Dua pasang kaki berbalut celana hitam dan juga sepatu cats yang serupa melangkah bersama, seseorang yang mempunyai tubuh lebih tinggi terus berbicara, bertanya dan mengatakan banyak hal.
Sementara seorang lagi, pria berkaca mata tanpa ekspresi. Ia hanya mendengarkan dan sesekali menanggapi dengan kalimat singkat, atau bahkan hanya anggukan ataupun gelengan.
Pria berkaca mata itu terus bertanya dalam batinnya, apakah orang disampingnya ini tak punya rasa lelah? Apakah tenggorokannya tak sakit? Sejak bangun tidur, sarapan, di bus. Dia tak pernah berhenti mengoceh, bahkan Ahra menegur mereka ketika sarapan tadi. Ya, karena ia terus berbicara ketika makan, ia sampai tersedak beberapa kali.
Kim Kyuhyun yang aneh.
Mereka berdua masih berjalan bersama, si kembar Kim. Sampai dikelas, tak ada yang berubah. Kyuhyun masih tampak asyik berbicara walaupun tidak sebanyak ketika mereka hanya berdua. Hingga seseorang datang ke meja Kibum, membuat Kyuhyun harus menghentikan setiap ocehannya.
"KIbum-ah!" panggil seseorang yang Kyuhyun tahu adalah salah satu sunbae mereka. Namanya…
"Yesung sunbaenim," seru Ki Bum pelan. Ah, ya. Namanya Yesung, Kyuhyun ingat sekarang.
Kibum beranjak dari mejanya, ia membungkuk memberi salam. "ne, annyeonghaseo sunbaenim,"
"annyeong Kibum-ah, dan…." Yesung menatap Kyuhyun sejenak, "Kyuhyun-ssi," katanya melanjutkan dengan nada bicara yang berbeda dan sepertinya sedikit tak nyaman dengan keberadaan si magnae Kim itu.
Aigoo, lihatlah bagaimana perubahan sikap Yesung. Dia terlihat sangat akrab pada Ki Bum, tapi pada Kyuhyun? namun sepertinya Kyuhyun bisa mengerti itu, ia terlihat tak terganggu dengan perubahan sikap Yesung. Walaupun ada Yesung disana, ia tak berniat sedikitpun untuk beranjak. Memangnya kenapa ia harus pergi? Ki Bum adalah miliknya hari ini.
"ada apa sunbaenim kekelasku pagi-pagi?" Tanya Ki Bum memecahkan suasana yang sempat kaku.
Yesung mengulas senyumnya, ia mengangsurkan gulungan kertas yang sejak tadi di genggamnya pada Ki Bum, "ini daftar acara untuk pentas seni minggu depan, tolong kau susun dan serahkan padaku besok. " katanya di selingi senyuman dengan nada bicara yang amat ramah.
Ki Bum dan Yesung bercakap-cakap, sementara Kyuhyun. Anak itu masih duduk disamping Ki Bum dengan tangan melipat di depan dada.
Pentas seni….
Sebuah ide melintas dibenaknya, sepertinya akan menyenangkan kalau sampai apa yang ada dalam pikirannya menjadi kenyataan. Apakah Ki Bum akan setuju? tak ada salahnya mencoba, ia akan mengatakannya nanti kepada Ki Bum setelah Yesung sunbae pergi.
Menit berlalu, percakapan Yesung dan Ki Bum terhenti saat suara bel tanda masuk terdengar. Wajah Kyuhyun sudah tertekuk, kesempatannya untuk membicarakan idenya pada Ki Bum hilang sudah pagi ini.
"Ya, Hyun. Kembali ke bangkumu," perintah Ki Bum pelan.
Kyuhyun hanya memajukan bibirnya dan mendorong kursinya tanpa beranjak hingga berada di tempat semula.
Sebuah meja di kantin yang terletak di bagian tengah, mereka berdua duduk berhadapan disana, Kim bersaudara.
Dua kubu di pojok kiri dan kanan tak hentinya menatap mereka, Ki Bum dan Kyuhyun yang makan bersama.
"mereka semua menatap kita,"
"memangnya kenapa?" Tanya Kyuhyun acuh,
Terdengar helaan napas Ki Bum, anak ini. Kim Kyuhyun, ia benar-benar tak memiliki kepekaan sama sekali. Ki Bum jadi ingat kejadian tadi pagi, saat Kyuhyun masih betah duduk disampingnya padahal ada Yesung disana. Yesung dari kubu musim dingin yang memang tak pernah bisa akrab dengan anak-anak dari kubu musim panas.
"saudara kembar makan bersama, itu bukan sesuatu yang aneh bukan?" Tanya Kyuhyun yang lebih terdengar seperti pernyataan.
Ki Bum tak menanggapi, ia hanya terus makan sambil sesekali melirik Kyuhyun yang terus menyingkirkan sayuran dari menu makan siangnya. Kebiasaan.
"Bum-ah,"
Ki Bum mendongak mendengar panggilan Kyuhyun,
"pentas seni…. Ayo kita ikut pentas seni!"
"Uhukk!"
Ki Bum tersedak, ia tak salah dengar bukan? Pentas seni? Kyuhyun mau ikut pentas seni?
"kau serius?" Tanya Ki Bum dengan alis bertaut.
Kyuhyun mengangguk antusias, matanya berbinar cerah. "ayo kita nyanyikan lagu itu!" serunya bersemangat.
Ki Bum masih diam, bukannya ia tak mau. Hanya saja, ia tak terlalu suka tampil di depan orang banyak. Dan juga, kenapa harus lagu itu?
"eoh, Bum-ah~" rengek Kyuhyun, ia tak sadar semua orang dikantin tengah menatapnya. Ujung tombak musim panas yang tengah merengek dengan puppy eyes-nya. Sungguh pemandangan yang langka.
Ki Bum tampak gelisah. Kenapa Kyuhyun harus merengek? Ia benar-benar tahu letak kelemahan Ki Bum, "kenapa harus lagu itu?"
Kyuhyun menyandarkan punggungnya di kursi, ia berpikir sejenak. "kapan terakhir kali kita menyanyikan lagu itu? Empat tahun lalu?"
Ki Bum mengerti arah pembicaraan Kyuhyun, lagu kesukaan eomma dan appa. Terakhir kali mereka menyanyikannya sekitar empat tahun lalu, ketika keluarga mereka masih lengkap.
Dan kali ini mereka harus menyanyikannya lagi, bukan dihadapan eomma, appa, dan juga Ahra noona, tetapi dihadapan teman-teman sekolahnya. Dan dalam keadaan yang sudah jauh berbeda.
Mereka berdua diam beberapa saat, hingga seruan pelan suara Ki Bum tertangkap indra pendengaran Kyuhyun. "baiklah, kita ikut" putusnya.
