Miracle
.
.
.
Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, Yixing, and chibi Sehun. Please! Gk suka? Out, don't be hater. Thank u ^^
.
.
Remake dari Lisa Kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'
.
.
.
Chapter 8
.
.
.
Perjalanan dengan taksi menuju kebandara terasa sangat lama, penerbangan pulang ke Jeju berjalan sangat lambat, sehingga Luhan yakin ia akan lebih cepat sampai jika menggunakan kayak. Sudah hampir pukul sepuluh malam saat ia sampai dirumah. Mobil yang tidak dikenalnya terparkir didepan rumah.
Luhan memasuki rumah melalui pintu belakang, dan langsung menuju ke dapur. Jongin ada disana, sedang menuangkan segelas wine untuk dirinya sendiri. Jongin terlihat sangat kacau. Bagian depan kausnya basah dan bernoda, rambutnya berdiri dan berantakan. Jongin hampir mirip orang yang sedang depresi. Botol obat dan gelas kosong berserakan dikonter dapur, begitu pula botol plastik minuman dehidrasi.
Jongin menoleh kearah Luhan dengan sentakan terkejut dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu tidak seharusnya aku mengatakannya padamu, Hyung." Ujar Jongin dengan penuh penyesalan. "Oh Tuhan, Yixing pasti marah sekali."
Sambil menurunkan tas, Luhan melepaskan jaketnya. "Aku tidak peduli. Bagaimana keadaan Sehun? Mobil siapa yang terparkir didepan?"
"Itu mobil Minseok. Dan Sehun sudah lebih baik. Dia belum muntah lagi selama satu setengah jam terakhir."
"Kenapa kau menelpon Minseok?" tanya Luhan dengan ketus.
"Sehun menyukainya. Dan saat aku bertemu dengannya pada perayaan Halloween, dia bilang padaku bahwa aku bisa menghubunginya jika aku membutuhkan bantuan dengan Sehun. Awalnya aku menghubungi Junmyeon hyung, tapi teleponnya tidak diangkat, jadi aku menelpon Minseok. Minseok langsung datang seketika itu juga. Oh Tuhan, dia hebat sekali. Saat aku ke supermarket, dia memandikan Sehun dengan air hangat, membereskan semua kekacauan, dan berhasil membuat Sehun menelan obatnya."
"Jadi demamnya sudah reda?"
"Untuk sementara waktu. Tapi temperaturnya masih sering naik lagi. Kita harus terus memeriksa kondisinya."
"Aku yang akan menjaganya malam ini." Kata Luhan. "Kau sebaiknya istirahat."
Jongin tersenyum cemas pada Luhan dan menenggak lagi wine-nya. "Aku bisa mengatasinya. Tapi aku senang kau pulang."
"Aku harus pulang. Aku akan menjadi pasangan yang menyebalkan dipesta malam ini, karena tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Sehun."
"Apa yang dikatakan Yixing?"
"Dia tidak senang."
"Dia pasti akan bisa mengatasinya. Ini bukan masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan sebuket bunga atau sedikit memohon."
Luhan menggelengkan kepalanya dengan marah. "Aku tidak keberatan memohon. Tapi hubunganku dengan Yixing tidak akan pernah berhasil."
Mata Jongin membelalak. "Kau akan memutuskan hubunganmu dengan Yixing karena masalah ini?"
"Tidak, bukan karena masalah ini. Hanya saja, akhir-akhir ini aku menyadari...lupakanlah, aku akan mengatakannya padamu nanti. Aku harus melihat Sehun."
"Jika kalian berdua benar-benar berpisah," ujar Jongin saat Luhan berjalan menuju tangga, "pastikan bahwa Yixing tahu aku bersedia memberinya seks pembalasan dendam." Luhan tak meladeni ucapan adiknya, mungkin Jongin sudah sedikit mabuk.
.
.
.
Saat memasuki kamar Sehun, Luhan berhenti tepat diambang pintu. Minseok berada disamping Sehun diatas tempat tidur, dengan Sehun dilekukan lengannya. Sebuah boneka rusa baru berada disisi Sehun yang lain.
Dengan wajah tanpa make up dan rambut diikat ekor kuda, Minseok terlihat seperti remaja. Minseok sedang membacakan dongeng untuk Sehun, yang matanya masih berair tapi sudah terlihat lebih damai.
