Bel tanda masuk berdentang nyaring, semua siswa berhamburan masuk kekelas dan bahkan tak sedikit yang berebut jalan digerbang utama sana.
Beberapa siswa berhasil masuk, dan yang lainnya tertahan diluar. Ada dari mereka yang mencoba memanjat pagar dan berakhir dengan mendapat amukan dari keamanan sekolah dan juga guru yang berjaga.
Kyuhyun menghela napas melihat pemandangan diluar jendela kelas itu, bukan, ia bukan menghela karena apa yang ia lihat. Ia menghela napas karena sesuatu yang lain.
"dimana sebenarnya kau…"
Gumamannya terdengar pelan dan terasa menyayat, nada suara pemuda itu sangat lirih seperti orang yang baru saja diputuskan atau ditinggalkan pacarnya.
Wajahnya tampak tak bersahabat, beberapa kali ia mendengus dan mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas permukaan meja.
Mengingat-ngingat kapan terakhir kali ia memainkan belahan jiwanya itu dan dimana ia menyimpannya.
Tapi sekeras apapun ia berpikir ia tetap tak menemukan jawabannya, ia yakin semalam ia menyimpannya diatas nakas yang terletak antara tempat tidurnya dan juga tempat tidur Ki Bum. Tapi pagi ini ketika ia akan membawa belahan jiwanya itu kesekolah ia tak menemukannya.
Bahkan belahan jiwanya tak meninggalkan jejak sedikitpun, kemana sebenarnya dia?
Oh, PSP…
Kali ini pandangan Kyuhyun beralih pada seseorang yang duduk dibangku disampingnya, pemuda berkaca mata dengan hidung dan warna bola mata kecoklatan yang sama dengannya. Kim Ki Bum.
Entah kenapa Kyuhyun yakin kalau Ki Bum adalah pelakunya, pelaku dari hilangnya sang kekasih. Sekeras apapun Ki Bum berbohong kalau ia tak tahu apa-apa tapi tetap saja perasaan Kyuhyun berkata kalau Ki Bum lah pelakunya.
Mungkinkah karena mereka kembar? Sejak kecil mereka selalu bisa merasakan perasaan masing-masing. Tak pernah ada kebohongan antara mereka karena sekeras apapun mereka berbohong maka dengan mudah semuanya akan ketahuan.
Kyuhyun masih terus memandang Ki Bum, yang dipandag tampak tak terganggu dan masih asyik dengan bukunya yang setia ia baca mungkin hingga guru datang.
"Ya Ki Bum-ah,"
Yang dipanggil memalingkan wajah, menjawab singkat dengan ekspresi datar yang tak pernah berubah, "Wae?"
"kau, kau yang menyembunyikan PSP-ku kan?" lagi, Kyuhyun kembali mempertanyakan hal yang sama seperti yang ia tanyakan tadi pagi,
Ki Bum menghela napas, ia kembali memalingkan wajahnya pada buku seraya menjawab, "Tidak,"
Kyuhyun merubah posisinya dari duduk setengah bersandar pada meja dan menumpu pipinya ditangan menjadi duduk bersandar pada sandaran kursi, "aku yakin kau pelakunya," gumam Kyuhyun pelan.
Ki Bum tak merespon apapun, ia berpra-pura tak mendengar dan tenggelam pada bacaannya.
Biarlah pikirnya Kyuhyun marah jika sampai ia ketahuan nanti, yang terpenting sekarang ia tak bermain game ditengah pelajaran Yoo sonsaengnim dan tak berakhir dengan mendapat hukuman dikeluarkan dari kelas atau bisa jadi lebih parah lagi.
Kantin sangat ramai siang itu, semua siswa mengantri untuk mendapatkan jatah makan siang seperti biasanya. Menu empat sehat lima sempurna selalu tersedia, sekolah ini memang bukan sekolah elite tapi sekolah ini sangat memperhatikan setiap asupan gizi anak didiknya. Tak aneh jika sekolah ini dimasukkan kedalam golongan sekolah favorit.
Dipojok sebelah kanan kantin, beberapa siswa dengan seragam rapi tengah melahap makan siangnya diselingi obrolan-obrolan mengenai pelajaran, organisasi sekolah, atupun ekskul yang mereka ikuti. Tata bahasa dan perilaku mereka amat sangat sopan.
Sementara dipojok sebelah kiri ada segerombolan siswa dengan seragam yang… Ah, entahlah apakah itu bisa disebut seragam atau tidak. Beberapa dari mereka menggunakan hoodie didalam jas sekolahnya, kemeja yang tak dimasukkan, dasi yang sengaja dipasang longgar atau bahkan hanya menggantung begitu saja dileher. Dan jangan lupa apa yang mereka bicarakan, tawuran, rencana membolos dan masih banyak lagi.
