Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 8
YOONGI POV
Jantungku berdetak begitu keras hingga aku yakin dia bisa mendengarnya. Ini akan jadi ide yang buruk. Dekat dengannya begitu membingungkan. Mudah melupakan siapa dia. Namun membiarkan dia menyentuhku, meskipun hanya di wajahku, membuatku merasa ingin menangis. Aku ingin lebih dari itu. Aku merindukannya. Segala tentangnya dan aku berbohong jika pemikiran dekat dengannya sepanjang hari tidak akan membuatku terjaga sepanjang malam.
Jimin menyalakan radio ketika aku tidak berbicara apapun. Aku seharusnya mengatakan sesuatu setelahnya. Tapi apa? Bagaimana aku menjawabnya tanpa membuat kami berdua lebih tersakiti? Mengatakan padanya aku merindukannya dan aku menginginkannya tidak akan membuat hal ini lebih mudah. Ini akan menjadi lebih sulit.
Ketika ponsel-nya berdering layar komputer di mobilnya menampilkan nama "Hoseok". Jimin menekan sebuah tombol dan mengangkat panggilannya.
"Hei," katanya di telepon.
Aku mengubah pandanganku padanya ketika dia tidak menatapku lagi. Garis kerutan keras diwajahnya membuatku sedih. Aku tidak ingin mereka disana.
"Ya, kami sedang di jalan," jawabnya di telepon.
"Jangan berfikir ini adalah ide yang bagus. Aku akan meneleponmu saat aku kembali."
Rahangnya mengetat dan aku tahu apapun yang Hoseok katakan telah membuatnya marah.
"Kubilang tidak," dia menggeram dan mengakhiri panggilan sebelum melemparkan telepon genggamnya pada cup holder.
"Kau baik baik saja?" tanyaku sebelum aku bisa memikirkannya.
Dia menyentakkan kepalanya untuk menatapku. Itu seolah mengejutkannya bahwa aku berbicara padanya.
"Uh, ya. Aku baik-baik saja." jawabnya dengan nada yang lebih tenang kemudian mengarahkan tatapannya kembali ke jalan.
Aku menunggu selama beberapa menit kemudian memutuskan untuk mengatakan sesuatu tentang apa yang akan dia katakan padaku. Jika aku tidak mulai membicarakan ini dengannya kami mungkin saja akan selalu merasakan kesunyian yang aneh diantara kami. Meskipun aku akan pergi dalam empat bulan dan tidak pernah melihat dia lagi... Tidak, aku akan melihatnya lagi. Aku akan melakukannya, bukan? Bisakah aku sama sekali tidak mengatakan padanya tentang bayi ini?
Aku mendorong pikiran itu kembali. Aku belum pergi ke dokter. Aku akan melewati semua masalah itu saat kami mengetahuinya. Meskipun aku muntah lagi ketika aku membuka tempat sampah dan mencium bau ikan goreng yang ditinggalkan Namjoon semalam. Aku tidak biasanya begitu sensitif. Teh jahe panas telah kuminum ketika Jimin menjemputku dan telah membantuku meredakan perutku. Aku menganggap seolah tes kehamilan itu masih mengambang, antara salah atau benar.
"Tentang apa yang kau katakan sebelumnya. Aku, uh, aku benar-benar tak tahu bagaimana menanggapinya. Maksudku, aku tahu bagaimana perasaanku dan bagaimana aku berharap semua berbeda meskipun tidak. Aku ingin kita... aku ingin kita mencari cara untuk menjadi teman... mungkin. Aku tidak tahu. Itu terdengar begitu bodoh. Setelah semuanya…"
Aku berhenti karena usahaku berbicara padanya tentang masalah ini terdengar seolah bertele-tele. Bagaimana kami bisa menjadi teman? Itulah bagaimana ini semua bermula dan aku jatuh cinta dengannya dan hamil dengan pria yang tidak bisa membangun masa depan denganku.
"Aku akan jadi apapun yang kau inginkan, Yoongi. Hanya saja, jangan jauhi aku lagi. Kumohon."
Aku mengangguk. Oke. Aku beri waktu tentang pertemanan ini. Kemudian... kemudian aku akan mengatakan padanya tentang bayi ini. Dia akan pergi jauh atau menjadi bagian dari hidup bayi kami. Yang manapun itu, aku butuh waktu untuk menyiapkan diri. Karena aku tidak akan membiarkan anakku berhubungan dengan keluarganya, tidak akan pernah. Hal itu bukanlah pertanyaan. Aku benci berbohong... tapi aku akan menjadi seperti itu untuk sementara. Saat ini waktunya bagiku untuk menyimpan rahasia.
