Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 23

D-DAY

YOONGI POV

Jin memelukku sebelum kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Sebuah kotak kecil berwarna silver dengan tulisan tangan Jimin pada sebuah catatan kecil diberikannya kepadaku.

"Jimin ingin memberikanmu sesuatu yang 'sudah lama ada' kepadamu," jelasnya.

Aku tidak berpikir akan mendapatkan sesuatu seperti itu. Sambil tersenyum, aku mengambil kotak silver dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin mutiara yang terlihat sangat mahal. Cincin berwarna perak itu terlihat elegan dan terdapat ukiran didalamnya.

Aku mengangkatnya untuk melihat ukiran itu. Di sana tertulis, "My love" didalamnya. Itu juga hal yang mengejutkan. Bukan sesuatu yang sesuai dengan Jimin.

Sebuah catatan kecil terselip disampingnya. Aku mengambil dan membukanya.

.

Yoongi,

Ini adalah milik Halmeonni-ku, Ibu ayahku. Dia datang untuk mengunjungiku sebelum dia meninggal. Aku memiliki kenangan indah dari kunjungan itu dan ketika itu dia meninggalkan cincin ini padaku. Dalam wasiatnya dia memintaku untuk memberikannya kepada seseorang yang akan melengkapi hidupku. Dia mengatakan cincin itu diberikan kepadanya oleh harabeoji-ku yangmeninggal ketika ayahku masih bayi. Dia tidak pernah mencintai orang lain seperti dia mencintainya. Dia adalah hatinya. Kau adalah hatiku. Ini adalah sesuatu yang sudah lama ada, sebagai hadiah keluarga Park untuk menyambutmu.

Saranghae,

Jimin.

.

Aku terisak menahan tangisku dan Jin juga melakukannya. Aku melirik ke arahnya yang berada di sampingku yang ternyata ikut membaca catatan itu.

"Sial. Siapa yang tahu Park Jimin bisa begitu romantis," katanya dan terisak lagi.

Aku tahu. Dia menunjukkan sisi romantis itu kepadaku lebih dari sekali. Aku menyelipkan cincin itu di jari kananku dan itu terlihat cocok dan sempurna. Aku berpikir ini bukanlah suatu kebetulan.

Sambil tersenyum, aku memandang Jin.

"Terima kasih untuk segalanya," kataku kepadanya.

Dia memelukku dan mengangguk,

"Aku yang harus berterima kasih kepadamu. Kau adalah teman terbaik yang pernah kumiliki."

Sebelum aku bisa mengatakan lebih lagi, dia sudah berjalan keluar dari ruangan sambil melambaikan tangan.

Aku berbalik untuk melihat diriku ke dalam cermin. Rambutku ditata rapi, yang sekarang berwarna hitam, tidak pirang lagi karena Jimin tidak mengijinkanku untuk mengecatnya selama kehamilanku.

Kemeja putih polos kukenakan dengan jas yang juga berwarna putih tanpa dikancing berkat perutku yang sudah membulat karena kehamilan. Tidak ada dasi jenis apapun karena Jimin takut aku akan merasa sesak, sekali lagi berkat kehamilanku ini.

Celana kain berwarna senada dengan pinggang yang sengaja dibuat dari karet agar aku juga tidak merasa sesak. Sepatuku tergeletak di sampingku. Aku telah memilih untuk bertelanjang kaki karena aku harus berjalan di atas pasir nanti.

Sebuah ketukan di pintu membuatku kaget dan aku berbalik untuk melihat Woori berjalan melangkah ke dalam ruangan. Dia memegang sebuah kotak kecil.

"Kau tampak seperti seorang pangeran tampan," katanya tersenyum.

"Terima kasih Ahjummeoni," jawabku.

"Aku punya sesuatu dari Jimin. Dia ingin menjadi orang yang menyediakan 'sesuatu yang baru' bagimu," katanya dan menyerahkan kepadaku sebuah kotak hadiah berukuran agak besar.

