Miracle
.
.
.
Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, Yixing. and chibi Sehun. Please! gk suka? Out don't be hater. Thank u ^^
.
.
Remake dari Lisa kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
Dalam keadaan syok mendengar bisikan Sehun, Luhan melupakan segalanya: sekeliling mereka, wanita yang ada dibelakang konter. Selama enam bulan mereka berusaha untuk membuat Sehun mengatakan sesuatu, apa saja. Kenapa baru sekarang dan disini Sehun mau bicara, itu adalah sesuatu yang akan dibahasnya lebih lanjut bersama dengan Jongin nanti. Untuk sekarang, ia harus bisa menenangkan diri, agar tidak membuat Sehun bingung dengan reaksinya. Hanya saja...Oh Tuhan.
Luhan tidak bisa menahan dirinya untuk jatuh berlutut dan menarik Sehun ke dalam pelukannya. Lengan Sehun yang mungil melingkari leher Luhan. Luhan mendengar dirinya sendiri memanggil nama Sehun dalam gumaman tercekat. Matanya berkaca-kaca, dan ia terkejut saat mendapati dirinya nyaris tidak mampu menahan bendungan air matanya agar tidak jebol.
Tapi Luhan tidak bisa mengendalikan luapan kelegaan, saat melihat bukti nyata bahwa Sehun siap untuk bicara lagi. Mungkin sekarang ia bisa membiarkan dirinya sendiri percaya bahwa Sehun akan baik-baik saja.
Saat merasakan Sehun berusaha melepaskan diri dari pelukannya yang sangat erat, Luhan memberikan ciuman penuh kasih dipipi Sehun dan memaksakan dirinya untuk melepaskan Sehun. Luhan berdiri, mengendalikan emosi yang menyumbat tenggorokannya, dan menyadari bahwa ada kemungkinan suaranya akan pecah jika ia mencoba mengatakan sesuatu. Luhan menelan dengan susah payah dan dengan tatapan kosong mengamati ruangan sekitarnya.
Akhirnya Luhan mengalihkan pandangannya pada wanita berambut merah yang ada dikonter-Minseok-yang sedang memegang kantong berisi barang yang baru saja dibelinya. Luhan melihat bahwa Minseok bisa memahami dengan jelas apa yang baru saja terjadi dihadapannya.
Luhan tidak tahu harus bereaksi apa terhadap Minseok. Minseok memiliki tinggi sekitar seratus lima puluh sentimeter, dengan rambut ikal berwarna merah. Tubuh Minseok langsing, mengenakan kemeja putih dan celana jins.
Wajah Minseok, yang setengah tersembunyi dibalik ikal berantakan itu, terbilang cantik dan menawan, kulitnya pucat kecuali rona kemerahan di pipinya. Dan matanya, tanpa lipit. Minseok mengingatkan Luhan pada gadis-gadis yang ia kenal semasa kuliah, gadis menyenangkan dan menarik yang bisa membuatnya terjaga sepanjang malam untuk mengobrol, tapi ia tidak pernah mengencani mereka. Luhan justru mengencani gadis-gadis populer dikampus, jenis wanita yang akan membuat pria lain merasa iri padanya. Baru kemudian hari Luhan menyadari apa yang mungkin ia telah sia-siakan.
"Apa aku bisa bicara denganmu lain kali?" Tanya Luhan lebih blak-blakan daripada yang diniatkannya.
"Aku selalu disini," ujar Minseok dengan santai. "Mampirlah kapanpun kau sempat." Minseok mendorong cangkang kerang ke depan konter. "Kenapa kau tidak membawa kerang ini pulang bersamamu, Sehun?sekedar berjaga-jaga jika kau membutuhkannya lagi."
"Hai!" Terdengar suara merdu dan ceria dibelakang Luhan.
Itu adalah Yixing, pacar Luhan dari Busan. Yixing adalah wanita cantik, cerdas dan salah satu orang paling baik yang pernah dikenal oleh Luhan. Kau bisa membawa Yixing kemanapun, dalam situasi apapun, dan ia pasti akan menemukan cara untuk bisa menyesuaikan diri.