Alunan suara merdu yang di iringi dengan dentingan piano seolah memenuhi setiap sudut ruangan itu. Menebar kehangatan dan perasaan teduh bagi siapapun yang mendengarnya.
Ahra, gadis bersurai hitam dengan bola mata kecoklatannya. Kepalanya tak henti bergerak kekanan dan kekiri menikmati setiap lantunan lagu indah dari kedua adiknya. Meresapi setiap melodi dan menggali ingatannya kembali, ingatan tentang kedua orang tuanya.
Ini pertama kalinya ia mendengar kedua adiknya menyanyikan lagu ini empat tahun terakhir, sejak appa pergi meninggalkan mereka.
Melody terakhir telah Ki Bum mainkan sebagai penutup lagu indah itu. Snow Flower, lagu yang akan Kyuhyun nyanyikan dan Ki Bum iringi dengan piano. Entahlah, mengapa kedua orang tua mereka begitu menyukai lagu sendu milik penyanyi Park Hyo Shin yang merupakan salah satu idola eomma dulu.
"Noona bagaimana?"
Itu suara si magnae, Ahra tersenyum sembari mengangkat kedua ibu jarinya.
Ki Bum tersenyum senang di balik piano melihat respon Ahra, begitupun Kyuhyun. Bibirnya merekah tak kalah cerah dari kedua kakaknya.
"hari ini cukup," kata Ki Bum sambil beranjak berdiri, suaranya memang pelan tapi terdengar tegas. Suara Khas Kim Ki Bum, anak lelaki tertua dikeluarga kecil itu.
Bibir Kyuhyun mengerucut mendengar perintah Ki Bum, mereka baru dua kali mengulang dan Ki Bum bilang sudah cukup?
"ini baru yang kedua kalinya Bum-ah, ayo kita latihan lagi!" protes Kyuhyun disertai rengekkannya yang menurut Ahra sungguh ajaib. Ajaib? Memang sangat ajaib, setiap kali Kyuhyun merengek maka saat itu juga Ki Bum dan dirinya akan kalah.
Ahra nampak hanya diam dengan kedua bola matanya yang tak lepas menatap kedua adiknya, pasti selalu seperti ini. Mereka akan akur diawal dan diakhir tak dapat di hindari lagi, mereka akan terlibat perdebatan.
"aku rasa cukup, sekarang waktunya tidur." Seru Ki Bum pelan.
"sekali lagi Bum-ah, jebal…." Rengek Kyuhyun lagi.
Ah, mereka berdua memang keras kepala. Tapi sepertinya kali ini Ki Bum mengalah, ia kembali duduk di depan piano dan meletakkan jemarinya di atas tuts piano.
"oke! Noona kau harus benar-benar menilainya kali ini!" kata Kyuhyun penuh semangat mendapati Ki Bum yang mengabulkan permohonannya.
Ahra tersenyum mengangguk dan lalu berkata singkat, "oke!"
Waktu istirahat tiba, Ki Bum melangkah meninggalkan kelas menuju ruangan panitia. Hari ini ia akan mendaftarkan namanya dan juga Kyuhyun sebagai salah satu peserta pentas seni nanti, sekalian memberikan daftar acara yang ia susun semalaman. Ya, alasan kenapa ia tak mau latihan terlalu lama semalam adalah karena ini. Karena tugasnya yang lain.
Ki Bum sengaja pergi sendiri tanpa mengajak Kyuhyun yang nyatanya sedang mendengkur di kelas, lagi pula kalaupun Kyuhyun tengah terjaga Ki Bum sama sekali tak ingin membawa Kyuhyun bersamanya. Bisa dipastikan suasananya akan jadi sangat canggung.
"Sunbaenim!" seru Ki Bum setelah melihat keberadaan Yesung di depan meja pendaftaran.
Yesung tersenyum mendapati Ki Bum yang tengah berjalan mendekat, "eoh, Ki Bum-ah," sapanya ramah.
Ki Bum balas tersenyum dan membungkukkan tubuhnya. "ini daftar acara kemarin, aku sudah menyusunnya"
Diterimanya gulungan beberapa lembar kertas dari tangan Ki Bum, itu adalah susunan acara yang kemarin ia berikan pada hobaenya itu.
Yesung membuka gulungan kertas tersebut dan memeriksanya, beberapa kali ia mengangguk menanggapi hasil kerja si genius Kim Ki Bum. Tak salah ia menyuruh Ki Bum yang menyusunnya, semuanya diperhitungkan begitu detail dan hasil kerja Ki Bum memang tak pernah mengecewakan.
"Maksimal tujuh menit untuk setiap penampil, sepertinya itu memang cukup"
"ne, aku mencocokkannya dengan jumlah penampil tahun kemarin. Aku yakin jumlahnya tak akan berbeda jauh untuk tahun ini,"
"Baiklah terimakasih Ki Bum-ah," seru Yesung sembari menepuk pundak Ki Bum pelan, ia sudah mendapatkan daftar acara, tinggal menyerahkannya pada sekretaris untuk di ketik ulang.
Yesung hendak melangkah meninggalkan Ki Bum yang masih berdiri disana, ada apa dengannya? Biasanya ia akan kangsung pergi kalau tujuannya sudah selesai.
"Ada apa lagi Ki Bum-ah?"
"eoh, itu sunbaenim," tangan Ki Bum bersatu, jemarinya saling bertaut. Bisa Yesung lihat kedua ibu jari Ki Bum yang bergerak-gerak, ia cukup tahu kebiasaan Ki Bum, kebiasaannya ketika gugup ataupun ragu.
"Ada apa Ki Bum-ah?" Tanya Yesung sekali lagi.
Ki Bum menegakkan tubuhnya, ia melepaskan tautan jemarinya. Kenapa ia harus ragu? Bermain piano diatas panggung dan disaksikan oleh banyak orang bukan sesuatu yang memalukan bukan? Lagi pula…. Ia tak akan sendiri, ada Kyuhyun yang menemaninya.
Sorot mata Ki Bum mulai serius, "Sunbaenim aku mau mendaftar jadi peserta,"
Mata Yesung membola, ia tak salah dengar bukan? "Kau tidak berbohong?"
Alis Ki Bum bertaut, apanya yang berbohong? Memangnya aneh kalau dia mendaftarkan diri jadi peserta pentas seni?
Melihat manik kecoklatan Ki Bum yang memandangnya lurus seperti itu, Yesung sadar kalau anak ini serius, "Ki Bum-ah, jadi kau benar-benar serius?"
Ki Bum tak menjawab, ia hanya mengangguk sekilas mewakili jawabannya.
Sementara di balik pintu, seseorang tengah berdiri bersandar pada tembok ruangan panitia dengan kedua tangannya yang ia masukkan kedalam saku celana.
