Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 10

YOONGI POV

Jin mengulurkan tangannya dan meremas tanganku. Dia berada disampingku ketika aku duduk menunggu di dalam ruang dokter. Aku kencing di wadah kecil dan sekarang kami menunggu untuk mendengar hasilnya. Jantungku berpacu. Ada kemungkinan tapi sangat tipis kalau aku mungkin tidak hamil.

Aku sudah mencari tahu mengenai hal itu kemarin dari Jokwon. Dari apa yang telah aku alami, Jokwon langsung memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Namun diriku masih tidak ingin meyakini semuanya. Tes kehamilan di rumah bisa saja salah dan bisa saja aku merasa sakit karena dibenakku berpikir aku hamil.

Pintu terbuka dan seorang perawat masuk ke dalam. Dia tersenyum saat melirik dari Jin lalu ke arahku.

"Selamat. Hasilnya positif, anda hamil."

Jin meremas erat tanganku. Aku sudah tahu ini jauh di lubuk hatiku tetapi mendengar perawat mengatakannya membuat hal itu menjadi lebih nyata.

Aku tidak akan menangis. Bayiku tidak perlu tahu kalau aku menangis ketika aku tahu aku hamil. Aku menginginkan dia baik laki-laki atau perempuan, dan dia akan selalu merasa dicintai. Ini bukan hal yang buruk dan tidak akan pernah bisa menjadi sesuatu yang buruk.

Aku ingin memiliki keluarga. Aku akan segera memiliki satu lagi. Seseorang yang mencintaiku tanpa syarat.

"Dokter akan masuk untuk memeriksa anda beberapa menit lagi. Kami harus memeriksa darahmu juga. Apakah anda pernah mengalami kram atau perdarahan?"

"Pernah ada bercak darah sekali. Tidak pernah lagi. Sekarang sebetulnya aku merasa kesulitan, mual. Bau-bauan yang menyebabkan itu," jelasku padanya.

Perawat itu mengangguk dan menulis di clipboard-nya.

"Memang itu gejala yang bisa terjadi, tapi hal itu merupakan sesuatu yang berarti kehamilan anda baik-baik saja. Sakit tapi tidak apa-apa."

Jin mendengus.

"Kau tidak melihat saat dia muntah tapi tidak ada yang keluar. Tidak ada yang baik-baik saja tentang hal itu."

Perawat itu tersenyum.

"Ya, saya bisa mengingat hari-hari seperti itu. Sesuatu yang tidak menyenangkan."

Dia mengalihkan tatapannya kepadaku.

"Maukah anda melibatkan ayahnya?"

Apakah dia mau? Bisakah aku mengatakan ini padanya? Aku menggelengkan kepalaku.

"Tidak, saya tidak berpikir dia akan mau."

Senyum sedih terlihat di wajah perawat itu saat ia mengangguk dan membuat catatan lain di clipboard-nya sambil mengatakan padaku kalau dia sudah begitu sering melihat hal seperti ini.

"Apakah anda menggunakan alat kontrasepsi sebelum anda hamil? Mungkin kondom, atau pil?" tanya Perawat.

Aku tidak melihat ke arah Jin. Mungkin aku tidak menginginkan dia disini setelah semua ini. Aku menggelengkan kepalaku. Perawat itu mengangkat alisnya.

"Sama sekali tidak? Anda sudah tahu bukan kalau kondisi anda memiliki kemungkinan untuk hamil setiap saat?" tanyanya.

"Ya, aku tahu, tapi tidak kupikirkan. Kupikir itu hal yang tidak mungkin terlalu mudah terjadi? Dan tidak, sama sekali tidak. Maksudku, beberapa kali dia menggunakan kondom tapi pernah beberapa kali kami tidak menggunakannya. Dia menarik keluar saat… tapi sekali dia tidak melakukannya."

Jin menegang di sampingku. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Bagaimana bisa aku begitu bodoh? Itu sebuah fakta yang kutinggalkan dari ceritaku. Perawat itu mengangguk.

"Oke. Dokter akan segera datang," jawabnya dan melangkah keluar dari ruangan ini.

Jin menyentakkan lenganku yang membuatku melihat ke arahnya.

