Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 22

YOONGI POV

"Aku butuh berada di dalam dirimu," dia berbisik di telingaku saat dia menciumku di sepanjang rahangku dan tangannya meluncur ke bawah kaosku.

"Ya," aku menjawab, meraih kemejanya dan menariknya ke atas melalui kepalanya.

Dia tertawa dan mengangkat tangannya agar membuatnya lebih mudah kemudian menarik kaosku juga.

"Sialan, dadamu terlihat membengkak dan putingmu semakin merekah sejak aku pergi," gumamnya, memilin masing-masing putingku di tangannya.

"Apakah ada... sudah ada semacam susu di keduanya?" tanyanya.

"Tidak," aku tertawa.

"Aku berusaha keras untuk tidak menjadi laki-laki semacam ini tetapi aku tidak dapat menahannya. Aku sangat senang dengan ini," akunya sebelum melihatku melalui bulu matanya sambil menarik putingku ke dalam mulutnya.

"Ohhh…," aku mengerang dan meraih kepalanya untuk menahannya di sana.

Entah bagaimana, putingku yang memang merupakan titik sensitifku menjadi lebih sensitif lagi. Dengan setiap tarikan mulutnya, kejantananku berdenyut-denyut. Rasanya seperti ada garis langsung antara keduanya.

"Lepaskan celana ini," kata Jimin dengan mulut masih menghisap putingku saat dia menarik-narik celanaku.

Aku menengadah dan mereka meluncur ke bawah dengan bantuannya. Jimin hanya melepaskan satu puting untuk menghisap puting lainnya.

"Sialan," dia mengerang, menggeser jarinya ke dalam manhole-ku.

"Ini hangat. Selalu hangat dan siap."

Aku meraih gesper dan mulai membuka kancing celana jinsnya. Aku ingin Jimin telanjang juga.

"Belum," katanya, memindahkanku dari pangkuannya untuk membaringkanku di sofa.

"Aku butuh merasakanmu dulu."

Aku melihat bagaimana dia mendorong kakiku terpisah dan menundukkan kepalanya untuk menjilat tepat di pusat kepala kemaluanku.

"Oh Tuhan! Jimin!"

Aku menjerit, mengangkat pinggulku untuk lebih dekat ke mulutnya. Barbel meluncur ke kepala penis-ku saat dia menjentikkan barbel terhadap penis-ku yang mengeras berulang-ulang. Membuatku gila.

"Aku suka saat kau menggeliat," katanya sambil menyeringai jahat.

Aku menyukainya ketika dia membuatku menggeliat. Jarinya meluncur menjadi panas saat dia terus menyiksa manhole-ku ditambah sensasi basah dengan menusuk lidahnya. Pria seksi liar ini adalah milikku.

Terkadang ini sulit untuk dipahami tapi aku sangat senang aku telah muncul kembali di pintunya empat bulan yang lalu.

Dia berdiri dan mendorong celana jins dan boxer-nya turun melangkah keluar dari keduanya. Aku menatapnya. Dia begitu indah. Aku membiarkan mataku berkeliaran menatap tubuhnya. Tidak ada yang bisa membuatnya lebih sempurna. Kecuali...

"Jimin?"

"Ya?"

"Bisakah kau menindik putingmu?" tanyaku, terkejut dengan pertanyaanku sendiri.

Jimin tertawa saat dia kembali di atasku,

"Sekarang kau ingin aku menindik putingku?"

Aku mengangguk dan menyelipkan tanganku di atas dadanya dan ibu jariku bermain di putingnya.

"Aku menyukai tindikkanmu yang lain."

Dia mencium leherku dan tangannya berlari ke bawah kakiku sampai dia melingkarkan lengannya di bawah lututku dan menarik kakiku ke atas.

"Maukah kau menciumnya dan membuatnya lebih baik setelahnya? Karena kurasa itu akan sakit."

"Aku janji untuk membuatnya terasa lebih baik," aku tersenyum ke arahnya.

"Apapun yang kau inginkan. Sayang. Hanya jangan memintaku untuk menindik bagian bawah pinggangku."

Aku mengangkat alisku. Aku tidak memikirkan itu. Sebelum aku mampu mengatakan apapun Jimin mendorong ke dalam diriku dan meninggalkan semua pemikiranku. Dia mengisiku dan meregangkanku dan semuanya menjadi kembali sempurna di dunia.

"Sialan! Bagaimana kau bisa sangat ketat?"

