Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 15
YOONGI POV
Jimin selanjutnya menarikku masuk ke dalam kamarku sampai pintu di belakang kami tertutup dan dia sedang duduk di ranjangku dengan diriku dipangkuannya. Aku marah pada awalnya tapi aku sudah membaik sekarang. Dia telah melewati situasi yang mengerikan dan Taehyung menjadi marah. Aku yakin Jungkook senang disana tidak terjadi drama yang membuatku terlibat.
"Jimin, aku janji semuanya baik baik saja. Aku baik baik saja," aku menyakinkannya, menangkup wajahnya di tanganku.
Berurusan dengan Taehyung dan kebenciannya adalah salah satu dari urusan ini. Aku tahu itu dan aku harus hidup dengan itu jika aku menginginkan Jimin di hidupku. Dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang baik tentang hari ini. Aku seharusnya tidak pernah setuju untuk makan siang dengannya di sana tadi. Aku tahu yang lebih baik. Aku seharusnya tidak pernah percaya bahwa dia akan jadi orang normal. Aku benar benar minta maaf, Sayang. Aku bersumpah kepadamu itu tidak akan pernah terjadi lagi."
Aku menutup mulutnya dengan mulutku dan mendorongnya ke ranjangku.
"Aku sudah bilang padamu semuanya baik baik saja. Berhenti meminta maaf," aku berbisik di bibirnya.
Tangan Jimin meluncur naik ke bajuku lalu menjalankan tangannya di atas kulitku.
"Sifatmu selalu membuatku terpukau, Sayang," katanya, menyapukan jemarinya maju mundur diatas punggungku membuatku merinding karena kenikmatan.
"Mmm… jika kau berjanji melakukan ini setiap malam aku akan baik-baik saja," aku menyakinkan dia, membungkuk untuk mencium dia kembali.
Dia menarik diri.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Dia bertanya dengan suara yang terluka. Memberitahunya apa? Aku menaruh tanganku ke sisi lain kepalanya dan mengangkat diriku sendiri agar berada diatasnya.
"Apa yang harus kukatakan padamu?" tanyaku bingung.
Jimin menyelipkan tangannya di sekitar sisiku hingga tangannya bergeser menyentuh putingku dan aku lupa kami sedang berbicara. Rasanya begitu nikmat. Mengerang, aku mendorong tubuhku mendekat ke tangannya dan aku bersiap untuk memohon.
"Kau berkencan dengan Jokwon, kencan panas yang kudengar."
Dia membahas kencanku bersama Jokwon. Apa dia cemburu? Ini terdengar menggelikan.
"Jimin, aku ingin kau menyentuhku sekarang. Jangan khawatir tentang kencanku bersama Jokwon. Kami berbicara banyak hal. Aku membutuhkan banyak pengetahuan mengenai kehamilanku darinya. Dan sekarang… Hanya tolong...," aku menundukkan kepalaku turun dan membuat gigitan kecil di bahunya dan menciumnya turun sampai ke dadanya.
"Betapapun nikmatnya ini terasa kau tidak bisa mengalihkanku. Aku ingin kau berjanji untuk mengabariku. Bukan aku mengekangmu, hanya saja... hanya beritahu aku. Ponselmu, aku akan memberikan padamu atau membelikanmu yang baru."
Aku mengangkat kepalaku dan mengamatinya. Dia cemberut. Ini benar sangat menganggunya. Tidak ada yang pernah khawatir tentangku seperti ini. Aku tidak terbiasa. Hatiku membengkak dan aku menggapai ke bawah dan menarik bajuku dan aku telanjang.
"Ya Jimin, aku akan memberitahumu lain kali. Aku membutuhkan ponsel. Aku akan menghubungimu, mengabarimu dengan ponsel itu. Maukah kau membelikannya satu untukku? Tolong?"
Aku mengodanya saat tangannya naik ke atas dan memilin lembut putingku membuat celana dalamku semakin sempit terdesak dan di bawah sana terasa lebih basah.
