Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 16

YOONGI POV

Aku duduk disana saat mereka naik ke kereta mereka dan bergerak ke lubang golf berikutnya. Aku seharusnya membawa minuman lebih banyak. Keinginanku untuk melihat Jimin lebih besar dan akhirnya aku melakukan perjalanan ulang hanya untuk menemukan dia.

Sekarang, aku berharap aku tidak melakukannya. Untuk pertama kalinya dalam minggu ini aku merasa perutku sakit lagi. Dia bahkan tidak pernah mengatakan padaku bahwa Luhan adalah kekasihnya yang pertama. Dia cuma mengatakan bahwa mereka adalah teman lama.

Mengetahui teman lama seperti apa mereka berdua tidaklah membantuku. Aku selalu tahu bahwa Jimin sering tidur bersama pria lain. Itu adalah sesuatu yang sudah kuketahui sejak aku naik ke atas tempat tidurnya pertama kali. Tapi melihatnya dengan yang satu ini. Pria yang merupakan pria pertamanya rasanya menyakitkan.

Dia tadi merayunya dan Jimin juga merayu pria itu. Mencoba menarik perhatian lebih pada pria itu dengan menunjukkan kelebihan otot-ototnya. Otot-otot itu memang sudah bagus tanpa perlu dia mengeraskannya terlebih dulu dan memamerkannya.

Kenapa dia melakukan itu? Apa dia ingin pria itu tertarik sekali lagi pada dirinya? Apa dia ingin tahu bagaimana rasanya pria itu di atas tempat tidur sekarang?

Perutku terasa jungkir balik dan aku memaksakan diriku untuk mengendarai keretaku ke jalan dan menariknya dari pohon tempatku bersembunyi. Aku tidak bermaksud untuk bersembunyi. Aku mengambil jalan pintas untuk melihat apakah Jimin ada di lubang golf ini.

Tapi saat aku melihatnya tersenyum pada Luhan dan membiarkan Luhan menyentuhnya, aku berhenti. Aku tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. Pria itu adalah bagian dari dunianya Jimin. Pria yang cocok dengan dunianya. Dia tidak mendorong kereta minuman, akan tetapi dia bermain golf bersama Jimin. Jimin tidak mungkin mengajakku.

Sebagai pemula aku tidak tahu bagaimana cara bermain golf, dan tentu saja, aku bekerja di sini. Aku tidak bisa bermain. Apa yang bisa dia lakukan bersama denganku? Adiknya membenciku. Aku tidak akan bisa menjadi bagian dari kehidupannya. Aku akan selalu menjadi orang luar yang hanya bisa melihat saja. Aku membenci perasaan seperti ini.

Bersama dengannya rasanya sungguh luar biasa. Saat bersamanya di rumahnya atau di kondoku rasanya sungguh mudah untuk berpura-pura bahwa kami bisa berjalan lebih jauh lagi. Tapi apa yang terjadi saat aku menunjukkannya di depan publik?

Saat aku hamil tua dan dia bersama denganku? Orang-orang akan tahu. Bagaimana dia bisa mengatasinya? Apa yang kuharapkan dari dia?

Aku mengisi keretaku dengan minuman cadangan dan pikiranku melayang-layang pada semua skenario yang mungkin akan terjadi pada kami berdua. Tidak ada satupun yang berakhir bahagia. Aku bukan salah satu orang elit. Aku hanyalah aku.

Minggu belakangan ini aku selalu membiarkan diriku bermain dengan ide untuk tetap tinggal di Busan. Membesarkan bayi bersama dengan Jimin. Bersamaan dengan saat melihat Luhan dan perasaanku rasanya sakit sekali, aku tersadar. Tidak perlu lagi hidup di dalam dunia dongeng. Terutama aku.

.

.

.

