Bel sekolah berdentang nyaring, bersamaan dengan itu pintu di setiap kelas mulai terbuka diikuti dengan para siswa yag berlarian berburu menuju gerbang kebebasan. Oh, memang beginilah realitanya. Mayoritas dari pelajar menganggap bahwa sekolah adalah sebuah penjara, karena itu hal yang membuat mereka bersemangat ketika menuntut ilmu di sekolah adalah bel tanda pulang.

Suara nyaring yang seperti nyanyian dari surga, sungguh menyedihkan, bukan? Sementara sebagian besar siswa berhamburan menuju gerbang sekolah, ada segelintir orang yang justru berjalan menuju kearah sebuah ruangan. Ruangan yang ada di gedung sekolah tersebut, tertulis di depan pintu ruangan tersebut, 'Ruang Guru'.

"hei Ki Bum-ah!" sapa seseorang seraya menepuk bahu Ki Bum yang berjalan di depannya.

Ki Bum menolehkan kepalanya, ia tersenyum kecil dan melambatkan langkahnya. Mereka berdua berjalan bersama hingga seseorang bergabung di ambang pintu ruang guru, senyumnya mengembang cerah, menghiasai wajahnya yang rupawan serta perawakannya yang tampak sempurna.

"Oh, Siwon-ah!"

Yang di panggil tersenyum dan lalu membungkuk dalam, "ne, Yesung hyung, annyeonghaseo." Sapanya ramah, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada seseorang yang berdiri di samping Yesung.

"Kim Ki Bum, are you ready?" tanyanya seraya tersenyum.

Ki Bum balas tersenyum, ia mengangguk pasti dan menyeringai. "tentu saja, I'm ready!"

Setelah bercakap-cakap singkat, ketiganya masuk ke ruang guru. Dimana seseorang tengah menunggu mereka bertiga.

"eoh, kalian sudah datang?"

Ketiganya membalas bersamaan, "ye, anyeonghaseo sonsaengnim,"

"Cha! Sekarang katakan padaku apa rencana kalian," Ketiganya saling melempar pandangan sebelum akhirnya mengukir senyum yang terlihat mencurigakan.

.

.

"Ki Bum-ah!" pekik seseorang yang tengah duduk setengah berbaring diatas tempat tidur pasien di ruang rawatnya. Oh, ini untuk yang kesekian kalinyadi tahun ini ia mendekam di ruangan seperti ini, tidakkah kau merasa bosan Kim Kyuhyun?

Kyuhyun meluruskan tubuhnya, ia tersenyum cerah dengan bola matanya yang membulat penuh semangat.

"kenapa kau lama sekali? Aku hampir mati bosan karena menunggumu~" gerutu Kyuhyun seraya mengerucutkan bibirnya lucu.

Ki Bum berdecih menanggapi perkataan Kyuhyun yang dirasanya sangat berlebihan, memangnya ada orang yang mati karena bosan? Ada-ada saja.

Ki Bum memutar pandangannya, seolah mencari sesuatu yang ia yakini seharusnya ada disana.

"Ki Bum-ah, kau mencari noona?" tebak Kyuhyun. Ki Bum terkesiap sejenak, sepertinya tebakkan Kyuhyun benar.

"eoh," akunya sambil menyimpan tasnya di kursi, "kemana noona? Dia belum datang?" lanjutnya menanyakan keberadaan noona.

"saat jam makan siang noona datang kemari, ia bilang ada banyak pekerjaan di kantor jadi kemungkinan ia lembur hari ini," jelas Kyuhyun.

Ki Bum mengangguk mengerti, "tapi kenapa noona tidak memberitahuku,"

"noona bilang agar aku yang memberitahumu," Alis Ki Bum bertaut mendengar pernyataan Kyuhyun, "lalu kenapa kau tak memberitahuku?" tanyanya tak mengerti.

Kyuhyun menghela nafasnya pelan, "aku pikir akan lebih baik jika aku memberitahumu setelah kau datang, kalau tidak seperti itu kau akan sangat ribut,"

"ribut?"