"Aku akan pergi tapi aku pikir kau akan membutuhkan bantuanku, nak."

Aku mengambil kotak itu dan membukanya dengan cepat, bersemangat untuk melihat apa yang ia kirim ke sini untukku saat ini.

Terdapat dua benda di sana. Sepasang sandal santai berwarna putih dan sebuah gelang dari rantai emas halus dengan beberapa berlian dipotong dalam bentuk yang terlihat sama dengan cincinku, tapi jauh lebih kecil.

Aku memegang gelang itu ke atas dan matahari datang melalui jendela menangkap cahaya berlian dan menari di sekitar ruangan.

"Aku akan memakaikan mereka padamu," kata Woori dan aku meletakkan gelang itu di tangannya kemudian dia memakaikannya di pergelangan tanganku.

Setelah itu Woori menurunkan sandal putih agar aku bisa memakainya dengan lebih mudah. Aku telah mengatakan kepada Jimin bahwa aku merasa seperti aku butuh sesuatu untuk kakiku tapi aku tidak bisa membayangkan berjalan di pasir dengan sepatu. Ini adalah jawabannya untuk itu.

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Woori.

"Sama-sama, nak. Aku senang membantumu," katanya sebelum meninggalkan ruangan sepelan ketika dia masuk.

Aku menatap tanganku di cermin untuk mengagumi gelang dan cincin temurun itu ketika ketukan di pintu datang. Sebuah wajah yang akrab yang aku tidak bayangkan akan datang muncul dan tersenyum hangat padaku. Aku bergegas memeluk sosok tua yang bijak itu, Wang halmeonni.

Aku tidak mengundang Wang halmeonni karena aku khawatir Jimin akan marah jika Zhoumi berada di sini. Aku tahu dia yang akan menyetir dari Daegu ke Busan untuk membawa neneknya dan karena itu aku juga tidak bisa tidak mengundang Zhoumi.

Air mata menyengat mataku ketika dia meremas lembut lenganku.

"Aku tidak percaya kau ada di sini halmeonni. Aku tidak percaya kau bepergian sejauh ini ke sini," aku berucap sambil kembali menahan tangisku.

Dia menepuk punggungku dan tertawa,

"Yah, aku tidak mengemudi. Priamu itu mengirimkanku dan Zhoumi tiket pesawat. Kelas utama. Aku belum pernah begitu dimanjakan dalam hidupku. Ini adalah pengalaman yang menyenangkan."

Jika aku tidak terlanjur mencintai seorang Jimin dengan setiap hela napasku, maka aku akan mencintainya lebih lagi untuk ini. Tapi dia sudah memiliki semuanya dariku.

"Sekarang berhenti menangis didepanku dan mengacaukan dandananmu itu. Dan lihatlah, kau benar-benar memiliki sifat dan aura seperti ibumu. Hanya seperti dia, sangat manis, tulus, seperti malaikat, anakku, Yoongi. Hei, jangan berpikir ayahmu tidak akan memarahiku karena aku sudah tua sekarang, aku tidak seharusnya datang di sini untuk membuatmu menangis. Aku di sini untuk memberikanmu sesuatu dari Jimin. Dia ingin menjadi orang yang memberikan sesuatu 'yang dipinjam' kepadamu."

Senyum konyol di wajahku tidak bisa kusembunyikan. Dia mengirimiku hadiah lain. Wang halmeonnie menyodorkan sebuah kotak lebih kecil yang dibungkus seperti yang telah dibawa oleh Woori. Aku mengambilnya dan membukanya dengan cepat.

Di dalam kotak itu ada sebuah catatan kecil lain. Aku mengambilnya dan di bawahnya ada sebuah kain seperti selendang dari satin. Itu terlihat seperti sudah dipakai dan itu jelas ada sobekan di sana. Aku membuka catatan kecil itu.

.

Yoongi,.

