Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 6
YOONGI POV
"Aku akan bekerja di klub golf. Kita akan... um... bertemu di lain kesempatan. Aku bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain tapi aku butuh uang dari klub golf."
Aku menjelaskan hal ini kepada diriku sama seperti aku menjelaskannya pada Jimin. Aku tidak begitu yakin apa yang akan kukatakan saat aku muncul disini. Aku hanya tahu bahwa aku harus berhadapan dengannya. Pada awalnya Jin telah memohon padaku untuk memberitahu Jimin tentang kehamilanku. Akan tetapi, setelah dia mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku dan Taehyung dan ibunya, dia tidak berpihak lagi pada Jimin seperti sebelumnya. Dia setuju bahwa tidak ada untungnya memberitahu Jimin mengenai apapun.
Mengumpulkan keberanian untuk kembali ke rumah ini setelah aku meninggalkannya tiga setengah minggu yang lalu adalah hal yang sangat sulit. Harapanku bahwa hatiku tidak akan bereaksi saat melihat wajah Jimin telah sia-sia. Dadaku mengerut sangat parah sehingga suatu keajaiban bahwa aku masih bisa bernapas. Aku tidak mampu untuk berbicara bahwa aku hamil bayinya... bayi kami.
Kebohongan. Penipuan. Siapa dirinya. Semua itu telah menahanku untuk mengucapkan kata-kata yang seharusnya dia dengar. Aku tidak bisa. Itu salah. Aku telah menjadi seseorang yang egois. Aku tahu itu. Itu tidak akan mengubah apapun. Bayi yang kukandung sekarang mungkin tidak akan pernah tahu tentangnya. Aku tidak bisa membiarkan perasaaanku padanya mengaburkan tujuanku akan masa depanku... atau masa depan anakku. Ayahku, ibunya dan adiknya tidak akan pernah menjadi bagian dari kehidupan anakku. Aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak bisa.
"Tentu saja. Ya, bekerja di klub golf akan menghasilkan banyak uang."
Dia berhenti dan menjalankan tangannya dirambutnya.
"Yoongi, tidak ada yang berubah. Tidak bagiku. Kau tidak butuh ijinku. Ini adalah yang benar-benar aku inginkan. Adanya kau disini. Melihat wajahmu. Ya Tuhan, baby, aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak gemetar dengan adanya kau berdiri di rumahku sekarang."
Aku tidak bisa melihatnya. Tidak sekarang. Aku tidak pernah mengira dia akan mengatakan semua hal itu. Percakapan yang kaku dan menegangkan menjadi lebih dari yang aku perkirakan. Ini bukan yang kuinginkan. Hatiku tidak siap menerima lebih.
"Aku harus pergi, Jimin. Aku tidak bisa, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak masalah dengan adanya diriku di kota ini. Aku akan menjaga jarak."
Jimin bergerak sangat cepat hingga aku tidak menyadari sampai dia berdiri antara aku dan pintu.
"Aku minta maaf. Aku mencoba untuk bersikap tenang. Aku mencoba untuk berhati-hati tetapi aku menghancurkannya. Aku akan berbuat lebih baik. Aku janji. Pergilah ke tempat Jin. Lupakan apa yang barusan kukatakan. Aku akan bersikap baik. Aku janji. Hanya saja... hanya saja jangan pergi. Tolonglah."
Apa yang akan kukatakan? Dia berusaha membuatku untuk menenangkannya. Untuk meminta maaf padanya. Dia senjata mematikan bagi emosi dan akal sehatku. Jarak. Kami butuh jarak. Aku mengangguk dan melangkah melewatinya.
"Aku akan... um... mungkin akan bertemu lagi denganmu."
Aku berhasil mengeluarkan suara parau sebelum membuka pintu dan melangkah keluar rumah. Aku tidak menoleh ke belakang tapi aku tahu dia melihatku pergi. Itu satu-satunya alasan aku tidak berlari. Jarak... kami butuh jarak. Dan aku butuh menangis.
.
.
.
Seolah dia tahu kalau aku datang. Aku sudah memutuskan akan langsung pergi ke ruang makan dan mencari Jokwon. Aku rasa Jokwon tahu dimana menemukan Jungkook dan aku juga ingin bertanya pada Jokwon seputar kehamilan pada pria, seperti dirinya, sepertiku saat ini. Tetapi Jungkook telah menungguku di pintu saat aku membuka pintu masuk belakang klub golf.
"Dan dia kembali. Sejujurnya aku mengira kau tidak akan kembali," Jungkook menggumam saat pintu tertutup di belakangku.
"Mungkin hanya sebentar," jawabku.
Jungkook berkedip padaku dan menganggukkan kepalanya menuju ruangan yang mengarah ke kantornya.