Kyuhyun mengangguk, "kau pasti akan pulang terburu-buru, dan itu berbahaya,"

Tanpa terasa senyuman merekah di bibir Ki Bum. Ah, kalimat Kyuhyun terasa menyejukkan baginya. Ternyata ia sangat khawatir pada kakaknya. "eoh, baiklah. Ngomong-ngomong, kau ingat apa yang aku katakan tadi malam?"

Kyuhyun tampak berpikir, bola matanya bergulir kekanan dan kekiri mencoba mengingat isi percakapan mereka semalam. "tentang pertandingan itu?" tanyanya sedikit ragu setelah mengingat beberapa hal yang mereka bicarakan beberapa waktu lalu.

"benar, tentang pertandingan itu," ucap Ki Bum membenarkan. Kyuhyun tampak mulai tertarik, ia memandang Ki Bum yang beranjak duduk di kursi disamping tempat tidurnya.

"lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanya Kyuhyun ingin tahu.

"sonsaengnim sudah menghubungi Pembina taekwondo di salah satu sekolah, mereka sudah menyetujuinya. Tapi kami tetap harus datang kesana untuk memutuskan beberapa hal nanti,"

"kira-kira kapan pertandingannya?"

"entahlah, mungkin hari jumat,"

"jumat? Hari jumat aku baru di izinkan pulang," gumam Kyuhyun lemas, ini pertanda bahwa ia tak mungkin bisa menyaksikan pertandingan Ki Bum nanti. Ah, sayang sekali.

Tangan Ki Bum meraih puncak kepala Kyuhyun yang tengah tertunduk sedih, ia mengusapnya lembut, "lagipula, kalaupun kau sudah pulang, aku tidak akan mengizinkanmu melihatku bertanding,"

Kyuhyun mendongak menatap Ki Bum, "wae?"

"karena aku tidak ingin kau melihatku berkelahi,"

"wae?" Tanya Kyuhyun tak puas dengan jawaban Ki Bum.

"aku… aku tak ingin kau terlalu sering melihat sisi diriku yang seperti itu, cukup. Lihatlah aku yang seperti ini, mengerti?!"

Meski enggan, Kyuhyun akhirnya mengangguk menyanggupi keinginan Ki Bum. Ia yakin, Ki Bum hanya ingin yang terbaik untuknya. Ia percaya itu. . .

.

.

Empat pasang kaki melangkah melewati pelataran sebuah sekolah, seseorang yang memimpin jalan tampak berwibawa dengan setelannya yang rapi khas seorang pengajar.

Sementara tiga orang yang lainnya berjalan mengekor mengikuti. Ketiganya berjalan dengan penuh percaya diri, membuat beberapa pasang mata tertarik untuk memperhatikan mereka. Menilai cara berjalan, berpakain, astaga sebagian dari mereka terlihat menawan.

Ya, begitulah setidaknya isi pikiran beberapa siswi di lorong sekolah. Mereka adalah Pembina taekwondo di sekolah, Siwon, Yesung, dan juga Ki Bum. Mereka tengah berada di 'SMU sebelah' sekarang.

Ke empatnya sampai di sebuah ruangan dengan beberapa kursi dan juga meja, seorang pria dengan perawakannya yang tegap juga beberapa siswa menyambut keempatnya.

Sejak memasuki pelataran sekolah, Ki Bum terus menunduk menyembunyikan wajahnya, ia hanya sesekali menengadah dan membenarkan letak kaca matanya, membuatnya terlihat seperti seorang anak penyendiri dan penakut.

"annyeonghaseo," sapa beberapa orang yang sejak tadi menunggu keempatnya di ruangan tersebut.

Ki Bum mendongak sebelum akhirnya membungkukan tubuh memberi salam, ia menatap mereka satu persatu, memastikan bahwa 'anak SMU sebelah' ada di antara mereka. Dan, Bingo! Ia menemukannya. Anak itu berdiri angkuh dengan pandangan merendahkan.

