"uri noona kelihatannya senang sekali.…" goda Kyuhyun ketika dilihatnya Ahra berjalan kedalam rumah dengan senyuman merekah dan bahkan langkahnya terlihat seperti sebuah lompatan-lompatan kecil.

Yang disapa tersenyum cerah, ia tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Hari ini ia benar-benar bahagia.

Bagaimana tidak? Leeteuk menjemputnya di kampus tadi siang dan bahkan pemuda itu mengantarnya ke pabrik dan menungguinya hingga pekerjaannya selesai. Benar-benar pria bertanggung jawab bukan?

Ahra berjalan mendekat menuju sofa tempat Kyuhyun duduk, "Kim Kyu," serunya sebelum akhirnya mendudukkan diri disamping Kyuhyun sambil memeluk bantal kursi berbentuk persegi. "kalau tidak salah, Hyukjae itu temanmu bukan?"

Kyuhyun memalingkan wajahnya pada Ahra, "Hyukjae? Eunhyuk maksud noona?" tanyanya dengan dahi berkerut.

Ahra mengangguk antusias sambil menampilkan deretan gigi putihnya yang tampak manis ketika tersenyum. "dia temanmu, kan?"

Kali ini Kyuhyun yang mengangguk, kenapa tiba-tiba Ahra menanyakan tentang Eunhyuk temannya?

"kalau begitu, kau tahu seseorang bernama Leeteuk?"

Kyuhyun tampak berpikir, bola matanya bergulir kekanan dan kekiri seolah mengingat-ingat sesuatu.

Leeteuk….

Leeteuk….

Leeteuk….

Tiba-tiba Kyuhyun berseru cukup keras, "eoh, aku tahu! Dia paman Eunhyuk! Tapi kalau aku tak salah Eunhyuk memanggilnya hyung,"

Senyum Ahra semakin lebar, ternyata Leeteuk tak berbohong. Apa yang Kyuhyun katakan sama persis seperti apa yang Leeteuk katakan padanya.

"tunggu sebentar, bagaimana noona bisa mengenal pamannya Eunhyuk?" Tanya Kyuhyun penasaran.

ia memang penasaran, karena rasanya aneh kalau noonanya ini bisa mengenal pamannya Eunhyuk. Setahu Kyuhyun pamannya Eunhyuk sudah lulus kuliah, itu berarti mereka tidak bertemu di kampus. Lalu darimana noona tahu mengenai dia?

Ahra tersenyum simpul, "sebenarnya aku…."

Dan Ahra menceritakan semuanya dari awal pada Kyuhyun. Pertama kali mereka bertemu di restoran jjangmyeon, ketika mereka bertemu disekolah, dan cerita Ahra ditutup dengan….

"…. Ia teman yang baik,"

"hanya teman? Tak lebih?" Tanya Kyuhyun beruntun.

Ahra menggedikkan bahu, "kami hanya berteman, tak lebih dari itu…."

"sungguh?" goda Kyuhyun dengan seringaian di bibirnya.

Pipi Ahra bersemu merah, tapi ia memang hanya berteman dengan Leeteuk. Teman…. Hanya teman…. Mungkin untuk saat ini? Memangnya siapa yang tahu apa yang akan terjadi di depan sana?

"Berhenti Kim Kyu, sudah aku bilang, kami hanya berteman. Mengerti?" Ahra beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamar.

"pacaran juga tak apa!" teriak Kyuhyun pada sang noona yang tengah melangkah meninggalkan ruanga keluarga.

Sementara itu di lantai dua, seseorang tengah mendengarkan percakapan mereka. Wajahnya datar tak menampakkan ekspresi apapun, tidak. Bukan ekspresi datar, tapi ekspresi dingin.

Terlihat ada raut tak senang diwajah putihnya, namun kadang terbersit raut ketakutan walau hanya terlihat sekilas disana.

Apa yang ia pikirkan? Entahlah, hanya ia yang tahu apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.

Ki Bum beranjak dari meja belajarrnya menuju tempat tidur single miliknya yang berada tepat disamping tempat tidur Kyuhyun, ia lepas kaca matanya dan mulai membaringkan diri.

Tak ada suara apapun yang terdengar, sunyi. Penerangan kamar sangat minim karena sejak tadi Kyuhyun sudah mematikan lampu dan hanya menyalakan satu lampu tidur diantara tempat tidur mereka.

Manik kecoklatan Ki Bum menerawang memandang langit-langit kamar mereka yang bercat putih, menembus kegelapan diruangan itu, bibirnya terkatup rapat namun terlihat ada sedikit getaran disana. Selain itu….

Pantulan cahaya lampu mengenai bola mata beningnya, dan terlihatlah kilauan Kristal di sudut mata pemuda itu. Semakin lama Kristal tersebut turun menuruni tulang pipinya dan berakhir di bantal biru tua miliknya.

"Bum-ah…."

Mendengar namanya di panggil Ki Bum segera mengusap kasar matanya dan membalikkan diri membelakangi seseorang yang baru saja memanggilnya.

"Bum-ah…." Panggil orang itu kembali, suaranya terdengar lirih dan terasa bergema di telinga Ki Bum karena suasana yang sangat sunyi.

Ia beranjak dari pembaringannya dan mendekat pada Ki Bum, "Bum-ah, gwenchana?"

Ki Bum diam, ia tak dapat bersua. Ia takut suaranya bergetar ketika berbicara dan membuat dongsaengnya khawatir.

Ia, Kyuhyun. Perlahan ia mendekat dan mendudukkan diri di tempat tidur Ki Bum. Sebenarnya sejak tadi ia belum tidur, ia tahu semua yang Ki Bum lakukan, dan ia melihat apa yang terjadi barusan.

Inilah yang selalu membuatnya cemas pada hyung satu-satunya itu, Ki Bum yang tertutup dan selalu menelan semuanya sendiri. Bukan sekali dua kali ia menemukan Ki Bum menangis sendirian di tengah malam seperti ini, sejak kecil Ki Bum memang seperti itu.

Tapi Kyuhyun tak pernah memaksa Ki Bum untuk menjelaskan apa yang terjadi, ia hanya akan menghibur saudara kembarnya itu dengan segala kemampuannya. Sebisa mungkin membuat Ki Bum nyaman berada disampingnya.

Setelah tak mendapat jawaban dari Ki Bum yang masih memunggunginya, Kyuhyun memutuskan untuk membaringkan diri di belakang Ki Bum. Ia tak mengatakan apapun, ditariknya selimut yang menutupi tubuh Ki Bum sampai pinggangnya hingga menutupi leher.

