Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Special Chapter 2-END
YOONGI POV
Aku merasa harus keluar dari rumah. Aku ingin menghirup udara segar dari luar rumah kami. Tapi Jimin tidak ingin aku membawa Yooji kemanapun dan karena aku saat ini adalah sumber rasa aman dan nutrisi bagi Yooji, aku tidak bisa berpisah lama dengannya.
Yooji mulai menolak untuk meminum susu formula jika Jimin yang memberikan, mengharuskan aku lah yang memberinya. Aku juga telah mencoba memompa dadaku yang membengkak setelah melahirkan dan untungnya terdapat sedikit asi dari tubuhku yang dapat diberikan untuk Yooji.
Yooji hanya menginginkanku. Itu adalah hal yang manis tapi ayahnya begitu overprotektif. Jimin menjadi cepat marah ketika ada orang yang datang dan ingin menggendong Yooji.
Benarkah emosinya yang mudah naik itu alasannya karena dia tidak bisa menyentuhku sejak aku melahirkan? Jin yang memberitahuku dengan pemikiran itu. Berdasarkan kisah yang dia dapat dari bibinya setelah melahirkan dan mendapati suaminya menjadi cepat marah.
Itu terdengar seperti sebuah omong kosong, tapi aku mulai merasa khawatir pada saat enam minggu setelah ini tiba dan aku sudah boleh berhubungan seks lagi. Jimin akan menjadi seorang yang sangat kelaparan. Amat kelaparan.
Dan aku tidak yakin mampu menghadapinya dengan tugasku yang saat ini sudah merangkap menjadi seorang 'istri' dan 'ibu'. Aku harus mengurus anakku, anak kami.
Aku harus melakukan sesuatu untuk meredam emosinya, atau ia akan meledak.
.
.
.
Minggu pertama tinggal di rumah terasa mudah. Aku masih lelah dan Yooji tidak tidur banyak pada malam hari sehingga aku secara fisik juga tidak keluar pada siang hari.
Aku pergi ke kamar Yooji dan mengayunkan ranjang goyangnya perlahan selama satu jam sementara ia tidur. Dokter Changmin menyarankanku untuk tidak melakukannya karena akan menjadi kebiasaan Yooji untuk selalu diayunkan ketika tidur. Itu akan membuatnya menjadi manja dan merusak dirinya. Tapi untuk tidak melakukannya terkadang terasa sangat sulit.
Aku ingin mengingat saat-saat ini. Dia akan dapat berjalan di sekitar rumah segera setelah hari-hari ini berlalu.
.
.
.
Ketika Yooji berumur satu bulan aku mengeluarkan pendapatku dan mengatakan pada Jimin bahwa sudah waktunya kami pergi ke suatu tempat dengan Yooji. Jimin setuju bahwa ia harus bisa merelakan kepemilikannya terhadap Yooji.
Kami menghabiskan lebih dari satu jam untuk mendapatkan semua persediaan rumah bersama-sama, lalu kemudian pergi makan malam di restoran di klub golf.
Pada saat kami sampai di rumah aku merasa sangat lelah dan aku pikir bahwa mungkin ideku hanyalah sebuah ide yang buruk. Kami bisa hanya tinggal di rumah sampai Yooji lebih besar dan lebih mudah untuk diberikan susu selain olehku.
Dengan pemikiran ini aku rasanya akan segera menangis karena aku merasa diriku adalah seorang ibu yang egois dan mengerikan.
Jimin menggendong Yooji dan menidurkannya untuk membantuku sementara aku pergi mandi. Aku juga siap untuk segera tidur setelah ini. Aku perlu berhenti memberi susu kepada Yooji di malam hari seperti bagaimana dokter menyarankanku, tapi aku tidak tega dan terus melakukannya. Aku harus menghentikan itu juga.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan cermin. Pinggulku lebih lebar sekarang. Aku positif mereka akan tetap seperti ini. Aku sudah dapat mengenakan semua pakaianku sebelum hamil, tapi aku tidak terbiasa dengan bagaimana aku terlihat. Tubuhku sekarang adalah tubuh seorang 'ibu' tua.
