Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 20

YOONGI POV

Aku duduk di ruang tunggu dan berusaha keras untuk tidak memandang pada wanita hamil disekitarku yang juga sedang menunggu. Ada dua wanita hamil di sini. Wanita diseberangku didekap erat oleh lengan suaminya. Dia terus menerus berbisik di telinga sang istri yang membuatnya tersenyum.

Tangan sang suami tidak pernah meninggalkan perutnya. Tidak ada keposesifan yang tampak dari perilakunya. Hanya sikap protektif. Seolah-olah sang pria melindungi istri dan anaknya hanya dari isyarat tubuh yang sederhana.

Wanita lainnya usia kehamilannya lebih tua daripada kami berdua dan bayinya bergerak. Kedua tangan suaminya berada di perutnya kala dia memandang istrinya dengan penuh kekaguman. Ada sorot pemujaan yang manis terlihat di wajahnya.

Mereka sedang berbagi momen dan hanya dengan melirik ke arah mereka saja membuatku merasa seakan-akan mengganggu momen itu.

Kemudian disinilah aku. Bersama Jungkook. Aku telah berkata padanya dia tidak perlu menemaniku namun dia bilang dia ingin melakukannya. Dia tidak akan ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan, karena aku tidak akan membiarkan dia melihatku hampir telanjang dalam balutan jubah katun pemeriksaan yang tipis, tapi dia akan duduk di ruang tunggu.

Dia telah mengambil untuk dirinya sendiri secangkir kopi yang disediakan secara gratis dan karena dia hanya menyesap kopinya sekali, aku berasumsi rasanya pasti memuakkan. Aku merindukan kopi. Mungkin kopi yang diminum Jungkook tadi terasa nikmat untukku. Aku harus membeli kopi non kafein.

"Min Yoongi," sang perawat memanggil dari pintu masuk yang mengarah ke ruang pemeriksaan.

Aku berdiri dan tersenyum pada Jungkook,

"Aku tidak akan lama."

Dia mengendikkan bahu,

"Aku sedang tidak terburu-buru."

"Suami anda bisa ikut masuk bersama anda," ujar sang perawat dengan ceria.

Secara langsung wajahku menghangat. Aku tahu tanpa harus melihat bahwa pipiku merona.

"Dia hanya seorang teman," dengan cepat aku mengoreksinya.

Kali ini sang perawat yang merona malu. Jelas sekali dia tidak membaca data diriku dan melihat bahwa aku menuliskan status masih lajang.

"Saya mohon maaf. Uh, dia bisa ikut masuk juga jika dia ingin mendengar detak jantung si bayi."

Aku menggeleng. Hal itu terlalu pribadi. Jungkook adalah seorang teman namun aku belum siap berbagi sesuatu sedemikian penting seperti detak jantung bayiku dengannya. Jimin bahkan belum pernah mendengar detak jantung bayinya.

"Tidak, tidak usah."

Aku tidak memandang lagi kepada Jungkook karena aku merasa malu untuk kami berdua. Dia hanya membantu. Dianggap sebagai ayah dari si bayi bukanlah apa yang direncanakan sebelumnya.

Pemeriksaannya tidak memakan waktu lama. Kali ini aku dapat mendengar detak jantung bayinya tanpa harus ada tongkat yang berada di dalamku. Suaranya senyaring dan semanis sebelumnya.

Kehamilanku berkembang dengan baik dan aku dipersilahkan pulang dengan satu temu janji lagi empat minggu dari sekarang. Berjalan kembali ke ruang tunggu, aku menemukan Jungkook sedang membaca majalah Parenting.

Dia mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum malu-malu,

"Bahan bacaan di sini terbatas," dia menjelaskan.

Aku menahan tawa. Dia berdiri dan kami berjalan bersama keluar dari pintu. Setelah kami berada di dalam mobil dia memandangku,

"Kau lapar?"

Sebenarnya aku merasa lapar namun lebih lama kuhabiskan waktu dengan Jungkook semakin aku merasa tidak nyaman.

Aku tidak dapat menyingkirkan perasaan bahwa Jimin tidak akan menyukai hal ini. Dia tidak pernah senang aku sering berada dekat dengan Jungkook. Walaupun aku membutuhkan tumpangan aku mulai khawatir ini merupakan ide yang buruk. Mungkin sebaiknya Jungkook hanya mengantarku kembali ke rumah Jimin saja.

"Aku merasa lebih lelah daripada apapun. Bisakah kau mengantarku saja kembali ke rumah Jimin?" tanyaku.

"Tentu," timpalnya dengan senyuman.