Jimin tersengal di atasku selama lengannya bergetar karena menahan beban tubuh dan mengontrol tumbukan gairahnya. Aku melemparkan kepalaku kembali dan mengangkat pinggulku. Ini lebih baik. Aku tidak berpikir ini bisa lebih baik.

"Ini lebih sensitif," aku berhasil mengatakan dengan teriakan tercekik.

"Apakah ini sakit?" tanyanya, menarik kembali.

Aku meraih pantatnya dan menahannya di dalam diriku.

"Tid… Tidak… Ini baik. Ini benar-benar baik. Lebih keras, Jimin. Tolong… Rasanya luar biasa…"

Jimin mengerang dan menenggelamkan sisanya jauh ke dalam diriku.

"Aku tidak akan bertahan lebih lama. Ini sangat ketat. Aku akan datang."

Dia berhenti bergerak dan perlahan-lahan mereda kembali. Aku sangat dekat. Aku tidak ingin dia memperlambat. Setiap sensasi masing-masing yang melaluiku terasa sangat luar biasa. Aku membutuhkan lebih dari itu.

Aku mendorongnya kembali dengan semua kekuatan yang aku punya. Dia duduk kembali menatapku saat aku cepat naik ke atasnya dan tenggelam ke dalam dirinya keras dan cepat.

"SIALAN!" dia berteriak sambil meraih kejantananku.

Aku dipompa naik dan turun di atasnya ketika tubuhku mulai merasakan perasaan yang luar biasa meningkat itu, menjadi terasa sangat dekat.

"Sayang, aku akan datang, ARRRGGGHHH!"

Jimin berteriak kemudian meraih wajahku dan menciumku dengan ganas yang mengirimkanku ke tepian bersamanya. Mendesah di dalam mulutnya aku mengguncang bersamanya melepaskan saat dia memegangku dengan erat, merasakanku, dan menghisap lidahku ke dalam mulutnya.

Aku roboh di atasnya dan dia memelukku menempel dengannya. Kami duduk disana terengah-engah dalam keheningan. Lubangku terus berkedut seolah-olah tubuhku mengalami gempa susulan. Tiap kali itu terjadi Jimin mengerang.

Ketika aku yakin aku bisa berbicara lagi aku memiringkan kepalaku ke belakang dan berbalik kembali untuk menatapnya.

"Apa yang terjadi?" tanyaku padanya.

Dia tertawa dan menggelengkan kepalanya,

"Aku tak tahu. Tapi kau baru saja mengejutkanku. Aku bersumpah, apa yang baru saja kita lakukan tadi benar-benar bisa masuk ke buku rekor. Aku tidak berpikir itu bisa lebih baik dan kau membuktikan aku salah. Sumpah demi Tuhan kau benar-benar liar di ranjang."

Aku membenamkan wajahku di dadanya dan tertawa bersamanya. Aku sedikit lepas kendali.

"Itu sebaiknya bukan sesuatu yang berhubungan dengan kehamilan atau pantat seksimu itu akan kuhamili selama 30 tahun ke depan."

.

.

.

JIMIN POV

Aku memegang tangan Yoongi dan melihat melalui bahunya saat dia membolak-balik majalah parenting. Semua gambar popok dan benda bayi lainnya yang menakutkan kami seperti kotoran bayi. Aku tidak mengatakan padanya tetapi kenyataannya hal-hal yang menyangkut tentang bayi mulai membuatku takut.

Puting merekah dan seks di tengah malam dan pinggul manis Yoongi yang membengkak adalah keuntungan utama dan itu mudah dilupakan mengapa semua hal tersebut bisa terjadi.

"Min Yoongi."

Seorang perawat memanggil namanya dan aku melihat ke arah berlian di jarinya. Dalam dua minggu nama belakangnya akan berubah. Aku telah siap untuk itu. Aku tidak suka dia dipanggil Min. Bagiku dia sudah menjadi Park Yoongi.

"Itu kita," katanya, tersenyum padaku sebelum berdiri.

Dia nyaris tidak terlihat sekarang. Bagaimana mereka berharap dapat melihat sesuatu yang tidak lebih besar dari kacang aku tidak yakin tetapi dia berjanji padaku kami benar-benar dapat melihat bayi. Bayinya memiliki tangan dan kaki, dan tinggal di dalam perut Yoongi, kedengarannya gila.

