Miracle
.
.
.
Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, Yixing. and chibi Sehun. Please! gk suka? Out don't be hater. Thank u ^^
.
.
Remake dari Lisa kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'
.
.
.
Chapter 6
.
.
.
Musim gugur baru saja datang, toko Minseok sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sepi pengunjung, karena banyak pelanggan datang silih berganti untuk membeli kostum Halloween beserta aksesorinya, dan untuk membeli hadiah Natal lebih awal. Bahkan, Minseok baru saja memperkerjakan seorang lagi sebagai penjaga toko paruh waktu.
"Mungkin sekarang kau bisa bersantai sedikit," kata Taeyeon pada Minseok. "Kau tahu, libur sehari tidak akan membunuhmu."
"Aku menikmati setiap waktuku ditoko."
"Nikmatilah waktumu diluar toko," saran Taeyeon. "Kau membutuhkan percakapan dengan seseorang yang tingginya lebih dari seratus dua puluh sentimeter." Sebuah ide terlintas dalam pikiran Taeyeon. "Apa Park Chanyeol sudah mengenalkanmu pada Kim Jongin?"
"Bagaimana kau bisa tahu tentang hal itu?"
Wanita itu tampak sangat puas dengan dirinya sendiri. "Kita hidup dipulau kecil, Minseok. Gosip tidak bisa pergi kemana-mana kecuali dilingkaran kita juga. Nah...apa kau sudah bertemu dengannya?"
Minseok menyibukkan dirinya sendiri dengan mengatur ulang bunga lavender didalam vas yang berbentuk seperti teko susu. Ide berkencan dengan adik Luhan tidak bisa diterima oleh hatinya. Setiap kemiripan kecil akan membuat pertemuan itu terasa menyesakkan.
Dan semua itu tidak akan adil untuk Jongin. Minseok merasa ia tidak akan pernah bisa menghargai Jongin apa adanya, karena ia akan selalu membandingkan Jongin dengan Luhan, dan mencari perbedaan yang tidak berkenan dihatinya.
Karena intinya adalah, Jongin bukanlah Luhan.
"Aku sudah mengatakan pada Chanyeol dan Baekhyun bahwa saat ini aku sedang tidak tertarik untuk berhubungan dengan siapapun," jelas Minseok.
"Tapi Minseok," ujar Taeyeon, masih berkeras, "Kim Jongin adalah pria muda yang paling menarik dan menyenangkan dimuka bumi ini. Dan dia tidak pernah terlibat hubungan serius dengan wanita manapun, karena dia terlalu sibuk dengan kebun anggurnya. Dia tipe pria romantis. Kau tidak akan mau melewatkan kesempatan seperti ini."
Minseok memberikan senyuman skeptis pada Taeyeon. "Apa kau benar-benar berpikir pria lajang yang masih muda dan menarik itu mau berkencan denganku?"
"Kenapa tidak?"
"Aku seorang janda. Ada status yang menempel pada namaku."
"Memangnya kenapa?" Taeyeon mendecakkan lidahnya dengan tidak sabar. "Demi Tuhan, menjadi seorang janda bukan berarti kau harus terbebani dengan status itu. Justru itu berarti kau adalah wanita yang lebih berpengalaman, seorang wanita yang pernah dicintai. Kita tahu bagaimana cara menghargai hidup. Percayalah padaku, Kim Jongin sama sekali tidak akan keberatan dengan statusmu sebagai seorang janda." Jawab Taeyeon yang sama pernah merasakan perasaan Minseok.
Minseok tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sambil mengambil tasnya dari belakang konter, ia berkata, "aku akan ke Happines café, apa kau ingin kudapan juga?"
"Pesankan apapun yang ada keju didalamnya, aku sedang menginginkan itu akhir-akhir ini."
Happines café kafe baru yang merupakan milik Luhan. Minseok sering mampir kesana, bukan untuk membeli kopi yang terkenal enak disana tapi dia lebih tertarik pada kue dan makanan yang merupakan menu pendamping saat seseorang minum kopi.