Jungkook sangat mudah dihadapi. Aku menyukai hal itu. Suasana hatiku tidak siap menghadapi yang sulit-sulit.

"Sudahkah kau berbicara dengan Jimin?" dia bertanya.

Itu merupakan sebuah pertanyaan yang tidak ingin kujawab. Sepertinya terlalu berlebihan menganggap Jungkook tidak sulit untuk dihadapi. Aku hanya menggelengkan kepala. Dia tidak membutuhkan penjelasan, dan jika dia merasakan yang sebaliknya, sayang sekali aku tidak memiliki satupun jawaban untuk pertanyaannya.

Aku merasa hancur dan aku sudah mencoba menghubungi Jimin dua malam yang lalu dan langsung terhubung dengan pesan suara. Aku meninggalkan pesan namun dia belum meneleponku kembali. Aku mulai berpikir apakah dia berharap aku sudah pergi ketika dia kembali. Berapa lama sebaiknya aku tinggal di rumahnya?

"Dia tidak menghadapi semua ini dengan baik, menurut perkiraanku. Dia akan menghubungimu dalam waktu dekat," kata Jungkook.

Dengan nada suaranya aku bisa bilang diapun tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. Itu hanya untuk membuatku merasa lebih baik. Kupejamkan mataku dan berpura-pura tertidur sehingga dia tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Aku tidak ingin membicarakan hal ini. Aku tidak ingin berbicara mengenai apapun.

Jungkook menyalakan radio dan kami berkendara dalam diam selama sisa perjalanan pulang ke Gwangali. Ketika mobil berhenti kubuka mataku dan melihat rumah Jimin ada di depanku. Aku telah sampai.

"Terima kasih," aku berujar, menoleh pada Jungkook.

Ekspresinya menyorotkan keseriusan. Aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin dibaginya denganku. Aku tidak perlu menanyakan apa itu.

Dia kemungkinan juga berpikir sebaiknya aku pergi. Jimin tidak akan menelepon dan ada kemungkinan dia tidak akan kembali lagi. Aku tidak bisa begitu saja tinggal di rumahnya.

"Telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu," ujar Jungkook menatap mataku.

Aku mengangguk namun telah kuputuskan tidak akan pernah meneleponnya lagi. Walaupun jika Jimin tidak mempedulikan apa yang kulakukan, itu hanya terasa tidak benar. Kubuka pintu mobil dan melangkah keluar. Dengan lambaian terakhir aku berjalan menuju pintu depan dan masuk ke dalam rumah yang kosong.

.

.

.

JIMIN POV

Tujuh hari dan Taehyung masih belum membuka matanya. Ibuku semakin jarang untuk menjenguk. Hoseok mulai menjadi satu-satunya pengunjung yang selalu hadir dan menengok secara rutin. Jiwon mampir sekali sehari selama beberapa menit setiap kalinya. Hanya Taehyung dan aku melawan dunia sekali lagi.

"Kau harus meneleponnya," kata Hoseok, memecahkan kesunyian.

Aku tahu siapa yang ia bicarakan. Yoongi tak pernah meninggalkan pikiranku. Aku merasa bersalah karena aku duduk di sini menatap adikku dan yang ada di pikiranku hanya Yoongi.

"Aku tak bisa," jawabku, tak mampu menatap Hoseok.

Ia akan melihat aku menyerah jika aku melakukannya.

"Ini tak adil untuknya. Jungkook bilang Yoongi lama tak terlihat dan ia belum menghubungi Jungkook selama tiga hari ini. Jungkook tetap memeriksa keadaannya melalui Jin, tapi bahkan Jin tak yakin Yoongi akan bertahan lebih lama lagi. Kau hanya tinggal meneleponnya."

Meninggalkanku mungkin adalah yang terbaik yang pernah Yoongi lakukan. Bagaimana aku bisa menjadi yang ia butuhkan jika aku terbagi antara adikku dan Yoongi setiap waktu? Aku tak dapat menjaga Taehyung tetap aman. Bagaimana bisa Yoongi mempercayaiku untuk menjaganya dan bayi kami tetap aman?

"Yoongi pantas mendapatkan yang lebih baik," aku berhasil mengatakannya dengan keras, bukannya hanya mengatakannya di kepalaku.

"Yah, dia mungkin membutuhkannya. Tapi Yoongi menginginkanmu."

Ya Tuhan, itu menyakitkan. Aku juga menginginkannya. Aku menginginkan bayi kami. Aku menginginkan kehidupan yang aku berpura-pura dapat kami miliki.

Bagaimana aku bisa memberikannya padanya jika adikku tak pernah bangun lagi?

