Miracle
.
.
.
Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, Yixing. and chibi Sehun. Please! gk suka? Out don't be hater. Thank u ^^
.
.
Remake dari Lisa kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'
.
.
.
Chapter 7
.
.
.
Pada perayaan Halloween, Luhan berkeras agar Jongin yang menemani Sehun untuk melakukan aktivitas Halloween yaitu berkeliling untuk mengumpulkan permen dari rumah dan toko setempat, menghadiri pesta anak-anak ditaman. "Pastikan kalian mampir ditoko mainan untuk menemui Minseok," tambah Luhan.
"Apa kau yakin?" Tanya Jongin dengan ragu.
"Iya. Semua orang ingin kalian berdua bertemu, termasuk Minseok sendiri. Jadi, lakukanlah. Ajaklah dia berkencan jika kau menyukainya."
"Aku tidak yakin," kata Jongin. "Kau memasang ekspresi itu diwajahmu."
"Ekspresi apa?"
"Ekspresi yang biasanya tampak diwajahmu sebelum kau menendang bokong seseorang."
"Aku tidak akan menendang bokong siapapun," kata Luhan dengan tenang. "Dia bukan milikku. Aku sudah memiliki Yixing."
"Kalau begitu kenapa rasanya mengajak Minseok berkencan akan menjadi pukulan telak untukmu?"
"Aku tidak akan merasa begitu. Aku sudah memiliki Yixing."
Jongin tertawa pelan dan menggaruk kepalanya. "'Aku sudah memiliki Yixing' menjadi mantra barumu. Baiklah, aku akan menemuinya."
Lama setelahnya, Jongin kembali ke rumah bersama dengan Sehun, yang mengalami saat-saat menyenangkan selama menjalani aktivitas seputar perayaan Halloween, dan membawa keranjang plastik berbentuk labu yang penuh berisi permen. Dengan wajah berseri-seri, Sehun menjejerkan semua permennya diatas meja, menatap dengan kagum, dan memilih dua atau tiga butir untuk langsung dimakan.
"Baiklah, sekarang kau harus keatas dan mandi," kata Luhan, sambil membungkuk untuk membiarkan Sehun memanjat punggungnya. "Kau ini peri kecil paling lengket dan paling kotor yang pernah kulihat."
"Samchon tidak percaya pada peri," ujar Sehun sambil terkikik, saat Luhan menggendongnya dipunggung untuk menuju ke kamar mandi.
"Aku percaya. Ada satu peri yang menempel dipunggungku."
Setelah memandikan Sehun dan memakaikan baju tidur yang bersih, Luhan membersihkan dudukan toilet, kemudian turun kelantai bawah. Jongin baru saja selesai memasukkan semua permen Sehun ke toples besar dan membereskan dapur.
"Bagaimana?" Tanya Luhan dengan masam. "Apa kau ke toko itu?"
"Kami mendatangi sekitar dua puluh toko. Kota ramai sekali."
"Toko mainan," tegas Luhan melalui gigi yang digemeretakkan.
"Oh, kau menanyakan Minseok." Jongin membuka kulkas untuk mengambil minuman soda kalengannya. "Iya, dia seksi. Dan Sehun tergila-gila padanya. Sehun duduk diatas konter dan membantu Minseok memberikan permen pada setiap anak yang datang. Aku pikir Sehun pasti akan tetap disana sepanjang malam, jika aku membiarkannya." Jongin terdiam, sambil menenggak minumannya. "Tapi aku tidak akan mengajak Minseok berkencan."
Luhan mengamati Jongin dengan waspada. "Kenapa tidak?"
"Dia memberiku tanda 'no'"
"Apa?"
"Dia ramah, tapi tidak tertarik padaku."
"Mengherankan sekali," kata Luhan dengan bingung. "Kau masih lajang, cukup tampan...apa masalahnya?"
Jongin mengangkat bahu. "Dia seorang janda. Mungkin dia masih berkabung atas kematian suaminya."
