Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 19

YOONGI POV

Wajah Jimin berubah pucat. Aku memegang tangannya namun dia tidak bereaksi. Dia duduk di sana mendengarkan orang yang sedang berbicara pada ujung telepon satunya tanpa berkata sepatah pun. Semakin lama mereka berbicara semakin putih wajahnya. Jantungku bergemuruh.

Sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Aku terus menunggunya mengatakan sesuatu. Apa saja. Namun tidak dia lakukan.

"Saya dalam perjalanan," tukasnya dengan nada datar sebelum menjatuhkan ponselnya ke atas pangkuannya dan memindahkan tangannya dari cengkeramanku untuk memegang roda kemudi dengan amat erat.

"Ada apa, Jimin?" tanyaku yang saat ini semakin ketakutan daripada yang kurasakan ketika dia sedang menelepon.

"Masuklah ke dalam rumah, Yoongi. Aku harus pergi. Taehyung mengalami kecelakaan. Perahu layar brengsek."

Dia memejamkan matanya kuat-kuat dan menggumamkan makian.

"Aku hanya butuh kau keluar dari mobil dan masuk ke rumah. Aku akan menghubungi ketika sempat namun aku harus pergi, sekarang."

"Apakah dia terluka? Bolehkah aku pergi bersamamu?"

"Tidak!" raungnya, masih memandang lurus ke depan.

"Kau tidak bisa ikut denganku. Kenapa kau sampai menanyakan hal itu? Adikku berada di ICU dan tidak responsif. Aku harus berada bersamanya dan aku ingin kau keluar dari mobil."

Dia terluka dan ketakutan. Aku memahaminya. Namun aku ingin berada di sana untuknya. Aku mencintainya dan aku tidak ingin dia terluka seorang diri.

"Jimin, kumohon ijinkan aku ikut denganmu…"

"KELUAR DARI MOBIL!" Jimin berteriak dengan sangat kencang yang menyebabkan telingaku berdenging.

Aku segera memegang pegangan pintu dan menyambar tasku. Dia menyalakan mesinnya dan terus menatap lurus ke depan sementara buku-buku jarinya berubah menjadi seputih wajahnya akibat kencangnya cengkeraman Jimin pada roda kemudi. Aku ingin mengatakan hal yang lain namun dia sangat gusar.

Aku takut pada apa yang mungkin akan dia lakukan. Dia tidak ingin mendengarku berbicara dan juga dia tidak ingin melihatku. Aku tidak ingin menangis dihadapannya. Itu bukanlah yang dibutuhkannya saat ini.

Aku keluar dari mobil secepat yang aku bisa. Sebelum pintu mobil tertutup sepenuhnya dia memundurkan mobil dan melesat pergi. Aku hanya berdiri terpaku di sana dan menyaksikan dia menjauh.

Aku tidak mampu membantunya. Aku tidak diinginkan. Airmataku mengalir dengan deras sekarang. Dia sedang terluka. Hatiku hancur untuknya. Begitu dia tiba di sana dan melihat Taehyung dia akan meneleponku. Aku harus meyakini hal itu. Aku ingin menghubunginya namun telingaku masih berdenging dan hatiku masih sakit karena perkataannya.

Akhirnya aku berbalik untuk menatap rumah. Rumah itu sangat besar, luas, dan gelap. Tanpa kehadiran Jimin, tidak ada aura keramahan yang menyambut. Aku tidak ingin tinggal di sana sendirian tapi aku pun tidak memiliki mobil yang dapat kukendarai menuju apartemen Jin.

Seharusnya aku tidak pindah dari sana. Terlalu cepat. Segalanya bersama Jimin telah bergerak sangat cepat. Sekarang, semuanya sedang diuji. Aku tidak yakin siap akan ujian tersebut. Belum saatnya.

Menelepon Jin dan mengatakan padanya bahwa aku butuh tumpangan ke tempat kerja dan kepergian Jimin bukanlah sesuatu yang ingin aku hadapi malam ini. Dia pasti akan menemukan ada sesuatu yang salah dengan hal ini dan akan membuatku merasa lebih buruk.

