Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 18

YOONGI POV

Musim sekolah sudah dimulai. Para turis dan orang pecinta musim panas telah pulang ke rumah. Klub tidak begitu ramai lagi karena itulah jumlah tipnya menurun. Hal terbesar adalah Jimin tidak membahas lagi tentang lamaran sejak malam di kondo ketika dia bilang apa yang dia katakan pada ibunya, adiknya dan ayahku. Dia tidak pernah menyebut mereka lagi. Aku kadang kala bertanya-tanya jika suatu saat dia berubah pikiran atau kalau aku hanya membayangkannya.

Jika bukan karena Jin yang menanyakankanku setiap minggu apakah Jimin telah membicarakannya lagi aku akan berfikir itu adalah bagian dari imajinasiku. Setiap kali aku mengatakan pada Jin bahwa Jimin tidak bilang dia menjadi semakin gelisah.

Belum lagi hatiku menjadi semakin terluka dengan pemikiran-pemikiranku yang sejauh ini menjadi semakin sensitif. Jin bilang ini salah satu pengaruh lain dari hormon kehamilanku.

Aku takut Jimin terus-menerus memikirkan soal lamaran itu dan memutuskan bahwa itu adalah suatu kesalahan. Sejujurnya sebelum dia mengatakannya malam itu aku bahkan tidak membiarkan diriku percaya bahwa dia ingin menikahiku.

Aku membayangkan kami membesarkan bayi ini dari dua rumah yang berbeda. Jika pikiranku pergi ke masa depan maka aku akan membendungnya karena kacaunya pemikiranku sekarang, dan itu bukanlah sesuatu yang aku harapkan.

Jam kerjaku dikurangi karena sepinya tamu di klub dan aku bertanya-tanya apakah aku butuh pekerjaan kedua. Tidak banyak pillihan di sini. Tetapi sepertinya Jimin tidak akan menerima ideku dengan baik.

Ketika aku melangkah ke dalam kamarku ada dua benda yang menarik perhatianku. Ada bunga mawar di ranjangku dan di tengahnya ada amplop yang bertuliskan namaku dengan rapi di depannya. Aku mengambil dan membukanya. Kertas surat itu terasa mahal dan nama 'Park' ada diatasnya.

.

Temui aku di pantai.

Aku mencintaimu,

-Jimin

.

Tulisan tangannya yang tidak biasa membuatku tersenyum. Aku pergi ke lemari dan mengeluarkan kemeja terbaikku. Ya aku masih menyimpan kemeja itu. Kemeja yang memberiku kenangan pertamaku di Jeju bersama Jimin. Jika dia merencakan suatu hal romantis di pantai aku tidak akan memakai baju kerjaku.

Setelah menyisir rambutku dan bercermin meyakinkan bahwa aku sudah terlihat rapi, aku berjalan menuju ke pintu yang menghadap ke teluk dan menuju pantai. Jimin sudah di sana, memakai celana jins pendek dan kemeja berkerah. Aku senang aku berganti pakaian.

Dia membelakangiku dan tangannya berada di sakunya saat dia berdiri disana menatap laut. Aku ingin berhenti dan mengaguminya yang sedang mengagumi laut tetapi aku juga ingin sekali melihatnya. Dia sudah pergi ketika aku bangun pagi ini dan aku merindukannya.

Aku keluar dari jalan setapak dan berjalan di pasir. Ini adalah kesunyian yang aneh kecuali bagi kami berdua. Meskipun di luar sana keramaian mulai reda, suhunya tetap panas dan matahari bersinar di luar sana.

Menatap ke bawah aku menyadari sesuatu di pasir. Seseorang menulisnya. Dan ada tongkat tergeletak di sana. Aku berhenti dan membacanya dengan suara yang cukup keras,

"Min Yoongi, maukah kau menikah denganku?"

Saat kata-kata itu terucap, Jimin menoleh kepadaku, lalu berjalan mendekat dan berlutut di depanku. Sebuah kotak kecil nampak ditangannya dan dia membukanya perlahan ketika cincin berlian itu menangkap sinar matahari yang memudar. Cincin itu nampak hidup seolah cincin itu bersinar.