"Bagus, kau membutuhkan ponselmu. Dan ya sekarang biarkan aku fokus dengan putingmu ini. Aku tidak mau mereka kesakitan,"
Dia menyeringai kepadaku,
"Kecuali dirikulah yang menyebabkan sakit itu."
Dia mencubit kedua putingku dengan keras dan aku berteriak.
"Ini adalah milikku, Yoongi. Aku akan selalu melindungi apa yang menjadi milikku," dia berbisik sebelum menarik satu puting masuk kedalam mulutnya.
Aku hanya mengangguk dan bergetar didepannya. Ereksinya menekan pada ereksiku yang juga sudah sangat keras dan apabila aku menggesekannya sebentar saja aku akan langsung datang. Aku benar benar ingin datang.
"Tenang, Sayang. Biarkan aku melepaskan celana pendekmu dulu," katanya menciumku turun ke perutku dimana dia berlama lama dan mencium dengan sangat lembut.
Matanya terangkat menatap diriku saat dia dengan perlahan melepaskan celanaku dan mulai menariknya menuruni tubuhku.
"Sepertinya seseorang perlu perhatian. Dia mengeras dan basah. Kepala kemaluanmu sudah menetes basah. Sial itu mengairahkan," dia bergumam saat dia mendorong kakiku terbuka dan menatap dengan rakus di antara kakiku.
Dia menunduk di antara kakiku sampai mulutnya sangat dekat dengan kejantananku aku bisa merasakan hangatnya nafas dia disitu.
"Malam ini aku menginap disini. Aku tidak bisa tidur mengetahui kau mungkin bangun seperti ini dan membutuhkanku. Pikiran itu membuatku gila," suaranya berubah menjadi parau yang selalu membuatku bahagia.
Aku melihat saat dia mengeluarkan lidahnya dan barbel perak itu berkilat mengenaiku sebelum dia menjalankan lidahnya melewati batang kejantananku dan menyelipkannya ke dalam diriku. Aku mencengkeram kepalanya dan mulai memohon kepadanya untuk lebih saat dia membawaku pada klimaks yang kuinginkan.
Dia menaikkan kepalanya dan tersenyum kepadaku,
"Ini membuatku kecanduan. Tak seorangpun seharusnya terasa semanis itu, Yoongi. Bahkan tidak seharusnya dirimu."
Dia berdiri dan menarik lepas baju dan celananya. Dia kembali di atasku sebelum aku bisa menikmati pemandangan itu cukup lama.
"Aku ingin kau menaikiku," katanya, menciumku lagi sementara ereksinya menyelip diantara kakiku dan mengodaku.
Aku mendorongnya mundur dan dia dengan mudah menggulingkan badanku agar aku bisa berada di atas. Dua jarinya dimasukkan ke dalam manhole-ku, memberiku peregangan terlebih dahulu sebelum penis-nya lah yang akan mengambil alih.
Jimin sadar dengan kondisiku yang mengandung bayinya, bayi kami. Semua dilakukannya perlahan, walaupun intens, tapi semua terjadi dengan lembut. Aku rasanya seperti melayang dengan apa yang dia lakukan.
Melihatnya saat dia dengan pelan masuk ke dalam tubuhku terasa lebih menggairahkan daripada kata kata nakal darinya yang sering dia bisikkan di telingaku untuk membuatku datang.
Aku bisa mencintai pria ini dan menjadi bahagia dengannya selama sisa hidupku. Aku hanya berharap aku mendapatkan kesempatan itu.
.
.
.
Hari hari berikutnya terlewat bagaikan dalam dongeng. Aku pergi bekerja. Jimin muncul dan mengalihkanku dengan kehadirannya yang menawan. Terkadang kami berakhir di suatu tempat yang kami seharusnya tidak melakukan seks liar di situ sebelum akhirnya pulang ke kondoku atau ke rumahnya dan bercinta di ranjang.
Yang kedua kalinya selalu manis. Yang pertama selalu intens dan saling membutuhkan bagian dari masing-masing kami berdua.