Pada saat aku kembali, aku melihat bahwa grupku sudah melakukan pemanasan akhir. Aku tersenyum dan memberikan minuman pada mereka dan bahkan aku bercanda dengan para pemain golf itu. Tidak ada yang tahu bahwa aku sedang kecewa. Ini adalah pekerjaanku. Aku harus melakukannya dengan sebaik-baiknya.

Aku tidak akan mengatakan apapun pada Jimin malam nanti. Tidak ada gunanya. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku hanya akan menambah jarak di antara kami berdua. Aku tidak akan pernah percaya diriku bisa mendapatkan kehidupan bahagia untuk selamanya dari dirinya. Aku lebih pintar daripada itu.

Aku tidak akan bisa melewati hari ini tanpa terhindar dari rasa sakit. Panas mulai menyerang tubuhku tapi aku akan sangat sial apabila Jungkook sampai mengetahui hal ini. Aku tidak memerlukan dia untuk berpikir bahwa aku tidak bisa melakukan pekerjaanku dengan baik.

Jin mengusap-usap punggungku di belakang saat aku muntah di toilet pada saat perjalanan kembali ke kantor. Aku sangat menyukai perhatiannya.

"Kau terlalu memaksakan diri," dia mengomeliku saat aku sudah memuntahkan semuanya dan mengangkat wajahku pada akhirnya.

Aku tidak ingin mengakuinya, tapi aku rasa dia mungkin ada benarnya. Aku mengambil lap basah yang dia pegang untukku dan mulai membersihkan wajahku, sebelum akhirnya duduk di lantai dan bersandar di dinding.

"Aku tahu, tapi tolong jangan katakan pada siapapun," aku memohon.

Jin duduk di sebelahku.

"Kenapa?"

"Karena aku perlu pekerjaan ini. Upahnya bagus. Aku akan pergi dari sini saat semuanya mulai kelihatan jadi aku harus mengumpulkan sebanyak mungkin uang yang bisa kudapatkan sekarang. Aku tidak akan mendapatkan pekerjaan yang mudah saat aku sudah mulai terlihat hamil."

Jin memutar kepalanya dan memandangku.

"Kau berencana untuk pergi? Bagaimana dengan Jimin?"

Aku tidak ingin Jin marah pada dia. Dia sudah mulai bersikap baik pada Jimin.

"Aku melihat Jimin hari ini. Dia bersenang-senang. Dia cocok disana. Dia berada pada tempatnya. Aku juga berada di tempatku. Aku tidak akan cocok dengan dunianya."

"Dia tidak mengatakan apapun mengenai hal ini bukan? Kalau kau mengatakan sesuatu, dia pasti memintamu untuk pindah ke rumahnya dan dia akan mengurus segalanya. Dia tidak akan membiarkanmu bekerja di klub dan kau akan berada disisinya dimanapun. Kau tahu itu."

Aku tidak suka ide bahwa ada satu orang pria lagi yang merecoki Jimin. Ibunya dan saudaranya sudah melakukannya. Aku tidak ingin melakukannya juga. Aku tidak peduli mengenai uangnya. Aku cuma peduli pada dirinya.

"Aku bukanlah tanggung jawabnya."

"Maaf kalau aku tidak setuju dalam hal ini. Saat dia menghamilimu, maka kau adalah tanggung jawabnya yang paling besar," Jin mengatakan itu dengan nada gusar.

Aku tahu kenyataan mengenai malam dimana kami melakukan hubungan seks tanpa kondom itu. Aku yang datang kepada dia. Aku yang menyerangnya. Itu bukanlah kesalahannya. Sepanjang waktu dia selalu berhati-hati. Akulah yang membuatnya tidak berhati-hati pada malam itu. Itu semua adalah kesalahanku, bukan dia.

"Percayalah padaku saat aku mengatakan padamu bahwa ini semua adalah kesalahanku. Kau tidak berada di sana, di malam itu, saat aku melakukannya. Akulah yang salah."

"Tidak bisa hanya kau yang salah. Kau tidak mungkin bisa hamil kalau kau sendirian."