"Silahkan menunggu disana, nyonya. Saya akan membawakan pesanan anda sebentar lagi."
Minseok duduk disamping jendela dan menunggu sambil mengamati orang-orang disekitarnya.
Tidak lama kemudian gadis pengantar pesanan datang membawa pesanannya yang terbungkus dalam kantong kertas untuk dibawa pulang. "Ini pesanan anda."
"Terima kasih."
"Dan, ini..." gadis tadi memberikan serbet kertas pada Minseok. "Seseorang memintaku untuk memberikan ini pada anda."
"Siapa?" Tanya Minseok dengan bingung, tapi gadis itu sudah bergegas pergi untuk melayani pembeli yang lain.
Tatapan Minseok beralih ke serbet kertas putih ditangannya. Seseorang menulis diatas serbet tersebut.
Hai.
Minseok mengangkat kepalanya dengan bingung, dan mengamati ruang duduk lainnya. Napasnya tertahan saat ia melihat Luhan dan Sehun duduk dimeja yang ada disudut. Tatapan Luhan mengunci matanya, dan perlahan senyuman tersungging dibibir pria itu.
Serbet kertas yang berisi pesan Luhan teremas ditangan Minseok, jari-jarinya mengepal dengan sangat kuat. Respons berupa perasaan bahagia bangkit didalam dadanya, hanya dengan melihat Luhan lagi. Sial. Ia telah menghabiskan waktu selama berminggu-minggu untuk berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa selingan yang terjadi antara dirinya dan Luhan tidaklah seajaib kelihatannya. Bahkan beberapa kali ke tempat ini Minseok tak pernah melihat Luhan.
Tapi itu tetap tidak bisa menjelaskan kebiasaan baru jantungnya yang berhenti berdetak atau justru berdetak lebih cepat setiap kali ia melihat pria bermata rusa itu, ia juga sering terbangun dengan selimut terlilit dikakinya dan pikirannya dipenuhi kabut menyenangkan karena memimpikan Luhan.
Saat Luhan berdiri dan berjalan ke arahnya sambil menggandeng Sehun, Minseok dipenuhi oleh keterpesonaan yang dahsyat dan menggetarkan. Rona merah menjalar ke seluruh permukaan kulitnya, bahkan hingga ke garis rambutnya. Jantungnya berdetak liar. Ia tidak bisa menatap Luhan secara langsung, tidak bisa sepenuhnya memalingkan wajah dari pria itu, hanya berdiri dalam kebingungan dengan mata yang tidak fokus dan kantong makanan ditangan.
"Hai, Sehun," Minseok berhasil menyapa gadis kecil dengan wajah berseri-seri itu, yang rambutnya dijalin menjadi dua kepangan yang sempurna. "Apa kabarmu?"
Sehun mengejutkan Minseok dengan berlari menghampirinya dan memeluknya. Secara otomatis Minseok melingkarkan lengannya yang bebas diseputar tubuh Sehun yang mungil.
Sambil memeluk pinggang Minseok, Sehun menengadahkan kepalanya dan tersenyum pada Minseok. "Kemarin aku kehilangan satu gigiku," ujar Sehun dengan ceria, lalu ia menunjukkan ompong dideretan bawah giginya.
"Itu hebat sekali," seru Minseok. "Sekarang kau memiliki tempat untuk menyelipkan dua sedotan sekaligus saat kau minum jus."
"Apa kau akan kembali lagi ke tokomu? Kami berniat untuk berkunjung ke tokomu." Tanya Luhan pada Minseok.
"Ada mainan yang Sehun inginkan?"
"Aku butuh sayap peri," kata Sehun pada Minseok. "Untuk Hallowen."
"Kau akan menjadi peri? Aku punya tongkat, mahkota dan setidaknya setengah lusin sayap yang berbeda. Apa kau mau berjalan bersamaku ke toko?"
Sehun mengangguk dengan bersemangat dan menggandeng tangan Minseok.