"Oke," jawabku tapi aku tidak berkata apa-apa lagi.
Mataku terasa berat dan kurang tidur dari kemarin malam dan kenyataan bahwa aku tidak bisa meminum kafein untuk membuatku tetap terjaga menyulitkanku. Aku menutup mataku.
"Tenang, Yoongi yang manis. Kepalamu terjatuh dan kau akan mengalami kram yang buruk di lehermu. Aku hanya akan membaringkanmu di kursi."
Sebuah bisikan hangat menggelitik telingaku dan aku bergetar. Aku berbalik ke arah bisikan itu tapi aku masih terlalu mengantuk jadi aku tidak bisa benar-benar bangun. Sesuatu yang lembut membelai bibirku kemudian aku kembali ke mimpiku.
.
.
.
"Kau harus bangun, tukang tidur. Aku disini tapi aku tidak tahu harus pergi kemana."
Suara Jimin diikuti dengan tangannya dengan lembut meremas lenganku membangunkanku. Aku menggosok mataku dan membukanya. Aku terbaring. Aku menatap Jimin dan dia tersenyum.
"Aku tidak bisa membiarkan kau mematahkan lehermu. Selain itu kau tidur begitu lelap aku ingin kau merasa nyaman."
Dia membuka sabuk pengaman dan meraih disebelahku untuk menekan tombol di samping tempat dudukku. Perlahan tempat dudukku menegak dan aku bisa melihat salah satu lampu jalan raya di Daegu didepanku.
"Aku minta maaf. Aku tidur sepanjang perjalanan. Pasti jadi perjalanan yang membosankan."
"Aku punya radio jadi tidak begitu sepi," jawab Jimin dengan seringai dan kemudian melihat lagi pada lampu jalan.
"Kemana kita pergi dari sini?"
"Lurus sampai kau melihat papan kayu besar bercat merah dan kemudian belok kiri. Letaknya rumah ketiga dari kanan dan setengah menuruni jalan."
Jimin mengikuti petunjukku dan kami tidak berkata apa apa. Aku masih tetap terjaga dan perutku terasa mual. Aku belum makan dan aku tahu itu akan menjadi masalah. Aku punya biskuit asin di tasku yang tadi diberikan Jin padaku. Tapi memasukkan salah satunya ke dalam mulutku di depan Jimin adalah ide yang buruk. Asin adalah salah satu pembuka rahasia terbesar.
Saat kami memasuki halaman rumah Wang halmeonni aku berkeringat dingin. Aku akan sakit jika aku tidak memakan sesuatu. Aku membuka pintu untuk keluar sebelum Jimin bisa melihat wajahku. Wajahku mungkin paling tidak semakin pucat.
"Kau mau aku pergi bersamamu atau lebih baik aku tetap disini?" tanyanya.
"Oh, um... mungkin kau seharusnya di sini saja," jawabku.
Mobil Zhoumi ada disini jadi itu artinya dia mungkin juga ada disini. Aku tidak ingin Jimin dan Zhoumi bertengkar lagi. Aku juga tidak mempercayai Zhoumi untuk tetap menutup mulutnya tentang tes kehamilan itu. Aku menutup pintu mobil dan berjalan menuju rumah. Zhoumi membuka pintu dan melangkah keluar bahkan sebelum aku berjalan ke tangga terbawah. Wajahnya bercampur antara khawatir dan marah.
"Kenapa dia disini? Dia membawamu pulang, sekarang dia bisa pergi." gertak Zhoumi, melihat melaluiku ke arah Jimin.
Ya, ini adalah ide yang bagus karena Jimin tetap tinggal di mobil. Perutku bergulung dan aku menahan mual.
"Karena dia memberiku tumpangan. Tenanglah, Zhoumi. Kau tidak akan bertengkar dengannya. Kau temanku. Dia temanku. Ayo kau dan aku bicarakan ini di dalam. Aku harus mengambil barang-barangku."
Zhoumi mundur dan membiarkanku melaluinya kemudian dia mengikutiku ke dalam membiarkan pintu tertutup di belakangnya.