"Sial. Aku sudah berusaha untuk tidak melihatmu telanjang karena aku berusaha sangat keras untuk tidak membuat masalah dengan tanganku sendiri, tapi bagaimana menolaknya... Kau terlihat sempurna, Park Yoongi."
Mendengar keinginan dalam suaranya menggerakkan sisi kepercayaan diriku. Aku ingin merasa seksi lagi. Aku ingin bercinta lagi. Kami memiliki dua minggu lagi sampai janji temu dengan dokter Changmin. Aku tidak yakin aku bisa bertahan selama itu.
Aku berbalik dan berjalan ke arahnya. Seks mungkin adalah kegiatan terlarang tapi untukku memastikan priaku, 'suami'-ku, senang dan terpuaskan adalah hal yang berbeda.
Aku menempelkan tubuhku padanya dan menekan bibirku pada bibir penuhnya kemudian menggigit bibir bawahnya. Aku lelah menjadi manis dan romantis. Aku ingin menjadi nakal.
Aku menarik bajunya hingga terlepas dan menciumi dadanya sambil tersenyum sendiri ketika aku merasakan napasnya memburu dan ia meraih kepalaku. Aku melepas celana jins dan mendorong turun disekitar pergelangan kaki bersama dengan boxer-nya.
Ereksinya berdiri dengan bangga dan mulutku terasa kehausan ingin mencicipinya. Dia selalu mengagumkan. Bahkan bagian darinya ini membuatku semakin bergairah.
Memegang satu sisi di sekitar pangkal kemaluannya, batangnya meluncur masuk hingga terasa di ujung mulutku dan ditekan dalam sampai kepala ereksinya menghantam bagian belakang tenggorokanku.
"Oh ya Tuhan," Jimin mengerang, jatuh mengenai kusen pintu untuk mencegahnya terjatuh.
Dia meremas kedua tangannya di rambutku dan menahanku di sana. Aku menarik hisapanku kembali membiarkan kejantanannya bebas dari mulutku dengan bunyi 'pop' dan kemudian menggoda kepala ereksinya dengan lidahku. Umpatan dan erangannya hanya membuatku merasa lebih panas.
"Hisap itu, tolong, baby, sial, hisap dalam-dalam lagi," pintanya, mendorong kepalaku ke bawahnya sampai kepala ereksinya sekali lagi meluncur ke tenggorokanku.
Aku tersedak dan menikmati erangan kenikmatan yang berasal dari Jimin. Dia menikmati mendengarku tersedak. Dan aku telah membuat gairahku sendiri semakin naik.
Aku menjatuhkan tanganku menyelinap di antara kakiku dan membiarkan Jimin mengontrol berapa banyak dari kejantanannya untuk masuk ke mulutku dengan cengkeramannya pada kepalaku.
"Brengsek, apa kau menyentuh dirimu?" tanyanya, terengah-engah sambil menarik miliknya kembali keluar dari mulutku.
Aku mengeluarkan lidahku dan membiarkan itu menjilat kepala ereksinya sebelum aku mengangguk. Lalu aku membuka mulutku lebar dan menatapnya sementara ia mengarahkan kejantanannya kembali ke dalam mulutku.
"Aku ingin bermain dengan milikmu juga," Jimin menggeram,
"Jangan keluar dulu, Yoongi yahhh..."
Aku sangat dekat untuk klimaks jadi aku tidak yakin aku bisa berjanji kepadanya. Dia mulai bergerak keluar-masuk dari mulutku dengan lebih cepat. Napasnya bertambah cepat dan desahannya semakin membuatku merasa buruk, panas. Aku akan meledak.
"Aku akan keluar," katanya, menarik keluar kejantanannya dari mulutku, namun aku meraih pinggangnya dan menahannya untuk tetap berada di dalam mulutku.