Yixing menghampiri mereka, menyelipkan ramput hitam lurusnya ke balik salah satu telinganya. Yixing mengenakan celana berwarna cokelat terang kekuningan, kemeja putih yang rapi dan sepatu datar ala balerina tanpa perhiasan apapun selain anting mutiara.
"Maaf aku terlambat beberapa menit. Aku mencoba sesuatu ditoko yang ada diujung jalan, tapi ternyata tidak cocok. Sepertinya kau mendapatkan sesuatu, Sehunie?"
Sehun hanya mengangguk dan membisu seperti biasanya.
Dengan campuran perasaan khawatir dan senang, Luhan menyadari Sehun tidak akan bicara didepan Yixing. Apakah sebaiknya ia mengatakan pada Yixing apa yang baru saja terjadi? Tidak, itu mungkin akan membuat Sehun terlalu tertekan. Sebaiknya ia tidak memaksa dan membiarkan Sehun sendiri yang memutuskan kapan akan berbicara lagi seperti tadi.
Sambil menoleh ke sekelilingnya,
Yixing berkata, "Toko kecil yang sungguh menarik. Lain kali aku datang kesini, aku akan membeli sesuatu untuk keponakanku. Natal akan segera datang sebelum kita menyadarinya." Yixing mengaitkan lengannya dengan lengan Luhan dan tersenyum pada pacarnya. "Aku tidak ingin terlambat naik pesawat, jadi kita harus pergi sekarang."
"Tentu saja." Luhan mengambil kantong belanjaannya dari konter dan mengulurkan tangan untuk mengambil kerang yang ada ditangan Sehun. "Kau mau aku yang membawakannya, hunie?"
Sehun menggenggam kerang itu dengan lebih erat, ingin membawanya sendiri pulang ke rumah.
"Baiklah," kata Luhan, "tapi jangan dijatuhkan." Saat menoleh kembali ke Minseok yang ada dibelakang konter, Luhan melihat Minseok sedang sibuk merapikan pulpen dicangkir yang ada di mesin kasir, meluruskan barisan mainan binatang kecil, menyibukkan dirinya sendiri dengan hal-hal yang tidak penting. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela dan menerpa ikal merah rambut Minseok.
"Bye," ujar Luhan. "Dan terima kasih."
Minseok hanya melambaikan tangan dengan sopan, tanpa benar-benar melihat kearah Luhan. Dari sanalah Luhan menyadari bahwa Minseok juga sama gelisahnya seperti dirinya.
.
.
.
Setelah mengantarkan Yixing ke bandara dan menunggu sampai pesawatnya tinggal landas, Luhan membawa Sehun pulang ke perkebunan anggur Jongin.
Luhan membiarkan jendela mobilnya terbuka, membiarkan udara laut yang segar masuk ke dalam mobil. "Apa kau melihat itu?" Luhan menunjuk kearah seekor elang liar yang terbang diatas mereka.
"He-eh."
"Apa kau lihat apa yang dibawanya dicakarnya?"
"Seekor ikan?"
"Mungkin. Entah dia mengambilnya dari dalam air, atau mencurinya dari burung lain."
"Ke mana elang itu akan membawanya?" Suara Sehun terdengar ragu-ragu, seolah Sehun sendiripun masih terkejut mendengar dirinya bicara.
"Mungkin kesarangnya. Burung elang jantan ikut merawat anak-anaknya, seperti halnya burung elang betina."
Sehun menerima informasi itu dengan anggukan kepala. Dari apa yang Sehun tahu mengenai dunia, hal itu terdengar masuk akal.
Luhan harus memaksakan tangannya agar tetap berada di setir, bukannya terulur untuk memeluk Sehun. Kebahagiaan mengisi dirinya mulai dari kepala hingga kaki. Sudah lama sekali sejak terakhir ia mendengar Sehun bicara, sehingga ia nyaris melupakan seperti apa suara keponakannya.
Psikolog anak pernah mengatakan bahwa mereka harus memulainya dari interaksi non-verbal, misalnya meminta Sehun untuk menunjukkan apa yang diinginkannya dalam daftar menu, dengan harapan pada akhirnya Sehun akan menyatakannya dalam bentuk kata-kata yang sesungguhnya.