Kini mereka semua duduk di kursi di ruangan tersebut, membicangkan beberapa hal hingga akhirnya topik sampai pada pengenalan siapa yang akan melakukan pertandingan yang waktunya sudah di tentukan jumat nanti.

'anak SMU sebelah' menatap Siwon, Yesung, dan Ki Bum satu persatu. Ia menatap Ki Bum pertama kali, tatapannya terlihat merendahkan, begitupun pada Yesung walaupun pada Siwon ia tampak sedikit segan. Mungkin karena melihat perawakan Siwon yang tinggi dan tegap, berbeda dengan perawakan Ki Bum dan Yesung yang kecil dan terkesan ringkih.

"jadi, yang akan menjadi lawan Young Joon nanti adalah Ki Bum-ssi? " Tanya sonsaengnim dari sekolah yang Ki Bum datangi.

Guru tersebut menyebut nama Ki Bum sembari menatap Siwon, Siwon yang di tatap tersenyum kaku karena menurutnya guru tersebut salah mengenali orang.

"seonsaengnim, aku bukan Ki Bum, Ki Bum adalah dia," ujar Siwon seraya menunjuk Ki Bum sopan dengan kedua lengannya.

Mereka, guru dan juga beberapa siswa menatap Ki Bum tak percaya. Entahlah apa yang mereka pikirkan, mungkinkah mereka meragukan Ki Bum? Ya, sepertinya begitu.

Young Joon mendecih pelan mendapati calon lawannya merupakan seorang anak berkaca mata dengan tubuh yang tak terlalu tinggi, ia tak pernah membayangkan kalau ia akan bertanding melawan seorang anak macam Ki Bum. Seseorang yang terlihat culun dan ringkih.

Percakapan sempat menjadi canggung karena kesalahan mengenali orang yang sempat terjadi tadi, akan tetapi semuanya selesai hingga kini keempatnya tengah berjalan meninggalkan sekolah melewati lorong kelas yang memanjang.

Yesung berjalan bersama sonsaengnim di depan, sedangkan Siwon dan Ki Bum berjalan mengekor di belakang.

"Ki Bum-ah," panggil Siwon membuka percakapan.

Ki Bum menolehkan kepalanya seraya mengangkat alisnya, "ada apa?"

"Ki Bum-ah, aku rasa mereka meremehkanmu," ujar Siwon sedikit berbisik.

Mendengar penuturan Siwon, Ki Bum tersenyum kecil, "benarkah seperti itu?" tanyanya meyakinkan.

Siwon mengangguk pasti menanggapi, "eoh, tidakkah kau juga melihatnya? Bagaimana cara mereka memandangmu tadi, itu terlihat sangat jelas, "

Ki Bum tak lekas mengatakan apapun, ia menatap lurus kearah depan dan tersenyum mencurigakan. "bukankah itu bagus? Ahh, ini pasti akan sangat menyenangkan,"

.

.

Hari pertandingan antara Ki Bum dan 'anak SMU sebelah' – sebut saja dia Park Young Joon- akhirnya tiba.

Ki Bum, Yesung, Siwon, Eunhyuk, Donghae dan beberapa siswa beserta guru datang ke sekolah Young Joon.

Pertandingan ini di adakan dalam rangka menjalin persahabatan antar klub taekwondo disekolah masing-masing, walaupun sebenarnya sang pencetus ide punya tujuan lain di balik ini semua.

Ki Bum datang dengan seragamnya seperti biasa, tak lupa kaca matanya yang juga masih ia kenakan dan juga tatapan matanya yang nampak lugu.

Beberapa siswa dari sekolah Young Joon nampak mulai memandangnya remeh, menganggapnya lemah dan itu justru membuat semangat Ki Bum semakin membumbung tinggi. Ya, disaat seperti ini. Ia yakin, Young Joon akan menurunkan kewaspadaannya ketika bertarung dan itu justru merupakan sebuah keuntungan untuk Ki Bum.

