Miracle
.
.
.
Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, Yixing. and chibi Sehun. Please! gk suka? Out don't be hater. Thank u ^^
.
.
Remake dari Lisa kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'
.
.
.
Chapter 5
.
.
.
Setelah adik perempuan Minseok, Sohee, menjemput Minseok dipelabuhan, mereka memutuskan berjalan-jalan dulu. Karena Minseok dan Sohee adalah dua anak yang termuda dalam keluarga Kim, dan usia mereka hanya terpaut satu setengah tahun, apalagi hanya mereka anak perempuan disana maka hubungan mereka selalu lebih dekat dibandingkan dengan saudara mereka yang lain. Mereka bersekolah ditempat yang sama dan hanya beda satu tingkat, menghadiri perkemahan yang sama, berbagi ketertarikan pada idola anak muda yang sama. Sohee menjadi pengiring pengantin pada upacara pernikahan Minseok, dan Sohee pun meminta Minseok untuk menjadi panitia acara pernikahannya nanti dengan petugas pemadam kebakaran setempat yang bernama, Lee Donghae.
"Aku senang kita bisa mencuri waktu berdua saja," kata Sohee saat mereka makan siang direstoran cepat saji. "Begitu aku membawa mu ke rumah, kau akan langsung dikerubuti dan aku sama sekali tidak akan mendapatkan kesempatan untuk berbicara denganmu. Eonni harus menyisihkan sedikit waktu untuk bertemu dengan seseorang, besok malam."
Minseok terdiam saat sedang mengangkat gelas berisi soda ke mulutnya. "Siapa?" Tanyanya dengan cemas. "Kenapa?"
"Teman Donghae Oppa." Nada suara Sohee sengaja dibuat sesantai mungkin. "Pria yang sangat baik, sangat manis..."
"Apa kalian sudah menceritakan rencana pertemuan yang kalian buat kepada pria itu?"
"Belum, aku ingin mengatakannya terlebih dulu padamu, tapi..."
"Bagus. Aku tidak mau bertemu dengannya."
"Kenapa? Apa kau sedang berkencan dengan seseorang?"
"Sohee, apa kau sudah lupa kenapa aku datang ke Busan akhir minggu ini? Untuk memperingati dua tahun kematian Jongdae. Hal terakhir yang aku inginkan adalah bertemu dengan seorang pria."
"Aku pikir ini akan menjadi pemilihan waktu yang sempurna. Sudah dua tahun berlalu. Aku yakin eonni belum pernah sekalipun berkencan sejak Jongdae oppa meninggal, iya kan?"
"Aku masih belum siap."
"Bagaimana kau akan tahu kapan kau siap?" Tanya Sohee. "Apa kau punya alarm yang akan menyala dengan sendirinya setelah kau siap untuk memulai hubungan baru?"
Minseok menatap adiknya dengan jengkel tapi penuh kasih, sambil mengambil potongan kentang gorengnya.
"Aku kenal cukup banyak pria lajang yang tampan diBusan," lanjut Sohee. "Aku bisa dengan mudah menjodohkan eonni dengan salah satunya. Tapi kau justru memilih untuk bersembunyi di Jeju. Setidaknya disana kau bisa membuka bar atau berlengkapan berenang, dimana kau akan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk bertemu dengan pria. Tapi kau malah membuka toko mainan."
"Aku menyukai tokoku. Aku menyukai Jeju."
"Tapi apa eonni merasa bahagia?"
"Aku bahagia," sahut Minseok dengan cepat, "aku baik-baik saja."
"Bagus, sekarang waktunya eonni melanjutkan hidup. Kau baru dua puluh delapan tahun, dan seharusnya kau membuka dirimu untuk kemungkinan bertemu dengan seseorang."
"Aku tidak mau harus berburu pria lagi diluar sana. Kesempatan untuk bertemu dengan cinta sejati hanya satu banding semiliar. Aku pernah mendapatkannya sekali, dan tidak mungkin aku bisa mendapatkan cinta sejatiku lagi."
"Kau tahu apa yang kau butuhkan? Pacar percobaan."
"Pacar percobaan?"
"Iya, seperti saat kau mendapatkan SIM percobaan, agar kau bisa mengasah kemampuan menyetirmu sebelum kau mendapatkan SIM yang sebenarnya. Kau tidak perlu bertemu dengan pria untuk menjalin hubungan yang serius...pilih saja seseorang yang menyenangkan untuk membantumu agar bisa mengambil jalur yang benar lagi."
.
.
Setelah makan siang, mereka mampir ke toko kue atas desakan Minseok. Ia memesan selusin donat pilihan, yang termasuk donat berlapis gula maple, donat hiasan irisan daging bacon, donat dengan taburan remah-remah biskuit oreo, serta donat goreng yang dicelupkan ke cokelat cair.
"Semua donat itu pasti untuk Appa," kata Sohee.
"Iya."
"Eomma akan membunuhmu," ujar Sohee. "Eomma sedang berusaha mati-matian untuk menurunkan kolesterol Appa."
"Aku tahu. Tapi pagi ini Appa mengirimiku pesan, memohon agar aku membawa sekotak donat untuknya."
"Kau memang penurut, eonni."
"Aku tahu. Itu sebabnya Appa paling menyayangiku."
