Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 7

YOONGI POV

Aku membutuhkan barang-barangku dan aku butuh untuk menjual mobilku. Aku tidak pernah berpikir sampai sejauh ini. Zhoumi telah memeriksa mobil itu untukku minggu lalu setelah mengetahuinya rusak dan dia mengatakan dia mampu untuk memperbaikinya. Namun biaya untuk memperbaiki segala kerusakannya akan menghabiskan lebih banyak dari yang bisa kukeluarkan.

Menelepon dan bertanya kepada Wang halmeonni atau Zhoumi untuk mengirim barang-barangku dan menjual mobil sepertinya tidak benar. Mereka layak mendapat penjelasan... atau setidaknya untuk Wang halmeonni aku akan melakukannya. Dia memberikanku tempat tinggal, sebuah tempat tidur dan memberikanku makan selama tiga minggu. Aku sudah harus kembali ke Daegu untuk mengambil barang-barangku dan mengucapkan selamat tinggal kepada Wang halmeonni.

Jungkook telah memberikanku beberapa hari untuk menetap sebelum aku mulai kembali bekerja. Jin sudah meminta izin kemarin untuk membawaku mengajukan asuransi medis. Sudah waktunya aku untuk memeriksakan ke dokter, tapi pertama-tama aku memerlukan asuransi.

Hari ini aku mendengarnya memberitahu Namjoon tentang bagaimana dia akan menghadapi kencan pertama mereka malam ini. Aku telah memonopoli semua waktunya sejak dia datang dan menemukanku. Aku mulai merasa telah merepotkannya. Aku benci perasaan itu. Aku bisa naik bus. Itu akan lebih terjangkau dan tidak akan membebani Jin, tentunya. Aku membuka laptop Jin dan mulai mencari jadwal bus.

Sebuah ketukan di pintu menginterupsi pikiranku. Aku menghentikan kegiatanku mencari terminal bus dan pergi membuka pintu.

Jimin berdiri disana, dengan sebelah tangannya diselipkan kedepan jeansnya dan baju kaos ketat yang dipakainya, sungguh bukan seperti apa yang kuperkirakan. Dia mengulurkan tangan untuk melepas kacamatanya. Aku berharap dia membiarkan benda itu untuk tetap disana. Warna hitam dari matanya saat terkena sinar matahari terlihat lebih menakjubkan dari apa yang pernah kuingat.

"Hei, aku melihat Jin di klub golf. Dia mengatakan kau berada disini," jelasnya.

Dia terlihat gugup. Aku tidak pernah melihatnya gugup sebelumnya.

"Ya... um Jungkook memberikanku waktu beberapa hari untuk mengambil barang-barangku dari Daegu sebelum aku mulai kembali bekerja."

"Kau harus pergi untuk mengambil barang-barangmu?"

Aku mengangguk.

"Ya. Aku meninggalkannya disana. Aku hanya membawa tas menginap bersamaku. Aku belum merencanakan dengan pasti untuk menetap."

Jimin mengerutkan keningnya.

"Jadi, bagaimana kau akan kesana? Aku tidak melihat mobilmu."

"Aku baru saja mencari terminal bus dan melihat mana yang terdekat dari sini."

Kerutan dikening Jimin semakin dalam.

"Itu menghabiskan 40 menit. Semua jalur di rute pantai Haeundae."

Itu tidak seburuk seperti apa yang aku takuti.

"Bus tidaklah aman, Yoongi. Aku tidak suka idemu menggunakan bus. Biarkan aku yang mengantarmu. Aku mohon. Aku akan membawamu kesana lebih cepat dan itu gratis. Kau bisa menyimpan uangmu."

Pergi bersamanya? Seluruh perjalanan ke Daegu hingga kembali? Apakah itu sebuah ide yang bagus?

"Aku tidak tahu..."

Aku terdiam karena sejujurnya aku benar-benar tidak tahu. Hatiku tidak siap untuk segala hal yang berkaitan dengan Jimin.