"Apa maksudmu kau akan kembali bersamanya? Tes itu membawa hasil baik? Kau kembali padanya sekarang meskipun dia mematahkan hatimu dengan begitu buruk sampai kau kembali ke sini tiga hari yang lalu dalam kondisi kacau? Aku akan menjagamu Yoon. Kau tahu itu."
Aku mengangkat tanganku untuk menghentikannya.
"Ini bukan karena aku yang hamil, Zhoumi. Dia adalah teman yang memberikanku tumpangan. Ya, kami lebih sebelumnya... sesuatu terjadi tapi sekarang tidak. Aku tidak pergi padanya. Aku mendapatkan lagi pekerjaanku di Busan dan tinggal bersama Jin untuk sementara. Kemudian aku akan pergi ke suatu tempat dan memulai hidup yang baru. Aku hanya tidak bisa tetap tinggal disini."
"Kenapa kau tidak bisa tinggal disini? Sial Yoon, aku akan menikahimu hari ini. Tidak perlu ditanya. Aku mencintaimu. Lebih dari hidup. Kau akan mengetahuinya. Aku membuat kekacauan ketika kita masih remaja dan terjadi sesuatu dengan Henry, dia tidak berarti apa-apa. Dia hanya pria yang mengalihkan perhatianku. Kau adalah apa yang aku inginkan. Aku telah mengatakan padamu selama bertahun-tahun. Tolong dengarkan aku," dia memohon.
"Zhoumi, hentikan. Kau temanku. Apa yang kita miliki telah lama berakhir. Aku mengetahui apa yang kau lakukan pada pria lain sesuatu yang tidak seharusnya kau lakukan. Malam itu semuanya berubah. Aku mencintaimu tapi aku tidak jatuh cinta padamu dan aku tidak akan pernah seperti itu lagi. Aku perlu berkemas dan aku harus melanjutkan lagi hidupku."
Zhoumi memukulkan tangannya pada dinding.
"Jangan bilang seperti itu. Ini belum berakhir. Kau tidak bisa lari begitu saja sendirian. Ini tidak aman."
Dia berhenti.
"Jadi benar kau hamil?" dia bertanya.
Aku tidak menjawab, Alih-alih aku berjalan ke kamar yang kutinggali sementara selama aku disini dan mulai mengepak koperku.
"Kau hamil," katanya, mengikutiku ke kamar.
Aku tidak menjawab. Aku hanya terfokus pada barang-barangku.
"Apakah dia tahu? Apakah anak artis itu akan mengambil tanggung jawabnya? Dia berbohong, Yoon. Bayi itu akan ada disini dan dia akan lari. Dia tidak akan bisa mengatasinya. Seorang bayi tidak cocok untuk hidupnya. Kau tahu itu. Sial, semua akan tahu. Aku melihat rumah pantainya. Tidak ada seorangpun disana ketika sesuatu menjadi buruk. Mereka tidak akan peduli. Aku mungkin telah mengacau tapi aku tidak akan lari. Aku akan selalu ada disini."
Aku berbalik.
"Dia tidak tahu, oke. Aku tidak yakin apakah aku akan mengatakan padanya. Aku tidak ingin seseorang untuk menyelamatkanku. Aku bisa melakukan ini. Aku tidak putus asa."
Dia mulai membuka mulutnya untuk membantah ketika Wang halmeonni masuk ke dalam kamar. Aku tidak menyadari dia ada di sini.
"Berhentilah memohon padanya, Zhoumi. Kau telah melakukan kesalahan, maka tanggunglah. Dia telah melanjutkan hidup. Hatinya telah melanjutkan hidup. Dia sudah menunjukkan pada kita semua kalau dia bisa pergi sekolah dan menjaga ibunya yang sakit dan dirinya."
Dia melihat dari Zhoumi dan aku dan sebuah senyuman sedih menyentuh bibirnya.
"Kau membuatku sedih hati karena kau mendapat rintangan seperti ini untuk dilewati dan kamar ini selalu mejadi milikmu jika kau membutuhkannya. Tapi jika kau tetap ingin pergi maka aku merestui. Kau harus tetap berhati-hati."
Dia berjalan dan menarikku dalam sebuah pelukan.
"Aku mencintaimu seperti anakku sendiri. Selalu seperti itu," dia berbisik di rambutku.
Air mata menyengat mataku.
"Aku mencintaimu juga Halmeonni."
Dia mundur dan bergeser.
"Kau tetap harus mengabari," katanya dan hendak pergi kemudian menatapku.
