Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 17
YOONGI POV
Ponsel yang Jimin belikan untukku tergeletak di meja dapur ketika aku berjalan keluar dari kamarku. Ini ketiga kalinya dalam seminggu ini dia sengaja meninggalkan benda itu di suatu tempat supaya aku menemukan nya. Kali ini ada kertas berisi pesan yang berada di sebelahnya. Aku mengambil kertas itu.
.
Pikirkan bayi kita. Kau butuh ponsel ini ketika darurat. –Jimin.
.
Ini adalah tamparan ringan. Aku tersenyum dan mengambil ponsel itu lalu menyimpannya di saku. Dia tak akan menyerah sampai aku menerima benda itu.
Hari ini kunjunganku yang ke dua ke dokter kandungan. Aku memberitahukan kepada Jimin tentang jadwal kunjunganku di kencan ketiga kami hari senin malam kemarin.
Dia sudah sangat bertekad untuk mengajakku kencan sepanjang minggu. Kemarin malam aku sampai harus memohon padanya untuk menghabiskan waktu di rumah dan menonton film saja.
Dia sedang menjalankan rencananya. Semua orang di kota sudah tahu bahwa kami berkencan. Aku yakin kalau mereka semua sekarang sudah muak melihat kami selalu bersama. Aku tersenyum lebih lebar lagi karena pemikiran itu.
Aku mengambil ponsel dari dalam sakuku. Tadi malam aku lupa untuk mengingatkan Jimin tentang kunjunganku hari ini. Aku bisa meneleponnya karena sekarang aku punya ponsel.
Namanya ada di urutan paling atas dari daftar teleponku di kelompok 'favorit'. Aku tak terkejut dengan hal itu.
Dia mengangkat teleponnya pada deringan ketiga.
"Hei, aku akan meneleponmu kembali," kata Jimin dengan nada suara jengkel.
"Oke tapi…," aku sedang mulai berbicara ketika dia menutupi ujung teleponnya untuk berbicara dengan seseorang di sana.
Apa yang terjadi?
"Kau baik-baik saja?" dia terdengar agak membentak.
"Ya, aku baik-baik saja tapi…"
"Kalau begitu nanti aku telepon kembali," dia menyela sebelum aku menyelesaikan kalimatku, lalu dia menutup teleponnya.
Aku duduk terdiam dan memandangi ponsel itu. Apa yang barusan terjadi? Mungkin harusnya aku tadi bertanya padanya apakah dia baik-baik saja. Ketika sepuluh menit kemudian dia masih belum meneleponku kembali, aku memutuskan bahwa sebaiknya aku segera bersiap untuk pergi ke dokter.
Aku yakin dia akan meneleponku kembali sebelum waktunya berangkat nanti. Satu jam kemudian dan dia masih belum meneleponku kembali. Aku berdebat dalam hati apakah sebaiknya meneleponnya atau tidak. Mungkin dia sudah lupa bahwa tadi aku meneleponnya.
Sebenarnya aku bisa saja meminjam mobil Jin dan pergi ke dokter. Tapi hari senin itu ketika aku memberitahu Jimin soal konsultasiku, dia tampak bersemangat untuk ikut denganku. Aku tak bisa begitu saja meninggalkannya.
Aku meneleponnya lagi. Kali ini teleponnya berdering empat kali sebelum diangkat.
"Apa?" suara Taehyung mengagetkanku.
Apa dia sedang di tempat Taehyung?
"Eh, em…," aku tak yakin apa yang harus kukatakan padanya.
Aku tak bisa memberitahunya soal kunjunganku ke dokter.
"Apa Jimin ada?" tanyaku dengan gugup.
Taehyung tertawa keras.
"Aku tak percaya ini. Dia bilang padamu dia akan meneleponmu kembali. Kenapa sih kau tak bisa memberinya sedikit ruang untuk bernafas? Jimin tidak suka berurusan dengan orang yang suka menuntut. Dia sedang bersama keluarganya. Ibu dan ayahku sedang ada di sini dan kami sedang bersiap untuk makan siang bersama. Kalau dia sudah siap untuk bicara denganmu, dia akan meneleponmu."
Lalu dia menutup teleponnya. Aku duduk terhenyak di kasur. Dia sedang makan siang bersama dengan adiknya, ibunya dan ayahku. Apa itu alasannya menutup teleponku tadi?
