Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 13
YOONGI POV
Aku tidak membutuhkan lebih dari ranjang double size. Namun, Jimin menolak membeli kurang dari ranjang berukuran king, dua nakas dan satu lemari yang serasi dengan sebuah cermin. Aku membuat kesalahan dengan terlalu lama memandangi sehelai selimut berwarna lavenderyang serasi.
Sebelum aku tahu apa yang terjadi dia telah membeli seluruh perlengkapan alas tidur lengkap dengan sprei berwarna lavender itu dan bantal baru. Aku mendebatnya sepanjang waktu tapi dia bersikap seakan-akan aku sedang tidak berbicara. Dia hanya berkedip padaku dan terus saja menempatkan pesanannya dan memberikan pengarahan kepada sang salesman.
Sekembalinya kami dari makan malam, yang mana dia bersikeras untuk memberiku makan, semua furniturnya telah diantarkan. Jin berdiri di pintu ketika kami naik. Dia menyukai ini.
"Terima kasih telah memperbolehkanku melakukan semuanya hari ini. Aku membutuhkannya. Kau mungkin tidak mengerti namun aku harus melakukannya," Jimin berujar sebelum aku membuka pintu mobil.
Aku balik memandangnya.
"Kau butuh membelikanku seluruh perlengkapan kamar tidur dan sprei yang mahal?" tanyaku, kebingungan.
"Ya, benar."
Aku tidak mengerti tapi aku menganguk. Jika dia perlu melakukannya aku akan menghargainya. Aku masih belum percaya bahwa semua itu milikku. Aku akan merasa menjadi seorang tamu asing di dalam kamarku sendiri.
"Hm, terima kasih sebelumnya aku tidak mengharapkan apapun lebih dari sebuah ranjang. Aku tidak siap untuk dimanjakan."
Jimin mencondongkan tubuhnya ke depan dan menekankan sebuah kecupan disamping telingaku.
"Yang kulakukan tadi sama sekali belum mendekati memanjakanmu. Namun aku berniat menunjukkanmu apa tepatnya yang dimaksud dengan memanjakan."
Aku bergidik dan meremas pegangan pintu. Aku tidak akan membiarkannya membelikanku apapun lagi. Aku harus menghentikannya namun ciuman-ciuman di seputaran telingaku membuatku sulit untuk fokus.
"Mari kita lihat bagaimana keadaanya," katanya saat menarik diri.
Jarak. Harus mendapatkan sedikit jarak. Aku sangat siap melompat kearahnya sekarang. Bukan hal yang bagus. Kontrol. Hormon-hormon kehamilan ingin mengambil alih.
Jimin berlari mengitari bagian depan Rover ketika kubuka pintu di sisiku dan bersiap keluar. Dia kemudian mengambil tempat di depanku mengambil tanganku dan membantuku turun seolah aku seorang yang tidak berdaya sebelum aku dapat turun sendiri.
"Aku bisa keluar sendiri, kau tahu," tukasku padanya.
Dia nyengir.
"Ya, namun apa yang seru dari hal itu?"
Tertawa, aku mendorong melewatinya dan berjalan menuju Jin yang telah menonton kami seakan kami adalah salah satu drama korea favoritnya di televisi.
"Nampaknya toko furnitur memutuskan untuk menurunkan stok terakhir mereka di kamarmu," Jin berkata, menyeringai seperti anak kecil yang berada di toko permen.
"Bolehkah aku tidur denganmu di tempat tidur luar biasa besar itu malam ini? Kasurnya menakjubkan."
"Tidak. Dia membutuhkan istirahat. Tidak ada teman tidur," timpal Jimin, berjalan ke belakangku dan membungkuskan lengannya dengan protektif disekeliling pinggangku.
Pandangan mata Jin jatuh ke pinggangku dan kemudian kembali menatap Jimin.
"Kau tahu," ujarnya, terlihat amat senang.
"Ya, aku tahu," jawab Jimin.