Sebenarnya ia sudah berada disana sejak beberapa menit lalu, menunggu sang kakak yang dengan tega meninggalkannya di kelas tanpa memberitahunya kalau waktu istirahat telah tiba.
Dan sekarang ia ada disini, di depan ruang panitia pentas seni. Menunggu Ki Bum yang sepertinya sedang mendaftarkan keikut sertaan mereka, Kyuhyun datang kemari untuk memarahi kakaknya karena tak membangunkannya.
Tapi sepertinya ia harus sedikit bersabar, kalau tidak mau merusak keadaan disana.
Kyuhyun masih berdiri di dekat pintu diluar ruangan, ia bisa mendengar percakapan Ki Bum dan Yesung di dalam sana, hingga sebuah perkataan yang ia yakin keluar dari mulut Ki Bum terdengar oleh indera pendengarannya.
"ini pasti berat untukmu,"
"jangan katakan itu, sunbaenim kau tahu ini bukan keinginanku. Anak itu yang memaksa, jadi terpaksa aku harus ikut…."
'Terpaksa….' Gumam Kyuhyun dalam hati, jadi Ki Bum terpaksa?
Sorot mata Kyuhyun meredup, namun pandangannya begitu tajam. Ia meluruskan tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan ruangan yang kini baginya sangat menjijikkan bahkan orang-orang didalamnyapun tak kalah menjijikkan.
Ia tak bisa mendngarnya lebih banyak lagi, menjadi orang dungu dan berpura-pura tak mendengarnya? Tidak! Ia tak pernah sekalipun berpikir akan melakukan itu. Dan Ki Bum, jika ia tak mau kenapa ia tak menolak saja sejak awal? Bukankah itu lebih mudah? Dari pada harus melakukan sesuatu dengan 'paksaan'.
Bayangan Kyuhyun hilang di belokkan ujung lorong, ekspresinya tampak dingin namun bersamaan dengan itu, ada raut kecewa dan sedih disana. Kim Kyuhyun, sesakit itukah?
Sementara didalam ruangan, Ki Bum dan Yesung masih bercakap-cakap tanpa tahu ada seseorang yang mendengarkan semua pembicaraan mereka. Sebelum akhirnya orang itu pergi.
"Ya, kau terpaksa ikut karena kau sangat menyayanginya, bukan?" goda Yesung membuat Ki Bum salah tingkah.
Yesung memang salah satu sunbae yang paling dekat dengan Ki Bum, Yesung cukup tahu dirinya walaupun mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena Ki Bum termasuk anak rumahan.
"Mwoya," sergah Ki Bum, mencoba menepis kesimpulan Yesung yang menurutnya terlalu…. Terlalu jelas?
Yesung tersenyum, menyenangkan menggoda Ki Bum menggunakan Kyuhyun. Anak itu selalu salah tingkah, berpura-pura tak peduli tapi nyatanya sangat peduli. Dasar. "jangan menyangkal Kim Ki Bum, aku tahu kau tidak suka tampil di depan orang banyak. Tapi demi adik mu kau mencoba menekan semuanya,"
Kali ini Ki Bum tak mengatakan apapun. Yang Yesung katakana benar, ia bisa melewati batasannya hanya demi Kyuhyun, dan untuk Kyuhyun, anak kurang ajar itu.
Lelaki berkaca mata itu melangkahkan kakinya kedalam rumah dengan tergesa, sepanjang perjalanan tadi Ki Bum tak hentinya berlari, keringat bercucuran hampir di seluruh tubuhnya membuat kemejanya sedikit basah.
Ki Bum, ia membuka pintu dengan sedikit kasar, bola matanya berputar entah apa yang ia cari.
Sepasang sepatu cats tergeletak begitu saja di depan pintu, Ki Bum tersenyum setelah menemukan apa yang ia cari, alasan kenapa ia pulang dengan tergesa dan berlari tanpa henti.
Air mukanya yang tadi penuh kekhawatiran berangsur berubah, menjadi sebuah wajah dengan kelegaan.
Sepatu cats itu milik Kyuhyun, hari ini ia tak pulang bersama Kyuhyun. Kyuhyun meninggalkannya ketika ia pergi ke toilet untuk membasuh tangannya setelah membersihkan papan tulis karena hari ini jadwal piketnya dengan Kyuhyun.
Ya, Kyuhyun benar-benar meninggalkannya. Ketika ia kembali kekelas tak ada seorangpun disana, ia mencoba menghubungi ponsel Kyuhyun tapi tidak aktif. Ia juga menghubungi ponsel beberapa teman dekat Kyuhyun yang cukup ia percayatapi mereka sama-sama tak tahu keberadaan Kyuhyun. Karena itulah ia sangat khawatir.
Dan kalau sampai terjadi sesuatu pada Kyuhyun ia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri, bahkan ia tak akan sanggup menampakkan dirinya di depan Ahra, orang yang telah mempercayakan Kyuhyun padanya.
Si bungsu Kim, Kim Kyuhyun. Ia tengah bersandar di kursi malas diruang keluarga, kakinya ia naikkan keatas meja dengan sekantung besar snack dan juga beberapa kaleng soda di pangkuannya.
Sekilas Ki Bum tersenyum, ia lega. Ia lega menemukan Kyuhyun baik-baik saja. Biarlah Kyuhyun meninggalkannya, yang terpenting adiknya baik-baik saja.
Kyuhyun masih menonton televise tenpa memperdulikan Ki Bum yang mulai melangkah memasuki ruangan, hatinya terasa sakit ketika melihat Ki Bum dan mengingat apa yang ia katakana pada Yesung ketika istirahat tadi.
Ia tak ingin bertengkar, jadi lebih baik ia menghindar. Ya, baginya ini lebih baik.
Langkah Ki Bum terdengar melewatinya hingga langkahnya terhenti, sepertinya tepat di depan tangga.
"aku tak akan menuntut alasan kenapa kau meninggalkanku, hanya saja…."
Perkatan Ki Bum menggantung, mata Kyuhyun bergerak gelisah. Hanya saja apa? Apa ia mau mengatakan apa yang tadi ia katakan pada Yesung? Ia mau mengatakan kalau ia terpaksa?
"…. Jangan terlalu banyak minum soda, kau tahu itu tidak baik," lanjut ki Bum sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Berpura-pura baik Kim Ki Bum? Setelah tadi ia mengatakan kalau ia terpaksa ikut pentas seni karena Kyuhyun memaksa dan sekarang ia pura-pura peduli padanya? Sungguh hebat.
Kyuhyun berdecak dibalik gerutuannya dalam hati. Kau sungguh hebat kim Ki Bum.