Sehun menoleh kearah Luhan dengan bingung sekaligus senang. "Samchon pulang."
Luhan beranjak ke tempat tidur dan menunduk diatas Sehun, untuk membelai rambutnya. Tangan Luhan bertahan dikening Sehun untuk memeriksa temperatur tubuhnya. "Tentu saja aku pulang," gumam Luhan. "Aku tidak mungkin bisa pergi jauh jika anakku sedang sakit."
"Aku muntah," kata Sehun dengan sedih.
"Aku tahu, sayang."
"Imo membawakan aku boneka rusa dan memandikan aku..."
"Ssst...kau seharusnya sudah mulai tidur."
Luhan menoleh kearah Minseok, dan terpesona oleh tatapan gelap wanita itu.
Minseok tersenyum pada Luhan. "Satu halaman lagi untuk menyelesaikan babnya?" kata Minseok, ada kesan bertanya pada suaranya, dan Luhan mengangguk.
Luhan mundur dan duduk disamping tempat tidur, saat Minseok meneruskan dongengnya. Tatapan Luhan terpaku pada Sehun , yang kelopak matanya sudah berat, napasnya perlahan dan teratur. Kedamaian, kelegaan dan kecemasan berbaur menjadi satu didalam dada Luhan.
"Samchon," bisik Sehun saat Minseok selesai membacakan dongeng. Sebuah tangan kecil keluar dari balik selimut dan terulur pada Luhan.
"Iya?"
"Jongin samchon bilang aku bisa" –Sehun terdiam untuk menguap—"mendapatkan permen untuk sarapan."
"Sepertinya tidak masalah." Luhan mengangkat tangan Sehun dan menciumnya. "Tidurlah," gumam Luhan. "Aku akan terus menjagamu malam ini."
Sehun menggerakkan kepalanya untuk mencari posisi nyaman diatas bantal dan langsung tertidur. Dengan perlahan, Minseok melepaskan diri dari Sehun, dan bangun dari atas tempat tidur. Minseok mengenakan celana jins dan sepatu kets. Sweater katunnya yang berwarna pink terangkat keatas pinggang, menyingkap bagian perut yang berwarna pucat. Minseok merona dan segera menurunkan bagian sweaternya, tapi sebelumnya Luhan sudah lebih dulu melihat kulit mulus disana.
Mereka meninggalkan kamar Sehun bersama-sama, mematikan lampu, tapi membiarkan sedikit cahaya dari koridor masuk ke dalam kamar.
"Terima kasih," kata Luhan dengan suara pelan, sambil membimbing Minseok menyusuri koridor yang remang-remang menuju ke tangga. "Aku minta maaf karena Jongin sampai menelponmu. Seharusnya aku berada disini."
"Tidak masalah. Aku tidak punya kesibukan lain."
"Mengurus anak orang lain yang sedang sakit tentu bukan hal yang menyenangkan."
"Aku sudah terbiasa mengurus orang sakit. Tidak ada yang membuatku terganggu. Dan Sehun sangat menyenangkan, aku bersedia melakukan apapun untuknya."
Luhan meraih tangan Minseok dan mendengar napas wanita itu tercekat. "Hati-hati, disini lantainya tidak rata. Kami masih belum selesai merenovasi rumah ini."
Tangan Minseok mengepal, begitu pula dengan Luhan, tangan mereka saling menggenggam dengan erat dalam suasana yang intim. Minseok membiarkan Luhan membawanya ke tangga.
Saat akan menyusuri tangga Minseok melepaskan genggaman tangan Luhan, Minseok berpegangan pada susuran tangga.
"Biarkan aku turun lebih dulu," ujar Luhan.
"Kenapa?"
"Jika kau terjatuh, aku akan bisa menangkapmu."
"Aku tidak akan terjatuh," protes Minseok, tapi ia membiarkan Luhan mendahuluinya. Saat mereka menuruni tangga, suara Minseok menyapu Luhan dengan lembut seperti kelopak bunga yang tipis. "Aku membawa termosmu. Tidak ada ucapan terima kasih untukmu, karena sekarang aku kembali minum kopi. Meskipun aku tidak pernah merasakan kopi yang senikmat buatanmu."
"Ada campuran rahasia didalamnya."
