Decit pintu terdengar pelan melingkupi ruangan dengan pencahayaan yang minim, kini suara langkah juga ikut mewarnai suasana sunyi itu. Ia, seseorang dengan perawakan yang tak terlalu tinggi namun memiliki postur yang tegap. Kakinya melangkah mendekat pada sebuah pembaringan dengan seseorang yang masih bergelung dengan selimut tebalnya.
'terimakasih….' Batinnya bergumam seraya tersenyum hangat.
Menit berlalu, ia masih betah berdiri disana memandang seorang pria yang nampak tak bergerak sedikitpun dibawah gelungan selimutnya. 'kau tidur atau mati?' monolognya dalam hati seraya terkikik geli.
"Hyun, ireona…." Gumamnya dengan tangan yang mengguncang tubuh terbaring itu pelan.
Tujuan awalnya memang untuk membangunkan dia, adik semata wayangnya. Tetapi rasanya sayang jika harus melewatkan momen dimana ia bisa memandang Hyun-nya sampai puas dan mengatakan apapun yang ingin ia katakan.
Kembali di guncangnya tubuh berbalut selimut hingga menutupi lehernya itu, "bangunlah, kita bisa terlambat ke sekolah!" ujarnya sambil menarik selimut sewarna langit yang membungkus tubuh adiknya.
"Hyun! Ireona!" masih bergeming dalam tidurnya, kembali ia goncang dan tarik selimut itu sedikit lebih kuat.
Yang dibangunkah belum juga membuka matanya. Ki Bum, pria yang sejak tadi membangunkan 'Hyun' mulai mendengus kesal. "Kyuhyun, Bangun!" teriaknya sedikit keras.
Kali ini, Hyun- oh tidak, maksudku Kyuhyun-hanya Ki Bum yang boleh memanggil Hyun, itu mutlak- memberi sedikit respon, walaupun hanya gumaman tak jelas.
"Kim Kyuhyun! Bangun!"
Teriakan Ki Bum terdengar nyaring memenuhi ruangan itu, kesabarannya mulai menipis. Ia tahu Kyuhyun memang sulit dibangunkan tapi biasanya tidak sesulit ini.
Lihatlah, bahkan sekarang Kyuhyun tetap diam dan tak kunjung membuka matanya walaupun tadi ki Bum bisa mendengar gumaman kecil lolos dari bibir Kyuhyun.
"Ya! Kim Kyuhyun!" sekali lagi Ki Bum berteriak, tapi hasilnya?
Tetap sama, Kyuhyun masih tetap memejamkan matanya.
"Kim Ki! Ada apa?!"
Itu teriakan Ahra. Astaga, sepertinya suara Ki Bum memang terlalu keras. Bahkan Ahra yang ada di lantai satupun bisa mendengarnya.
"tidak ada apa-apa, noona!" seru Ki Bum menenangkan.
Jika Ahra yang ada dilantai satu bisa mendengarnya? Lalu, kenapa Kyuhyun tidak?
Tampak Ki Bum mengernyit, alisnya saling bertaut. Ada yang tidak beres menurutnya.
Kembali Ki Bum guncang tubuh Kyuhyun, kali ini ia tak berteriak, bahkan sentuhannya di tubuh Kyuhyun terkesan hati-hati.
Tangannya perlahan menyingkap selimut yang membelit tubuh Kyuhyun, tangannya yang lain terulur menyentuh dahi sang adik. 'tidak demam,' ucapnya dalam hati.
"Kim Kyuhyun…." Diusapnya kepala Kyuhyun pelan, menyentuh dahi dan rambut Kyuhyun yang- sedikit basah? Apakah Kyuhyun berkeringat?
Aneh, padahal semalam udara cukup dingin, tapi kenapa Kyuhyun berkeringat?
Ki Bum mendekatkan bibirnya pada telinga Kyuhyun, berbisik halus mencoba kembali membangunkan Kyuhyun yang Ki Bum yakin tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Kyuhyun mengerjap, Ki Bum menjauhkan wajahnya dan menatap pria itu dalam.
"Kim Kyuhyun…."
Bola mata kecoklatannya kini terbuka, menatap Ki Bum yang tepat ada dihadapannya. Beberapa kali ia mengerjap tanpa bersua, "Bum-ah…." Lirih Kyuhyun pelan.
"Hn?" gumam Ki Bum.
Entahlah mulut Ki Bum rasanya seperti terkunci, sesungguhnya. Hal ini mengingatkan Ki Bum pada kejadian tiga tahun lalu.
Tiga tahun lalu…. Ketika Kyuhyun memanggilnya dengan cara yang sama, ketika Kyuhyun terbangun setelah tidur dalam waktu yang cukup lama. Tiga hari, baginya bagaikan menunggu selama tiga tahun untuk melihat bola mata adiknya kembali bersinar.
"ada apa?" Tanya Ki Bum perhatian,
Bola mata Kyuhyun bergerak gelisah, haruskah ia mengatakannya? Haruskah ia mengatakannya pada Ki Bum?
"aku…." Lirih Kyuhyun pelan, bibirnya bergetar. Dan bisa Ki Bum lihat dari sana, dari ujung bola mata adiknya. Setetes air mata turun perlahan membuat dada Ki Bum tiba-tiba bergemuruh hebat.
"aku…. Eomma dan appa…. Aku mimpi mereka …. Aku bermimpi mereka mengajakku pergi bersama,"
Terkejut, tentu saja Ki Bum terkejut. Pergi bersama? Kemana? Pergi kemana?
Dengan gerakan cepat Ki Bum rengkuh tubuh Kyuhyun, kenapa harus mimpi itu lagi?
Dalam pelukkan Ki Bum, Kyuhyun berujar pelan, "tapi kau memanggilku…. Karena itu…. Karena itu aku kembali,"
Ki Bum mengangguk-anggukkan kepalanya dibahu Kyuhyun sembari mengelus punggung sang adik, "eoh, kau harus kembali…. Memang seharusnya kau kembali Hyun,"
.
.
Mimpi itu mimpi yang sama, Ki Bum ingat benar ketika Kyuhyun menceritakan mimpinya sambil terisak tiga tahun yang lalu.
Ketika dirinya dan Ahra noona menemukan Kyuhyun yang terbaring tak sadarkan diri di kamar utama, di kamar orang tua mereka. Kyuhyun sakit. Itulah yang dokter katakan.