Perjalanan panjang menuju kerumah mereka lalui ditengah jalanan yang padat dengan kendaraan, sementara beberapa meter sebelum sampai kerumah, mobil mereka sudah dikerumuni oleh 3anak kecil yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Minseok. Sarang ,gadis kecil berumur 4 tahun itu langsung berlari kearah Minseok, dan menunjukkan bagian giginya yang baru saja tanggal. Dua bocah laki-laki anak dari kakak pertama dan kedua mereka memaksa Minseok untuk bermain petak umpet. Sambil tertawa Minseok berjanji akan bermain bersama dengan mereka nanti.
Saat memasuki rumah, Minseok langsung menuju ke dapur, dimana sang eomma dan istri-istri dari kakaknya tengah sibuk memasak. Minseok mencium eommanya.
"Donat itu bukan untuk appamu, kan?" Tanya sang eomma, sambil menatap tajam kearah kotak donat yang dibawanya.
"Isinya wortel dan seledri," kata Minseok. "Kotak donat hanya untuk membungkusnya."
"Appamu ada diruang tamu," ujar eommanya. "Yesung membawa home teater kerumah tadi pagi. Sejak saat itu appamu tidak beranjak dari depan TV. Dia bilang sekarang suara tembakan terdengar lebih nyata."
"Appa yang merengek meminta dibelikan itu. Jangan salah kan aku yang tak ingin jadi anak yang tak tahu diri jika tak bisa mengabulkan hal kecil itu untuk orang tuaku." Sahut Yesung yang kebetulan sedang mengambil air minum di kulkas. "Jika appa masih ingin mendengar suara yang lebih nyata lagi. Eomma antarkan saja Appa ke tempat latihan wajib militer."
Minseok hanya bisa tersenyum mendengar perkataan sang kakak lalu beranjak ke ruang tamu.
Ayah Minseok sedang duduk disofa besar yang berada disudut ruang tamu. Saat Minseok masuk ke ruang tamu, tatapan ayahnya langsung terarah ke kotak donat yang ada ditangannya. "Putri kesayanganku," seru ayahnya.
"Halo, Appa." Sambil menunduk, Minseok mencium kepala ayahnya dan meletakkan kotak donat diatas pangkuan sang ayah.
Ayahnya langsung membuka kotak tersebut, menemukan donat berlapis gula maple, dan mulai menikmatinya dengan ekspresi puas. "Ayo, duduklah bersamaku."
Minseok menjawab semua pertanyaan dari ayahnya, tentang kemajuan tokonya, kabar terbaru di Jeju, dan apakah belakangan ini ia bertemu dengan seseorang yang menarik. Minseok ragu-ragu sejenak, yang justru membuat mata ayahnya langsung bersinar dengan penasaran.
"Aha...siapa dia, dan apa pekerjaannya?"
"Oh, dia bukan siapa-siapa, dia...kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Dia sudah punya kekasih. Aku mengobrol dengannya diatas feri dalam perjalanan kesini." Minseok menerawang. "Sepertinya, secara tidak sengaja aku terpikat padanya."
"Memangnya itu buruk?"
"Mungkin tidak, tapi hal itu membuatku bertanya-tanya...bagaimana aku tahu kapan aku siap untuk mulai menjalin hubungan lagi dengan seorang pria?"
"Appa rasa terpikat secara tidak sengaja adalah salah satu tandanya."
"Aku merasa aneh. Aku tertarik padanya sekalipun dia sama sekali tidak seperti Jongdae."
Sebelum jatuh sakit, Jongdae adalah pria yang ceria dan murah hati. Pria yang menghabiskan waktu bersamanya pagi ini adalah pria yang pendiam, serius dan menjaga jarak tapi selalu memeperhatikan dengan seksama. Ia tidak bisa berhenti membayangkan, dalam sudut paling pribadi dipikirannya, tentang keintiman fisik bersama dengan Luhan, dan sepertinya hal itu akan bergolak hingga membuatnya ketakutan. Tapi justru disanalah daya tariknya. Ia ingat ia menginginkan Jongdae karena Jongdae adalah pria yang aman. Tapi sekarang ia mendapati dirinya menginginkan Luhan karena alasan yang justru bertolak belakang.
"Sayang," ujar ayah Minseok. "Aku tidak pernah menjalani apa yang kau lakukan untuk Jongdae. Aku tidak tahu kapan proses berkabung akan berakhir, atau bagaimana kau bisa tahu kapan kau siap untuk melanjutkan hidupmu. Tapi ada satu hal yang aku yakini: pria berikutnya akan berbeda."
"Aku tahu. Aku sudah tahu itu. Aku pikir yang mengganggu adalah kesadaran bahwa aku sudah berubah."
Ayah Minseok menatap putrinya dengan mata membelalak, seolah komentar itu telah mengejutkannya. "Tentu saja kau sudah berubah. Bagaimana mungkin tidak?"
"Ada bagian dari diriku yang tidak mau berubah. Bagian itu ingin aku tetap menjadi orang yang sama seperti saat aku masih bersama dengan Jongdae." Minseok berhenti bicara saat melihat ekspresi wajah ayahnya. "Apakah itu gila? Apa menurut appa aku harus menemui psikiater?"
"Aku rasa kau harus berkencan. Kenakan gaun yang indah, nikmati makanan yang lezat. Berikan ciuman selamat malam pada seseorang."
"Tapi, begitu aku melepaskan diri dari status janda, siapa yang akan mengenang Jongdae? Rasanya akan sama seperti aku kehilangan dia sekali lagi."
