Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 14
YOONGI POV
Jimin tidur telentang dan menarikku padanya ketika aku baru saja kembali dari orgasmeku, yang aku sangat yakin hampir membuatku pingsan. Aku berbaring di pelukannya dan menghembuskan nafas lega.
Dia membuat semua bagian tubuhku yang merasa amat sangat butuh disentuh terpuaskan dan rasanya begitu membahagiakan. Lebih dari bahagia. Aku kelelahan dan aku menyukainya.
"Kupikir kau mungkin menghancurkanku," dia tertawa kecil pada pelipisku dan menciumnya.
"Kuharap tidak karena ketika aku punya energi untuk bergerak aku ingin melakukannya lagi," aku menjawab semanis yang kubisa.
"Kenapa aku tiba-tiba merasa dimanfaatkan?" tanyanya.
Aku mencubit kulit yang menutupi perutnya.
"Aku minta maaf jika kau merasa dimanfaatkan tapi dengan tubuh seperti milikmu apa yang kau harapkan?"
Jimin tertawa dan berguling di atasku sebelum menutupiku dengan tubuhnya. Mata hitamnya berkilau saat dia menatapku.
"Jadi begitu?"
Aku hanya mengangguk. Aku takut jika aku mengatakan hal yang lainnya saat aku berbicara lebih lanjut. Seperti kenyataan bahwa aku jatuh cinta padanya.
"Kau sangat sempurna di dalam dan di luar," bisiknya saat dia merendahkan kepalanya untuk mencium wajahku seolah itu sesuatu yang dihargai.
Aku bukanlah seseorang yang sempurna. Dialah yang indah tapi aku tidak mengatakannya. Jika dia ingin berpikir aku sempurna maka aku akan membiarkannya.
Tangannya menelusuri tubuhku, membuatku kembali berdengung oleh gairah.
"Apakah kau bangun setiap pagi seperti ini?" tanyanya dengan binar di matanya.
Aku bisa berbohong tapi aku sudah cukup melakukannya.
"Ya. Terkadang di tengah malam juga."
Jimin mengangkat alis matanya.
"Tengah malam?"
Aku mengangguk. Dia mengulurkan tangan dan menyingkirkan rambut dari keningku.
"Bagaimana aku membantumu di tengah malam jika kau tidak bersamaku?"
Suaranya terdengar begitu perhatian.
"Kau tidak akan ingin aku membangunkanmu untuk seks setiap malam," kataku padanya.
"Baby, jika kau terbangun dalam kondisi bergairah aku ingin siap dan tersedia," suaranya terhenti dan dia menyelipkan tangannya ke bawah untuk menangkup di antara pahaku,
"Ini adalah milikku dan aku menjaga apa yang menjadi milikku."
"Jimin…," aku memperingatkan.
"Ya?"
"Aku akan menunggangimu disini dan membuatmu klimaks jika kau tidak berhenti berkata seperti itu."
Jimin menyeringai.
"Itu bukanlah sebuah ancaman yang cukup menakutkan, Yoongi yang manis. Sekarang apa kita akan melanjutkannya atau aku harus membersihkanmu, Sayang?"
Aku menoleh dan menyeringai dan jam di samping meja di tempat tidurku menarik perhatianku.
Oh sial! Aku mendorong Jimin.
"Aku harus berangkat kerja dalam sepuluh menit," aku berteriak dengan tujuan menjelaskan.
Jimin menyingkir dariku dan aku melompat dari ranjang hanya untuk menyadari bahwa aku telanjang dan Jimin berbaring di ranjang menatapku yang sedang bingung dengan senyuman.
"Tolong abaikan aku. Pemandangannya menakjubkan dari sini," katanya dengan seringai seksi.
Aku menggelengkan kepalaku dan meraih celana dalam bersih dan kemudian lari menuju kamar mandi.
.
.
.
"Kelihatannya seseorang sedang beruntung atau senyum bahagia itu dari semua donat yang telah kubawa?"
Jokwon mempermainkan nada bicaranya ketika aku berjalan memasuki dapur. Wajahku seolah terbakar.
"Aku suka donatnya. Terima kasih dan aku minta maaf aku lupa kemarin malam. Ini karena uh... hari yang gila," jawabku, mengambil apron dan takut membuat kontak mata dengannya.
"Sayang, jika aku baru saja keluar dari ranjang dengan seorang Park Jimin aku akan menyeringai seperti orang gila juga. Kenyataannya, aku sangat iri. Aku tahu donatku tidak menaruh kilatan puas di matamu."