Aku mengerti ketakutan yang Jimin rasakan dan caranya bereaksi namun tidak demikian halnya dengan Jin. Setidaknya kupikir dia tidak akan paham. Jimin telah memenangkan beberapa poin mengenai dirinya di mata Jin ketika dia menyematkan cincin di jariku dan aku ingin tetap seperti itu.

Kubuka tasku untuk mengeluarkan kunci saat kusadari aku tidak membawanya. Jimin telah mengantarku ke tempat kerja. Aku tidak berpikir akan membutuhkannya. Melihat lagi ke rumah yang gelap aku hampir merasa lega tidak perlu tinggal di sana seorang diri malam ini.

Klub hanya berjarak tiga mil dari sini. Aku bisa berjalan kaki dengan jarak itu. Kemudian ke apartemen Jin hanya membutuhkan jalan kaki yang sangat singkat dari klub. Hembusan angin malam telah menyejukkan segalanya dan itu tidak terlalu buruk. Aku menyelipkan tali tasku melewati bahu dan mulai berjalan menuruni blok jalan masuk mobil ke arah jalan raya.

Membutuhkan waktu sekitar satu jam dan lima belas menit untuk sampai di apartemen Jin. Mobilnya tidak ada di lapangan parkir. Ada kemungkinan dia menginap di tempat Namjoon malam ini. Seharusnya hal itu terpikirkan olehku. Aku berhenti melangkah dan memandang pintu masuk kondo.

Aku sudah tidak memiliki energi untuk berjalan kembali ke rumah Jimin. Sikap keras kepalaku untuk tidak menelepon memohon tumpangan telah memperlihatkan konsekuensinya.

Aku membungkuk dan mengangkat keset. Di atas lempengan semen tersimpan kunci cadangan. Jin pasti menyimpannya di sana lagi setelah aku pindah. Dia berhenti menyembunyikan kunci tersebut di sana karena aku yang memintanya. Malam ini ternyata hal ini sangat membantu. Lagipula aku ragu dia akan pulang hingga besok. Aku tidak perlu menceritakan mengenai semuanya malam ini.

Kubawa masuk kuncinya bersamaku dan kemudian menuju kamarku untuk mandi. Jimin telah memaksa Jin untuk menyimpan tempat tidur yang dia belikan di kamar tidur kedua alih-alih membawanya ketika aku pindah. Satu hal lagi yang lain yang patut aku syukuri malam ini.

.

.

.

Aku berhasil berangkat kerja tanpa sepengetahuan Jin bahwa aku harus menginap di tempatnya tadi malam. Itu bukanlah karena kupikir dia akan mempermasalahkannya namun aku belum siap menjawab rentetan pertanyaannya atau mendengar pendapatnya.

Setelah berganti seragam bersih di ruangan persediaan aku berjalan menuju dapur. Sebelum aku meraih pintu Jungkook melangkah keluar dan mensejajarkan pandangannya denganku.

"Aku sedang mencarimu," ujarnya dan menganggukan kepalanya ke arah lorong yang menuju ruang kerjanya.

"Kita harus berbicara."

Dia mengetahui soal Taehyung. Aku sangat yakin semua orang dalam lingkaran sosial mereka tahu mengenai hal itu sekarang.

Apakah dia akan bertanya padaku mengenainya? Aku sangat berharap dia tidak melakukannya. Mengakui bahwa aku tidak tahu apa-apa membuatku terdengar tidak peduli. Apakah Jimin berpikir aku tidak peduli? Apakah kewajibanku untuk meneleponnya? Dialah yang sedang terluka.

Reaksinya semalam telah membuatku takut namun apabila dia membutuhkanku aku harus melupakan perbuatannya.

"Apakah kau ada tidur semalam?" Jungkook bertanya sembari menatapku.

Aku menganguk. Tidurku tidak terlalu nyenyak namun aku bisa tidur. Berjalan kaki sejauh tiga mil telah membantu membuatku kelelahan hingga ke titik dimana aku tidak mampu lagi membuka mata begitu aku berbaring.