"Biar aku saja yang membawakan kantong itu untukmu," ujar Luhan.
"Terima kasih." Minseok menyerahkan kantong kertasnya pada Luhan, dan mereka meninggalkan cafe itu bersama-sama.
Sepanjang perjalanan, Sehun tidak henti-hentinya bicara dan menampakkan sikap ceria, mengatakan pada Minseok tentang kostum Hallowen yang akan dipakai oleh teman-temannya (bayangkan saja dijeju mereka sudah jadi masyarakat urban yang biasa merayakan hallowen ya ;) ), jenis permen seperti apa saja yang anak itu harapkan akan didapatnya. Meskipun Luhan tak banyak bicara dan berjalan dibelakang mereka, tapi Minseok sangat menyadari keberadaan pria itu.
Segera setelah mereka memasuki toko, Minseok langsung mengajak Sehun ke rak yang berisi sayap peri, semua perhiaskan pita, berkelap-kelip, dan dicat dengan warna-warna ceria. "Ini dia."
Taeyeon menghampiri mereka. "Apa ada yang hendak berbelanja sayap peri? Menyenangkan sekali."
Sehun menatap bingung kearah Taeyeon, yang mengenakan topi corong bertudung dan rok panjang yang megar, serta membawa tongkat sihir. "Kenapa kau berpakaian seperti itu? Sekarang kan belum hallowen."
"Ini kostumku jika ada pesta ulang tahun yang dirayakan ditoko ini."
"Dimana?" Tanya Sehun, sambil menoleh ke sekeliling toko dengan sorot tertarik dan bersemangat.
"Ada ruangan pesta dibagian belakang toko. Apa kau mau melihat ruangannya? Ruangan itu sudah didekorasi."
Setelah meminta izin dari Luhan, Sehun pergi dengan riang bersama dengan Taeyeon kebelakang toko, sambil melompat-lompat dan bersenandung.
Luhan memandangi kepergian Sehun dengan seringaian penuh kasih. "Dia melompat-lompat sepanjang waktu," kata Luhan. Tatapannya kembali ke Minseok. "Kami akan tinggal lama disini. Silahkan makan makananmu dulu." Kata Luhan menunjuk kantong makanan yang Minseok beli tadi dengan dagunya.
"Oh, tidak masalah. Apa..." Minseok merasa seperti baru saja menelan sesendok penuh madu kental, dan harus menelannya berulang kali sebelum sepenuhnya meluncur dari tenggorokannya. "Apa kabar?"
"Baik. Kau?"
"Aku sangat baik," kata Minseok. "Kau dan Yixing..." Minseok hendak mengatakan 'bertunangan' tapi kata itu tersangkut ditenggorokannya.
Luhan mengerti apa yang hendak ditanyakan oleh Minseok. "Belum." Luhan terlihat ragu-ragu. "Aku membawakan ini untukmu." Ia meletakkan sebuah termos dengan tutup yang bisa dijadikan cangkir. Sebelumnya Minseok tidak menyadari Luhan membawanya.
"Isinya kopi?" Tanya Minseok.
"Iya. Kopi buatanku. Aku tahu kau tidak pernah membeli kopi ditokoku jadi aku membuat yang spesial untuk kau coba."
Hadiah itu membuat Minseok lebih senang daripada yang seharusnya. "Kau memberikan pengaruh buruk," katanya dengan nada bergurau.
Suara Luhan terdengar parau. "Aku harap begitu."
Itu adalah momen yang sangat menyenangkan bagi Minseok, berdiri disana bersama dengan Luhan, membayangkan selama satu detik yang terlarang seperti apa rasanya mengambil satu langkah maju dan menghapuskan jarak yang ada diantara mereka. Untuk menekankan tubuhnya ketubuh Luhan, ke kekuatan dan kehangatan tubuh Luhan dan merasakan Luhan mendekapnya dengan erat.