Si magnae berbaring dengan memandang punggung tegap Ki Bum, 'aroma appa' gumamnya dalam hati. Aroma tubuh Ki Bum memang sama dengan aroma tubuh appa, karena itu tiap kali ia merindukan appa, ia akan terus menempel pada Ki Bum seharian.

"Bum-ah…." Panggil Kyuhyun.

Bisa Ki Bum rasakan hembusan napas Kyuhyun di tengkuknya, air matanya yang sejak tadi ia coba tahan kini menerobos dengan kuat, membasahi kedua matanya, jatuh melewati hidungnya.

Kyuhyun bisa melihat getaran halus di tubuh Ki Bum, Ki Bum menangis. Simpulnya.

"Bum-ah…." Seru Kyuhyun pelan, "jangan memikirkan sesuatu yang tak ingin kau pikirkan, jangan takut dan merasa sendirian. Ingatlah, aku selalu ada di sampingmu, aku selalu bersamamu…." Gumam Kyuhyun di iringi pergerakan halus lengannya yang naik ke tubuh Ki Bum.

Sebelah tangan Kyuhyun mengusap lengan Ki Bum yang dapat ia jangkau. Mengusapnya pelan dan beraturan, layaknya seorang ibu yang tengah menenangkan putranya.

Tangisan Ki Bum pecah, isakannya memang pelan namun getaran di tubuhnya semakin kuat. Lelehan air matanya kini berjatuhan cukup deras membasahi wajahnya.

Andai….

Andai ia bisa menceritakan ini pada Kyuhyun.

Mungkinkah Kyuhyun akan mengerti ketakutannya?

Mungkinkah Kyuhyun akan merasakan apa yang ia rasakan?

Namun apa yang ia lihat tadi sore sudah cukup menjelaskan semuanya, untuk kali ini. Ki Bum yakin, Kyuhyun takkan sejalan dengannya, dengan pemikirannya.

Kyuhyun memandang punggung Ki Bum yang berjalan sekitar satu meter di depannya, sejak kejadian semalam hingga sore ini. Kyuhyun sama sekali belum mendengar suara Ki Bum.

Anak itu jadi sangat pendiam, bahkan Kyuhyun yakin. Pagi ini Ki Bum juga tak bertegur sapa dengan noona, dan ia juga yakin. Ki bum, ia menghindari noona.

Entah apa penyebabnya ia tak tahu, hanya saja ia yakin apa yang terjadi semalam ada hubungannya dengan noona. Tapi apa?

Pemuda berperawakan tinggi itu mempercepat langkahnya dan mensejajarkannya dengan Ki Bum, "Bum-ah, hari ini ayo kita ke game center!" ajak Kyuhyun bersemangat.

Ki Bum memalingkan wajahnya sejenak, "tidak untuk hari ini," jawabnya singkat dan dingin.

Tampak si magnae mengerucutkan bibirnya, "tapi aku mau hari ini…." Rengek Kyuhyun manja.

Ki Bum tak menjawab dengan kata-kata, ia menggeleng pelan sebagai perwakilan dari jawabannya.

Masih, Kyuhyun tak ingin kalah, ia menghentakkan kakinya seperti anak kecil. Dan berjalan cepat mendahului Ki Bum.

Melihat itu Ki Bum mendesah, ia mengejar kyuhyun dan menarik bahu anak itu. "baik, tapi tak lebih dari satu jam. "

Senyum Kyuhyun berkembang begitu lebar mendengar apa yang Ki Bum katakan. Sesungguhnya, yang lebih menyenangkan dari ini bukan game center. Tapi suara bass hyungnya yang seharian ini tak bisa ia dengar .

"Kim Ki! Kim Kyu! Kalian dari mana saja?"

Bentakan Ahra menghentikan langkah mereka, langkah si kembar Kim yang tengah mengendap di anak tangga menuju kamar mereka.

Ahra berjalan sedikit berlari menghampiri keduanya, kedua tangannya berada di pinggang. Bola mata kecoklatannya mengkilat kejam. Itu kata Kyuhyun dalam hati sebenarnya.

"kalian dari mana? Kalian tahu ini jam berapa?" cerca Ahra pada Ki Bum dan Kyuhyun.

Kyuhyun menunduk dalam sedangkan Ki Bum menatap lurus Ahra, "kami dari game center," jawab Ki Bum tenang.

Kyuhyun merutuk dalam hati, kenapa Ki Bum harus mengatakannya?

Dahi Ahra berkerut, mereka bilang dari game center? Apa mereka menghabiskan waktu empat jam di tempat itu? "mwo? Game center?"

"kalian ke game center sejak pulang sekolah sampai jam delapan malam?" Tanya Ahra tak percaya.

Ki Bum mengangguk.

Kyuhyun mengangkat kepalanya, ia mencoba memberanikan diri untuk memandang kakak tertuanya Ahra.

"apa yang kalian lakukan disana sampai menghabiskan waktu berjam-jam, huh?"

Tak ada yang berani menjawab, Kali ini Ki Bum memalingkan wajahnya kearah lain. Sedangkan Kyuhyun terus menatap Ahra, dan ia menemukan sesuatu. Sesuatu yang tak pernah ahra pakai sebelumnya.

Senyuman kecil berkembang diujung bibir Kyuhyun, ia mendapat ide agar kemarahan Ahra pada dirinya dan juga Ki Bum tak berlanjut. "Noona,"

"Apa?!" jawab Ahra ketus dengan nada tinggi.

Tampak Kyuhyun meringis hingga akhirnya tangan pucatnya menunjuk pergelangan tangan Ahra, disana di pergelangan putih Kim Ahra. Ada sebuah gelang berhiaskan daun maple yang terlihat sangat manis ketika dikenakan.

"tidak biasanya noona mengenakan perhiasan seperti itu," komentar Kyuhyun.

Ahra terperangah, ia tampak gugup. "memangnya aneh jika aku menggunakan ini?" tanyanya yang lebih terdengar seperti pembelaan diri.

Kyuhyun menggeleng, "tidak, tapi setahuku noona tidak punya benda-benda seperti itu,"

"Apakah itu pemberian seseorang?" goda Kyuhyun,

Ki Bum memandang mereka dalam diam.

"mwo- mwo? Memangnya siapa yang mau memberiku sesuatu seperti ini, huh?" ujar Ahra gugup.

Kyuhyun sebisa mungkin menyembunyikan senyumannya, kini ia yakin benda itu memang pemberian seseorang setelah ia melihat respon Ahra. "entahlah, mungkin seseorang yang sedang dekat denganmu noona. Te-man ba-ik mungkin?" kata Kyuhyun seraya mengejah kalimat teman baik yang Ahra tahu mengarah pada siapa.