"Dia tidak menggunakan kondom? Apakah dia gila? Sialan! Dia seharusnya sudah memikirkan untuk menanyakan apakah kau hamil atau minimal memikirkan kesehatan kalian berdua. Dasar brengsek. Di sini aku merasa kasihan padanya karena dia tidak tahu kalau dia akan menjadi seorang ayah dan dia tidak menggunakan kondom sialan. Dia seharusnya sudah menghubungimu dalam empat minggu untuk memastikan apakah kau baik-baik saja atau tidak. Dasar idiot."

Jin berjalan mondar-mandir di depanku sekarang. Aku hanya memperhatikannya. Apa yang bisa aku katakan tentang hal ini? Aku hanya merasa seperti bersalah dalam situasi ini.

Jimin jelas tidak tahu bahwa aku bisa atau memiliki kemungkinan untuk hamil, dan… mengingat bagaimana aku benar-benar telanjang, menaiki tubuhnya dan mengacaukan otaknya di malam itu.

Dia seorang pria dan berhenti untuk mengenakan kondom adalah hal terakhir di pikirannya. Aku tidak memberinya banyak waktu untuk berpikir. Namun, menceritakan secara rinci pada Jin tentang kehidupan seks-ku dan Jimin, hal itu tidak akan terjadi. Jadi aku menutup mulutku.

"Dia pantas menerimanya. Dia seharusnya mengecek keadaanmu. Jangan bilang pada si tolol itu. Dia pikir dia bisa berhubungan seks dan tidak menggunakan kondom, ia bisa hidup dalam ketidaktahuan dengan semua yang kupedulikan. Aku akan berada disini untukmu. Aku dan kamu. Kita akan mengatasinya."

Jin tampak siap menaklukkan dunia saat ini. Hal itu membuatku tersenyum. Aku tidak akan berada di Busan saat bayi ini lahir. Kalau saja aku bisa. Aku ingin bayiku memiliki orang lain yang mencintainya. Jin akan menjadi seorang paman yang sangat baik. Pikiran itu membuatku sedih. Senyumku menghilang.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal," kata Jin menjatuhkan tangannya dari pinggangnya dengan raut wajahnya penuh prihatin.

"Tidak. Kau tidak membuatku kesal. Aku hanya berharap... aku hanya berharap aku tidak harus pergi. Aku ingin bayiku mengenalmu."

Jin berjalan mendekat dan memeluk bahuku lalu meremasnya.

"Kau bisa memberitahuku dimana kamu akan tinggal dan aku akan datang melihat kalian berdua sepanjang waktu. Atau kamu bisa tinggal dan hidup denganku. Ketika bayi ini lahir, Jimin pasti sudah menghilang. Dia tidak tinggal di Busan untuk melewatkan musim panas. Kita akan punya waktu untuk membuat kalian berdua hidup menetap sebelum ia kembali. Coba pikirkan tentang hal itu. Jangan takut atas keputusan terakhirmu sekarang."

Benarkah Jimin akan pergi? Apakah dia menyerah padaku dan meninggalkan Busan? Ataukah dia akan tinggal? Hatiku terasa sakit memikirkan dia meninggalkan aku. Sepertinya aku sangat tahu hal itu tidak akan berhasil, aku ingin dia berjuang untukku. Aku ingin dia menemukan cara agar kita bisa bersama lagi meskipun aku tahu itu sesuatu yang mustahil.

.

.

.

Dua jam kemudian kami kembali ke apartemen Jin dan aku memiliki vitamin prenatal dan beberapa brosur tentang kehamilan yang sehat. Aku menyelipkannya ke dalam koperku. Aku butuh mandi air hangat dan tidur siang. Jin mengetuk pintu kamar mandi sekali dan berjalan masuk ke dalam. Dia memegang telepon dengan satu tangannya dan tersenyum seperti orang idiot.

"Kau tidak akan percaya tentang hal ini," dia berhenti sejenak dan menggelengkan kepalanya, sepertinya dia masih tidak percaya.

"Jungkook baru saja menelepon. Dia mengatakan kondominium itu akan menjadi milik kita dengan biaya yang sama dengan yang aku bayar sekarang untuk apartemen ini. Dia mengatakan hal itu tambahan pada pekerjaan karena memiliki dua karyawan yang tinggal di area klubnya akan sangat membantu. Dia juga mengatakan kita berdua tidak akan memiliki pekerjaan jika kita mencoba untuk menolak tawaran itu."

Aku merosot ke bawah, duduk di atas toilet yang tertutup dan menatap ke arahnya. Dia melakukan ini karena aku hamil. Ini adalah caranya untuk membantuku. Suatu saat aku ingin berteriak kepadanya dan memeluk lehernya. Air mata menyengat di mataku.