Sambil menundukkan kepalanya, Minseok teringat hari-hari terakhir hidup Jongdae, saat dalam keputusasaan ia pernah berharap ia sempat memiliki bayi dengan Jongdae. Dengan begitu ia bisa mempertahankan sebagian diri Jongdae bersama dengannya.
"Sayangku." Suara ayah Minseok terdengar lembut dan penuh perhatian. "Kau sudah banyak belajar dari Jongdae. Hal-hal tentang Jongdae yang mengubahmu menjadi lebih baik...dengan cara itulah dia akan selalu dikenang. Dia tidak akan terlupakan."
.
.
.
"Aku minta maaf," kata Yixing, saat Luhan membawakannya semug teh hangat, Yixing bergelung di sofa, mengenakan pakaian santai. Yixing hendak mengatakan hal lain, tapi ia justru bersin-bersin.
"Tidak masalah," kata Luhan, sambil duduk disamping Yixing.
Setelah mengambil tisu dari kotaknya, Yixing membersihkan hidungnya. "Aku harap ini hanya karena alergi. Aku harap kau tidak akan tertular. Kau tidak perlu tinggal disini untuk menemaniku. Selamatkan dirimu sendiri."
Luhan tersenyum pada Yixing. "Butuh lebih dari sekedar virus untuk menakut-nakutiku." Luhan membuka tutup botol obat, mengeluarkan isinya sebanyak dua butir, dan menyerahkannya pada Yixing.
Yixing mengambil sebotol air mineral dari atas meja, menelan obatnya dan memasang wajah kecewa. "Seharusnya sekarang kita pergi menghadiri pesta yang meriah, aku ingin memamerkanmu pada semua orang."
"Kau bisa memamerkan aku lain kali." Luhan menyelubungi Yixing dengan selimut tebal. "Untuk sekarang ini, fokuskan dirimu untuk segera sembuh. Aku bahkan akan membiarkanmu menguasai remote TV."
"Kau baik sekali." Sambil menghela napas, Yixing bersandar pada Luhan dan bersin lagi. "Akhir pekan seksi kita berantakan."
"Hubungan kita lebih dari sekadar seks."
"Aku senang mendengarmu mengatakannya." Setelah terdiam beberapa saat, Yixing menambahkan. "Itu tanda ketiga dalam daftar."
Luhan berhenti mengganti saluran televisi. "Daftar apa?"
"Mungkin seharusnya aku tidak mengatakannya padamu. Tapi akhir-akhir ini aku membaca sebuah artikel yang membahas lima tanda seorang pria yang sudah siap untuk kata-K."
Luhan menoleh kearah Yixing dengan bingung. "Kata-K?" Tanyanya.
"Komitmen. Dan sejauh ini kau sudah melakukan tiga dari lima hal yang dilakukan oleh pria saat dia sudah siap untuk berkomitmen."
"Oh, ya?" Cetus Luhan dengan hati-hati. "Apa yang pertama?"
"Kau sudah lelah pergi ke bar dan klub malam."
"Sebenarnya, aku tidak pernah suka pergi ke klub malam."
"Kedua, kau memperkenalkan aku pada keluarga dan teman-temanmu. Ketiga, kau baru saja menegaskan bahwa kau berpikir aku lebih dari sekedar alat penyaluran hasrat seksualmu."
"Lalu, apa yang keempat dan kelima?"
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu."
"Kenapa tidak?"
"Karena jika aku mengatakannya padamu. Kau mungkin tidak akan melakukannya."
Luhan tersenyum dan memberikan remote TV pada Yixing. "Baiklah, katakan padaku jika aku sudah melakukan yang keempat. Aku benci jika melewatkan sesuatu." Luhan melingkarkan lengannya diseputar tubuh Yixing, sementara wanita itu mencari-cari acara TV yang menarik untuk ditonton.
Kesunyian diantara mereka biasanya terasa nyaman. Tapi kesunyian kali ini lebih terasa menegangkan dan membingungkan. Luhan sadar Yixing sudah memberinya petunjuk. Yixing ingin meningkatkan hubungan mereka ke tingkat yang lebih serius, wanita itu ingin membahas kemana mereka akan membawa hubungan ini.
Ironisnya, itu pula yang ingin dibahas Luhan dengan Yixing akhir pekan ini. Ada banyak sekali alasan didunia ini yang mendorongnya untuk berkomitmen dengan Yixing, dan mengatakan pada wanita itu bahwa ia memiliki niat yang serius. Karena itu memang benar.
Jika situasi setelah menikah dengan Yixing akan sama seperti situasi saat ia mengencani wanita itu, maka itulah yang diinginkannya. Tidak ada kegilaan, tidak ada jeritan, tidak ada pertengkaran. Harapannya atas segala hal cukup masuk akal. Ia tidak percaya pada takdir atau cinta sejati. Ia menginginkan wanita yang baik dan normal, seperti Yixing? Dengan begitu hidupnya tidak akan penuh dengan kejutan. Mereka akan menjadi pasangan kekasih sekaligus partner dalam menjalani hidup.
Mereka akan menjadi keluarga. Demi Sehun.
"Yixing," kata Luhan, dan ia harus berdeham terlebih dulu karena tenggorokannya tersumbat, sebelum bisa melanjutkan. "Bagaimana menurutmu jika...hubungan kita menjadi eksklusif?"