Ahra mulai salah tingkah, ia menurunkan tangnnya yang sejak tadi berada di pinggang. "sebaiknya kalian pergi mandi, aku tunggu di ruang makan," putusnya seraya berlalu dan turun kelantai satu.

Senyuman yang sejak tadi Kyuhyun tahan akhirnya muncul, sikap Ahra barusan benar-benar membuatnya ingin tertawa. Ah, dan kali ini ia menghembuskan napas lega. Hukuman sepertinya takkan jatuh malam ini.

"Ya! Ki Bum-ah! Kenapa kau bilang pada noona kalau kita ke game center?" Tanya Kyuhyun beralih pada Ki Bum dan menuntut jawaban dari sang hyung.

Ki Bum tak menjawab, ia malah naik kelantai dua meninggalkan Kuhyun.

"aish, Ya! Bum-ah! Tunggu!" teriak Kyuhyun sambil mengikuti langkah Ki Bum.

Tak dihiraukannya teriakkan Kyuhyun di belakang nya, Ki Bum masih melangkah santai menuju kamar mereka.

"Ya! Bum-ah! Kau tahu, aku rasa gelang yang noona kenakan tadi pemberian dari pacarnya," oceh Kyuhyun di belakang Ki Bum.

Raut wajah Ki Bum berubah meredup.

"aku rasa pacarnya itu Leeteuk hyung, dia pamannya Eunhyuk," jelas Kyuhyun lagi tanpa di minta.

Kyuhyun masih terus mengoceh tentang Leeteuk dan juga Ahra, hingga Ki Bum berbalik padanya dengan pandangan dingin.

"aku tak perduli, jangan bicarakan itu lagi dihadapanku," tuturnya seraya pergi meninggalkan Kyuhyun yang mematung di tempatnya dengan ekspresi kebingungan.

Kenapa sikap Ki Bum seperti itu? Apa yang salah dengan yang ia katakan? Kenapa ia…. Tampak marah?

Angin musim gugur meniup surai hitam sepunggung milik seorang gadis dengan paras lembutnya, kepalanya menengadah menatap langit senja berhiaskan awan dan juga sekelompok burung yang tengah terbang dengan sayapnya.

Ia meluruskan kakinya yang berselonjor ditanah berumput dipinggiran sungai Han, merapikan kemeja berwarna hijau toscanya yang terlihat sedikit kusut karena ia pakai sejak tadi pagi.

Pergi ke kampus dan lalu ke kantor untuk membantu paman, itulah ritinitasnya hari ini. Dan sore harinya, saat ia keluar dari pintu gedung kantor. Disana, ada seseorang yang tengah bersandar pada pintu sebuah mobil sedan berwarna putih.

Senyuman dengan lesung pipitnya yang mungil seolah menjadi pemanis hari-harinya akhir-akhir ini, tentunya selain kedua dongsaeng yang paling disayanginya, bagi gadis itu mereka adalah obat dari segala rasa sakitnya. Mereka segalanya.

"kau melamun?"

Gadis itu mengerjap setelah menyadari ada seseorang yang duduk disampingnya, ikut menyelonjorkan kedua kaki panjangnya dan lalu mengangsurkan sekaleng soda dingin padanya. Pada gadis itu, Kim Ahra.

Ahra tersenyum menjawab pertanyaan pemuda itu, di sambutnya sekaleng soda dari tangan lelaki di sampingnya dan langsung meminumnya. Ya, sebelum memberikannya pada Ahra, terlebih dahulu ia membuka penutup kalengnya. Benar-benar sikap yang sopan.

Pemuda tadi menghembuskan napasnya keras, sebelum mengalihkan pandangannya pada gadis di sampingnya. "Ahra-ssi, menurutmu aku ini seperti apa?"

Ahra tampak berpikir, pertanyaan ringan tapi ia pikir ia harus memikirkan jawabannya sebaik mungkin. "Leeteuk-ssi itu…. Orang yang baik," jawab Ahra diiringi senyuman manisnya.

Pemuda itu, Leeteuk. Ia terkekeh mendengar jawaban polos Ahra, "baiklah aku orang baik, tapi bagaimana kau melihatku? Tidak, maksudku…." Jeda Leeteuk beberapa saat sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya "sebagai apa kau melihatku?"

Wajah Ahra tampak bingung beberapa saat hingga ia mengerti kemana arah pembicaraan lelaki di hadapannya ini, "Leeteuk-ssi ingin aku melihatmu sebagai apa?" pancing Ahra dengan senyuman jahilnya.

Maksud hati ingin serius, Leeteuk justru malah tertawa. Memang sulit membawa Ahra untuk berbicara serius apalagi mengenai sesuatu seperti ini, gadis ini selalu membuat segalanya menjadi sebuah candaan. Dan itulah yang Leeteuk suka dari seorang Kim ahra.

Tawa Leeteuk berangsur hilang, kali ini ia memandang Ahra serius. "aku ingin kau memandangku sebagai lelaki," katanya lembut namun tersirat maksud dalam disana.

Begitupun Ahra, ia tersenyum lembut. "aku selalu memandangmu seperti itu,"

"sungguh?" Tanya Leeteuk meyakinkan.

Ahra mengangguk pasti, ia memang selalu memandang Leeteuk sebagai seorang lelaki. Seseorang yang hampir mendekati kata sempurna menurut definisi nya.

Mereka terdiam beberapa saat, merasakan setiap hembusan angin yang menerpa wajah mereka. "kalau begitu, kau mau mengikat janji denganku?"

Tubuh gadis itu membeku, janji? Kenapa cepat sekali? Bahkan belum ada satu bulan mereka saling mengenal dan dengan tegasnya Leeteuk berani mengikat janji dengannya?

Ahra bergeming menatap Leeteuk di sampingnya, sementara Leeteuk memandangnya penuh harap.

"mungkin ini terlalu cepat, tapi aku yakin pilihanku tak salah. Ahra-ssi yang terbaik untukku,"

Jantung Ahra berdegup begitu keras, penuturan Leeteuk terdengar begitu meyakinkan. Tapi dapatkah ia mempercayainya? Mempercayai lelaki ini sepenuhnya?

Melihat Ahra yang masih diam, Leeteuk mencoba menjelaskan. "jika kau belum siap untuk janji setia, setidaknya kita bisa saling mengenal lebih dalam dulu mulai hari ini bukan?"

Gadis itu menelan salivanya, sebenarnya ini bukan pertama kali ia mendengar seseorang mengungkapkan perasaan pada dirinya. Namun entah mengapa, ketika Leeteuk yang mengatakannya ia merasakan getaran yang berbeda, getaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Ahra…."