"Kita bahkan tidak perlu bicara... atau kita bisa jika kau ingin. Aku akan membiarkanmu memilih musik dan aku tidak akan memprotesnya."

Jika aku kembali dengan Jimin, maka Zhoumi tidak akan melakukan perlawanan. Atau bisa saja dia melakukannya. Dia bisa memberitahu Jimin tentang kehamilanku. Tapi akankah dia? Aku bahkan tidak pernah mengatakan kepada Zhoumi kalau aku tengah hamil.

"Aku tahu kau tidak bisa memaafkan kebohongan dan sakit yang kau rasakan. Aku bahkan tidak akan meminta untuk itu. Kau tahu aku merasa bersalah dan jika aku bisa kembali dan mengubah semuanya, aku ingin sekali. Aku mohon, Yoongi, hanya sebagai seorang teman yang ingin menolong dan membiarkanmu untuk tetap selamat dari pria gila yang akan menyakitimu di bus, tolong biarkan aku mengantarmu."

Aku tidak berpikir seperti yang dia pikirkan tentang mendapatkan kesakitan di dalam bus. Dan aku juga berpikir tentang fakta bahwa aku tidak hanya akan menyelamatkan diriku sendiri. Tapi aku punya kehidupan lain didalam perutku yang harus kujaga.

"Oke. Ya. Aku akan pergi denganmu."

.

.

.

Namjoon duduk di kursi biru besar yang terdapat diruang tamu Jin dengan kakinya bersandar pada sandarannya dan Jin meringkuk di pangkuannya. Aku berada di sofa, rasa-rasanya aku seperti percobaan ilmiah, karena mereka berdua menatapku bingung.

"Jadi kau setuju dengan Jimin untuk mengantarmu ke Daegu besok untuk mengambil barang-barangmu? Maksudku kau tidak merasa aneh atau..."

Jin terdiam. Itu akan terlihat aneh. Itu juga pasti akan menyakitkan berada didekatnya, tapi aku butuh tumpangan. Jin harus bekerja, tidak ada hari libur lain untuk membantuku minggu ini.

"Dia yang menawarkan. Aku butuh tumpangan, jadi aku menjawab ya."

"Dan apakah segampang itu? Kenapa aku tidak mempercayainya?" tanya Jin.

"Karena dia meninggalkan bagian-bagian dimana Jimin meminta dan memohon," ucap Namjoon sembari tergelak.

Aku menarik selimut kecil diatas bahuku. Aku kedinginan. Aku merasa sangat dingin akhir-akhir ini dimana terasa aneh karena sekarang musim panas di Busan.

"Dia tidak memohon," jawabku, merasa terdorong untuk membela Jimin.

Sekalipun dia memohon, itu bukanlah urusan Namjoon.

"Ya, benar. Jika kau mengatakan seperti itu."

Namjoon meminum teh manis yang dibuatkan Jin.

"Ini bukanlah urusan kita. Tinggalkan dia sendiri, Namjoon. Kita perlu memutuskan apa yang harus dilakukan tentang menyewa tempat ini di akhir minggu."

Aku tidak akan lama disini. Aku sudah memberitahu Jin. Pindah ke kondo yang lebih mahal bukanlah ide yang bagus. Bagian sewaku tidak akan bisa diatasi setelah kepergianku dan Jin akan membayarnya sendiri. Namjoon mencium tangan Jin dan menyeringai kearahnya.

"Aku beritahu kau bahwa aku akan mengurus semuanya. Kalau kau membiarkanku."

Dia mengedipkan mata padanya dan aku memalingkan kepalaku. Aku tidak ingin melihat mereka. Jimin dan aku tidak pernah seperti itu. Hubungan kami sangatlah sebentar. Intens dan singkat. Aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya kalau aku memiliki kebebasan untuk meringkuk disisi Jimin kapanpun aku mau. Untuk mengetahui aku aman dan dia mencintaiku. Kami tidak pernah memiliki kesempatan seperti itu.

"Dan aku beritahu kau, aku tidak akan membiarkan kau membayar sewaku. Maaf. Rencana baru. Oh, Yoongi, kenapa kita tidak pergi mencari apartemen besok?"