Senandung kecil mengiringi setiap kegiatan gadis bersurai hitam sepunggung itu, ia tengah menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya. Semua masakan sudah selesai di masak dan ditata diatas meja, sekarang dia hanya tinggal memanggil kedua adiknya untuk makan bersama.
"Kim Ki! Kim Kyu! Makan malam sudah siap!" teriak Ahra menggema di kediaman keluarga kecil mereka.
Ahra melepas apron yang sejak tadi di gunakannya, menungkan air kedalam tiga buah gelas yang ia susun sesuai posisi duduk mereka.
Langkah kaki terdengar mulai mendekat, itu Kim Ki dan di belakangnya, si magnae Kim Kyu.
Akhirnya makan malam di mulai, mereka semua diam dan beberapa menit kemudian Ahra mencoba membuka pembicaraan. "Aku akan datang kesekolah untuk melihat penampilan kalian nanti, kalian jadi ikut bukan?"
"Tidak," , "Ya,"
Alis Ahra bertaut. Apa maksudnya ini? Kenapa jawaban mereka tak sama?
Ki Bum memalingkan wajahnya menghadap Kyuhyun, tak mengerti dengan apa yang Kyuhyun katakan.
"jadi kalian-"
"Aku sudah selesai," kata Kyuhyun memotong kalimat Ahra sembari beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Ahra dan juga Ki Bum yang masih terheran-heran.
Sepeninggal Kyuhyun, Ahra memandang Ki Bum menuntut penjelasan. Sementara yang dipandang tampak jauh lebih tak mengerti, Ki Bum benar-benar tak mengerti maksud perkataan Kyuhyun.
Beberapa hari berlalu sejak insiden makan malam, Ki Bum dan Kyuhyun tak saling bicara. Tidak, sebenarnya Kyuhyun yang selalu menghindar, ia selalu menghindari Ki Bum.
Pentas seni semakin dekat, dan mereka tak pernah berlatih lagi sejak makan malam waktu itu. Bahkan Ahra selalu bertanya mengapa mereka tak berlatih, dan Kyuhyun hanya menjawab malas. Sedangkan Ki Bum? Ia tak tahu harus mengatakan apa.
Sikap Kyuhyun yang berubah tiba-tiba membuatnya bingung, sangat bingung. Tentu saja.
Kyuhyun tak pernah mau diajak bicara, ia begitu dingin pada Ki Bum. Tapi malam ini Ki Bum harus mendapat kepastian, kenapa Kyuhyun memperlakukannya seperti itu akhir-akhir ini.
Ki Bum masuk kedalam kamarnya dan juga Kyuhyun, ia menutup pintu rapat. Menghindari kemungkinan Ahra masuk tiba-tiba. Firasatnya mengatakan ini tak baik, Kyuhyun yang tak mau bicara dengannya menandakan ada sesuatu yang anak itu sembunyikan darinya.
"Hyun-ah, kita harus bicara."
Ki Bum berdiri beberapa langkah dibelakang Kyuhyun yang tengah berkutat dengan beberapa buku tugasnya.
Tangan Kyuhyun yang tadi terlihat tengah menulis sesuatu kini menghentikan kegiatannya.
"Hyun, aku tak suka berbasa-basi. Sebenarnya ada apa?" Tanya Ki Bum langsung pada poin utama, wajahnya terlihat sangat serius.
Kyuhyun menyeringai mendengar pertanyaan Ki Bum, kenapa Ki Bum bertanya? Bukankah harusnya ia senang dengan apa yang ia lakukan?sekarang Ki Bum tak perlu melakukan sesuatu yang tidak ia sukai dengan paksaan bukan?
"eobseoh," jawab Kyuhyun singkat akhirnya.
Ki Bum mendekat, ia tak puas dengan jawaban Kyuhyun. "Apa maksudmu?"
"Bukankah sudah aku bilang tak ada apa-apa?" kata Kyuhyun dengan nada suaranya yang datar.
Alis Ki Bum bertaut mendengar nada bicara Kyuhyun, "Kim Kyuhyun, kau pikir aku bodoh? Aku tahu-"
"tidak, aku tahu kau jenius. Jadi kau pasti mengerti maksudku." Potong Kyuhyun.
Kyuhyun beranjak setelah menuntaskan kalimatnya, ia pergi meninggalkan Ki Bum sendiri dikamar mereka. Malam ini, ia ingin menenangkan diri. Ia masih belum bisa menghadapi Ki Bum. Mungkin ia harus mengadu kepada eomma dan appa untuk saat ini.
Rutinitas Ahra setiap pagi, membereskan beberapa bungkusan snack yang berhamburan diruang keluarga, bekas siapa ia tak perlu mencari tahu. Memangnya siapa lagi yang suka menonton televise sambil makan makanan ringan seperti ini? Si anak kurang ajar Kim Kyu, ck.
Gadis itu masih membereskan ruangan keluarga sambil bersenandung seperti biasanya, namun sebuah suara membuatnya mendongak, melihat siapa yang menimbulkan suara pintu yang cukup ia hapal. Pintu kamar utama.
Diliriknya pintu itu dengan ujung matanya, seseorang dengan celana training hitam dan juga kaus berwarna biru gelap keluar dari sana.
Rambutnya berantakkan menandakan kalau ia baru saja terjaga, dia Kim Kyuhyun.
"Kim Kyu?" panggil Ahra ragu,
Yang dipanggil tampak mengerjapkan matanya, setelah menydari siapa yang menyapanya ia tersenyum kecil dengan mata yang sepertinya masih mengantuk.
"Kim Kyu, kenapa kau tidur disini?" Tanya Ahra diiringi langkahnya mendekat pada Kyuhyun.
Kyuhyun tak lekas menjawab, ia tersenyum sekilas. "aku hanya rindu mereka," kata Kyuhyun sambil menguap dan lalu menggosok matanya.
Hati Ahra terenyuh, Kyuhyun merindukan mereka. Eomma dan appa. Kyuhyun memang seperti ini, ia tak pernah menyembunyikan perasaannya. Jika senang ia akan tersenyum, jika sedih ia akan menangis dan jika kecewa ia pasti akan marah.
Berbeda dengan Ki Bum, ia hampir tak pernah menampakkan perasaannya melalui ekspresi. Ia selalu menyembunyikannya dengan rapat, dan itu sungguh membuat Ahra selalu khawatir padanya.
"arra, sekarang cepat mandi sarapan akan segera siap!"
Kyuhyun tersenyum dan lalu naik kelantai dua.
Ahra menatap kepergian Kyuhyun dengan pandangan penuh Tanya, ada yang aneh pada kedua adiknya. Mereka tampak tak saling bicara, bahkan mereka tak pernah latihan lagi untuk pentas seni.