"Apa itu?"
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu."
"Kenapa tidak."
"Jika kau bisa membuatnya sendiri, kau tidak akan kembali untuk meminta lagi."
Suasana berubah sunyi sejenak, saat Minseok berusaha untuk menginterpretasikan pernyataan Luhan itu. "Aku akan kembali lagi besok pagi untuk melihat keadaan Sehun, dalam perjalanan menuju ke toko. Apakah itu berarti aku bisa mendapatkan kopi lagi?"
"Aku akan memberikan kopi sebanyak yang kau mau." Saat mencapai anak tangga terbawah, Luhan berbalik dan menangkap Minseok saat wanita itu mulai terhuyung.
"Oh..." Minseok terkesiap dan berpegangan pada Luhan. Luhan menopang tubuh Minseok dengan memegangi pinggulnya. Beberapa jumput ikal rambut Minseok menyapu wajah Luhan, sentuhan selembut sutra itu langsung membuat Luhan terangsang. Minseok masih berada ditangga, tubuhnya belum stabil, sepenuhnya berada dibawah kendali Luhan.
Luhan sangat menyadari keberadaan Minseok, nafas wanita itu yang hangat dan cepat, yang ingin sekali ditenangkan olehnya.
"Susuran tangganya berakhir sebelum anak tangga terakhir," jelas Luhan. Itu adalah satu kekurangan rumah ini yang sudah diantisipasi olehnya dan Jongin, tapi selalu membuat tamu terkejut.
"Kenapa kau tidak memperingatkan aku?" bisik Minseok.
Tangan Minseok berada dibahu Luhan. Luhan bisa mendorong Minseok ke depan dengan sangat mudah dan menciumnya. Tapi Luhan tetap tidak bergerak, memegangi Minseok dengan cara yang menyerupai pelukan. Mereka berada cukup dekat, hingga Luhan bisa merasakan napas Minseok diudara sekitar mereka.
"Mungkin karena aku ingin menangkapmu," jawab Luhan.
Minseok mengeluarkan tawa gugup, menegaskan betapa ia terkejut oleh pernyataan Luhan. Luhan merasakan gerakan tangan Minseok yang meremas dengan lembut, seperti seekor kucing yang merasakan permukaan baru. Tapi Minseok tidak memberikan indikasi mengenai apa yang diinginkannya, tidak membuat gerakan mendekat atau menjauh dari Luhan, hanya berdiri diam disana dan menunggu.
Luhan melangkah mundur dan membantu Minseok menuruni anak tangga, kemudian membawa wanita itu ke dapur yang lebih terang.
Jongin sudah menghabiskan wine-nya dan hendak mengisinya lagi. "Minseok-ah," seru Jongin dengan nada suara penuh kasih, seolah mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. "Penyelamatku."
Minseok tertawa. " memangnya wanita bisa menjadi penyelamatmu?"
"Wanita adalah penyelamat terbaik," ujar Jongin meyakinkan Minseok. "Apa kau mau segelas wine?"
Minseok menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, tapi aku harus segera pulang kerumah. Anjingku harus dikeluarkan."
"Kau punya anjing?"
"Sebenarnya, aku hanya merawatnya sementara. Aku memiliki seorang teman yang menjalankan program penyelamatan dipulau ini, dan dia membujukku untuk merawat anjing itu, sampai ada yang mau mengambilnya."
"Anjing jenis apa?"
"Bulldog. Anjing itu mempunyai gigi ompong, alergi kulit, suara yang mengganggu...dan yang paling buruk, gaho tidak memiliki ekor. Ekornya terjepit dan harus diamputasi."
"Gaho? Bukankah itu nama anjing dari anggota Big**ng?" tanya Luhan.
"Iya, temanku yang memberi nama Gaho—Anjing yang sangat dicintai pemiliknya—karena temanku adalah fans penyanyi itu. Gaho tidak tahu betapa mengerikan dirinya...tapi dia tetap berharap bisa dicintai. Dia baik dan penurut. Namun sebagian orang bahkan terlalu jijik untuk membelainya." Mata Minseok terlihat berkilau, dan senyum sedih tampak diwajahnya. "aku mulai putus asa. Mungkin pada akhirnya dia akan tinggal selamanya denganku dan aku kasihan dia selalu kesepian harus sendiri dirumah saat aku bekerja."