"Leeteuk-ssi, kau tahu posisiku bukan?" Tanya Ahra memotong kalimat Leeteuk sambil memandang riak air di sungai Han.

Leeteuk mengangguk, "Aku tahu, Kim Ahra sebagai orang tua tunggal dari kedua adiknya," jawab Leeteuk santai dan tenang.

Sebelumnya Ahra pernah menceritakan mengenai keluarga kecilnya pada dirinya, mengenai kedua adik kembarnya, Kim Ki Bum dan Kim Kyuhyun.

"Leeteuk-ssi tahu posisi seperti apa itu?" Tanya Ahra kembali.

Leeteuk tampak berpikir, ia diam beberapa saat hingga akhirnya berkata pelan, "aku tahu, karena aku juga di posisi hampir sama denganmu, hanya saja bedanya keberadaan orang tua mereka, orang tuamu juga," ia menghela napas, "sejak lulus sekolah dasar Eunhyuk tinggal denganku, jadi aku tahu posisimu, aku mengerti,"

Ahra tersenyum mendengar jawaban Leeteuk, "Jadi?"

"Jadi aku mengerti, dan itu bukan masalah," tutur Leeteuk pasti.

Mungkin ini bukan masalah untuk sekarang, tapi Ahra takut ini akan menjadi masalah di waktu yang akan datang. Selain itu, ia juga takut tak bisa membagi hatinya.

Ki Bum dan Kyuhyun, mereka masih remaja. Mereka berada di tahap dimana kau harus memberinya perhatian penuh tanpa celah, inilah yang menjadi pemikiran terbesarnya ketika ia hendak menapaki sebuah hubungan.

Oleh karena itu, sejak eomma meninggal tiga tahun lalu, ia memutuskan untuk menutup hatinya sementara, ia akan memfokuskan diri untuk menjaga kedua adiknya. Menjaga mereka hingga mereka tumbuh dewasa dan siap untuk hidup mandiri.

"apakah mereka akan mengerti? Apakah mereka mau menerima semua ini?" Tanya Ahra entah pada siapa, dan entah menanyakan apa.

Namun sepertinya Leeteuk mengerti maksud Ahra, tangannya terulur mengusap punggung Ahra. Ia menggeser duduknya higga begitu dekat dengan gadis itu.

"kita harus mencobanya, lagipula aku yakin. Cepat atau lambat mereka akan mengerti,"

Ahra mengangguk pelan. Ya, ia harus mencobanya. Siapa tahu mereka akan mengerti, kalaupun mereka tak bisa menerimanya….

Pertemanan bukan sesuatu yang buruk.

Leeteuk menarik kepala Ahra hingga bersandar di bahunya, di usapnya pelan surai hitam milik gadis itu.

Hubungan mereka tampaknya takkan semudah seperti yang ia bayangkan, mendengar setiap perkataan Ahra, ia menyimpulkan. Mungkin hubungan ini akan tersembunyi hingga waktu yang tepat untuk Ahra menyampaikannya pada kedua adiknya.

Ia mengerti, dan ia akan menerimanya.

Sementara itu Ahra menutup matanya, ia hanya berdoa semoga apa yang ia lakukan bukan sesuatu yang salah dan takkan melukai hati kedua adiknya. Hanya itu yang ia harapkan.

Keduanya terdiam tak melanjutkan pembicaraan, menganggap semuanya telah menemukan titik temu. Dan inilah keputusan yang mereka ambil.

Mencoba sebuah hubungan baru.

Riak sungai Han dan mentari yang perlahan menyembunyikan dirinya seolah menatap mereka berdua, menyaksikan sebuah pemandangan manis dari dua orang manusia dengan sebuah komitmen baru.

"Kyu!"

Kyuhyun berpaling pada seseorang yang memanggilnya, disana Eunhyuk melangkah lebar atau harus kah kita menyebutnya setengah berlari? Ia datang mengampiri Kyuhyun yang tengah bersandar pada gerbang sekolah.

"kenapa kau berlari?" Tanya Kyuhyun dengan dahi berkerut.

"hanya ingin saja," jawab Eunhyuk enteng.

Dengusan terdengar dari Kyuhyun, dasar aneh. Gumamnya dalam hati menanggapi sikap salah satu sahabatnya yang terbilang unik itu.

"ah, Kyu. Kau tahu, aku rasa mereka sudah resmi pacaran!" kata Eunhyuk tiba-tiba denga nada tinggi.

Mata Kyuhyun membola, 'mereka' yang Eunhyuk maksud adalah Leeteuk dan juga Ahra.

"darimana kau tahu?" Tanya Kyuhyun tak percaya.

Sejak seminggu yang lalu mereka memang mulai menyelidiki hubungan Ahra dan juga Leeteuk, bukannya mereka lancang. Mereka hanya ingin tahu saja, karena sejak beberapa hari yang lalu menurut Eunhyuk Leeteuk selalu terlihat senang, dan begitupun dengan Ahra. Oleh karena itu mereka menyelidiki tentang hubungan Leeteuk dan juga Ahra.

"dua hari yang lalu aku masuk ke kamar Leeteuk hyung dan aku menemukan sepasang cincin di meja kerjanya," kata Eunhyuk menggebu-gebu layaknya para ahjumma yang sedang bergosip.

"kenapa kau tak bilang mengenai itu?" Tanya Kyuhyun sedikit kecewa.

"tunggu dulu, awalnya aku pikir itu bukan miliknya, tapi kemarin malam sepulang kerja, aku melihatnya sudah mengenakan cincin itu,"

"sungguh?"

Eunhyuk mengangguk pasti, "itu berarti jika noona mu mengenakan cincin yang sama-"

"mereka sudah resmi pacaran," simpul Kyuhyun.

"bingo!" seru Eunhyuk penuh semangat.

Sementara itu tak jauh dari tempat Kyuhyun dan Eunhyuk berdiri, seseorang tengah memperhatiakn mereka melalui kaca matanya. Ia mendengarkan dengan seksama semua yang Eunhyuk dan Kyuhyun bicarakan.

Ekspresinya tak menggambarkan apapun, akan tetapi kedua belah tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Seolah mengatakan, kalau ia tak suka dengan apa yang ia dengar.

Makan malam di kediaman keluarga kecil Kim berlalu dengan tenang, ahra makan dalam diam begitupun si kembar Kim yang juga tak membicarakan apapun.

Namun tanpa Ahra sadari kedua adiknya terus menatap jemari Ahra yang kini berhiaskan sebuah cincin dengan permata kecil berwarna soft pink di bagian ujung ukiran yang berbentuk seperti sebuah tanaman merambat.