Sampai hari ini, Luhan hanya pernah sekali mendengar Sehun mengeluarkan suara yaitu pada saat perjalanan yang baru-baru ini mereka lakukan ke sepanjang peternakan unggas. Tanpa memedulikan dirinya yang terlihat seperti orang idiot, Luhan menghibur Sehun dengan menirukan suara bebek, dan pada akhirnya Sehun ikut menirukannya.
"Apa yang membantumu menemukan lagi suaramu, hunie? Apa ada hubungannya dengan Minseok? Wanita berambut merah yang tadi kita temui ditoko mainan Magic Mirror?"
"Kerang ajaib ini." Sehun menunduk ke kerang yang digenggamnya dengan lembut ditangannya yang mungil.
"Tapi itu bukan..." Luhan terdiam. Masalahnya bukan apakah kerang itu ajaib atau bukan. Tapi ide tersebut terhubung langsung pada jiwa Sehun, dan diberikan pada saat yang tepat untuk membantu Sehun melepaskan diri dari kebisuan. Sihir, peri...semua itu adalah bagian dari masa kanak-kanak yang tidak dikenal Luhan, wilayah imajinasi yang sudah diabaikannya sejak lama sekali. Tapi tidak demikian dengan Minseok.
Luhan tidak pernah melihat Sehun begitu mudah berinteraksi dengan wanita manapun, seperti yang dilakukannya dengan Minseok, tidak dengan teman-teman lama Zitao, guru-gurunya disekolah, bahkan Yixing, yang telah menghabiskan cukup banyak waktu bersama dengannya. Siapa sebenarnya Kim Minseok ini? Dan kenapa Minseok membuka toko mainan?
Luhan ingin bertemu dengan Minseok lagi. Ia ingin tahu segala hal tentang wanita itu.
Mobil Luhan berbelok ke jalur pribadi diperkebunan anggur milik adiknya dan melaju menuju rumah. Dari luar, rumah itu masih terlihat seperti rumah kumuh yang lapuk tapi mereka sudah membuat perbaikan struktur pada bagian dalam. Hal pertama yang dilakukan Luhan adalah memperbaiki kamar Sehun, mengecat dindingnya dengan warna biru asin dan krem. Luhan membawa perabotan dari kamar lama Sehun di Seoul dan menempelkan kembali gantungan kupu-kupu ditempat tidur bertiang yang sengaja disiapkannya.
Sejauh ini, proyek terbesarnya adalah membuat kamar mandi yang cukup layak untuk Sehun. Ia dan Jongin merobohkan dinding lamanya, membangun saluran pipa baru, meninggikan lantai, dan memasang bathtub baru, toilet, dan meja rias berlapis marmer. Mereka membiarkan Sehun yang memilihkan warna cat untuk dinding barunya. Tentu saja, Sehun pasti memilih warna pink.
"Ini sesuai dengan konteks zamannya," kata Luhan.
"Tapi warnanya terlalu khas wanita," bantah Jongin. "Setiap kali aku masuk ke kamar mandi pink itu, aku merasa harus melakukan sesuatu yang lebih jantan setelahnya."
"Apa pun itu, lakukanlah di luar sehingga kami tidak perlu melihatmu."
Yang tak terduga, Junmyeon membantu mereka. Junmyeon membuat satu set rak diruang ganti kamar Sehun untuk tempat penyimpanan sepatu. Yang membuat gadis kecil itu sangat senang, sebagian lubangnya dirancang dengan dilengkapi penutup rahasia, yang jika dibuka akan memperlihatkan ruang penyimpanan yang tersembunyi. Pada satu kesempatan lain, Junmyeon membawa salah seorang pekerja untuk memperbaiki teras depan yang sudah goyah dan rapuh. Luhan dan Jongin sangat menghargai bantuan Junmyeon. Tapi karena mereka mengenal seperti apa Junmyeon...
"Menurutmu apa yang diinginkannya?" Tanya Jongin pada Luhan.
"Keponakannya tidak mati tertimbun reruntuhan rumah?"
"Tidak mungkin, itu berarti kau menyematkan atribut motivasi manusia kepada dirinya, dan kita sudah sepakat untuk tidak melakukannya."
Luhan mencoba, tapi tidak berhasil, untuk menahan seringaiannya. Junmyeon terlalu dingin dan tidak memiliki emosi, sehingga terkadang kau akan bertanya-tanya apakah ia memiliki detak jantung dan denyut nadi, layaknya manusia normal.