Yixing berbalik didalam dekapan Luhan untuk menatapnya. "Maksudmu, aku dan kau secara resmi berpasangan? Tidak lagi mengencani orang lain?"
"Iya."
Yixing tersenyum puas. "Kau baru saja melakukan hal yang keempat dalam daftar itu." Kata Yixing, sambil menyurukkan tubuhnya lagi dalam dekapan Luhan.
.
.
.
Luhan tiba satu jam lebih awal pada hari Minggu sore itu. Feri yang akan dinaikinya mengalami penundaan dengan alasan 'perbaikan yang diperlukan demi keselamatan penumpang selama perjalanan', penundaan itu membuat Luhan memiliki banyak waktu, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Orang-orang keluar dari mobil mereka, mondar-mandir digedung terminal untuk membeli makanan. Cuaca saat itu mendung dan berkabut, sesekali gerimis turun.
Merasa lelah dan kesal, Luhan berjalan kearah terminal. Ia kelaparan. Yixing merasa tidak enak badan untuk memasak sarapan tadi pagi, dan yang tersedia diapartemen wanita itu hanyalah sereal.
Akhirnya pekan Luhan bersama Yixing berjalan dengan menyenangkan. Mereka menghabiskan waktu diapartemen untuk mengobrol dan menonton film, kemudian pada Sabtu malam mereka menyantap makanan China melalui layanan pesan antar.
Embusan angin datang, membawa aroma asin segar, yang menyelinap masuk ke balik kerah jaket tipis Luhan seperti jari-jari yang dingin. Rasa merinding menyebar ke kulit lehernya. Luhan menghirup dalam-dalam udara laut, ingin segera berada dirumah, ingin...sesuatu.
Saat memasuki terminal, Luhan berjalan menuku kafe, dan melihat seorang wanita sedang mengangkat tas bepergian menuju ke vending machine terdekat. Senyuman tersungging dibibir Luhan, saat ia melihat helaian panjang rambut seseorang yang ia kenal.
Kim Minseok.
Minseok selalu mengisi pikiran Luhan sepanjang akhir pekan ini. Saat pikirannya sedang santai, Luhan selalu memikirkan bagaimana atau kapan ia akan bertemu dengan Minseok lagi. Rasa penasarannya terhadap Minseok tidak pernah habis. Apa yang disukai Minseok untuk sarapan? Apakah Minseok memiliki hewan peliharaan? Apakah Minseok suka berenang? Saat Luhan mencoba untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu, fakta bahwa ada sesuatu yang harus diabaikannya justru membuat pertanyaan itu semakin melekat diotaknya.
Luhan menghampiri Minseok dari arah samping, melihat kerutan bingung dikening antara dua alis saat Minseok mengamati isi vending machine. Saat merasakan kehadiran Luhan, Minseok menoleh kearahnya. Energi yang ceria dan bersemangat yang diingat Luhan telah berganti dengan kerapuhan yang menusuk langsung ke dalama hatinya. Luhan tercengang oleh reaksi yang dirasakannya terhadap kehadiran Minseok dihadapannya.
Apa yang terjadi selama akhir pekan? Minseok menghabiskannya bersama dengan keluarganya. Apakah terjadi pertengkaran? Masalah?
"Kau tidak akan mau makanan yang ada disana," kata Luhan, dengan anggukan kearah lemari kaca berisi junk food.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak ada satupun makanan yang ada di vending machine memiliki tanggal kadaluwarsa."
Minseok mengamati mesin tersebut, seolah ingin membantah perkataan Luhan.
"Mau makan siang denganku? Menurut agen feri, setidaknya kita masih punya waktu dua jam."
Minseok terlihat ragu-ragu untuk waktu yang cukup lama. "Kau mau makan disini?" Tanyanya.
Luhan menggelengkan kepalanya. "Ada sebuah restoran diujung jalan. Hanya dua menit berjalan kaki dari sini. Kita akan menyimpan tasmu dipenitipan barang dulu."
"Tidak ada salahnya makan siang," ujar Minseok, seolah ia harus meyakinkan dirinya sendiri akan hal itu.
"Aku melakukannya hampir setiap hari." Luhan mengulurkan tangan untuk mengambil tas Minseok. "Biar aku saja yang membawakannya untukmu."
Minseok mengikuti Luhan keluar dari gedung terminal. "Maksudku, tidak ada salahnya kita berdua makan siang. Bersama. Diatas meja yang sama."
"Jika kau mau, kita bisa duduk dimeja yang terpisah."
Luhan mendengar tawa ceria Minseok. "Kita akan duduk dimeja yang sama," ujar Minseok dengan mantap, "tapi tidak bicara."
Saat mereka berjalan ditrotoar, kabut tiba-tiba menebal dan gerimis turun, membuat udara terlihat putih dan basah. "Rasanya seperti berjalan diawan," kata Minseok, sambil menarik napas panjang dan dalam. "Saat masih kecil, aku selalu berpikir bahwa awan pasti memiliki rasa yang sangat lezat. Suatu hari aku meminta semangkuk awan untuk pencuci mulut. Eomma menaruh krim kocok dimangkuk." Minseok tersenyum. "Dan rasanya memang selezat yang aku bayangkan selama ini."