Astaga, perbedaan yang amat besar bukan? Dua kubu yang siswa dan siswi sekolah itu sebut kubu musim dingin dan kubu musim panas. Oh, dan jangan lupakan siapa yang tergabung dalam kedua kubu yang sangat berbeda ini.
Kim Ki Bum, pria berkaca mata itu memang bukan anggota dari organisasi sekolah ataupun anggota dari salah satu ekskul yang ada disana. Ia bukan tipe orang yang ingin direpotkan oleh hal-hal semacam itu, Ia hanya siswa biasa yang mempunyai kesukaan sama dengan perkumpulan ini, sama-sama suka membaca dan mendiskusikan banyak hal. Kubu musim dingin.
Sementara si bungsu Kim Kyuhyun, sudah sangat jelas kubu mana yang cocok untuknya. Penampilan urakan yang seringkali Ahra sebut seperti bulu kusut kucing nakal yang dibuang pemiliknya. Perumpamaan yang sangat pintar.
Ki Bum dan Kyuhyun memang seperti musim dingin dan musim panas, kembar yang memiliki watak saling bertentangan. Tapi percayalah, mereka tak lahir dimusim dingin ataupun musim panas. Mereka lahir di musim gugur dan seharusnya mereka mempunyai sipat layaknya musim gugur.
Baik, sopan, bersahaja. Tapi nyatanya mereka tak seperti itu.
Dua kubu yang saling bertentangan. Kubu musim dingin mempunyai Ki Bum sebagai ujung tombak dan kubu musim panas mempunyai Kyuhyun tentunya. Seringkali dua kubu ini saling berkompetisi, mengenai apa? Terlalu banyak, dan sebenarnya lebih terlihat seperti kompetisi antar dua saudara Kim. Walaupun nyatanya mereka berdua tak pernah bermaksud untuk saling mengalahkan.
Di pojok kiri, seseorang terus memandang kearah perkumpulan siswa yang tengah membicarakan mengenai pentas seni yang akan diadakan minggu depan.
Bola mata kecoklatannya melihat setiap gerak gerik yang dilakukan mereka. Tidak, bukan mereka tapi salah satu dari mereka.
'aku yakin kau yang menyembunyikannya,'
Batinnya bergumam dengan mata yang menatap curiga pada seseorang disebranga sana.
Sementara di kubu musim dingin tengah membicarakan topik yang menurut mereka menarik dan penting untuk dibahas. Namja berkaca mata dengan bola mata kecoklatan itu juga ikut terlibat dalam diskusi, hingga akhirnya ia merasa harus memalingkan wajah kearah perkumpulan adiknya.
Dan, Bingo! Instingnya memang tak pernah salah. Kini bola mata kecoklatannya bertemu pandang dengan seseorang yang mempunyai bola mata yang sama dengannya, Kim Kyuhyun.
Sepersekian detik mereka saling melempar pandang, sampai akhirnya secara bersamaan membuang muka kearah lain.
Ini bukan pertama kali terjadi, hampir setiap hari selalu seperti ini. Walaupun tak ada kasus yang mengharuskan mereka saling mencurigai, namun entah mengapa mereka selalu merasa harus memastikan kalau keadaan saudara mereka baik-baik saja.
Aneh'kah? Sepertinya tidak, seseorang yang terlahir kembar seringkali saling mencari satu sama lain. Mungkin mereka memang terlahir untuk selalu bersama dan tak dapat dipisahkan walaupun mempunyai watak yang bertolak belakang.
Beberapa menit berlalu, bel kembali berbunyi. Pelajaran akan segera dimulai, mereka semua berhamburan masuk kekelas. Meninggalkan kantin yang kini sudah sangat sepi.
Dua jam pelajaran terakhir, sekarang pelajaran Yoo Sonsaengnim.
Rencana Ki Bum berjalan mulus, Kyuhyun tak dikeluarkan dari kelas dan bahkan mendapat pujian dari Yoo Sonsaengnim karena untuk pertama kalinya ia tak melihat Kyuhyun memegang atau setidaknya menaruh PSP-nya di meja.
Sepasang anak kembar itu kini pulang bersama, sejak kejadian sebulan yang lalu saat Kyuhyun terlibat tawuran, Ki Bum mendapat tugas dari kakaknya untuk selalu mengawasi Kyuhyun.
Tentu Kyuhyun tak terima begitu saja, memangnya dia anak kecil yang harus selalu diawasi?
Namun akhirnya ia menerimanya setelah melihat Ahra menangis sambil memohon padanya.
Tapi Kyuhyun tak mengerti kenapa Ki Bum langsung menerima permintaan Ahra begitu saja, padahal karena hal ini Ki Bum harus berhenti ikut latihan Taekwondo.