"Sekarang sudah waktunya dia berhenti berkabung." Kata Luhan. "Sudah dua tahun suaminya meninggal. Dia harus memulai hidup baru. Dia harus memberikan kesempatan pada seseorang."
"Seperti dirimu?" Tanya Jongin dengan serius.
Luhan menatap Jongin dengan murung. "Aku sudah memiliki Yixing."
"Iya, aku tahu," ujar Jongin sambil tertawa pelan. "Ulangi saja terus. Mungkin pada satu titik kau akan bisa memercayainya."
Luhan naik ke lantai atas sambil menggerutu. Luhan menegaskan pada dirinya sendiri bahwa itu bukan urusannya apakah Minseok akan mulai berkencan lagi atau tidak. Tapi kenapa situasi itu sangat mengganggunya?
Luhan mendapati Sehun sudah berada dikamar, mengenakan baju tidur warna pink , dan menunggu ditidurkan olehnya. Lampu disamping tempat tidur masih menyala, menebarkan cahaya yang terang dan hangat melalui tudungnya yang berwarna pink. Tatapan Sehun terpaku pada sayap peri, yang tergantung dibelakang kursi. Kulit Sehun yang berwarna putih bersih tampak memerah. Jantung Luhan terasa diremas-remas karena khawatir saat melihat mata Sehun basah.
Sambil duduk dipinggir tempat tidur, Luhan menarik Sehun kedalam dekapannya. "Ada apa?" Bisiknya. "Apa ada masalah?"
Suara Sehun terdengar teredam. "Aku berharap eomma bisa melihatku mengenakan kostum itu."
Luhan mencium rambut Sehun dan lekukan lembut telinganya. Dan untuk waktu yang lama Luhan hanya memeluk Sehun dengan erat. "Aku juga merindukannya," kata Luhan kemudian. "Aku yakin saat ini dia sedang mengawasimu, sekalipun kau tidak bisa melihat atau mendengarnya."
"Seperti malaikat?"
"Iya."
"Apa samchon percaya pada malaikat?"
"Iya," jawab Luhan tanpa keraguan, meskipun semua yang pernah ia katakan atau pikirkan justru bertolak belakang dengan pernyataannya sekarang. Tidak ada alasan baginya untuk tidak meyakini segala kemungkinan, terutama jika itu bisa menenangkan Sehun.
Sehun melepaskan diri dari pelukan Luhan dan menatapnya. "Aku pikir samchon tidak memercayainya."
"Aku percaya," ujar Luhan. "Kepercayaan adalah pilihan. Aku bisa memercayai keberadaan malaikat jika memang aku menginginkannya."
"Aku juga percaya."
Luhan membelai rambut Sehun. "Tidak akan ada seorangpun yang bisa menggantikkan eomma mu. Tapi aku mencintaimu sebesar cintanya padamu, dan aku akan selalu menjagamu. Begitu pula dengan Jongin samchon."
"Dan Junmyeon samchon."
"Dan Junmyeon samchon. Tapi aku sedang berpikir...bagaimana jika aku menikahi seseorang yang bisa membantuku mengurusmu dan mencintaimu seperti seorang ibu? Apa kau menyukai gagasan itu?"
"He-eh."
"Bagaimana jika orangnya adalah Yixing? Sehun menyukainya, kan?"
Sehun memikirkan hal itu. "Apa samchon jatuh cinta padanya?"
"Aku sayang padanya. Sangat sayang."
"Aku pikir orang harus jatuh cinta dulu baru seseorang bisa menikahinya.
Luhan tersenyum pada wajah Sehun yang mungil dan jujur. "Mungkin kau benar." Kata Luhan, lalu ia menidurkan Sehun.
.
.
.