Jika boleh jujur, sebenarnya Ki Bum juga tak ingin dianggap lemah. Tapi ternyata penampilan luarnya memang membuat orang lain berkesan seperti itu padanya, walaupun sebenarnya memang ada sedikit unsur kesengajaan disana.

Semua orang tahu Ki Bum tak jauh berbeda dengan Kyuhyun, mereka memiliki kepribadian yang sama. Sedikit angkuh? Ya, itu benar. Tapi tidak dalam hal negative, angkuh disini mengacu pada sikap mereka yang memang sedikit dingin kepada orang-orang yang tidak di kenalnya. Selain itu mereka juga bukan tipe orang yang mudah 'diinjak-injak', mereka memiliki karakter yang sangat kuat.

Ki Bum keluar dari sebuah ruangan tempatnya mengganti pakaian, ia tanggalkan kaca matanya dan sedikit menarik rambutnya keatas, membuat wajahnya terlihat lebih jelas. Seolah baru keluar dari ruangan ajaib, Ki Bum bertransformasi menjadi seseorang yang berbeda.

Tak ada kaca mata, tak ada cara berjalan dengan kepala menunduk. Kini Ki Bum mengangkat dagunya tinggi, maniknya yang tadi terkesan lugu kini justru berubah menjadi tajam dan sedikit mengerikan bagi beberapa orang, di tambah dengan bibirnya yang menyeringai hampir menyerupai seringaian Kyuhyun sang adik.

Penampilannya nampak semakin sempurna ketika dipadukan dengan dobok dan juga sabuknya yang berwarna hitam. Kim Ki Bum, ia terlihat berbahaya.

Bola mata Young Joon membulat melihat perubahan Ki Bum, ia yakin orang ini bukanlah Kim Ki Bum yang tadi ia lihat. Bagaimana bisa seseorang akan berubah secepat itu?

Akhirnya pertandingan di mulai, seperti perkiraan Ki Bum, Young Joon akan kehilangan kewaspadaannya.

Di serangan pertama yang Ki Bum lancarkan, Ki Bum sempat berbisik pelan sebelum ia melayangkan pukulannya, "ini untuk tas dan ponselnya yang kau ambil,"

Setelah mendapatkan pukulan, Young Joon berusaha mencerna apa maksud perkataan Ki Bum. Ia benar-benar tak mengerti.

Pertandingan terus berlanjut, Ki Bum sempat mendapat pukulan, akan tetapi lagi-lagi ia bisa menguasai pertandingan. Kali ini Ki Bum kembali mendapat kesempatan untuk memberikan pukulan pada Young Joon, lagi-lagi ia berbisik pelan disela pukulannya, "ini, untuk seseorang yang kau lukai beberapa hari yang lalu,"

Ketika keduanya menjauh, tampak dahi Young Joon berkerut. Seseorang yang ia lukai? Siapa? Mungkinkah…

Pandangan Young Joon beralih kearah penonton, ia menemukan dua orang yang cukup di kenalnya, Eunhyuk dan Donghae. Mereka…

Pertandingan dilanjutkan, Young Joon mulai kewalahan. Begitupun Ki Bum, walaupun ia terlihat jauh lebih siap di banding Young Joon. Beberapa saat berlalu, keduanya masih bertarung sampai akhirnya Ki Bum melayangkan tendangannya kuat dan berhasil menjatuhkan Young Joon. Membuat Young Joon kalah telak.

Pertandingan berakhir, juri memutuskan Ki Bum lah yang memenangkan pertandingan. Ki Bum tersenyum bangga kearah teman-temannya, kemenangan adalah yang terbaik, akan tetapi, sesuatu yang lain selain kemenangan yang justru membuatnya jauh lebih bahagia sekarang.

Young Joon menatap Ki Bum tajam, ia tak pernah memeperkirakan ini. Bagaimana bisa ia dikalahkan oleh seseorang macam Ki Bum? Ini mustahil.