Aku akan terkungkung dalam rasa sakit dan rasa bersalah. Aku tak akan menjadi laki-laki yang pantas untuk Yoongi. Hal ini akhirnya akan menghabisiku pelan-pelan sampai aku tak pantas untuk siapapun.

"Aku tidak bisa," adalah yang bisa kukatakan.

Hoseok menyumpah dan berdiri, mengenakan jaketnya dari lantai sebelum ia keluar kamar dan membanting pintu di belakangnya. Ia tak mengerti. Tak ada seorangpun yang mengerti. Aku hanya menatap dinding di seberangku. Aku mulai merasa mati rasa. Aku mulai kehilangan semua yang pernah aku cintai.

Pintu terbuka dan aku menoleh mengharapkan melihat Hoseok. Tetapi yang terlihat adalah Jiwon. Aku sedang tidak dalam suasana hati untuk menemuinya. Ia mengabaikan dua orang yang paling aku cintai di dunia di titik yang sama di kehidupan mereka.

"Kenapa kau harus datang ke sini? Seperti kau peduli," aku membentak.

Jiwon tidak merespon. Ia melangkah ke kursi yang baru saja Hoseok tempati dan duduk di atasnya. Ia tak pernah duduk dan tinggal lama. Kenyataan bahwa ia akan melakukannya saat ini membuatku terganggu. Aku perlu menyendiri.

"Aku memang peduli. Ibumu tak tahu aku di sini. Dia tak akan setuju dengan apa yang akan kukatakan padamu. Tapi kupikir kau pantas untuk tahu."

Tak ada satupun yang lelaki itu akan katakan yang ingin aku dengar tapi aku tetap diam dan menunggu. Semakin cepat ia mengatakannya semakin cepat ia akan pergi.

"Taehyung bukanlah anakku. Bahkan anak yang dikatakannya adalah anakku yang keguguran bukanlah milikku. Ibumu sudah tahu semuanya dari dulu. Ketika Hyori memintaku untuk kembali padanya, Eugene mengetahuinya. Kami bertemu lagi setelah aku sudah memiliki Eugene, Yoongi, dan Suga. Eugene lah yang merelakanku pergi. Sebesar rasa cintaku pada Eugene, aku memilih untuk menuruti keinginannya yang ingin menghargai persahabatan mereka. Dan dengan bodohnya aku kembali pada Hyori dan kami membicarakan tentang pernikahan. Mengenai Taehyung, dia menginginkan Taehyung menjadi anakku tapi kami berdua tahu saat ia mengetahui bahwa dirinya hamil bahwa itu tak mungkin. Aku hanya sekali menyentuh ibumu setelah aku kembali padanya. Pada saat itu aku mabuk dan hal itu terjadi. Tapi aku tahu Taehyung tetaplah bukan anakku. Karena kami melakukannya jauh sebelum dirinya hamil. Ibumu baru saja tahu kalau dia sedang hamil dan ia ketakutan. Ia masih mencintai ayahmu yang merupakan awal dari alasan berakhirnya lagi hubungan kami. Aku tak bisa jika harus dibandingkan dengan seorang artis seperti Bradley Ray. Aku ingin cukup bagi seseorang. Aku tak pernah cukup untuk Hyori. Akhirnya aku mengatakan padanya bahwa aku harus memikirkan kembali hubungan kami."

Jiwon berhenti dan menoleh menatapku. Aku masih dalam kondisi terkejut pada kenyataan bahwa ia bukanlah ayah Taehyung.

"Setelah aku sampai disana, Hyori meninggalkanmu dengan Bradley kapanpun ia bisa dan masih bergaul dengan teman-temannya seakan-akan dia tidak hamil. Saat itu ia tak mau mengatakan siapa ayah bayi itu. Aku bertemu dengan batasku saat Eugene datang berkunjung lagi."

Mata Jiwon melembut dan ia menutupnya sesaat. Aku tak pernah melihat seseorang yang dapat menunjukkan begitu banyak emosi.

"Ia masih sangat cantik. Rambut panjang yang terlihat seperti dipintal oleh para malaikat. Mata terindah yang pernah aku lihat dan benar-benar manis. Eugene mencintaimu. Ia tak suka ibumu membawamu ke Bradley. Ia khawatir kau tak aman bila tinggal dengan sekumpulan bintang rock. Ia menjagamu saat ibumu pergi keluar. Ia membuatkanmu pancake yang kau suka. Aku masih mencintainya dan tak dapat meninggalkannya. Ibumu memanfaatkan kami untuk sesaat. Eugene tak akan pergi karena ia mengkhawatirkanmu. Dan aku tak akan pergi karena aku mencintai Eugene."