"Apakah dia masih di telepon?" aku bertanya ketika aku menyadari Jin masih memegangnya di dekat telinganya.

"Tidak, ini Namjoon. Dia mengatakan ini ada hubungannya denganmu. Kau tidak... seperti menemui Jungkook untuk kencan atau apapun itu kan?" tanyanya perlahan.

Itu pasti pertanyaan dari Namjoon. Dia mengulanginya seolah dia tidak mempercayai hal itu bahkan saat mengatakannya.

"Bisakah kamu mute sebentar teleponnya?" aku bertanya kepadanya dengan suara pelan.

Matanya melebar dan dia mengangguk. Begitu teleponnya sudah dinonaktifkan, dia menatapku seolah dia tidak mengenali aku. Apa yang dia pikirkan? Aku berhubungan dengan Jungkook disaat aku sedang mengandung bayi Jimin? Tentu saja tidak.

"Jin, dia tahu. Jungkook sudah tahu."

Kesadarannya muncul dan mulutnya menganga lebar.

"Bagaimana bisa?" tanyanya.

"Dia menempatkan aku di shift pagi di ruang makan. Di dapur... baunya seperti bacon."

Jin membuat huruf "O" besar dengan mulutnya dan mengangguk. Dia paham. Dia mengangkat tangannya dan menyalakan teleponnya.

"Tidak ada yang terjadi antara Jungkook dengan Yoongi. Dia baru saja menjadi seorang teman bagi Yoongi dan hanya ingin membantunya. Itu saja."

Jin memutar matanya pada apa yang dikatakan Namjoon lalu menyebutnya gila kemudian menutup telepon.

"Oke, jadi dia tahu kamu mengandung bayi Jimin dan dia memberi kita sebuah kondominium dengan harga yang sangat murah? Sepertinya ini hal terbaik yang pernah ada. Tunggu sampai kamu melihat tempat itu. Jika saja ia membiarkan kita tinggal setelah bayinya lahir, kamarmu cukup besar untuk menempatkan sebuah box bayi. Sangat sempurna."

Aku tidak bisa berpikir sejauh itu. Saat ini aku hanya ingin pergi mencari Jungkook dan berbicara dengannya. Jika aku akan meninggalkan kota ini empat bulan lagi, aku tidak ingin kesepakatan ini batal untuk Jin. Aku harus memastikannya sebelum aku membiarkan dia terlalu bersemangat.

.

.

.

JIMIN POV

Namjoon menelepon untuk memberitahuku bahwa kedua pria itu pindah ke kondominium di properti klub hari ini. Aku tidak melihatnya sejak insiden di lapangan golf. Bukan karena kurangnya aku mencoba. Beberapa kali aku telah berusaha untuk menempatkan diriku di rute pekerjaannya di klub tapi tidak pernah berhasil. Aku bahkan mampir kemarin tapi dia sudah pulang.

Woori mengatakan ia dan Jin libur jadi aku menduga mereka pergi untuk melakukan sesuatu bersama-sama.

Aku berhenti di apartemen Jin dan langsung melihat mobil Jungkook. Apa sih yang dia lakukan disini? Aku menyentakkan pintu terbuka dan berjalan menuju ke apartemennya ketika aku mendengar suara Yoongi.

Berbalik arah, aku berjalan menghampiri mobil Jungkook sampai aku melihat Jungkook sedang bersandar di dinding di samping mobilnya yang dia parkir dan wajahnya terlihat tersenyum saat mendengarkan Yoongi berbicara. Hal itu yang membuatku ingin membunuhnya.

"Jika kau yakin, aku mengucapkan terima kasih," kata Yoongi pelan seolah-olah dia tidak ingin ada yang mendengarnya.

"Positif," jawab Jungkook saat mengalihkan pandangan matanya lalu bertemu dengan tatapanku.

Senyum di wajahnya langsung menghilang. Yoongi menoleh melirik lewat bahunya. Wajahnya tampak terkejut saat matanya bertemu dengan mataku yang terluka.

Mungkin seharusnya aku tidak berada di sini sekarang. Aku tidak ingin kehilangan itu dan menakutinya tapi aku benar-benar dekat dengan kemarahan, ingin memukul seorang Jeon Jungkook tanpa berpikir.

Mengapa mereka berbicara hanya berdua? Apa yang dia maksud dengan positif?