"Mungkin dia merasa bersalah karena tidak banyak menghabiskan waktu dengan Zitao sebelum Zitao meninggal."
"Mungkin dia menggunakan kunjungannya kesini sebagai alasan untuk menjauh dari Kyungsoo. Jika sebelumnya aku sudah memiliki anggapan yang sangat buruk terhadap pernikahan, maka aku yakin hal itu akan bertambah dua kali lipat lebih buruk setelah melihat pernikahan Junmyeon hyung."
"Jelas sekali," kata Luhan, "seorang Kim seharusnya tidak pernah menikah dengan orang yang terlalu mirip dengan kita."
Apapun alasannya, Junmyeon terus berkontribusi terhadap renovasi rumah. Sebagai hasil dari usaha mereka bersama, rumah tersebut mulai terlihat lebih baik. Atau setidaknya cukup layak untuk ditempati oleh manusia.
"Jika kau mencoba menendangku keluar dari rumah ini setelah apa yang kulakukan," tegas Luhan pada Jongin, "Kau akan berakhir dengan terkubur dihalaman belakang."
Tapi mereka berdua tahu bahwa tidak mungkin Jongin akan menendang mereka keluar dari rumah itu. Mungkin karena Jongin, yang membuat dirinya sendiri terkejut lebih daripada orang lain, telah merasakan ikatan dan pengabdian yang kuat terhadap Sehun. Seperti halnya Luhan, Jongin juga rela mati untuk Sehun, jika memang diperlukan. Sehun mendapatkan semua yang terbaik yang mereka miliki.
Pada awalnya Sehun memang sangat berhati-hati menunjukkan perasaannya, tapi dengan cepat ia bisa terikat dengan paman-pamannya. Meskipun mereka sudah mendapatkan nasihat dari orang-orang sekitar mereka untuk tidak memanjakan Sehun, tapi baik Luhan maupun Jongin tidak melihat efek buruk dari kasih sayang yang mereka berikan pada Sehun. Bahkan, mereka berdua akan senang sekali jika melihat sedikit kenakalan Sehun. Sehun adalah anak yang sangat baik, selalu melakukan apa yang diperintahkan padanya.
Saat tidak berada disekolah, biasanya Sehun menemani Luhan ke pabrik pemanggangan kopinya yang baru saja dibuka diJeju, mengawasi drum raksasa memanggang biji kopi Arabika yang masih mentah, sampai warna kuning pucatnya berubah menjadi cokelat gelap yang mengilap.
Jongin juga sering mengajak Sehun ke kebun untuk merawat tanaman anggurnya, atau untuk berburu bintang laut dan kulit kerang dipantai saat air surut. Jongin merasa bangga dan memajang hasil kerajinan tangan Sehun disemua dinding di rumah.
"Sebelumnya aku tidak pernah tahu seperti apa rasanya," komentar Jongin pada suatu malam, sambil menggendong Sehun masuk ke rumah saat gadis kecil itu ketiduran di mobil. Mereka menghabiskan sepanjang hari untuk piknik, membawakan kotak umpan kecil untuk Sehun dan mengajaknya memancing, dan Luhan mengajari Sehun untuk menangkap ikan yang terdampar disepanjang garis pantai.
"Rasanya apa?" Luhan membuka pintu depan dan menyalakan lampu teras.
"Hidup dengan seorang anak." Dengan malu-malu, Jongin memperjelas, "hidup bersama dengan seorang anak yang mencintaimu."
Kehadiran Sehun dalam hidup mereka menawarkan kenyamanan yang tidak pernah mereka tahu sebelumnya. Menjadi pengingat akan kepolosan dan kemurnian. Mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dalam hidupmu, jika kau diberikan cinta yang tidak bersyarat dan kepercayaan tulus dari seorang anak.
Kau ingin berusaha agar pantas mendapatkannya.
.
.
.
Luhan dan Sehun masuk ke rumah melalui pintu dapur, meletakkan kantong belanjaan dan kerang diatas meja makan. Mereka menemukan Jongin diruang tamu, sedang duduk bersantai dengan sebuah buku ditangannya.
Sambil menunduk, Luhan bergumam pada Sehun, "Sana, tanya padanya apa menu untuk makan malam kita."