Bukan hanya fisik nya namun psikisnya juga, waktu itu Kyuhyun belum siap untuk kehilangan orang yang amat ia sayangi untuk kedua kalinya. Karena itulah keadaan Kyuhyun turun sangat cepat dan tiba-tiba, bahkan ia tertidur selama tiga hari, dan ketika bangun ia menceritakan mimpinya.
Mimpinya yang sama seperti mimpi yang Kyuhyun ceritakan tadi pagi.
'eomma…. Appa…. Apa kalian sangat ingin membawa Kyuhyun pergi? Lalu bagaimana denganku dan noona?'
"Kim Ki Bum!" Ki Bum terperangah, sontak ia membulatkan matanya dan menatap kearah suara.
"Ya! Aku memanggilmu dari tadi Kim Ki Bum!"
Ki Bum menghela napasnya, astaga. Anak ini, tak bisakah ia tenang barang sebentar saja?
"bisakah kau tak usah berteriak seperti itu, Kim Kyuhyun?"
"bagaimana aku tidak berteriak, berkali-kali aku memanggilmu tapi kau sama sekali tak mendengar!" gerutu Kyuhyun kesal.
"oh, ya?"
Tampak raut Ki Bum tak yakin, sepertinya ia memang terlalu dalam tenggelam dalam lamunannya, bahkan ia sampai tak mendengar suara Kyuhyun yang-mungkin- memanggilnya sejak tadi.
"iya! Lagipula apa yang kau lamunkan, eoh? Bahkan kau hanya mengaduk makananmu sejak tadi," dagu Kyuhyun menunjuk pada makan siang Ki Bum yang masih utuh.
Mata Ki Bum melihat kearah dagu Kyuhyun menunjuk. Ah, iya. Dia sama sekali belum menyentuh makanannya, apa yang ia lamunkan terlalu menyita pikirannya.
"bukan apa-apa," sanggah Ki Bum dan mulai menyendok makan siangnya.
"sungguh? Bukan kejadian semalam kan?"
Ki Bum mendongak, alisnya bertaut, "kejadian semalam?" tanyanya seolah tak mengerti.
Yang ditanya mengangguk, "eoh, kau tidak menyesal karena sudah merestui noona dan Leeteuk hyung bukan?"
Ki Bum melengos, ternyata itu maksud Kyuhyun. Dasar anak ini, memangnya ia pikir Ki Bum orang seperti apa? Mana mungkin ia menarik kata-katanya dan membuat noona nya sedih.
"aku takkan pernah menarik kata-kataku, apalagi aku telah menyadari sesuatu, sesuatu yang sangat penting,"
"apa itu?" terdengar nada bicara Kyuhyun bersemangat, sepertinya ia benar-benar ingin tahu.
Seulas senyuman terpatri kecil di bibir ki Bum, lalu berujar " Rasa sayang bukan seperti coklat yang kau bagi dan hanya akan tersisa sedikit atau bahkan habis, rasa sayang tidak seperti itu, rasa sayang takkan habis meski kau membaginya pada semua orang di seluruh dunia"
Mendengar penuturan Ki Bum, wajah Kyuhyun bersemu merah, ia tersenyum menyadari apa yang Ki Bum katakan adalah kutipan dari kata-katanya kemarin.
Ki Bum mengingat apa yang ia katakan, Ki Bum hyungnya mengingat itu. Bukankah itu berarti Ki Bum selalu memperhatikannya? Bahkan apa yang ia ucapkanpun Ki Bum bisa meningatnya dengan baik.
'Kim Ki Bum, daebak!'
.
.
Lagi, mimpi itu lagi. Pria berperawakan tinggi namun memiliki kulit yang pucat itu beranjak dari tempat tidurnya, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Meski penglihatannya terasa sedikit berputar ia sama sekali tak berpikiran untuk mengurungkan niatnya, mungkin air bisa membuatnya merasa lebih baik.
Ia harus membasuh wajahnya, ia harus menyegarkan diri. Tangannya terulur menampung air di wastafel, membasuh wajahnya yang nampak pucat dan berkeringat.
Mimpi itu, ini ketiga kalinya ia bermimpi yang sama. Tiga tahun lalu, kemarin dan hari ini. Ia bermimpi eomma dan appa hendak membawanya pergi, entah apa artinya, ia pun tak tahu. Hanya saja yang pasti, setiap kali ia bermimpi maka suara Ki Bum akan terdengar dalam mimpinya, suara Ki Bum yang menyuruhnya untuk tak pergi.
Kini tubuh itu melangkah menuju sebuah ruangan dengan daun pintunya yang berwarna putih, ia masuk tanpa mengetuk pintu, mendekat pada ranjang dan mendudukkan dirinya disana.
Ia hanya diam sembari menatap lurus, menatap ia yang selalu menjaganya bersama Ki Bum, ia yang kini menjadi ayah dan ibu baginya dan sang hyung.
Sepersekian detik, wajahnya menampakan ringisan. Kepalanya menunduk dan hampir terantuk pada tubuh seseorang yang tertidur itu. Namun sesegera mungkin tangannya bertumpu pada tempat tidur, menahan tubuhnya yang tiba-tiba limbung.
'noona, aku takut….'
Air matanya meleleh begitu saja, sungguh ia takut, ia takut sesuatu yang tak mereka inginkan terjadi.
Sebenarnya ingin ia mengatakan ketakutannya, ia ingin menceritakan semuanya pada noona dan hyungnya. Tapi….
Untuk kali ini tidak, ia tak ingin membuat mereka khawatir.
.
.
Hembusan angin musim gugur terasa menusuk, dedaunan kering dari pohon yang berderet sepanjang jalan, satu persatu mulai melepaskan dirinya dari ranting. Berguguran menghujani setiap pejalan kaki yang melalui jalan itu.
"magnae Kim, sekarang sudah masuk musim gugur…."
'Magnae Kim?' sejak kapan orang itu memanggilnya magnae? Panggilan baru, eoh?
"Magnae Kim? Itu terdengar aneh, aku tidak suka!" protesnya dengan bibir mengerucut.
Ia berbalik setelah mendengar protes itu, diliriknya sang adik yang berdiri sambil melipat tangannya di dada. Oh, dan jangan lupakan bibirnya yang mirip bebek itu.
Sang kakak tersenyum kecil, ia Ki Bum. Dan kini ia kembali membalikkan tubuhnya, melanjutkan langkahnya menuju rumah.