"Jimin?" kata Yoongi, berjalan menjauhi Jungkook dan mendekatiku.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Jungkook tertawa dan menggelengkan kepalanya lalu membuka pintu mobilnya.

"Aku yakin dia datang untuk membantu. Aku akan pergi sebelum wajah cemberutnya yang tampak jelek itu membunuhku."

Dia meninggalkan kami. Bagus.

"Apa kau disini untuk membantu kami pindah?" tanyanya, mengamatiku dengan hati-hati.

"Ya," jawabku.

Ketegangan meninggalkanku saat mesin BMW Jungkook menyala dan ia pergi.

"Bagaimana kau tahu kami akan pindah?"

"Namjoon meneleponku," jawabku.

Dia menggeser kakinya dengan gugup. Aku benci bahwa aku membuatnya gelisah.

"Aku ingin membantu, Yoongi. Aku minta maaf tentang Taehyung pada waktu itu. Aku sudah bicara dengan dia. Dia tidak akan…"

"Jangan khawatir tentang hal itu. Kau tidak perlu meminta maaf untuknya. Aku tidak berpikiran buruk terhadapmu. Aku mengerti."

Tidak, dia tidak mengerti. Aku bisa melihatnya di matanya bahwa dia tidak memahaminya. Aku mengulurkan tangan dan meraih tangannya. Aku hanya ingin menyentuhnya. Entah kenapa, dia gemetar saat jari-jariku menyentuh telapak tangannya. Dia menggigit bibir bawahnya, cara yang sama dengan yang aku inginkan.

"Yoongi," kataku lalu berhenti karena aku tidak yakin apa lagi yang harus kukatakan.

Sebenarnya sudah terlalu banyak yang ingin kukatakan sekarang. Dia mengalihkan tatapannya dari tangan kami ke arahku dan aku bisa melihat ada gairah disana. Benarkah? Apakah aku bermimpi melihat itu atau apakah dia... dia benar-benar begitu? Aku menyelipkan satu jari sampai ke telapak tangannya dan membelai bagian dalam pergelangan tangannya. Dia gemetar lagi. Sial. Dia terpengaruh oleh sentuhanku.

Aku melangkah lebih dekat dan menjalankan tanganku perlahan-lahan naik ke lengannya. Aku menunggu dia untuk mendorongku menjauh dan aku berharap dialah yang membuat jarak diantara kami. Ketika tanganku sudah cukup tinggi ibu jariku menyentuh sisi dadanya dan dia mencengkeram tanganku yang bebas sambil bergidik. Apa-apaan ini?

"Yoongi," bisikku, menekan punggungnya sampai dia menempel ke dinding bata gedung apartemen dan dadaku beberapa inci bersentuhan dengan dadanya.

Dia tidak mendorongku untuk menjauh dan kelopak matanya tampak sayu saat ia menatap dadaku. Napasnya berat. Potongan leher pada kausnya yang berwarna merah pucat itu agak rendah, memamerkan tepat disana di bawah hidungku. Naik-turun seolah-olah itu sebuah undangan. Salah satu hal yang mustahil.

Ada sesuatu yang salah disini. Aku meletakkan tanganku yang lain di pinggangnya dan perlahan-lahan meluncur naik ke atas tubuhnya sampai ibu jariku yang lain terselip di dalam dadanya. Putingnya keras dan tegak menyembul dibalik bahan tipis kausnya. Aku tidak bisa menghentikan diriku.

Aku menggeser tanganku dan mengelus puting sebelah kanannya lalu mencubitnya dengan lembut. Yoongi merintih dan lututnya mulai membuka. Dia membiarkan kepalanya jatuh kebelakang ke dinding dan menutup matanya. Aku menahannya dengan menyelipkan kakiku diantara kakinya agar ia tidak jatuh ke lantai. Dengan tanganku yang lain, aku menjalankan ibu jariku di atas putting kirinya yang keras.

"Oh Tuhan, Jimin," erangnya.

Dia membuka sedikit matanya dan menatapku dengan pandangan yang sayu. Sial. Aku berada pada suatu bentuk siksaan dari surga. Jika ini adalah mimpi lain, aku akan marah. Rasanya terlalu nyata.

"Apakah rasanya nikmat, Sayang?" tanyaku, sambil menurunkan kepalaku untuk berbisik di telinganya.

"Yaaa... ahhh," desahnya, dia meleleh turun lebih jauh ke lututku.