Aku sudah menunggu sampai hari ini untuk menunjukkannya kepadamu. Ini tidak mudah untuk tidak mengatakan apa-apa tentang ini. Tapi ketika aku teringat siapa ibumu, aku juga teringat dengan sepotong satin yang aku punya. Aku lupa darimana asalnya untuk waktu yang lama, tapi aku tahu itu spesial, jadi aku terus menyimpannya bersamaku.

Sepanjang waktu, bertumbuh besar, ketika aku takut atau sendirian, aku akan terus memegangnya ditanganku dan menggosokkannya di mukaku. Ini adalah rahasiaku yang tidak pernah seorangpun tahu, melakukan hal itu anehnya selalu berhasil menenangkanku.

Ketika ayahmu mengingatkanku pada pancake kenangan itu, memoriku akan ibumu perlahan kembali. Dengan memori itu aku juga teringat hari dimana aku mendapat sepotong satin ini.

Ibumu selalu mengenakan sepasang piyama satin merah muda untuk tidur di malam hari. Dia akan sering menepukku hingga tertidur karena aku sulit untuk tidur dan membutuhkan waktu cukup lama hingga terlelap. Aku menyukainya ketika dia melakukannya setiap kali dia datang ke rumah. Ibuku sendiri tidak pernah melakukannya.

Aku akan pergi tidur di malam hari menggosok hidungku di lengannya dan satin piyama merah muda. Hari dia meninggalkan rumah, aku ingat aku merasa takut. Aku tidak mau ditinggal dengan Hyori. Ibumu memelukku erat kemudian menyelipkan sepotong satin yang dipotong dari piyamanya ke tanganku dan mengatakan kepadaku untuk menggunakannya di malam hari ketika aku akan tidur.

Aku akan sangat senang untuk mengatakan memori ini kembali semuanya dariku sendiri tapi ternyata tidak. Aku hanya tahu kain ini memiliki hubungannya dengan wanita yang membuatkanku pancake.

Jadi, aku bertanya pada ayahmu. Dia menceritakan kepadaku dan aku menyadari bahwa mimpi berulang bahwa aku telah tumbuh dengan seorang wanita dalam piyama satin merah muda itu nyata. Bukan mimpi.

Ini milikku dan kau tidak dapat memilikinya (kecuali jika kau benar-benar menginginkannya maka itu milikmu).

Ini adalah sesuatu yang dipinjam kepadamu.

Saranghae,

Jimin

.

"Aku benar-benar berharap kau tidak berdandan dan memakai bedak tebal karena jika iya, sekarang kau telah menghapus separuh dari bedakmu," Wang halmeonni menggerutu sambil mengelus pundakku.

Aku tersenyum dan mengambil tissue yang dia pegang dan mengusap wajahku pelan agar bebas dari air mata. Aku tidak memakai banyak bedak, hal yang membuat Jin kecewa.

Aku menyentuh kain satin itu ke pipiku dan berpikir bahwa ibuku yang baik dan manis meninggalkan ini untuk Jimin. Lalu aku melipatnya dan memasukkannya ke dalam kantung celanaku.

Aku menaruh catatan kecil itu di lemari. Aku ingin menjaganya juga. Selama-lamanya.

"Baiklah, aku harus kembali ke lantai bawah dan menempati kursiku. Aku akan bertemu denganmu lagi segera," kata Wang halmeonni dan mencium pipiku sebelum dia menuju keluar pintu.

Aku berjalan ke cermin untuk memeriksa dandananku ketika ketukan cepat lain datang di pintu. Ayahku melangkah ke dalam dengan senyum di wajahnya.

"Kau adalah putra tertampan yang paling indah yang pernah aku lihat. Pria itu yang di bawah sana, beruntung memilikimu. Dia harus mengingatnya."

"Terima kasih, Appa," jawabku.

Dia menyelipkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan lagi kotak kecil mirip dengan kotak-kotak sebelumnya.

"Aku punya sesuatu untukmu dari Jimin. Dia ingin menjadi orang yang memberikanmu sesuatu 'yang biru'."