"Baiklah, Hyun,"
Hyun, maksudku Kyuhyun. Ia tersenyum mendengar Ki Bum memanggilnya 'Hyun'. 'Hyun' nama yang paling Kyuhyun suka jika Ki Bum yang memanggilnya.
Ketika mereka saling memanggil dengan nama 'Hyun' dan 'Bum' itu berarti mereka tengah akur, tetapi jika mereka saling memanggil nama lengkap mereka masing-masing, sudah bisa di pastikan mereka dalam situasi menegangkan.
Kyuhyun mengekori langkah Ki Bum, tadi Ki Bum bilang sekarang sudah masuk musim gugur. Musim gugur…. musim dimana untuk pertama kalinya mereka melihat dunia, dan akhir pecan minggu ini adalah hari itu, hari kelahiran mereka.
Setiap tahun mereka selalu menghabiskan waktu bersama setiap tanggal itu tiba, ia, Ki Bum dan noona. Hanya mereka bertiga, mengunjungi tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi, makan apapun yang ingin mereka makan dan melakukan apapun yang ingin mereka lakukan.
Tahun lalu, mereka pergi ke Busan. Kenapa mereka pergi kesana? Hanya untuk melepaskan hasrat makan seafood si kembar yang entah mengapa selalu memiliki keinginan yang sama.
Dan tahun ini….
Tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya mereka akan merencanakan semuanya sejak jauh-jauh hari, tapi untuk tahun ini berbeda. Kyuhyun, tahun ini ia merasa takut, entah kenapa iapun tak tahu.
Rasanya ia takut tak bisa melewati pertambahan usianya tahun ini.
Ia takut….
'tes,'
Langkah pemuda itu kembali terhenti, diamatinya ujung sepatu cats putihnya yang nampak memerah, perlahan jemarinya terangkat menuju wajah. Meraba hidungnya dan….
Ia, Kim Kyuhyun. Terpaku di tempatnya, benarkah apa yang ada ditangannya ini? Bukan, kah, ini…. Darah?
Bersamaan dengan tetesan cairan berwarna merah itu, perlahan pandangannya mulai meredup, ia mendongak, menatap Ki Bum yang masih melangkah mendahuluinya, ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, pada Kyuhyun.
Tampak dari pandangannya, tubuh sang hyung membayang dan bergoyang-goyang, fokusnya kini tak tentu. Eomma…. Appa…. Tolong aku….
"Bum…." Lirih pemuda itu, entah mengapa, tenaganya tiba-tiba terasa menghilang dan bahkan untuk berbicara saja terasa sulit baginya.
"Bum-ah…." Panggilnya sekali lagi.
Ki Bum tak menanggapi apapun, ia tak mendengar, ia tak tahu apa yang terjadi di belakangnya. Kakinya masih terus melangkah meninggalkan Kyuhyun yang kini tertinggal beberapa meter di belakangnya.
"Bum…." Bersamaan dengan itu, suara benda jatuh sampai pada pendengaran Ki Bum.
Beberapa teriakan juga terdengar dan membuat langkah pemuda berkaca mata itu terhenti seketika.
Jantungnya mendadak berdegup sangat keras, suara apa itu? Mungkinkah…. Tidak, Ki Bum harap dugaannya salah, ia harap perasaannya yang peka ini salah. Ia berharap seperti itu.
Perlahan ia membalik tubuhnya, melihat apa yang sebenarnya terjadi di belakangnya. Membuktikan bahwa dugaannya salah.
Ki Bum, ia mematung dengan sepasang mata kecoklatannya yang membola. Kakinya melemas setelah mengamati seseorang yang kini terbaring di jalur pejalan kaki yang tadi ia lewati, dia…. Kyuhyun…. Kim Kyuhyun….
"KIM KYUHYUN!"
.
.
Gadis dengan surai hitamnya yang tergerai hingga punggung itu terduduk di depan sebuah pintu, dilantai dingin, di lorong sepi sebuah bangunan yang terkenal dengan aroma khasnya yang banyak orang tak suka.
Tangan kanannya meremas sebuah map berwarna coklat hingga tampak kusut tak beraturan, wajahnya yang biasanya ceria, kini tampak sendu dengan jejak air mata yang mulai mengering di kedua belah pipinya.
"eotteokhae…." Lirihnya pelan,
Tak ada penekanan dalam ucapannya, tenaganya terasa terkuras sesaat setelah ia keluar dari ruangan menyesakkan. Ya, dadanya terasa di himpit batu besar hingga membuatnya sesak, sangat sesak setelah mendengar penjelasan seseorang di dalam sana.
"eomma…. Appa…. Eotteokhae…."
Jemari gadis itu kini berada di depan dadanya, meremas kemeja putih berbalut cardigan sewarna tulang yang membalut tubuhnya. Air matanya kembali meluncur, membasahi jejak yang tadi mulai mengering.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia katakan pada Ki Bum? Pada Kyuhyun?
Tuhan…. Gadis itu tetap dalam posisinya, terpekur dan meratapi semua yang terjadi.
Untuk kali ini, biarkan ia seperti ini, biarkan ia menampakkan sosok rapuhnya. Hanya ketika ia sendiri…. Hanya ketika….
"noona…"
Gadis itu mendongak, menatap siapa yang baru saja menggumamkan namanya, ia terpaku menatapnya, menatap Kim Ki Bum yang berdiri dengan sorot mata menuntut penjelasan.
Tentu remaja itu menuntut penjelasan, penjelasan mengapa noona-nya terpekur didepan ruangan ini, di depan ruangan dokter yang beberapa jam lalu memeriksa adiknya.
"Noona…" kembali pria berkaca mata itu bergumam lalu mendekat pada Ahra yang tampak tak memiliki tenaga, bahkan untuk berdiri sekalipun.
Ki Bum berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang noona, ditatapnya sebuah map ditangan Ahra, ia hendak mengambilnya sebelum Ahra menepis tangannya lembut, "Andwaeyo, Kim Ki-ya…" ujar gadis itu lemah.
Kembali Ki Bum menatap Ahra, "kenapa aku tak boleh melihatnya?"
Tak ada jawaban yang gadis berusia dua puluh satu tahun itu berikan, ia hanya menggeleng seraya meremas map yang ada di tangannya semakin kuat.