Sehun langsung mematuhi permintaan Luhan, berjalan ke samping Jongin dan mendekatkan mulutnya ke depan telinga Jongin. Sehun membisikkan sesuatu dan mundur beberapa langkah.
Luhan melihat Jongin langsung diam terpaku dan menjatuhkan bukunya.
"Kau bicara," ujar Jongin, berbalik perlahan untuk menatap gadis kecil itu. Nada takjub mewarnai suara seraknya.
Sehun menggelengkan kepalanya, terlihat sedih.
"Iya, kau memang bicara, kau baru saja mengatakan sesuatu."
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa." Gumaman meluncur dari mulut Sehun saat ia melihat ekspresi wajah Jongin.
"Kau melakukannya lagi, ya Tuhan! Katakan namaku. Ayo, katakan."
"Kkamjong samchon."
Jongin tertawa bahagia dan mengulurkan tangan untuk menarik Sehun kedalam pelukannya. "Kkamjong? Oh, itu berarti kau akan mendapatkan paruh ayam dan kaki kadal untuk makan malam." Masih memeluk Sehun, Jongin menoleh kearah Luhan, dengan gelengan kepala takjub, wajahnya merona bahagia, dan matanya berkaca-kaca. "Bagaimana bisa?" Hanya itu yang bisa ditanyakan Jongin.
"Nanti," jawab Luhan sambil tersenyum.
.
.
"Well, apa yang terjadi?" Tanya Jongin, sambil mengaduk panci berisi saus spageti diatas kompor. Sehun sedang sibuk dengan puzzle barunya diruang sebelah. "Bagaimana kau bisa membuat Sehun bicara, hyung?"
"Bukan aku yang melakukannya, kami sedang berada ditoko mainan yang baru dibuka, dan disana ada seorang wanita cantik berambut merah yang berdiri dibelakang konter. Aku tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya..."
"Aku tahu siapa dia, Kim Minseok kan."
"Kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Luhan penasaran.
"Belum, tapi Chanyeol sedang berusaha menjodohkan aku dengan wanita itu."
"Chanyeol tidak pernah menyinggung wanita itu padaku," ujar Luhan, yang tiba-tiba merasa tersinggung.
"Kau kan sudah punya pacar."
"Hubunganku dengan Yixing tidak eksklusif."
"Chanyeol bilang Minseok itu tipeku. Usia kami tidak terpaut jauh. Jadi, dia cantik? Itu bagus. Aku rasa aku akan menemuinya dulu sebelum memutuskan apapun..."
"Aku hanya dua tahun darimu, dan kutebak usia kami sama." Kata Luhan jengkel.
Sambil meletakkan sendoknya, Jongin menatap serius kakaknya. "Apa kau mengajak wanita itu berkencan, hyung?"
"Tidak. Ada Yixing disampingku, lagi pula..."
"Kalau begitu dia milikku."
"Kau tidak bisa main klaim seenaknya dengan wanita satu ini," ujar Luhan dengan ketus.
Alis Jongin terangkat. "Kau sudah punya pacar. Secara otomatis kesempatan akan didapatkan oleh pria yang masih bebas."
Bahu Luhan terangkat dengan tidak acuh.
"Lalu apa yang dilakukan Minseok?" Desak Jongin. " bagaimana dia bisa membuat Sehun bicara?"
Luhan menceritakan pada Jongin kejadian ditoko mainan tadi, tentang kerang ajaib dan bagaimana hal itu telah berhasil menciptakan keajaiban untuk Sehun.
"Luar biasa," kata Jongin. "Aku tidak pernah terpikir untuk menggunakan cara semacam itu."
"Itu hanya masalah pemilihan waktu yang tepat. Saat akhirnya Sehun siap untuk bicara, Minseok memberinya cara untuk melakukannya."
"Iya, tapi...apa mungkin Sehun akan mulai bicara berminggu-minggu yang lalu, jika kau atau aku menggunakan cara yang sama?"
"Siapa yang tahu? Memangnya apa maksudmu sebenarnya?"
Jongin memelankan suaranya. "Apa kau pernah berpikir apa yang akan terjadi setelah Sehun tumbuh dewasa? Saat dia mulai membutuhkan seseorang untuk diajaknya bicara mengenai hal-hal yang berkaitan dengan wanita? Maksudku, siapa yang akan mengurus hal-hal semacam itu?"
