Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Special Chapter 1

JIMIN POV

"Kau terlihat baik untuk seorang pria yang sudah menikah," Hoseok menggoda saat aku berjalan kembali ke kereta untuk mendapatkan putter-ku.

"Tentu saja. Aku menikah dengan Yoongi. Aku bajingan paling beruntung di planet ini," jawabku, tidak menangkap umpannya.

Dia ingin menggodaku karena Hoseok pikir aku lucu ketika aku marah.

"Yoongi adalah pria yang seksi. Bahkan dengan usia kehamilan sembilan bulan," ujarnya, bersandar dan menopang kakinya pada dasbor kereta.

"Jika kau ingin hidung sialan-mu itu rusak maka lanjutkan saja omonganmu itu bung," geramku sambil melotot ke arahnya.

Dia mulai tertawa dan aku tahu dia mendapat apa yang ia inginkan. Aku memutar mataku.

Ponselku mulai bergetar dan berdering di sakuku. Itu suara dering Yoongi. Aku menjatuhkan tongkat golf-ku dan merogoh sakuku. Dia tidak biasanya meneleponku tiba-tiba. Jika ia menelepon, berarti dia membutuhkanku.

Aku mulai berjalan ke arah kereta sambil menunggu dia untuk mengangkat teleponku.

"Hei," kataku saat dia menjawab.

Dia mengambil napas dalam-dalam dan aku segera menjalankan kereta memutar ke arah clubhouse.

"Air ketubanku baru saja pecah," katanya berusaha tenang.

"Aku sedang dalam perjalanan. Tinggal di sana. Jangan bergerak. Jangan mengemudi. Hanya tunggu aku."

"Aku di tempat parkir clubhouse. Aku datang untuk mencarimu ketika hal itu terjadi," jawabnya.

"Aku hampir sampai, Sayang, bertahanlah. Kurang dari satu menit, aku bersumpah," aku meyakinkannya.

Dia membuat suara seperti mendengus kemudian mengambil beberapa napas dalam-dalam.

"Oke," jawabnya kemudian menutup telepon.

"Sial," aku menggeram dan berharap kepada Tuhan agar kereta sialan ini bisa bergerak lebih cepat.

"Aku menyimpulkan bahwa dia akan melahirkan," ujar Hoseok dari kursi di sampingku.

"Ya," bentakku.

Aku tidak ingin berbicara. Aku hanya perlu untuk menghampirinya lebih cepat.

"Aku kira itu berarti kau tidak peduli bahwa kau baru saja meninggalkan putter-mu di lubang gold tadi," jawab Hoseok.

"Persetan, tidak, aku tidak peduli tentang putter sialan."

Hoseok menyilangkan lengannya di depan dada,

"Oke, hanya memastikan."

"Aku ingin kau mengambil ponselku. Cari nomor Jiwon dan hubungi dia."

Hoseok meraih ponselku dan melakukan apa yang kuminta sementara aku membanting kereta ke taman dan berlari secepat mungkin ke tempat parkir.

Yoongi berdiri di samping Mercedes yang kubeli untuknya dengan satu tangan bertumpu pada mobil dan satu tangan pada perutnya. Dia tampak lebih santai daripada yang kubayangkan.

"Kau cukup cepat," dia tersenyum padaku saat matanya bertemu denganku.

"Apa kamu baik-baik saja?" aku bertanya, membungkus lenganku di sekelilingnya dan berjalan membawanya ke sisi penumpang.

"Aku baik-baik saja sekarang, kramnya telah mereda. Tapi Jimin, aku tidak harus masuk ke mobil ini. Ini merek baru dan aku sekarang... kau tahu... aku basah," katanya sedikit terbata.

"Aku tidak peduli seberapa baru mobil sialan ini. Masuk. Aku akan membawamu ke rumah sakit. "

Dia membiarkanku membantunya masuk ke dalam mobil meskipun aku bisa melihat keengganan di wajahnya. Dia tidak ingin mengotori mobil barunya. Aku menekan ciuman ke keningnya,

"Aku bersumpah aku akan membawanya ke car washing yang terbaik dan memeriksa secara rinci sebelum kau keluar dari rumah sakit," aku meyakinkannya sebelum menutup pintu.

Aku berlari di sekitar bagian depan mobil dan Hoseok berdiri di sana dengan ekspresi gugup.

"Dia baik-baik saja?"