"Ayo kita bicara."
"Oke," aku berkata sambil mengikutinya.
"Jin sudah meneleponku dua kali hari ini. Dia ingin tahu apakah aku sudah bertemu denganmu. Memastikan kau mendapatkan pekerjaanmu kembali," Jungkook berkata sambil membuka pintu kantornya dan menahannya supaya aku bisa masuk kedalam.
"Yang tidak kusangka adalah telepon yang baru saja kuterima sekitar sepuluh menit yang lalu. Itu mengejutkanku. Dari caramu melarikan diri dari sini tiga minggu yang lalu dan meninggalkan Jimin begitu saja, aku tidak mengira dia akan meneleponku untuk kepentinganmu. Dia tidak perlu melakukannya. Aku sudah setuju bahwa kau akan mendapatkan pekerjaanmu kembali."
Aku berhenti dan melihat ke arahnya. Apakah benar yang kudengar darinya?
"Jimin?" tanyaku, hampir takut bahwa aku berhalusinasi terhadap komentar itu.
Jungkook menutup pintunya kemudian berjalan dan berdiri di depan mejanya. Dia bersandar pada kayu berkilau yang terlihat mahal itu dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. Senyum yang ada sejak aku datang telah hilang. Dia terlihat lebih khawatir sekarang.
"Ya, Jimin. Aku tahu kebenaran telah terungkap. Namjoon telah memberitahuku sebagian. Setidaknya hanya yang dia ketahui. Tapi kemudian aku tahu siapa dirimu. Atau yang disangka Jimin dan Taehyung sebelumnya. Aku memperingatkanmu Jimin akan memilih Taehyung. Dia telah memilihnya saat aku memberimu peringatan. Apakah kau benar-benar ingin kembali ke semua ini? Apakah Daegu sebegitu buruknya?"
Tidak. Daegu tidak seburuk itu. Tetapi berusia dua puluh tiga tahun tanpa rumah, pekerjaan, dan hamil sendirian tanpa keluarga cukup buruk. Bagaimanapun hal itu bukanlah sesuatu yang ingin kuceritakan pada Jungkook.
"Kembali kesini tidak mudah. Melihat... mereka, juga tidak mudah. Tapi aku perlu mengetahui apa yang akan kulakukan selanjutnya. Kemana aku akan pergi. Tak ada yang tersisa bagiku di Daegu. Aku tidak bisa berada disana dan berpura-pura ada yang kumiliki disana. Ini waktunya bagiku menemukan hidup baru. Dan Jin adalah satu-satunya temanku. Pilihan tempat untukku pergi sedikit terbatas."
Alis Jungkook bergerak naik.
"Oh. Lalu aku apa? Aku pikir kita teman."
Tersenyum, aku berjalan dan berdiri di belakang kursi di seberang Jungkook.
"Kita teman tapi... bukan teman dekat."
"Bukan karena aku tidak mencoba yang terbaik."
Aku tertawa kecil dan Jungkook menyeringai.
"Senang mendengar itu. Aku merindukannya."
Mungkin kembali tidak akan begitu sulit.
"Kau mendapatkan pekerjaanmu. Itu milikmu. Aku punya masalah dengan pria-pria kereta pembawa minuman dan Jokwon masih merajuk. Dia tidak akrab dengan pelayan yang lain. Dia juga merindukanmu."
"Terima kasih," jawabku, lalu melanjutkan,
"Aku menghargainya. Aku ingin jujur padamu. Dalam empat bulan, aku bermaksud untuk pergi. Aku tidak bisa tinggal disini selamanya. Aku punya..."
"Kau punya kehidupan yang harus kau cari. Ya, aku mendengarmu. Gwangali bukanlah tempatmu untuk tinggal seterusnya. Aku mengerti. Untuk berapapun lamanya, kau tetap mendapatkan pekerjaanmu, Yoongi."
.
.
.
JIMIN POV
Aku mengetuk sekali sebelum membuka pintu kondominium milik Taehyung dan berjalan masuk. Mobilnya terparkir di luar. Aku tahu dia disini. Aku hanya ingin memastikan dia tahu kalau aku ada disini. Aku pernah membuat kesalahan dengan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dan kemudian aku melihat adikku sedang mengangkang di pangkuan seorang cowok. Rasanya aku ingin mencuci mata dan otakku setelah kejadian itu.
"Taehyung, ini aku. Kita harus bicara."
Aku memanggilnya kemudian menutup pintu di belakangku. Aku melangkah ke ruang tamu dan bunyi yang tidak lebih dari suara hening dan langkah kaki yang datang dari arah kamar tidur utama hampir membuatku berbalik dan pergi. Tapi aku tidak jadi melakukannya. Ini lebih penting. Teman tidurnya harus pulang sekarang bagaimanapun juga. Ini sudah lebih dari jam sebelas.