"Yoongi, baby, aku akan datang dalam mulutmu jika kamu tidak membiarkanku pergi sekarang."
Aku menghisap keras pada kejantanannya dan memompanya keluar-masuk dengan mulutku. Aku merasa dia menegang dengan lidahku dan kedua tangannya meraih bagian belakang kepalaku.
Aku mendengar gemuruh di dalam dirinya sebelum cairan hangat meledak menghantam bagian belakang tenggorokanku.
"Persetan, baby. Yah, hisap itu, ambil... ya, ambil semua... Sial itu luar biasa," ia meneriakkannya ketika tubuhnya tersentak di bawah tangan dan mulutku.
Ereksi-ku sendiri telah basah oleh cairan pre-cum-ku yang sudah meluap karena hasratku. Aku mulai menyelipkan tanganku di sana lagi ketika Jimin menarik kejantanannya dari mulutku dan menggendongku untuk membawaku ke tempat tidur dan melemparkanku ke sana.
Aku tahu kami tidak seharusnya melakukan seks, tapi sekarang aku tidak benar-benar peduli. Aku sudah merasa segalanya telah membaik di sana. Tidak ada yang terasa berbeda kecuali jahitan yang terkadang nyeri. Nyeri yang bisa kutahan.
Jimin mendorong kakiku hingga membuka lebar dan kemudian kepalanya menunduk dan lidahnya melesat keluar menjilati ujung yang basah di kejantananku sambil tangannya mengelus bagian dalam kakiku. Aku gemetar, karena tangannya semakin mendekat ke lubang panasku.
"Aku akan memakan penis manis ini sampai kamu memohon padaku untuk berhenti," ancamnya sebelum ia menyelipkan lidahnya pada batangku dan kemudian menjentikkan barbelnya di atas kepala ereksiku.
Aku menyukai cara dia melakukan itu. Sudah beberapa lama aku tidak merasakannya.
Aku meraih rambutnya dan menahannya selama dia memanjakan kepala ereksiku. Dia tertawa dan getarannya membuatku ingin menangis dalam kenikmatan.
"Pria kecilku yang serakah," gumamnya meninggalkan kejantananku dan beralih ke arah dalam kakiku.
Dia menekan ciuman dekat pintu masuk manhole-ku sebelum meluncurkan lidahnya di dalamku dan tangannya memutar-mutar bola-bolaku dengan ibu jarinya. Dan klimaks pertamaku datang tanpa dapat kutahan lagi, aku menarik rambutnya keras yang membuatnya menggeram lapar dan terus menjilatiku di bawah sana.
"Aku ingin lebih," bisiknya sambil menyeringai ke arahku.
Kakiku terasa melemah dan aku membiarkannya jatuh terbuka.
"Itu dia, Sayang. Bukalah," dia menggodaku.
Ya Tuhan, aku akan melakukan apa saja yang orang ini inginkan. Dengan penyerahanku ini, dengan santai dia menekankan jarinya meluncur ke dalam diriku dan mulai menggerakkannya keluar-masuk.
Kemudian dia berhenti sampai aku merasa dia menambahkan jarinya ke dalam hingga sudah ada tiga jarinya di dalamku. Aku mendadak tidak yakin aku menginginkannya menyentuhku saat ini.
"Jangan tegang, Yoongi. Aku tidak akan menyakitimu. Ini agar kau lebih meregangkan dirimu. Biarkan aku membuatmu merasa nyaman," janjinya.
Aku merasa lebih tenang dengan perkataannya, percaya padanya saat ia meluncurkan ujung jari ketiganya di dalamku sementara lidahnya kembali menggoda kejantananku. Aku mendapati diriku mendorong kepalanya agar semakin dalam menelan kejantananku.
Sedangkan jari-jarinya di dalamku sedang berusaha untuk mendapatkan lebih dalam, jari lainnya tiba-tiba menggenggam bola-bolaku dan membuatnya beradu sambil meremasnya pelan.
