Celebrity Diary

Disclaimer: Masashi Kishimoto

WARNING : AU, super OOC, typos

Page 17

Dear Diary,

23 Januari 2015

Sore hari ketika matahari mulai kembali meninggalkan bumi dan hembusan angin menusuk tulang. Tidak ada yang berbeda dengan hari-hari biasa, kecuali cuaca yang semakin dingin.

Hinata meneguk cappucinonya yang tinggal separuh sembari menatap langit di hadapannya. Ia selalu menyukai pemandangan dari tempat tinggi. Memandang matahari yang semakin hilang karena senja juga karena musim dingin. Kembali ia meneguk minumannya lalu memandang seseorang yang sejak tadi berada tidak jauh darinya. Pria jangkung berambut keperakan dan mata yang selalu sayu karena kekurangan tidur.

Pria itu menguap, persis ketika Hinata bertanya dalam hati apakah ia tidak tidur malam tadi. Hinata ingin tersenyum, namun ditahannya, karena tujuan mereka bertemu bukan untuk membahas tentang mereka, ini tentang pria itu dan wanitanya.

"Jadi, dia hamil?" Hinata memasang wajah angkuhnya yang biasa. Sengaja memberi jeda agar bisa membaca raut wajah pria itu.

"Bagaimana bisa?"

"Yah, itu menjadi bukti kejantananku– Hei?!"

Kakashi menghindari gelas plastik bekas cappucino yang datang ke arahnya. Gadis itu serius. Lihat saja bagaimana cara ia melempar, jelas ingin melukai wajah tampannya.

"Media mencarimu!" Hinata berteriak sebal. Bagaimana bisa pria itu membuat lelucon yang tidak lucu dan tidak tepat.

Kakashi kemudian menampilkan senyum geli, yang sayangnya tidak terlihat Hinata. Ia lalu mendekati gadis yang berdiri beberapa meter darinya. Mereka sedang berada di lantai paling atas gedung favorit keduanya, gedung tua bekas Arachi TV.

"Dia kan pacarku, jadi kalau dia hamil, itu tanggung jawabku," Kakashi mengelus rambut tebal Hinata.

Hinata memilih untuk tidak membalas Kakashi. Pria ini tidak seperti yang biasa dikenalnya. Kakashi memang pribadi yang tenang, malah cenderung santai terutama pada hal-hal yang bisa diatasi atau tidak menarik perhatiannya.

Tapi ini merupakan salah satu hal terpenting di hidupnya. Ia akan memiliki bayi, darah dagingnya. Mengapa bisa ia terlihat santai? Kecuali... ia benar-benar menginginkan ini, mencintai perempuan itu. Hinata merasakan kembali denyutan yang membuat jantungnya nyeri.

"Kau kelihatan senang sekali," intonasi suara gadis itu tidak lagi tinggi. Pikirannya tengah mengambil alih perhatiannya sehingga tidak memedulikan tangan Kakashi yang tengah bermain di rambutnya.

"Sebentar lagi aku akan menjadi ayah," Kakashi menikmati perubahan ekspresi Hinata. "Hei, Kau suka bayi laki-laki atau perempuan-"

"Kenapa bertanya!" Hinata menjauhkan dirinya dari pria itu. Seketika menjadi emosi.

Hyuuga cantik itu memeluk sebelah lengannya sembari melayangkan matanya pada pemandangan lain selain wajah Kakashi. Ia terluka, dan pria Hatake itu masih berpura-pura bahwa Hinata baik-baik saja dengan kabar ini. Seolah ia dengan tangan terbuka menerimanya.

"Ini tidak ada urusannya denganmu, Hinata," Kakashi lagi-lagi membuat kontak fisik.

Hinata menampik tangan pria itu sekasar yang ia bisa. Wajahnya pias namun matanya berkilauan karena air mata. Bagaimana bisa pria itu setenang ini?

"Hinata..." Kakashi memandang gadis itu dengan sabar.

Hinata tidak pernah benar-benar mengerti jalan pikiran pria ini. Mengapa ia selalu mengabaikan perasaannya? Ini tidak adil! Kenapa hanya dia yang merasa terluka disini?

Bagaimana cara membuat Kakashi terluka seperti dirinya? Bagaimana caranya agar ia memahami perasaan gadis itu? Mengerti bahwa apa yang dilakukannya sungguh memperpuruk keadaan gadis itu. Tidak bisakah ia menunjukkan simpatinya sedikit saja? Menunjukkan bahwa walaupun sedikit, nama Hinata ada mengisi sebagian kecil hatinya.

Tapi tidak!

Kakashi tidak pernah setulus itu. Pemikiran itu membuat Hinata tidak lagi bisa menahan gejolak hatinya. Selama ini hanya dirinya yang merasa pada pria itu, mengharap juga menderita karena rasa yang tak terbalas.

"Kenapa Kau selalu begini? Kau tidak pernah memikirkan perasaanku!"

Padahal Kakashi jelas tahu perasaannya. Pria itu sungguh kejam, bermain aman agar tidak membuat konflik.

"Kau kira aku suka? Bayi laki-laki atau perempuan, hah? Kau pikir aku akan dengan santai menjawabnya, sedangkan aku selalu merasa benci kau bersama wanita itu?!"

"Kau benar-benar..."

Hinata membuang napasnya keras. Sia-sia. Ia sudah tahu bahwa apapun perasaannya, lelaki tidak berperasaan ini tidak akan pernah mengerti. Ia menyukai Kakashi dan tidak peduli bahwa ia telah berkali-kali ditolak. Tapi bukan salahnya kalau ia tidak bisa move on, Kakashilah yang tidak membuat batas dengannya. Pria itu masih bersikap baik padanya, bahkan ia masih memperlakukan Hinata seperti dulu, perlakukan yang menjadi alasan mengapa Hinata menyukainya.

Alih-alih menampar wajahnya, Hinata memilih untuk mengasihani dirinya yang dengan mudahnya terpedaya dan tidak bisa berpaling.

"Kenapa aku sebodoh ini menyukaimu..."

-to be continued-