Ya, ini terjadi.

Apakah aku menginginkan ini? Ya. Apakah aku mempercayainya?... Ya.

Apakah dia siap? Aku tidak yakin. Aku tidak ingin ini menjadi sesuatu yang dia lakukan karena dia merasa tertekan.

Rasanya mudah untuk meraih dan memakaikannya di jariku. Tapi apakah itu yang Jimin inginkan?

"Kau tidak perlu melakukannya," aku memaksakan diriku untuk menatapnya.

Dia tidak berbicara pada adik atau ibunya seminggu ini. Sebesar apapun aku tidak menyukai mereka... aku tidak membenci mereka, aku tidak ingin menjadi penghalang antara dia dan keluarganya.

Jimin menggelengkan kepalanya,

"Tidak, aku tidak perlu melakukan apa-apa. Tapi aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu. Tidak ada selain kamu, Yoongi."

Kata-katanya adalah kata-kata yang tepat. Aku tetap merasa seolah masih ada sesuatu yang salah. Dia tidak mungkin menginginkan ini. Dia muda, kaya dan mengagumkan. Aku tidak punya apa-apa untuk kuberikan padanya. Aku akan mengikatnya. Mengubah dunianya.

"Aku tidak bisa melakukan ini padamu. Aku tidak bisa menghalangi masa depanmu. Kau bisa melakukan apapun. Aku berjanji padamu aku akan membiarkanmu menjadi bagian dari kehidupan bayi kita. Itu tidak akan berubah ketika kau merasa seolah kau siap untuk pergi. Aku akan selalu mengijinkanmu."

"Jangan bilang apa-apa lagi. Aku bersumpah Yoongi, beberapa saat lagi aku akan melemparkanmu ke laut."

Dia berdiri dan matanya menatap mataku.

"Tidak pernah ada pria yang dapat mencintaimu seperti aku mencintamu. Tidak ada yang lebih penting darimu. Tidak ada yang lebih pantas menyandang nama 'Park' selain kamu. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan untuk membuktikan padamu bahwa aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi. Aku tidak akan melukaimu. Aku tidak akan sendirian lagi. Aku membutuhkanmu. Aku ingin kamu menjadi Park Yoongi, belahan jiwaku, pendamping hidupku, selamanya."

Mungkin ini tidak benar dan mungkin aku membuat kesalahan tapi kata-katanya menyentak sudut hatiku. Aku mengambil kotak dari tangannya dan mengangkat cincin itu keluar.

"Ini cantik," kataku padanya sambil menahan airmataku agar tidak jatuh.

Cincin itu memang sangat cantik. Tidak terlalu mencolok atau berlebihan. Cincin itu sederhana.

"Tidak ada yang lebih pantas selain di jarimu agar keindahannya menjadi sempurna," jawabnya dan mengambil cincin itu dari tanganku.

Kemudian dia kembali berlutut dan tatapannya bertemu denganku.

"Kumohon, Yoongi, Sayangku, maukah kau menjadi pendamping hidupku?"

Aku menginginkan ini. Aku menginginkan dia.

"Ya," kataku dan dia menyelipkan cincin itu di jariku, airmata jatuh lolos dari mataku tak terbendung.

"Terima kasih Tuhan," bisiknya kemudian berdiri dan menangkap mulutku dengan ciuman lapar.

Ini nyata dan mungkin ini tidak akan terjadi selamanya tapi ini adalah milikku sekarang. Aku akan menemukan cara untuk membiarkan dia pergi jika dia menginginkannya. Tapi aku mencintainya. Itu tidak akan pernah berubah.

"Pindahlah bersamaku," dia memohon.

"Aku tidak bisa. Aku harus membayar setengah dari uang sewa," aku mengingatkannya.

"Aku sudah membayar uang sewa kondomu selama setahun penuh. Setiap uang yang kau berikan pada Jungkook sudah disimpan di akun bank dengan namamu. Begitu juga Jin. Sekarang, tolong, tinggallah bersamaku."