"Dia akan melahirkan," aku mengatakan hal yang sudah jelas dan menyentakan pintu mobil hingga terbuka.

"Aku sudah menelepon Jiwon. Apa lagi yang bisa aku lakukan?"

"Telepon ayahku, Bradley. Dia pasti juga menantikan kabar ini. Telepon juga Taehyung, katakan padanya bahwa dia akan segera menjadi seorang paman," kataku sebelum menutup pintu mobil.

Aku tidak membiarkan diriku berpikir tentang fakta aku tidak akan menelepon ibu. Tidak ada gunanya. Aku tidak bisa mempercayainya di sekitar Yoongi.

"Apakah kamu pikir mungkin kamu harus menelepon ibumu? Atau apakah kamu pikir dia lebih baik untuk tidak tahu?"

Aku melirik ke arah Yoongi saat aku menarik mobil keluar ke jalan dan melaju ke rumah sakit terletak.

"Aku tidak ingin dia menjadi bagian dari ini. Dia tidak pantas untuk itu," jawabku, sambil satu tanganku menyentuh dan meremas tangannya.

"Ini adalah keluarga kita sekarang. Aku dan kamu. Kita yang memutuskan siapa yang akan kita terima."

Yoongi mengangguk dan meletakkan kepalanya bersandar pada jok. Aku tahu dia sedang mengalami rasa sakit dari kerutan raut wajahnya meskipun dia tetap diam tentang hal itu.

"Bagaimana aku bisa membantu?" tanyaku, ingin melakukan sesuatu untuk membuatnya merasa lebih baik.

"Menyetirlah," jawabnya dengan senyum yang lemah.

Dia meremas tanganku dan menghela napas lega,

"Yang itu sudah berakhir. Mereka tidak sangat panjang atau dekat bersama-sama sehingga kita akan tepat waktu," dia terdengar terengah-engah.

Mendadak dia meremas tanganku lagi,

"Jimin!"

Aku hampir membelok dari jalan,

"Apa, baby? Apa kau baik-baik saja?"

Hatiku terasa membanting dadaku.

"Aku lupa tentang Taehyung. Kamu harus memanggil Jungkook. Dia perlu tahu bahwa Taehyung datang mencarinya "

Jungkook? Taehyung ada di sini? Apakah ia berhalusinasi?

"Baby, aku tidak tahu apa hubungannya Jungkook dan Taehyung," jawabku hati-hati, memikirkan kemungkinan halusinasinya ini bisa membuatnya panik.

"Taehyung dan Jungkook berkencan. Jokwon yang menceritakan padaku. Aku berpapasan dengannya tadi, Taehyung tersenyum padaku, Jimin. Dia benar-benar adik yang manis dan aku menyukainya ketika tersenyum. Dia tadi datang dan tampak membawa koper bersamanya. Jungkook perlu membantunya."

Jadi Yoongi telah berada di klub untuk mengunjungi Jokwon. Itu sebabnya dia ada di sana. Dan setelah itu air ketubannya pecah dan dia akan melahirkan. Ini masuk akal sekarang.

"Hoseok memiliki ponselku. Di mana ponselmu?"

Jika ini tidak berarti begitu banyak untuknya aku tidak akan khawatir tentang kehidupan cinta Jungkook dan adikku. Aku mungkin akan mempertanyakan hal ini nantinya pada mereka walau tidak sekarang.

Tapi Yoongi tidak memerlukan stres berlebih dan panik akan hal lain jadi aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk membuatnya merasa lebih baik.

"Dia tidak menjawab teleponnya. Itu akan langsung ke pesan suara. Siapa lagi yang bisa kita sebut?" tanyanya.

Aku meraih ponsel dari tangan Yoongi dan menghubungi nomor Hoseok.

"Aku menelepon Bradley dan dia akan mengambil penerbangan berikutnya, nomor Taehyung tidak aktif," ucap Hoseok begitu mengangkat teleponku.

"Terima kasih. Dengar, Jungkook tidak menjawab teleponnya. Telepon ayahnya. Katakan padanya bahwa Taehyung mencarinya ke kantor."

"Sial. Kapan Taehyung ke sini? Dia serius menyusul Jungkook ke sini?" Hoseok bertanya di telingaku.

Aku menebak dia sudah tahu kisah percintaan Jungkook dan adikku.