Aku mulai terkekeh dan meraih bolpoin dan kertas.
"Dia sangat mengagumkan."
"Oh, tolong ceritakan detail-nya padaku. Aku akan mengikuti setiap katanya," Jokwon memohon sambil berjalan menuju ruang makan disampingku.
"Pergilah untuk menggoda pria-pria itu dan berhenti berkhayal tentang hmmm, ...ku ...ku"
Jimin itu apa? Dia bukan pacarku. Dia adalah ayah anakku dan itu terdengar murahan.
"Dia lelakimu. Katakan itu karena itu benar. Lelaki itu memuja dirimu."
Aku tidak menjawab. Aku tidak yakin bagaimana menjawabnya.
Beberapa meja telah terisi dan aku punya pekerjaan yang harus kulakukan. Jungkook, Namjoon, dan Wooyoung, seorang berambut pirang yang namanya baru kuketahui, duduk di salah satu meja di wilayahku.
Aku pergi untuk mengambil pesanan minuman untuk tuan Lovelady dan temannya hari ini. Dia selalu bersama gadis-gadis yang kelihatannya bisa menjadi cucunya tapi mereka bukanlah cucunya. Menurut Jokwon, tuan Lovelady lebih kaya dari Tuhan. Tetap saja, dia sudah tua. Itu sangat menjijikkan.
Setelah aku memberikan minuman pesanan mereka aku menuju meja Jungkook sambil membawa gelas-gelas air putih. Ketiganya tersenyum padaku saat aku tiba disana dan Wooyoung berkedip. Dia cowok tampan yang suka menggoda dan semua orang tahu itu. Jadi mengabaikan dia sangatlah mudah.
"Sore, guys. Ada yang bisa kubawakan untuk kalian minum?"
Aku bertanya sambil meletakkan tiga gelas air putih di depan mereka.
"Kau terlihat gembira. Senang melihatmu tersenyum lagi," kata Wooyoung sambil meraih gelasnya dan meminum seteguk.
Rona merah kembali ke pipiku. Aku merasakannya. Aku menatap Jungkook yang sedang menatapku dengan tatapan mengerti. Dia cukup pintar untuk mengetahuinya.
"Americano."
Hanya itu jawaban Jungkook. Aku sangat berterimakasih dia sedang tidak ingin menggodaku.
"Jin tidak mengijinkanku menyentuh donat yang dibawa Jokwon pagi ini. Aku tidak tahu kalau donat bisa membuatmu merasa senang," seringai di wajah Namjoon mengatakan dia tahu benar apa yang terjadi.
Apakah seisi klub tahu tentang seluruh kehidupan seks-ku?
Apakah itu menarik?
"Aku suka donat," jawabku, mengamati kertasku dari pada melihat mereka.
"Kupikir kau memang suka," Namjoon tertawa kecil sambil menyebutkan pesanannya,
"Tolong bawakan aku honey brown."
"Aku merasa seolah aku melewatkan sesuatu disini dan aku benci menjadi yang tertinggal," kata Wooyoung sambil bersandar di meja dan mengamatiku lebih dekat.
"Mundur dan pesan minuman sialan-mu," Jungkook membentaknya.
Wooyoung memutar mata dan bersandar kembali di kursinya,
"Semua orang begitu cepat marah. Aku mau honey lime tea."
Aku menulisnya kemudian menatap pada Jungkook.
"Apakah kau mau kubawakan buah segar ke sini?"
Dia mengangguk.
"Silahkan."
Senang karena telah selesai dengan mereka bertiga aku menuju ke dapur setelah dihentikan oleh nyonya Sunye yang ingin fish and chips untuknya dan anak perempuannya yang terlihat berusia sekitar delapan tahun.
Jokwon sedang mengisi nampannya ketika aku kembali ke dapur. Dia menatapku dari atas bahunya.
"Aku tahu aku terlalu ikut campur tapi aku tetap akan bertanya, siapa pria yang ditinggal Jimin di sini kemarin?"
Luhan. Aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Hanya 'Luhan, seorang teman lama'. Aku sebenarnya lupa kalau Jimin meninggalkannya disini kemarin.
"Dia salah satu teman lama Jimin. Aku tidak tahu banyak."
"Jungkook mengenalnya dengan baik juga. Dia pergi dan bicara padanya setelah kalian berdua pergi. Aku menduga dia bukanlah orang baru karena mereka mengenalnya."
Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa dia adalah bagian masa lalu Jimin. Aku tidak punya alasan untuk cemburu padanya. Mereka teman lama. Hanya karena dia adalah salah satu dari mereka bukan berarti aku harus merasa lebih rendah.
Aku meletakkan buah untuk Jungkook pada nampanku dan mengambil minuman yang telah di pesan oleh semua orang sebelum kembali ke ruang makan.
Aku memusatkan diri untuk mengantarkan minuman ke mejaku sebelum menyapu mataku ke lantai sementara aku berjalan menuju meja Jungkook. Aku melihat Jungkook mengalihkan tatapannya dariku pada meja di sebelah kiriku. Itu adalah meja di wilayah Jokwon.
Aku berbalik untuk melihat jika ada isyarat untukku untuk membantu seseorang ketika mataku terkunci pada Jimin. Aku berhenti. Dia ada disini. Sebuah senyuman terbentuk di bibirku hingga mataku beralih untuk melihat ada Taehyung yang duduk disampingnya dengan ancaman kemarahan di wajahnya.
Aku mengalihkan perhatianku pada Jungkook dan memutuskan untuk menganggap mereka tidak disini.
"Ini buahmu," aku bisa mendengar nada gugup dari suaraku dan aku berdoa para lelaki itu tidak menyadarinya.
"Dan ini minuman pesanan kalian. Apakah kalian semua sudah siap memesan makanan sekarang?" tanyaku, memaksakan senyuman.
Mereka semua menatapku membuat semua ini makin tidak nyaman. Ini adalah suatu hal yang ingin segera kuakhiri. Taehyung adalah adiknya. Dia akan ada dalam hidupku jika Jimin ada. Belajar hidup bersama seseorang yang membenciku adalah bagian dari hidupku yang kucoba untuk terima.
"Itu adiknya. Kau berhubungan dengannya dan kau akan berurusan juga dengannya," kata Namjoon padaku seolah aku tidak mengetahui ini semua.
Aku tidak suka perasaan seolah setiap emosi yang aku miliki terpampang. Aku selalu menjadi orang yang tertutup. Ini terlalu banyak untuk bisa kuterima sekarang.
Aku mengabaikannya, menarik kertas pesananku dan melihat langsung ke Jungkook. Dia membersihkan tenggorokannya dan memesan. Yang lain juga memesan tanpa mengeluarkan saran lain apapun.
.
.
.
JIMIN POV
"Aku menelepon dan memintamu untuk makan siang bersamaku. Bisakah kau paling tidak memberiku waktu tiga puluh menit untuk memperhatikanku? Sudah berminggu-minggu sejak kita punya waktu bersama. Aku merindukanmu."
Kesakitan di suara Taehyung menyentakku. Dia benar. Aku mengabaikannya. Aku bahkan tidak yakin apa yang dia katakan sejak Yoongi berjalan memasuki ruang makan.
Aku sangat terfokus untuk memastikan dia agar tidak membawa sesuatu yang terlalu berat dan tidak ada satu pun yang menyakitinya... atau menggodanya, jadi aku tidak begitu menikmati kencan makan siang dengan adikku.
"Ya, aku minta maaf," kataku padanya dan mengalihkan tatapanku dari pintu dimana Yoongi masuk kembali.
"Katakan lagi tentang kejuaraan berlayar yang kau lakukan dengan pacar barumu... kau bilang namanya Minho."
Taehyung tersenyum oleh sebutan nama dari cowok barunya dan kemudian mengangguk. Dia mengingatkanku pada lelaki kecil yang kujaga ketika dia terlihat bahagia tentang sesuatu. Bukan seorang pria pemarah yang telah tumbuh dewasa.
"Ya. Dia suka berlayar. Dia berlayar di sini selama musim panas. Ngomong-ngomong, ada kejuaraan berlayar yang dia ikuti dan dia ingin membawaku bersamanya. Hanya untuk beberapa hari."
Aku mendengarkan saat dia mengoceh tentang Minho dan kapal layarnya dan berusaha keras untuk tidak melihat pada Yoongi. Aku perlu menemukan keseimbangan antara dua pria dalam hidupku. Yoongi akan selalu menjadi yang lebih dulu tapi aku juga mencintai adikku dan dia membutuhkanku sekarang.
Meskipun jika janji makan siang ini untuk mendengarkan dia mengoceh tentang penaklukan terbarunya. Tidak ada seorangpun yang pernah mendengarkan dia berbicara. Dia berhenti berbicara dan merengut tentang sesuatu di belakang pundakku,
"Dia perlu fokus pada pekerjaannya dan berhenti melihatmu disini. Ya Tuhan, aku tidak tahu mengapa Jungkook tidak memecatnya saja."