"kemarilah," lirih gadis itu setelah beberapa saat. Di tariknya bahu Ki Bum mendekat, ia memeluk Ki Bum erat dan mengelus punggung pemuda itu lembut.
Mendapat perlakuan seperti ini, tentu Ki Bum semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pemikiran negative satu persatu mulai bermunculan di benaknya, seolah membisikan segala kemungkinan buruk yang mungkin sebentar lagi harus ia dengar.
"Kim Ki-ya… kau yakin, kan, kita akan selalu bersama?"
"eoh,"
"kau yakin, kan, semuanya akan baik-baik saja?"
"eo- eoh," kini Ki Bum ragu dengan jawabannya, benarkah semuanya akan baik-baik saja? Dengan noona nya yang terpekur di lantai dan tampak kebingungan, dan juga… Kyuhyun yang kini terbaring lemah di tempat tidur?
Ia ragu, sesungguhnya ia ragu….
'maaf… maafkan aku karena kini aku merasa ragu, noona…'
"Kim Ki, dengarkan aku baik-baik! Mungkin sekarang…." Kalimat Ahra menggantung, penjelasan seperti apa yang harus ia katakan? Bisakah Ki Bum menerimanya?
Tidak bisa, gadis itu tak bisa melanjutkan kata-katanya, sesungguhnya ini terlalu berat untuknya, ini terlalu berat.
Perlahan Ki Bum melepaskan pelukan Ahra, diamatinya wajah sang noona yang kini mulai memerah karena tangisannya. Ahra noona nya yang kuat kini menangis.
"noona, ada apa? Katakan pada ku," pintanya seraya menangkup wajah Ahra. Dingin, wajah noonanya terasa dingin dan lembab.
Tak ada jawaban, namun bisa Ki Bum dengar isakan sang noona yang kini semakin keras dan terasa menyayat baginya. Ada apa sebenarnya?
"noona, lihat aku! Kau percaya padaku? Katakan, katakan sebenarnya-"
"Brain cancer" potong Ahra cepat dan lalu menundukkan wajahnya dalam, air matanya kini jatuh semakin deras di selingi isakannya yang tak dapat lagi ia tahan.
Brain cancer…
Brain cancer…
Ki Bum mencoba mengingat apa yang noona nya katakan beberapa detik yang lalu, ia yakin ia tak salah dengar, tapi benarkah…
Tubuh itu tersungkur tiba-tiba, ia yakin ia salah dengar! Ia ingnin meyakini itu…
"noona, jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu, kau bilang brain cancer?"
Masih dalam posisi menunduk, meski berat Ahra menganggukan kepalanya, perwakilan dari apa yang Ki Bum tanyakan. Sungguh, ia tak pernah ingin mendengar suara Ki Bum yang bertanya dengan lirih di iringi senyuman miris seperti itu, ia tak penah menginginkannya.
Sejenak pria itu menunduk, dab lalu mengangkat kepalanya, menatap sang noona yang masih setia dengan isakannya.
'aku anak lelaki tertua dikeluargaku,'
Pemikiran itu merasuk kedalam benaknya, memberinya dorongan tak terlihat namun terasa begitu kuat. Dengan kekuatan itu ia merengkuh Ahra, noona yang harus dilindunginya, karena ia anak lelaki paling tua, maka ia harus kuat, akan tetapi…
Manik kecoklatan di balik kaca mata berbingkai hitam perlahan tampak mulai berair, apa yang ia dengar barusan sesungguhnya ini seperti mimpi buruk baginya, ia ingin bangun sekarang juga! Ia tak ingin melanjutkan mimpi menyebalkan ini!
Tapi semuanya benar, ini nyata, dan ini bukan mimipi, kini saatnya mereka melewati fase terburuk setelah kehilangan beberapa tahun yang lalu. Mereka harus bisa melewatinya.
.
Ki Bum membantu Ahra berdiri, mereka beranjak pergi menyusuri lorong sunyi itu, langkah mereka tampak terseok berlalu hingga menuju sebuah tikungan, namun tiba-tiba langkah mereka terhenti, tubuh keduanya membeku di tempat, tidak! Kenapa ia ada disini? Ia mendengarnya?
"Hyun!"
"Kim Kyu!"
Seru mereka bersamaan, dihadapan mereka, kini berdiri seseorang dengan seragam pasien dan juga tiang infus yang di pegangnya dengan kuat.
Ia menunduk dengan tubuh bergetar, buku jarinya kian lama kian memutih karena genggamannya pada tiang infus yang semakin lama semakin kuat. Sebenarnya ingin ia pergi dari sana, namun nyatanya ia tak bisa. Sepasang kakinya tiba-tiba kaku dan tak bisa di gerakkan.
Sulit, jangankan untuk melangkah, untuk mengangkat wajahnya saja ia tak bisa. Ia tak berani, ia tak berani menatap wajah mereka berdua, orang yang selama ini selalu menyayanginya tanpa celah.
Dan sekarang mereka dalam posisi yang sama sekali tak pernah sekalipun terbayangkan, posisi dimana perpisahan seakan menghantui kapan saja.
Perpisahan…
Kata paling menakutkan bagi mereka, luka ketika harus berpisah dengan sang ayah dan ibu dalam waktu yang relative berdekatan dan terjadi begitu cepat, seolah menjadi trauma yang sulit mereka sembuhkan.
Perlahan, ia mengangkat kepalanya, menatap lurus kedua wajah sayu dengan jejak air mata di kedua belah pipi mereka.
Tentu, jika mereka menjadi selemah ini, maka ialah yang harus menjadi kuat. Mungkin tak mudah, tapi ia harus berusaha.
Dengan keyakinan itu, bibir pucatnya mulai mengukirkan sebuah senyuman, menatap mereka berdua dengan tatapan hangat, "kenapa kalian menangis?" tanyanya sembari tak lepas memberikan senyum.
"aku… baik-baik saja,"
Baik-baik saja…
Baik-baik saja…
Ia bilang baik-baik saja…
Aku juga baik-baik saja…
Aku juga baik-baik saja…
Semuanya akan baik-baik saja… harap mereka bersamaan.
.
.
Sepasang manik kecoklatan itu mengamati pemandangan di hadapannya, pemandangan? Oh, sebenarnya itu bukan sesuatu seperti hamparan padang rumput atau riakan ombak. Ia hanya sedang mengamati seseorang.