'cincinnya berwarna silver dan ada ukiran seperti tanaman merambat dan juga…. Ada permata berwarna soft pink di ujung ukirannya. Ah, pamanku memang punya selera yang sangat bagus,'

Ki Bum dan Kyuhyun ingat betul apa yang Eunhyuk katakan tadi, dan ternyata apa yang mereka lihat sekarang telah membuktikan semuanya. Ahra noona mengenakan cincin itu di jari manisnya.

Kyuhyun tersenyum senang sedangkan Ki Bum….

Ia tak memberi respon apapun walaupun ke khawatirannya telah terbukti sekarang.

Beberapa menit berlalu, Ki Bum yang pertama kali beranjak dari duduknya, "aku akan pergi ke rumah Yesung sunbaenim, " katanya pelan.

Ahra mendongak, tidak biasanya Ki Bum pergi malam-malam begini. "sekarang? Untuk apa Kim Ki?"

"ne, mengerjakan sesuatu, " kata Ki Bum singkat.

"sesuatu apa? " Tanya Kyuhyun ikut penasaran.

"kau tak perlu tahu," jawab Ki Bum ketus.

Bibir Kyuhyun mengerucut sedemikian rupa, "Kim Ki Bum kau menyebalkan!" umpat Kyuhyun.

Ahra mencoba membuat keputusan bijak, mungkin Ki Bum takkan melakukan hal-hal buruk disana. Mengingat Yesung memang salah satu senior kedua adiknya dengan prestasi cukup baik di sekolah dan Ahra tahu Yesung adalah salah satu teman terdekat Ki Bum.

"arraseo, kau boleh pergi. Tapi sebaiknya kau menginap, akan berbahaya kalau kau pulang tengah malam dari sana,"

Ki Bum mengangguk mendengar nasihat Ahra, ia berlalu meninggalkan ruang makan tanpa memperdulikan Kyuhyun yang masih asyik mengumpat.

"Ki Bum-ah!" seru Yesung terkejut menemukan Ki Bum yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya.

Tanpa permisi, Ki Bum berjalan masuk melewati Yesung yang masih berdiri di ambang pintu.

"hyung, boleh aku menginap malam ini?" Tanya Ki Bum seraya melempar tasnya keatas sofa sewarna tulang di ruangan tengah apartemen Yesung.

Yesung ikut duduk disamping Ki Bum, "ada apa? Kenapa tiba-tiba kau mau menginap?"

Ki Bum menggelengkan kepalanya, "tak ada apa-apa, hanya ingin saja. Apa tidak boleh?"

Alis Yesung saling bertaut, sejak dulu ia selalu mengajak Ki Bum menginap di apartemennya jika ada tugas. Tapi anak itu tak pernah mau, dengan banyak alasan yang ia lontarkan.

Lalu kenapa sekarang tiba-tiba ia datang ke apartemennya? Bahkan tanpa memberi kabar. "kau bertengkar lagi dengan Kyuhyun?" Tebak Yesung hati-hati.

Sekali lagi Ki Bum menggeleng, "aku bilang tak ada apa-apa, aku hanya merindukanmu," katanya seraya tersenyum manis menggoda Yesung.

"aish, menjijikkan," komentar Yesung singkat.

Sudah lama Ki Bum tak kesini, dulu hampir setiap minggu ia mengunjungi apartemen seniornya ini karena Yesung bilang ia kesepian. Ya, Yesung tinggal sendiri di Seoul sedangkan orang tuanya ada di Busan. Jadi pantas jika Yesung selalu mengeluh kalau ia butuh teman.

Namun kebiasaannya itu harus berubah setelah Kyuhyun berulah, sejak anak itu terlibat tawuran hebat dan menyebabkan beasiswanya di cabut. Banyak hal yang berubah pada kebiasaan Ki Bum.

Ki Bum beranjak dari duduknya dan berjalan mengelilingi ruangan yang cukup luas itu, keluarga Yesung memang termasuk keluarga berada karena itu Yesung bisa tinggal di apartemen yang bisa di kategorikan cukup mewah untuk ukuran anak SMA.

"kau punya wine?" Tanya Ki Bum setelah matanya menemukan sebuah lemari kecil yang ia tahu sebagai tempat untuk menyimpan wine.

"kau tahu aku selalu menyimpannya, tapi ingat aku bukan peminum," jawab Yesung sebagai pembelaan.

Sekilas Ki Bum tersenyum, "aku tahu, kau hanya minum jika kau tak bisa tidur,"

"Ki Bum-ah, aku mau membeli beberapa makanan ringan di mini market depan apartemen, kau mau menitip sesuatu?"

Ki Bum berbalik setelah melihat-lihat beberapa botol wine milik Yesung, "tidak ada," jawabnya singkat.

Yesung mengangguk, "baiklah," katanya sembari menyambar jaket yang tersampir di kursi ruang tengah apartemennya dan berlalu meninggalkan ruangan itu.

Sepeninggal Yesung, Ki Bum membawa keluar sebotol wine. Ia menulis sesuatu dalam sebuah note dan menempelnya di pinggir botol.

Yesung masuk ke apartemennya, ia berjalan sedikit kesulitan karena makanan ringan yang ia beli cukup banyak.

Kakinya melangkah menuju ruangan tengah, dan apa yang ia lihat bukan sesuatu yang ia harapkan.

Kim Ki Bum….

Ki Bum tengah menunduk dengan botol wine di meja yang berisi hanya tinggal seperempatnya saja, apakah anak ini minum sebanyak itu?

Yesung menjatuhkan belanjaannya dan berjalan tergesa menghampiri Ki Bum, ia mengangkat kepala Ki Bum yang menunduk. Anak itu masih sadar namun terlihat jelas ia mabuk berat.

"hyung…. Aku minum wine milikmu…. Ehehe…." Racau Ki Bum setengah sadar.

Dahi Yesung berkerut, sebelumnya ia tak pernah melihat Ki Bum seperti ini. Lagipula umur Ki bum bahkan belum genap tujuh belas tahun.

Yesung menyentuh botol wine yang ada di meja setelah indera penglihatannya menemukan sesuatu yang seharusnya tak tertempel disana, itu sebuah note. Isinya….

"aku akan mengganti wine ini nanti, dan jangan katakan pada siapapun kalau sampai aku mabuk, bahkan pada Kyuhyun sekalipun."

Yesung mendesah keras, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?

"hyung…. Kau tahu…."

"apa?" jawab Yesung tak bertenaga, ia masih tak menyangka junior kesayangannya bisa mabuk sampai seperti ini.