Dia tak ingin aku tahu bahwa dia sedang bersama mereka. Makan siang bersama keluarganya lebih penting daripada aku dan bayi kami. Ini seperti yang aku pikirkan tapi lalu dia bersikap sangat manis dan protektif padaku.
Apa aku bersikap terlalu menuntut? Aku bukanlah orang yang suka menuntut sesuatu tapi mungkin juga aku sudah berubah menjadi seperti itu. Benarkah? Aku berdiri lalu menaruh ponsel itu di atas kasur. Aku tak menginginkan benda itu lagi.
Suara Taehyung yang penuh dengan kebencian ketika dia mengatakan padaku bahwa mereka sedang makan siang bersama dengan ayahnya, ayahku, sudah menghantuiku. Aku mengambil dompetku. Aku masih punya waktu untuk pergi ke kantor dan meminjam mobil Jin.
.
.
.
Aku sudah bercucuran keringat ketika sampai di gedung kantorku. Penampilan yang bagus sekali untuk kunjungan ke dokter. Itu sebenarnya tidak terlalu jadi masalah. Itu hal terakhir dari tumpukan masalahku. Aku menaiki tangga dan berpapasan dengan Woori yang berjalan keluar dari pintu.
"Kau tidak masuk kerja hari ini," katanya ketika melihatku.
"Ya, memang benar. Aku perlu meminjam mobil Jin. Aku punya janji dengan dokter… gigi dan… eh… aku lupa soal itu."
Aku tak suka berbohong tapi mengatakan padanya hal yang sebenarnya adalah lebih dari yang bisa kuatasi. Woori memperhatikanku sejenak lalu dia meraih ke dalam saku celananya dan menarik keluar beberapa kunci.
"Pakai saja mobilku. Aku akan ada di sini seharian. Aku sedang tidak membutuhkannya."
Aku ingin sekali memeluknya, tapi tidak kulakukan. Aku tak yakin dia akan senang dengan reaksiku tentang pertolongannya hanya demi sebuah kunjungan ke dokter.
"Terima kasih banyak. Aku akan mengisi bensinnya nanti," aku meyakinkannya.
Dia mengangguk dan melambaikan tangannya. Aku bergegas menuruni tangga dan masuk ke Cadillacnya untuk menuju ke dokter kandungan.
Perjalanannya cukup lancar dan aku hanya harus menunggu selama lima belas menit sebelum mereka memanggilku untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Perawatnya selalu tersenyum sembari menarik sebuah mesin dengan layar kecil.
"Kehamilanmu baru berusia sepuluh minggu, jadi kita harus melakukan USG supaya bisa mendengarkan detak jantung bayinya. Kita bisa mendengar detak jantung bayi dan juga melihat bayi mungilnya melalui alat itu," jelasnya.
Aku akan segera melihat bayiku dan mendengar detak jantungnya. Ini nyata. Aku sempat membayangkan hal seperti ini beberapa kali, tapi dalam bayanganku aku tidak sendirian menjalaninya. Aku sempat mengira seseorang akan menemaniku.
Bagaimana kalau mereka tidak bisa menemukan detak jantungnya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Aku tak ingin menghadapinya sendirian.
Dokternya masuk ke ruangan sambil tersenyum ramah.
"Kau kelihatan tegang. Ini merupakan saat yang membahagiakan. Semua organ vitalmu dalam kondisi bagus. Tidak perlu merasa gugup," dia meyakinkanku.
"Sekarang berbaringlah."
Aku melakukan seperti yang diperintahkan dan perawat itu menaruh kakiku di sebuah sandaran kaki.
"Kau tidak bisa melakukan USG dari luar agar bisa melihat serta mendengar detak jantungnya. Kami harus melakukan USG yang biasa disebut transvaginal yang artinya kami akan memasukkan sebuah alat melalui vagina. Namun karena kasusmu berbeda maka kami akan melakukannya dari belakang. Ini tidak akan menyakitkan. Kau hanya akan merasakan sedikit tekanan dari tongkatnya, itu saja," perawat itu menjelaskan padaku prosesnya.
Aku tidak memperhatikan dokter dan perawat itu. Bayangan tentang dokternya yang memasukkan sebuah tongkat ke dalam lubangku hanya membuatku merasa lebih tegang. Aku berusaha fokus pada layarnya.
"Oke, kita akan mulai. Tenang ya, jangan bergerak," perintah dokter itu.