Jimin mengerang puas ketika mendapatiku semakin mendesah sambil terus bekerja dengan jarinya keluar-masuk dari pantatku dan meremas bola-bolaku, sementara ia bercinta denganku dengan lidahnya.
Seakan ada suatu gejolak orgasme yang hebat terbangun dari diriku. Aku tidak mengerti tapi rasanya sangat memabukkan. Aku menginginkannya lagi.
"Jimin, aku butuh…," aku memohon, tidak yakin dengan apa yang aku butuhkan.
Dia menyelipkan jarinya kembali ke dalam lubang hangatku dan membuatku gila.
"Aku tahu apa yang kau butuhkan, Yoongi manis, dan aku akan memberikannya kepadamu," katanya sebelum menjilatiku dari bola-bolaku lalu merambat hingga ke lubangku untuk bermain dengan lidahnya.
Dia membuat gerakan memutar dengan lidahnya di sekitar lubangku sebelum kembali ke bola-bolaku dan menariknya ke dalam mulutnya sementara jarinya kembali menggelincir masuk ke dalam diriku.
Tangannya yang lain mulai menyentuh kejantananku yang sudah sangat menegang dan basah. Dengan tiba-tiba dia memompanya dengan cepat dan aku menyerah. Aku menembakkan cairanku.
Kembang api meledak di dalamku dan aku menjeritkan nama Jimin berulang-ulang sementara tubuhku terasa sangat lemas dan puas dari kesenangan murni yang mengalir.
Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kepuasan ini.
Ketika aku akhirnya kembali turun ke bumi dan berhasil membuka mata, aku melihat Jimin merangkak kembali atas tubuhku untuk berbaring di sampingku dan menarikku ke arahnya.
"Aku perlu bercinta denganmu, Yoongi. Aku perlu hingga terasa aku akan menggila," dia berbisik.
Aku juga ingin dia dalam diriku. Aku hanya tidak yakin apakah aku ingin dia dalam diriku saat ini… Kembali di sana tadi, jari-jarinya berukuran jauh lebih kecil daripada kejantanannya.
"Aku sangat amat ingin berada dalam lubangmu, baby. Berhenti khawatir atas hal lain. Ini juga untukmu. Aku tahu itu akan terasa menyenangkan untukmu," dia meyakinkanku, kemudian menutup tubuh kami berdua dengan selimut dan tanpa kurencanakan aku dengan cepat tertidur kelelahan dalam dekapan tubuh hangatnya.
.
.
.
JIMIN POV
Aku mengulurkan tangan dan mematikan monitor di menit aku mendengar suara Yooji yang mulai menangis. Malam ini adalah malam bagi Yoongi untuk tidur nyenyak walaupun sebagai gantinya aku harus bergadang semalaman menggendong si kecil mengitari sepanjang rumah untuk memberikan susu dan menjaganya hingga terlelap lagi.
Aku merangkak keluar dari tempat tidur dan memakai boxer-ku dan kaos lalu bergegas turun sebelum tangisan itu semakin kencang. Bahkan dengan monitor mati Yoongi akan bisa mendengarnya menangis.
Aku berharap aku sudah membuatnya sampai pada titik paling lelah dan membuatnya tetap tertidur dengan suara tangisan Yooji malam ini.
.
.
.
Aku menyalakan lampu dan memanggil namanya ketika masuk ke kamar dan rewelnya berhenti. Yooji suka mendengarkan suaraku. Yoongi bercerita dia selalu berhenti menghisap botol susunya ketika ia mendengarku berbicara dan kelihatan seperti ingin mendengarku dengan lebih jelas. Aku suka dengan fakta itu.
Berjalan ke tempat tidurnya, mata kecil Yooji terkunci padaku dan meskipun ia tidak benar-benar tersenyum, kau bisa melihatnya di matanya ketika dia bersemangat tentang sesuatu.
Biasanya dekapan Yoongi dengan dadanya yang sedikit membesar membuat Yooji bersemangat. Tapi dada itu juga membuatku bersemangat, jadi aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dia untuk itu.