Ini tidak sesuai dengan yang ibuku ceritakan padaku. Ini bukanlah cerita yang kupercaya selama ini tapi sekarang setelah aku bertemu dengan Yoongi… setelah aku mengenalnya… semuanya menjadi jauh lebih masuk akal.

"Suatu malam, ibumu pulang dalam keadaan mabuk. Umur kehamilannya masih muda dan ia mengumumkan bahwa Bradley adalah ayah dari bayi itu juga. Aku sangat geram karena ia mabuk dan semakin marah karena ayahmu melakukannya lagi dan tidak ada niat untuk memperbaiki segalanya dengan Hyori. Jadi aku meneleponnya dan berkata ingin berbicara dengannya. Pembicaraan itu tidak berjalan dengan baik. Bradley bilang kalau bayi itu bukan miliknya. Jika memang itu bayinya, ia akan dengan senang hati mengakui bayi itu, tapi itu bukan miliknya. Hyori tidur dengan gitaris Busker-busker selama lebih dari sebulan. Bayi itu adalah anak Kim Hyung Tae dan ya, kau tumbuh di sekitar Hyungtae. Kau tahu ia dengan baik bahwa ia bukan tipe seorang ayah."

Hyungtae adalah ayah Taehyung? Aku mengatupkan wajahku di kedua tanganku saat berbagai kenangan yang berbeda kembali lagi padaku. Hyungtae datang tengah malam berteriak dan memaki ibuku tentang membawa pergi anaknya.

Hyungtae memanggil ibuku pelacur murahan dan berharap 'anak lelakinya' tidak berakhir sama dengannya. Aku melupakan hal-hal tersebut. Atau aku hanya menutup memori itu.

"Melalui semua ini, Eugene dan aku menjadi dekat kembali. Bradley mengambilmu dan berjanji akan merawat apa yang menjadi miliknya. Ibumu memaki dan mendorong Eugene ke bawah tangga dan memanggilnya dengan berbagai macam sebutan yang tak akan kusebutkan dan mengatakan pada kami untuk segera pergi setelah ia memergoki aku mencium Eugene pada suatu malam. Kami pergi setelah itu. Eugene tak berhenti menangis karena mengkhawatirkanmu. Ia selalu mengkhawatirkanmu."

Saat Jiwon berbicara tentang Eugene yang ada di mataku adalah wajah Yoongi. Wajah manis dan polosnya dan dadaku terasa akan meledak.

"Aku meminta Eugene untuk kembali padaku. Bagaimanapun aku adalah ayah dari anak-anak kami. Ia pun akhirnya setuju. Aku kembali ke keluargaku. Dua putra kembarku itu adalah duniaku, aku memuja tanah yang mereka pijak sama seperti aku memuja ibu mereka. Tak ada satu haripun tanpa aku bersyukur untuk kehidupan yang telah diberikan padaku," Jiwon berhenti dan terisak.

"Lalu pada satu hari… Suga dan aku berkendara pulang dari berbelanja. Kami pergi untuk membelikan Suga sepatu volley. Ukuran kakinya bertambah besar selama musim panas tetapi kaki Yoongi tetap. Mereka berdua hampir identik tapi sepertinya Yoongi adalah yang lebih pendek diantara keduanya. Kami menertawakan diriku yang bernyanyi mengikuti sebuah boyband konyol di radio. Aku melewatkan… aku melewatkan lampu merah. Mobil kami ditabrak di sisi Suga oleh sebuah truk yang berjalan delapan puluh mil per jam*."

Ia berhenti dan menjalankan tangan ke wajahnya untuk menghapus air matanya dan mengeluarkan isakan lain.

"Aku kehilangan putra kecilku. Aku tidak memperhatikan jalanan, aku sudah lalai. Dengan kejadian itu, aku kehilangan istriku yang tak dapat menatapku dan putraku yang lain yang menjadi pria yang berbeda dengan dirinya yang sebelumnya. Lalu kau muncul ke rumah dengan foto Taehyung dan bukannya bertahan dan menjadi laki-laki yang dibutuhkan oleh keluargaku, aku pergi. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri, Eugene dan Yoongi, mereka pantas untuk mendapatkan yang lebih dari yang bisa aku berikan pada mereka. Aku tak pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tak akan bisa melanjutkan hidup dan melihatku hanya akan lebih melukai mereka. Jadi aku meninggalkan mereka. Aku membenci diriku sendiri saat itu; aku membenci diriku saat ini. Tapi aku laki-laki yang lemah. Aku seharusnya tetap tinggal. Saat aku mengetahui bahwa Eugene sakit aku menjadi seorang peminum. Gagasan hidup di dunia tanpa Eugene tidak mungkin bisa kuterima. Tapi melihat istriku yang selalu penuh semangat hidup, yang kucintai dan akan selalu kucintai, terbaring sekarat adalah sesuatu yang tak bisa kulakukan. Aku telah menguburkan putraku. Aku tak bisa menguburkan istriku. Karena aku lemah aku meninggalkan putra kecilku untuk menguburkan ibunya. Aku tak akan pernah memaafkan diriku untuk itu."