"Setiap pria berhak tahu dia punya bayi. Meskipun jika dia tidak akan menjadi bagian dari bayi itu dia perlu tahu tentang itu. Pikirkanlah."
Dia keluar dari kamar meninggalkan Zhoumi dan aku sendirian lagi. Aku menaruh barang terakhirku di koper dan menutupnya. Meraih gagangnya, aku mengangkatnya. Mualku semakin buruk. Aku menutup mulutku dengan satu tangan.
"Sial, Yoon. Kau tidak bisa melakukannya. Berikan itu padaku. Kau tidak seharusnya mengangkat barang berat. Lihat, kau tidak bisa melakukannya? Siapa yang akan memastikan kau dijaga dengan baik?"
Sahabat baikku yang telah kumiliki sepanjang hidupku telah kembali dan pria gila yang berfikir dirinya jatuh cinta dan siap mengorbankan hidupnya telah hilang.
"Aku bilang pada Jin. Dia tahu dan aku akan berhati-hati. Aku tidak berfikir. Semua ini baru bagiku. Dan aku pikir aku akan muntah."
"Apa yang bisa kulakukan?" dia bertanya dengan kepanikan di wajahnya.
"Krakers akan membantu."
Dia meletakkan koper ke bawah dan keluar kamar untuk mengambilkan biskuit krakers untukku. Dia kembali kurang dari beberapa menit dengan sekotak krakers asin dan gelas.
"Wang halmeonni mendengarmu. Dia punya sekotak dan segelas air jahe yang telah di tuangkan. Dia bilang jahe akan meredakan perutmu."
"Terima kasih," jawabku dan duduk di ranjang memakan krakers dan meneguk air jahe.
Tidak ada dari kami yang berbicara. Rasa mualku mulai berkurang dan aku telah belajar dari pengalaman untuk kemudian berhenti makan. Terlalu banyak dan aku akan memakannya lagi segera. Berdiri, aku memberikan kotak dan gelas pada Zhoumi.
"Letakkan saja. Aku akan membereskannya nanti."
Dia mengambil koperku.
"Berikan juga kotak itu padaku. Kau tidak bisa membawanya," katanya mengambil kotak yang berisi barang-barang yang tidak kubongkar dari kepindahan terakhirku.
Aku menarik tas kecil terakhir kepundakku dan dia mulai berjalan ke pintu tanpa berkata-kata. Aku mengikutinya berdoa dia tidak akan melakukan hal bodoh ketika dia bertemu Jimin. Kami sampai di pintu kasa yang terhubung ke beranda depan dan dia berhenti. Meletakkan koperku ke bawah dia berbalik melihatku.
"Kau tidak perlu pergi bersamanya. Aku bilang padamu aku bisa mengatasinya. Kau punya aku, Yoon. Kau selalu punya aku."
Zhoumi percaya apa yang dia katakan. Aku bisa melihatnya di wajahnya. Tapi aku tahu yang lebih baik. Jika aku butuh seorang teman, Zhoumi ada disana tapi dia bukanlah penyelamat siapapun. Aku tidak membutuhkan satupun penyelamat. Aku punya diriku sendiri.
Aku menarik tasku lebih tinggi kepundakku dan berpikir hati-hati bagaimana menjelaskan ini padanya, sekali lagi. Aku telah mencoba segalanya. Dia tidak akan mengerti kenyataan. Mengingatkan kembali padanya bagaimana dia telah mengecewakanku ketika ibuku sakit dan aku yang begitu sendirian hanya akan menyakitinya.
"Aku harus melakukan ini."
Zhoumi mengerang putus asa dan menjalankan tangannya pada rambutnya.
"Kau tidak percaya padaku untuk menjagamu. Itu sangat menyakitkan."
Dia tertawa kalah.
"Tapi kemudian, kenapa kau harus percaya? Aku membiarkanmu sendirian sebelumnya. Dengan ibumu... Aku masih anak-anak, Yoon. Berapa kali aku harus mengatakan padamu segalanya telah berbeda sekarang? Aku tahu apa yang aku inginkan. Aku... Ya Tuhan, Yoon, aku menginginkanmu. Selalu dirimu."
Gumpalan terbentuk di tenggorokanku. Bukan karena aku mencintai dia tapi karena aku peduli padanya. Zhoumi adalah bagian terbesar dalam hidupku. Dia ada selama aku bisa mengingat. Aku menutup jarak di antara kami dan meraih tangannya.