Aku tidak bisa menjaga senyum konyol dari wajahku lagi. Aku sudah tahu itu sebabnya dia ada di sini. Ayah menyerahkannya kepadaku.

"Aku akan menunggu. Kau akan membutuhkan bantuanku dengan itu."

Aku membuka kotak baru ini, senang mendapatkan sesuatu yang lain dari Jimin.

Sebuah rantai emas halus yang sepadan dengan gelang yang dia berikan kepadaku terletak di dalam kotak itu. Aku menariknya keluar dan menggantungnya dengan jariku ke udara, kalung dengan bandul berbentuk teardrop berwarna biru laut.

Di dalam kotak terdapat catatan lain. Aku mengambilnya dengan cepat dan membuka lipatannya.

.

Yoongi,

teardrop ini mewakili banyak hal. Air mata yang aku tahu kau tumpahkan ketika memegang kain satin peninggalan ibumu. Air mata yang kau tumpahkan setiap kehilangan yang kau alami.

Tapi juga merupakan air mata kita berdua yang kita teteskan ketika kita merasakan kehidupan kecil di dalam dirimu yang mulai bergerak. Air mataku yang tumpah karena aku telah diberikan orang seperti kamu untuk kucintai.

Aku tidak pernah membayangkan orang sepertimu, Yoongi. Tapi, setiap kali aku berpikir tentang bersama selamanya denganmu, aku sangat bersyukur karena kau memilihku.

Ini adalah sesuatu yang biru untukmu.

Saranghae, yeongwonhi,

Jimin

.

Aku mengusap air mataku kembali dan tertawa. Dia benar. Kami mempunyai baik air mata sedih dan bahagia. Aku ingin keduanya menjadi memori untukku seperti saat kami akan mengucapkan sumpah janji setia kami hari ini.

Ayahku mengambil kalung itu dari tanganku dan memakaikannya dileherku.

Aku sekarang sudah memiliki semuanya dengan lengkap. Dia telah membuat aku yakin untuk memiliki sesuatu yang lama, sesuatu yang baru, sesuatu yang dipinjam, dan sesuatu yang biru.

"Ini saatnya bagi kita untuk turun sekarang," kata ayah kepadaku sebelum berjalan lebih dulu untuk membuka pintu.

Aku berjalan mengikuti dia beriringan dan keluar dari pintu depan. Aku akan berjalan menuju ke lantai bawah rumah dengan lantai yang sudah dipenuhi dengan potongan kelopak mawar merah muda dan lampu berkelap-kelip putih.

Menarik nafas tegang, aku menggandengkan tanganku ke lengan ayahku dan membiarkan dia memimpinku.

.

.

.

JIMIN POV

Aku telah menunggu di bawah tangga ketika setiap orang turun setelah memberikannya hadiah yang aku kirimkan. Ketika ayahnya telah naik, aku tahu aku tidak bisa menunggu di sekitar sini sekarang. Aku harus berada di luar.

Aku ingin menjadi salah satu yang mengantarkan hadiah untuk dia, tapi dia sudah pernah bersikeras bahwa aku tidak boleh melihatnya sebelum pernikahan.

Aku lalu berjalan keluar mendekati pondok altar tempat aku dan Yoongi akan mengucapkan sumpah janji setia kami. Mengedarkan tatapanku pada tamu-tamu yang telah hadir di sini, kami memutuskan untuk mengadakan pesta kecil-kecilan dengan mengundang kerabat dekat saja.

Beberapa teman-teman kami juga hadir di sini. Jungkook, Namjoon, Wooyoung, dan Jokwon sudah duduk di kursi tamu bersama Wang halmeonni dan Zhoumi. Namjoon bahkan sudah ada di sini sejak tadi pagi, mengingat dia harus mengantar Jin yang membantu Yoongi bersiap-siap di ruangannya.