Ia dengan manik kecoklatan yang sama dengannya, bentuk hidung yang juga sama, alis hitam tebal yang lagi-lagi juga sama. Hanya saja bedanya dia punya wajah lebih kecil di banding dirinya, tinggi badan yang lebih pendek darinya, dan juga warna kulit yang lebih hitam darinya. Dua bagian terakhir adalah sesuatu yang selalu pria itu banggakan.
"aku tahu aku tampan," jemarinya tak berhenti mengupas apel yang ada di tangannya, melirik ia yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip. Diangsurkannya sepotong apel yang telah selesai ia kupas dan potong pada mulut orang yang terduduk dengan kakinya yang ia selonjorkan diatas tempat tidur.
"kau percaya diri sekali!" gerutunya namun tak luput ia terima suapan sepotong apel darinya, dari sang hyung, Kim Ki Bum.
Tak ada sahutan dari Ki Bum, ia hanya tersenyum sekilas dan kembali mengupas apel yang sebenarnya sudah tak perlu lagi ia lakukan.
Entah ia sadar atau tidak, piring buah yang ada di pangkuannya sudah terisi penuh. Seolah ia melakukannya diluar kendali, menyuapi Kyuhyun, adiknya, hanya ketika ia mulai bicara, hanya itu. Dan setelahnya ia kembali diam lalu melanjutkan mengupas apel-lagi-.
"Bum,"
Ki Bum menoleh, "ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Kyuhyun pelan.
'tentu saja bodoh! Kau mengganggu pikiranku! Kau membuatku lumpuh! Kau membuat pikiranku lumpuh! Kau membuatku khawatir…'
Sesaat ia terdiam, namun akhirnya menggeleng pelan dan mengalihkan pandangannya pada apel yang baru setengahnya ia kupas.
"lalu kenapa kau diam saja?"
"hanya ingin,"gumam Ki Bum pelan,
Kyuhyun mendengus, jawaban macam apa itu? Kenapa Ki Bum jadi mengabaikannya seperti ini? Padahal kemarin ia melihatnya menangis bersama noona, tapi hari ini ia seperti tak peduli padanya.
"aku sakit," adu Kyuhyun dengan nada manja, bibirnya mengerucut seperti anak kecil, sedangkan jari telunjuknya yang sebelah kanan menusuk-nusuk lengan Ki Bum yang tengah memotong apel, mencoba mengalihkan perhatian Ki Bum yang sejak tadi hanya focus pada buah berwarna merah tersebut.
Akhirnya Ki Bum balik menatap Kyuhyun, melihat tingkah adiknya yang tampak seperti anak usia tujuh tahun, "aku tahu, memangnya kenapa?" Tanya Ki Bum tanpa tersenyum.
"kau menyebalkan!"
"kau juga sama,"
"kau lebih menyebalkan!"
"kau juga sama,"
"kau menjengkelkan!"
"kau juga sama,"
Pertengkaran Ki Bum dan Kyuhyun masih berlanjut, Kyuhyun yang terus mengumpat, dan Ki Bum yang terus membalasnya dengan jawaban singkat namun tak kalah tajam. Mereka berdua memang mempunyai kemampuan bicara yang luar biasa.
"dasar pendek!"
"kau juga tak terlalu tinggi,"
"aku membencimu Kim Ki Bum!"
"… aku… menyayangimu, Kim Kyuhyun…"
Pria pucat itu terperangah, pandangannya yang tadi menatap kearah lain mulai berpaling kembali pada sang hyung, menatap ia yang tengah tertunduk dengan tangannya yang bergetar, meremas apel dan pisau yang masih berada ditangannya.
"Bum-ah…" lirih Kyuhyun pelan seraya menarik tubuhnya hingga mnedekat pada Ki Bum.
Tangannya yang bebas meraih tangan Ki Bum, melepas genggaman jemari itu pada apel dan juga pisau lalu menaruhnya diatas piring yang entah sejak kapan ttelah berpindah keatas nakas di samping tempat tidurnya.
"Bum-ah…"
Diamatinya Ki Bum yang masih betah menunduk, bahunya makin lama bergetar semakin hebat, "Bum-ah…"
Tes…
Jatuh, air mata bening milik pemuda itu jatuh begitu saja. Kejadian yang tak luput dari perhatian Kyuhyun, kejadian yang membuatnya merasa nyeri tiba-tiba dibagian dadanya. Ki Bum hyung-nya menangis…
"Bum-ah, ada apa?"
Pertanyaan bodoh. Haruskah ia bertanya demikian? Haruskah ia berpura-pura tak sadar kalau ini karenanya? Atau ia memang benar-benar tak tahu kalau semua ini memang tentangnya? Tentang dirinya?
"Kim Ki Bum,"
"jangan membenciku…"
"apa?"
"jangan membenciku…"
"Ki Bum-ah…"
"maafkan aku…"
Maaf? Kenapa Ki Bum harus minta maaf? Tak ada yang salah dalam hal ini, situasi ini bukan situasi yang salah satu dari mereka buat. Mungkin, kita bisa menyebut semua ini takdir?
Bukankah takdir tak bisa dirubah? Setidaknya itulah kepercayaan Kyuhyun, ia yakin takdir itu ada, namun tak ada satupun orang yang tahu bagaimana takdirnya. Hanya satu yang harus kita lakukan, selalu melakukan yang terbaik dalam segala hal.
"kenapa kau minta maaf, apa salahmu padaku?"
"…"
Apa salahnya, pertanyaan yang Ki Bum sendiri tak yakin apa jawabannya. Hanya saja dia merasa kalau apa yang terjadi pada Kyuhyun, pada keluarganya itu adalah tanggung jawabnya.
"Bum-ah, lihat aku!"
Ki Bum patuh, ia mengangkat wajahnya yang berair. Sebenarnya ini memalukan, menangis dihadapan Kim Kyuhyun? Oh, ayolah. Ini sama sekali bukan gayamu Kim Ki Bum.
"kenapa kau jadi cengeng? Kau menangis hanya karena aku bilang aku membencimu? Hanya karena itu, eoh?" Kyuhyun menggoda Ki Bum sambil memiringkan kepalanya, mencoba menangkap ekspresi sang hyung lebih jelas, ekspresi yang jika di situasi lain bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak, akan tetapi situasi kali ini berbeda.