Ki Bum dan Young Joon saling berhadapan dan bersalaman, akan tetapi Ki Bum menarik Young Joon dan memeluknya sembari menepuk punggung Young Joon membuat Young Joon terkesiap.

"yang terakhir tadi itu untuk Kim Kyuhyun, adikku,"

Young joon terhenyak, ia berusaha melepaskan pelukkan Ki Bum. Namun Ki Bum tak kunjung melepaskan cengkramannya.

Tangan Ki Bum justru naik kearah ujung rambut Young Joon, ia menyeringai sembari kembali berbisik pelan tepat di depan telinga seseorang yang kini tengah ia peluk kuat, "jangan berteriak karena semua orang akan menganggapmu lemah, mengerti?"

Tidak, Park Young Joon tak mengerti. Ia tak bisa mengerti, akan tetapi entah mengapa kini ia mengatupkan bibirnya kuat menuruti permintaan Ki Bum. Ada apa dengannya? Kenapa ia bisa begitu saja 'takluk' oleh Kim Ki Bum?

Seringaian Ki Bum semakin lebar, berbanding terbalik dengan Young Joon yang justru semakin mengatupkan bibirnya dan juga menutup matanya. Ya, ia siap untuk…

.

.

Langkah Ki Bum tampak ringan menyusuri lantai marmer di rumahnya, "noona, aku pulang!"

Ahra berlari kecil menghampiri Ki Bum, ia tersenyum menyambut adiknya. "kau sudah pulang?" tanyanya seraya merangkul punggung Ki Bum lembut.

Pemuda itu tersenyum begitu cerah malam ini, "kau tampaknya senang sekali? Selamat atas kemenangannya, mianhaeyo noona tidak bisa menyaksikan pertandinganmu," ujarnya menyesal.

Ki Bum menggeleng, "tidak, lagipula aku tak bisa konsentrasi jika noona ada disana. Oh, ya dimana Kyuhyun?"

Ahra menunjuk arah lantai dua dengan dagunya, "ia ada di atas," ucapnya sembari menepuk pipi Ki bum gemas.

Namun tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh sebuah kotak kecil berwarna baby blue yang ada di tangan Ki Bum, "apa itu?" tanyanya penasaran.

Ki Bum ikut memandang kearah sang noona memandang, ia tersenyum kecil setelah menyadari apa yang noonanya tanyakan pada dirinya. Tentang kotak itu, sebuah kotak kecil yang sejak tadi ia genggam.

"sonmul," jawabnya singkat.

Sebelah alis gadis berusia dua puluh satu tahun itu terangkat, "hadiah? Untuk siapa?"

Lagi-lagi Ki Bum tersenyum, "untuk seseorang dilantai dua," ujar Ki Bum pelan membuat Ahra memandangnya dengan tatapan menyelidik.

"ini sungguh hadiah!" yakin Ki Bum, ia tahu benar maksud tatapan noona-nya.

Terlihat jelas ada kecurigaan di rona wajah Ahra. Akan tetapi pada akhirnya Ahra tersenyum dan mencubit pipi Ki Bum, "baiklah aku percaya, sekarang naik dan temui adikmu!"

Ki Bum memeluk Ahra sekilas dan lalu berlari menapaki tangga satu persatu menuju kamarnya dan juga kamar sang adik, Kim Kyuhyun.

Dikamar, Kyuhyun tengah duduk bersandar pada kepala tempat tidur sembari memainkan PSP nya.

"Kim Kyuhyun!" panggil seseorang di balim pintu.

Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya pada PSP dan menyambut seseorang yang baru saja memanggil namanya, ia hapal betul suara siapa itu. Dia adalah…

"Ki Bum-ah!" pekik Kyuhyun melihat kedatangan Ki Bum.

Bagi Kyuhyun, melihat wajah dingin Ki Bum adalah sebuah kebahagiaan yang tak pernah bisa ia gambarkan. Bisa melihat Ki Bum membuatnya merasa hidupnya telah lengkap.