Keluargaku, hanya ayahku yang hadir. Taehyung dan Hyori tidak hadir. Aku mengharapkan Taehyung untuk hadir tapi dia masih menjalankan terapi pengobatannya di Seoul. Walaupun dia masih menunjukkan sikap tidak suka terhadap Yoongi, tapi dia mulai dapat menerima semuanya, apalagi dengan kenyataan yang telah diceritakan oleh Jiwon.

Ibuku, Hyori, akan selalu menjadi ibu yang kami kenal. Ibu yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Bukan sesuatu hal yang menggangguku sekarang, jadi ketidakhadirannya di sini sama sekali tidak berpengaruh untukku. Lagipula, aku, sebentar lagi akan mempunyai sebuah keluarga yang lengkap yang akan kujaga dan kusayangi seumur hidupku.

.

.

.

Berdiri di bawah pondok kecil yang ditutupi mawar merah dan putih di pasir di antara rumahku dan teluk, aku menunggu dengan seorang petugas sipil kenalanku dari Kanada di satu sisi dan Hoseok di sisi lainnya.

"Kau gugup?" tanya Hoseok.

"Jika dia memutuskan untuk tidak berjalan di lorong itu? Ya," jawabku.

Hoseok tertawa dan menggelengkan kepala.

"Itu bukanlah apa yang aku maksud."

"Suatu hari kau akan mengerti. Dan ketika kau merasakannya aku akan tertawa sampai berguling di pasir."

"Tidak akan terjadi," jawabnya sambil tertawa keras mencemooh.

Jin muncul dengan membawa seikat mawar merah muda, yang berarti Yoongi sedang menunggu di belakangnya. Inilah saatnya.

.

.

.

Aku mengambil mikrofon tersembunyi yang aku pesan pada teknisi untuk menempatkan di lokasi strategis untukku dan meletakkannya di dekatku. Aku lalu memasangnya di kerahku dan aku berjalan ke balik bunga di dekat tiang pondok dan mengambil gitarku.

Sudah bertahun-tahun sejak ada orang yang melihatku menyentuh gitar seperti ini. Aku hanya bisa membayangkan apa yang mereka pikir akan aku lakukan di kepala mereka. Hanya ayahku yang tahu apa yang sedang terjadi karena dia membantuku dengan chord-nya.

"Apa yang kau lakukan?" bisik Hoseok.

Ketidakpercayaan dalam suaranya terdengar saat ia sudah tahu jawabannya sendiri dengan jelas. Aku tidak perlu memberitahu dia.

Begitu Jin berada di tempatnya aku melangkah di depan petugas sipil dan melihat langsung ke arah mereka menyusuri lorong. Sesuai daftar acara, ketika Yoongi muncul, musik akan dimulai. Aku telah merundingkan hal ini kembali dengan tim musik secara menyeluruh dan privasi.

Ketika dia melangkah maju dengan tangan di lengan ayahnya matanya terkunci denganku dan kemudian melebar dengan tatapan heran. Dia tahu seharusnya ketika dia berjalan menyusuri lorong, lagu "I Will not Give Up" oleh Jason Mraz akan dimainkan.

Tetapi aku tidak ingin ada pria lain bernyanyi untuknya. Tidak hari ini. Aku ingin dia berjalan ke arahku sementara aku menyanyikan kata-kata yang ditulis olehku hanya untuk dia ketika dia berjalan menyusuri lorong sebagai sebuah hadiah untukku dan duniaku.

"Ehm… uh, aku tidak begitu sering bernyanyi... yah, kalian tahu, di depan banyak orang… tapi kupikir setelah semua yang kami lalui... ini akan menjadi waktu yang baik untuk mengatakan apa yang selalu ingin aku katakan. Yoongi, saranghae... I love you, baby, to the moon and back."

Aku memandangi dia yang berdiri membeku menatapku. Seluruh tempat seakan memudar dan semua yang bisa kulihat saat ini hanyalah Yoongi seorang.

.