Jungkook membuka pintu dan menahannya sehingga aku bisa masuk. Aku masuk dan melewatinya kemudian berdiri disamping kursi diseberang meja kerja Jungkook. Dia berdiri di depan mejanya dan duduk di tepi meja sembari menyilangkan tangan di dadanya. Dahinya berkerut saat dia mempelajariku.

Aku mulai mengira-ngira jika ini mengenai hal yang lain. Kupikir ini mengenai Taehyung namun mungkin juga bukan. Apakah aku telah berbuat kesalahan?

"Aku ditelepon oleh Hoseok tadi pagi. Dia ada di rumah sakit dan dia mengkhawatirkanmu. Dia berkata Jimin muncul di tengah malam buta dan dalam kemurkaan. Sepertinya pertama kali dalam kehidupan mereka, Taehyung dan Jimin dalam posisi saling tidak berbicara dan sekarang Taehyung berada pada kondisi ini, Jimin tidak dapat menerimanya dengan baik. Hoseok risau pada bagaimana cara dia meninggalkanmu dan apakah kau baik-baik saja."

Hatiku pilu. Aku benci mengetahui Jimin berada dalam kedukaan dan tidak ada yang dapat kulakukan. Dia tidak menghubungiku dan itu hanya membuatku yakin bahwa dia tidak ingin berbicara denganku.

Akulah penyebab keretakan hubungannya dengan Taehyung. Akulah alasan dia tidak berbicara dengan Taehyung selama berminggu-minggu. Akulah alasan dia harus melalui ini semua.

Air mataku menggenang. Walaupun aku sangat tidak ingin mengakuinya, aku adalah alasan yang membuat keadaan ini semakin sulit bagi Jimin. Jika saja aku tidak menyebabkan pertengkaran mereka maka Jimin tidak akan hidup dengan perasaan bersalah yang aku tahu saat ini sedang menggerogoti dirinya.

Inilah alasan mengapa hubunganku dan Jimin tidak akan pernah berhasil. Berpura-pura bahwa cerita negeri dongeng itu nyata memang luar biasa. Namun itu tidak pernah menjadi kenyataan. Kami telah mempertaruhkan waktu kami hingga kenyataan bahwa aku tidak pantas di dalam dunianya menghantam saat ini.

Jimin membutuhkan keluarganya sekarang. Aku bahkan tidak pernah diterima oleh keluarganya. Bagaimana mungkin aku pantas di dunianya?

"Aku… aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," aku berkata dengan suara tercekat, benci bahwa Jungkook akan melihatku menangis.

Aku tidak ingin dia melihatku menangis. Aku tidak ingin siapapun melihatnya.

"Dia mencintaimu," Jungkook berkata dengan lembut.

Aku bahkan tidak yakin dia pun mempercayai kata-kata itu. Tidak sekarang. Mungkin Jimin telah berpikir bahwa dia mencintaiku namun bagaimana mungkin dia masih mencintaiku? Akulah yang menyebabkan dia berpaling dari Taehyung dan sekarang dia mungkin akan kehilangannya.

"Benarkah?" itu adalah pertanyaan yang harus kuajukan pada diriku sendiri, bukan Jungkook.

"Ya. Aku belum pernah melihatnya dengan siapapun seperti caranya bersamamu. Saat ini… beberapa hari kedepan atau minggu atau berapapun lamanya ini berlangsung mungkin tidak akan terasa demikian. Namun dia mencintaimu. Dia seorang bajingan dan aku tidak berhutang apapun padanya. Aku mengatakan hal ini demi kau. Itu adalah kebenaran dan aku tahu kau butuh mendengar hal itu sekarang."

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak butuh mendengarnya. Berpikir jernih dan memutuskan hal terbaik untukku dan bayiku adalah apa yang harus aku lakukan.

Bisakah aku membawa seorang anak ke dalam keluarga yang mungkin tidak akan pernah menerimanya? Apabila aku tidak pernah sepadan lalu bagaimana anakku bisa?