Pintu kamar tidurnya terbuka dan tertutup. Menarik. Siapapun yang ada disini, dia menetap. Kami harus pergi keluar ke balkon untuk berbicara. Aku tidak ingin membahas Yoongi di depan orang lain. Aku mungkin kenal dengan pria yang ada di kamar itu. Itulah adalah satu-satunya alasan kenapa Taehyung menyembunyikannya di dalam sana.
"Apa kamu tidak pernah mendengar tentang menelepon dulu sebelum datang?"
Taehyung membentak saat dia berjalan ke ruang tamu memakai mantel sutera pendek.
"Ini hampir jam makan siang, Tae. Kau tidak bisa menahan priamu di tempat tidur sepanjang hari," jawabku dan membuka pintu ke arah balkon yang menghadap ke arah laut.
"Aku butuh berbicara denganmu dan aku tidak ingin melakukannya di tempat yang bisa didengar teman menginapmu."
Taehyung memutar matanya dan melangkah keluar.
"Aku merasa aneh bahwa ketika aku mencoba untuk berbicara denganmu selama berminggu-minggu dan kemudian kau sekarang ingin berbicara denganku, kau menerobos masuk seenaknya seakan aku tidak punya kehidupan. Setidaknya aku meneleponmu terlebih dahulu."
Dia mulai terdengar seperti ibu kami.
"Aku pemilik kondo ini, Taehyung. Aku bisa datang kapanpun aku mau," aku mengingatkannya.
Dia akan segera pergi dari sini untuk kembali ke asrama mahasiswanya dan jurusan kuliah yang belum dia putuskan. Kampus adalah fungsi sosial baginya. Dia tahu aku akan membayar tagihan dan uang sekolahnya. Aku selalu mengurus semua hal untuknya.
"Sangat menyebalkan. Tentang apa ini? Aku bahkan belum minum kopi."
Dia juga tidak takut kepadaku, sama seperti ibuku. Bukan berarti aku ingin dia takut padaku, tapi ini saatnya dia bersikap dewasa. Aku tidak akan membiarkan dia membuat Yoongi melarikan diri. Dalam sebulan, Taehyung akan pergi. Biasanya aku juga akan pergi. Tapi tidak tahun ini. Aku akan tetap berada di Gwangali. Ibu harus mencari lokasi lain. Dia tidak akan mendapatkan rumah ini secara gratis sepanjang tahun ini.
"Yoongi telah kembali," aku mengatakan secara terus terang.
Aku telah memiliki waktu untuk melihat segalanya dari sudut yang berbeda. Aku tidak lagi merasa bahwa Taehyung adalah seorang korban. Saat kecil dia memang korban tapi begitu juga dengan Yoongi. Taehyung menegang dan matanya berkilat penuh kebencian yang mengarah kepada ayahnya alih-alih kepada Yoongi.
"Jangan mengatakan apapun. Biarkan aku bicara lebih dulu atau aku akan mengusir teman menginapmu keluar dari kondo-ku. Aku yang berkuasa disini Tae. Ibu kita tidak punya apa-apa. Aku menghidupi kalian berdua. Aku tidak pernah memintamu untuk apapun. Tidak pernah. Tapi sekarang aku akan memintanya... tidak, aku akan menuntutmu untuk mendengarkanku dan mengikuti ucapanku."
Kemarahan Taehyung memudar dan sekarang si anak manja ada disana melihat ke arahku. Dia tidak suka diperintah. Aku tidak bisa menyalahkan ibuku atas sikapnya itu, tidak seluruhnya. Aku juga merupakan penyebabnya. Kepuasan yang berlebihan telah menghancurkan Taehyung.
"Aku benci dia," Taehyung mendidih.
"Aku bilang dengarkan aku, Taehyung! Jangan berasumsi. Aku serius. Karena kali ini kau berurusan dengan sesuatu yang aku pedulikan. Hal ini mempengaruhiku, jadi dengarkan dan tutup mulutmu."
Matanya membulat terkejut. Aku yakin aku tidak pernah berbicara seperti itu padanya. Aku sendiri juga sedikit merasa terkejut. Mendengar kebencian dalam suaranya yang mengarah ke Yoongi telah membuatku marah.