Aku sangat yakin Jungkook sudah mendengar kami berdua, di hari kami berakhir di tempat lemari sewaan, saling merobek baju satu sama lain. Aku masih mencoba untuk memutuskan apakah ini dikarenakan hormon kehamilan atau aku selalu menginginkan Jimin seperti ini. Satu sentuhan darinya dan aku akan putus asa.
Hari ini bagaimanapun juga kami sedang istirahat dari rutinitas nakal itu. Aku sedang bekerja seharian di turnamen golf tahunan. Aku harus beradu dengan Jungkook dan Jimin untuk membiarkan aku bekerja hari ini. Tidak satupun dari mereka berpikir ini aman. Aku, tentunya, menang.
Seragam pria kereta kami spesial dipesan untuk hari ini. Kami akan memakai seluruhnya baju berwarna putih seperti pemain golf.
"Di sana ada lima belas tim. Yoongi kau mendapat giliran pertama untuk tiga tim. Dan Jin kau mendapatkan tiga selanjutnya. Hyungsik kau yang tiga selanjutnya. Siwan kau dapat tiga selanjutnya dan Jokwon kau mendapatkan tiga yang terakhir. Mereka semua pria yang dengan khusus meminta kalian. Ini akan menjadi pertandingan seharian penuh. Jaga pemain golf senang dan jangan kehabisan minuman. Kembali kesini untuk mengambil stok sebelum kau kehabisan sesuatu. Kereta kalian sudah disiapkan dengan minuman dari pilihan pegolf yang kau ikuti hari ini. Kalian masing masing akan membawa walkie-talkie di kereta kalian untuk menghubungiku apabila ada yang darurat. Ada yang punya pertanyaan?"
Woori berdiri di atas beranda di tengah kantor dengan tangannya di pinggul melihat pada kami berlima.
"Bagus. Sekarang pergi ke tempat kalian. Yoongi akan sibuk tepat setelah pukulan pertama. Sebagian dari kalian harus menunggu dan memeriksa masing masing tim kalian sementara mereka menunggu untuk memulai lagi. Jika mereka ingin minuman berikan pada mereka. Jika mereka ingin makanan, sajikan kepada mereka. Mengerti?"
Kami semua mengangguk. Woori melambai kepada kami untuk pergi dan kembali ke kantornya.
"Aku benci turnamen. Aku harap aku tidak perlu berurusan dengan Junho. Dia sungguh sangat menganggu," Jin mengeluh saat kami pergi mengambil kereta kami dan memastikan kami mempunyai semuanya sebelum menuju ke lubang pertama.
"Mungkin kau akan mendapatkan Namjoon," kataku, berharap dapat menyemangatinya.
Jin cemberut.
"Tidak. Tidak ada kesempatan. Woori imo yang mengatur barisan. Dia tidak akan memberiku Namjoon."
Ah. Jadi menurutku aku juga tidak akan mendapatkan Jimin. Mungkin itu bagus. Aku perlu fokus bekerja. Bukan melihat betapa kerennya Jimin dengan celana pendeknya dan kaos polo.
Aku memarkir kereta di lubang pertama dan pergi untuk menemui grup pertamaku. Wajah mereka semua sudah akrab dan mereka kelompok yang lebih tua. Mereka akan sangat mudah dan mereka baik sekali dalam memberi tip. Setelah memberikan mereka semua botol minuman aku pergi ke grup selanjutnya.
Mengejutkan itu adalah Namjoon, Wooyoung, dan Jungkook. Aku tidak mengira untuk mendapati mereka di grupku.
"Halo guys. Bukankah aku salah satu yang beruntung?" godaku.
"Aku tadi yakin kami akan mendapatkan Jin. Asik, hariku sekarang baru saja jadi lebih baik," balas Wooyoung.
"Diam," Namjoon mengerutu dan menyikut dia disampingnya.
"Aku tidak sebodoh itu membiarkan Jin memiliki Namjoon. Ia akan mengabaikan orang lain," Jungkook menjelaskan.
Aku memberikan mereka semua tiga botol air.