"Aku tidak bisa mendiktemu tentang apa yang harus kau percayai. Namun jika kau memerlukan apapun, aku di sini. Aku tahu Jimin memiliki garasi yang penuh berisi mobil namun jika kau tidak ingin mengendarai salah satunya maka aku bisa memberimu tumpangan ke dokter atau toko. Telepon saja aku kalau kau membutuhkanku."

Janji temu dokterku yang berikutnya lima hari lagi. Bagaimana caraku masuk ke dalam rumah? Dan dia tidak pernah menunjukkan padaku dimana penyimpanan kunci mobil-mobilnya atau memberiku ijin untuk mengendarainya.

"Aku tidak dapat masuk ke rumah. Jimin pikir aku membawa kunciku ketika dia pergi," ujarku pada Jungkook.

"Di mana kau menginap semalam?" dia bertanya sembari menjatuhkan tangannya dari dada dan berdiri.

Dia terlihat marah. Aku tidak bermaksud membuatnya marah. Aku hanya mengatakan permasalahan yang kuhadapi. Semua pakaianku ada di rumah Jimin.

"Apartemen Jin."

"Bagaimana kau bisa sampai di sana?"

"Aku berjalan kaki."

"Sial! Yoongi, itu setidaknya berjarak tiga setengah mil. Ketika Jimin pergi semalam keadaan sudah gelap. Kau memiliki ponsel sekarang, gunakanlah," dia berseru.

"Aku ingin berjalan kaki. Aku butuh berjalan. Jangan meneriakiku," aku meningkatkan nada suaraku dan memelototinya.

Ketegangan yang melingkupi bahu Jungkook mereda dan dia menghela napas.

"Maafkan aku. Aku seharusnya tidak berbicara padamu seperti itu. Hanya saja kau sangat bersikukuh untuk selalu mandiri. Biar kujelaskan. Telepon aku kapanpun kau membutuhkan tumpangan. Aku sangat ingin menganggap bahwa kita berteman. Aku membantu teman-temanku…"

Aku membutuhkan teman.

"Aku sangat ingin kita berteman juga," jawabku.

Dia mengangguk,

"Bagus. Namun sebagai atasanmu aku tidak akan membiarkanmu bekerja hari ini. Aku akan mengantarmu ke rumah Jimin dalam satu jam. Aku akan mengantarmu ke sana."

Sebelum aku bisa bertanya bagaimana caraku masuk dia telah menempelkan ponselnya pada telinganya.

"Aku telah membawanya ke kantorku. Dia terkunci tidak bisa masuk ke rumah," dia jeda sejenak.

"Sungguh. Dia berjalan kaki ke apartemen Jin tadi malam. Aku akan mengantarnya ke sana jika kau bisa menghubungi pengurus rumah Jimin untuk membukakan pintu," dia diam lagi sejenak.

"Tidak masalah. Senang bisa membantu. Terus kabari aku mengenai perkembangannya, aku memikirkan kalian semua," dia memutuskan telepon dan menatapku.

"Hoseok akan menyuruh pengurus rumah membukakan pintu. Ambillah sesuatu untuk kau makan di dapur dan setelahnya kita berangkat. Hoseok bilang untuk memberi pengurus rumah tangga itu waktu sekitar dua puluh menit."

Aku sedang tidak lapar namun aku mengangguk saja,

"Oke."

Aku mulai melangkah menuju pintu kemudian berhenti dan berbalik untuk kembali memandangnya,

"Terima kasih."

Jungkook mengedipkan mata,

"Dengan senang hati."

.

.

.

JIMIN POV

Aku belum bisa memejamkan mata. Aku duduk di kursi kulit di samping tempat tidur rumah sakit dan menatap adikku. Dia tidak membuka matanya. Monitor berkedip dan berbunyi menandakan bahwa dia masih hidup.

Tubuhnya yang diam di tempat tidur dengan kain kasa melilit kepala dan jarum di lengan membuatnya seolah-olah dia sudah meninggal. Kata-kata terakhir yang aku ucapkan padanya sudah cukup keras. Kata-kataku sekarang tampak kejam.