Jiwon akhirnya melihat ke arahku.

"Yang kau lihat ini adalah lelaki egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kau benar. Aku tak pantas mendapatkan rasa cinta atau ampunan dari orang lain. Aku tak menginginkan itu. Ibumu dan Taehyung menginginkanku. Mereka berdua bersikap seperti mereka membutuhkanku. Aku dapat berpura-pura dengan mereka. Yang sebenarnya adalah ibumu sama kehilangan arah dan kacau sepertiku. Mungkin dengan alasan yang berbeda tapi kami berdua sama-sama kosong di dalam. Aku berencana untuk menjelaskan semua ini dan mengatakan pada Taehyung tiga bulan yang lalu. Aku tak dapat melanjutkan lelucon ini. Aku hanya ingin duduk di samping makam istriku dan berduka. Tapi lalu Yoongi meneleponku. Ia membutuhkanku, tapi aku tak punya apapun yang bisa kuberikan. Jadi aku berbohong padanya. Aku tak tahu kau akan menjadi lelaki seperti apa tapi aku tahu satu hal. Kau mencintai dengan sepenuh hati. Kau akan melakukan apapun untuk adikmu. Aku tak ragu sedikitpun pada saat kau melihat Yoongi, ia akan mendapatkan perhatianmu. Semangat yang lembut dan manis yang ada pada ibunya ada pada Yoongi. Suga adalah aku. Tapi Yoongi… ia adalah Eugene-ku. Yoongi amat sangat mirip seperti Eugene. Tak ada satupun orang yang ada di sekitarnya dan tak jatuh cinta padanya. Aku menginginkan seseorang yang kuat dan bisa menjaganya. Jadi aku mengirimkannya padamu."

Ia menghapus sisa air matanya dan berdiri. Aku benar-benar kehabisan kata-kata.

"Jangan menjadi seperti aku. Jangan membuatnya kecewa seperti yang telah kulakukan. Kau hanya pantas mendapatkan apa yang kau buat dirimu pantas mendapatkannya. Lakukan yang tak dapat kulakukan. Jadilah laki-laki sejati."

Jiwon berputar dan keluar ruangan tanpa kata-kata lainnya.


-TBC-

Note: *80 mil/jam = ±129 km/jam.

[Update time: Sunday, 28.08.16]

[T_T]

[Gimana apa pada kaget denger pengakuan dari Jiwon, ayah Yoongi?]

[Di sekuel seri ini (wuftf) & sampai chapter kemaren pasti masih banyak yg 'benci' dengan sosok Jiwon ini kan. Tapi ternyata dia berhati malaikat, cuma nyalinya aja terlalu lemah T_T]

[Aku (lagi2) berbaper ria di chapter ini. Dan chapter ini termasuk penting loh, karena menjelaskan kebenaran yg memang benar2 'benar', bukan kebenaran terselubung kebohongan *gila bahasa macam apa ini wkwk*]

[Kalau mau nyalahin, aku juga gak tau mau nyalahin sapa… apa semua salah si hyori? Hm… Dia semacam ibu tiri yg kerjanya cuma bisa nyebar kejahatan huhuhu… Tapi lebih dari itu mereka semua seakan dipermainkan sama situasi n kondisi yg ada hmhm… /dramatis dikit/plakkk]

[So, review? Any #teambaper yg mau merapat? Next chapter boleh loh siapin tissue *sedikit warning* T_T]

[P.s: untuk nama ayah Tae beneran loh itu gitaris busker2 nama nya HyungTae, bisa kebetulan ya mirip hehe...]

.

.

Preview: Chapter 21

-Yoongi POV-

"Halo," kataku hampir takut pada apa yang akan ia katakan padaku.

"Hei, ini aku."

Suaranya seperti ia baru saja menangis. Ya Tuhan… tolong jangan biarkan Taehyung meninggal.

.

-Jimin POV-

Kusentakkan pintu yang mengarah ke kamarku hingga terbuka dan melesat menaiki anak tangga karena butuh melihatnya. Ya Tuhan, ijinkan dia berada di sana. Kumohon ijinkan dia berada di sana.

Tempat tidurnya kosong.

Tidak. TIDAK!