Lebih tepatnya memang bukan latihan tapi melatih, semua orang tahu Ki Bum sudah mendapat sabuk hitam dalam seni bela diri itu.
Mereka berjalan bersama setelah turun dari bus, Kyuhyun berjalan lebih dulu didepan sedangkan Ki Bum dibelakang .
Mereka tak saling bicara, Kyuhyun masih kesal karena PSP-nya benar-benar raib tak meninggalkan jejak. Namun sesekali mereka melirik satu sama lain, memastikan kalau mereka ada disana, dia ada bersamanya, menemaninya.
Dirumah keadaan tak jauh berbeda, setelah mengganti pakaian, Kyuhyun turun kelantai satu dan bermain game disana. Ia tak berminat untuk mencari PSP-nya, biarlah walaupun ia mencurigai Ki Bum mungkin kali ini Ki Bum memang tidak berbhong, ia memang tidak tahu.
Sementara Ki Bum ia masih berada di kamarnya dan juga Kyuhyun, setelah memastikan Kyuhyun turun dan sudah mulai bermain game, ia berjalan kearah lemarinya yang terkunci dan mengambil sesuatu dari sana. PSP.
Perlahan ia melangkah, menghampiri tempat tidur Kyuhyun yang terletak sebelah jendela. Diangkatnya bantal tidur Kyuhyun dan menyimpan PSP berwarna putih itu disana.
Ki Bum menghembuskan napasnya lega, ia tersenyum puas dan lalu berbalik hendak meninggalkan kamar, akan tetapi…
Di ambang pintu seseorang tengah menatapnya tajam, giginya bergemeletuk saling beradu. Ki Bum menegang setelah menyadari siapa itu, Kyuhyun.
"Kim Ki Bum, apa yang kau lakukan?" nada suara Kyuhyun yang dingin terasa menusuk ditelinga Ki Bum, Ki Bum sudah siap untuk menerima konsekuensinya tapi tetap saja melihat mata Kyuhyun yang mengkilat merah membuat nyalinya sedikit banyak berkurang.
Ki Bum, ia tahu benar bagaimana jika Kyuhyun marah, tak jauh berbeda dengan dirinya, mereka sama-sama memiliki amarah yang besar dan sangat sulit di redam kemarahannya.
"Apa?" Tanya Ki Bum datar tanpa ekspresi.
"apa? Kau pikir aku tidak melihat apa yang kau lakukan?"
"memangnya apa yang aku lakukan?"
"kau masih mau menyangkal Kim Ki Bum?"
Ki Bum masih memasang ekspresi datarnya, sejak awal ia sudah berbohong. Berarti ia harus berbohong sampai akhir, itulah prinsipnya. Ya, walaupun ia tahu ia sudah tertangkap basah.
"Kenapa kau menyembunyikan PSP Ku?" Kyuhyun kembali bertanya, ia tak habis pikir kenapa Ki Bum melakukan ini.
"Tidak," lagi, Ki Bum menyangkal.
"kau berbohong! Kau menyembunyikan PSP ku!" kali ini nada suara Kyuhyun mulai naik,
Sementara Ki Bum, ia tampak tak gentar. Wajahnya masih tetap datar seperti biasa. "tidak," katanya singkat, kembali menyangkal.
"Ya! Kau berbohong!"
"Tidak,"
"Ya!" nada suara Kyuhyun mulai naik lagi,
"Tidak,"
"Ya!"
"Tidak,"
"Kau berbohong Kim Ki Bum!" kali ini Kyuhyun benar-benar marah besar, disambarnya jaket varsity miliknya yang tergantung dikursi.
Ia berjalan keluar dengan wajah merah padam, Kyuhyun marah. Ia marah karena Ki Bum, ia marah karena Ki Bum berbohong. Sesungguhnya ia tak marah saat tahu Ki Bum yang menyembunyikan PSP-nya, ia hanya marah karena hyung-nya berbohong.
Kenapa Ki Bum harus berbohong padanya? Apa susahnya mengaku kalau ia menjahili Kyuhyun dan sengaja menyembunyikan PSP-nya? Kyuhyun tahu Ki Bum bukan tipe orang kurang kerjaan yang suka menjahili orang lain tanpa maksud tertentu.
Kyuhyun tahu Ki Bum pasti punya maksud terselubung dari apa yang ia lakukan, dan jika Ki Bum mengaku walaupun ia tak menjelaskan alasannya. Kyuhyun berani bersumpah ia tak akan memaksa Ki Bum untuk mengatakan alasannya, ia akan membiarkannya berlalu dan menganggap Ki Bum punya maksud baik dibalik tindakannya.
Tapi kenapa orang itu harus keras kepala?