Aku hanya ingin dia menjadi dewasa. Sekarang itu mungkin saja tak akan terjadi.

Kemarahan yang kurasakan ketika aku tiba telah tersingkir dariku ketika aku menjatuhkan pandangan padanya. Hanya melihatnya tak berdaya dan begitu sakit benar-benar menyiksaku.

Aku tidak bisa makan atau tidur. Aku hanya ingin agar dia membuka matanya. Aku harus mengatakan padanya aku mencintainya dan aku menyesal. Aku berjanji bahwa dia akan selalu mendapatkan perhatianku. Tak peduli apapun.

Lalu aku tersentak menjauh darinya. Karena dia tidak bisa menerima Yoongi. Perutku melilit memikirkan bagaimana aku meninggalkan Yoongi. Matanya terbelalak dan ketakutan. Aku salah telah meninggalkan Yoongi, tapi aku sendiri juga merasa ketakutan. Aku belum bisa meneleponnya.

Tidak bisa saat kondisi Taehyung seperti ini. Aku sudah memposisikan Yoongi di atas Taehyung dan lihat apa yang terjadi padaku. Kali ini Taehyung harus mendapat prioritas pertama. Jika Taehyung tahu kalau aku duduk di sini menunggunya membuka mata. Aku tahu dia akan selamat.

Pintu terbuka dan Hoseok melangkah masuk. Matanya langsung tertuju ke arah Taehyung. Rasa sakit yang melintas di matanya tidak mengejutkanku. Meskipun Hoseok bersikap seolah ia tidak suka pada Taehyung namun aku tahu dia peduli padanya.

Taehyung telah menjadi anak nakal yang butuh perhatian yang tidak mungkin untuk tidak disayangi ketika kami tumbuh besar. Ikatan seperti itu tak akan mungkin terputus.

"Aku baru saja berbicara dengan Jungkook. Yoongi tidak apa-apa. Tadi malam dia tidak bisa masuk ke dalam rumah tapi dia menginap di tempat Jin. Aku menelepon Kim ahjumma dan dia akan membukakan pintu rumah untuknya."

Dia bicara dengan pelan seolah-olah Taehyung akan bangun atau memarahinya karena membicarakan Yoongi.

Aku meninggalkan Yoongi berdiri sendirian di jalan masuk rumah tadi malam. Terima kasih Tuhan dia membawa ponsel. Membayangkan Yoongi sendirian dalam gelap sungguh tak mampu kutanggung saat ini.

"Apa dia marah?"

Sebenarnya apa yang sesungguhnya ingin kutanyakan adalah apakah ia marah padaku. Bagaimana mungkin dia tidak akan marah padaku? Aku lari meninggalkannya setelah membentaknya agar keluar dari mobilku. Ketika ibuku mengatakan padaku tentang Taehyung, sesuatu dalam diriku menyala dan aku kehilangan akal.

"Dia bilang dia akan menjaganya..."

Suara Hoseok melemah. Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Meninggalkan Jungkook sendirian menjaga Yoongi adalah sesuatu yang berbahaya. Ia kaya, sukses dan keluarganya tidak membencinya. Bagaimana jika Yoongi menyadari kalau aku membuang-buang waktunya?

"Dia hamil," kataku padanya.

Aku harus memberitahu seseorang.

"Oh sial," gumamnya dan jatuh terduduk di kursi plastik keras yang terletak di sudut ruangan.

"Kapan kau tahu?"

"Dia mengatakan padaku sesaat setelah dia kembali."

Hoseok menutup mulutnya dan menggeleng. Itu bukan sesuatu yang ia harapkan untuk didengar. Tapi kemudian dia juga tak tahu kalau kami sudah bertunangan. Hoseok sudah meninggalkan Busan ketika aku melamar Yoongi. Aku tidak memberitahunya.

"Itu kenapa kau melamarnya?..."

Itu sungguh bukan sebuah pertanyaan. Itu lebih mirip sebuah pernyataan.