"hai, kau sudah makan malam?" Tanya Ki Bum, ia menjatuhkan ranselnya dan mendudukan dirinya diatas tempat tidur Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk cepat sebagai jawaban.

"minum obat?"

Lagi-lagi Kyuhyun mengagguk. "bagaimana dengan pertandinganmu tadi?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Ki Bum mengedikkan bahunya singkat, ia tersenyum kecil dan lalu memberikan kotak kecil berwarna baby blue di tangannya.

Kyuhyun menerimanya ragu-ragu seraya memutar kotak tersebut.

"apa ini?" tanyanya sambil membuka kotak tersebut.

Ki Bum tak menjawab, ia terus memperhatikan Kyuhyun, menanti reaksi sang adik ketika melihat isi dari hadiah yang ia bawa.

Kyuhyun menarik sebuah plastik dari dalam kotak, mulutnya mengerucut dengan kepala yang ia miringkan kesebelah kanan. Matanya yang bulat menatap Ki Bum minta penjelasan.

Ki Bum tersenyum kecil, "kenapa?" tanyanya tanpa sedikitpun menghilangkan senyuman kecil di bibirnya.

"ini, rambut? Kenapa kau memberiku hadiah aneh seperti ini?" gerutu Kyuhyun.

Ki Bum menganggukkan kepalanya ringan, ia menjatuhkan tubuhnya di samping Kyuhyun dan memejamkan matanya, "jika kau bisa merontokkan giginya, maka setidaknya aku harus bisa merontokan rambutnya,"

Alis pemuda itu saling bertaut, apa maksud Ki Bum? Merontokan gigi? Merontokan rambut? Apa maksudnya? Kyuhyun tampak berpikir seraya menatap Ki Bum penuh selidik.

Hari ini Ki Bum ada pertandingan taekwondo di sekolah lain, lalu Eunhyuk dan Donghae lebih memilih menghadiri pertandingan itu dibandingkan menjenguknya. Padahal, jelas-jelas sebelumnya mereka tak pernah berminat untuk menyaksikan hal-hal seperti itu.

Lalu Ki Bum bilang tadi, 'jika kau bisa merontokkan giginya, maka setidaknya aku harus bisa merontokan rambutnya,' Aku merontokan gigi Young Joon ketika tawuran terakhirkali, mungkinkah…

Perhatian Kyuhyun beralih pada helain rambut di dalam kantung plastik transparan yang ada di tangannya, lalu setelah itu kembali memandang Ki Bum yang memejamkan mata disampingnya. Mungkinkah…

"Ya! Ki Bum-ah!" teriak Kyuhyun keras, Ki Bum menyeringai di dalam tidurnya.

Kedua tangan Kyuhyun mengguncang tubuh Ki Bum keras bermaksud agar Ki Bum membuka matanya, "Ya! Kim Ki Bum!" teriak Kyuhyun sekali lagi.

Ki Bum masih tetap bersikeras memejamkan matanya seraya menyeringai, tak memperdulikan Kyuhyun yang terus mengguncangkan tubuhnya.

Kyuhyun terus mengguncang tubuh Ki Bum, namun kini ia tersenyum begitu lebar, "Ki Bum-ah! Aku mencintaimu!" teriaknya penuh semangat dan lalu memeluk Ki Bum yang berbaring disampingnya.

Di peluknya tubuh Ki Bum erat sambil sesekali menggelitik sang kakak, membuat Ki Bum menggeliat-geliat tak karuan dan akhirnya membuka matanya. "terimakasih Ki Bum-ah! Ini adalah hadiah terbaik!" teriak Kyuhyun bersemangat.

Ki Bum tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum kecil dalam pelukan sang adik.

Ya, tak banyak yang bisa aku lakukan. Tapi setidaknya aku tak boleh diam begitu saja membiarkanmu di perlakukan seperti itu adikku, Kim Kyuhyun. Aku juga mencintaimu.

TBC