Sebuah ketukan di pintu mengangguku sebelum aku setuju. Lalu, Hoseok membuka pintunya dan berjalan masuk.

"Kau tidak seharusnya masuk begitu saja kedalam apartemen orang lain tanpa permisi. Dia bisa saja sedang telanjang," geram Namjoon pada Hoseok.

Hoseok memutar matanya kemudian tersenyum kearahku,

"Aku melihat mobilmu disini Bung. Aku disini untuk membujuk Yoongi apakah dia mau keluar bersamaku."

"Kau mencoba untuk diusir?" tanya Namjoon.

Hoseok menyeringai kemudian menggelengkan kepalanya sebelum melihatku.

"Ayolah, Yoongi, pergi bersamaku dan bersenang-senang."

Apakah Hoseok pernah berbohong? Tentu dia telah mengetahuinya. Aku tidak bisa bilang tidak kepadanya. Walaupun jika dia tahu, dialah orang baik pertama yang aku temukan disini. Dia yang mengisi tangki mobilku dengan bensin. Dia yang mengkhawatirkanku ketika tidur dibawah tangga. Aku mengangguk dan berdiri.

"Mereka berdua butuh waktu sendiri kurasa," jawabku, menatap kearah Jin.

Dia mengamatiku dengan seksama. Aku memberikan senyum untuk meyakinkannya, kemudian dia terlihat lebih santai.

"Jangan lupakan pembicaraan kita. Kita harus memutuskan dimana nantinya kita akan tinggal untuk seminggu," kata Jin saat aku berjalan kearah pintu.

"Kalian bisa membicarakannya nanti, Kim Seokjin. Yoongi sudah pergi hampir sebulan. Kau harus berbagi," jawab Hoseok, membukakanku pintu untuk berjalan keluar.

"Jimin akan mengamuk," Namjoon berteriak tepat sebelum Hoseok menutup pintu, meredam apapun itu ketika Jin mulai berbicara.

Kami berjalan menuruni tangga dalam diam. Saat aku berada disebelah Hoseok, aku melihat ke arahnya.

"Apakah kau hanya merindukanku atau ada sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku?" tanyaku.

Hoseok menyeringai.

"Aku merindukanmu. Aku telah mengatasi ketika Jimin merajuk. Jadi percayalah kalau aku benar-benar merindukanmu."

Aku tahu dari nada menggodanya kalau ia ingin membuat lelucon. Tapi berpikir tentang Jimin yang akan kecewa tidak membuatku tersenyum. Itu hanya akan mengingatkan segalanya.

"Maaf," gumamku.

Aku tidak yakin apa lagi yang harus kukatakan.

"Aku senang kau kembali."

Aku menunggu. Aku tahu dia ingin mengatakan lebih. Aku bisa merasakannya. Ia mengambil waktu dan aku pikir dia sedang berusaha memutuskan bagaimana caranya untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan kepadaku.

"Aku minta maaf atas apa yang terjadi. Bagaimana itu terjadi. Dan Taehyung. Dia bisa saja datang mengaku sebagai bajingan paling manja didunia tapi dia memiliki masa kanak-kanak yang kacau. Itu menyesatkannya atau apapun itu. Jika kau hidup dengan Hyori sebagai ibumu, mungkin kau bisa mengerti. Jimin memiliki ayahnya, jadi dia tidak menjadi seburuk itu. Tapi, Taehyung, sial, dunianya kacau. Itu bukanlah sebuah permakluman untuknya, tetapi sebuah penjelasan."

Aku tidak menanggapinya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tidak merasakan simpati apapun terhadap Taehyung.

"Terlepas dari semua itu, apa yang dia lakukan adalah kesalahan. Bagaimana itu dirahasiakan darimu benar-benar kacau. Maaf karena aku tidak mengatakan apa-apa, tapi jujur, aku bahkan tidak menyadari kalau kau dan Jimin memiliki apapun itu sampai apa yang terjadi malam itu di klub ketika dia kehilangan segalanya. Aku melihat dia tertarik padamu, tetapi begitu juga dengan sebagian besar pria di kota ini. Aku pikir dia satu-satunya pria yang tidak mengambil langkah karena kesetiaannya kepada Taehyung... dan sampai aku melihat efek apa yang kau berikan kepada mereka berdua, terutama Jimin..."