"Bagaimana kau tahu tentang itu?"

Dia mengalihkan tatapan matanya ke arah Taehyung,

"Taehyung yang memberitahuku."

Aku yakin Taehyung perlu melampiaskan kekesalannya. Fakta bahwa dia memilih Hoseok sungguh sesuatu yang menarik. Biasanya mereka berdua saling bermusuhan. Jarang sekali mereka menghabiskan waktu yang berkualitas bersama-sama.

"Dia tidak senang tentang itu," kataku.

"Tidak, dia tidak senang," kata dia.

Aku memandang Taehyung dan memohon kepada Tuhan agar aku bisa menggantikan posisinya saat ini. Aku benci bahwa dia membutuhkanku dan ini adalah sesuatu tak bisa kuperbaiki untuknya.

Aku sudah memperbaiki masalah yang dihadapi Taehyung sepanjang hidupnya. Dan sekarang ketika ia sangat membutuhkanku yang bisa kulakukan hanyalah duduk di sini dan menatap tak berdaya.

"Dia pikir kau telah kehilangan akal. Jika dia tahu tentang bayi itu maka dia akan berpikir kalau kau melamar Yoongi hanya karena bayi itu."

"Aku tidak melamarnya karena bayi itu. Aku melamarnya karena aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku hanya perlu Taehyung memahami itu. Aku telah menghabiskan hidupku membuat agar Taehyung bahagia. Mencoba sekuat tenagaku untuk memperbaiki masalah yang dihadapinya. Aku adalah ibu dan ayah baginya. Dan sekarang ketika aku telah menemukan apa yang membuatku bahagia dia tidak bisa menerimanya."

Aku merasa tenggorokanku tercekat dan aku menggeleng. Aku tak akan menangis.

"Aku hanya ingin dia menerima bahwa Yoongi membuatku bahagia."

Hoseok menghela napas dalam-dalam,

"Kurasa lama kelamaan dia akan menerimanya. Taehyung juga ingin kau bahagia. Dia hanya berpikir dia tahu apa yang terbaik untukmu. Sama seperti kau pikir kau tahu apa yang terbaik untuknya."

Nada suara saat ia mengatakan bagian terakhir menghilang. Nada suaranya lebih dalam dari apa yang ia katakan. Atau aku hanya kelelahan dan aku hanya perlu tidur sejenak.

"Aku harap begitu," jawabku, lalu aku menyandarkan kepalaku di kursi dan memejamkan mata.

"Aku butuh tidur siang. Aku tidak bisa begini terus. Kepalaku semakin kabur."

Kursi yang ia duduki mengeluarkan suara gesekan di lantai saat ia berdiri. Aku mendengarkan saat dia berjalan melintasi ruangan menuju ke pintu.

"Tolong periksa keadaan Yoongi untukku," pintaku, membuka mataku untuk memastikan dia masih di sana dan mendengarku.

"Akan kulakukan," dia meyakinkanku kemudian berjalan keluar pintu.

.

.

.

Dua hari berikutnya masih belum ada tanda-tanda perbaikan. Taehyung belum siuman. Aku harus mandi dan berganti pakaian karena ibuku bersikeras. Aku tidak bisa bermusuhan dengannya dan khawatir tentang Taehyung disaat yang bersamaan. Aku hanya melakukan apa yang dia minta untuk membuatnya diam.

Hari ini Hoseok duduk di sini bersamaku sepanjang hari. Kami tidak banyak bicara tapi ditemani orang lain di sini cukup membantu. Ibuku mengatakan bahwa dia tidak bisa menghadapi ini dan tinggal di hotel sepanjang waktu.

Kadang-kadang Jiwon akan menjenguk untuk memeriksa, tapi aku tidak mengharapkan apapun darinya. Dia tidak pernah menjenguk putra yang ia besarkan. Pria itu kehilangan organ vital dalam dirinya, yaitu hati.

"Aku bicara dengan Yoongi hari ini," kata Hoseok, memecah kesunyian.