"Tolong, mengertilah. Ini adalah sesuatu yang harus kulakukan. Aku harus menghadapinya. Biarkan aku pergi."
Zhoumi mengeluarkan nafas lelah.
"Aku selalu membiarkan kau pergi, Yoon. Kau pernah meminta padaku sebelumnya. Aku tetap mencoba tapi itu perlahan-lahan menghancurkanku."
Suatu hari dia akan berterima kasih padaku karena meninggalkannya.
"Aku minta maaf, Zhoumi. Tapi aku harus pergi. Dia sudah menungguku."
Zhoumi mengambil koperku dan membuka pintu dengan bahunya. Jimin keluar dari Rover segera setelah dia melihat kami.
"Jangan bilang apa-apa padanya, Zhoumi." bisikku.
Zhoumi mengangguk dan aku mengikutinya menuruni tangga. Jimin bertemu kami di bawah dan menatapku.
"Apakah ini semua barangmu?" tanyanya.
"Ya," jawabku.
Zhoumi tidak mencoba bergerak untuk memberinya koper dan kotak. Otot di rahang Jimin mengetat dan aku tahu dia berusaha keras untuk bersikap baik.
"Berikan barang-barang itu padanya, Zhoumi," kataku sambil menyentuh punggungnya.
Zhoumi mendesah dan memberikan kotak dan koper pada Jimin yang mengambil keduanya dan berjalan menuju Rover.
"Kau harus mengatakan padanya," gumam Zhoumi ketika dia berbalik untuk menatapku.
"Tentu, pada akhirnya. Aku perlu memikirkan ini secara menyeluruh."
Zhoumi melihat ke arah mobilku.
"Kau meninggalkan mobilmu?"
"Kuharap kau mungkin bisa memperbaikinya dan menjualnya. Mungkin beberapa juta won bisa didapatkan. Kemudian kau bisa menyimpan separuhnya dan mengirimkan separuhnya padaku."
Zhoumi mengerutkan dahi.
"Aku akan menjual mobilnya, Yoon, tapi aku tidak akan mengambil uangnya. Aku akan mengirim semuanya."
Aku tidak mendebatnya. Dia perlu melakukan ini semua dan aku akan membiarkan dia melakukannya.
"Oke, baiklah. Tapi bisa kah kau setidaknya memberikannya sedikit untuk Wang halmeonni? Karena dia telah mengijinkanku tinggal disini dan semuanya."
Alis Zhoumi terangkat,
"Kau ingin halmeonni pergi ke Busan dan ketempatmu di Gwangali untuk memukul pantatmu?"
Tersenyum, aku menutup jarak antara kami dan memegang pundaknya aku berjinjit dan mencium pipinya,
"Terima kasih, untuk segalanya," bisikku.
"Kau bisa kembali jika kau membutuhkanku. Selalu," suaranya pecah dan aku tahu aku harus pergi.
Aku mundur dan mengangguk sebelum berjalan menuju Rover. Jimin telah membuka pintu penumpang ketika aku sampai disana dan dia menutupnya di belakangku. Aku melihat saat dia menatap pada Zhoumi sebelum pergi dan masuk ke tempat duduknya. Aku benar-benar akan melakukan ini. Meninggalkan semuanya yang aman dan mengambil langkah awal untuk menemukan tempatku di dunia.
.
.
.
JIMIN POV
Yoongi tampak seperti akan menangis dan aku takut untuk bertanya apakah dia baik-baik saja. Ketakutanku itu karena kemungkinan dia akan berubah pikiran dan tinggal di Daegu dan aku baru bisa merasa tenang jika kami sampai dengan aman keluar dari perbatasan kota. Aku merasa terganggu melihat dia mengaitkan kedua tangannya dengan erat di pangkuannya. Aku berharap dia akan mengatakan sesuatu.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku, akhirnya aku tidak dapat menahan diriku sendiri.
Kebutuhanku untuk melindunginya telah mengambil alih. Dia mengangguk.
"Ya. Aku merasa hanya sedikit ketakutan,kurasa. Kali ini aku tahu aku tidak akan kembali. Aku juga tahu aku tidak memiliki ayah yang menunggu untuk membantuku. Meninggalkan Daegu kali ini ternyata lebih sulit."
"Kau memiliki aku," sahutku.
Dia memiringkan kepalanya ke samping dan menatapku.
"Terima kasih. Aku perlu mendengar hal seperti itu sekarang."