Aku tidak melepaskan tangannya saat dia membawa kami kembali ke ruang pemeriksaan. Beberapa kali perawat melirik kearahku. Lebih baik dia tidak mengatakan jika aku tidak boleh masuk ke ruangan tersebut karena aku akan masuk. Ini adalah waktuku untuk melihat bayiku.

"Di sini," kata perawat, mundur ke belakang dan membiarkan kami masuk ke dalam ruangan.

"Silahkan dan lepaskan semua pakaian dan ganti dengan baju ini. Dokter Changmin akan melakukan pemeriksaan alat vital anda juga hari ini. Tetapi kita akan memeriksa dengan ultrasonografi dulu."

Yoongi tampak tidak berfikir itu adalah masalah besar jika dia harus telanjang. Perawat kembali melihatku.

"Apakah masalah jika orang ini ada di sini?"

Orang ini? Apa maksudnya?

Yoongi tersenyum dan kembali melihatku.

"Ya, orang ini adalah ayah bayi ini."

Perawat berdiri dan memberiku senyum lega,

"Itu bagus sekali. Aku benci jika seseorang yang masih muda sepertimu melakukan semua ini sendirian."

Yoongi tersipu dan masuk ke dalam ruangan kecil dengan tirai di depannya. Setelah perawat pergi meninggalkanku dan melangkah ke tempat yang tampak seperti sebuah ruangan ganti kecil.

"Apa yang dia maksud dengan 'orang ini'?" tanyaku.

Yoongi menggigit bibir bawahnya dan menutup matanya rapat.

"Apakah aku harus menjawabnya?"

"Uh, ya. Terutama setelah komentar tadi," aku mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban yang tidak kusukai.

"Jungkook mengantarku pada pertemuanku terakhir. Mereka mengatakan padanya jika dia bisa kembali dan aku mengatakan pada mereka dia tidak bisa kembali, dia hanya seorang teman."

Aku hampir melupakan hal itu. Aku mengerti kenapa dia diantarkan olehnya. Aku belum ada di sini. Tetapi mengetahui laki-laki lain bersamanya saat dia membutuhkanku, membuat itu sulit diterima.

Aku sadar wajahnya memucat dan aku membungkuk dan mencium bibirnya.

"Tidak apa-apa. Aku harusnya ada di sampingmu. Aku tidak..."

Dia mengangguk,

"Maafkan aku."

"Jangan. Aku yang harusnya meminta maaf."

Pintu ruang pemeriksaan terbuka kembali dan aku menolehkan kepalaku ke ruang ganti. Perawat menyeringai padaku dan menarik sebuah mesin dengan sebuah layar kecil di atasnya.

"Apakah dia siap?"

Seringai geli terlihat di wajah perawat itu.

"Hampir," kataku kemudian melihat ke Yoongi yang bersemu merah.

Aku tidak bisa menahan tawa,

"Bergantilah, seksi. Aku akan keluar."

Yoongi mengangguk dan aku melangkah keluar melalui tirai. Aku berjalan mendekati meja dan melihat ke arah mesin.

"Jadi ini cara kita melihat bayi?" tanyaku heran bagaimana mereka melakukan ini.

"Ya. Karena Yoongi menggunakan asuransi kesehatan maka kita harus menggunakan yang satu ini. Asuransi akan mengganti biayanya. Kami mempunyai alat USG live 3D atau sering disebut sebagai USG 4D yang terbaru dan mulai banyak digunakan dan saya berharap asuransi akan menggantinya karena kalian bisa melihat bayinya dengan sangat jelas. Tetapi sayangnya tidak."

Aku berhenti dan menatap mesin lalu ke perawat. Yoongi menggunakan asuransi? Apa-apaan ini? Aku tidak pernah berfikir tentang dia memerlukan asuransi. Aku selalu mempunyai uang yang banyak untuk membeli; itu bukan sesuatu yang aku pikirkan.

"Aku ingin mesin 4D itu. Aku akan membayar berapapun harganya sekarang tapi aku ingin mesin ini memberikan yang terbaik."

Perawat melirik padaku dari anting-anting ke t-shirt yang terlihat bagus hari ini. Ini adalah salah satu pemberian ayahku setelah melakukan tour-nya sekitar lima tahun yang lalu. Aku menyukainya karena ketat dan tampaknya Yoongi suka menyukai kaos ketat di diriku.