"Aku tidak tahu. Istriku akan melahirkan. Panggil saja ayahnya. Dia bisa menemukannya. Aku harus pergi."

"Ya, aku akan katakan padanya," jawab Hoseok dan aku menutup telepon.

"Ayah Jungkook akan tahu bagaimana menghubunginya," aku meyakinkan Yoongi.

Dia mengerutkan kening dan meremas tanganku lagi, kontraksi lain.

.

.

.

YOONGI POV

Aku takut dengan jarum. Tapi proses melahirkanku mengharuskan aku bertemu dengan jarum sialan itu. Aku sudah mempersiapkan diri beberapa bulan lalu bahwa aku akan mendapatkan jarum panjang menempel kepunggungku untuk dilakukan prosedur anestesi epidural. Aku ingin mendengarkan suara bayiku ketika lahir, jadi pilihan bius total sudah kucoret dari daftarku.

Saat ini, aku sedang menunggu perawat untuk menyuntikkan jarum itu kepadaku. Menunggu saat ini membuatku berpikir bahwa ini adalah hal yang sangat buruk. Karena aku merasa seperti bagian dalam tubuhku sedang diiris terbuka.

Keadaan disekelilingku tidak membantu karena setiap kali aku merasa butuh untuk berteriak karena merasakan sakit, Jimin menjadi benar-benar panik. Dia harus menenangkan dirinya. Aku harus berteriak untuk melewati rasa sakit ini.

"Apakah aku perlu pergi untuk memanggil perawat? Bisakah aku memberikanmu beberapa es? Apakah kau ingin meremas tanganku?"

Jimin terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Aku tahu dia bermaksud baik tapi saat ini aku tidak peduli.

Aku mengulurkan tangan dan menyambar T-shirt-nya agar dia mendekat padaku lalu aku memukul kepalanya.

"Kau harus senang aku tidak membawa beretta-ku, karena sekarang aku sedang mempertimbangkan cara-cara agar aku bisa membuatmu diam. Sekarang biarkan aku menjerit dan mundur," aku membentaknya dan meraih perutku ketika kontraksi yang lain menghantamku.

"Waktu untuk memeriksa lagi," ujar seorang perawat ceria dengan rambut dikuncir saat ia kembali memantau ke dalam ruangan.

Ia juga harus senang aku tidak punya pistolku, karena dia akan ada berikutnya di daftar yang ingin kuledakkan. Aku memejamkan mata berharap aku tidak merasakan kontraksi lagi sementara dia di sana karena aku mungkin menendang wajahnya.

"Oh, kelihatannya semua sudah siap. Aku akan memanggil dokter di sini. Tetap tenang oke," katanya padaku lagi.

Aku telah diberitahu untuk tetap tenang selama satu jam terakhir. Semua yang tubuhku ingin lakukan adalah mendorong isi perutku yang terasa sangat penuh. Dokter perlu segera datang dengan mengangkat pantat sialan-nya.

Jimin sedang berusaha diam dengan tidak wajar. Aku melirik ke arahnya dan wajahnya mengingatkanku pada anak kecil di playgroup. Dia tampak ketakutan dan gugup. Aku merasa bersalah sudah berteriak padanya tapi perasaan itu tidak berlangsung lama ketika kontraksi lain memukulku dan kali ini lebih buruk.

Aku tidak menyadari itu bisa lebih buruk seperti ini. Dokter Changmin berjalan ke dalam dan tersenyum padaku seperti ini adalah hal yang baik.

"Waktu untuk mendapatkan bahwa si kecil akan keluar dari sana dan bertemu dengan dunia."

Dia terdengar sangat riang seperti perawat berkuncir itu. Bajingan.

"Anda diijinkan untuk berada di sini dan melihat, selama anda tidak mual atau anda bisa tinggal didekatnya saat dia mulai mendorong," kata dokter pada Jimin.

Jimin melangkah mendekatiku dan mengelus kepalaku dan mengambil tanganku,

"Aku akan tinggal dengan dia," katanya dan meremas tanganku lembut.

Hal ini membuatku ingin menangis. Dia sudah berusaha keras untuk membuat segalanya lebih mudah padaku dan aku telah mengancam akan menembaknya. Aku adalah seorang 'istri' yang mengerikan.

"Jangan menangis, Sayang. Kamu bisa melakukan ini," katanya, tampak bertekad dan siap untuk pergi ke medan perang.