"Aku senang melayani kalian bertiga. Walaupun aku bukan Jin," kataku, tersenyum kepada Namjoon.
"Jika aku tidak bisa memiliki Jin kau pastinya menjadi pemenang pilihan keduaku," kata Namjoon dengan seringainya.
Aku tidak bisa menahan untuk tidak menyukai pria ini. Dia lebih dari membuktikan dirinya sendiri akan perasaannya untuk Jin.
"Bagus. Sekarang, kalian semua membuatku bangga," aku bersemangat saat aku menuju ke grup berikutnya.
Ini adalah grup wanita pertamaku. Aku mengenal mereka tapi tidak yakin dengan pasti siapa mereka. Aku pikir yang elegan tinggi berambut blonde itu mungkin istri pejabat atau seorang yang kaya. Setelah aku memberikan mereka air soda dan memotong lemon aku menuju kembali ke depan.
Hampir waktu untuk mulai. Aku melirik kebelakang dan mencari Jimin tapi tidak melihat dia. Aku tidak yakin di tim siapa dia berada tapi aku tau dia akan bermain. Aku beranggapan Hoseok akan bermain bersamanya tapi aku juga tidak melihat dia.
.
.
.
JIMIN POV
Aku akan membunuh Hoseok pada saat dia tidur. Atau mungkin saat ini di tempat umum dengan banyak saksi mata. Aku membanting tongkat golfku dan caddy yang bertugas segera mengambilnya, dan itu adalah hal yang bagus. Aku benar-benar siap untuk melempar sesuatu.
"Luhan? Benarkah Hoseok? Kau bertanya pada Luhan?" aku menggeram, memandang ke depan melewati Hoseok dan melihat Luhan yang sedang melakukan check-in dan menunjuk ke arah kami.
"Kita memerlukan tiga orang. Kau membuat Taehyung marah sehingga kita kekurangan orang saat ini. Yang lain sudah diambil semua. Luhan ingin bermain, jadi apa masalahnya?" Hoseok memberikan tasnya kepada caddy dan memandangku dengan tatapan yang menjengkelkan.
Yoongi adalah masalah besarnya. Aku tidak mengatakan pada dia bahwa Luhan akan berada di timku karena aku sama sekali tidak tahu. Sekarang kalau dia melihat kami, dia akan berpikir bahwa aku berusaha menyembunyikan itu darinya. Aku perlu mencari Yoongi.
"Bisa aku ambilkan air untuk kalian bertiga?"
Seorang pria tinggi berambut hitam pembawa kereta minuman yang namanya tidak bisa kuingat itu bertanya kepada kami. Membayangkan bahwa Jungkook tidak akan memberikan Yoongi kepadaku membuatku sedikit terbantu. Aku bisa menjelaskan hal ini pada dia nanti dan dia bisa melihat bahwa ini sama sekali bukanlah sebuah kesalahan.
"Ya, tolong, Hyungsik," Hoseok membalasnya.
Dia memberikan sebuah senyuman berkilau kepada pria itu dan pria itu mengedipkan matanya. Mungkin saja Hoseok sudah tidur dengan pria ini. Kalau tidak, mungkin nanti malam.
"Berikan satu pada si pemarah itu juga. Dia perlu mengisi cairan di tubuhnya," ujar Hoseok bercanda.
"Siap untuk melakukan sesuatu yang hebat?" Luhan bertanya, berjalan ke arah kami.
Tidak, aku sekarang siap untuk menemui Yoongi dan menjelaskan ini. Aku menoleh ke belakang ke arah pria pembawa kereta minuman itu.
"Dimana kelompok Yoongi berada?"
Aku bertanya padanya. Dia memasang sebuah wajah yang cemberut.
"Apa aku tidak cukup bagus?"
"Sayang, kau sempurna. Tapi dia hanya tertarik pada Yoongi. Tidak ada hal lain."
Hoseok menjelaskan, mengedipkan matanya pada pria itu. Dan pria itu kembali memandang Hoseok.