Aku menatap layar hitam putih itu, menunggu dengan sabar untuk melihat sesuatu yang menampakkan seorang bayi. Sebuah suara detakan kecil terdengar menggema di ruangan itu dan rasanya seolah-olah jantungku sendiri berhenti berdetak mendengarnya.
"Apakah itu…?" tanyaku, dan mendadak tak mampu berkata apa-apa lagi.
"Ya, itu dia. Berdetak dengan bagus juga. Bagus dan kuat," dokter menjawab pertanyaanku.
Aku menatap ke arah layar dan perawatnya menunjuk sesuatu yang kelihatan seperti kacang kecil.
"Ini bayinya. Ukurannya sempurna untuk usia sepuluh minggu."
Aku tak bisa menelan gumpalan di tenggorokanku. Air mata bercucuran dipipiku tapi aku tak mempedulikannya. Aku hanya berbaring dengan tertegun sambil menatap keajaiban kecil di layar itu sementara detak jantungnya bergema di dalam ruangan.
"Kau dan bayimu sama-sama dalam keadaan yang sangat bagus," kata dokter itu sembari menarik alat itu keluar dengan perlahan dan perawat membantu membetulkan jubah rumah sakitku lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku duduk.
"Biasanya akan keluar sedikit flek setelah melakukan USG ini, hal itu normal, jadi tak perlu merasa khawatir," kata dokter itu sembari berdiri dan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Tetap rutin minum vitamin kehamilanmu dan kembali lagi untuk kunjungan berikutnya empat minggu dari sekarang."
Aku mengangguk. Aku masih merasa terkagum-kagum.
"Ini untuk Anda," kata perawat itu sembari menyerahkan beberapa foto kecil dari hasil USG-ku.
"Ini untukku?" tanyaku sembari menatap foto bayiku.
"Tentu saja," jawabnya dengan nada suara geli.
"Terima kasih," kataku sembari menatap satu persatu dan menemukan kacang kecil itu yang aku tahu hidup di dalam perutku.
"Sama-sama."
Dia menepuk lututku pelan.
"Sekarang kau boleh berganti pakaian. Hasilnya tampak bagus."
Aku mengangguk dan mengusap satu lagi air mata yang mengalir jatuh di pipiku.
.
.
.
JIMIN POV
"Dia ada dimana, Jin?" aku mendesaknya sembari berjalan keluar dari kamar Yoongi dan memegang ponselnya.
Dia sudah meninggalkannya di sana.
Jin membentakku dan menutup pintu lemari dengan membantingnya.
"Kenyataan bahwa muka memelasmu mengatakan bahwa kau tak tahu dimana dia berada hanya membuatku semakin membencimu."
Sialan, apa sih yang salah dengan dirinya? Aku sudah mengalami hari yang sangat menyebalkan. Mereka semua menjadi murka ketika aku memberitahukan pada ibuku bahwa dia harus mencari rumah lain untuk tinggal dan kemudian memberitahukan pada mereka semua bahwa aku akan menikahi Yoongi.
Well, tidak semuanya bersikap seperti itu. Ayah Yoongi tampak baik-baik saja menerima berita itu. Taehyung dan ibuku yang sangat marah. Kami saling berteriak marah selama beberapa jam dan aku membuat ancaman serius kepada mereka.
Taehyung seharusnya pergi rumah itu untuk kembali bersekolah di hari senin. Dia akan pergi sampai libur musim dingin dan aku yakin dia akan menghabiskan liburannya bersama teman-temannya di Canada. Itu yang biasanya dia lakukan setiap tahunnya. Biasanya aku juga pergi ke sana, tapi tidak tahun ini.
"Aku harus berurusan dengan ibu dan adikku selama empat jam terakhir ini. Mengusir Hyori keluar dari rumahku dan memberitahunya dan Taehyung bahwa aku bermaksud untuk melamar Yoongi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Jadi maafkan aku kalau aku butuh informasi untuk mengingatkanku tentang keberadaan Yoongi sekarang!"
Jin menaruh botol airnya di meja dapur dengan kasar dan ekspresi kemarahannya berubah menjadi lebih mirip ekspresi jijik terhadap sesuatu. Kukira kalau dia sudah tahu bahwa aku akan melamar Yoongi, dia akan menjadi lebih senang. Tampaknya dugaanku salah.
"Kuharap kau belum membeli sebuah cincin," hanya itu yang terucap darinya.
Aku lelah menghadapi sikapnya.
"Katakan padaku dimana dia sekarang," aku menggeram.