Dia menegang di belakangku. Aku merasa sangat jahat. Satu lagi orang yang telah kuberitahu mengenai kehamilanku sebelum aku memberitahunya. Dia memiliki semua hak untuk marah. Aku seorang pendusta. Apakah dia akan menyadarinya dan meninggalkanku sekarang?
"Baguslah," Jin berkata dan melangkah membuka jalan supaya kami bisa masuk kedalam.
"Bagaimana kalau kau memastikan mereka meletakkan semua furniturnya tepat dimana kau menginginkannya," Jimin berujar padaku ketika kami telah masuk.
"Ide yang bagus."
Aku meninggalkannya disana untuk memeriksa furnitur. Jika dia marah padaku dia akan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Para pria pengantar barang telah melakukan pekerjaan yang bagus dalam penempatan furniturnya sehingga aku tidak perlu memberi instruksi apapun. Aku senang dengan cara mereka menempatkan barang-barang itu.
Berjalan kembali ke ruang keluarga kudengar Jin berbisik dan aku pun berhenti melangkah.
"Dia makin membaik. Dia telah sakit beberapa waktu namun dua pagi terakhir ini dia tidak muntah-muntah lagi."
"Kau telepon aku di detik ketika dia terlihat mungkin akan sakit."
Jimin bahkan membuat bisikannya terdengar seperti nada perintah.
"Ya, aku akan meneleponmu. Aku sama sekali tidak mendukung seluruh ide 'jangan bilang pada Jimin'. Kau yang melakukan ini terhadapnya. Kau harus selalu berada disisinya."
"Aku tidak akan kemana-mana," sahut Jimin.
"Sebaiknya begitu."
Jimin terkekeh,
"Jika dia tidak mau tinggal bersamaku setidaknya dia memiliki kau yang akan melindunginya..."
"Tepat sekali. Jangan kira aku tidak akan membantunya menghilang kalau kau mengacaukan hal ini lagi. Kau menyakitinya dan dia akan pergi."
"Aku tidak akan pernah menyakitinya lagi."
Dadaku sakit. Aku ingin mempercayainya. Aku ingin menyakininya. Ini adalah bayi kami. Banyak sekali hal yang sulit untuk dimaafkan namun aku harus mempelajari bagaimana caranya. Aku mencintainya. Aku yakin aku akan selalu begitu.
Aku berjalan memasuki ruangan dan tersenyum.
"Mereka menempatkan furniturnya tepat dimana aku menginginkannya."
Jimin mengulurkan tangan dan menarikku kedalam dekapannya. Akhir-akhir ini dia menjadi sering melakukannya. Dia tidak berkata sepatah kata pun. Dia hanya memelukku.
Jin meninggalkan ruangan dan aku melingkarkan lenganku disekelilingnya dan kami berdiri dengan posisi demikian untuk waktu yang cukup lama. Itu adalah pertama kalinya aku tidak merasa sendirian dalam waktu yang sangat lama.
.
.
.
Jimin tidak meminta untuk menginap. Aku merasa agak terkejut. Dia juga tidak melakukan apapun lebih dari menciumku sebelum dia pergi. Itu tidaklah cukup menenangkanku dari mimpi-mimpiku. Aku terbangun sekali lagi sebelum mencapai orgasme, membuatku amat frustrasi. Kulempar selimutku dan duduk.
Hari ini aku mendapat giliran bekerja pada waktu makan siang. Aku telah menelepon Jungkook tadi malam dan memohon maaf karena telah melarikan diri darinya namun dia mengerti dan bertanya padaku apakah semuanya berjalan dengan baik.
Jimin berdiri di sana mendengarkan setiap perkataanku jadi aku terburu-buru menutup telepon. Aku sendiri akan menghadap Jungkook hari ini dan berbicara padanya. Dia sangat pengertian.
Dia memerintahkanku bekerja di ruang makan selama sisa minggu. Satu-satunya hari dia menyuruhku bekerja di lapangan adalah hari Sabtu karena akan ada turnamen. Semua orang diharapkan bekerja di luar.
Ketika pada akhirnya aku berjalan memasuki dapur aku disambut oleh sekotak donat dan sebuah catatan kecil tertempel diatasnya. Tersenyum, kuambil dan membaca catatan tersebut.