Aku ingin marah padanya tapi sekarang aku tidak bisa. Aku terlalu bahagia. Aku menekankan ciuman lagi di bibirnya dan kemudian mengangguk.

"Dan tolong berhentilah bekerja," dia menambahkan.

"Tidak," jawabku.

Aku tidak akan melakukan itu.

"Kau tunanganku sekarang. Kau akan menjadi 'istri'-ku. Kenapa kau ingin bekerja di klub? Tidakkah kau menginginkan hal lain? Bagaimana dengan kuliah? Kau mau melanjutkan pendidikan diplomatmu? Apakah ada gelar yang kau inginkan? Aku tidak akan mencoba untuk mengambil pilihanmu, aku hanya ingin memberimu lebih banyak lagi semua yang kubisa."

Aku akan menjadi istrinya. Kata-kata itu tenggelam saat aku menatapnya. Aku bisa mendapatkan gelar dan memiliki pekerjaan.

"Aku menginginkannya. Hanya saja... biarkan aku memikirkannya. Ini terlalu banyak, terlalu cepat," kataku, membungkuskan lenganku ke tubuhnya.

.

.

.

JIMIN POV

Yoongi bertekad untuk tetap bekerja keras di klub golf. Aku tidak akan berdebat dengannya. Dia setuju untuk semua yang aku minta. Aku tidak akan memaksakan keberuntunganku. Aku duduk di meja dengan laptop dan secangkir kopi menunggunya selesai bekerja.

Jungkook berhenti untuk menyapa dan mengobrol denganku selama beberapa menit tapi selain itu semua tenang sepanjang sore ini. Kebanyakan orang pergi keluar kota.

"Apakah kursi ini ada yang punya?"

Aku mengangkat kepalaku untuk melihat Luhan duduk di kursi di sampingku. Aku jarang melihatnya sejak perlombaan golf. Aku menatap pada Yoongi yang sedang mengisi air minum seseorang tetapi matanya tertuju padaku.

"Ya, sudah," jawabku tanpa melihat pada Luhan.

"Aku tahu kau bertunangan dengan pria pirang itu. Semua orang tahu itu. Aku disini tidak untuk menggodamu," jawabnya.

Yoongi tersenyum padaku dan berbalik menuju ke dapur. Sial. Apa arti senyuman itu?

"Dia punya cincin berlian besar di tangannya. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan dan dia tahu itu. Tenang, kawan. Kau ketakutan pada hal yang tidak penting."

Aku mengalihkan perhatianku pada Luhan,

"Dia tahu kau pria pertamaku. Itu mengganggunya."

Luhan tertawa,

"Aku bisa meyakinkanmu kalau memori yang aku miliki dari pengalaman kita dan kenyataaan yang dia hadapi benar benar berbeda. Aku mendapat perjaka yang terangsang. Dia punya yang profesional."

Aku berbalik untuk melihat jika Yoongi ada di belakang sana. Aku tidak ingin dia mendengar ini.

"Duduklah di tempat lain. Dia sedang emosional sekarang. Aku tidak ingin dia marah."

Tidak ada yang tahu dia sedang hamil. Aku akan membiarkan Yoongi yang memutuskan kapan untuk mengatakan pada orang-orang.

"Dia tidak terbuat dari Cina. Dia tidak akan pecah. Apakah dia tahu kau memperlakukannya seperti boneka?"

"Ya, aku tahu. Kami baik baik saja akan hal itu," jawab Yoongi saat dia mendatangi meja kami dan menuangkan kopi di cangkirku.

"Aku tidak percaya kita belum pernah berkenalan. Aku Min Yoongi."

Luhan mencuri pandang sesaat ke arahku kemudian berbalik pada Yoongi,

"Aku Oh Luhan, dulunya, sekarang Lu han, hanya Luhan."

"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Luhan. Bisakah aku membawakanmu minuman?"

Ini bukan seperti yang kuharapkan. Bukan karena aku tidak menyukai ini, tapi aku sangat menyukainya. Kepercayaan diri yang muncul darinya. Itu artinya aku membuatnya merasa lebih aman bersamaku.