Ki Bum mengangkat tangannya susah payah, di gapainya bahu Yesung yang tengah terpekur duduk di sampingnya, "uri noona…. Dia…. Dia…. Punya pacar…."

"Itu bagus," komentar Yesung pelan.

"bagus…. Haha… memang bagus…. Tapi aku tidak suka!" bentak Ki Bum diakhir kalimatnya.

Mendengar suara keras Ki Bum, Yesung sampai terperanjat, dan sepertinya ia tahu mengapa Ki Bum tiba-tiba datang kerumahnya malam-malam begini.

"kenapa tidak suka?" Tanya Yesung memancing respon Ki Bum.

"mmm…. Entahlah…. Aku…. Aku hanya takut…."

Alis Yesung bertaut, takut? Apa yang perlu di takutkan memangnya?

"takut?"

"eoh…. Bagaimana jika noona malah lebih menyayangi lelaki itu…. Dibanding aku…. Dan juga Kyuhyun? "

Yesung menatap Ki Bum lekat, jadi ini masalahnya. Yesung menemukannya, ia tahu kenapa Ki Bum bersikap seperti ini. Tapi apa yang harus ia lakukan sekarang?

Memberi tahu Kyuhyun? Atau menuruti pesan Ki Bum?

Yesung, ia benar-benar bingung.

Ki Bum mengerjapkan matanya beberapa kali, perlahan ia membuka kelopak matanya dan mencoba menyesuaikan cahaya di ruangan itu dengan kedua bola maniknya.

"kau sudah bangun?"

Suara pertama yang menyapa pendengarannya, itu suara….

Kyuhyun….

Tunggu sebentar, Kyuhyun?

Ki Bum membuka matanya selebar mungkin, ternyata pendengarannya memang tak salah. Suara tersebut benar suara Kyuhyun saudaranya. Akan tetapi….

Kenapa bisa ada Kyuhyun di rumah Yesung? Seingatnya ia minum wine di rumah Yesung dan lalu….

"Bangunlah dan minum ini," seru Kyuhyun pelan seraya membantu Ki Bum bangun.

Diangsurkannya segelas teh hangat pada Ki Bum yang tampaknya masih belum sadar sepenuhnya.

Ki Bum meminumnya perlahan dibantu Kyuhyun,

"lebih baik?" Tanya Kyuhyun pelan setelah Ki Bum menghabiskan teh nya.

Ki Bum mengangguk perlahan, "kau ingat apa yang terjadi?" Tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Ki Bum terdiam, sepertinya ia mengingat-ingat sesuatu.

"kau pasti tidak ingat," gumam Kyuhyun karena Ki Bum tak juga mengatakan apapun.

"semalam kau mabuk berat di apartemen Yesung sunbaenim, kau juga meracau tak jelas,"

Tak ada kata yang keluar dari mulut Ki Bum, ia pikir sekarang waktunya ia mendengar, bukan waktunya ia bicara.

"kau tahu apa yang kau katakan ketika kau mabuk?"

Ki Bum menggeleng, sejujurnya ia memang tak mengingat apapun.

"kau meracau tentang hubungan Ahra noona, bagiku itu tak masalah selama noona tak mendengarnya. Tapi sayangnya noona mendengar semuanya,"

Kyuhyun memandang Ki Bum, "apa itu yang membuatmu menangis di tengah malam beberapa hari yang lalu?"

Ki Bum bergeming, tak tahu harus mengatakan apa. Ia memang tak ingat apa yang ia katakan ketika mabuk, akan tetapi ia tahu pasti apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang ada dalam pikirannya dan ia tahu itu pasti melukai Ahra noona.

"seharusnya kau menceritakan semuanya padaku sejak awal, mungkin semuanya takkan jadi seperti ini,"

Takkan jadi seperti ini? Apa maksudnya?

Ki Bum menatap Kyuhyun minta penjelasan, yang ditatap tahu betul apa maksud dari tatapan itu. "aku rasa hari ini setelah pulang dari kampus ia akan pergi menemui Leeteuk hyung, mungkin untuk mengakhiri semuanya," gumam Kyuhyun seraya beranjak membawa gelas kosong bekas teh tadi.

Ki Bum merasa bersalah, tentu saja. Ia bermaksud memendam semuanya tapi malah jadi seperti ini, seharusnya Yesung tak menghubungi Kyuhyun seperti pesannya.

Tapi tak ada gunanya menyalahkan orang lain, Ki Bum yakin apa yang Yesung lakukan adalah sesuatu yang menurutnya terbaik. Jadi Yesung tidak dalam posisi yang salah.

Ki Bum beranjak dari pembaringannya, kepalanya masih terasa berat dan langkahnya serasa melayang. Tapi sebisa mungkin ia menapaki lantai keluar dari kamarnya, tujuannya sekarang adalah lantai satu. Dan menyuruh Kyuhyun mencari ponselnya.

Ki Bum berjalan perlahan menuruni anak tangga sambil berpegangan cukup kuat.

"Ya! Kim Ki Bum! Kau mau kemana?"

Pemuda itu mengangkat kepalanya, dapat ia lihat Kyuhyun yang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya sambil membawa nampan berisikan beberapa mangkuk yang penuh dengan makanan.

"tetap disini! Aku segera kembali!" seru Kyuhyun sambil melanjutkan langkahnya kelantai dua.

Tak lama ia sudah kembali dengan kedua tangannya yang sudah terbebas, diraihnya sebelah tangan Ki Bum dan membantunya kembali menaiki tangga. "kau mau kemana dengan keadaan seperti itu? Kau tahu kau terlihat seperti kakek-kakek tua!"

Sekilas Ki Bum tersenyum, "aku mencarimu," aku Ki Bum,

Kyuhyun mendengus sebal, "kau hanya tinggal memanggilku! Lagipula aku takkan pergi kemana-mana," jelas Kyuhyun.

"Cha! Duduklah!" perintah Kyuhyun setelah sampai di kamar, namun tak urung ia juga membantu hyungnya itu mencapai tempat tidur hingga ia mendapatkan posisi nyaman.

Kyuhyun membawa sebuah meja kecil keatas tempat tidur Ki Bum dan menata beberapa makanan yang tadi di bawanya. "makanlah sarapanmu, ah. Sekarang sudah hampir jam makan siang. Aku lupa,"

"jam makan siang?" Tanya Ki Bum seolah tak percaya.

Kyuhyun mengangguk mantap. "sekarang sudah jam sebelas, Kim Ki Bum kau hebat bisa tidur selama itu!" puji Kyuhyun di sertai dengan cibiran.

"kalau sekarang jam sebelas, lalu…. Kenapa kau ada disini?"