Sial, aku akan merekamnya agar dia bisa memutarnya berulang-ulang jika itu akan membantu.
"Jangan pernah berpikir kau sendirian."
Dia tersenyum lemah padaku kemudian mengalihkan perhatiannya kembali ke jalan.
"Kau tahu aku bisa menyetir jika kau ingin tidur saat ini."
Gagasan bisa bebas untuk melihat dia seperti yang aku inginkan sungguh menggoda. Tapi dia mengharapkan aku untuk tidur dan aku tidak mau membuang-buang waktuku bersamanya hanya dengan tidur.
"Aku tidak ngantuk. Meskipun begitu terima kasih."
Aku melewati drive-thru dan ingin mendapatkan sesuatu untuk dimakan di pemberhentian sini. Dia tertidur dan aku tidak ingin mengganggunya, tapi dia pasti lapar.
"Aku kelaparan. Apa yang ingin kamu makan?" tanyaku.
"Um... aku... aku tidak tahu. Mungkin sup jagung, dengan jagung yang banyak."
Sup jagung? Dengan jagung yang banyak? Permintaan yang aneh. Tapi sial, jika dia ingin sup jagung aku akan mencarikan sup itu untuknya.
"Sup jagung. Aku akan mencarikanmu restoran yang menyediakan sup jagung."
"Jika kau lapar silahkan saja berhenti dimanapun yang kamu inginkan. Aku bisa menemukan sesuatu untuk dimakan dimana saja."
Dia terdengar gugup lagi.
"Yoongi, aku akan mendapatkan sup jagung untukmu. Sup dengan jagung yang banyak," jawabku sambil melirik ke arahnya.
Aku memastikan diriku tersenyum jadi dia akan tahu kalau aku ingin mendapatkan sup jagung untuknya.
"Terima kasih," katanya dan menatap tangannya dipangkuannya lagi.
Kami tidak berbicara untuk sementara waktu tapi rasanya begitu menyenangkan hanya memiliki dia semobil denganku. Aku tidak ingin dia merasa seperti dia harus berbicara. Pintu keluar pertama aku mengikuti tanda petunjuk makanan.
"Sepertinya ada pilihan yang bagus di sini. Pilih tempatnya," kataku padanya.
Dia mengangkat bahu.
"Tidak apa-apa. Kau tahu jika kamu tidak ingin keluar dan tetap ingin melakukan perjalanan, aku bisa makan sesuatu yang kubawa tadi di mobil."
Aku ingin melakukan perjalanan hari ini selama mungkin.
"Kita akan mendapatkan sup jagung itu," jawabku.
Tawa kecil mengejutkanku dan aku menoleh untuk melihat dia benar-benar tersenyum.
Membuatku melakukan hal itu lebih sering lagi adalah tujuan baruku.
.
.
.
Yoongi tertidur lagi, sudah larut malam ketika kami berhenti di tempat parkir di apartemen Jin. Aku sangat berhati-hati untuk menjaga percakapan kami agar lebih mudah. Setelah beberapa saat kami terdiam dalam keheningan yang nyaman saat itulah ia tertidur. Aku memarkirkan Rover di taman kemudian duduk bersandar dan menatapnya.
Aku berkali-kali melihatnya tidur selama perjalanan pulang. Hanya beberapa menit aku ingin bebas menonton dia tidur. Lingkaran hitam di bawah matanya membuatku khawatir. Apakah dia tidak cukup tidurnya?
Jin mungkin tahu. Aku bisa berbicara dengannya tentang hal itu. Mengajukan pertanyaan itu pada Yoongi mungkin kurang bijaksana sekarang.
Sebuah ketukan lembut di jendelaku mengalihkan perhatianku dari Yoongi ke Namjoon yang sedang berdiri di luar mobil dengan ekspresi geli di wajahnya. Aku membuka pintu dan melangkah keluar sebelum ketukan Namjoon bisa membuatnya terbangun. Aku ingin membangunkannya sendiri dan aku tidak ingin ada penonton ketika aku melakukannya.
"Kau berencana untuk membangunkannya atau kau mempertimbangkan ingin menculiknya?" tanya Namjoon.
"Diam, brengsek."
Namjoon tertawa.
"Jin mencemaskannya, dia ingin Yoongi segera masuk ke dalam jadi dia bisa mendengar tentang perjalanannya. Aku akan membantumu untuk membawakan barang-barangnya jika kamu ingin membangunkannya dan membawanya ke dalam."