Pada akhir pekan berikutnya, Luhan harus pergi ke Busan untuk mengunjungi Yixing dan pergi kepesta pertunangan sepupu Yixing. Itu adalah satu langkah maju dalam hubungan mereka: menghadiri acara keluarga dan bertemu dengan orangtua Yixing untuk pertama kalinya. Luhan berharap bisa akrab dengan mereka. Dari penjabaran Yixing, sepertinya mereka adalah orang-orang yang baik dan normal.
"Kau akan mencintai mereka, aku janji," kata Yixing pada Luhan, "dan mereka akan mencintaimu."
Kata 'cinta' membuat Luhan menegang. Sejauh ini, ia dan Yixing belum sampai pada tahap dimana salah satu dari mereka mengatakan 'aku cinta padamu', tapi ia bisa merasakan Yixing ingin mengucapkannya. Dan itu membuatnya merasa bersalah, karena ia sama sekali tidak menantikan hal itu.
Beberapa bulan yang lalu, Luhan pasti akan menganggap cinta bukanlah kemampuan yang bisa dimilikinya. Tapi Sehun mengubah anggapan itu sepenuhnya. Karena perasaan ingin melindungi Sehun, ingin memberikan segalanya pada anak itu, dorongan jiwa untuk selalu membuat Sehun bahagia...itu adalah bentuk cinta yang tulus. Tidak ada satupun yang pernah Luhan rasakan sebelumnya mendekati hal itu.
Pada hari jum'at sore Luhan terbang dengan pesawat domestik ke Busan dalam keadaan khawatir setengah mati, karena Sehun pulang dari sekolah dalam keadaan demam. Lebih dari tiga puluh tujuh derajat. "Aku harus membatalkan rencanaku," katanya pada Jongin sebelum berangkat.
"Kau bergurau, kan? Yicing noona akan membunuhmu. Aku bisa mengatasinya. Sehun akan baik-baik saja."
"Jangan biarkan dia tidur larut malam." Tegas Luhan dengan tajam. "Jangan biarkan dia makan sembarangan. Jangan lupa memberinya obat demam, atau..."
"Iya, aku tahu. Segalanya akan baik-baik saja."
"Jika sampai besok Sehun masih sakit, klinik dokter anak tetap buka sampai sabtu siang..."
"Aku tahu. Aku tahu semua hal yang kau tahu. Jika kau tidak pergi sekarang, kau akan ketinggalan pesawat."
Luhan pergi dengan enggan setelah memberikan obat demam pada Sehun. Ia meninggaalkan Sehun istirahat disofa, sambil menonton film. Sehun terlihat begitu kecil dan rapuh, pipinya tampak pucat. Luhan sama sekali tidak ingin meninggalkan Sehun, sekalipun Jongin sudah meyakinkannya bahwa segalanya akan baik-baik saja. "Aku akan terus membawa ponselku," kata Luhan pada Sehun. "Jika kau ingin bicara denganku, jika kau membutuhkan aku, kau bisa meneleponku kapan pun kau mau. Oke, Hunie?"
"Oke." Dan Sehun memberi Luhan seringaian ompong yang tidak pernah gagal melumerkan hati Luhan. Sambil menunduk diatas kepala Sehun, Luhan mencium kening gadis kecil itu, dan mereka saling menggesekkan hidung.
Rasanya berat sekali melangkah keluar dari rumah dan pergi kebandara. Setiap insting Luhan mengatakan ia harus tetap berada dirumah. Tapi Luhan tahu betapa pentingnya acara itu untuk Yixing, dan ia tidak mau menyakiti atau mempermalukan Yixing dengan tidak datang pada acara keluarganya.
Di Busan, Yixing menjemput Luhan dibandara menggunakan mobil sendiri. Yixing sudah siap, dia menggunakan gaun hitam yang berpotongan seksi dan sepatu berhak tinggi, rambutnya dibiarkan tergerai. Wanita yang cantik dan anggun. Pria manapun pasti akan merasa sangat beruntung bisa memilikinya, pikir Luhan. Ia menyukai Yixing. Ia mengagumi Yixing. Ia menikmati waktunya bersama dengan Yixing. Tapi tidak ada gejolak dan ketertarikan diantara mereka, yang sebelumnya sama sekali tidak menjadi masalah, tapi sekarang mulai terlihat salah.