"Hei sobat, kapan kau akan mengetahui bahwa ketika hari gelap kamu seharusnya tidur?"
Aku bertanya sambil berjalan ke arah lemari untuk mengambil popok bersih. Sambil berjalan kembali ke tempat tidur, aku mengecek popoknya yang terlihat garis biru tercetak di sana. Yoongi bilang itu artinya popok itu sudah penuh dan harus diganti.
"Waktu untuk mengganti popokmu dan menjadi bersih lagi, nak," kataku padanya yang mengerjap lucu melihatku.
Pemikiran untuk membersihkan, mengurus anakku membuatku merasa senang.
Setelah selesai mengganti popoknya, aku menunduk meraih ke arahnya untuk menggendongnya. Dia menggoyangkan badannya dalam pelukanku dan kemudian menggerakkan kepalanya sehingga dia bisa kembali melihat wajahku.
"Ya, malam ini kau terjebak denganku. Eomma butuh tidur bahkan jika kau tidak. Kamu tidak akan bisa mengganggunya."
Aku meninggalkan lampu kamar tetap menyala dan pergi untuk membuat susu untuknya.
Dengan satu tangan menggendong Yooji, tanganku yang lain membuat susu formula yang segala kelengkapannya sudah berada di kamar. Setelah meyakinkan susu itu tidak terlalu panas aku mulai menyuapinya.
Yooji biasa menolak ketika aku memberikan susu padanya, tapi sepertinya ia sedang kelaparan atau ia mengerti perkataanku. Dia menerima susunya dengan baik, menghisapnya selagi aku menggendongnya sambil mengitari ruang tamu lalu duduk bersamanya di kursi goyang.
"Kita akan memberimu makan sambil melihat bulan di atas air dan batu sampai kamu memutuskan sudah waktunya untuk tidur lagi. Eomma tidak akan menidurkanmu juga malam ini. Kau tahu bukan, tidak baik jika dia kelelahan dan membuatnya lebih mudah marah."
Yooji meletakkan kepalanya didadaku ketika dia sudah menghabiskan susunya. Aku mengambil botol itu dan meletakkan di nakas di sebelah kursi goyang lalu aku membalikkan badannya di pangkuanku dan aku mulai mengayunkan kami di atas kursi sambil mengelus punggungnya, menunggunya bersendawa.
Yoongi selalu mengingatkanku bahwa sendawa setelah minum susu adalah wajib bagi Yooji. Sambil mengelus dan menepuk pelan punggung mungil jagoanku, aku bertanya-tanya apa pikirannya tentang pemandangan ini.
Apakah dia ingin pergi ke sana dan menyentuh pasir atau merasakan air?
Aku tidak sabar untuk menunggu sampai dia bisa berbicara denganku dan memberitahuku apa yang sedang dipikirkannya.
Sendawanya datang tidak lama, membuatku memandangnya dan tersenyum pada mata cokelatnya yang melihatku. Mata yang sama indahnya dengan milik Yoongi.
Kami berayun selama hampir satu jam dan aku menunggu dia akan mencari-cari Yoongi, tapi dia tidak melakukannya. Aku melirik kembali ke arahnya dan melihat kelopak matanya sedikit terpejam dan napasnya bahkan mulai lambat teratur.
Kita sudah melalui ini tanpa membangunkan sang 'Eomma'. Aku merasa seperti aku telah mencapai suatu peringkat tersendiri. Aku berjalan perlahan-lahan kembali ke arah kamar dan membaringkannya kembali ke ranjang kotaknya. Ketika aku yakin dia akan tetap tidur aku kembali ke tempat tidur.
Appa telah berhasil.
.
.
.
Waktu selanjutnya Yooji memutuskan dia membutuhkan perhatian adalah pada jam setengah tujuh pagi.
Yoongi duduk lurus di tempat tidur ketika mendengar tangisannya dan melihat jam,
"Ya Tuhan! Apakah ia hanya sekarang menangis?"