Aku menoleh untuk melihat Jungkook, Namjoon, dan Wooyoung, mereka semua tersenyum dan bercanda di sekitar Yoongi yang mukanya memerah.
"Dia tidak melihat sekarang. Dia terlalu sibuk untuk menggoda pria lain. Dia hanya peduli pada uang. Itu sangat menyedihkan. Kuharap kau akan melihat sikap anehnya. Maksudku, aku bisa melihatnya…"
"Taehyung, diam," aku menggeram.
Aku tidak bermaksud jahat tapi mendengar mulut jahat Taehyung dan melihat pria-pria itu menggodanya dan membuatnya memerah sedikit lebih dari yang bisa kuatasi. Aku akan memastikan semua bajingan yang terangsang itu tahu kalau dia adalah milikku.
"Kau akan meninggalkanku untuknya? Dia menggoda mereka, Jimin. Aku tidak percaya kau akan pergi begitu saja saat makan siang kita untuk pergi mengklaim atas seorang pria murahan."
Rasa cemburu yang kurasakan langsung berganti fokus dari para pria itu ke adikku. Rasa marah merasukiku saat aku mengalihkan perhatianku kembali padanya.
"Apa yang baru saja kau katakan?" tanyaku menjaga suaraku tetap rendah dan meskipun emosiku menjulang tinggi di depannya.
Dia membuka mulutnya untuk berbicara tapi aku tahu aku akan kehilangan kesabaran jika dia mengatakan hal buruk lainnya tentang Yoongi.
"Jangan. Jika kau ingin berjalan keluar dari sini dengan martabatmu maka jangan. Jika kau pernah mengatakan hal seperti itu lagi tentang Yoongi aku akan meninggalkanmu. Apa. Kau. Mengerti."
Mata Taehyung melebar. Aku tidak pernah bicara begitu keras padanya sebelumnya. Tapi dia sudah terlalu jauh. Dia berdiri dan membuang serbetnya ke meja.
"Aku tidak percaya padamu. Aku adikmu. Dia hanya... dia hanya..."
"Dia hanya pria yang sangat kucintai. Kau harus ingat itu," aku menyelesaikan kalimat itu untuknya.
Mata Taehyung menyiratkan kemarahan saat dia berbalik dan melangkah keluar dari clubhouse. Aku tidak peduli. Aku ingin dia pergi sebelum aku berkata yang lainnya. Aku tidak ingin melukainya. Aku mencintainya tapi aku benci kata-kata yang terus mengalir keluar dari mulutnya.
Sebuah tangan menyentuh lenganku dan aku tersentak sebelum aku menyadari bahwa itu adalah Yoongi. Matanya penuh perhatian. Ini adalah sesuatu yang dia khawatirkan. Taehyung dan kebenciannya. Aku tidak bisa menyalahkannya tetapi aku juga tidak bisa hidup tanpa Yoongi.
Hal ini membuat otakku penuh. Sepertinya saat ini aku ingin sendirian.
"Aku minta maaf," bisikku menarik diri dari genggamannya dan meletakkan beberapa uang di meja sebelum mengikuti arah Taehyung keluar dari ruang makan.
.
.
.
Aku menghabiskan waktu tiga jam selanjutnya di tempat olahraga. Tubuhku secara fisik dikalahkan oleh waktu saat aku keluar dari sana. Kemarahanku telah hilang. Aku hanya ingin menemui Yoongi sekarang. Jam kerjanya sudah berakhir dan aku ingin memeluknya. Dia layak mendapatkan permintaan maaf.
Aku seharusnya tidak pernah membawa Taehyung ke tempat perkumpulan untuk makan. Dia memintaku untuk bertemu dengannya di sana untuk makan siang jadi aku pergi. Aku bahkan memastikan kami duduk di wilayah Jokwon.
Aku tidak ingin hal ini membuat Yoongi canggung. Tapi hal itu ternyata berbalik. Itu adalah saat terakhir aku membiarkan Taehyung di dekatnya. Dia tidak bisa mengatasinya dan Yoongi tidak layak menerimanya.
Aku mengetuk pintu kondo dan menunggu. Tidak ada yang datang. Aku meraih ke sakuku dan menarik ponselku hanya untuk mengingatkanku bahwa Yoongi tidak punya ponsel. Sialan.