"Kita akan bertemu teman lamaku, Myungsoo dan Hyolin untuk makan malam sebelum pergi ke pesta," ujar Yixing. Hyolin adalah sahabat Yixing sejak kuliah, dan sekarang menjadi ibu dari dua orang anak.
"Baiklah." Luhan berharap ia bisa menyingkirkan Sehun sejenak dari pikirannya agar ia bisa menikmati makan malam. Setelah mengeluarkan ponselnya, Luhan memeriksa apakah ada pesan dari Jongin.
Tidak ada.
Saat melihat kerutan dikening Luhan, Yixing bertanya. "Bagaimana keadaan Sehun? Apa dia masih sakit?"
Luhan mengangguk. "Dia tidak pernah sakit sebelumnya. Setidaknya sejak dia tinggal bersama denganku. Saat aku pergi tadi, dia sedang demam."
"Dia akan baik-baik saja," ujar Yixing menenangkan. Senyuman tersungging dibibirnya yang dipulas dengan lipgloss. "Kau baik sekali karena sangat mengkhawatirkan Sehun."
Mereka pergi ke restoran yang cukup bagus dan terkesan santai dipusat kota.
Diluar hujan mulai turun, air menetes dijendela restoran. Hujannya rintik-rintik tapi lama. Saat Luhan memandangi pola tetesan air hujan yang mengalir dibagian luar gedung yang berlapis batu dan kaca, ia tidak bisa mencegah dirinya memikirkan malam dengan guyuran hujan, kurang dari setahun lalu, yang telah mengubah segalanya. Sebelum Sehun tinggal bersamanya, Luhan menyadari bahwa ia selalu memendam emosinya seolah itu adalah sesuatu yang tidak berarti. Sekarang ia tidak bisa menghentikan ataupun menahan emosi itu. Apakah tugas sebagai orang tua akan terasa lebih mudah nantinya? Apakah kau akan pernah mencapai titik dimana kau akan berhenti mengkhawatirkan anak-anakmu?
"Ini sisi dirimu yang baru," komentar Yixing sambil tersenyum bingung, saat ia melihat Luhan memeriksa ponsel untuk yang kedua puluh kalinya sepanjang makan malam. " Lu, jika Jongin tidak menelpon, berarti semuanya baik-baik saja."
"Bisa saja terjadi sesuatu yang buruk dan dia tidak sempat menelponku," sanggah Luhan.
Myungsoo dan Hyolin, yang merupakan suami istri dan sudah memiliki anak, saling bertukar senyuman, merasa sedikit superior karena lebih berpengalaman sebagai orangtua. "Anak pertama memang paling sulit," kata Hyolin. "Kau akan ketakutan setengah mati setiap kali dia demam...tapi pada saat kau memiliki anak kedua dan seterusnya, kau tidak akan terlalu khawatir lagi."
"Anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang kuat."
Walaupun Luhan mengetahui semua itu dilontarkan untuk meredam kekhawatirannya, tetap saja ia tidak bisa merasa lebih baik.
"Suatu hari nanti, dia akan menjadi ayah yang baik," ujar Yixing pada Hyolin sambil tersenyum.
Pujian itu, yang seharusnya bisa membuat Luhan senang, justru memancing kemarahannya. Suatu hari nanti? Ia adalah seorang ayah sekarang. Menjadi orang tua bukan hanya hasil dari kontribusi biologis...bahkan, itu adalah faktor yang paling kecil.
"Aku harus pergi sebentar untuk menelpon Jongin," kata Luhan pada Yixing. "Aku hanya ingin mencari tahu apakah demamnya sudah turun."