"Aku jahat padamu tadi. Maaf," kataku sambil terisak dan terbata-bata.

Dia tersenyum dan mencium kepalaku,

"Kau merasakan sakit dan jika itu membuatmu merasa lebih baik untuk memukulku, maka aku akan membiarkanmu melakukannya berulang kali padaku."

Aku ingin menciumnya tapi kemudian aku merasakan ada tarikan lain dalam tubuhku. Rasa sakit telah hilang, sepertinya bius telah bekerja. Aku bisa merasakan dokter melakukan sayatan pada tubuhku tapi semuanya hanya terasa kebas.

Sampai kemudian aku mendengar suara yang paling indah di dunia. Sebuah tangisan.

Bayi kami menangis.

.

.

.

JIMIN POV

Dia sempurna. Aku menghitung sepuluh jari kaki dan jari-jari tangannya. Sementara Yoongi mencium masing-masing tangan dan kaki itu. Dia juga begitu mungil. Aku tidak menyadari bayi berukuran begitu kecil.

"Kita harus memutuskan namanya sekarang," kata Yoongi, menatapku setelah dia akhirnya sudah mendapatkan perawatan dan anak kami diperbolehkan untuk bertemu dengan kami di sini.

Kami telah membicarakan mengenai hal ini selama tiga bulan terakhir dan Yoongi mengatakan sulit untuk menamakan seseorang yang kami belum pernah lihat. Oleh karena itu kami sepakat untuk menunggu sampai dia lahir baru memberinya sebuah nama.

Aku sebenarnya sudah memiliki sebuah nama yang ingin kuberikan, namun aku sangat ingin menggoda dan mendengar idenya mengenai nama-nama lain yang dia inginkan.

"Aku tahu. Kita telah melihat dia sekarang. Kita perlu memberinya nama. Apa yang kamu pikirkan?"

Aku bertanya padanya berharap ia tidak menyarankan suatu nama dengan ujung Ray lagi. Aku mencintai ayahku, tapi aku tidak ingin nama anakku menggunakan nama besar kakeknya sebagai seorang artis.

"Aku pikir matanya lucu seperti bulan, 'Moonbyul'?" katanya, tersenyum ke arahku.

Aku bukan penggemar nama itu.

"Kamu masih melawan nama 'Gang'?" aku bertanya.

Dia tersenyum ke arahku.

"Aku ingin menempatkan Jimin dalam namanya tetapi jika kita menamakan dia Gang, itu kan menjadi Jimin Gang, atau Gang Jimin terdengar konyol."

Aku lupa dia berusaha untuk menggunakan namaku juga. Aku tidak akan berdebat dengannya. Aku menyukai gagasan bahwa anakku memiliki namaku.

"Bagaimana dengan 'Geum'? 'Geum Jimin'?" godaku dan dia menggigit bibirnya dari cekikikan.

"Sebenarnya aku ada sebuah nama yang aku ingin namakan untuk anak kita, Sayang. Bagaimana kalau Yooji? Memang namanya berbeda tapi penyebutannya sama dengan ketika aku dulu memanggil ibumu, Euge. Bagaimana menurutmu?" tanyaku.

Bayi kami seketika bergerak dari gendongan Yoongi dan membuka matanya seolah-olah aku telah memanggil namanya.

Ya, aku kira kami akan mengambil keputusan.

"Park Yooji terdengar indah," ujarnya setuju.

Dia tersenyum ke arahku dengan senang hati kemudian beralih melihat anak kami, menundukkan kepala mencium hidungnya.

"Halo Yooji. Selamat datang ke dunia."

Aku ingin memeluk Yooji kami, tapi dia tampak seperti dia telah memutuskan untuk pergi tidur bukannya bersosialisasi. Yoongi mengangkatnya dan membaringkannya di atas bahunya dan menepuk punggungnya dengan lembut.

Aku berdiri di sana dan menyaksikan dengan perasaan hangat dan takjub. Ini adalah milikku. Keluargaku. Dan mereka sempurna.

Ketika Yoongi puas dengan usahanya memberikan susu botol kepada Yooji dan membuatnya bersendawa, ia membungkusnya kembali dengan selimutnya dan menatapku,

"Sekarang giliranmu, Appa. Aku perlu istirahat. Mataku terasa berat."

Aku meraihnya dan mengambil anakku dari pelukan ibunya. Memegangnya mendekati dadaku, aku menghirup wangi bayi yang manis.