Jin menaruh kedua tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya sembari menatapku dengan tatapan keji yang aku tidak tahu bisa dilakukan seorang manusia.
"Bukankah sudah kuperingatkan agar tidak membuat Yoongi tertekan tuan Park Jimin? Kau hanya bisa membuatnya stress, kau tahu itu. Persetan denganmu."
Sial. Apa yang memangnya sudah kulakukan?
Pintu terbuka dan Yoongi berjalan masuk sembari tersenyum hingga akhirnya bertatapan mata denganku. Lalu senyum di wajahnya segera menghilang. Dia juga marah padaku. Ini pertanda jelek.
"Yoongi," kataku sembari berjalan ke arahnya dan dia mulai melangkah mundur.
"Jangan," jawabnya sembari menaruh ke dua tangannya di depannya untuk mencegahku mendekatinya.
Dia sedang memegang sesuatu. Sepertinya beberapa foto. Sialan, foto apa yang sedang dia pegang? Apakah itu foto dari masa laluku? Apakah dia marah tentang beberapa pria yang pernah kutiduri di masa lalu?
"Apa itu seperti dugaanku?" tanya Jin sembari mendorongku untuk menyingkir dari jalannya dan berlari menuju Yoongi.
Yoongi mengangguk dan menyerahkan foto-foto itu padanya. Jin menutup mulutnya yang ternganga kagum.
"Oh Tuhanku. Apa kau mendengar detak jantungnya?"
Ketika mendengar kata 'detak jantung' dadaku serasa dibelah hingga terbuka lebar. Aku mulai memahami apa yang terjadi.
Ini hari kamis. Hari ini jadwal kunjungan Yoongi ke dokter. Dia tadi meneleponku untuk mengingatkanku soal itu dan aku malah menutup teleponnya.
"Yoongi baby, ya Tuhan, aku sangat menyesal. Aku sedang berurusan dengan…"
"Keluargamu. Aku tahu itu. Taehyung yang memberitahukan padaku ketika aku meneleponmu lagi. Aku tak mau mendengar alasanmu. Aku hanya ingin kau pergi dari sini."
Nada suaranya datar. Tak terdengar satupun emosi di dalamnya. Dia mengalihkan perhatiannya kembali ke foto-foto itu dan Jin lalu menunjuk sesuatu.
"Ini dia bayinya. Bisakah kau percaya bahwa dia ada di dalam perutku?"
Ekspresi marah di wajah Jin ketika menatapku sekejap menghilang ketika dia melihat foto itu dan kemudian tersenyum lembut.
"Ini mengagumkan."
Mereka berdiri di sana menatap foto-foto bayiku. Yoongi sudah mendengar detak jantungnya hari ini. Sendirian. Tanpa ditemani olehku.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanyaku sembari khawatir dia akan berkata 'tidak', atau parahnya lagi, mengacuhkanku.
Dia justru mengambil foto-foto itu dari Jin dan menyerahkannya padaku.
"Benda kecil yang terlihat seperti kacang kecil itu. Itu… bayi kita," dia menyelesaikan kalimatnya.
Dia tampak enggan untuk menyebutnya 'bayi kita'. Aku tak bisa menyalahkan sikapnya.
"Apakah jantungnya baik-baik saja? Maksudku, apakah jantungnya berdetak dengan bagus dan semacamnya?" tanyaku sembari menatap foto di tanganku.
"Ya. Mereka bilang semuanya sempurna," jawabnya.
"Kalau kau mau kau bisa menyimpan yang satu itu. Aku punya tiga foto lainnya. Tapi aku ingin kau segera pergi dari sini sekarang juga."
Aku tidak akan pergi. Postur tubuh Jin yang seperti menjaganya juga tak akan mampu menghentikanku. Aku akan mengatakan semuanya di depan Jin kalau memang harus begitu tapi aku menolak untuk pergi dari sini.
"Ibuku dan ayahmu datang tak diundang hari ini. Taehyung pergi untuk mulai kuliahnya hari senin. Ibu mengira bahwa aku juga akan pergi dari rumah itu jadi dia ingin pindah kembali selama setahun ke depan. Aku memberitahukan padanya bahwa aku tak akan pergi dari rumah itu dan dia harus mencari tempat tinggal yang lain. Aku juga memberitahukan pada mereka bahwa aku akan tetap tinggal di rumah itu sampai kau yang memutuskan ingin pindah ke tempat lain. Aku juga memberitahu mereka bahwa aku bermaksud melamarmu..."