Dia bertanya, berebut keluar dari tempat tidur dengan telanjang. Aku menyilangkan tanganku di bawah kepalaku dan melihat pemandangan indah itu ketika dia berlari di sekitar ruangan mencari sesuatu untuk dipakai.
Aku benar-benar menikmati pinggul barunya, mereka melengkung begitu sialan. Sangat seksi dan itu sulit membuatku untuk berpikir jernih ketika dia berjalan melewatiku dan mereka juga bergoyang.
"Sebenarnya tidak. Dia dan aku telah membangun ikatan yang baik semalam. Aku mengganti popoknya, memberikannya susu, menidurkannya. Aku menjelaskan kepadanya bahwa kamu membutuhkan istirahat dan dia setuju dengan itu. Aku pikir dia mengerti."
Yoongi berhenti mencari pakaian dan menatapku dengan mulut ternganga sedikit,
"Kau bangun bersama dengan dia dan membuat dia kembali tidur tanpa aku yang harus memberikannya susu? Dia baik-baik saja dengan itu?"
Aku mengangkat bahu,
"Dia setuju bahwa kau akan marah jika kelelahan jadi kau perlu tidur lagi."
Sebuah senyum kecil tercetak di bibir manisnya dan dia meletakkan tangannya di pinggulnya, aku sangat menyukai itu.
"Kalian pikir aku akan marah? Tadi malam aku tidak tampak marah, bukan? Ketika aku memiliki setengah penis-mu di bawah tenggorokanku, tuan Park Jimin?"
Persetan. Dia memancing gairahku sekarang.
"Pria istimewaku yang terbaik. Kamu harus pergi sekarang, mengganti popok dan memberi susu pada anak kita. Jangan bicara seperti itu, atau aku akan benar-benar kehilangan pikiranku untuk tetap sabar mendapat lampu hijau dari dokter sialan itu dan mengungkungmu. Semalam sudah menyiksaku, babe. Aku sudah sangat ingin berada didalammu dan kau sial-nya tertidur pulas dan aku tidak se-brengsek itu membangunkanmu…"
Yoongi tertawa dan membungkuk untuk mengambil piyama tidurnya yang sudah dia siapkan dan akan dia pakai semalam tapi tidak pernah sempat memakainya. Pantatnya terjebak di udara ketika memungutnya dan aku harus meremas diriku sendiri, bertahan untuk tidak menerkamnya.
Baju dari bahan satin piyama itu meluncur ke tubuhnya dan berhenti di pertengahan paha. Celana panjangnya masih dalam genggamannya dan dia membentuk senyum penuh arti. Dia melemparkan celana tersebut ke keranjang pakaian dan berbalik menuju ke arah tangga.
"Aku hanya akan membawa diriku yang akan marah-marah ini turun sekarang," jawabnya.
Aku menyaksikan pinggulnya bergoyang dan baju yang menempel itu dengan setiap langkah yang ia ambil. Ketika dia akhirnya berhasil hilang dari penglihatanku, aku segara melompat dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Persetan. Aku membutuhkan air terdingin sialan yang bisa aku dapatkan sekarang untuk membuat sesuatu di bawahku kembali tenang.
-REALLY REALLY END-
14.09.2016
[Horeee... finally bener2 end :D]
[Senang akhirnya rampung juga project kesayanganku ini hehehe...]
[Thanks untuk SEMUA yang masih ikutin ampe sini... *beneran I'm so so so happy*]
[Cuap2 uda banyak di 2 chapter sebelumnya, jadi di sini aku cuma mau pamit undur diri dulu hehehe.]
[Sayonara semuanya :D *bow*]
[Sekali lagi, thanks alot udah menyukai n mengikuti perjalanan FF minimini series ini. dari WPMV, WUFTF, WIFTF, & sekarang WHFTF ^_^ Aku pasti kangen sama kalian semua n kisah ini T_T]
[Ciao! *kecup sayang dari Yooji hehehe*]