"Usianya baru enam tahun, Jongin. Belum saatnya kita mengkhawatirkan hal-hal semacam itu."
"Aku khawatir saat-saat itu akan datang lebih cepat daripada yang kita pikirkan. Aku..." jongin terdiam dan menggosok keningnya, seolah ingin mencegah sakit kepala yang akan datang nanti. "Ada sesuatu yang tadinya hendak kutunjukkan padamu setelah Sehun tidur."
"Apa? Apa aku harus mengkhawatirkan sesuatu?"
"Aku tidak tahu."
"Sial, katakan padaku sekarang."
Jongin memelankan suaranya. "Baiklah, aku sedang memeriksa buku PR Sehun untuk memastikan dia sudah menyelesaikan tugas mewarnainya...dan aku menemukan ini." Jongin beranjak untuk mengambil sebuah buku dari atas konter dan mengeluarkan secarik kertas.
"Minggu ini, guru mereka memberi tugas menulis dadakan dikelas," jelas Jongin. "Surat untuk Santa. Ini surat yang dibuat Sehun."
Ekspresi wajah Luhan terlihat datar. "Surat untuk Santa? Sekarang kan masih pertengahan September."
"Sudah banyak tayangan iklan liburan Natal. Dan saat aku pergi ke toko kemarin, banyak diantara mereka akan memasang pohon Natal akhir pekan ini. Semua itu adalah rencana licik pemasaran yang sudah mendunia." Jongin memberikan secarik kertas itu pada Luhan. "Coba saja kau lihat ini.
Dear Santa
Aku hanya ingin satu hal tahun ini
Seorang ibu
Jangan lupa sekarang aku tinggal diPulau Jeju
Terima kasih
Love
Sehun
Luhan terdiam selama setengah menit penuh.
"Seorang ibu," ujar Jongin.
"Iya, aku mengerti." Masih sambil menatap surat itu, Luhan bergumam. "Bagaimana caranya memasukkan seorang ibu ke dalam kaos kaki."
.
.
.
Setelah makan malam, Luhan pergi ke teras depan dengan membawa segelas kopi hangat dan duduk dengan nyaman dikursi kayu. Jongin sedang menidurkan Sehun dan membacakan buku yang mereka beli hari ini.
Luhan bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan dengan Sehun.
Seorang ibu.
Tentu saja itu yang paling diinginkan oleh Sehun. Tidak peduli betapapun kerasnya Luhan dan Jongin mencoba, tapi ada hal-hal yang tidak bisa mereka berdua lakukan untuk Sehun. Dan meskipun ada banyak sekali ayah tunggal yang membesarkan sendiri putri mereka, tapi tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal bahwa ada kalanya seorang gadis lebih membutuhkan sosok ibu.
Mengikuti nasehat psikolog anak, Luhan memajang beberapa foto Zitao dengan menggunakan bingkai yang menarik. Ia dan Jongin sesekali membicarakan Zitao dengan Sehun, untuk membuat anak itu tetap merasakan keterikatan dengan ibunya. Tapi Luhan bisa melakukan lebih dan ia tahu itu. Tidak ada alasan kenapa Sehun harus menjalani sepanjang hidupnya tanpa kehadiran wanita yang mengarahkannya. Yixing adalah kandidat yang mendekati sempurna untuk peran itu. Dan, meskipun dengan kepesimisan Luhan terhadap pernikahan, Yixing sudah menegaskan bahwa ia bersedia menunggu dengan sabar. "Pernikahan kita tidak akan seperti pernikahan orang tuamu," tegas Yixing dengan lembut. "Itu akan menjadi pernikahan kita sendiri."
Luhan memahami itu, bahkan ia juga sependapat. Ia tahu ia tidak seperti ayahnya, yang tidak ragu untuk memukuli anak-anaknya sendiri. Pernikahan orang tuanya yang selalu bergolak, dipenuhi dengan teriakan dan makian, kekerasan serta drama. Versi cinta menurut orang tuanya adalah pertengkaran sambil berteriak-teriak dan perdamaian yang hanya seumur jagung, hal itu juga melibatkan semua komponen terburuk yang mungkin terdapat dalam pernikahan, dan tidak ada satu pun hal baik yang muncul dari semua permasalahan itu.