.
"Aku kehilanganmu semalam. Aku tidak sanggup memakan ini semua sendirian. Semoga semua hal berjalan lebih baik, jaga kesehatanmu, kau tahu.
-Jokwon."
.
SIAL! Aku telah melupakan tentang kencan donat kami. Satu orang lagi yang harus kumintakan maafnya. Namun pertama-tama, aku menginginkan susu dan beberapa donat.
.
.
.
JIMIN POV
Aku duduk di salah satu kursi kulit di seberang meja kerja Jungkook. Dia sedang mengamatiku dan itu membuatku marah. Akulah satu-satunya yang memanggilnya dan mengadakan pertemuan ini. Kenapa dia sangat kegirangan?
"Aku akan membayarmu untuk sewa penuh kondominium dengan harga pantas. Aku tahu harganya dan aku sudah menyiapkan cek untuk sewa satu tahun. Meskipun, Yoongi mungkin tidak akan tinggal lama disana. Segera setelah aku mendapat kepercayaannya aku akan mengajaknya pindah bersamaku."
Aku meletakkan cek itu ke meja kerjanya. Jungkook melihat cek itu dan kembali melihatku.
"Aku mengasumsikan ini karena kau tidak ingin aku mengurus apa yang menjadi milikmu."
"Itu benar."
Jungkook mengangguk dan mengambil ceknya.
"Bagus. Aku tidak seharusnya mengurus Yoongi atau bayimu. Tapi aku akan. Kau boleh tidak percaya tapi aku senang kau tahu tentang kehamilannya. Hanya jangan mengacaukannya. Kau harus memastikan Taehyung menjaga cakarnya tetap didalam."
Aku tidak butuh Jungkook memberitahuku apa yang perlu dan tidak perlu aku lakukan. Ini bukan urusannya. Aku belum selesai dengannya, jadi membuatnya marah bukanlah ide yang bagus.
"Aku tidak ingin dia bekerja double shifts atau berpanas-panasan di luar. Dia menolak untuk berhenti bekerja jadi jam kerjanya perlu dipotong."
Jungkook menyilangkan lengannya di atas dadanya dan bersandar kekursinya.
"Dia tahu tentang ini? Karena terakhir kali aku tahu dia membutuhkan semua jam yang bisa dia dapat."
"Terakhir kau tahu aku tidak tahu bahwa dia mengandung bayiku. Tidak ada yang akan terjadi padanya Jungkook. Aku tidak akan membiarkan apapun menimpanya."
Dia mengangguk dan menghembuskan nafas berat.
"Baik, aku setuju. Aku tidak suka diberi tahu apa yang harus aku lakukan tapi aku setuju."
"Satu hal lagi," kataku sebelum berdiri.
"Jokwon bukan seorang 'dominan' kan?"
Jungkook tertawa terbahak-bahak kemudian mengangguk.
"Iya, tapi jaga ini untuk dirimu sendiri. Para pria manapun suka berkunjung kesini hanya untuk melihatnya. Dia mendapat tip besar karena itu."
Bagus. Kupikir dia memang gay tapi bottom. Hanya saja kedekatannya dengan Yoongi menggangguku.
"Kalau begitu kurasa dia bisa berdekatan dengan priaku."
Jungkook menyeringai.
"Aku tidak berpikir kau bisa menghentikannya jika kau mencoba."
Ponselku berdering saat aku berjalan ke Range Roverku. Itu mengingatkanku bahwa Yoongi tidak mempunyai ponsel. Ini bukan dia yang meneleponku. Aku akan memeriksanya sekarang.
Kami akan membicarakannya nanti. Mengeluarkan ponselku aku melihat nama ibuku di layar. Aku mengabaikannya selama empat minggu. Aku mendapatkan Yoongi kembali tapi aku belum siap untuk berbicara pada ibuku. Aku menekan 'abaikan' dan memasukkan ponselku kembali ke dalam saku.