"Ayo putra kecilku. Mari kita pergi duduk nyaman di sana dan melihat apakah kita dapat menemukan acara basket untuk ditonton di televisi."

Yooji tertidur pulas dalam pelukanku dan Yoongi sudah tidur cukup cepat setelah ia menyerahkan Yooji kepadaku. Aku bisa tinggal di ruangan ini dengan mereka berdua seperti ini selamanya. Hanya memiliki mereka dekat denganku dan mengetahui mereka aman membuat segalanya terasa baik dan sempurna.

Ketukan lembut di pintu membuyarkan pikiranku. Aku berbalik untuk melihat pintu terbuka dan beberapa balon biru masuk sebelum aku melihat kepala Jin di belakangnya.

"Oke, Jimin appa, aku sadar bahwa kau sedang menikmatinya tetapi kau harus berbagi. Kedua harabeoji-nya berada di ruang tunggu dengan sabar menunggu, kau tahu," bisiknya setelah melirik dan melihat Yoongi tertidur.

"Aku tidak ingin mengganggu Yoongi. Dia kelelahan. Aku akan membawa bayi kami ke ruang bayi. Silahkan beritahu semua orang untuk bertemu dengan kami di sana."

Jin memandang ke arah Yooji dengan penuh kerinduan. Aku tahu dia ingin menggendongnya tapi aku belum siap. Aku tidak begitu yakin dia tidak akan menjatuhkannya. Aku tidak begitu yakin aku bisa mempercayai siapapun untuk menggendongnya.

Menggendongnya agar dia lebih dekat terhadapku, aku bertanya-tanya bagaimana aku akan bersikap ketika orang datang ke rumahku dan ingin menggendong anakku.

"Perawat mengatakan kalian menamainya Park Yooji. Aku menyukainya," katanya.

"Kita akan memanggilnya Yooji."

Dia mengangguk dan kemudian menuju keluar untuk memberitahu semua orang ke mana harus pergi. Aku tidak keberatan menunjukkan Yooji kepada mereka melalui ruang kaca jendela tapi aku tidak akan membiarkan mereka semua bernapas pada dirinya dan menyentuhnya. Terlalu banyak kuman.

Dia masih terlalu kecil untuk berurusan dengan itu. Dia membutuhkan beberapa banyak daging pada dirinya sebelum ia harus berurusan dengan kuman.

Aku melangkah ke kamar bayi dan melapor kepada perawat. Aku menjelaskan bahwa aku ada di sana untuk menunjukkan bayiku kepada anggota keluarga melalui kaca. Ketika dia berbalik dan melihat ayahku berdiri di jendela mulutnya ternganga,

"Ya Tuhan. Bradley, bayi ini berhubungan dengan Bradley Ray? The Busker-busker?"

Aku mengangguk.

"Ya. Ini cucunya dan aku benar-benar perlu untuk menunjukkan Yooji di sini untuk harabeoji-nya."

Dia bergegas untuk membuat jalan bagiku dan mengikutiku ke jendela sehingga ia bisa menganga di depan ayahku. Namun Bradley sepertinya benar-benar terfokus pada Yooji. Dia mengangkat jempolnya dan mengedipkan mata padaku.

Jiwon meneteskan air matanya dan menganggukkan kepalanya. Hoseok berdiri di samping ayahku sambil nyengir ke arah Yooji. Jin membuat ekspresi gemas dan sibuk berkata-kata dengan Namjoon dan Namjoon mengangguk kepalanya tanda setuju dengan apapun yang Jin katakan.

Jokwon menerobos kerumunan untuk dapat melihat Yooji dan meletakkan tangannya di pinggul dan berseri-seri ke arah Yooji. Lalu ia menatapku dan memberiku senyuman dan anggukan.

Ini adalah keluarga besar kami. Kami mungkin tidak memiliki saudara kandung atau ibu di sini bersama kami, tapi kami memiliki orang-orang yang mengasihi kami dan yang akan mencintai Yooji.

"Apakah kamu pikir aku bisa mendapatkan tandatangan Bradley?" Perawat bertanya disampingku.

"Pergilah ke sana dan bertanya padanya. Kamu beruntung dia dalam suasana hati yang benar-benar baik," kataku sebelum berbalik dan mengambil Yooji kembali ke eomma-nya.


-END-

11.09.2016

[Mau lagi? :p]