Luhan memahami bahwa tidak semua pernikahan berlangsung bak bencana tak berujung seperti pernikahan orang tuanya, itu sebabnya ia selalu berusaha bersikap netral terhadap konsep pernikahan. Luhan selalu berpikir jika nanti bertemu dengan orang yang tepat, maka akan ada penegasan tertentu didalam hatinya, keyakinan kuat yang mampu menghapuskan segala jenis keraguan yang saat ini dirasakannya. Sejauh ini, hal itu tidak terjadi bersama Yixing.
Bagaimana jika hal itu tidak akan pernah terjadi dengan wanita manapun? Luhan mencoba berpikir bahwa pernikahan adalah kesepakatan pragmatis dengan seseorang yang kau pedulikan. Mungkin itulah cara terbaik untuk menjalaninya, apalagi jika ada kepentingan anak yang harus dipertimbangkan. Yixing memiliki kepribadian-tenang, penyabar, dan penuh perhatian-yang akan menjadikannya seorang ibu yang hebat.
Luhan tidak percaya dengan segala jenis ilusi tentang romantisme atau belahan jiwa. Ia akan menjadi orang pertama yang akan mengakui bahwa ia memiliki pikiran kaku, yang berpijak pada realitas yang dingin dan keras. Ia lebih suka seperti itu. Apakah adil untuk Yixing jika ia menawarkan pernikahan yang hanya berdasarkan pada pertimbangan praktis? Mungkin saja, selama ia jujur terhadap perasaannya sendiri.
Setelah menghabiskan kopinya, Luhan masuk lagi ke rumah, meletakkan gelas ke tempat pencuci piring, lalu pergi ke kamar Sehun. Jongin sudah menidurkan Sehun dan meninggalkan lampu dalam keadaan menyala.
Mata Sehun sudah kelihatan sangat mengantuk, mulut mungilnya sesekali menguap. Sebuah boneka beruang diletakkan disamping anak itu, mata sipitnya menatap Luhan.
Saat menunduk untuk menatap Sehun, Luhan merasakan sebuah momen saat secara tiba-tiba kau merasakan kesadaran yang begitu jelas tentang siapa dirimu belum lama ini, dan mendapati kau telah berubah sepenuhnya sekarang. Luhan menunduk untuk mencium kening Sehun, seperti yang selalu dilakukannya setiap malam. Luhan merasakan lengan mungil Sehun melingkari lehernya dan mendengar suara Sehun yang mengantuk dan berat, "Aku sayang Luhan samchon." Kemudian berguling miring dan menyuruk ke boneka beruangnya, lalu tertidur pulas.
Luhan berdiri disana sambil mengerjapkan mata, berusaha untuk menyerap efek dari pernyataan tulus dan spontan Sehun. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Luhan merasakan seperti apa rasanya patah hati...bukan patah hati yang menyedihkan atau yang berkenaan dengan hubungan percintaan, tapi patah hati karena hatinya terbuka. Ia tidak pernah tahu perasaan ini sebelumnya, saat ia merasakan dorongan kuat untuk memberikan segenap kebahagiaan pada orang lain yang sangat berarti baginya.
Ia akan mencarikan seorang ibu untuk Sehun, ibu yang sempurna. Ia akan membangun lingkaran orang-orang untuk Sehun.
Biasanya, anak adalah hasil dari terbentuknya sebuah keluarga. Tapi dalam kasus ini, keluarga akan terbentuk karena seorang anak.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thanks buat reviewnya yg bertambah hehe dan maaf gk bisa balas tapi aku baca semua kok ^^ suatu kebahagian ada yang suka ff yang aku remake ini.
Duh baru tahu Jongin sama Xiumin lagi cedera pas liat youtube hari ini diacara penghargaan musik, yg lain dance eh mereka duduk. Moga cepat sembuh buat KaiMin.
Harusnya ini update tadi malem tp gk berhasil2 entah karena sinyal atau yg lain, soalnya saat sinyal kuat pun untuk memasukkan cerita ke document kok susah, gagal trus :/ ada yg tau kenapa.
See u next chap, review again please ^^