Saat aku sampai di tempat Yoongi aku memeriksa di bawah keset dan aku senang melihat tidak ada kunci yang disembunyikan disana. Aku sudah berbicara padanya dan Jin kemarin malam tentang tidak amannya hal itu.
Aku mengetuk pintu dan mendengarkan langkah kaki di sisi lain pada pintu. Mobil Jin ada di klub ketika aku pergi dari sana jadi aku tahu Yoongi sedang sendirian. Hanya memikirkan tentang mempunyai waktu sendirian bersamanya membuatku tersenyum.
Pintu terbuka dan seorang Yoongi 'yang baru merangkak keluar dari tempat tidur' berdiri dengan tangan di sisi lain memegang sebuah donat. Semu merah yang ada di pipinya sangat menggemaskan. Kaos putih tipisnya hampir tidak menutupi kulit indahnya yang putih pucat dan kedua putingnya yang terlihat mencuat dan celana boxer kecilnya menggemaskan itu mengubahnya menjadi sangat seksi.
Aku masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangku.
"Hmmm, baby," bisikku saat aku mengikutinya ke sofa,
"Kumohon jangan pernah membuka pintu dengan terlihat seperti ini lagi."
Dia melihat ke bawah dan kemudian sebuah senyuman muncul di bibirnya.
"Bukan sepenuhnya karena pakaian tipis, tapi mereka memang lebih merekah? Pikirku... kurasa ini karena kehamilan," katanya menjelaskan.
"Aku lupa mereka terlihat seperti ini."
Aku mengusap rambutnya di jari-jariku.
"Tidak hanya kaos tipis tapi rambut seksi yang baru bangun tidur ini," aku meluncurkan tanganku kebawah ke pantat yang hampir tidak tertutupi,
"Ini perlu ditutupi juga."
"Orang tidak biasanya mampir di pagi hari," Yoongi terdengar kehabisan nafas.
Aku suka mengetahui bahwa aku mempengaruhinya.
"Bagus," jawabku.
"Bagaimana tidurmu?" tanyaku sebelum menggigit daun telinganya.
"Uh… aku uh…tidurku baik," dia terdengar gugup.
Aku mundur dan melihatnya. Kenapa dia terdengar gugup?
"Hanya baik?" tanyaku, melihatnya saat pipinya berubah menjadi merah terang.
Yoongi menggeser kakinya dan menunduk melihat lantai.
"Mimpi saat hamil bisa menjadi um… intens."
"Mimpi saat hamil? Apa maksudmu?" aku penasaran sekarang.
Fakta bahwa seluruh wajahnya merah terang dan dia terlihat siap untuk merangkak ke bawah meja dan bersembunyi dariku hanya membuatku lebih ingin tahu.
Dia mulai bergerak dan aku menangkap pinggulnya dan menghimpitnya diantaraku dan sofa.
"Oh tidak, kau tidak akan kemana-mana. Kau tidak bisa memberitahuku hal seperti itu dan tidak menjelaskannya."
Yoongi mengeluarkan tawa gugup pendek dan menggelengkan kepalanya.
"Kau bisa menahanku disini seharian tapi aku tidak akan memberitahumu."
Aku menyelipkan tangan di bawah kaosnya dan mulai menggelitik tulang rusuknya. Aku mencoba sangat keras untuk tidak fokus pada puting merah muda yang merekah sempurna yang berada dalam jangkauanku. Aku tidak ingin Yoongi berpikir aku hanya peduli tentang seks dengannya.
Sejauh ini aku membuat hubungan kami hanya tentang seks. Aku ingin membuktikan padanya ini lebih dari itu. Bahkan jika aku harus mandi air dingin dan bermasturbasi memikirkan tentang seberapa manis rasa dirinya.
Yoongi cekikikan dan menggeliat saat aku menggelitikinya.
"Berhenti…," dia menjerit dan mendorongku.
Ketika dia mencoba menggeliat untuk menjauh dariku tanganku meluncur ke atas dan menyerempet ke puting kirinya menyebabkan dia membeku. Sebuah suara lirih keluar dari tenggorokannya yang terdengar hampir mirip seperti erangan.