Untuk masalah kali ini Ahra pikir belum saatnya ia ikut campur, ini saatnya mereka mencari solusi dari masalah mereka sendiri. Mereka harus bisa menyesaikan semuanya sendiri.
Hari ini kelas sangat ramai, dua jam pelajaran terakhir di bebaskan, memberi waktu pada semua siswa baik itu peserta ataupun panitia untuk mempersiapkan acara besok.
Manik kecoklatan Ki Bum tak lepas memandang Kyuhyun, memandang setiap gerak-gerik adiknya yang nampak tak peduli keberadaannya. Kyuhyun asyik mengobrol dengan teman-teman berandalannya, begitulah Ki Bum menyebut mereka. Tentunya tanpa sepengetahuan Kyuhyun.
Ki Bum lihat Kyuhyun berdiri dari bangku dan menyambar tasnya, sepertinya ia akan pulang.
Ki Bum ikut berdiri, "Kyuhyun!" seru Ki Bum, Kyuhyun berpaling dengan wajahnya yang dingin.
"Ayo kita bicara," kata Ki Bum dengan nada suara yang setenang mungkin.
Kyuhyun menyeringai, ia berbalik memandang Ki Bum. "tak ada yang perlu kita bicarakan,"
Beberapa siswa mulai melihat kearah mereka, tertarik dengan percakapan pendek deengan nada dingin si kembar Kim.
"Ada," sergah Ki Bum dan lalu melangkah lebar sambil menarik paksa lengan Kyuhyun meninggalkan kelas.
Kyuhyun terus memberontak, mencoba melepaskan genggaman tangan Ki Bum di lengannya.
Kini mereka sampai di atap, tempat teraman untuk bicara tanpa didengar orang lain.
"Jangan menarik ku seperti ini bodoh! Kau seperti menarik pacarmu saja!" umpat Kyuhyun keras.
Ki Bum tak mengatakan apapun, ia sudah kebal mendengar setiap umpatan Kyuhyun. Bocah itu memang selalu mengumpat sesuka hatinya jika marah.
"Kim Kyuhyun,"
Kyuhyun mendongak setelah sesaat memijat pergelangan tangannya yang sedikit memerah, "Apa?"
Helaan napas terdengar dari mulut Ki Bum sebelum ia mulai berbicara, "katakan padaku, sebenarnya kau kenapa?"
"apa pedulimu Kim Ki Bum?" Tanya Kyuhyun dengan nada menantang, amarahnya terasa seperti sudah ada di pucuk kepala.
"Apa peduliku? Kau bertanya apa peduliku?" Tanya Ki Bum balik seraya melangkah mendekat pada Kyuhyun.
Kalimatnya berulang, menandakan ia tak percaya dengan apa yang baru saja Kyuhyun katakan. Setelah belasan tahun mereka bersama, saling menjaga, dan berbagi segalanya. Kyuhyun menyangsikan kepeduliannya?
"Ya, apa pedulimu kim Ki Bum? Ini hidupku kenapa kau harus tahu segalanya?"
Ki Bum terdiam, perkataan Kyuhyun terasa menohok didadanya. Sakit. Bahkan ini tak kalah sakit dibanding ketika ia melihat kedua orang tuanya menghembuskan napas terakhir mereka.
Napas Ki Bum berhembus kasar, seolah dengan itu semua masalah ini akan ikut terbang bersama hembusan napasnya. "kau benar, itu hidupmu. Dan tak sepantasnya aku ikut campur. Tapi, kau tidak bisa lepas dariku begitu saja. Kau tahu kita sudah terikat sejak lahir,"
Tak biasanya Ki Bum berbicara panjang lebar, sesak di dadanya mendorong dirinya untuk mencoba mengungkapkan semua yang ia rasakan selama ini.
Kyuhyun mendecih mendengar apa yang Ki Bum katakan, baginya itu hanya terdengar seperti omong kosong belaka, "kenapa aku tak bisa lepas darimu? Karena Noona? Noona selalu menyuruhmu menjagaku bukan?" Tanya Kyuhyun dengan nada meremehkan.
"kau pikir aku sedangkal itu? Kau pikir aku melepaskan segalanya hanya karena perintah noona Kim Kyuhyun?! "
Kyuhyun tersentak, Ki Bum meninggikan suaranya, rahangnya tampak mengeras dengan sorot matanya yang sangat tajam.
"Ya! Dan aku tahu kau terpaksa melakukannya!"
"Terpaksa? Tahu darimana kau aku terpaksa? Siapa yang mengatakannya?!"
"Kau sendiri yang mengatakannya Kim Ki Bum! Kau mengatakannya pada orang lain! kau mengatakannya pada Yesung sunbaenim!"
Yesung sunbaenim? Alis Ki Bum bertaut, kapan ia mengatakan kalau ia terpaksa pada Yesung sunbaenim? Seingatnya…. Ya, ia pernah mengatakannya. Tapi bukan begitu maksudnya, dan lagipula darimana Kyuhyun tahu percakapan mereka?
"apa maksudmu Kyuhyun?"
Kyuhyun membuang muka, seringain terpatri di bibir pucatnya. "kau masih bertanya apa maksudku? Jelas-jelas aku mendengarnya ketika kalian berbicara berdua di ruangan panitia beberapa hari yang lalu,"
Kembali Ki Bum terdiam, ada yang salah. Kyuhyun salah paham, ia pasti tak mendengar kelanjutan percakapan mereka.
"kau tak bisa berkata sekarang? Itu cukup bukan Kim Ki Bum," cerca Kyuhyun sinis, ia berbalik menuju pintu keluar. Meninggalkan Ki Bum yang masih mematung tak tahu harus mengatakan apa.
"Ya! Kyu! Kyuhyun-ah!"
Kyuhyun berbalik menghadap arah suara yang memanggilnya, disana tak jauh dari tempatnya berdiri, dua orang temannya tergopoh-gopoh berlari menuju kearahnya.
"aku mencarimu dari tadi Kyu, ternyata kau disini."
Kyuhyun tersenyum melihat tingkah ke dua temannya, Lee Dong Hae dan juga Lee Hyuk Jae. Mereka berdua adalah teman terbaik bagi Kyuhyun.
Donghae dan Hyukjae. Ah, tidak. Bukan Hyukjae, anak itu tak suka dipanggil Hyukjae, ia lebih suka orang-orang memanggilnya Eunhyuk.
Ya, Donghae dan Eunhyuk. Seperti apa yang mereka katakan, mereka benar-benar mencari Kyuhyun kemana-mana. Berlari dari ruangan satu keruangan yang lain, karena itulah napas mereka sekarang terasa berat karena terus berlarian kesana-kemari.
"Apa kalian bertengkar lagi?" Tanya Donghae setelah berhasil mengatur napasnya.