Hanya mendengar namanya membuatku nyeri. Aku merindukannya. Aku ingin dia di sini tapi itu hanya akan mengganggu semua orang. Aku menginginkan Taehyung membaik keadaannya. Ketika ia terbangun ia tidak perlu tahu kalau Yoongi ada di sini. Itu hanya akan membuatnya sedih.

"Kedengarannya dia seperti apa?"

Apakah dia membenciku?

"Baik. Kurasa. Mungkin sedih. Dia khawatir tentang kau dan Taehyung. Dia bertanya tentang Taehyung sebelum dia bertanya tentangmu. Dia juga... dia juga bertanya apakah ayahnya baik-baik saja hari ini. Aku tidak yakin kenapa dia peduli tapi dia menanyakannya."

Karena Yoongi peduli lebih dari yang seharusnya kepada semua orang. Termasuk diriku. Dia terlalu baik bagiku dan aku hanya akan terus menyakitinya.

Keluargaku tidak akan menerimanya. Ayah yang mencampakkannya dan kini menikah dengan ibuku. Gambaran itu mulai menggelinding dalam pikiranku. Apa yang kulakukan hanyalah menyakiti hatinya dalam jangka panjang.

"Dia punya janji dengan dokter hari ini. Jungkook mengatakan padaku dia mengantarnya. Yoongi tidak tahu kalau aku tahu tentang bayinya."

Pertemuan dengan dokter yang akan kulewatkan lagi. Berapa lama lagi ia akan menanggung keadaan seperti ini? Aku bilang padanya bahwa dia dan bayi kami adalah prioritas utama tapi ini kedua kalinya keluargaku mengalahkan pertemuan dengan dokternya. Dan kenapa Jungkook yang mengantarnya?

"Kenapa Jungkook yang mengantarnya? Aku punya tiga mobil di garasi."

Hoseok menatapku dengan pandangan kesal.

"Ya, kau punya. Tapi kau tidak pernah memberi izin untuk mengemudikan salah satu mobilmu dan tidak pernah mengatakan padanya di mana ia bisa menemukan kuncinya jadi dia tidak akan menyentuhnya. Jungkook sudah menjadi sopirnya sepanjang minggu."

Sial.

"Aku tahu kau terluka karena Taehyung. Dia seperti anakmu sendiri. Kau adalah satu-satunya orangtua yang pernah dia miliki. Tapi kalau kau tidak keluar dari keadaan ini dan menghubungi Yoongi aku tidak yakin kalau dia dan bayimu akan berada di sini ketika kau memutuskan untuk pulang. Tentu aku tidak ingin keponakanku memiliki nama belakang 'Jeon'," bentaknya dan berjalan keluar ruangan.


-TBC-

[Update time: TGif, 26.08.2016]

[Warning, mulai dr chapter ini, para reader-nim kuatkan hati, baper bapet n sumpah serapah diijinkan *beneran silahkan luapkan emosi anda*... Siap2 akan banyak part bombastis, termasuk 'kejelasan' masa lalu yg semakin jelas *apa sih*]

[Jangan khawatir seri ini genrenya bkn angst, jadi akan dipastikan Yoongi pasti bahagia kok. Cuma bahagia bersama siapa yaaa, Jimin kah? Jungkook kah?... hmmm silahkan ikuti terus ya kisah mereka :')]

.

Preview : Chapter 20

-Yoongi POV-

Kehamilanku berkembang dengan baik dan aku dipersilahkan pulang dengan satu temu janji lagi empat minggu dari sekarang. Berjalan kembali ke ruang tunggu aku menemukan Jungkook sedang membaca majalah Parenting.

Dia mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum malu-malu.

.

-Jimin POV-

"Kau harus meneleponnya," kata Hoseok, memecahkan kesunyian.

Aku tahu siapa yang ia bicarakan. Yoongi tak pernah meninggalkan pikiranku. Aku merasa bersalah karena aku duduk di sini menatap adikku dan yang ada di pikiranku hanya Yoongi.

"Aku tak bisa," jawabku, tak mampu menatap Hoseok.