"Baiklah, jika itu bisa membantumu untuk berhenti khawatir," ujar Yixing. "Dengan begitu kita bisa menikmati sisa malam ini." Yixing memberi Luhan tatapan serius. "Iya, kan?"
"Iya." Luhan menunduk dan mencium pipi Yixing. "Permisi." Luhan bangun dari kursinya, pergi ke lobi restoran, dan menngeluarkan ponselnya. Ia tahu bahwa Yixing dan temannya berpikir kekhawatirannya berlebihan, tapi ia tak peduli. Ia harus tahu apakah Sehun baik-baik saja.
Teleponnya diangkat. Luhan mendengar suara adiknya. "Hyung?"
"Ya. Bagaimana Sehun?"
Terdengar kebisuan yang mengerikan. "Sebenarnya tidak baik."
Luhan merasa darahnya berubah menjadi air dingin. "Apa maksudmu 'tidak baik'?"
"Sehun mulai muntah-muntah tidak lama setelah kau pergi. Dia mengeluarkan semua isi perutnya. Aku tidak pernah bisa percaya tubuh sekecil itu bisa mengeluarkan begitu banyak hal mengerikan."
"Apa yang sudah kau lakukan untuknya? Apa kau sudah menelpon dokter?"
"Tentu saja sudah."
"Apa yang dikatakan dokter?"
"Mungkin Sehun terserang flu, dan dokter memintaku memberinya beberapa tetes rehidrasi oral. Dia bilang obat demam ibuprofen mungkin membuat perutnya terasa mual, jadi sekarang diganti dengan Tylenol."
"Apa Sehun masih demam?"
"Terakhir kali aku periksa, suhu tubuhnya sudah tiga puluh sembilan derajat. Sayangnya dia selalu memuntahkan obat yang sudah ditelannya, sebelum efek obat itu bisa bekerja."
Luhan meremas ponselnya dengan erat. Tak ada yang lebih ia inginkan daripada kembali kepulau saat ini juga, untuk merawat Sehun. "Apa kau sudah mendapatkan semua yang kau butuhkan?"
"Sebenarnya, aku harus membeli beberapa barang disupermarket, membeli bubur dan sup encer agar Sehun bisa makan sesuatu, jadi aku akan meminta seseorang menjaganya sebentar."
"Aku akan pulang sekarang juga."
"Tidak, jangan. Aku sudah memiliki daftar orang-orang yang bisa kuhubungi dalam keadaan darurat. Dan aku...ya Tuhan, dia muntah lagi. Aku harus pergi."
Sambungan telpon terputus. Luhan mencoba berpikir di tengah-tengah gelombang kepanikan. Ia menelepon maskapai penerbangan untuk memesan tiket pulang pada penerbangan berikutnya ke Jeju, menelepon taksi, dan bergegas kembali ke meja restoran.
"Syukurlah," seru Yixing dengan senyum kaku. "Aku heran kenapa kau pergi lama sekali."
"Aku minta maaf. Tapi sakitnya Sehun bertambah parah. Aku harus pulang."
"Malam ini?" Tanya Yixing mengerutkan kening. "Sekarang?"
Luhan mengangguk dan menjabarkan situasinya. Myungsoo dan Hyolin terlihat bersimpati, sementara Yixing tampak sangat cemas. Sikap Yixing yang begitu mengkhawatirkan Sehun memberi dorongan kebersamaan yang baru dengannya, rasa keterikatan. Ia bertanya-tanya apakah Yixing mau ikut pulang bersamanya. Ia tidak akan memintanya, tapi jika Yixing menawarkan diri...
Setelah berdiri dari kursinya, Yixing menyentuh lengan Luhan dengan lembut. "Ayo, kita bicarakan ini secara pribadi." Yixing tersenyum meminta maaf pada Hyolin. " kami akan kembali sebentar lagi."
"Baiklah." Dan kedua wanita itu bertukar tatapan khas wanita yang sulit untuk dimengerti.
Yixing mengajak Luhan ke bagian depan restoran, ke sebuah sudut dimana mereka bisa bicara tanpa terganggu.