"kau masih bertanya kenapa aku disini? Ck. Kalau aku tak ada memangnya siapa yang akan mengurusmu? Ahra noona sedang sibuk jadi tidak bisa menjagamu hari ini,"

"maaf karena aku kau harus absen," tutur Ki Bum sambil menunduk dalam.

Kyuhyun menatap Ki Bum. Dasar, kenapa ia harus minta maaf? Padahal bagi Kyuhyun ini adalah kewajibannya sebagai saudara, lagipula Ki Bum juga sering absen sekolah jika Kyuhyun sedang sakit.

"suruh siapa minum sebanyak itu? Kau lupa? Di keluarga kita tak ada yang kuat minum selain Ahra noona dan eomma!" seru Kyuhyun cukup keras.

Namun dalam kalimatnya terkandung sebuah perhatian yang amat dalam, sebuah perhatian yang Kyuhyun samarkan dengan sipat kerasnya. Meski begitu, Ki Bum tahu Kyuhyun tak benar-benar memarahinya.

Ki Bum melahap makanannya dalam diam, sampai akhirnya ia mengingat sesuatu. "Hyun!"

"apa?"

"bisa kau ambilkan ponselku?"

Kyuhyun beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ransel Ki Bum yang tergantung dekat meja belajar, dengan mudah ia sudah menemukan ponsel Ki Bum. Kyuhyun tahu benar dimana Ki Bum selalu menyimpan ponselnya itu.

Kyuhyun memberikan ponselnya pada Ki Bum, Ki Bum menerimanya dan segera menekan speed dial nomor satu di ponselnya.

"sama-sama!" seru Kyuhyun membuat Ki Bum mendongakkan kepalanya.

"terimakasih," jawab Ki Bum setelah menyadari kesalahannya karena tak mengucapkan kalimat tersebut pada Kyuhyun.

Ki Bum mencoba menghubungi Ahra tetapi tak bisa, panggilannya selalu dialihkan pada kotak suara. Astaga noona, jangan mambuatku khawatir.

Ditatapnya setiap yang Ki Bum lakukan, "kau mencoba menghubungi noona?" tabak Kyuhyun.

Yang ditanya mengangguk singkat sebagai jawaban, kembali ia menekan nomor satu. Namun tetap tak ada jawaban.

"ponsel noona tidak aktif, aku sudah mencoba menghubunginya sejak ia berangkat tadi pagi," jelas Kyuhyun.

Akhirnya Ki Bum menyerah, ia meletakkan ponselnya dengan lemas.

Ahra pulang setelah lewat jam makan malam, sebelumnya ia menghubungi Kyuhyun agar memesan makanan saja. Karena ia tak bisa pulang cepat.

Ia pergi ke kampus tadi pagi dan menemui Leeteuk saat jam makan siang.

'Leeteuk-ssi, apa yang aku takutkan terjadi…. Karena itu, aku harap kau bisa mengerti atas pilihanku ini,'

'kita masih bisa mencobanya, kita sama-sama jelaskan,'

'maafkan aku, aku tak ingin melukai siapapun, jika semakin lama bukan hanya Ki Bum yang tersakiti, tapi kau juga. Dan aku tak mau itu terjadi….'

'Ahra….'

'mianhaeyo Leeteuk-ssi….'

Percakapan mereka tadi siang masih terngiang di telinga gadis itu, meskipun ia menyibukkan dirinya dengan setumpuk pekerjaan di kantor, ia tetap tak bisa melupakan apa yang ia katakan siang tadi.

Kalimat itu serasa mengiris hatinya, namun apa yang ia dengar di malam sebelumnya dari mulut Ki Bum, baginya terasa jauh menyakitkan.

Ki Bum-nya yang selalu tampil sebagai seseorang yang sangat dewasa ternyata memiliki sebuah pemikiran yang tak pernah sekalipun terlintas di benak Ahra kalau pemuda itu akan memikirkannya.

Kim Ki, dia takut kasih sayang Ahra berkurang padanya dan juga Kyuhyun. Ahra tak bisa menyalahkan Ki Bum karena pemikirannya yang sesungguhnya terdengar kekanakan, ia juga tak bisa menyangkal itu karena sejak awal ia telah menduga akan terjadi hal seperti ini.

Tapi bukan Ki Bum, melainkan Kyuhyun. Namun ternyata penilaiannya meleset.

Dalam masalah ini, justru Kyuhyun berpikir jauh lebih rasional dan dewasa. Sedangkan Ki Bum….

Inilah sifat yang selama ini selalu Ki Bum sembunyikan darinya, sifatnya yang sesungguhnya.

Ahra memasuki rumah, ia menemukan Kyuhyun yang tengah menonton televise sendirian di sofa. "Kim Kyu," panggil Ahra pelan.

Kyuhyun berpaling, senyumnya merekah setelah tahu siapa yang baru saja memanggil namanya. "noona!" seru Kyuhyun seceria munkin.

Senyuman Ahra berkembang tak kalah cerah, akan tetapi bisa Kyuhyun lihat mata sang noona yang terlihat sedikit membengkak. Ia habis menangis simpul Kyuhyun.

"Bgaimana keadaan Kim Ki?"

"sepertinya lebih baik, walaupun saat bangun ia terlihat sulit untuk melangkah sekalipun, tapi ia baik-baik saja,"

Ahra menghembuskan napas lega, tak ada yang lebih membahagiakan baginya selain mendengar kalau adiknya baik-baik saja. "kalian sudah makan malam?"

Kyuhyun mengangguk sebgai jawaban.

"arraseo, ini sudah malam, cepatlah tidur. Noona juga mau istirahat," tuturnya seraya mengusak rambut Kyuhyun dan berlalu menuju kamarnya.

Kyuhyun menatap punggung Ahra yang semakin menjauh, seberapa keraspun Ahra mencoba untuk selalu ceria. Kyuhyun tahu perasaan Ahra tak seperti itu, noona-nya pasti tengah kesakitan.

'pikirkan bagaimana perasaan noona, percayalah padanya. Yakinkan dirimu kalau ia tak akan membuatmu kecewa, sampai kapanpun, kau tahu kasih sayang noona takkan berkurang pada kita. Rasa sayang bukan seperti coklat yang kau bagi dan hanya akan tersisa sedikit atau bahkan habis, rasa sayang tidak seperti itu, rasa sayang takkan habis meski kau membaginya pada semua orang di seluruh dunia…. '

Ki Bum berguling diatas tempat tidurnya, ke kanan dan ke kiri. Ia terus melakukan itu berulang-ulang. Kyuhyun yang sejak tadi belum tertidur terus memandang Ki Bum yang tertidur dengan gusar.