Aku akan mengambilkan ponselnya di rumahku dan memaksanya untuk menerima ponsel itu lagi. Bagaimana jika dia terluka? Bagaimana jika dia pergi ke suatu tempat dan tidak akan kembali?
"Dia pergi dengan Jokwon," suara Jin datang dari belakangku.
Aku berbalik untuk melihat Jin berjalan dari arah tempat kursus golf.
"Dia pulang setelah bekerja dan bilang padaku kalau dia dan Jokwon punya 'kencan panas'."
Kenapa dia tidak bilang padaku?
Karena dia tidak tahu dimana menemukanku jika dia ingin bilang padaku. Aku lari darinya seperti pecundang.
"Kapan dia akan pulang?"
Aku bertanya saat Jin melangkah di depanku dan membuka pintu.
"Tidak tahu. Dia marah. Kau tahu itu soal apa?" tanya Jin dengan suara masam saat dia mendorong pintu agar terbuka.
Aku tidak diminta untuk masuk tapi aku mengikutinya masuk.
"Taehyung dan aku makan siang di tempat perkumpulan hari ini. Hal itu tidak berjalan dengan baik."
Jin mengerutkan hidungnya dengan terganggu.
"Menurutmu itu akan baik? Untuk apa? Aku tidak bisa membayangkan adikmu yang jahat melakukan sesuatu untuk menyakiti Yoongi."
Jin meletakkan tasnya ke bawah dan menggumamkan makian.
"Dia tidak boleh stress sekarang kau tahu itu. Dia hamil dan bersikeras untuk berjuang sendiri dan membawa nampan sepanjang hari. Kau menambahkan drama keluargamu bukanlah hal yang dia butuhkan. Lain kali kau ingin melakukan acara keluarga dengan penyihir jahat itu lakukan di tempat lain."
Dia benar. Aku tidak seharusnya membiarkan Yoongi melihat Taehyung. Aku seharusnya tidak pernah mempercayai Taehyung untuk bersikap baik. Atau paling tidak bersikap sopan. Ini semua adalah salahku dan aku ingin menemui Yoongi.
"Dimana dia?" tanyaku.
Jin menjatuhkan diri ke sofa.
"Rehat dari semua hal sialan dalam hidup yang telah dia jalani."
Jika Jin ingin menyakitiku dia melakukannya dengan baik. Aku bersiap untuk memohon ketika pintu terbuka.
"Maaf aku terlambat. Kami pergi ke...,"
Dia berhenti ketika matanya bertemu denganku.
"Oh, hei Jimin."
"Hei," jawabku, berjalan untuk berdiri di depannya tapi takut untuk menyentuhnya.
"Aku minta maaf. Kumohon mari kita pergi ke kamarmu dan biar kujelaskan."
Dia yang pertama kali berjalan dan membungkuskan lengannya di sekitar pinggangku,
"Tidak apa-apa. Aku tidak marah."
Dia ingin menenangkanku. Lagi. Itulah yang selalu dia lakukan: mengkhawatirkan orang lain.
"Tidak, bukan begitu," jawabku dan meraih tangannya untuk menariknya kembali ke kamarnya, menjauh dari Jin yang bukan penggemar beratku sekarang.
"Biarkan dia merendahkan diri. Dia perlu untuk itu. Sial. Aku ingin dia begitu," kata Jin dari sofa, melambai pada kami dan meraih remote televisi.
-TBC-
[Update time:Kamis, 11 Agustus 2016.]
[Uda pada pantengin twitter donk? Demi apapun... Si Jimin bantet mesum ale-ale blonde! Ingin berkata kasar pas liad fanpic dirinya kmren asdfhahd. Kebayang Jimin di ff ini: blonde & barbel ring di lidah... duh gak heran kamu hamil min yoongi ._. /plak/eh]
.
.
.
Preview: Chapter 15:
-Yoongi POV-
Aku mengangkat kepalaku dan mengamatinya. Dia cemberut. Ini benar sangat menganggunya. Tidak ada yang pernah khawatir tentangku seperti ini. Aku tidak terbiasa. Hatiku membengkak dan aku menggapai ke bawah dan menarik bajuku dan aku telanjang.
.
-Jimin POV-
"Dia ada di kelompok pertama. Aku rasa tuan Jeon ada di dalam grup itu. Tuan Jeon muda. Woori ahjumma mengatakan sesuatu mengenai tuan Jeon yang meminta Yoongi," pria itu menjawab dengan senyuman tanda puas.
Jungkook adalah seorang yang brengsek. Aku tidak meragukannya lagi.