"Bum-ah, kita hidup bersama selama enam belas tahun, berbagi segalanya, melakukan banyak hal bersama, saling melindungi, saling menjaga," Kyuhyun menjeda kalimatnya, "kita saling percaya bukan? Kau percaya padaku, dan aku mempercayaimu, karena itu, percayalah, apapun yang terjadi nanti kita pasti akan selalu bersama. Percayalah padaku!"
Ditatapnya manik kecoklatan yang memandangnya penuh harap, haruskah aku mempercayaimu Kim Kyuhyun?
Bisakah aku memegang kata-katamu itu?
Bolehkah aku berharap dan mengabaikan semuanya?
Mengabaikan penyakit sialan itu! Aku benci mengatakan ini. Tapi sekarang, dalam situasi seperti ini, rasanya sangat berat untuk mempercayai kata-katamu. Percaya bahwa kita akan selalu bersama?
Entah mengapa, itu terdengar seperti angin lalu bagiku, seperti omong kosong belaka.
Apakah ini yang dinamakan putus asa? Aku harap bukan, aku harus tetap menjadi tumpuanmu dan noona.
Meski berat ki Bum menganggukan kepalanya, melukis sebuah senyuman kecil yang ia persembahkan untuk Hyun-nya.
Cukup percaya padaku, maka aku akan lebih bersemngat, dan aku yakin semuanya kan menjadi lebih baik.
Denganmu Bum-ah, dan juga noona disampingku.
.
.
Kyuhyun berkali-kali menatap kalender, memastikan ia tak salah lihat, benarkah ini? Besok hari ulang tahunnya?
Astaga, kenapa ia bisa melupakan hari penting itu, tapi tunggu dulu. Sepertinya bukan hanya dirinya yang lupa, noona dan Ki Bum juga tak pernah menyinggung ulang tahunnya dan Ki Bum sejak dirinya masuk rumah sakit.
Ah, apakah semua perhatian mereka teralihkan hanya karena ia sakit?
Kyuhyun menghela nafasnya, mungkin akan lebih aneh lagi jika mereka mengingat hari itu disaat seperti ini. Ia sadar masalah yang mereka hadapi bukan masalah kecil, ini tentang dirinya, tentang kelanjutan hidupnya?
Oh, entahlah. Baginya ini seperti mimpi, bagaimana bisa ia mengidap penyakit mematikan itu?
Kyuhyun tahu dirinya memang 'istimewa', tapi ia tak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini.
Mungkin jika ia tahu, ia tak akan pernah nakal seumur hidupnya, ia tak akan pernah menyusahkan noona dan Ki Bum. Tapi bukankah sekarang sudah terlambat untuk menyesal?
Semuanya terlanjur seperti ini sekarang, jadi apa yang harus ia lakukan?
Selalu bahagia? Sulit. Tapi demi Ki Bum dan noona ia akan melakukannya.
Sekali lagi Kyuhyun menatap kalender, mengamati tanggal kelahirannya yang jatuh pada esok hari. Ia harus melakukan sesuatu, mungkin sebuah perayaan kecil untuk dirinya dan Bum hyung-nya yang nampak lebih tertekan dibanding noona beberapa hari terakhir.
Kyuhyun memnadang kearah langit-langit kamar rawatnya seolah tengah memikirkan sesuatu.
Membuat sebuah kenangan manis yang akan selalu Ki Bum ingat. Itu tema perayaan ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun ini. Putus pemuda itu setelah beberapa saat berpikir.
.
.
Sepatu cats putih itu melangkah tergesa melewati lorong panjang dengan cat berwarna putih dan juga garis hijau muda di bagian tengahnya, kembali ia mengingat perkataan noona-nya melalui pesan singkat beberapa saat yang lalu.
"Kim Ki, terjadi masalah di pabrik di Busan, noona harus segera kesana, maaf karena noona harus melewatkan hari ulang tahun kalian hari ini, jaga Kim Kyu. Aku menyangimu,"
Noona pergi ke Busan dan bahkan sampai harus melewatkan hari ulang tahunnya dan juga Kyuhyun, melihat reaksi noona yang memutuskan langsung pergi kesana berarti masalah yang terjadi bukan masalah kecil, ia harus mengerti itu.
Ki Bum memutar knop pintu kamar rawat Kyuhyun, anak itu pasti marah-marah lagi seperti kemarin karena di tinggalkan sendiri. Kemarin saja ia uring-uringan sepanjang hari karena di tinggal sendiri satu jam di kamarnya, apalagi hari ini, ia ditinggalkan hampir seharian oleh Ki Bum dan juga noona.
Dia sendiri yang menyuruh ke dua kakaknya untuk beraktifitas seperti biasa, tapi dia sendiri juga yang marah-marah jika di tinggalkan, dasar bocah.
Ki Bum masuk keruangan itu dengan menenteng sebuah paper bag, isinya kotak berwarna biru tua. Hadiah ulang tahun untuk adiknya Kim Kyuhyun.
"Hyun!" panggil Ki Bum ketika ia tak menemukan Kyuhyun di kamar rawatnya.
Pemuda itu menaruh paper bag yang ia bawa keatas tempat tidur Kyuhyun, ia melangkahkan kakinya menuju pintu toilet yang berada di lorong dekat pintu masuk kamar rawat tersebut, mengira kalau Kyuhyun mungkin berada disana.
"Hyun!" di ketuknya pintu toilet itu pelan, namun tak kunjung ada jawaban dari dalam.
Ki Bum menempelkan telinganya pada daun pintu, mencoba menguping suara dari dalam sana, namun hasilnya tetap sama, Ia tak mendengar suara apapun.
Rasa cemas mulai menghinggapi dadanya, perlahan di sentuhnya kenop pintu itu dan memutarnya, mendorong pintu itu hingga terbuka sempurna.
Dan yang ia temukan… tidak ada, Kyuhyun tak ada disana.
"Kim Kyuhyun kau dimana?" gumam pria itu cemas.
Dirogohnya ponsel yang ada di kantung blazernya, menekan speed dial nomor satu. Speed dial untuk Kyuhyun.
Tersambung!
Ki Bum tersenyum mendengar nada monoton yang biasanya terdengar membosankan, untuk kali ini nada itu terdengar seperti nyanyian indah di telinganya.
Beberapa detik berlalu, nada itu tetap bertahan sebelum akhirnya berganti dengan suara operator yang terdengar seperti wanita penggoda di telinga Ki Bum.
"Kim Kyuhyun angkat!"