Luhan menatap Minseok dengan penuh ketakjuban. Minseok memiliki belas kasih tak terhingga, yang membuatnya terlihat menggoda sekaligus mengagumkan. Minseok adalah seorang wanita yang ingin memberikan kebahagian, ingin menebarkan cinta yang dimilikinya pada siapapun...seorang wanita yang bersedia merawat seekor anjing yang tidak diinginkan oleh semua orang.
Luhan ingat Minseok pernah bilang bahwa setelah mendampingi suaminya menjelang ajal, tidak ada lagi yang tersisa didalam dirinya untuk diberikan pada orang lain. Tapi sebenarnya, Minseok masih memiliki banyak sekali hal yang bisa diberikannya.
Jongin beranjak maju untuk melingkarkan lengan diseputar bahu Minseok. "Kau telah menyelamatkan nyawa seseorang malam ini." Katanya pada Minseok.
"Nyawa Sehun tidak dalam bahaya," jelas Minseok.
"Maksudku nyawaku." Jongin menyeringai pada Luhan. "Tentu saja, kau pasti sadar bahwa salah satu dari kita harus menikahinya."
"Kalian berdua bukan tipeku," balas Minseok, dan tawa terkejut mulai terlontar dari bibirnya saat Jongin menggendongnya.
"Kau telah mengisi ruang kosong dalam jiwaku," seru Jongin pada Minseok dengan gaya yang berlebihan.
"Jika kau menjatuhkan aku," kata Minseok. "kau pasti mati."
Saat Luhan mengamati mereka berdua, ia diliputi perasaan cemburu. Mereka bisa begitu santai dengan satu sama lain, begitu nyaman—bisa menjadi teman dalam waktu singkat. Dan rayuan gurauan Jongin seolah menjadi ejekan atas perasaan Luhan terhadap Minseok.
"Dia harus segera pulang," tegas Luhan pada adiknya dengan ketus.
Saat mendengar kesan marah pada suara kakaknya, Jongin menatap Luhan dengan sorot penuh pengertian, dan senyumnya melebar. Jongin menurunkan Minseok, memberi wanita itu pelukan singkat, dan mengambil gelas wine-nya. "Kakakku akan mengantarmu ke mobilmu," ujar Jongin pada Minseok. "aku ingin menawarkan diri, tapi aku harus menghabiskan minumanku."
"Aku bisa keluar sendiri," tegas Minseok.
Tapi Luhan tetap menemaninya.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu," ujar Luhan saat mereka sampai disamping mobil Minseok.
"Apa?" tanya Minseok dengan ragu-ragu.
"Bisakah kau mengantarkan anjingmu besok pagi untuk bermain bersama kami? Dia bisa menghabiskan waktu bersama Sehun. Mungkin berjalan-jalan denganku. Kami akan menjaganya dengan baik."
Suasana saat itu terlalu gelap bagi Luhan untuk bisa melihat ekspresi wajah Minseok, tapi keterkejutan terbaca jelas dari suaranya. "Sungguh? Aku yakin Gaho pasti akan menyukainya. Tapi kau pasti tidak mau terlihat bersama dengannya." Mereka berdiri disamping mobil, saling berhadapan ditengah cahaya redup lampu hias taman. Mata Luhan sudah bisa menyesuaikan diri dengan bayangan gelap. "Sejujurnya, sangat memalukan mengajak Gaho kemanapun," lanjut Minseok. "Orang-orang akan menatap dengan jijik."
Apakah Minseok kira ia adalah pria yang tidak memilki toleransi? Berpikiran sempit? Bahwa standarnya sangat tinggi, sehingga ia tidak sanggup, walaupun hanya sehari, terlihat bersama dengan makhluk yang sama sekali tidak menarik? Sial, memangnya Minseok belum cukup melihat rumah tempatnya tinggal sekarang? Yang kurang memenuhi standar.
"Bawa saja dia," ujar Luhan singkat.
"Baiklah." Nada suara Minseok terdengar sangat senang, kemudian berubah lebih tenang. "Seharusnya kau menghabiskan akhir pekanmu bersama Yixing."
"Iya."
"Kenapa dia tidak ikut pulang bersamamu?"
"Dia ingin tetap menghadiri pesta pertunangan sepupunya."