Aku menggosok ibu jariku di atas putingnya dan dia menekankan tubuhnya padaku. Persetan dengan tanpa seks. Bagaimana aku bisa mengabaikan ini?
"Kumohon Jimin. Aku membutuhkanmu untuk…," pintanya.
Dia membutuhkanku untuk? Tunggu… apa mimpinya tentang…
"Yoongi, baby, apa mimpimu itu tentang seks?"
Dia merintih dan mengangguk saat aku menjepit putingnya di antara jariku.
"Ya, dan aku lelah terbangun dengan keadaan terangsang," bisiknya.
Sialan. Aku mengambil donat dari tangannya dan meletakkannya di meja kemudian menghisap gula dari jemarinya. Nafasnya tersentak.
Aku meraihnya dan mengangkatnya. Dia membungkus kakinya di sekitar pinggangku dan aku melahap mulutnya sambil aku berjalan menuju ke kamarnya. Kali ini ada tempat tidur yang besar bagiku untuk menempatkannya dan aku akan mengurungnya di sini sepanjang hari untuk bercinta dengannya jika itulah yang dia butuhkan.
Aku membaringkannya di tempat tidur dan menarik celana pendek dan celana dalamnya sebelum merangkak ke atasnya.
"Lepaskan kaos ini," kataku saat aku menarik kaos ke atas kepalanya.
Aku berhenti dan menunduk melihatnya. Baru minggu kemarin kupikir aku tidak akan melihatnya seperti ini lagi. Memeluknya adalah sesuatu yang aku impikan. Sekarang dia ada disini dan aku ingin untuk menghargai setiap bagian kecil dari tubuhnya.
"Jimin, kumohon. Aku membutuhkanmu didalamku," dia menggeliat dan memohon.
Sebesar aku ingin menyembah tubuhnya sepertinya aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak akan bisa untuk menolak Yoongi yang sedang membutuhkan.
"Bisakah aku merasakanmu dulu?" tanyaku, mencium mulutnya lagi dan melarikan ciumanku kebawah tubuhnya.
"Iya, apapun. Aku hanya ingin kau menyentuhku."
Dia mendesah saat tanganku menemukan kepala kemaluannya yang sudah basah dan tanganku menggerayangi bagian yang lainnya hingga aku menemukan lubang surgawi itu. Aku memasukkan sebuah jari kedalamnya.
"Oh Tuhan! Ya! AhhhHhh," dia berteriak saat aku mulai menyentuhnya di dalam sana.
Kecanduan Yoongi akan seks menjadi sangat menyenangkan. Ini seperti aku telah memenangkan jackpot. Aku mendorong pahanya lebih terbuka dan menurunkan mulutku untuk mencium kepala kemaluannya yang mengeras yang kembali mengeluarkan precum di sana.
Dia melawan dan mulai memohon lagi. Menjulurkan lidahku dari kepala ereksinya, aku melarikan lidahku di sekujur batang penis-nya yang keras dan bengkak. Kedua tangannya menjambak rambutku dan menahanku. Aku tidak bisa menahan senyumanku.
"Kumohon Jimin, kumohon. Kau membuatnya terasa sangat nikmat. Kumohon."
Permohonan kecilnya yang seksi hampir membuatku meledak. Aku menginginkannya sebesar dia menginginkanku disana tapi aku juga ingin menikmati ini. Aku fokus untuk membuatnya klimaks di dalam mulutku sementara dia berputar-putar dan mengerang di tempat tidur.
Ketika dia akhirnya meneriakkan namaku dan bahwa dia sudah klimaks, aku melompat berdiri dan melepas pakaianku dalam waktu singkat.
Kami tidak membutuhkan kondom lagi. Aku berbaring di atasnya dan dengan satu gerakan mudah aku sudah ada di dalamnya. Yoongi memegang pundakku dan menengadahkan kepalanya kebelakang.