"Tapi apa pada saat itu kau sudah tahu bahwa itu hanya krim kocok?" Tanya Luhan, terkagum-kagum oleh kabut yang membuat rambut disekitar wajah Minseok berubah menjadi ikal lagi.
"Oh, iya. Tapi tidak masalah...intinya adalah ide dari pikiran itu."
"Aku memiliki masalah saat mencoba untuk mencari tahu dimana aku harus menarik batas terhadap Sehun," ujar Luhan. "Dikelas, dia belajar bahwa dinosaurus adalah makhluk nyata, tapi gurunya juga meminta mereka menulis surat pada Santa. Apa yang harus kukatakan pada Sehun tentang apa yang nyata dan apa yang tidak?"
"Apa Sehun sudah bertanya tentang Santa?"
"Sudah."
"Apa yang kau katakan padanya?"
"Aku bilang aku belum memutuskan apakah Santa itu nyata atau tidak, tapi ada banyak orang yang percaya pada Santa, jadi tidak masalah jika dia ingin percaya juga."
"Itu penjelasan yang sempurna," puji Minseok. "Fantasi dan rasa percaya adalah hal yang penting untuk anak-anak. Anak yang diizinkan untuk menggunakan imajinasinya biasanya bisa menarik batas dengan lebih baik antara fantasi dan kenyataan? dibandingkan dengan yang tidak."
"Siapa yang mengatakan itu padamu? Peri yang tinggal dirumah mainan didinding tokomu?"
Minseok menyeringai. "Sindiran yang cerdas." Kata Minseok. "Tidak, bukan Tink yang mengatakannya padaku. Aku banyak membaca. Aku sangat tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan anak-anak."
"Aku harus banyak belajar." Suara Luhan menyiratkan penyesalan. "Aku berusaha mati-matian untuk tidak menghancurkan apa yang masih tersisa dari masa kanak-kanak Sehun."
"Dari apa yang kulihat, kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik." Atas dorongan hati, Minseok meraih tangan Luhan, meremasnya lembut dengan gerakan yang dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan dan keyakinan. Luhan sangat yakin dengan cara itulah ia harus menginterpreatasikannya. Tapi, tangan Luhan balas menggemgam tangan Minseok dan mengubah genggaman spontan itu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih intim. Lebih posesif.
Genggaman tangan Minseok mengendur. Luhan merasakan keraguan Minseok dengan sangat jelas, seolah itu adalah keraguannya sendiri, kenikmatan yang tak diinginkan karena tangan mereka terasa sangat pas dengan satu sama lain.
Tekanan antara kulit dengan kulit, hal yang sangat biasa. Tapi seolah mereka memasang tiang gantungan diatas kepala mereka sendiri. Rasanya Luhan tidak bisa menilai seberapa banyak reaksinya terhadap Minseok yang hanya berupa reaksi fisik dan seberapa banyak yang...lain. semua seolah menyatu dengan cara yang baru dan mendalam.
Minseok melepaskan genggamannya.
Tapi Luhan masih merasakan jejak dan bentuk tangan Minseok, seolah pori-porinya mulai menyerap Minseok.
Tak ada satupun dari mereka yang bicara, saat mereka berjalan bersama ke restoran.
Seorang pelayan yang tidak acuh datang untuk mencatat pesanan saat mereka sudah duduk didalam restoran yang menghadap langsung ke Selat.
Luhan dan Minseok memesan sebotol soju untuk menghangatkan badan dari dinginnya udara.
Saat ini rambut lembab Minseok sudah kembali ke bentuk asalnya, ikal yang berantakan dan zig-zag. Luhan bisa dengan mudah terobsesi oleh rambut indah itu. Jelas sekali tidak ada gunanya berusaha mengabaikan ketertarikannya terhadap Minseok. Sepertinya segala hal yang disukainya dari seorang wanita, termasuk hal-hal yang sebelumnya tidak ia sadari disukainya, telah terangkum dalam satu buket yang sempurna dalam diri Minseok.
Sebelum sipelayan pergi, Luhan bertanya apakah ia bisa meminjam pulpen, dan pelayan itu memberikan pulpen cadangan miliknya.
Minseok mengamati, dengan alis terangkat sedikit, saat Luhan menuliskan sesuatu diatas serbet kertas dan menyerahkannya padanya.
Bagaimana akhir pekanmu?
Senyuman tersungging dibibir Minseok. "Kita tidak perlu mengikuti aturan tidak boleh bicara," jelas Minseok pada Luhan. Setelah menurunkan serbetnya, Minseok menatap Luhan sementara senyumannya memudar. Helaan napas pelan terlontar dari mulutnya, seolah ia baru saja selesai lari cepat. "Jawabannya adalah, aku tidak tahu." Sambil memasang wajah sedih, Minseok mengangkat tangannya dengan telapak tangan menghadap ke atas, seolah ingin menyiratkan bahwa masalahnya amat sangat rumit. " Bagaimana dengan akhir pekanmu?"
"Aku juga tidak tahu."
Pelayan datang dengan membawa minuman mereka, dan pesanan makan siang mereka. Setelah pelayan pergi Minseok menyesap sojunya.
"Kau suka minum?" Tanya Luhan.
Minseok mengangguk sekali dan menjilat bibir bawahnya, jilatan lidah yang membuat denyut nadi Luhan terlonjak dibeberapa tempat sekaligus. "Ceritakan padaku tentang akhir pekanmu," pinta Luhan.