"Dia ada di kelompok pertama. Aku rasa tuan Jeon ada di dalam grup itu. Tuan Jeon muda. Woori ahjumma mengatakan sesuatu mengenai tuan Jeon yang meminta Yoongi," pria itu menjawab dengan senyuman tanda puas.
Jungkook adalah seorang yang brengsek. Aku tidak meragukannya lagi.
"Selamat pagi Luhan. Maaf tapi kita sedang memiliki Jimin yang dalam kondisi mood yang buruk bersama kita saat ini," Hoseok mengatakan itu saat menyapa Luhan yang bahkan kulupakan bahwa dia berada di kelompok kami saat ini.
"Aku bisa melihatnya. Aku akan membuang rasa tidak enak yang kurasakan dan menganggap bahwa Yoongi adalah pria yang dia kejar setelah meninggalkanku sendirian tanpa penjelasan apapun saat itu."
"Kalau dia mengejar seorang pria manis berkulit pucat, maka ya, itu adalah Yoongi," Hoseok merespon.
Aku mengabaikan mereka berdua dan mulai berjalan ke arah garis depan saat aku melihat grup pertama memukul bola. Kereta Yoongi juga ditarik menjauh pada saat yang sama. Sialan.
"Apa kau bisa tenang? Bukan Yoongi yang cemburu. Itu kamu," Hoseok menggerutu kemudian meneguk air minumnya.
"Ok, apa itu sebuah masalah kalau aku bermain bersama kalian berdua? Apa ini semua masalahnya?" Luhan bertanya, memandang langsung ke arahku.
"Aku tidak ingin Yoongi kecewa," aku menjawabnya dan memandang kembali ke belakang ke arah Yoongi pergi.
"Oh, ayolah, ini cuma golf, bukan sebuah kencan," kata Luhan.
Dia benar. Aku benar-benar menggelikan. Kami ini bukan anak SMA lagi dan aku bisa bermain golf dengan seorang pria kapan saja. Yoongi sekarang tahu kalau Luhan adalah teman lama dan kami bersama dengan Hoseok saat ini. Aku dan Luhan bukan berdua saja. Ini semua akan baik-baik saja.
"Aku sudah diluar batasan. Maaf. Kau benar. Ini bukanlah masalah besar," aku setuju dan memutuskan untuk rileks dan menikmati hari ini.
Paling tidak Yoongi ada di depan. Dia akan selesai dan masuk lebih awal nanti. Itulah mengapa Jungkook menempatkannya di grup pertama. Dia tidak akan berada di luar dan berjemur sampai yang lain selesai.
Pada waktu kami sampai di lubang golf ke enam, aku sudah mulai rileks dan menikmatinya. Kecuali perasaan khawatir karena Yoongi kepanasan, sisanya baik-baik saja. Aku tahu Jungkook akan memperhatikan dia, dan meskipun aku sangat jengkel akan hal itu, aku juga sama leganya akan hal itu.
"Ayolah Hoseok, sampai sekarang Jimin adalah yang terbaik diantara kita bertiga dan aku adalah yang nomor dua. Yang ini adalah kesempatan baikmu. Kau bisa melakukannya," Luhan menantangnya saat dia bersiap untuk melakukan par (nilai standar pada masing masing pukulan di setiap lubang pada golf).
Hoseok memberikan tatapan peringatan kepada Luhan. Menolak sebuah tantangan bukan kebiasaan Hoseok dan Luhan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui hal tersebut. Kalau dia masuk di lubang golf yang satu ini, itu adalah sebuah keajaiban.
"Aku pikir dia membutuhkan sedikit bantuan, Luhan. Mungkin kau bisa memberi dia sedikit pelajaran," aku memberi saran.
Tatapan marah dari Hoseok membuat kami berdua tertawa. Dia begitu mudah ditebak.
"Kau mungkin harus sedikit mundur, Luhan. Kelihatannya dia sudah siap untuk meledak. Kalau putter-nya (stick golf) melayang kau tidak akan mau berada di sana."
Luhan mundur dan berdiri di sebelahku.
"Apa dia benar-benar akan melempar tongkat pemukulnya itu?" dia bertanya dengan senyuman memohon.