Aku tidak ingin terus berdebat dengan dia.

"Tolong jangan katakan pada orang lain kalau aku sakit. Aku tidak ingin mereka khawatir."

"Baiklah. Aku tidak senang akan hal ini. Jika kau melakukannya sekali lagi, maka aku akan mengatakannya pada orang lain," dia memperingatkan.

Aku meletakkan kepalaku di bahunya.

"Sepakat."

Aku menyetujuinya. Jin mengelus kepalaku.

"Kau ini pria gila."

Aku hanya bisa tertawa karena apa yang dia katakan adalah benar.

.

.

.

JIMIN POV

Segera setelah turnamen berakhir, aku pergi mandi di shower dan membersihkan diri. Aku bahkan tidak bertahan lebih lama disana untuk mendapatkan trophi juara kedua. Aku meninggalkan Hoseok dan Luhan untuk melakukan kehormatan tersebut. Aku tidak peduli akan hal tersebut.

Aku hanya mengikuti turnamen ini karena aku sudah menandatanganinya bersama Taehyung dan Hoseok di awal musim panas yang lalu. Kami melakukannya tiap tahun. Itu adalah penyebab utamanya.

Saat aku berhenti di kantor dimana kereta minuman disimpan, Woori mengatakan bahwa Yoongi sudah pergi bersama Jin sekitar satu jam yang lalu. Aku menelepon Jin, tapi tidak ada jawaban. Aku memperhitungkan bahwa setelah aku selesai mandi dan berganti pakaian nanti mereka sudah kembali dari tempat manapun tadi yang mereka kunjungi.

Mobil Jin ada di tempat parkir saat aku sampai di kondo mereka. Yoongi ada di rumah. Terima kasih Tuhan. Aku sudah begitu merindukan dia sepanjang hari ini. Aku mengetuk pintu tiga kali dan menunggu dengan tidak sabar hingga pintunya terbuka.

Jin tersenyum kaku. Tapi bukan dia yang aku cari.

"Hai," aku menyapanya dan melangkah masuk.

"Dia sudah tidur. Hari ini adalah hari yang panjang," kata Jin, masih berdiri di pintu dan membiarkannya terbuka, seakan dia menginginkan aku untuk pulang.

"Apa dia baik baik saja?" aku bertanya, melihat ke arah lorong, ke arah pintu kamar tidurnya yang tertutup.

"Cuma lelah saja. Biarkan dia beristirahat," Jin menjawabku.

Aku tidak akan pergi. Dia bisa menutup pintu sialan itu.

"Aku tidak akan membangunkan dia tapi aku juga tidak akan pergi. Jadi kau bisa menutup pintunya," aku mengatakan itu pada dia sebelum aku beranjak ke kamar Yoongi.

Sekarang baru jam enam sore. Dia pasti belum tidur lelap kecuali kalau dia sakit. Pikiran membiarkan dia bekerja keras hari ini membuat jantungku berdegup dengan kencang. Aku seharusnya tidak memperbolehkan dia bekerja hari ini. Itu tidak aman untuknya atau bayinya, bayi kami.

Aku membuka pintu perlahan-lahan dan masuk ke dalam kamar. Kemudian aku mengunci pintu yang ada di belakangku. Yoongi sedang meringkuk di tengah-tengah tempat tidurnya yang luas. Dia kelihatan begitu mungil disana.

Rambutnya yang berwarna pirang itu terlihat lembut terurai di atas bantalnya dan salah satu kakinya keluar dari selimut. Aku menarik lepas kaos yang kukenakan dan melemparkannya ke meja nakas sebelum melepaskan juga celana jins yang kukenakan.

Saat aku hanya mengenakan celana pendekku saja, aku naik ke atas tempat tidur di belakangnya. Sebelum aku menarik dia mendekat, dia datang dengan kemauannya sendiri. Sebuah desahan ringan dan bisikan selamat datang darinya adalah suara yang paling mengagumkan.