"Hari sabtu kemarin adalah peringatan dua tahun kematian suamiku." Mata gelap Minseok bertemu dengan mata Luhan melalui tepi gelasnya. "Aku tidak mau sendirian. Aku terpikir untuk mengunjungi orangtua suamiku, tapi...hanya dia satu-satunya kesamaan yang kami miliki, jadi...aku pergi mengunjungi keluargaku. Sepanjang akhir pekan, aku dikelilingi begitu banyak orang, tapi aku tetap merasa sendirian. Itu sama sekali tidak masuk akal."
"Tidak," sanggah Luhan dengan suara pelan, "aku mengerti seperti apa rasanya."
"Peringatan tahun kedua berbeda dengan peringatan tahun pertama. Yang pertama..." Minseok menggelengkan kepalanya dan membuat gerakan kecil dengan tangannya, semacam gerakan tidak acuh. "Yang kedua...membuatku menyadari bahwa ada hari-hari dimana aku lupa memikirkan dia. Dan itu membuatku merasa bersalah."
"Menurutmu apa yang akan dikatakan suamimu tentang hal itu?"
Dengan ragu-ragu, Minseok tersenyum kedalam gelasnya. Dan seketika itu juga Luhan merasakan tikaman kecemburuan yang mengejutkan terhadap pria yang masih bisa memancing senyuman dari Minseok, sekalipun sudah tidak ada lagi didunia ini. "Jongdae akan memintaku untuk tidak merasa bersalah," jawab Minseok. "Dia akan mencoba membuatku tertawa."
"Seperti apa dia?"
Minseok menenggak sojunya lagi sebelum menjawab, "Jongdae adalah orang yang optimis. Dia bisa mengatakan padamu sisi baik dari semua hal. Bahkan dari penyakit kanker."
"Aku orang yang pesimis," kata Luhan. "Walau sesekali bertindak positif."
senyuman Minseok berkembang menjadi seringaian. "Aku suka orang pesimis. Orang-orang seperti itulah yang selalu membawa jaket keselamatan saat menaiki kapal." Minseok memejamkan matanya. "Oh, aku sudah mulai merasa mabuk."
"Tidak masalah. Aku akan memastikan kau naik feri."
Tangan Minseok bergeser ke seberang meja. Minseok membiarkan bagian belakang tangannya yang setengah mengepal menyentuh tangan Luhan, gerakan sederhana yang Luhan sendiri tidak tahu bagaimana harus menginterpretasikannya. "Aku berbicara dengan Appa ku akhir pekan ini," ujar Minseok. "Dia tidak pernah menjadi tipe orang tua yang suka mendikte...bahkan, saat aku tumbuh dewasa, aku mungkin lebih bisa memberikan nasihat pada orangtuaku. Tapi kemarin appa bilang aku harus berkencan dengan seseorang. Berkencan. Mereka sudah tidak menggunakan istilah itu lagi sekarang."
"Memangnya apa sebutannya sekarang?"
"Aku rasa, pacaran. Apa yang biasanya kau katakan pada Yixing, saat kau ingin menghabiskan akhir pekan bersama dengannya?"
"Aku akan bertanya apakah aku bisa menghabiskan akhir pekan bersama dengannya." Luhan membalikkan tangannya, sehingga bagian telapaknya menghadap ke atas. "Lalu apa kau akan menuruti nasihat appa mu?"
Minseok mengangguk dengan enggan. "Tapi aku selalu membenci seluruh prosesnya," ujarnya dengan serius, sambil menatap gelas minumannya. "Bertemu dengan orang-orang baru, merasakan kecanggungannya, keputusasaan karena harus menghabiskan sepanjang malam dengan seseorang yang sudah kau tahu sejak lima menit pertama bahwa dia pria brengsek. Aku berharap bisa melewatkan seseorang yang tidak aku inginkan. Bagian terburuknya adalah saat kehabisan bahan pembicaraan." Tanpa sadar, Minseok mulai memainkan tangan Luhan, dengan tatapan kosong menyusuri setiap lekuk jari-jarinya. Luhan merasakan kenikmatan sentuhan Minseok hingga ke sepanjang lengannya, mengirimkan getaran bergelenyar hingga ke sekujur tubuhnya.
"Aku tidak bisa membayangkan kau kehabisan bahan pembicaraan," ujar Luhan.
"Oh, hal semacam itu pernah terjadi. Apalagi jika orang yang kuajak bicara terlalu sopan. Percakapan yang baik selalu melibatkan keluhan. Aku suka berbagi kejengkelan dan keluhan dengan orang lain."
"Apa keluhan terbesarmu?"
"Menelepon layanan pelanggan dan tidak pernah ditanggapi oleh manusia, karena yang menjawab selalu mesin."
"Aku benci jika pelayan mencoba mengingat apa pesananmu dan bukannya menuliskannya. Karena mereka hampir tidak pernah membawakan pesanan yang tepat. Dan setelah akhirnya mereka menyajikan makanan diatas meja, aku sudah terlanjur kesal sehingga tidak bisa menikmatinya."
"Aku benci jika orang berteriak saat menggunakan ponsel."
"Aku benci dengan pernyataan 'tidak bermaksud menyindir'. Itu tidak ada gunanya."
"Terkadang aku mengatakannya."
"Jangan lakukan. Pernyataan itu membuatku sangat kesal."