"Oh." Suara Minseok tidak lagi terdengar tenang. "Aku...aku harap tidak ada masalah."
"Aku tidak akan menyebutnya sebagai masalah. Tapi sekarang ini hubungan kami tidak terlihat memiliki masa depan yang baik."
Kebisuan yang menyesakkan terasa diantara mereka. Kemudian, Minseok berujar, "Tapi kalian terlihat sangat serasi."
"Aku tidak tahu apakah keserasian selalu bisa menjadi fondasi yang kuat untuk menjalani sebuah hubungan."
"Ketidakserasian bisa?"
"Yah, setidaknya ketidakserasian selalu bisa memberi banyak topik untuk dibicarakan."
Minseok tergelak. "Bagaimanapun juga, aku berharap hubungan kalian akan membaik dan terus berlanjut." Minseok berbalik kemobilnya, membuka pintu, dan melemparkan tas tangannya ke dalam. Kemudian Minseok berbalik untuk menghadap Luhan lagi.
"Terima kasih karena sudah merawat Sehun," ujar Luhan dengan suara pelan. "Apa yang kau lakukan sangat berarti untukku. Aku harap kau tahu bahwa jika kau membutuhkan apapun, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan memberikan bantuan dalam bentuk apapun."
Ekspresi wjah Minseok melembut. "Kau sangat baik."
"Itu tidak benar."
"Iya, itu benar." Tanpa sadar Minseok melangkah maju dan memberikan pelukan hangat pada Luhan, seperti yang diberikannya tadi untuk Jongin.
Lengan Luhan melingkari tubuh Minseok. Akhirnya Luhan tahu seperti apa rasanya saat seluruh tubuh Minseok menempel dengan tubuhnya. Payudara, pinggul, kaki dan kepala Minseok bersandar didada Luhan, berat tubuh Minseok bertopang pada ujung kakinya. Mereka terus berpelukan, begitu dekat dan menyatu, kemudian saling melepaskan diri pada saat yang bersamaan.
Terasa kebisuan yang mengejutkan, hanya sepersekian detik. Kemudian dalam satu gerakan yang sepertinya sangat alami dan tak terhindarkan, layaknya gelombang air laut, mereka saling berpelukan lagi, dalam dekapan yang lebih erat dan intim, memberikan tekanan dan panas lebih besar. Setiap bagian diri Luhan menahan diri untuk memberikan kontak yang lebih dalam. Ia menekankan wajahnya kerambut Minseok dan mengisi lengannya dengan tubuh wanita itu.
Wajah Minseok menempel sebagian dileher Luhan, napas Minseok terasa seperti belaian hangat dikulit Luhan, membangkitkan dorongan primitif, kebutuhan yang tak tertahankan, dan kedekatan yang begitu mereka dambakan. Luhan mencari-cari sumber kehangatan itu, bibir Minseok yang lembut. Ia membiarkan dirinya mencium Minseok, sekali ini saja.
Minseok gemetar, mendorong dirinya sendiri kepada Luhan, seolah ia mencari kehangatan ditengah badai salju. Diam-diam Luhan menekankan bibirnya ke cekungan dibalik telinga Minseok, menghirup aroma dan merasakan kelembutan tubuh Minseok. Pada awalnya, ketegasan membuat Luhan ceroboh, bibirnya yang terbuka menyusuri garis leher Minseok, turun kekerah sweater pink Minseok dan kembali lagi. Kulit leher Minseok bergerak di mulut Luhan, saat wanita itu terkesiap. Karena tidak menemukan penolakan dari Minseok, Luhan mulai melumat mulut Minseok dengan penuh gairah, memperdalam ciuman yang begitu ia dambakan. Luhan mencari-cari, merasakan Minseok, dan membiarkan sensasi yang dirasakannya meledak menjadi sesuatu yang liar dan tak terkendali.
Pada awalnya respons Minseok ragu-ragu, mulutnya bergerak keatas dalam sapuan bingung. Tubuh Minseok terasa ringan dan lentur, seolah menyatu dengan tubuh Luhan. Saat merasakan keseimbangan Minseok goyah, Luhan menurunkan tangannya kepinggul Minseok untuk mendorong wanita itu lebih dekat dengannya. Mulut Luhan menemukan mulut Minseok lagi. Luhan mencium Minseok sampai tenggorokan Minseok bergetar oleh erangan nikmat dan jari-jarinya merayap ke dalam rambut Luhan.