"Bum-ah…."

"Ne,"

"kau mau meminta maaf pada noona?" lagi-lagi Kyuhyun menebak, namun tampaknya tebakannya kembali benar. "kau mau aku membantumu?"

Ki Bum berguling kearah Kyuhyun berbaring, "kau bisa membantuku?"

Tampak senyuman terpatri di bibir pucat Kyuhyun, ia bangun dari tidurnya. "memangnya apa yang tidak bisa Kim Kyuhyun lakukan?" ujarnya di iringi dengan seringaiannya yang amat terkenal.

Ki Bum membuka pintu kamar utama yang tak tertutup rapat, Kyuhyun memberi tahunya kalau malam ini Ahra tidur di kamar orang tua mereka. "Noona," panggil Ki Bum lirih.

Ahra terperanjat mendengar suara berat Ki Bum, ia bangun dari posisinya dan mengusap wajahnya yang sejak tadi basah oleh air mata dengan kasar.

"eoh, Kim Ki," jawab Ahra setenang mungkin, menyembunyikan air matanya.

Ki Bum melangkah semakin dekat, bisa ia lihat mata Ahra yang sembab dan juga wajahnya yang tampak lembab.

Ditariknya kursi yang berada tak jauh dari tempat tidur, Ki Bum mendudukkan dirinya disana hingga posisinya dan juga Ahra noona menjadi berhadapan.

Ditatapnya bola mata Ahra yang kecoklatan, tampak berkilau dan berkaca. Perlahan tangan Ki Bum tarangkat, di usapnya wajah sang noona yang basah oleh air mata.

Ki Bum sadar, tindakannya sangat kekanakan. Bagaimana mungkin ia bisa bersikap egois dengan mencoba menyelamatkan perasaannya namun diwaktu bersamaan ia justru menghancurkan perasaan noona yang sangat di sayanginya.

"Noona mianhae," lirih Ki Bum sambil terus mengusap wajah Ahra.

Gadis itu tak kunjung berucap, ia tersenyum lalu mencoba membuka suaranya. "kenapa kau minta maaf, kau tak bersalah Kim Ki,"

Terdengar amat jelas getaran dalam suara Ahra, Ki Bum tahu Ahra sekuat mungkin menahan air matanya agar tak jatuh di hadapannya. Dan itu justru membuatnya merasa semakin sakit.

Kini tangan Ki Bum turun kepunggung Ahra, ia merengkuh punggung kecil itu dan menariknya kedalam pelukkannya. "noona mianhae, maafkan aku karena tidak bisa mengerti dirimu, tapi mulai hari ini aku akan belajar memahami semuanya, aku berjanji…."

Mendengar penuturan Ki Bum, air mata yang sejak tadi Ahra tahan akhirnya jatuh begitu saja. Ia membalas pelukkan Ki Bum, dan menangis dalam rengkuhan hangat adiknya.

Beberapa menit mereka berpelukan seperti itu hingga pintu kamar terbuka cukup lebar, seseorang menyembulkan kepalanya dari arah luar. "bisakah kalian mem-pause adegan ini sebentar? Ada seseorang yang menunggu sejak tadi," gerutu orang itu yang ternyata Kyuhyun.

Ki Bum melepaskan pelukannya, ia tersenyum lembut lalu membantu Ahra bediri.

"siapa yang menunggu?" Tanya Ahra kebingungan.

Tak ada jawaban dari Ki Bum, ia hanya menarik lengan Ahra dengan senyuman yang tak luntur ia berikan.

Kyuhyun menyambut Ki Bum dan Ahra di ruang tengah rumah mereka, ada seseorang di belakang Kyuhyun. Tapi siapa?

Seseorang dengan rambut kecoklatan….

Rambut kecoklatan? Bukankah….

Lelaki yang berdiri di belakang Kyuhyun akhirnya membalik tubuhnya menghadap Ahra, Kyuhyun bergeser membuat pandangan lelaki tersebut tak terhalang olehnya.

"Leeteuk-ssi," seru Ahra tak percaya. Benarkah apa yang dilihatnya? Dia Leeteuk?

Leeteuk tersenyum, ia melangkah mendekat.

Sementara itu Ki Bum dan Kyuhyun berjalan menjauhi mereka berdua, mereka melihat Ahra dan Leeteuk dari jarak beberapa meter di belakang Ahra.

"Leeteuk-ssi, bagaimana-"

"Kyuhyun yang menghubungiku, ia bilang aku harus datang kemari," jelas Leeteuk dengan senyuman yang terpatri manis di bibirnya.

"Kyuhyun?"

Leeteuk mengangguk, "dan juga Ki Bum," balas Leeteuk.

Ki Bum? Benarkah yang ia dengar?

"Ahra-ya…."

"kenapa kau memanggilku seperti itu?"

"karena aku lebih tua,"

"tapi bukan berarti aku harus memanggilmu oppa kan?"

Leeteuk menggedikkan bahunya, "oppa terdengar bagus, tapi mendapat undangan dari kedua adikmu untuk datang kerumah…. Itu benar-benar istimewa"

Senyuman Ahra berkembang mendengar kalimat Leeteuk, "apa yang mereka lakukan memang selalu istimewa, karena adikku istimewa. Dan kau juga istimewa, oppa…."

Leeteuk melangkah semakin dekat, senyumannya semakin lebar mendengar Ahra memanggilnya oppa. Itu sungguh terdengar manis di telinganya, sangat manis.

"Saranghaeyo Kim Ahra," gumam Leeteuk seraya merengkuh Ahra lembut dalam pelukkannya.

"nado oppa…"

Beberapa meter di belakang Ahra, Ki Bum dan Kyuhyun memandang semua yang noona nya lakukan. Dan bisa mereka lihat Leeteuk mengangkat ibu jarinya di belakang punggung Ahra sambil tersenyum bahagia.

Itu adalah kode yang sejak tadi Ki Bum dan Kyuhyun tunggu, rencana mereka berhasil. Dan semua yang terjadi hari itu di tutup dengan High five si kembar Kim.

'…. Rasa sayang bukan seperti coklat yang kau bagi dan hanya akan tersisa sedikit atau bahkan habis, rasa sayang tidak seperti itu, rasa sayang takkan habis meski kau membaginya pada semua orang di seluruh dunia …. '

Kalimat terbaik yang pernah Ki Bum dengar dari Kyuhyun, sebuah kalimat perumpamaan yang manis. Sebuah kalimat yang membuatnya sadar kalau apa yang ia pikirkan adalah salah, Kim Kyuhyun yang mulai bijaksana.

"Terimakasih Hyun…."

TBC