"Dia kelelahan. Jin bisa menunggu sampai besok."
Aku tidak ingin dia harus bangun untuk menjawab keusilan Jin. Dia jelas membutuhkan lebih banyak tidur dan dia juga membutuhkan lebih banyak makanan. Dia hampir tidak memakan sup jagungnya tadi. Aku sudah mencoba menawarkan makanan lagi tapi dia bilang dia tidak lapar. Hal itu harus diubah. Seperti sandwich selai kacang sialan waktu itu.
"Kalau begitu kau yang mengatakannya pada Jin," jawab Namjoon saat aku mengulurkan kotak di tangannya dan menarik koper keluar dari belakang.
"Aku bawa kopernya, kau yang membawa kotak ini dan aku akan membangunkannya."
"Moment pribadi?"
Namjoon menyeringai dan aku mendorong kotak agak keras ke tangannya. Hal ini menyebabkan dia tersandung kebelakang hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak. Aku mengabaikannya dan berjalan ke sisi penumpang. Membangunkan dia dan membiarkan dia meninggalkanku bukanlah apa yang ingin kulakukan. Itu membuatku sangat ketakutan.
Bagaimana jika ini saatnya? Bagaimana jika Yoongi tidak pernah membiarkanku dekat dengannya seperti ini lagi? Tidak, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Aku akan melakukan secara perlahan tapi aku akan memastikan ini bukan untuk hubungan kami seperti yang dulu. Meskipun aku telah memilikinya untuk diriku sendiri sepanjang hari yang membuat semakin nyata, sulit untuk kembali ke jalan itu.
Aku melepaskan sabuknya. Dia nyaris tidak bangun. Sejumput rambut lepas dikening mulusnya membuat aku menyerah pada keinginan untuk menyentuhnya. Menjangkau sampai aku bisa mengusap rambutnya ke atas. Dia begitu sempurna. Aku tidak pernah bisa melupakannya. Rasanya tidak mungkin. Aku harus menemukan cara untuk mendapatkan dia kembali. Untuk membantu memulihkannya.
Kelopak matanya pelan-pelan terbuka dan tatapannya terkunci dengan mataku.
"Kita sudah sampai," bisikku, tidak ingin mengejutkannya.
Dia duduk dan memberiku senyum malu-malu.
"Maaf, aku tertidur lagi."
"Kau pasti membutuhkan istirahat lagi. Aku tidak keberatan."
Aku ingin tinggal di sana dan tetap memilikinya di dalam mobilku, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku mundur kebelakang agar ia bisa keluar. Ingin menanyakan apakah aku bisa bertemu dengannya besok dan pertanyaan itu sudah ada di ujung lidahku. Tapi aku tidak jadi menanyakannya. Dia belum siap untuk itu. Aku harus memberinya ruang.
"Aku akan menemuimu besok," kataku dan senyumnya gemetar.
"Oke, eh, ya, sampai jumpa. Dan terima kasih sekali lagi karena telah membantuku hari ini. Aku akan membayarmu untuk bensinnya."
Persetan.
"Tidak, tidak perlu. Aku tidak mau uangmu. Aku senang bisa membantu."
Dia mau berkata lagi tapi tiba-tiba menutup mulutnya. Dengan anggukan rapat ia berbalik dan berjalan masuk ke apartemen.
-TBC-
Preview: Chapter 9
-Yoongi POV-
"Jokwon memberitahuku, dia menduga... Kau sama seperti dirinya. Apa kau sudah menemui seorang dokter? Aku menduga itu Jimin. Apakah dia tahu? Karena jika dia sudah tahu dan kau disini bekerja padaku dalam kondisi seperti ini, aku sendiri yang akan mematahkan leher sialan-nya itu."
Dia tahu. Oh tidak, oh tidak, oh tidak.
.
-Jimin POV-
"Jika ada orang yang memiliki masalah dengan Yoongi maka mereka harus berbicara denganku. Dia memiliki pekerjaan disini selama ia menginginkannya. Satu dari kalian bertiga mungkin tidak menyukainya tapi secara pribadi aku tidak peduli sama sekali. Jadi lupakan tentang hal itu. Dia tidak perlu omong kosong ini sekarang. Jadi mundurlah. Apakah kalian mengerti?"
Aku mengamatinya. Apa maksudnya dan mengapa ia bertindak sebagai pelindung Yoongi? Aku tidak menyukainya.