Kyuhyun tak berkata apapun, ia hanya berjalan meninggalkan Eunhyuk dan Donghae. Melihat tingkah Kyuhyun yang seperti ini Donghae yakin apa yang baru saja ia tanyakan itu benar, si kembar Kim kembali bertengkar.
Eunhyuk dan Donghae berjalan mengekori Kyuhyun. Disaat seperti inilah saat ketika mereka sangat dibutuhkan, mereka tahu itu. Mereka harus menemani Kyuhyun kemanapun ia pergi.
Anak itu selalu seperti ini jika bersedih, Kyuhyun yang selalu tampak kesepian jika tak ada Ki Bum disisinya.
Hari ini pentas seni akan diselenggarakan, Ki Bum berdiri dibelakang panggung bersama beberapa panitia. Sebenarnya Ki Bum bukan siapa-siapa, ia hanya di minta oleh ketua pelaksana untuk membantu jalannya acara.
"Ki Bum-ah, kau tampil diurutan 27, ini nomor pesertanya,"
Itu Yesung, sang ketua pelaksana. Diangsurkannya sebuah kertas berukuran kartu identitas pada Ki Bum, sedangkan Ki Bum menerimanya dengan lemas, maniknya yang kecoklatan memandang benda itu sendu.
"Ki Bum-ah," panggil Yesung pelan.
Tampak tubuh Ki Bum sedikit tersentak, bahkan seorang Kim Ki Bum bisa melamun ditempat ramai seperti ini jika pikirannya sedang tak tentu.
"Ah, ye Sunbaenim. Terimakasih sudah mengambilkannya untukku."
Ki Bum, ia memang tersenyum tapi Yesung tahu, hatinya tak benar-benar tersenyum. Desas-desus tentang pertengkarannya dengan Kyuhyun kemarin sudah sampai ditelinganya, dan ia tahu itulah alasan kenapa Ki Bum jauh lebih pendiam dari biasanya hari ini.
Ponsel Ki Bum bergetar di kantung blazernya, Ki Bum meraihnya dan menemukan sebuah pesan singkat baru disana. Itu, dari Ahra noona.
'Kim Ki, kalian urutan keberapa? Aku tak boleh datang terlambat, bukan?'
Noona akan datang kesekolah, bagaimana cara Ki Bum menyampaikannya pada noona? Menyampaikan kalau kemungkinan penampilannya akan batal hari ini. Ia tak sampai hati untuk mengatakan kebenarannya.
'urutan ke 27, sekitar jam tiga noona.' Balas Ki Bum akhirnya.
Ya, ia tak boleh mengecewakan noona. Sebisa mungkin ia harus mengatasi semuanya sendiri, ia harus bisa.
'ok! Dan katakan pada adikmu untuk mengaktifkan ponselnya, eoh! Saranghaeyo Kim Ki~'
'nado~'
Kyuhyun, bagaimana ia menyuruh Kyuhyun mengaktifkan ponselnya? Bahkan sejak datang kesekolah ia sama sekali tak melihat batang hidung anak itu.
Tadi ia berangkat terpisah dengan Kyuhyun, saat keluar gerbang rumah ia melihat Kyuhyun yang sudah pergi meninggalkannya bersama Donghae. Ya, Donghae menjemput Kyuhyun dengan sepeda motornya pagi ini. Setidaknya ia bisa sedikit tenang jika memang Kyuhyun bersama Donghae.
Ah, Kim Kyuhyun dimana kau sekarang? Jangan membuatku cemas….
Ahra masuk kesebuah gedung olah raga yang sudah dihias sedemikian rupa hingga tampak seperti tempat konser music, ia berjalan menuju lantai dua, dimana suasananya lebih tenang tetapi letak panggung dibawah sana benar-benar terlihat jelas. Strategis.
Ia menyiapkan cameranya, menurut Ki Bum mereka akan tampil sekitar pukul tiga, berarti masih tiga puluh menit lagi. Ia masih harus menunggu, tapi ini takkan membosankan sepertinya. Apalagi melihat penampilan anak-anak yang sebaya dengan kedua adiknya dibawah sana.
Mengingatkannya ketika ia masih di sekolah menengah atas dulu, di sekolah ini, disekolah yang sama dengan Ki Bum dan Kyuhyun.
Sementara Ahra tengah bernostalgia dengan masa lalunya, di belakang panggung Ki Bum tengah berdiri sambil sesekali melirik jam tangannya.
Kyuhyun, ia tak ada….
Kyuhyun, ia tak datang….
Jemari Ki Bum kini saling bertaut, ibu jarinya ia gerak-gerakkan beraturan.
Seseorang menatapnya dari jauh, menatap Kim Ki Bum si jenius yang selalu yakin dengan apa yang ia lakukan. Namun kenyataan berkata lain sekarang, ia hanya melihat Kim Ki Bum yang tengah gugup dan bimbang.
Ia harus melakukan sesuatu, ia harus membantu salah satu hobae sekaligus adik kesayangannya itu.
"Siwon-ah! Kemari!"
Seseorang yang ia panggil Siwon berjalan cepat menghampirinya, pemuda berperawakan tinggi dengan paras bak malaikat itu kini membungkuk hormat pada salah satu senior yang sangat dihormatinya itu. "Ye, sunbaenim. Ada apa?"
"Tolong kau handle semuanya sementara, aku harus keluar sebentar"
Siwon tak bertanya macam-macam, ia patuh pada perintah sang senior. Sementara orang yang baru saja melimpahkan wewenangnya pada Siwon melangkah pergi dengan langkah cepat sembari mengotak-ngatik ponselnya.
"Kyuhyun-ah, bukankah seharusnya kau ikut tampil dalam acara itu?" Tanya seseorang dengan rambutnya yang ia beri gel hingga berbentuk runcing dibeberapa bagiannya.
Ia memasukkan ponselnya setelah terlihat membalas pesan singkat entah dari siapa.
"aku baru ingat, Donghae benar. Bukankah kau akan tampil dengan Ki Bum?"
Kyuhyun tak menjawab pertannyaan -atau mungkin pernyataan- dari salah satu sahabatnya yang mirip ikan teri, Eunhyuk.
Kini mereka tengah berada di depan mini market tak jauh dari lingkungan sekolah.
Kyuhyun, Pandangannya menerawang, menatap awan yang berarak diatas kepalanya.
Tampil bersama Ki Bum? Haruskah ia pergi?
Tidak! Ki Bum tidak mau tampil dengannya, Ki Bum terpaksa. Jadi untuk kebaikan bersama-menurutnya- sebaiknya ia tak pergi. Ia takkan pergi kesana!
Donghae dan Eunhyuk saling melempar pandang, Kyuhyun sangat keras kepala. Ia tak mudah di bujuk oleh sembarang orang, bahkan oleh mereka berdua yang merupakan sahabatnya. Tapi mereka harus mencoba.