Suara keras pintu ditutup tertangkap indera pendengaran Ki Bum, kakinya melemas dan ia jatuh terduduk diatas tempat tidur Kyuhyun. Ki Bum, ia tak pernah melihat Kyuhyun semarah ini sebelumnya. Apalagi ini hanya masalah PSP, apakah dirinya yang keterlaluan? Ataukah Kyuhyun yang berlebihan?
Entahlah, Ki Bum tak tahu. Hanya saja yang pasti ini bukan sesuatu yang baik.
Ahra berjalan sedikit terseok, kakinya serasa hampir putus karena seharian ini banyak sekali yang harus ia kerjakan. Sepulang dari kampus tadi ia bergegas pergi ke pabrik untuk melihat dan memeriksa keadaan pabrik. Berkeliling pabrik dengan sepasang kaki kecilnya yang terlihat seperti sumpit.
Tapi seulas senyuman kecil terbentuk di bibirnya yang mungil, angannya melayang pada kejadian tiga puluh menit yang lalu.
Saat dimana ia tak sengaja menabrak seseorang di restoran jjangmyeon tadi, seseorang dengan rambut sedikit kecoklatan, lesung pipitnya yang mungil dan terlihat manis. Ah, senyumannya tak bisa gadis itu lupakan.
Apakah ini terdengar seperti drama? Ahra tak peduli itu, hanya saja yang pasti wajah pria itu seolah menari-nari dalam benaknya, ada apa dengan dirinya sebenarnya?
Ahra, gadis itu menggelengkan kepalanya kuat. Maniknya yang kecoklatan melirik bungkusan makanan yang ada ditangannya, tiga porsi jjangmyeon. Untuk dirinya, Ki Bum, dan juga Kyuhyun.
Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan orang lain, Ahra sadar itu. Ada dua adiknya yang sangat membutuhkan kasih sayangnya, dan ia tak boleh membagi rasa sayangnya pada orang lain kecuali adiknya.
Langkah kakinya ia percepat, Ki Bum dan Kyuhyun pasti sudah kelaparan sekarang. Karena pulang terlambat ia jadi tak bisa memasak untuk makan malam. Ia pikir untuk malam ini sepertinya jjangmyeon cukup untuk mereka bertiga.
"Kim Ki, aku pulang!" seru Ahra ketika melihat Ki Bum adiknya yang tengah duduk menghadap televise.
Ki Bum memalingkan wajahnya, air mukanya terlihat sangat lesu. Ada apa sebenarnya?
Alis Ahra saling bertaut, tidak biasanya Ki Bum menyambutnya dengan ekspresi seperti itu. Biasanya selelah apapun anak itu, jika melihat Ahra pulang ia akan tersenyum walaupun hanya sedikit. Tapi sekarang ia tak melihat senyuman itu.
Ahra berjalan mendekat, ditaruhnya kantung jjangmyeon yang ia bawa di atas meja dan lalu mendudukkan dirinya disamping Ki Bum adiknya.
"Kim Ki, ada apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.
Dilihatnya Ki Bum yang menghela napas, dan sekarang Ahra yakin kalau memang ada sesuatu yang terjadi. Tangannya terangkat menyentuh dahi Ki Bum, memastikan kalau adiknya itu tak demam.
"Gwenchana, noona.." Kata Ki Bum lirih seraya menepis tangan Ahra lembut dari keningnya.
"lalu kenapa?" Tanya Ahra penasaran, tentu ia penasaran. Pulang kerumah dan disambut dengan raut muka seperti itu. Siapa yang tak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan?
Ki Bum berpaling, ia beranjak dari duduknya. "tidak ada apa-apa," katanya seraya pergi meninggalkan Ahra , naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Ahra semakin bingung, apalagi ia tak melihat Kyuhyun adiknya sedari tadi. Kemana anak itu?
Akhirnya gadis dengan rambut hitam sepunggung itu berjalan mengikuti langkah Ki Bum menuju kamar kedua adiknya.
Ia membuka pintu dan menemukan Ki Bum yang tengah membaca buku, ada yang aneh. Sejak kapan Ki Bum tak menggunakan kaca mata ketika membaca? Mungkinkah ia menggunakan soft lens? Tapi tunggu dulu, Ki Bum tak pernah menggunakan soft lens jika dirumah.
Tingkah Ki Bum yang aneh membuatnya semakin yakin kalau sesuatu telah terjadi, ditambah lagi Kyuhyun yang sepertinya memang tak ada di rumah.
Ahra membuka pintu kamar semakin lebar, pandangannya menyapu ke setiap penjuru kamar. Tak berantakkan dan tak ada barang yang pecah. Namun matanya melihat sesuatu yang tersembunyi di bawah bantal tidur adik bungsunya.
Itu PSP milik Kyuhyun, Ahra hapal betul warnanya. Dan ada stiker berbentuk tengkorak kecil yang Kyuhyun tempel di bagian samping sebelah kiri.