Minseok menyeringai. Kemudian, sepertinya Minseok mulai menyadari bahwa sejak tadi ia memainkan tangan Luhan, karena tiba-tiba saja wajah Minseok merona dan ia langsung menarik tangannya. "Apa Yixing orang yang menyenangkan?"
"Iya. tapi aku bisa menoleransinya." Luhan mengambil gelas sojunya dan menghabiskan isinya dalam sekali tenggak. "Teoriku tentang bertemu orang adalah," ujar Luhan, "jangan membuat kesan pertama yang sangat bagus. Karena kau harus selalu mempertahankan kesan pertamamu, dan itu sangatlah sulit."
"Iya, tapi jika kau tidak membuat kesan pertama yang sangat bagus, kau mungkin tidak akan pernah memiliki kesempatan kedua."
"Aku pria lajang dengan pekerjaan mapan," ujar Luhan. "Aku selalu mendapatkan kesempatan kedua."
Minseok tertawa.
Pelayan kembali datang, "tambah minumannya?" Dan bertanya apa mereka akan kembali memesan minuman saat melihat botol soju mereka sudah kosong.
"Aku harap aku bisa," ujar Minseok dengan penuh penyesalan, "tapi tidak mungkin."
"Kenapa tidak?" Tanya Luhan.
"Aku sudah nyaris tak sadarkan diri." Untuk menunjukkannya, Minseok memutar bola matanya.
"Kau hanya perlu berhenti minum saat kau sudah benar-benar tidak sadar," kata Luhan, lalu mengangguk ke pelayan. "tambah lagi."
"Apa kau mencoba membuatku mabuk?" Tanya Minseok setelah pelayan pergi, dan ia memberikan tatapan curiga yang dibuat-buat.
"Iya. Rencanaku adalah membuatmu mabuk, kemudian membawamu menikmati perjalanan feri yang liar dan gila." Luhan mendorong segelas air mineral ke arah Minseok. "Minum ini sebelum kau memulai ronde yang berikutnya."
Sementara Minseok meminum air mineral, Luhan menceritakan akhir pekannya bersama dengan Yixing, dan daftar yang dimiliki Yixing tentang tanda-tanda pria yang sudah siap untuk berkomitmen. "Tapi dia tidak mau mengatakan padaku apa tanda kelimanya," kata Luhan. "Menurutmu apa?"
Saat Minseok memikirkan kemungkinannya, wajahnya menampakkan serangkaian ekspresi yang menggemaskan: mengernyitkan hidung, menyipitkan mata, menggigit bibir bawahnya. "Berburu rumah?" Ujar Minseok. "Atau membahas tentang kemungkinan memiliki anak?"
Luhan meringis mendengar hal itu. "Aku sudah punya Sehun. Untuk saat ini, itu sudah cukup."
"Bagaimana dengan nanti?"
"Aku tidak tahu. Aku ingin memastikan aku bisa membesarkan Sehun dengan benar, sebelum aku memikirkan untuk memiliki anak lagi."
Tatapan Minseok terlihat bersimpati. "Kehidupanmu banyak berubah setelah kedatangan Sehun, iya kan?"
Luhan mencoba mencari-cari cara untuk menjabarkannya, merasa aneh dengan keinginannya untuk terhubung dengan Minseok. Ia tidak pernah memiliki seseorang yang bisa diajak membahas perasaannya, dan tidak pernah melihat ada gunanya. Menerima simpati hanyalah satu langkah menuju dikasihani, yang baginya merupakan takdir yang jauh lebih buruk daripada kematian. Tapi Minseok memiliki cara dalam mengajukan pertanyaan yang membuatnya ingin menjawab.
"Aku melihat segalanya dengan cara yang berbeda," ujar Minseok. "Aku mulai berpikir tentang dunia macam apa yang akan dijalani Sehun. Aku mengkhawatirkan apa yang dilihatnya ditelevisi dan apakah ada bahan beracun dimainannya..." Luhan terdiam. "Apa kau pernah ingin memiliki anak dengan...Dia?" Luhan mendapati dirinya enggan untuk menyebutkan nama suami Minseok, seolah nama itu adalah ganjalan tak kasatmata yang ada diantara mereka.
"Dulu aku pikir aku menginginkannya. Tapi sekarang tidak. Aku pikir itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa aku sangat menyukai toko mainan...dengan begitu aku bisa selalu dikelilingi oleh anak-anak tanpa terikat pada tanggung jawab sebagai oarang tua."
"Mungkin kau akan mendapatnya jika kau menikah lagi."
"Aku tidak akan pernah menikah lagi."
Luhan memiringkan kepalanya untuk menyatakan pertanyaan yang tak terucapkan, dan mengamati Minseok dengan lekat.
"Aku sudah pernah menikah sekali," kata Minseok, " dan aku tidak pernah menyesalinya, tapi ...itu sudah cukup. Jongdae berjuang melawan penyakit kankernya selama satu setengah tahun, dan itu telah merenggut semua hal yang kumiliki...terus mendampinginya, kuat demi dirinya. Sekarang, tidak banyak yang tersisa didalam diriku untuk diberikan pada orang lain. Aku bisa bersama dengan seseorang, tapi bukan menjadi milik seseorang. Apa itu masuk akal?"