"Kyu, mungkin sekarang Ki Bum sedang bingung karena kau tak datang," jelas Donghae seolah bisa melihat apa yang tengah Ki Bum lakukan sekarang.
Eunhyuk memandang kedua sahabatnya sebelum akhirnya ikut bicara, "aku juga membayangkan hal yang sama, mungkin kembaranmu itu sedang berlari kesana-kemari untuk mencarimu! Apa kau bisa merasakannya? Bukankah sepasang anak kembar mempunyai sesuatu seperti telepati yang sangat kuat?"
"Mwoya, telepati apa ikan teri? Babo!" cerca Kyuhyun sembari memukul kepala Eunhyuk pelan.
"Berhenti memukulku Kim Kyuhyun!"
"Eoh, Kim Kyuhyun. Kenapa kau disini?" sapa seseorang yang kini tengah berjalan mendekat, hendak bergabung dengan perkumpulan aneh ini-mungkin-.
"Annyeonghaseo," sapa mereka bertiga bersamaan, seolah ingin membuat salah satu sunbae mereka itu malu.
Orang itu berdecak kesal, dasar anak-anak ini. "eoh, annyeong." Jawab orang itu malas.
"Kyuhyun, kenapa kau ada disini? Setahuku sebentar lagi waktunya kau tampil bukan?" tanyanya,
"tidak" sangkal Kyuhyun singkat. "lagipula sedang apa sunbaenim disini? Bukankah kau ketua pelaksananya?"
Bola mata Yesung bergerak tak tentu, "oh itu, aku sedang mencari udara segar sebentar," katanya sembari melakukan peregangan-peregangan ringan yang tampak bodoh dimata Donghae dan Eunhyuk.
"Kyuhyun-ah, kau benar-benar tak akan tampil? Tapi tadi Ki Bum sudah mengambil nomor peserta, aku pikir kalian akan ikut, sayang sekali padahal kulihat Ki Bum sudah susah payah melupakan ketidak sukaannya tampil di depan orang banyak." Terang Yesung panjang lebar.
Matanya mendelik beberapa kali, seolah mengisyaratkan sesuatu.
Donghae melihat apa yang Yesung lakukan, "benarkah? Kyuhyun-ah jadi Ki Bum tidak suka tampil di depan orang banyak?" tanyanya penuh antusias dan sebenarnya terlihat sedikit berleebihan.
Kyuhyun tak mengatakan apapun, pikirannya mulai melayang. Ki Bum susah payah menekan ketidak sukaannya demi Kyuhyun, demi dirinya. Pantas jika Ki Bum bilang ia terpaksa, tetapi meski begitu ia tetap mengabulkan keinginannya.
Ki Bum, ia peduli padanya….
Setelah mengambil sebuah kesimpulan, tanpa memperdulikan sekitarnya Kyuhyun berlari menyusuri jalan menuju sekolah. Ia harus cepat atau semuanya akan terlambat dan Ki Bum akan semakin terluka karenanya.
Punggung Kyuhyun terlihat semakin menjauh dan hilang dari pandangan.
Yesung sang ketua pelaksana, Donghae dan juga Eunhyuk secara bersamaan tersenyum sepeninggal Kyuhyun.
"Sunbaenim, acting mu jelek sekali.." komentar Donghae pada salah satu sunbaenya dari kubu musim dingin itu.
"Aku setuju! Aku pikir kita akan ketahuan tadi," seru Eunhyuk menimpali.
"memangnya acting kalian bagus?"
"BAGUS!" jawab Donghae dan Eunhyuk bersamaan.
Yesung hanya menggelengkan kepalanya untuk menanggapi, anak-anak dari kubu musim panas memang menyebalkan, simpulnya.
"ngomong-ngomong, terimakasih atas kerjasamanya,"
"Mwo? Terimakasih?" Tanya Eunhyuk di buat sedramatis mungkin.
"Aku tarik kata-kataku barusan," kata Yesung merasa menyesal dengan apa yang dikatakannya.
"kami bercanda, heheh" sergah Eunhyuk diselingi tawanya yang terdengar garing.
"Sunbaenim, aku senang kau minta bantuan kami. Sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin mengirimnya kesana, tapi Kyuhyun keras kepala." Gerutu Donghae seolah mengadukan sikap Kyuhun pada Yesung.
Yesung mengangguk, "aku mengerti, memangnya kalian pikir bagaimana Ki Bum? Ia juga sama keras kepala,"
"Ah, Bocah kembar keras kepala," keluh Enhyuk.
Nomor peserta Ki Bum dan Kyuhyun sudah di panggil beberapa kali, Ki Bum berjalan dengan lunglai menuju ke stage. Sejak tadi ia terus meyakinkan dirinya kalau Kyuhyun akan datang, Kyuhyun takkan pernah meninggalkannya seperti ini, dongsaengnya takkan pernah melakukan itu.
Akan tetapi harapannnya seolah musnah bersamaan dengan nomor pesertanya yang terdengar beberapa kali di panggil, Kyuhyun ia benar-benar tak datang. Awalnya ia berharap Kyuhyun akan datang di menit-menit terakhir, tapi ini bukan drama, ini kehidupan nyata, dan Ki Bum harus menelan pil pahit itu sekarang.
Kini Ki Bum sudah berada diatas panggung, beberapa siswa bersorak menyemangati, dan yang lainnya memandang Ki Bum bingung, termasuk Ahra. Ia bingung karena Ki Bum hanya sendiri, kemana Kyuhyun?
Dilihatnya Ki Bum yang membungkuk cukup dalam, dengan wajah lemas yang amat kentara bagi Ahra. Ahra mulai cemas, ia yakin terjadi sesuatu pada kedua adiknya.
Setelah duduk dihadapan piano yang terletak di bagian kanan panggung, tampak Ki Bum menghembuskan napasnya kasar. Tangannya sedikit bergetar, ia gugup.
Ki Bum mulai menekan tuts piano, baiklah ia akan memainkan melody nya saja. Putusnya. Disela permainannya ia melirik kearah tribun penonton, ia menemukannya. Seseorang dengan bola matanya yang kecoklatan, noona. Ia memandang Ki Bum sembari tersenyum dan menyerukan kata 'Fighting' tanpa suara.
Ki Bum balas tersenyum, ini demi noona. Ia akan melakukannya.
Ki Bum memainkan melody dari lagu Snow Flower, kini sudah hampir sampai di detik ke empat belas. Dan sekarang seharusnya Kyuhyun bernyanyi, detik lima belas….
"Eoneusae gireojin geurimjareul ttaraseo.. ttanggomi jin odeum sogeulgeudaewa geutgo itneyo.."