"Jangan terlalu senang. Kalau dia sampai marah dan melemparkan tongkat golfnya itu berarti dia benar-benar sudah gila."
"Aku tidak takut. Kau punya lengan yang lebih besar."
Luhan mengatakan itu sambil memberikan seringaian ke arah Hoseok. Kelihatannya dia sedang menggodanya.
"Dia tidak memiliki lengan yang besar!"
Hoseok menggonggong, kembali berdiri dari posisinya untuk memukul bola dan memperlihatkan wajah yang siap-siap untuk bertahan. Luhan meraih lenganku dan mencengkeramnya.
"Um, ya, ini benar-benar impresif. Perlihatkan padaku apa yang kau punya," dia menggoda Hoseok lagi.
Hoseok melipat lengan bajunya dan berjalan ke depan Luhan dan memperlihatkan otot lengannya.
"Rasakan itu baby. Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Dia hanyalah seorang pria yang tampan."
Aku memutar bola mataku dan mulai berjalan menuju ke kereta golf. Hoseok meraih lenganku.
"Tidak, kau tidak boleh. Ini adalah sebuah kontes yang pasti akan kumenangi. Coba kencangkan otot lenganmu yang mungil itu. Biar dia melihat siapa yang lebih hebat."
Aku sama sekali tidak punya keinginan untuk memenangi kontes ini.
"Kau menang. Aku oke dalam hal ini. Dia memiliki lengan yang lebih besar, Luhan," aku mengatakannya sambil melepaskan diriku dari cengkeraman lengannya.
"Tidak, dia tidak memilikinya. Kau sama sekali tidak mengeraskan otot lenganmu dan aku yakin kalau milikmu itu jauh lebih besar."
Luhan mengatakan itu dengan sebuah senyuman licik. Aku yakin kalau ini adalah ide yang buruk. Aku rasa dia tidak sedang merayu tapi aku tidak begitu yakin.
"Itu omong kosong! Kencangkan lenganmu, Jimin. Aku akan buktikan yang satu ini. Aku memiliki otot yang lebih bagus."
"Ya, kau benar. Itu hebat," aku membalasnya.
"Kencangkan sekarang, aku serius," Hoseok meminta.
Dia benar-benar serius dalam kontes ini. Satu-satunya yang membuatku berpikir untuk membuatnya menang adalah karena aku sudah siap untuk berjalan ke lubang golf berikutnya.
"Baiklah," aku menyetujuinya.
"Kalau ini akan membuatmu melakukan pukulan pada bola itu sehingga kita bisa pindah ke lubang golf berikutnya," aku mengencangkan otot lenganku.
Hoseok tersenyum dan mengencangkan otot lengannya juga agar Luhan bisa merasakannya.
Luhan sedang menungguku. Aku mengencangkannya dan membiarkan dia merasakannya. Ini benar-benar menggelikan.
"Maaf Hoseok, dia menang," Luhan mengatakan itu sambil memegang otot lenganku dengan lebih lama.
Aku meluruskan lenganku dan bergerak ke kereta.
"Pukul bola itu, Hoseok," aku berteriak.
"Kau tidak menang. Dia hanya memilihmu karena dia loyal padamu. Karena dia adalah kekasih pertamamu," dia membalas teriakanku.
Aku memandang sekitar untuk melihat apakah ada orang yang mendengar teriakannya. Untungnya tidak terlihat seorangpun yang mungkin mendengarnya.
-TBC-
[Update time: Minggu, H-3 sebelum hari kemerdekaan RI :)]
Preview: Chapter 16
-Yoongi POV-
"Aku bukanlah tanggung jawabnya."
"Maaf kalau aku tidak setuju dalam hal ini. Saat dia menghamilimu, maka kau adalah tanggung jawabnya yang paling besar,"
.
-Jimin POV-
"Aku merindukanmu hari ini."
Senyumannya menghilang saat dia mengalihkan pandangannya dariku. Itu sebuah reaksi yang janggal.
"Aku juga merindukanmu,"