Sambil tersenyum, aku mengubur wajahku di dalam rambutnya dan menutup mataku. Inilah tempat yang benar-benar aku inginkan. Aku meluncurkan tanganku turun ke perutnya yang datar. Pikiran tentang apa yang aku peluk sekarang begitu sederhana namun membuat perasaanku hangat.

Sebuah sentuhan ringan di lenganku kemudian menuju ke arah dadaku membuat wajahku kembali tersenyum dan aku membuka mataku. Yoongi sudah menghadap ke arahku sekarang. Matanya terbuka saat dia memperhatikan dadaku dan mengulurkan jarinya ke setiap otot perutku kemudian naik ke bahuku. Dia melihat ke arahku dan senyuman kecil terbentuk di bibirnya.

"Hai," aku berbisik.

"Hai."

Di luar sudah gelap sekarang tapi aku tidak tahu ini sudah selarut apa.

"Aku merindukanmu hari ini."

Senyumannya menghilang saat dia mengalihkan pandangannya dariku. Itu sebuah reaksi yang janggal.

"Aku juga merindukanmu,"

Dia membalasku, tapi tidak menatapku. Aku meraihnya dan mengangkat dagunya sehingga matanya kembali tertuju kepadaku.

"Apa ada yang salah?"

Dia mencoba untuk tersenyum.

"Tidak ada."

Dia berbohong. Pasti ada sesuatu yang salah.

"Yoongi, katakan yang sebenarnya. Kau kelihatan kecewa. Pasti ada sesuatu yang salah."

Dia mulai mencoba menarik diri dariku tapi aku menahannya tetap berada di dekatku.

"Tolong katakanlah padaku," ujarku memohon.

Ketegangan yang ada pada dirinya mengendur saat aku mengatakan tolong. Aku perlu untuk mengingat-ingat hal ini, bahwa dia lemah pada kata-kataku yang penuh perhatian.

"Aku melihatmu hari ini. Kau bersenang-senang...," dia mulai berkata-kata.

Lalu apa masalahnya? Oh! Tunggu. Dia melihat Luhan.

"Jika ini mengenai Luhan. Maafkan aku... Aku tidak tahu kalau dia ada disana sampai Hoseok mengatakannya, bahwa dia yang akan menggantikan Taehyung. Adikku itu mundur pada saat-saat terakhir dan Hoseok meminta Luhan menggantikannya. Aku pasti akan mengatakannya padamu kalau aku tahu hal itu sebelumnya."

Ketegangan di tubuhnya kembali lagi. Sialan. Aku pikir aku sudah menjelaskan semuanya. Apa yang membuat dia kecewa?

"Dia adalah kekasih pertamamu," suara Yoongi begitu pelan sehingga aku hampir saja tidak bisa mendengarnya.

Seseorang sudah mengatakannya pada dia. Sialan. Siapa yang tahu mengenai ini selain Hoseok? Aku bukanlah orang yang suka membagikan kehidupan seks-ku dengan orang lain. Siapa yang memberi tahu dia? Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku.

"Dan kau adalah yang terakhir."

Matanya melembut. Aku semakin hebat dalam mengatakan hal-hal yang manis. Aku tidak peduli mengenai cara mengatakan sesuatu yang manis pada pria sebelumnya. Tapi begitu mudah dengan Yoongi. Aku hanya perlu jujur.

"Aku...,"

Dia berhenti dan menggoyangkan lenganku.

"Aku perlu ke kamar mandi," katanya.

Aku yakin bukan itu yang ingin dia katakan tapi aku membiarkan dia bangun. Dia mengenakan singlet warna kuning yang dipadukan dengan boxer warna biru. Pinggangnya kelihatan lebih penuh dan pemikiran untuk mengungkungnya di atas tempat tidur dan menyentuh pinggang itu membuatku begitu keras.