Sekali lagi di tekannya speed dial nomor satu, ia menekan-nekan ponselnya tak sabaran, seolah dengan begitu Kyuhyun akan sekegera mengangkat panggilan darinya, namun nyatanya itu tak berguna sama sekali.
"Kim Kyuhyun ayolah!"
Sepasang kakinya melangkah kesana kemari, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia lakukan jika Kyuhyun tak menerima panggilannya lagi? Haruskah ia memberi tahu noona? Tidak! Itu keputusan bodoh. Lalu apa?
Ia bingung, tentu saja. Apalagi setelah panggilan kedua yang juga tak mendapat respon, Kim Ki Bum mulai kalap. Ia berlari meninggalkan kamar rawat Kyuhyun, ia tak boleh diam saja, ia harus mencari adiknya!
.
.
Kyuhyun menatap ponselnya, ia tersenyum melihat dua panggilan Ki Bum yang beruntun, diikuti dengan pesan singkat yang masuk hampir setiap lima belas detik sekali. Sepertinya saat Ki Bum datang nanti Kyuhyun harus memujinya, ia tak tahu Ki Bum mempunyai kecepatan jari sehebat itu.
Iris kecoklatannya beralih pada dua buah kotak disampingnya, ia tersenyum kecil membayangkan bagaimana reaksi Ki Bum nanti saat ia datang. Tak ayal ia pasti mendapat amukan dari Ki Bum, tapi tak apa, Ki Bum tak pernah marah padanya dalam waktu yang lama, Ki Bum hyung-nya terlalu menyayangi dirinya.
Dihembuskannya napasnya keras-keras, asap mengepul dari hidungnya, bergumul bersama udara. Baru jam tujuh malam, tapi suhunya terasa seperti tengah malam, mungkin karena sekarang sudah musim gugur.
'saatnya memberitahu tempat ini,'
Ia tersenyum lalu mengetik sesuatu di ponselnya, "Send!" gumamnya bersemangat sebelum akhirnya memasukkan kembali ponselnya kedalam hoodie tebalnya.
"Cepatlah datang Kim Ki Bum, disini mulai dingin…"
.
.
Pemuda berkaca mata itu berlari cepat menaiki jalan menanjak dengan tembok pagar tinggi di sampingnya, tak ia hiraukan penampilannya yang sudah sangat berantakan. Kemeja yang keluar, dasi yang longgar, rambut yang basah karena keringat, penampilannya benar-benar bukan gayanya.
Ia semakin mempercepat langkahnya, ia harus segera menemukan adiknya, Kim Kyuhyun.
Beberapa saat yang lalu Kyuhyun mengirim sebuah pesan dan memberitahukan keberadaannya, Kyuhyun tak mengatakan apapun, ia hanya menulis alamatnya. Ketika Ki Bum membalas pesan itu Kyuhyun tak juga memberikan respon hingga ia sampai di tempat ini.
Tapi dimana dia? Dimana Kim Kyuhyun? Kenapa Ki Bum belum juga menemukannya?
"Kim Kyuhyun!"
Seperti orang gila, Ki Bum berteriak memanggil nama Kyuhyun berulangkali. Perasaannya sudah tak karuan, ia harus segera menemukan Kyuhyun, ia tak boleh mengecewakan noona-nya. Rasa cemasnya mulai menguasai diri Ki Bum seluruhnya, ia benar-benar bisa jadi gila.
"Kim Kyuhyun!"
"berisik!"
Ki Bum berbalik, mencari arah suara yang ia dengar.
Dan ia menemukannya, ia menemukan seseorang yang sejak tadi ia cari. "Kim Kyuhyun!" teriaknya sembari berlari mendekat.
"Annyeong~" sapa Kyuhyun diiringi dengan senyumannya, ia beranjak dari posisinya yang sejak tadi duduk diatas pagar tembok sembari menggoyang-goyangkan kakinya di udara. Berdiri diatas pagar dengan pemandangan kota Seoul dibagian lainnya.
"Kim Kyuhyun hati-hati!" teriak Ki Bum panic melihat apa yang Kyuhyun lakukan.
Posisi Kyuhyun memang sangat riskan, tinggi pagar memang berbeda di kedua sisinya. Sisi yang satu menghadap jalanan yang Ki Bum tapaki, tingginya sekitar satu setengah meter, sedangkan sisi yang lain tingginya Ki Bum perkirakan sekitar sepuluh meter.
"Kim Kyuhyun cepat turun!"
Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum manis, menolak permintaan sang hyung yang memintanya untuk turun.
"cepat turun! Itu berbahaya!" lagi, teriak Ki Bum, namun Kyuhyun tetap bergeming di tempatnya.
"Bum-ah, diatas sini udaranya segar sekali, pemandangannya juga sangat bagus…"matanya terpejam merasakan hembusan angin yang menerpa wajah pucatnya yang tampak sedikit lebih tirus dari biasanya.
"aku tahu, tapi disana berbahaya, cepatlah turun!"
Lagi, Kyuhyun menggeleng. Ia menoleh dan melemper senyum manis kearah Ki Bum. "Bum-ah, kalau aku melompat dari sini apakah aku bisa terbang?"
Pertanyaan bodoh, tentu saja. Ki Bum terperangah, apakah Kyuhyun berencana untuk melompat dari sana? "Kim Kyuhyun!"
"Bum-ah, apakah aku harus mencobanya?"
"Ya! Awas saja kalau kau berani melompat dari sana!"
"tapi aku ingin mencobanya!"
"diam disana!" Ki Bum memanjat pagar tempat Kyuhyun, ia berjalan perlahan mendekati Kyuhyun.
"akhirnya kau naik juga,"
"eoh?"
Wajah panic Ki Bum kini berganti menjadi bingung, meski langit telah gelap sempurna, tapi lampu jalan cukup untuk membuatnya bisa melihat bagaimana ekspresi Kyuhyun.
Ia… tersenyum dengan seringaiannya.
Ki Bum tahu betul senyuman macam apa itu, benarkah dugaannya? Kyuhyun… ia menjahilinya?
Kyuhyun berjongkok dan lalu mendudukkan dirinya diatas pagar, kakinya bergantung bebas diudara, menghadap pemandangan lepas kota Seoul yang penuh dengan gemerlap lampu berbagai warna.
Ditepuknya tempat disampingnya, mengisyaratkan Ki Bum untuk ikut duduk disana.