Sebelum Minseok bisa mengucapkan terima kasih, Taeyeon kembali bersama dengan Sehun. Gadis kecil itu, yang merasa senang dengan ruang pesta yang sudah didekorasi dan kue ulang tahun berbentuk istana, lengkap dengan lilin dan menara, langsung menghampiri Luhan dan menuntut agar Luhan melihatnya juga. Luhan tersenyum dan membiarkan dirinya diseret oleh Sehun.
Akhirnya, Luhan dan Sehun mengumpulkan barang-barang yang mereka beli diatas konter: satu set sayap peri, sebuah mahkota, dan rok balet berwarna hijau-ungu. Taeyeon yang mengurus pembayarannya, sambil berceloteh riang, sementara Minseok sibuk membantu pelanggan yang lain.
Minseok memanjat tangga lipat untuk mencapai boneka Frozen yang disimpan dilemari. Setelah mengambil boneka, princess Elsa, Minseok mengatakan pada pelanggannya bahwa stok boneka Princess Anna sudah habis. "Aku bisa memesannya lagi dan meminta diantarkan kesini dalam waktu seminggu," kata Minseok.
Pelanggan itu terlihat ragu-ragu. "Apa kau yakin? Aku tidak mau membeli yang lain, jika aku tidak bisa mendapatkan satu set secara utuh."
"Jika kau mau, kami bisa menelepon pihak distributor dan memastikan mereka akan mengirimkan boneka itu kesini." Minseok menoleh ke meja kasir. "Tae-"
"Aku mencatat nomornya disini," sahut Taeyeon yang sebenarnya mendengar percakapan mereka sambil mengeluarkan secarik kertas yang sudah dilaminating. Taeyeon tersenyum saat mengenali pelanggannya. "Halo, Tiffani. Apa ini akan dijadikan hadiah untuk Yeri? Aku tahu betapa dia sangat menyukai filmnya."
"Dia menonton film itu setidaknya lima kali." Jawab wanita itu sambil tertawa, lalu berjalan kekonter saat Taeyeon memencet tombol telpon.
Sambil membawa setumpuk boneka baru dilengannya, Minseok kembali menaiki tangga lipat dan mulai menggantikan boneka yang tadi diambilnya dilemari. Minseok berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, saat beberapa kotak ditangannya bergeser.
Tiba-tiba sepasang tangan memegangi pinggang Minseok, untuk menyeimbangkan tubuhnya. Minseok membeku sejenak, saat ia menyadari Luhan sudah berdiri dibelakangnya. Tekanan sentuhan Luhan terasa kokoh, kuat dan sopan. Tapi kehangatan tangan Luhan meresap masuk ke lapisan kaus katunnya yang tipis, dan membuat denyut nadinya menggila. Minseok berubah tegang dibawah tekanan tangan Luhan yang memegangi tubuhnya.
"Apa aku boleh memegangi kotak-kotak itu untukmu?" Tanya Luhan.
"Tidak perlu, aku...aku bisa mengatasinya."
Tangan Luhan diturunkan dari pinggang Minseok, tapi Luhan tetap berdiri didekat Minseok.
Minseok menaiki sisa anak tangga dengan sedikit terhuyung dan meletakkan kotaknya dengan asal kedalam lemari. Setelah menuruni tangga lipat, Minseok berbalik untuk menghadap Luhan. Mereka berdiri terlalu dekat. Bahkan wangi yang menguar dari tubuh Luhan menggoda setiap indra Minseok. "Terima kasih," Minseok berhasil mengatakannya. "Dan terima kasih untuk kopinya. Bagaimana caranya aku mengembalikan termosnya padamu?"
"Nanti aku akan kembali untuk mengambilnya."
Setelah mengurus pembayaran pelanggan yang lain, Taeyeon menghampiri mereka. "Luhan, aku sedang berusaha meyakinkan Minseok untuk bertemu dengan Jongin. Apa menurutmu mereka bisa memiliki waktu yang menyenangkan bersama?"
Wajah Sehun bersinar mendengar pertanyaan itu. "Kau pasti akan sangat menyukai Jongin samchon-ku," ujar Sehun pada Minseok. "Dia lucu. Dan dia memiliki banyak DVD animasi, Imo pasti terkejut melihatnya."