When you first looked at me

(Ketika kau pertama kali melihatku)

I forgot to breathe

(Aku lupa bernapas)

that moment marked my hardened heart

(saat itu menandai hatiku yang keras)

I vowed never to leave

(Aku bersumpah tidak akan pergi)

And the touch of your skin

(Dan sentuhan kulitmu)

healed something deep within

(menyembuhkan sesuatu yang jauh di dalam sana)

that left me wanting more of you

(yang membuatku menginginkan lebih lagi darimu)

the less I got the more it grew

(semakin sedikit aku dapat, semakin itu bertumbuh)

Oh I couldn't help from falling, falling for you

(Oh aku tidak bisa menolak untuk jatuh, jatuh cinta padamu)

So I'm standing here, oh darl you know

(Jadi aku berdiri di sini, oh, Sayang kau tahu)

After all that we've been through we couldn't let it go

(Setelah semua yang kita lalui kita tidak bisa membiarkannya pergi)

and as long as I'm alive, in your eyes I'll stare

(dan selama aku masih hidup, di matamu, aku akan menatapmu)

holding you so close I'll solemnly swear

(memegangmu begitu erat, aku akan bersumpah)

that I have fallen too far

(bahwa aku telah jatuh terlalu jauh)

that I have fallen too far, too far for you.

(bahwa aku telah jatuh terlalu jauh, terlalu jauh untukmu)

For you

(Untukmu)

When I finally found you

(Ketika aku akhirnya menemukan dirimu)

I finally found me

(Aku akhirnya menemukan diriku)

that day I won't soon forget

(hari itu aku tidak akan segera melupakan)

the reason for it all

(alasan untuk itu semua)

I'll give you a new name

(Aku akan memberikanmu nama baru)

nothing in life will be the same

(tidak ada dalam hidup yang akan menjadi sama)

the story is now complete

(kisah yang sudah lengkap sekarang)

our life and love is all we need

(hidup dan cinta kita adalah semua yang kita butuhkan)

'Cause I couldn't help from falling

(Karena aku tidak bisa menolak untuk jatuh)

falling for you

(jatuh cinta padamu)

So I'm standing here oh darl you know

(Jadi aku berdiri di sini oh, Sayang kau tahu)

After all we've been through we couldn't let it go

(Setelah semua yang kita lalui kita tidak bisa membiarkannya pergi)

and as long as I'm alive, in your eyes I'll stare

(dan selama aku masih hidup, di matamu, aku akan menatapmu)

holding you so close I'll solemnly swear

(memegangmu begitu erat, aku akan bersumpah)

that I have fallen too far, that I have fallen too far

(bahwa aku telah jatuh terlalu jauh, bahwa aku telah jatuh terlalu jauh)

too far for you

(terlalu jauh untukmu)

My heart is beating

(Jantungku berdebar)

begging for you

(memohon kepadamu)

this night will be

(malam ini akan menjadi)

a dream come true

(mimpi yang menjadi kenyataan)

so fall, fall, fall into my arms

(sehingga jatuh, jatuh, jatuhlah ke dalam pelukanku)

So I'm standing here oh darl you know

(Jadi aku berdiri di sini oh, Sayang kau tahu)

After all that we've been through we couldn't let it go

(Setelah semua yang kita lalui kita tidak bisa membiarkannya pergi)

That I have fallen too far

(Bahwa aku telah jatuh terlalu jauh)

That I have fallen too far

(Bahwa aku telah jatuh terlalu jauh)

That I have fallen too far

(Bahwa aku telah jatuh terlalu jauh)

too far for you, yeah

(terlalu jauh untukmu, ya)

For you...

(Untukmu...)

.

Ketika aku selesai menyanyikan baris terakhir aku cepat-cepat menarik tali gitar di atas kepalaku dan menyerahkannya kepada Hoseok.

Yoongi tidak menunggu arahan apapun dari petugas sipil sebelum ia melemparkan dirinya kepelukanku sambil terisak,

"Itu indah," katanya didadaku.

"Tidak seindah dirimu," jawabku, menariknya semakin erat ke dalam pelukanku.

Dia tertawa kecil,

"Aku tidak tahu kau bisa melakukan itu," katanya, menarik dirinya kembali untuk melihat ke arahku.