Jika ini adalah bagaimana sikap seseorang yang sedang hamil, kalau begitu kenapa para lelaki tidak membuat pasangan mereka tetap hamil? Ini sangat panas. Sangat panas sampai aku mungkin akan tidak bertahan lama.
"Setubuhi aku, Jimin... dengan sangat keras... ta... tapi perlahan… tapi... aku ingin merasakanmu dengan keras, tapi… bayi… bayi ini... harus perlahan Jiminnnh…," engah Yoongi terdengar kacau.
"Baby, kau terus mengatakan hal seperti itu dan aku akan datang sebelum kau menginginkannya."
Dia tersenyum nakal ke arahku.
"Aku akan membuatmu mengeras lagi. Aku janji. Sekarang kumohon, lakukan itu dengan keras… kurasa tak akan apa-apa selama… selama kau tidak menyakitiku. Dalam mimpiku, kau membalikku dan menyetubuhiku sampai aku menjerit dan mencakar tempat tidur memohon padamu agar tidak pernah berhenti. Tepat sebelum aku datang, aku terbangun."
Dia tidak hanya bermimpi sedang berhubungan seks denganku tapi juga bermimpi berhubungan seks yang nakal denganku. Aku menarik keluar darinya dan membalikannya hingga tengkurap, kemudian menarik pinggulnya ke udara.
"Kau ingin bersetubuh, Yoongi manis? Aku akan membuat priaku merasa lebih baik," rayuku saat aku melarikan tanganku dengan lembut di atas pantat telanjangnya.
Dia mulai menggeliat saat aku menampar pantatnya menyebabkannya tersentak kaget.
"Jika kau menginginkan ini keras baby, dalam batasan yang akan kukontrol, kalau begitu aku akan memberikan padamu semua itu," janjiku.
Mencengkeram pinggulnya, aku menghujam ke dalam dirinya dan hampir menembakkan muatanku saat itu juga. Dia sangat ketat.
Teriakan putus asa karena kenikmatan keluar dari Yoongi tidaklah membantu. Mengingat bahwa aku perlu membuat Yoongi klimaks lagi sangatlah sulit ketika bolaku mengetat dan penis-ku berdenyut-denyut.
"Lebih keras Jiminnnhhh...," erang Yoongi dan aku tidak bisa menahannya.
Aku mulai menghujam kedalamnya dengan kebutuhan liar yang sama dengan yang sedang menguasainya. Tanganku tidak diam saja karena sudah beralih ke kejantanannya dan memompanya cepat tapi tidak kasar yang akan melukai penis manisnya.
Ketika lubang hangatnya mulai meremasku dan namaku keluar dari mulutnya aku menutup mataku dan menyerah.
-TBC-
[Update time: Selasa, 09.08.2016.]
[Mulai next update akan aku selipin tanggal update untuk semua ff-ku. Tujuannya untuk memudahkan reader-nim aja kok biar tau chapter mana yg belum terbaca. Soalnya aku liad ada beberapa yang lupa uda baca sampe mana atau keskip hihi...]
[& chapter ini NC egen all... (='_'=) puas sama minyoon-nya?]
[Yoongi lagi hamil jd liar sekaleee... pen keras tp pelan, maunya apa sih yoongi :p Jimin aja ampe kewalahan gt huehehe... tapi suka kan semuanya *kedip2*]
.
.
.
Preview: Chapter 14:
-Yoongi POV-
Aku berbalik untuk melihat jika ada isyarat untukku untuk membantu seseorang ketika mataku terkunci pada Jimin. Aku berhenti. Dia ada disini. Sebuah senyuman terbentuk di bibirku hingga mataku beralih untuk melihat ada Taehyung yang duduk disampingnya dengan ancaman kemarahan di wajahnya.
Aku mengalihkan perhatianku pada Jungkook dan memutuskan untuk menganggap mereka tidak disini.
.
-Jimin POV-
"Dia tidak melihat sekarang. Dia terlalu sibuk untuk menggoda pria lain. Dia hanya peduli pada uang. Itu sangat menyedihkan. Kuharap kau akan melihat sikap anehnya. Maksudku, aku bisa melihatnya…"