"Wah, itu memang dua persyaratanku," cetus Minseok sambil menyeringai. Minseok menoleh ke arah Luhan, yang wajahnya berubah menjadi tanpa ekspresi. "Apa aku akan menyukainya?" Minseok memberanikan diri untuk menanyakannya pada Luhan.
"Kalian berdua tidak memiliki banyak kesamaan."
"Mereka berdua masih muda dan lajang," protes Taeyeon. "Memangnya kesamaan apa lagi yang mereka butuhkan?"
Sekarang ekspresi wajah Luhan berubah masam. "Kau mau diperkenalkan dengan Jongin?" Tanyanya pada Minseok.
Minseok mengangkat bahu. "Aku sangat sibuk belakangan ini."
"Kabari saja aku kalau kau sudah mengambil keputusan. Aku yang akan mengurusnya." Luhan memberi isyarat pada Sehun. "Saatnya kita pergi."
"Bye!" Seru gadis kecil itu dengan ceria, sambil melangkah maju untuk memeluk Minseok lagi.
"Bye, Sehunnie."
Setelah mereka berdua pergi, Minseok menoleh ke sekeliling toko, yang sedang kosong untuk sementara waktu ini. "Ayo kita makan dulu." Katanya pada Taeyeon. sementara Taeyeon membuka pembungkus makanan, Minseok membuka tutup termos. Aroma kopi yang menggoda menyebar ke udara sekitarnya, aroma kental, manis dan wangi.
Minseok menghirup dalam-dalam, memejamkan matanya untuk berkonsentrasi pada aroma yang memikat itu.
"Sekarang aku mengerti," tiba-tiba Minseok mendengar Taeyeon berkata begitu.
Minseok membuka matanya. "Mengerti apa?"
"Kenapa kau tidak tertarik bertemu dengan Jongin."
Napas Minseok tertahan ditenggorokannya. "Oh...aku...itu tidak ada hubungannya dengan Luhan, jika memang itu yang kau pikirkan."
"Aku melihat bagaimana dia menatapmu."
"Luhan berhubungan dengan wanita lain. Hubungan mereka sangat serius."
"Bukan masalah, selama kata 'aku bersedia' belum diucapkan secara resmi. Dan Luhan membawakan kopi untukmu." Taeyeon menyatakannya seolah itu adalah bukti perasaan Luhan yang tak terbantahkan. Taeyeon menoleh dengan sorot genit kearah termos kopi.
"Apa kau mau mencobanya?" Tanya Minseok dengan ceria.
"Aku akan mengambil mugku."
Kopi itu sudah dicampur dengan gula dan krim. Cairan berasap dengan warna karamel itu dituangkan ke mug mereka. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka mengangkat mug mereka untuk bersulang dan meminum isinya.
Itu bukan sekedar kopi...tapi sebuah pengalaman. Rasa yang lembut, kental dan manis menciptakan akhir yang menggoda. Ada kesan kekuatan dan sensasi manis, tanpa sedikit pun rasa getir. Kopi itu juga menghangatkan tubuh Minseok hingga ke ujung jari kakinya.
"Oh, Tuhanku," seru Taeyeon. "Kopi ini sangat nikmat."
Minseok menyesap lagi kopinya. "Ini akan menjadi masalah," katanya dengan penuh penyesalan.
Wajah Taeyeon melembut dengan penuh pengertian. "Tertarik pada Luhan?"
"Dia sudah menjadi milik wanita lain. Tapi, setiap kali aku melihatnya, sekalipun kami tidak saling menggoda, tapi rasanya itulah yang kami lakukan."
"Itu bukan masalah." Tegas Taeyeon.
"Benarkah?"
"Ya, saat tidak lagi terasa seperti menggoda, maka itu baru masalah. Lakukanlah dan godalah dia...mungkin hanya itu yang bisa mencegahmu bercinta dengannya."
.
.
.
TBC