Ah, sepertinya ia tahu apa yang terjadi. Ini pasti karena benda itu dan tidak salah lagi kedua adik kembarnya bertengkar kembali seperti tadi pagi, ataukah mungkin lebih parah.
Astaga, kadang Ahra lelah menghadapi sipat kedua adiknya yang keras itu. Sepertinya bertengkar sudah menjadi hoby mereka yang amat sayang di tinggalkan.
"Kim Ki, dimana Kyuhyun?"
Ki Bum tak berpaling dari bukunya, ia sebisa mungkin mencoba menghindari tatapan Ahra. "tidak tahu, mungkin pergi dengan temannya," kata Ki Bum datar.
"tak pulang dulu kerumah?"
"pulang," jawabnya singkat.
Ahra mengangguk, ia pergi keluar dari kamar seraya berkata, "Jika aku panggil, turunlah.."
Di luar kamar Ahra mengeluarkan handphone-nya, mendial nomor yang sudah ia hapal di luar kepala. Nomor Kyuhyun.
Mereka bicara tak lama, tapi inti dari percakapan itu Ahra menyuruh Kyuhyun untuk segera pulang. Masalah ini harus diselesaikan malam ini juga atau semakin lama akan semakin rumit jadinya.
Semua anggota keluarga kecil itu berkumpul diruangan keluarga kediaman mereka. Ki Bum dan Kyuhyun yang duduk berdampingan tampak menjaga jarak, apa lagi si bungsu Kyuhyun yang duduk hingga ujung sofa, sedikit saja bergeser bisa dipastikan ia akan jatuh terjerembab disana.
Ki Bum dan Kyuhyun, mereka berdua menunduk dalam tak berani menatap Ahra.
"baiklah, sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi.." ujar Ahra membuka suara, gadis ini memang tak pernah mau berbasa-basi.
Kepala Kyuhyun terangkat perlahan, ia melirik Ki Bum yang ada disampingnya, "Ki Bum menyembunyikan PSP-ku dan dia berbohong," adu Kyuhyun,
"Tidak," jawab Ki Bum dingin,
"Apanya yang tidak?" Tanya Kyuhyun sedikit menantang.
"keduanya," aku Ki Bum.
"jelas-jelas aku melihatnya, kau menyembunyikan PSP-ku!"
"Tidak."
"Ya!"
"Tidak."
"Ya!"
"Tidak."
"Ya!"
Ahra menahan napas melihat kedua adiknya yang tengah beradu mulut. Astaga, mereka bukan anak kecil lagi, tapi kenapa sikap mereka seperti ini?
Seolah melupakan keberadaan Ahra, Kyuhyun masih terus berteriak menuduh Ki Bum, sedangkan Ki Bum masih tetap kekeh menyangkal kalau dia tidak melakukannya.
Ahra tahu mereka berdua memang keras kepala, tapi ia tak menyangka mereka akan sekeras ini. Ki bum yang punya harga diri tinggi dan tak mau mengakui kesalahannya dan Kyuhyun yang memang berwatak keras dan tak mau mengalah.
Mendengar pertengkaran mereka, gadis itu merasa kepalanya akan segera pecah. Haruskah ia berteriak juga?
"DIAM!"
Ki Bum dan Kyuhyun diam, mereka menurut.
Ahra noona sudah berteriak, apa yang akan terjadi selanjutnya? Ki Bum dan Kyuhyun saling menukar pandang, mereka sudah ada diambang pintu neraka. Apa yang harus mereka lakukan? Ya, Tuhan.
"Kalian tidak menganggap aku sebagai yang tertua disini?! Kalian mengabaikanku?!" teriakkan Ahra menggema diruangan itu, membuat kedua adiknya bergidik ngeri mendapat bentakkan keras dari Ahra.
"Lanjutkan pertengkaran kalian, jika kalian tak peduli padaku!" lanjutnya dengan nada suara yang tak kalah keras dari sebelumnya.
Tak ada jawaban terlontar dari mulut Ki Bum dan Kyuhyun, mereka berdua kembali menunduk dan lalu menggeleng secara bersamaan.
"baiklah, kalian tahu kalian berdua salah?" Tanya Ahra mulai tenang.
"Ki-"
"berani membantah Kim Kyuhyun?"
Noona memanggil namanya lengkap, itu berarti emosi kakaknya bisa pecah kapan saja. Tapi kenapa ia harus disalahkan juga? Padahal Ki Bum yang membuat masalah lebih dulu.
"malam ini, kalian di hukum tidur di kamar utama. Jangan ada yang tidur dibawah ataupun di sofa, ingat! Aku selalu tahu apa yang kalian lakukan. "
Kyuhyun mendengus mendengar hukuman dari Ahra, memang bukan hukuman berat. Tapi akan menjadi lebih berat ketika kau harus tidur di kasur yang sama dengan musuhmu. Baiklah, posisi Ki Bum sekarang memang musuh Kyuhyun. Ia tak salah bukan?