Hoseok menghentikan langkahnya dan aku memalingkan kepalaku untuk menoleh kearahnya.

"Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Sekalipun. Dia terlihat kosong. Aku tidak bisa menebaknya. Dia bahkan tidak tersenyum. Dia tidak pernah berpura-pura untuk tidak menikmati hidupnya. Dia berbeda semenjak kau pergi. Walaupun dia tidak jujur dan terlihat seperti melindungi Taehyung... Kalian berdua hanya tidak memiliki cukup waktu. Taehyung sudah menjadi tanggung jawabnya sejak dia kecil. Hanya itu yang dia tahu. Lalu tiba-tiba kau datang kedunianya dan mengguncangnya setiap malam. Jika dia memiliki waktu lebih dia akan memberitahumu. Aku tahu dia akan melakukannya. Tapi dia tidak. Itu tidaklah adil baginya. Ia jatuh cinta kepada pria ini, ia selalu berpikir bahwa ialah alasan adiknya tanpa seorang ayah. Sistem keyakinannya sudah berubah, tapi dia juga sulit untuk melewatinya."

Aku hanya melihatnya. Bukan karena aku tidak setuju. Aku bahkan sudah melewatinya dikepalaku. Aku mengerti apa yang ia katakan. Masalahnya adalah... itu tidak mengubah apapun. Walaupun ia memberitahuku, itu tidak akan mengubah siapa dia atau siapa Taehyung.

Apapun yang mereka tunjukkan kepadaku. Hidup ibuku tiga tahun belakangan ini di dunia terasa seperti neraka sementara mereka tinggal di rumah-rumah mewah, silih berganti dari satu acara sosial ke lainnya. Keyakinan mereka dalam kebohongan yang mereka katakan kepadaku adalah satu-satunya hal yang tidak dapat aku terima.

"Sial. Aku mungkin merusak ini untuk omong kosong. Aku hanya ingin berbicara denganmu dan meyakinkanmu kalau Jimin... dia membutuhkanmu. Dan aku tidak yakin kalau dia akan mendapatkan penggantimu. Jika dia mencoba untuk berbicara besok, setidaknya dengarkanlah dia."

"Aku bahkan sudah memaafkannya, Hoseok. Aku hanya tidak bisa melupakannya. Apa yang kami pernah atau apa yang kami akan tuju sudah berakhir. Tidak akan pernah lagi. Aku tidak bisa membiarkannya. Hatiku tidak akan membiarkanku untuk melakukannya. Tapi aku selalu mendengarkannya. Aku peduli padanya."

Hoseok mendesah lelah.

"Aku kira itu lebih baik daripada tidak sama sekali."

Hanya itu yang bisa aku tawarkan.

.

.

.

JIMIN POV

Yoongi berjalan keluar dari apartemen Jin sambil membawa dua gelas kopi sebelum aku dapat keluar dari mobilku. Aku membuka pintu lalu berjalan keluar dari Range Rover.

Rambut halusnya di sisir acak. Aku menyukai yang seperti itu. Celana pendek yang dia gunakan nyaris menutupi kakinya dan itu membuat susah untuk berkonsentrasi saat dia duduk di mobilku. Mereka akan naik sampai ke pahanya. Aku melihat pada kakinya dan menemukan dia menatapku tajam. Dia memaksakan sebuah senyum kecil.

"Aku membawakanmu kopi karena kau telah bangun pagi-pagi untukku. Aku tahu bangun cepat bukanlah kebiasaanmu."

Suaranya seperti tidak yakin dan lembut saat dia bicara. Itu akan menjadi rencanaku untuk mengubahnya dalam perjalanan ini. Aku ingin dia merasa nyaman denganku lagi.