Aku harus fokus. Dia kecewa pada sesuatu dan dia tidak mengatakan padaku apa itu. Aku harus menyelesaikan ini terlebih dulu. Aku tidak ingin membuat dia kecewa.

Teleponku berbunyi dan aku meraihnya dari meja yang ada di sisi tempat tidur. Ini dari Taehyung. Bukan seseorang yang hendak aku inginkan untuk bercakap-cakap saat ini. Aku menekan tombol untuk mengabaikannya. Setelah mematikan bunyi telepon, aku memeriksa jam. Ternyata sudah jam sembilan lewat sepuluh menit.

Yoongi keluar dari kamar mandi dan tersenyum sambil mengantuk.

"Aku sedikit lapar."

"Kalau begitu mari kita makan," aku bangkit dari tempat tidur dan meraih celana jinsku.

"Aku perlu ke toko serba ada. Aku hendak pergi lebih awal, namun aku begitu mengantuk, jadi aku memutuskan untuk istirahat sejenak."

"Aku akan mengantarmu makan malam, kemudian kita akan belanja besok pagi. Tidak ada toko yang buka selarut ini di sekitar sini."

Yoongi kelihatan bingung,

"Di sekitar sini juga tidak banyak restoran yang buka selarut ini."

"Klub buka sampai jam sebelas. Kau tahu itu," aku memasukkan kaosku dari dalam kepalaku kemudian berjalan ke arahnya.

Dia sedang mengamatiku seakan-akan dia tidak mengerti sama sekali.

"Apa?" aku bertanya sambil meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya yang hampir telanjang itu mendekat ke arahku.

"Orang akan melihatmu bersamaku di klub. Orang lain selain teman-temanmu," dia mengatakan itu dengan sangat perlahan seakan dia membiarkan suaranya tenggelam.

"Dan?" aku bertanya.

Dia menengadahkan kepalanya ke belakang sehingga dia bisa menatapku.

"Dan aku bekerja disana. Mereka tahu kalau aku bekerja disana."

Aku masih tidak bisa memahami apa yang dia katakan.

"Aku masih tidak mengerti maksudmu."

Yoongi mengeluarkan sebuah desahan putus asa.

"Apa kau tidak peduli kalau anggota klub yang lain melihatmu makan malam bersama seorang pegawai?"

Aku membeku. Apa?

"Yoongi," aku mengatakannya dengan perlahan, memastikan kalau aku tadi benar-benar mendengar kalimatnya.

"Apa kau baru saja bertanya padaku apakah aku peduli kalau ada orang lain melihatku makan malam bersamamu? Tolong katakan padaku bahwa aku salah dengar."

Dia mengangkat bahu. Aku menurunkan tanganku dari pinggangnya dan berjalan ke arah pintu. Dia pasti bercanda. Kapan aku pernah membuat dia berpikir bahwa aku malu bersama dia?

Aku kembali menatap ke arahnya. Dia sedang menyilangkan kedua lengan di dadanya dan menatapku.

"Kapan aku pernah membuatmu berpikir bahwa aku tidak ingin terlihat bersamamu? Karena kalau aku pernah melakukannya, aku berjanji akan memperbaikinya."

Dia mengangkat bahu lagi.

"Aku tidak tahu. Kita memang sama sekali belum pernah keluar untuk berkencan. Maksudku, ada banyak waktu bersama, tapi itu bukan benar-benar kencan. Kehidupan sosialmu berjalan dengan normal tanpa diriku."

Dadaku terasa sesak. Dia benar. Aku tidak pernah membawa dia kemanapun kecuali untuk membeli perabotan dan perjalanan bersama ke Daegu dan kembali pulang. Sialan. Aku seorang idiot.

"Kau benar. Aku brengsek. Aku tidak pernah membawamu ke suatu tempat yang spesial," aku berbisik dan menggoyangkan kepalaku.