"Jika aku meminta diet coke apakah dia akan mengejekku?" tanya Luhan.

Yoongi tertawa dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Dia akan jadi pria yang baik. Aku janji."

Kemudian dia menatapku,

"Kau lapar?"

"Belum terlalu lapar," aku meyakinkannya.

Dia mengangguk dan berjalan menuju dapur.

"Aku mungkin sedikit jatuh cinta padanya. Dia seksi. Tapi kemudian ada seseorang yang sudah mengikatnya dan itu kamu, kalian sudah punya paket yang lengkap."

Tertawa mendengar perkataan Luhan, aku menyesap kopiku. Kemudian menatap pada arah pintu menunggu Yoongi berjalan masuk lagi. Aku tidak sabar membawanya pulang.

.

.

.

Yoongi tetap bersandar pada kursi sambil menekankan ciuman pada leherku dan menggigit telingaku. Sulit sekali rasanya untuk tetap fokus dalam perjalanan pulang.

"Aku sudah siap untuk menepi dan bercinta dengan tunangan mungilku yang terangsang jika dia tidak berhenti," aku memperingatkan, menggigit bibir bawahnya ketika ciumannya berada terlalu dekat di mulutku.

"Terdengar seperti janji dari pada tantangan," katanya, menyelipkan tangannya diantara pahaku dan menangkup ereksiku.

"Sial, Sayang, kau membuatku gila," aku menggeram, menekan tanganku ke tangannya yang menyentuh milikku.

"Jika aku menghisapnya bisakah kau berkonsentrasi untuk menyetir?" tanyanya saat dia mulai membuka celana jeans-ku.

"Aku lebih suka membawa kita berdua di bawah pohon palem tapi aku tidak peduli lagi sekarang. Lakukanlah, baby," jawabku saat tangannya meluncur ke bawah di depan celana dalamku.

Untungnya, kami tidak akan ketahuan. Aku memasuki jalanan menuju rumah dan mematikan mobil di taman ketika Yoongi baru saja melepas celanaku.

Teleponku berbunyi untuk ketiga kalinya. Aku membuat ponselku dalam mode getar dan layar mati jadi itu tidak akan mengganggu kami dengan kilatan cahaya pada layarnya. Ibuku telah meneleponku tadi ketika aku menunggu Yoongi dan aku sedang tidak ingin menjawabnya.

Hanya sekali ponsel itu berhenti kemudian bergetar lagi. Sialan. Aku akan mematikannya atau berurusan dengan ibuku.

Yoongi memegang penis-ku ditangannya jadi aku berfikir kalau mematikan ponsel itu adalah yang terbaik. Menatap ponsel itu aku tahu telepon itu berasal dari nomor luar kota yang terlihat di layarku. Kode areanya tidak asing tapi aku tidak bisa mengetahuinya.

"Siapa itu?" tanya Yoongi.

"Tidak tahu, tapi mereka memutuskannya."

Yoongi berhenti menyentuhku,

"Jawab saja. Aku bisa menunggu."

Aku menekan tombol jawab. Aku perlu melemparkan mereka dan mendapatkan priaku. Tapi sebelum aku berkata halo, ibuku mulai berbicara di sana dan seketika duniaku hancur berkeping keping.


-TBC-

[Update time: Rabu, 24.08.2016]

.

Preview: Chapter 19

-Yoongi POV-

"Aku hanya butuh kau keluar dari mobil dan masuk ke rumah. Aku akan menghubungi ketika sempat namun aku harus pergi, sekarang."

"Apakah dia terluka? Bolehkah aku pergi bersamamu?"

"Tidak!" raungnya, masih memandang lurus ke depan.

.

-Jimin POV-

Tubuhnya yang diam di tempat tidur dengan kain kasa melilit kepala dan jarum di lengan membuatnya seolah-olah dia sudah meninggal. Kata-kata terakhir yang aku ucapkan padanya sudah cukup keras. Kata-kataku sekarang tampak kejam.