Untuk pertama kalinya dalam kehidupan dewasanya, Luhan ingin memeluk seorang wanita karena alasan yang sama sekali tidak egois. Bukan karena gairah, tapi untuk menawarkan kenyamanan. "Cukup masuk akal jika kau merasa seperti itu," ujar Luhan dengan lembut. "Tapi mungkin tidak akan bertahan selamanya."
Mereka menyelesaikan makan siang dan kembali ke kapal, hujan turun dengan sangat ringan dan perlahan. Saat mereka berjalan bersama, Luhan tergoda menggandeng tangan Minseok. Tapi kontak biasa tidak lagi menjadi pilihan...karena tidak ada yang biasa dengan caranya menginginkan Minseok.
Mungkin ketertarikannya terhadap Minseok hanyalah dampak dari komitmen yang baru saja dibuatnya dengan Yixing, dan keinginan dibawah sadarnya untuk mencoba mencari jalan untuk menyelamatkan diri... tetaplah dijalan yang benar, tegas Luhan mengingatkan dirinya sendiri. Jangan terpengaruh.
Mereka kembali duduk dikursi yang bersebelahan dan kembali melanjutkan percakapan tentang segala hal. Kebisuan mereka yang sesekali terjadi terasa seperti jeda mendamaikan setelah berhubungan seks, saat kau berbaring dalam kondisi puas dan berkeringat.
Luhan berusaha keras untuk tidak membayangkan berhubungan seks dengan Minseok. Membawa Minseok ke tempat tidur dan melakukan segalanya dengan wanita itu, percintaan yang cepat dan lambat, gaya percintaa yang diimprovisasi, berbaring puas setelahnya, kemudian mengulanginya lagi. Ia ingin Minseok berada dibawahnya, berada diatasnya, bergelung ditubuhnya. Ia ingin melihat kulit pucat Minseok dan menyusurinya dengan tangan dan bibir, menemukan setiap pola rahasia, setiap getaran dan setiap denyutan...
Saat kapal feri berlabuh. Luhan menunggu didek ruang duduk penumpang lebih lama daripada yang seharusnya, enggan untuk berpisah dari Minseok. Luhan menjadi salah satu orang terakhir yang turun ketempat parkir dan masuk ke mobilnya. Langit tampak gelap dan diselingi dengan kilat. Minseok merasa lega bisa kembali kepulau, dimana udaranya terasa lebih mudah dihirup, lebih lembut, dan ketegangan yang terasa didaratan sudah lenyap.
Saat Luhan menoleh kearah Minseok, setiap sel didalam tubuhnya menolak meninggalkan wanita itu.
"Apa kau membutuhkan tumpangan untuk pulang?" Tanya Luhan.
Tanpa bersuara Minseok menggelengkan kepalanya, rambut ikal merahnya bergerak diatas bahu. "Mobilku terparkir disekitar sini." Jawab Minseok bohong.
"Minseok," ujar Luhan dengan hati-hati. "Mungin lain kali..."
"Tidak," sela Minseok, senyumannya menampakkan penyesalan. "Tidak ada ruang untuk pertemanan. Tidak ada masa depannya."
Minseok memang benar.
Satu-satunya yang tersisa hanyalah mengucapkan selamat tinggal, sesuatu yang biasanya sangat ahli dilakukan Luhan. Tapi kali ini terasa sangat sulit. 'Sampai ketemu nanti' atau 'jaga dirimu' terlalu biasa, terlalu tidak bermakna. Tapi indikasi apapun, yang menyiratkan betapa berartinya sore mereka bersama Luhan, tidak akan baik untuk mereka berdua.
Pada akhirnya, Minseok memecahkan dilema yang dihadapi oleh Luhan dengan menyingkirkan keharusan mengucapkan selamat tinggal. Minseok tersenyum saat melihat keragu-raguan Luhan dan menempatkan tangan didada Luhan untuk mendorongnya dengan lembut dan terkesan bergurau.
"Pergi sana," kata Minseok.
Dan Luhan menurutinya, tanpa menoleh ke belakang, menuruni tangga sempit yang mengarah ke tempat parkir mobil, dengan langkah yang bergema. Luhan merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat, ditempat tadi tangan Minseok menyentuhnya. Setelah masuk ke mobilnya, Luhan menutup pintu, dan memasang sabuk pengamannya. Saat menunggu sinyal untuk maju, Luhan merasa seolah ia bari saja kehilangan sesuatu yang sangat penting.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Dan semakin banyak yg suka novel Lisa kah? :3 and btw tau gk sih entah ini kebetulan atau tidak novel karangan Lisa kleypas itu laris manis ditoko buku dikotaku padahal saat beli buku seri keluarga Hathway ada dua yang gk aku beli karena duitnya mepet -_- padahal belinya pas diskon besar-besaran, pas mo beli lagi pas ada diskon berikutnya gk ada satupun karangan Lisa yang aku temuin, dan ngecek diharga normal pun gk ada padahal biasanya ada. Bahagia juga novel Lisa laris tp sedih blom dapat koleksi yg baru lagi.
Thanks y yg udah komen, yg juga jd ikutan beli buku Lisa kleypas :3 kalian luar biasa.
Bahagia itu sederhana, baca komen kalian ;)
See u next chap, ini chap spesial karena harus nya 2chap dan ini aku jadikan satu loh. Have nice weekend every body :* yg ngarep kaimin, entahlah kyknya ada tp minim itupun tak ada yg spesial. see u chingu ^^