"Aku penuh dengan segala macam kejutan yang menarik," aku meyakinkannya dan mengedipkan mata.

"Baiklah kalian berdua. Biarkan aku memberi ijin putraku untuk menikah dengan tepat," kata Jiwon, meraih lengan Yoongi dan menariknya kembali ke sisinya dengan senyum lebar.

Jiwon mencium pipi putranya kemudian menatapku,

"Aku akan memberitahumu betapa istimewanya dia, tetapi kau pasti sudah tahu itu. Karena kau tahu itu adalah satu-satunya alasanku bisa menyerahkannya kepadamu. Aku memintamu untuk menjadi seorang laki-laki sejati yang aku tidak bisa, dan kamu melakukan apa yang kuminta. Bukan untukku, tapi untuk dia. Aku tidak bisa lebih bangga lagi dengan pria seperti apa dia tumbuh dewasa dan pria yang dipilihnya untuk menghabiskan hidup bersamanya."

Dia mengambil tangan Yoongi dan meletakkannya ditanganku. Lalu ia berbalik untuk mengambil tempat duduknya. Aku menyelipkan tangannya ke dalam lekukan lenganku saat kami berbalik menghadap petugas sipil.

Yoongi tersentak sedikit disampingku dan menatap perutnya dengan tersenyum. Aku menyelipkan lenganku di pinggangnya dan meletakkan tanganku di perutnya menenangkan bayi kami yang sedang bergerak di dalam menendang. Ini adalah milikku, mereka milikku, selamanya.


-END-

Update time: TGif, 16.09.09

[Reader-nim, teman-teman sekalian… akhirnya kisah ini selesai T_T]

[Indah ya pernikahan mereka huhuhu…]

[Ini sebenarnya gk ada loh di seri aslinya hehe. (Ini ada di versi selanjutnya yg inggris), aku nulis chapter ini dari awal ampe akhir baper maksimal… *baper dengan happy mode on kok* ^^]

[Pas yg Yoongi dikasih hadiah terus itu ampe dag dig dug, Jimin why you're so sweettt!]

[Gimana ni semua yg uda ikutin dari awal, puas kah? Sedih kah? Kecewa kah? *please give me fruitella jangan nano2 huehehe*]

[Oh ya, aku ada rencana bikin bonus chapter, drabble pas Yoongi melahirkan hmhm, tapi gk janji segera ya hehe. Minat dulu gk nih? :D *silahkan suarakan pendapat kalian*]

[Oke, end note utk last chapter itu gk afdol kalo gk ucapin terimakasih. Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk semua yg uda baca kisah MinYoon ini… *berasa gk dari prequel Yoongi masih perjaka; ampe uda di goal Jimin; ampe tekdung; ampe skr married-wow*]

[Thanks untuk review2nya, semangatnya, untuk yg sampe inbox, line, semuanya gomawo eoh. Maap kalo aku bales review ada salah2 kata yaaa, n walo kadang gk bales aku ttp baca kok review kalian semua. Dukungan kalian itu sangat2 bikin seneng, percayalah, hehe.]

[Semoga kita bisa ketemu lagi dg project ff yg lainnya ^_^]

[Muachhh *kecup sayang untuk semuaaaa!* Byeee…]

p.s:

[Lagu yang dinyanyiin Jimin itu aslinya beneran ada loh, buat yg penasaran mau denger lagunya plus dg slide pic minyoon silahkan di youtube search:

Minyoon / Yoonmin - Fallen Too Far (Minimini Series)

Untuk yang mau langsung dapat linknya bisa cek di profile ffn page-ku ya, link nya uda aku taroh di sana :)]

[Tbh lagu itu stuck bgt buatku... aku uda dengerin dari era WUFTF n itu salah satu alesan yg bikin aku berpikir utk lanjutin ff ini sampe series ini. Liat aja liriknya, gmn gk lumer? T_T So coba dgrin deh gk akan nyesel hehe.]