Aku tidak pernah benar-benar menjalani sebuah hubungan sebelumnya. Aku hanya melakukan seks dan kemudian mengantar pria-pria itu pulang.

"Jadi selama ini kau berpikir kalau aku malu bersamamu?"

Aku bertanya walaupun aku tahu bahwa aku tidak ingin mendengar jawabannya. Itu pasti akan terdengar sangat menyakitkan.

"Sebenarnya bukan malu. Aku hanya... aku hanya berpikir bahwa aku tidak pantas berada di duniamu. Aku tahu itu. Hanya karena aku hamil bayimu, bukan berarti kau harus mengakuiku di depan dunia. Kau hanya perlu mendukungku…"

"Yoongi. Tolong. Hentikan itu. Aku tidak bisa mendengar lebih banyak lagi."

Aku melangkah mendekat.

"Kau adalah duniaku. Aku ingin semua orang tahu itu. Aku tidak tahu bagaimana cara berkencan sehingga aku tidak pernah membawamu pergi kencan. Tapi aku bisa berjanji padamu sekarang. Aku, Park Jimin, akan membawamu, Min Yoongi, ke semua tempat kencan sialan itu sehingga tidak ada seorangpun di kota ini yang tidak tahu bahwa aku memujamu," aku berjanji sambil meraih tangannya.

"Maafkan aku yang idiot ini."

Yoongi mengedipkan matanya yang berair dan mengangguk,

"Aku ingin makan sup jagung..."

"Ya, mari kita makan sup jagung, dengan jagung yang banyak bukan?" ujarku sambil mengedipkan mataku dan membuatnya tersenyum.

Senyumannya membuatku merasa lebih baik. Dalam lubuk hatiku, aku berpikir berapa kali lagi aku akan mengacau sebelum semuanya menjadi sempurna.


-TBC-

[Update time: Kamis, sehari setelah HUT RI, Merdeka! \(^_^)/]

[Halo semua! Apa sehat? udah dgr berapa puluh ratus kali mixtape uri Min Yoongi aka Min Suga akan Agust D aka Gloss aka Genius Syub? :D]

[Track berapa aja nih favorit kalian? kalau aku suka track 2, 7, n 10 *mata love berlinang-linang*. Penantian untuk mixtape genius terbayar yaaa, beatnya bikin pen jingkrak2 muter tiang *gk gitu*, plus liriknya super gk perlu pk bombay lg buat bikin ujan badai lokal T_T]

[Also, uda pada nonton Bon Voyage episode 7? (yg episode di jacuzzi/hottubs/bathtubs/sauna cinta haha). Itu wajib ditonton wahai teman sekapal YoonMinYoon sekalian! Biar kita menyaksikan gmn OTP kita tersayang berendam bersama n slight (mata eagle netizen mode on) liat gmn Yoongi yg narik2 bathrobe Jimin *kyaaa**ikut terjun ke danau*]

[P.S: Malem ini behind bonvay ep 7 nih, let's hope there's more of our minimini moment :D]

[Cuma pen bahas ttg in real info aja sih (mian dopost di ff sebelah jg, biar semua tau kabar baek sang agust d plus berendamnya minimini hohoho). Untuk FF WHFTF-nya, so far silahkan dinikmati juga ya moment2 kedekatan MinYoon kembali huehehe... konflik belum bermunculan, hm semoga uda nggak ada lg ya... tp kalo uda gk ada mana seru? *tawa setan* /peace]

.

.

Preview: Chapter 17

-Yoongi POV-

Aku meneleponnya lagi. Kali ini teleponnya berdering empat kali sebelum diangkat.

"Apa?" suara Taehyung mengagetkanku.

Apa dia sedang di tempat Taehyung?

.

-Jimin POV-

Pintu terbuka dan Yoongi berjalan masuk sembari tersenyum hingga akhirnya bertatapan mata denganku. Lalu senyum di wajahnya segera menghilang. Dia juga marah padaku. Ini pertanda jelek.