"Terima kasih," jawabku dengan tersenyum, aku harap dapat menghilangkan rasa gugupnya saat aku membukakan pintu penumpang untuknya.

Aku tidak bisa tidur sejak jam tiga pagi ini. Aku cemas. Aku sangat yakin aku telah menghabiskan dua cerek kopi sejak tadi. Meskipun begitu aku tidak berencana untuk memberitahunya. Dia membawakanku kopi. Senyum lebar tersungging dibibirku saat aku menutup pintunya dan kembali ke tempatku. Dia mengangkat gelas kopinya hingga ke mulutnya, menyesap sedikit saat aku menatapnya.

"Jika kau ingin mendengar musik, aku berjanji itu semua terserah kau," aku mengingatkannya.

Dia tidak bergerak tapi tersenyum pada ujung bibirnya.

"Terima kasih. Percaya padaku, aku mengingatnya. Aku baik-baik saja sekarang. Kau bisa mendengarkan sesuatu jika kau ingin. Aku butuh untuk bangun terlebih dahulu."

Aku tidak peduli tentang radio. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Apa yang kami bicarakan memang tidak penting. Berbicara dengannya adalah hal yang kupedulikan.

"Jadi apa rencananya? Apakah Zhoumi tahu kita akan kesana untuk mengambil barang-barangmu?" tanyaku.

Dia bergeser pada tempat duduknya dan aku memaksakan diriku untuk tetap menjaga mataku ke jalan bukan ke kakinya.

"Tidak. Aku ingin menjelaskan kepadanya dan neneknya, Wang halmeonni, tentang hal ini. Aku juga butuh untuk meyakinkannnya untuk menjual mobilku dan mengirimkan uangnya padaku. Itu tidak bisa dikendarai. Itu dalam kondisi buruk."

Mobilnya sudah tua. Ide dia untuk tidak akan mengendarai mobil lagi adalah melegakan. Dia tidak akan pernah menerima mobil pemberianku. Mungkin mobilnya dapat diperbaiki dan membuatnya aman.

"Aku bisa mengambilnya dan mengeceknya sementara kau mengepak barang. Itu hanya membutuhkan beberapa jam untuk menyelesaikannya."

Dia mendesah.

"Terima kasih tapi jangan repot-repot. Zhoumi sudah mengambil dan mengeceknya. Dia sudah memperbaiki mereka jadi aku bisa membawanya ke kota tapi dia bilang itu hanya baik sementara. Butuh waktu lebih untuk mengerjakan daripada yang aku biayai."

Aku mencengkeram erat setir mobil. Ide tentang Zhoumi menjaganya telah membuatku gila. Aku benci dia yang memperbaiki mobilnya. Seharusnya itu adalah keluarganya yang membantunya ketika Yoongi membutuhkan. Aku telah mengacaukan hidupnya.

"Jadi apakah kau dan Zhoumi...?"

Apa sih yang aku tanyakan? Apakah mereka? Sial. Aku tidak ingin mendengarnya.

"Kita adalah teman, Jimin. Telah begitu sejak lama. Perasaanku kepadanya tidak akan berubah."

Aku melonggarkan cengkeramanku pada setir mobil dan mengelap keringat pada telapak tangan di jeansku. Sial, dia membuatku gila. Jika aku ingin membuatnya kembali nyaman denganku maka aku harus tetap tenang. Itu akan dimulai dengan aku tidak menghajar Zhoumi ketika aku melihatnya.

Sebelum aku dapat mengatakan apapun lagi Yoongi condong ke depan dan menyalakan radio. Dia menemukan siaran musik pada radio satelitku dan dia kembali menyandarkan kepalanya di kursinya dan memejamkan mata. Aku sudah menyelidiki terlalu banyak. Dia dengan sopan memintaku untuk diam. Aku bisa membaca petunjuknya.