"Yixing..." mulai Luhan.
"Dengar," potong Yixing dengan lembut. "Aku tidak akan membuatmu memilih antara aku atau Sehun...dia akan baik-baik saja tanpa dirimu. Tapi aku tidak. Aku ingin kau datang ke pesta malam ini, dan bertemu dengan keluargaku. Tidak ada hal yang bisa kau lakukan untuk Sehun yang belum dilakukan oleh Jongin."
Pada saat Yixing selesai bicara, Luhan merasakan kehangatan dan keterikatannya dengan Yixing sudah musnah. Tidak peduli apapun yang dikatakan oleh Yixing, wanita ini tetap membuatnya memilih. "Aku tahu itu," kata Luhan. "Tapi aku ingin menjadi orang yang melakukannya untuk Sehun. Dan tidak mungkin aku bisa menikmati malam ini, saat mengetahui anakku sedang sakit. Aku akan berdiri disudut sambil memegangi ponselku sepanjang waktu."
"Tapi Sehun bukan anakmu. Bukan anak kandungmu."
Luhan menatap Yixing, seolah ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Apa maksud perkataan Yixing? Bahwa kekhawatirannya terhadap Sehun merupakan hal konyol, karena Sehun bukanlah anak kandungnya? Bahwa ia tidak perlu mengkhawatirkan Sehun, hingga merusak acara pesta malam ini?
Sering sekali hal yang penting terbongkar pada momen yang paling tidak terduga. Dan dengan kata-kata singkat itu, hubungan Luhan dengan Yixing telah hanyut terbawa arus air laut. Apakah ia bereaksi berlebihan? Luhan tidak peduli. Kekhawatiran utamanya adalah kondisi Sehun.
Saat Yixing melihat ekspresi wajah Luhan, wanita itu menengadah dengan ekspresi wajah tidak sabar. "Aku tidak bermaksud begitu."
Secara otomatis otak Luhan merangkai lagi kata-kata Yixing. Memang itulah maksud Yixing, tidak peduli bagaimana kedengarannya.
"Tidak masalah." Luhan terdiam, merasa dukungan yang biasanya terasa dalam hubungan mereka dihancurkan oleh percakapan ini, setiap kata terdengar seperti cambukan yang membuat kerusakan semakain parah. "Tapi Sehun anakku, Yixing. Tanggung jawabku."
"Dia juga tanggung jawab Jongin."
Luhan menggelengkan kepalanya. "Jongin hanya membantu. Akulah yang menjadi wali Sehun secara hukum."
"Jadi, dia membutuhkan dua orang dewasa untuk berkerumun disekitarnya?"
Luhan menjawab dengan hati-hati, "aku harus berada disana."
Yixing mengangguk dan mengeluarkan helaan napas pelan. "Baiklah. Jelas sekali tidak ada gunanya berdebat denganmu sekarang. Apa aku harus mengantarmu ke bandara?"
"Aku sudah menelpon taksi."
"Aku bisa saja menawarkan diri untuk ikut denganmu, tapi aku ingin hadir dalam pertunangan sepupuku malam ini."
"Aku mengerti." Luhan meletakkan tangannya dipunggung Yixing sebagai tanda pengertian. Tulang punggung Yixing terasa kaku dan tegang, seolah terbuat dari es yang dipahat. "Aku yang akan mengurus pembayaran makan malam ini. Aku akan meninggalkan nomor kartu kreditku pada pelayan."
"Terima kasih. Myungsoo dan Hyolin pasti akan menghargainya." Yixing terlihat muram. "Telepon aku nanti dan kabarkan padaku bagaimana kondisi Sehun. Meskipun aku sudah tahu dia akan baik-baik saja."
"Baiklah." Luhan menunduk untuk mencium Yixing, tapi Yixing memalingkan wajahnya, sehingga bibir Luhan mendarat dipipinya.
.
.
.
TBC