Dalam diam, Ki Bum menuruti kemauan Kyuhyun. Wajahnya masih menampakkan kebingungan, sebenarnya apa yang mau adiknya itu lakukan?
Kyuhyun membuka salah satu kotak disampingnya. Oh, tunggu dulu. Sejak kapan ada kotak disana? Kenapa tadi Ki Bum tak melihatnya? Ataukah ia yang sama sekali tak bisa focus pada hal lain karena itu ia tak melihat ada benda itu disana? Entahlah.
Kini ditangan pemuda pucat itu ada sebuah cake kecil dan satu buah lilin diatasnya, "tolong pegang ini,"
Ki Bum mengambil alih cake tersebut dari tangan Kyuhyun, ia mengamati setiap yang Kyuhyun lakukan tanpa bertanya.
Dan sekarang lilin diatas cake tersebut telah menyala, api kecil berpendar menyinari daerah kecil sekitarnya.
Kyuhyun tersenyum menatap lilin seukuran lidi tersebut, "indah bukan?" lirihnya pelan, dan lalu mengalihkan pandangannya pada Bum-nya.
Tak ada kata keluar dari mulut Ki Bum, ia hanya terpaku namun menganggukkan kepalanya walaupun hanya sekilas.
"seperti persaudaraan kita, semua yang kita lewati adalah kenangan terindah dalam hidupku, kau dan noona, tak ada hiasan paling indah di dunia ini selain senyuman kalian dan kenangan kebersamaan kita,"
Kalimat itu terasa mengalun begitu merdu di telinga Ki Bum, menghangatkan hatinya yang beberapa hari terakhir terasa membeku karena sebuah kenyataan menyakitkan yang menimpa keluarganya. Menimpa Hyun-nya.
Bola matanya nampak mulai berkaca, namun sebisa mungkin ia menahannya. Tidak, ia tak boleh menangis! Seorang Kim Ki Bum tak boleh menangis lagi!
"selamat ulang tahun Kim Ki Bum,"
"… selamat ulang tahun… Kim Kyuhyun…"
Dan setelah itu mereka meniup lilin bersama, saling mengucapkan harapan-harapan mereka dalam hati masing-masing.
Kota Seoul dan langit malam itu, menjadi saksi betapa kuatnya persaudaraan mereka. Persaudaraan Kim Ki dan juga Kim Kyu.
"selamat ulang tahun Kim Ki… Kim Kyu…" lirih seseorang sebelum ia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu ditemani seorang pria dengan rambutnya yang kecoklatan. "aku sudah bilang, mereka telah dewasa, kau sendiri yang bilang kalau mereka istimewa,"
"memang tidak seharusnya aku meragukan mereka, Kim Ki dan Kim Kyu-ku memang telah tumbuh dewasa,"
"kajja, akan ku antar kau ke Busan,"
"terimakasih,"
.
.
"selamat pagi,"
"selamat pagi ganhosa-nim,"
Seorang ganhosa masuk kedalam kamar rawat Kyuhyun, ia tersenyum cerah sembari menenteng beberapa lembar kertas ditangannya.
"annyeonghaseo ganhosa-nim," sapa Ahra ramah, ia baru sampai pagi buta di Seoul. Ia benar-benar tak bisa meninggalkan kedua adiknya dalam waktu yang lama. Apalagi jika mengingat keadaan Kyuhyun yang dalam keadaan tak baik.
Ki Bum keluar dari toilet dan ikut menunduk menyapa ganhosa yang nampak mencata sesuatu.
"Kyuhyun-ssi, kau terlihat bahagia sekali hari ini," puji ganhosa.
Tampak pipi Kyuhyun bersemu merah, benarkah terlihat seperti itu? Apakah psp keluaran terbaru dan sebuah tas yang sangat dinginkannya bisa membuatnya sebahagia ini? Kurasa jawabannya YA.
"Kyuhyun-ssi, siang ini kau sudah bisa pulang. Keadaan Kyuhyun-ssi sudah membaik,"
Ahra, Ki Bum, dan Kyuhyun mentap ganhosa tak percaya. Apakah secepat itu bisa membaik?
Seharusnya mereka senang, tapi mengapa ini terasa aneh.
"ganhosa-nim, adikku sudah bisa pulang?" Tanya Ahra memastikan.
Ganhosa tersebut membenarkan.
"ganhosa-nim bilang sudah membaik? Apakah Brain Cancer…"
"Brain Cancer?" Tanya ganhosa tersebut tak kalah bingung, ia bingung kenapa gadis dihadapannya tiba-tiba menyebut brain cancer?
"ne, bukankah adikku mengidap kanker otak?"
"apa?!"
.
.
Ahra memandang Ki Bum dan Kyuhyun yang tengah tertidur, wajah mereka terlihat begitu damai tidak seperti kemarin.
Tanpa terasa gadis itu tersenyum, ia teringat kejadian tadi pagi dirumah sakit.
Tentang sakit Kyuhyun, yang mereka kira merupakan Brain Cancer seperti yang euisa-nim katakan sebelumnya. Tapi ternyata itu salah.
Kim Kyu-nya ternyata tak mengidap penyakit mematikan itu, ia hanya anemia dan demam biasa. Lalu kenapa euisa-nim bisa mendiagnosa seperti itu diawal?
Ganhosa salah memanggil pasien, seharusnya ia memanggil wali pasien dari Geum Kyuhyun bukan Kim Kyuhyun. Ahra lega mendapati Kim Kyu-nya baik-baik saja.
Ia tak pernah bisa membayangkan bagaiman hidupnya jika tanpa salah satu dari kedua malaikatnya, Kim Ki dan Kim Kyu.
Baginya Kim Ki dan Kim Kyu adalah segalanya. Mereka penyemangat hidupnya, mereka yang membuatnya bisa bertahan dan melalui semua ini.
'Kim Ki… Kim Kyu… tetaplah sehat, tetaplah jadi penyemangat noona, tetaplah berdiri disamping noona apapun yang terjadi. Meski semuanya menjadi sulit, ayo kita lalui semuanya bersama… aku menyayangimu Kim Ki, Kim Kyu… terimakasih sudah terlahir menjadi adikku,'
'mimpi hanyalah mimpi, tak ada hubungannya dengan perpisahan. Itulah kenyataannya… meski dalam mimpi kau seolah akan pergi, namun nyatanya kau tetap ada disini, bersama kami…'
TBC