Tiga puluh menit dalam diam terlewat sebelum ponsel-ku berdering. Nama Taehyung muncul di layar dashboardku. Iphone sialan ini sudah terprogram di mobilku. Biasanya akan muncul saat di genggaman dan membuatnya bebas untuk mengangkat. Tetapi untuk Yoongi melihat nama Taehyung muncul tidak bagus. Aku tidak menginginkan peringatan. Rencanaku untuk hari ini adalah hari tanpa peringatan.

Aku mengklik tombol tolak dan radio kembali memutar lagi. Aku tidak melihat ke arah Yoongi tapi aku merasa matanya menatapku. Itu benar-benar susah untuk tidak bertemu tatapannya.

"Kau bisa berbicara dengannya. Dia adalah adikmu," Yoongi berbicara dengan lembut, aku hampir tidak mendengarnya karena musik.

"Dia memang adikku. Tapi dia menunjukkan sesuatu yang aku tidak ingin untuk kau pikirkan hari ini."

Yoongi tidak berhenti menatap ke arahku. Itu menguras tenagaku untuk menjaganya tetap biasa saja. Menepikan mobil dengan kasar dan menangkup wajahnya dan memberitahunya betapa pentingnya dia dan betapa aku sangat mencintainya bukanlah apa yang dia butuhkan sekarang.

"Aku baik-baik saja, Jimin. Aku memiliki waktu untuk bisa menerima semuanya. Terimalah hal itu. Aku akan bertemu Taehyung di klub golf. Aku siap untuk itu. Kau membantuku hari ini. Kau bisa melakukan apapun tapi kau memilih untuk membantuku. Aku tidak ingin dirimu tidak menerima telepon dari orang-orang yang peduli denganmu. Aku takkan hancur."

Sial. Begitu banyak untuk menjaga ini tetap biasa saja dan mudah.

Aku menepi ke arah samping jalan dan membanting setir Rover ke taman. Aku menjaga tanganku untuk tetap pada diriku tapi aku memberikan seluruh perhatianku pada Yoongi.

"Aku memilih untuk menolongmu hari ini karena tidak ada yang bisa lebih aku suka lakukan daripada berada didekatmu. Aku mengantarmu karena aku pria menyedihkan yang akan mengambil apapun yang dia bisa ketika itu berhubungan denganmu."

Aku menyerah dan menjalankan jempolku ke arah tulang pipinya lalu ke rambut halusnya yang kukagumi sejak pertama aku menatapnya.

"Aku akan melakukan apapun. Apapun, Yoongi, supaya bisa dekat denganmu. Aku tidak bisa berpikir tentang yang lain. Aku tidak bisa fokus dengan yang lain. Jadi, kumohon jangan pernah berpikir bahwa kau menyusahkanku. Kau butuh aku, aku ada disini."

Aku berhenti. Aku terdengar menyedihkan bahkan ditelingaku sendiri. Memindahkan tanganku dari kepalanya aku menggeser Rover pada gigi dan menarik gasnya kembali ke jalan. Yoongi tidak mengatakan apapun. Aku tidak menyalahkannya. Aku terdengar seperti seorang pria gila. Dia mungkin akan takut kepadaku sekarang.


-TBC-

Preview: Chapter 8

-Yoongi POV-

"Kenapa kau tidak bisa tinggal disini? Sial Yoon, aku akan menikahimu hari ini. Tidak perlu ditanya. Aku mencintaimu. Lebih dari hidup. Kau akan mengetahuinya. Aku membuat kekacauan ketika kita masih remaja dan terjadi sesuatu dengan Henry, dia tidak berarti apa-apa. Dia hanya pria yang mengalihkan perhatianku. Kau adalah apa yang aku inginkan. Aku telah mengatakan padamu selama bertahun-tahun. Tolong dengarkan aku," dia memohon.

.

-Jimin POV-

"Ya. Aku merasa hanya sedikit ketakutan,kurasa. Kali ini aku tahu aku tidak akan kembali. Aku juga tahu aku tidak memiliki ayah yang menunggu untuk membantuku. Meninggalkan Daegu kali ini ternyata lebih sulit."

"Kau memiliki aku," sahutku.

Dia memiringkan kepalanya ke samping dan menatapku.