"Aku... uh... kurasa kau tidak mengerti berapa banyak uang yang harus kau bayarkan untuk USG ini. Meskipun itu adalah sesuatu yang sangat bagus yang ingin kau berikan pada Yoongi itu sangat…"

"Aku mampu membayar semua prosedur yang ada. Aku bilang padamu dari sekarang aku yang akan membayar semuanya. Aku ingin USG yang terbaik untuk Yoongi dan bayiku."

Perawat mulai membuka mulutnya saat Yoongi berjalan keluar menggunakan baju katun yang tipis.

"Jangan berdebat dengannya. Dia akan memberikanmu masalah jika kau melakukannya. Berikan aku USG 4D."

Perawat mengangkat bahu,

"Oke, jika kau yakin, tetapi dia harus membayar terlebih dahulu."

Aku membuka domperku dan menyerahkan kartu kreditku. Matanya terangkat dan dia mengangguk lalu bergegas keluar dari ruangan.

"Aku seharusnya memberitahumu, aku tidak apa-apa hanya dengan USG biasa, tetapi itu akan menjadi sebuah kebohongan. Aku pernah melihat gambar USG 4D di majalah parenting dan aku benar-benar menginginkannya."

Yoongi menyeringai seperti anak kecil yang baru pertama kalinya pergi ke Lotte World. Demi Tuhan, untuk mendapatkan senyumnya yang seperti itu aku harus membeli mesin 4D sialan.

"Kekasihku dan anakku mendapatkan yang terbaik. Selalu."

Pintu terbuka kembali dan perawat masuk sambil mulai memperhatikanku, Dia seperti mencoba mengingat sesuatu. Dia menyerahkan kartuku. Aku mengambilnya dan mengembalikannya ke dalam dompetku.

"Apa kau anak Bradley Ray?" akhirnya wanita itu bertanya.

"Ya. Sekarang ayo kita lihat bayiku," jawabku.

Wanita itu mengangguk dengan semangat dan kembali melihat ke arah Yoongi.

"Mesin 4D ada di ruangan khusus. Apakah kau merasa nyaman berjalan melalui lorong itu?"

"Apakah seseorang akan melihatnya?" tanyaku melangkah di depannya karena aku yakin dia tidak nyaman dengan ini.

Perawat membuka lemari dan memberikan selimut,

"Ini bungkus ini di sekelilingnya."

Aku membungkusnya hingga dia benar-benar tertutup, hanya terlihat kepalanya menyembul lucu di sana. Yoongi mengatupkan kedua bibirnya mencoba untuk tidak tertawa. Aku mengedipkan mata dan memberikan sebuah ciuman di hidungnya. Kami berjalan menyusuri lorong dimana kami melewati dua pasang perawat lain dan dokter Yoongi yang bertanya mengapa kami pindah.

Perawat segera memberitahunya bahwa kami baru saja membayar untuk 4D dan dokter sangar senang saat dia mengikuti kami masuk ke dalam ruangan.

Yoongi berbaring di atas meja dan mereka mulai menyiapkannya saat aku duduk dengan sabar menunggu.

Begitu perut Yoongi telanjang, perawat memberi beberapa gel di atas perutnya kemudian menatapku,

"Apa kalian ingin mengetahui jenis kelamin bayi kalian?"

"Tanyakan pada 'ibu'-nya," jawabku, kesal karena dia bertanya padaku bukan pada Yoongi.

"Aku ingin tahu," kata Yoongi, melirik ke arahku untuk memastikan.

"Aku juga," aku setuju.

Kemudian dokter mulai menggerakan sesuatu di dalam perut Yoongi dan suara pukulan kecil memenuhi udara. Itu lebih cepat dari biasanya.

"Apa itu detak jantung bayiku?" tanyaku sambil berdiri karena tidak mungkin lagi duduk.

Jantungku berdetak cepat seperti yang aku dengar di layar.

"Ya, itu detak jantungnya," jawab dokter.

"Dan di sana... dan di sana dia berada," katanya.

Aku mulai menatap layar ketika sebuah kehidupan kecil terbentuk.

"Dia… laki-laki?" tanya Yoongi.

"Ya, ini bisa dipastikan anak laki-laki," jawab dokter.

Aku mengulurkan tangan dan meraih tangan Yoongi, tidak bisa mengalihkan pandanganku dari layar. Itu bayi kami. Aku akan memiliki seorang putra.

Sialan... Aku sepertinya akan menangis.


-TBC/END-

06.10.2016