Ketika ereksinya yang sudah mengeras menempel di kakiku, dia tersentak dan mencengkeram lenganku lebih keras.

"Ahhh," dia berteriak.

Aku akan datang di celanaku. Aku belum pernah merasa begitu terangsang selama hidupku. Sesuatu yang berbeda. Ini tidak sama. Dia hampir putus asa. Aku bisa merasakan ketakutannya namun kebutuhannya lebih kuat.

"Yoongi, katakan padaku apa yang kau ingin aku lakukan. Aku akan melakukan apapun yang kamu butuhkan," aku berjanji padanya, mencium kulit lembut di bawah telinganya.

Aromanya begitu menyenangkan. Aku menurunkan satu tanganku dan meremas gundukan dibalik celananya dengan tanganku dan dia menghembuskan rintihan untuk memohon. Yoongi manisku sangat terangsang. Ini nyata. Ini bukan mimpi sialan. Brengsek.

"Yoongi!"

Panggilan melengking dari suara Jin seperti seember air es disiramkan di atas Yoongi. Dia menegang kemudian berdiri tegak melepaskan tangannya dari lenganku dan bergeser menjauh. Dia tidak mau melihat ke arahku.

"Aku... uh... Maafkan aku, Jimin... Aku... aku tidak tahu..."

Dia menggelengkan kepalanya dan bergegas pergi menjauh dariku. Aku mengawasinya sampai dia di pintu dan Jin berbicara padanya dengan tegas. Yoongi mengangguk. Setelah mereka masuk ke dalam aku menghantamkan kedua tanganku ke dinding bata dan menggumamkan serangkaian kutukan sementara aku berusaha mati-matian untuk mengontrol amarah dan gairahku yang begitu keras.

Setelah beberapa menit pintu terbuka lagi dan aku berpaling lalu melihat Namjoon berjalan keluar. Dia melihat ke arahku dan bersiul pelan.

"Sialan man, Kau bertindak begitu cepat."

Aku bahkan tidak menanggapi hal itu . Dia tidak tahu apa yang ia bicarakan. Yoongi begitu kelaparan akan sentuhanku. Dia tidak mendorongku, hampir memohon kepadaku meski tanpa kata kata. Rasanya tidak masuk akal tapi dia menginginkanku. Tuhan tahu aku menginginkan dia. Aku selalu menginginkan dia.

"Ayolah. Kita memiliki sofa untuk dipindahkan. Aku butuh bantuanmu," kata Namjoon, menahan pintu terbuka.


-TBC-

[Hei kamu (reader-nim)! Ketemu lagi deh kita di sini ya hehe]

[1st of all, deep bow dulu untuk semua reader-nim especially para reviewer. Gomawo yaaa... (with uname/guest). Sampe ada yg Pm khusus juga T_T *terhura* I really appreciated it. Di semua kolom review ff-ku, semua kubaca & gk bohong itu bikin aku ngerasa lebih baik & tersupport. Jangan khawatir, aku 'down'-nya cuma itungan jam kok wkwk, gk bisa lama2... Apalagi kemaren2 dapat byk asupan bonvoyage ep 5 + preview pic sumpack. Langsung dikasih OTP kesayangan minimini n biasku si kelinci yg jidatnya bebas dipandang yayyy... Kurang apalagi coba, obat paling ampuh huehehe... P.s: Next chapter aku blm bs janjiin akan selalu fast update tp akan diusahakan :D]

[Sekarang back to the story... uwow… Yoonginya mendadak 'kepengen' tu huehehe]

[Jimin gimana nasibnya ditglin tengah jln... Are you okay, jiminnie?]

[Yang baca juga gimana? Are you okay all? :p]

[Next chapter kayanya bakal pada 'suka' nih... penantian buat beberapa dari kalian (you know who you are *smirk*)]

.

.

.

Preview: Chapter 11

-Yoongi POV-

Aku melangkah memasuki kamar mandi dan tiba-tiba ada tubuh berada di belakangku yang mendesakku masuk lebih dalam. Panas yang menguar dari dada Jimin yang menekan punggungku membuatku gemetaran. Sialan. Aku tidak akan mampu menghadapi ini.

.

-Jimin POV-

"Yoongi tolong lihat aku," pintaku.

Berhenti, dia mengambil nafas dalam kemudian mengangkat matanya untuk bertatapan denganku. Kesedihan bercampur dengan sesuatu hal yang lain.