Aku berhenti sejenak dan melihat wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Bukan reaksi yang kuharapkan.
"Prosesnya tidak berjalan mulus. Ada banyak teriakan. Berjam-jam berteriak dan saling mengancam. Ketika kau meneleponku, aku baru saja memberitahukan kepada mereka bertiga bahwa aku akan menikahimu. Dan semuanya berubah menjadi semakin kacau. Aku berencana meneleponmu kembali setelah ibuku dan Jiwon masuk ke mobil mereka dan pergi keluar dari kota ini. Aku tak mau kau harus berhadapan dengan satupun dari mereka. Tapi ibuku tidak menyerah dengan mudah. Taehyung sudah berkemas dan pergi untuk bersiap sekolah sore ini. Dia tak mau bicara denganku lagi."
Aku berhenti dan menarik nafas.
"Aku tahu bahwa permintaan maafku tak akan pernah cukup. Kenyataan bahwa aku lupa tentang jadwal kunjunganmu ke dokter hari ini adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. Tapi aku tetap harus meminta maaf padamu. Aku berharap aku bisa berhenti mengacaukan segalanya."
"Kau tadi tidak sedang makan siang bersama dengan keluargamu?" tanyanya.
"Keluargaku? Apa? Tidak!"
Postur tubuhnya yang tegang seketika menjadi santai.
"Oh," dia berkata sambil menghembuskan nafas.
"Kenapa kau kira aku akan pergi makan siang bersama mereka? Aku tak akan menutup teleponmu hanya untuk menghabiskan waktu bersama mereka."
"Taehyung," dia menjawab sambil tersenyum sedih.
"Taehyung? Sial, kapan kau berbicara dengannya?"
Aku selalu bersama Taehyung sepanjang pagi ini.
"Ketika aku meneleponmu lagi. Taehyung yang mengangkat teleponnya dan mengatakan bahwa kau tidak punya waktu untukku karena kau akan pergi makan bersama keluargamu."
Adik kecilku yang pembohong itu sebaiknya lega pantatnya sudah menuju ke ibukota Seoul hari ini karena aku akan mencekik lehernya kalau nanti aku bertemu dengannya.
"Kau tadi pergi ke dokter dengan pikiran bahwa aku mengabaikan kau dan bayi kita demi mereka? Sial!"
Aku mendorong Jin untuk menyingkir dari jalanku dan memeluk Yoongi.
"Kaulah keluargaku, Yoongi. Kau dan bayi ini. Kau dengar aku? Hari ini aku melewatkan sesuatu yang tak akan pernah bisa kumaafkan. Aku ingin berada di sana dan mendengar detak jantungnya. Aku ingin menggenggam tanganmu ketika kau melihat anak lelaki kita untuk yang pertama kalinya."
Yoongi mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepadaku.
"Kau tahu kan kalau anak kita bisa saja perempuan."
"Ya, aku tahu."
"Makanya berhenti menyebutnya anak lelaki kita," jawabnya.
Aku tadi menyebutnya anak lelaki kita. Aku tersenyum lalu mencium keningnya.
"Bisakah kita kembali ke kamarmu dan kau ceritakan padaku tentang kunjunganmu tadi? Aku ingin mendengar semuanya."
Dia mengangguk dan menatap sekilas ke arah Jin.
"Apa kau akan terus menatapnya sinis begitu atau akan memaafkannya?"
Jin mengangkat bahunya tak peduli.
"Aku tidak tahu. Yang aku pastikan selama kau aman dan nyaman aku akan berusaha menahan diriku agar tidak membunuhnya."
-TBC-
[Update time: Sunday, August 21th 2016]
.
Preview: Chapter 18
-Yoongi POV-
Apakah aku menginginkan ini? Ya. Apakah aku mempercayainya?... Ya.
Apakah dia siap? Aku tidak yakin. Aku tidak ingin ini menjadi sesuatu yang dia lakukan karena dia merasa tertekan.
Rasanya mudah untuk meraih dan memakaikannya di jariku. Tapi apakah itu yang Jimin inginkan?
.
-Jimin POV-
"Dia tidak terbuat dari Cina. Dia tidak akan pecah. Apakah dia tahu kau memperlakukannya seperti boneka?"
"Ya, aku tahu. Kami baik baik saja akan hal itu," jawab Yoongi saat dia mendatangi meja kami dan menuangkan kopi di cangkirku.