"tapi sebelumnya makan dulu, jangan mengeluh jjangmyeon-nya dingin karena itu juga salah kalian. Mengerti? " kata-kata Ahra terdengar seperti ancaman bagi saudara kembar dengan watak bertolak belakang itu.
Walaupun enggan, Ki Bum menuruti perintah kakaknya. Ia makan jjangmyeon-nya dalam diam. Inilah yang Ahra suka dari Ki Bum, meskipun dingin dan keras kepala tapi Ki Bum sangat penurut, ia tak pernah membantah perintah Ahra.
Sementara Kyuhyun. Ah, tangannya memang menggenggam sumpit, tapi ia tak menyentuh makanannya. Padahal Ahra tahu betul, jjangmyeon adalah makanan kesukaan Kyuhyun.
Ahra mulai cemas, Kyuhyun harus makan. Ia tak boleh sekalipun melewatkan waktu makan atau ia akan sakit seperti dua minggu lalu saat ia menghadiri perlombaan debat Ki bum yang berlangsung dari pagi hingga malam.
Tapi kali ini Ahra harus mendisplinkan kedua adiknya, ia tak boleh luluh walaupun sebenarnya ini terasa sulit baginya.
Malam mulai larut, dua remaja dengan bola mata kecoklatan yang tampak sama melangkah memasuki kamar utama.
Ini adalah kamar orang tua mereka, sejak eomma meninggal tiga tahun lalu. Kamar ini selalu Ahra gunakan untuk menghukum si kembar jika mereka bertengkar. Entah apa motif Ahra menggunakan kamar ini sebagai tempat hukuman. Ki bum dan Kyuhyun tak pernah tahu. Mungkinkah Ahra ingin membuat mereka selalu mengingat eomma dan appa? Mengingat kalau mereka sebenarnya selalu ada bersama mereka? Tak ada yang tahu kebenarannya.
Kyuhyun melangkah ke tempat tidur, sebenarnya badannya sudah terasa tak nyaman sejak pagi. Mungkin karena udara dingin dan karena ia berkeliaran tanpa jaket tebal tadi sore, tapi ia tak boleh mengeluh. Tidak, ia harus menjadi Kyuhyun yang kuat.
Ia duduk bersandar pada kepala tempat tidur sambil merenung menatap lampu Kristal yang tergantung di tengah ruangan. Sedangkan Ki Bum, ia duduk di meja kerja appa dulu, membuka beberapa buku dan dengan bodohnya mencoba membaca walaupun tanpa bantuan kaca mata ataupun soft lens yang biasa ia gunakan.
Dan lagi-lagi mereka diam, sama-sama tak berani membuka pembicaraan. Tapi tak satupun dari mereka yang mencoba tidur, entahlah. Ini memang terdengar aneh, tapi noona selalu tahu tiap kali mereka di hukum dan lalu memutuskan tidur terpisah. Bisa dipastikan keesokan harinya si kembar akan masuk ke gerbang neraka yang kedua. Noona yang ajaib.
Beberap menit berlalu, dan satu jam. Sudah satu jam mereka bertahan tanpa bertegur sapa. Ki Bum yang mulai mengantuk karena harus menatap buku tanpa membacanya karena ia benar-benar tak bisa melihat huruf apa yang ada disana, dan lalu Kyuhyun. Keringat dingin mulai bercucuran dikeningnya.
Susah payah ia merebahkan diri, menarik selimut hingga dada dan menekuk tubuhnya sedemikian rupa untuk mengurangi rasa sakit di perutnya. Kyuhyun mencoba untuk menahan ringisannya agar tak di dengar Ki Bum, ia benar-benar berhasil bertahan, tapi sepertinya Ki Bum sudah terlanjur menyadarinya.
Ki Bum berjalan menghampiri Kyuhyun yang meringkuk di atas tempat tidur, sebenarnya sejak tadi ia memperhatikan Kyuhyun, melihat setiap gerak-gerik anak itu, dan akhirnya ia menyadari sesuatu.
Kyuhyun tidak sedang baik-baik saja.
"gwaenchana?" Tanya Ki Bum tepat di depan wajah Kyuhyun yang tampak memejamkan matanya erat.
Kyuhyun membuka matanya, ia menemukan bola mata kecoklatan yang tengah menatapnya khawatir. "eoh," jawabnya singkat, menaggapi pertanyaan Ki Bum.
Baik-baik apanya, mereka sudah hidup bersama selama enam belas tahun. Mereka sudah saling mengenal jauh lebih dalam dari siapapun, dan Ki Bum tahu kembarannya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"apa perutmu sakit?" Tanya Ki Bum memastikan, melihat posisi tidur Kyuhyun yang menekuk seperti itu Ki Bum yakin bagian perut adiknya itulah yang sakit.