"Yoongi tinggal dengan Jin. Jungkook telah memberi Yoongi pekerjaannya kembali. Dia tidak memiliki apapun di Daegu. Dia tidak memiliki siapapun. Ayah yang kalian berdua miliki tidak berguna. Baginya ayahnya sudah mati. Dia kembali untuk mencari tahu dimana tempat yang tepat baginya dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia telah melakukan hal itu sebelumnya, tapi ketika kebenaran telah terungkap membuat dunianya hancur sehingga dia melarikan diri. Merupakan sebuah keajaiban bahwa dia telah kembali. Aku ingin dia kembali disini, Tae. Kau mungkin tidak ingin mendengar ini, tapi aku mencintainya. Aku sangat mencintai Yoongi. Aku akan melakukan segalanya untuk memastikan dia aman. Dia telah aman dan tidak ada seorangpun, benar-benar tidak seorangpun, bahkan adikku sendiri, yang akan membuatnya merasa tidak diinginkan. Kau akan segera pergi untuk sekolahmu. Kau bisa menyimpan kebencianmu yang salah tempat jika kau ingin, tapi suatu hari nanti aku harap kau cukup dewasa untuk menyadari bahwa hanya ada satu orang untuk dibenci disini."
Taehyung tenggelam dalam kursi santai yang dia taruh disini untuk bersantai dan membaca buku. Aku juga mencintai Taehyung. Aku telah melindunginya sepanjang hidupku. Memberitahunya hal ini dan mengancamnya adalah hal yang sulit tapi aku tidak bisa membiarkannya menyakiti Yoongi lagi. Aku harus menghentikannya. Yoongi tidak akan memberikan kesempatan lagi padaku selama Taehyung masih menyiksa hidupnya.
"Jadi kau lebih memilih dia daripada aku," Taehyung berbisik.
"Ini bukan kontes, Taehyung. Berhenti bertingkah seperti itu. Kau mendapatkan ayah. Yoongi kehilangannya. Kau menang. Sekarang lepaskan."
Taehyung mengangkat matanya dan air mata menempel pada bulu matanya.
"Dia membuatmu membenciku."
Drama sialan. Taehyung hidup dalam opera sabun dalam kepalanya.
"Tae, dengarkan aku. Aku menyayangimu, mencintaimu. Kau adalah adikku. Tak ada seorangpun yang bisa mengubahnya. Tapi aku jatuh cinta pada Yoongi. Itu mungkin halangan yang besar bagi rencanamu untuk menakhlukkan dan menghancurkannya. Tapi adikku, sudah waktunya bagimu untuk melupakan masalah tentang ayahmu. Lima tahun yang lalu dia telah kembali. Aku ingin kau menyingkirkan apapun rencanamu."
"Bagaimana dengan prinsip kita mengenai 'keluarga adalah yang utama'?"
Suaranya terdengar seolah dia sedang tercekik.
"Jangan bawa-bawa itu. Kau dan aku tahu bahwa aku selalu mengutamakanmu sepanjang hidupku. Kau membutuhkanku dan aku ada disana. Tapi kita sekarang sudah dewasa, Taehyung."
Dia menghapus air mata yang keluar dari matanya kemudian berdiri. Aku tidak bisa bilang apakah air matanya asli atau palsu. Dia bisa menyalakan dan mematikannya dalam sekejap.
"Baiklah. Mungkin aku akan kembali ke sekolah lebih awal. Kau juga tidak menginginkanku disini dan bagaimanapun juga, kau telah memilihnya."
"Aku ingin kau selalu berada disisiku, Tae. Tapi kali ini aku ingin kau bersikap baik. Pikirkan orang lain sebagai gantinya. Kau punya hati. Aku pernah melihatnya. Sekarang waktunya untuk menggunakannya."
Punggung Taehyung mengencang.
"Jika kita sudah selesai bisakah kau meninggalkan kondo-mu?"
Aku mengangguk.
"Ya aku selesai," aku menjawab dan berjalan masuk ke dalam.
Tanpa berkata-kata lagi aku berjalan menuju pintu depan. Waktu akan menunjukkan apakah aku harus menggunakan ancaman untuk memberi adikku pelajaran. Aku harap aku tidak perlu melakukannya.
-TBC-
Preview: Chapter 7
-Yoongi POV-
"Bus tidaklah aman, Yoongi. Aku tidak suka idemu menggunakan bus. Biarkan aku yang mengantarmu. Aku mohon. Aku akan membawamu kesana lebih cepat dan itu gratis. Kau bisa menyimpan uangmu."
Pergi bersamanya? Seluruh perjalanan ke Daegu hingga kembali? Apakah itu sebuah ide yang bagus?
.
-Jimin POV-
Aku mencengkeram erat setir mobil. Ide tentang Zhoumi menjaganya telah membuatku gila. Aku benci dia yang memperbaiki mobilnya. Seharusnya itu adalah keluarganya yang membantunya ketika Yoongi membutuhkan. Aku telah mengacaukan hidupnya.
"Jadi apakah kau dan Zhoumi...?"
