodoh itu bukan tanggung jawabnya atau salahnya.
"Jangan meminta maaf untuknya, Yoongi. Itu membuatku ingin memburunya," aku menggeram, tidak mampu mengontrol reaksiku.
"Itu salahku dia ke sini, Jimin. Makanya aku meminta maaf. Aku menyinggung perasaannya dan dia mengira itu semua gara-gara kau, jadi dia ke sini sebelum membicarakannya denganku."
Membicarakannya dengan dia? Apa-apaan Zhoumi perlu berbicara dengannya?
"Dia harus mundur. Kalau dia terlalu…"
"Jimin. Tenanglah. Kami teman lama. Tidak lebih. Aku memberitahunya beberapa hal yang aku ingin katakan dari dulu. Dia tidak menyukainya. Aku kejam tapi aku harus mengatakannya. Aku lelah untuk melindungi perasaannya. Dia mendesakku terlalu jauh. Hanya itu."
Aku mengambil nafas dalam tetapi dentuman dikepalaku semakin keras.
"Apakah kamu datang untuk menemuinya?"
Aku perlu tahu apakah itu penyebab kenapa Yoongi disini. Jika hal ini tidak ada hubungannya denganku, hatiku harus menghadapinya. Yoongi berjalan ke arah tangga bukannya pergi ke ruang tamu. Aku memperhatikan itu. Aku mengerti. Dia mungkin masuk ke rumahku tapi Ia tidak bisa berjalan ke dalam dan menghadapinya. Belum. Mungkin tidak akan pernah.
"Dia mungkin telah menjadi alasanku untuk masuk ke dalam mobil dengan Jin…"
Ia berhenti sejenak dan menghela nafas,
"Tapi dia sudah pergi ketika aku sampai di sini. Aku disini untuk alasan lain. Aku... aku ingin berbicara denganmu."
Dia datang ke sini untuk berbicara denganku. Sudahkah waktunya cukup? Aku gunakan setiap kekuatan yang aku miliki untuk berdiri diam dan tidak pergi menariknya ke dalam pelukanku. Aku tidak peduli apa yang dia katakan. Fakta dia ingin melihatku sudah cukup.
"Aku senang kau datang," kataku.
Kerutan kecil itu kembali dan Yoongi tidak melihat langsung ke arahku.
"Semuanya masih sama. Aku belum bisa untuk membiarkannya pergi. Aku tidak akan pernah bisa mempercayaimu. Bahkan... bahkan jika aku mau. Aku tidak bisa."
Apa-apaan itu artinya? debaran ditelingaku semakin kuat.
"Aku akan meninggalkan Daegu. Aku tidak bisa tinggal di sana. Aku harus bisa melakukannya sendiri."
Apa?
"Apa kau pindah dengan Jin?" tanyaku, merasa ragu jika aku masih tidur dan ini adalah mimpi.
"Tidak, aku tidak akan. Tapi pagi ini aku berbicara dengan Jin dan kupikir mungkin jika aku menemuimu dan berbicara denganmu dan menghadapi... ini, aku akan bisa tinggal bersamanya untuk sementara waktu. Tidak akan permanen, aku akan pergi dalam beberapa bulan. Hanya sampai aku punya waktu untuk memutuskan kemana aku akan pergi selanjutnya."
Yoongi masih berencana untuk pergi. Aku perlu merubah itu. Aku punya beberapa bulan jika dia tinggal di sini. Untuk pertama kalinya sejak dia mengatakan padaku untuk meninggalkan hotel aku punya harapan.
"Aku pikir itu bijak. Tidak ada alasan untuk membuat keputusan dengan tergesa-gesa ketika kamu memiliki pilihan yg tepat disini."
Dia bisa tinggal di rumahku gratis. Di tempat tidurku. Bersamaku. Tetapi aku tidak bisa menawarkan itu. Dia tidak akan pernah setuju.
-TBC-
Preview: Chapter 6
-Yoongi POV-
"Aku harus pergi, Jimin. Aku tidak bisa, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak masalah dengan adanya diriku di kota ini. Aku akan menjaga jarak."
Jimin bergerak sangat cepat hingga aku tidak menyadari sampai dia berdiri antara aku dan pintu.
.
-Jimin POV-
"Jadi kau lebih memilih dia daripada aku," Taehyung berbisik.
"Ini bukan kontes, Taehyung. Berhenti bertingkah seperti itu. Kau mendapatkan ayah. Yoongi kehilangannya. Kau menang. Sekarang lepaskan."