Kyuhyun ingin menyangkal, sungguh ia ingin melakukan itu. Tapi ia tak bisa berbohong, ia tak pernah bisa berbohong pada Ki Bum.
Di tengah rasa sakitnya, Kyuhyun mengangguk perlahan. Mengakui kalau apa yang dikatakan Ki Bum itu memang benar.
Terdengar desahan Ki Bum ditelinga Kyuhyun, ia beranjak hendak keluar dari kamar. Melihat itu, sebisa mungkin Kyuhyun mencegah Ki Bum, mencekal pergelangan tangan Ki Bum sekuat yang ia bisa.
"jangan keluar," katanya lirih sembari menahan ringisannya.
"diamlah, aku hanya akan mengambil obat di kamar,"
Kyuhyun menggeleng , tidak. Ki Bum tak boleh kemana-mana, kalau ia keluar dan ketahuan noona bagaimana?
"aku akan bertanggung jawab kalau sampai ketahuan, lagipula ia tak akan membiarkanmu mati seperti ini," seolah bisa membaca jalan pikiran Kyuhyun, Ki Bum bisa menjawab pertanyaan yang Kyuhyun lontarkan dalam benaknya dengan sangat tepat.
"tapi aku yang akan dimarahi besok,"
"eoh, memang seharusnya kau. Suruh siapa tadi tak kau sentuh makan malammu? Diamlah, sudah aku bilang, aku yang akan bertanggung jawab,"
Ki Bum melepaskan genggaman tangan Kyuhyun di pergelangan tangannya. Ia keluar dari kamar dan mengendap masuk kekamarnya dan juga Kyuhyun.
Di bukanya laci nakas yang terletak antara tempat tidurnya dan juga tempat tidur Kyuhyun, ia menemukannya. Botol obat magh milik Kyuhyun dan miliknya juga sebenarnya. Ya, untuk penyakit satu ini mereka sama-sama memilikinya.
Ki Bum keluar dari kamar, ia mengendap-endap, memperhatikan setiap langkahnya. Berhasil, ia berhasil mencapai lantai satu, sekarang ia harus pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan lalu membawanya ke kamar.
Ah, ia harus cepat. Kalau tidak, nanti ketahuan oleh noona dan itu bisa menjadi masalah besar untuknya dan juga Kyuhyun.
Ki Bum berhasil membawa segelas air, perlahan ia membuka pintu kamar utama yang sengaja tak ia tutup rapat untuk memudahkannya masuk lagi. Dan sekarang ia sudah ada didalam kamar, kakinya berjalan mudur, mendorong pelan pintu menggunakan punggungnya hingga tertutup.
Sementara di luar kamar, di samping lemari yang berisi koleksi porselen berukuran kecil milik eomma, seseorang berdiri menyembunyikan dirinya. Awalnya ia sempat khawatir, tapi akhirnya ia bisa tersenyum setelah tahu apa yang terjadi. Kim Ki dan Kim Kyu, kedua adik kesayangannya, walaupun mereka sering bertengkar tetapi tetap saja mereka adalah saudara kembar, mereka memiliki ikatan yang sangat kuat.
Di dalam kamar, Ki bum berjalan menghampiri Kyuhyun yang masih terbaring dalam posisi yang sama seperti ketika ia tinggalkan tadi.
Ditepuknya bahu Kyuhyun pelan, Kyuhyun tampak mengerjap.
"bangun dulu dan minumlah,"
Kyuhyun menurut, ia bangun dibantu Ki Bum hyung-nya. Ki Bum meminumkan obat dan juga air mineral hangat pada Kyuhyun dan lalu kembali membaringkan adiknya itu.
Ia menarik kursi kerja yang tadi ia duduki. Memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Perlahan tangannya terangkat dan menyentuh punggung Kyuhyun yang masih tetap menekuk tubuhnya walaupun tidak separah tadi.
Diusapnya punggung adiknya, memang terasa sedikit aneh jika mengingat pertengkaran hebat yang sempat terjadi beberap jam lalu diantara mereka. Tapi tidak akan menjadi aneh jika itu merupakan kebiasaan yang memang selalu mereka lakukan sejak kecil.
Ki Bum ataupun Kyuhyun tak merasa canggung sama sekali, karena sejak dulu jika salah satu dari mereka sakit mereka memang selalu melakukan ini. Sangat manis.
"lebih baik?" Tanya Ki Bum pelan.
Kyuhyun mengangguk untuk menanggapi, kini matanya yang sejak tadi terpejam perlahan ia buka. Menatap iris kecoklatan milik sang hyung yang tengah menemaninya.
"Bum-ah, kenapa kau menyembunyikan PSP-ku?" Tanya Kyuhyun lirih, suaranya terdengar serak karena masih menahan sakit.