Ki Bum mendongak, itu suara Kyuhyun. Kyuhyun berdiri dibagian tengah panggung, diawal lagu ia sedikit terlambat tapi kini ia bisa menyesuaikannya.
Kyuhyun melirik pada Ki Bum disela nyanyiannya, sekilas ia tersenyum. Sementara Ki Bum, matanya terasa panas, tapi susah payah ia menahannya. Menahan agar air matanya tak keluar.
Lirik pertama tadi seolah menggambarkan kehidupan mereka, Ki Bum dan Kyuhyun. Saling mengikuti, saling menjaga, dan mereka selalu bersama dalam keadaan apapun.
Mereka melanjutkan pertunjukkan hingga selesai, gemuruh tepuk tangan dan juga sorakkan memenuhi ruangan itu. Ki Bum meninggalkan piano nya dan berdiri berdampingan bersama Kyuhyun, mereka memberi hormat dan lalu berjalan menuju back stage. Senyuman merekah di bibir keduanya, tetapi ketika Kyuhyun berbalik menghadap Ki Bum, secepat mungkin Ki Bum merubah ekspresinya menjadi dingin kembali.
"Jika aku berada disampingmu, tidak peduli betapapun beratnya…. Aku merasa kalau aku bisa melakukannya, aku merasakan perasaan itu… "
Ki Bum memandang Kyuhyun dengan pandangan jijik, sementara yang di pandang hanya menyengir menampakkan deretan gigi putihnya.
"Ketika angin menggerakkan jendela dan bahkan di tengah malam yang membuat terbangun…." Lanjut Kyuhyun, "Aku akan menghapus semua kenangan pahitmu dengan senyuman cemerlang,"
"Berhenti Kim Kyuhyun, itu menjijikkan!"
Kyuhyun malah tersenyum semakin lebar mendengar Ki Bum memprotesnya, sejak tadi Kyuhyun mengucapkan beberapa penggal lirik dari Snow Flower. Lagu indah kesukaan eomma dan appa.
"tapi liriknya benar-benar cocok dengan kita, bukan?" Tanya Kyuhyun dengan jari telunjuknya yang ia mainkan di sekitar dagunya.
Ki Bum tersenyum singkat, entahlah. Walaupun itu lagu cinta yang menceritakan tentang perpisahan, tapi memang ada beberapa lirik yang seolah menceritakan hidup mereka. Namun ia tak pernah berharap hidup mereka akan berakhir seperti lirik yang lainnya. Ia tak ingin berpisah dari Kyuhyun.
"Ki Bum-ah,"
"Hn," jawab Ki Bum singkat, sebenarnya ia masih malas bicara dengan Kyuhyun. Anak itu hampir mengahancurkan semuanya.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiran Ki Bum, kenapa Kyuhyun bisa datang kemari? Apa yang membuatnya berubah pikiran? Dan lalu kenapa sikapnya begini lagi? Apa ia sudah tak marah?
"…. Bum-ah…. Kim Ki Bum!" sentak Kyuhyun keras tepat di depan telinga Ki bum,
Ki Bum mengerjap, astaga ia melamun ternyata. "Apa?"
"aku sudah memanggilmu berkali-kali, tapi kau malah melamun," rajuk Kyuhyun dengan bibirnya yang ia majukan.
Ki Bum hampir tak bisa menahan tawanya, bagaimana tidak. Kyuhyun merajuk sambil memajukan bibirnya, sikap manjanya mulai keluar lagi.
"Bum-ah,"
"apa?"
"Maaf karena aku sudah salah faham, " aku Kyuhyun dengan kepalanya yang menunduk, sebelum bicara ia sempat melirik ke sekitar mereka, mengantisipasi kalau ada yang mendengar apa yang akan ia katakan. "Dan lagu tadi, itu untukmu, maafkan aku…" lanjutnya.
Ki Bum yang memang pada dasarnya orang pendiam yang tak suka banyak bicara, ia tak mengatakan apapun untuk menanggapi perkataan Kyuhyun.
Namun kini tangannya terangkat dan mendarat lembut di pucuk kepala sang adik yang tengah menunduk, ia mengusaknya lembut sembari tersenyum hangat.
Kyuhyun mendongak, ia mengerti maksud tindakan Ki Bum. Meski tak mengatakan apapun, apa yang Ki Bum lakukan padanya sudah cukup mengartikan semua, Ki Bum mengerti, dan ia memaafkannya.
Jemari Ki Bum yang berada diatas kepala Kyuhyun masih memainkan helain rambut Kyuhyun lembut, hingga beberapa detik kemudian Kyuhyun berteriak tiba-tiba.
"Ya! Kim Ki Bum! KENAPA KAU MENARIK RAMBUTKU!"
Ahra melangkahkan kakinya melewati pintu utama gedung olah raga, bibirnya tampak tersenyum begitu cerah.
Kelegaan menyelimuti hatinya, membuatnya tak bisa berhenti tersenyum.
Ia berjalan ringan sembari menebar senyumnya, akan tetapi di gerbang utama. Ia melihat seseorang yang tengah melangkah masuk ke pelataran sekolah.
Dia…. Seseorang dengan rambut kecoklatan dan juga lesung pipitnya yang membuatnay terlihat manis.
Dia…. Seseorang yang Ahra temui di restoran jjangmyeon sekitar seminggu yang lalu.
"Chogiyo,"
Ahra mengerjap, wajahnya yang tadi terkagum-kagum kini bersemu merah setelah sadar siapa yang baru saja menyapanya.
"bukankah kau yang waktu itu di restoran? Kau masih ingat aku?"
Ahra masih membeku, ia tak bermimpi bukan? Orang itu menyapanya.
Dengan ragu Ahra mengangguk, bibirnya tersenyum kaku, ia salah tingkah.
"Annyeonghaseo… Wah, kita bertemu lagi, bukankah ini sangat kebetulan?" Tanya lelaki itu antusias, senyumannya sangat manis bagi Ahra, bahkan jika Ahra es batu ia yakin ia akan meleleh saat itu juga. Astaga perumpamaan yang sungguh aneh.
"Ne, kebetulan…" timpal Ahra pelan,
"ah, kenapa aku tidak sopan sekali, namaku Park Jungsoo tapi kau bisa memanggilku Leeteuk," katanya seraya mengangsurkan tangan pada Ahra.
Ahra membalas uluran tangan Leeteuk dengan sedikit canggung, "namaku Ahra, Kim Ahra…"
mereka tampak cocok, sama-sama memiliki garis wajah yang lembut dan senyuman yang cerah.
Beberapa kali mereka saling mencuri pandang dan lalu wajah mereka akan bersemu merah, apa artinya? Entahlah hanya mereka berdua yang tahu.
Dalam hati Ahra terus bergumam, 'Leeteuk…. Namanya Leeteuk….'
TBC