Tapi kemudian Minseok tiba-tiba mendorong Luhan menjauh. Kata 'tidak' tergantung diantara mereka, begitu pelan sehingga Luhan sendiri tidak sepenuhnya yakin Minseok mengatakannya.
Luhan langsung melepaskan Minseok, teriakan protes menyebar ke sekujur tubuhnya saat ia berusaha keras untuk melakukannya.
Minseok mundur selangkah, dan bersandar dimobil, jelas sekali terlihat tercengang. Luhan bisa saja menganggap hal itu sangat lucu, jika ia belum dalam keadaan amat terangsang. Luhan menarik napas panjang dan bergetar oleh gairah yang tertahan, berusaha untuk mengendalikan tubuhnya yang tersiksa agar bisa lebih tenang. Dan memaksakan dirinya sendiri agar tidak meraih Minseok lagi.
Minseoklah yang pertama kali bicara. "Tidak seharusnya aku...itu bukan..." suara Minseok memudar, dan ia menggelengkan kepala dengan putus asa. "Oh, Tuhan."
Luhan berusaha agar suaranya kembali normal. "Kau akan kembali ke sini besok pagi?"
"Aku tidak tahu. Iya...mungkin."
"Minseok..."
"Jangan sekarang. Aku tidak bisa..." suara Minseok terdengar tercekat lagi, seolah tenggorokannya sedang berusaha untuk menahan tangis. Minseok masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya.
Saat Luhan berdiri dijalanan berbatu, Minseok membawa mobilnya menuju ke jalan utama dan melaju tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
.
.
.
TBC
.
.
.
Halow cuap2 dikit boleh?!
Ciye2 yang pada bahagia idolanya comeback, eh aku juga deng hoho. Yang minta ini diupdate pas tanggal 11 ini udah aku kasih, bingung mo tadi pagi gk bisa kalo ntar malem juga gk akan sempet jadi siang2 ini gk papa ya asal jangan dibayangin secara detail pas bagian Kissing (eh malah dijelasin, duh) biar gk batal puasanya. Lily Levia happy b'day yeth ;) udah aku kabulin keinginanmu yang ini dan moga terkabul keinginanmu yang laen, sehat dan bahagia selalu.
Bingung sama nama anjing jadi pinjam nama anjingnya bang Jiyong :3
Mo nyapa yang udah review:
Kim yerim: Duh Yixing sayang sama Sehun kok say cuman sebatas keponakan gk ingin lebih gitu ajah. Tapi iya sih Yixing egois. Kita biarkan Luhan yang milih siapa yang cocok jadi ibu Sehun ya :3
hyenieepie: enak ya godain Luhan ^^ ini Minseok muncul
SLHan: hampir...ditungguin ajah bentar lagi.
Adamas Azalea: kadang orang jadi egois kalo udah merasa memiliki seseorang, Luhan orangnya emang cemburuan (jadi inget saat Lumin masih bareng di Ekso aihhh luhan yang overprotektif)...ini semangatttt XD
Guest Elferani: eh salah, 3 namja chingu. Walo Junmyeon jarang muncul kkk
xiurichi: iya ada ujian, ujian kehidupan haha. Aku dah kerja kok ^^. Kok tebakanmu tepat ya, iya ini thehun udah baikan karena ada Minseok imo hihi.
gak jelas: duh jangan2 ini terinspirasi dari kisah kamu kah :o seneng liat cow yang perhatian ma anak kecil, duh si ganteng pasti seneng punya samchon kayak kamu ^^ Luhan lagi usaha nih.
Hyun CB618: yup, sependapat. Ini memang keadaan serba salah. Dilihat secara umum mungkin akan berpihak untuk pulang keSehun, tapi jika posisi cew itu kamu mungkin kamu akan jadi seperti Yixing.
Lily levia: ini ada kan JongMin nya walo dikit ^^
Lu hanmin: tenang Minseok udah stand by dirumah buat ngerawat hunie kok.
Park eun yeong : selama gk ada masalah serius lanjut terus dong ^^ walo sering telat sih.
.
.
.
Bye
Semangat untuk puasanya XD