Ki Bum terdiam, ia tak lekas menjawab. Seharuanya ia tahu kalau Kyuhyun tak bisa ia bohongi, jadi sepertinya ia memang harus mengatakannya sekarang.
"itu.."
"eoh?"
Ki Bum menghela napasnya berat, gengsinya terlalu tinggi. Bahkan ia tak bisa mengungkapkan kepeduliannya pada Kyuhyun sedikitpun.
"Yoo sonsaengnim," ujar Ki Bum akhirnya,
Alis Kyuhyun saling bertaut, tanda ketidak pahamannya mengenai alasan Ki Bum. Apa hubungannya PSP dengan Yoo sonsaengnim?
"Yoo sonsaengnim?"
"Ah, sudahlah. Aku mau tidur,"
Ki Bum berjalan kesisi lain tempat tidur, membaringkan tubuhnya membelakangi Kyuhyun yang masih belum mengerti apa hubungan antara Yoo sonsaengnim dengan PSP.
"apa hubungan Yoo sonsaengnim dengan PSP?" gumam Kyuhyun dibelakang punggung Ki Bum,
Ki Bum diam beberapa saat, begitupun Kyuhyun yang juga tenggelam dalam pikirannya. Tentunya ia masih memikirkan hubungan mengenai Yoo sonsaengnim dan juga PSP, Kyuhyun benar-benar penasaran.
"Kau ingat apa yang Yoo sonsaengnim katakan minggu lalu?" Tanya Ki Bum, ataukah ini pernyataan?
Alis Kyuhyun semakin bertaut, "minggu lalu?" gumamnya pelan.
Tanpa terasa Kyuhyun tersenyum, ia ingat. Ia ingat apa yang Yoo sonsaengnim katakan, dan apa hubungannya dengan PSP. Ah, jadi begitu.
"aku ingat," kata Kyuhyun seraya menggeser tubuhnya mendekat pada punggung Ki Bum.
Aroma tubuh Ki Bum sama dengan aroma tubuh appa, aroma yang selalu ia rindukan. Dan rasa rindunya bisa sedikit terobati jika ia dekat dengan Ki Bum.
Kyuhyun berbaring tepat dibelakang punggung Ki Bum, tak ada jarak antara mereka. Bahkan rambut Kyuhyun sampai mengenai tengkuk Ki Bum, dan dengan sengaja Kyuhyun menggoyang-goyangkan kepalanya membuat Ki Bum kegelian.
"Ya! Hajima!" seru Ki Bum sambil berusaha menyembunyikan kikikkannya.
Tapi Kyuhyun tak juga berhenti, ia terus menggoyang-goyangkan kepalanya ditengkuk Ki Bum.
"Ya! Hyun! Berhenti!"
"Gomawo hyung- tidak, maksudku Bum-ah"
Mereka berdua sama-sama tersenyum, dan bahkan tertawa. Tak sulit sebenarnya membuat mereka berbaikan, hanya saja mereka sama-sama keras kepala, dan itulah kendala satu-satunya.
Malam semakin larut, keadaan sudah sangat sunyi sejak Ahra datang dan memarahi mereka karena membuat keributan tengah malam. Tapi tampak senyuman samar muncul di raut si sulung, siapa yang tidak senang kalau rencananya berhasil?
"Bum-ah, kau sudah tidur?"
Tak ada jawaban, sepertinya Ki Bum memang sudah tidur.
"Bum-ah, kau mendengarku?"
Masih tak ada jawaban, tentu saja karena yang ditanya memang sudah tidur.
"kau sudah tidur ya…"
Kyuhyun menghela napas, "Bum-ah, mengenai yang tadi…" katanya menggantung,
"kau tahu, sebenarnya aku tak pernah marah karena kau menyembunyikan PSP-ku. Sebenarnya… sebenarnya aku marah karena kau berbohong padaku, hanya itu. Sungguh…"
Kyuhyun berbicara sendiri seolah Ki Bum masih terbangun dan mendengarkannya. Namun baginya ini lebih baik, karena jika Ki Bum terjaga ia tak bisa mengatakan hal seperti ini.
"sejak kecil kita sudah berjanji kalau kita tak akan pernah saling membohongi, ingat janjimu itu Kim Ki Bum," gumam Kyuhyun pelan sebelum akhirnya ia jatuh tertidur di belakang punggung Ki Bum.
Ki Bum tersenyum ditengah tidurnya, ataukah sejak tadi ia tidak tidur?
"Hyun bodoh,"
TBC
jangan mengharapkan konflik berat di story ini ya, :) setiap chapter thank you memang bersambung, tapi setiap chapter memiliki konflik kecil yang berbeda-beda. hanya cerita ringan sebagai hiburan kecil kkkkkk
