Miracle

.

.

.

Lumin slight Hanxing, gs for Minseok, Yixing, and chibi Sehun. Please! Gk suka? Out, don't be hater. Thank u ^^

.

.

Remake dari Lisa Kleypas 'Christmas Eve at Friday Harbour'

.

.

.

Chapter 10

.

.

.

Ps..ada perubahan jadi baca lagi ya chap ini. Thanks

.

.

Selama dua minggu berikutnya, Minseok mendapati dirinya semakin sering bertemu dengan Luhan. Yang membuatnya lega, sepertinya Luhan sudah bisa menerima bahwa ia hanya tertarik pada persahabatan untuk hubungan mereka. Luhan sering mampir ke toko mainan dengan membawa setermos kopi, dan sesekali pria itu juga membawakan makanan kecil dari tokonya. Beberapa kali Luhan juga berhasil membujuk Minseok untuk pergi makan siang bersama, dimana mereka bisa mengobrol santai, sampai Minseok tidak menyadari sudah dua jam mereka berada disana.

Minseok tidak pernah bisa menolak undangan Luhan, karena ia tidak dapat menemukan alasan yang tepat. Bahkan, Luhan mampu melakukan segala hal yang mampu melenyapkan semua kekhawatiran Minseok. Tak ada ciuman atau komentar mesra, tak ada hal yang mengindikasikan bahwa Luhan tertarik dengan hubungan yang lebih serius daripada pertemanan.

Luhan sudah bertolak ke Busan untuk memutuskan hubungannya dengan Yixing, yang tampaknya bisa menerima keputusan itu secara lebih baik daripada yang diperkirakan. Saat Luhan menceritakan pada Minseok.

"Tidak ada air mata, jeritan ataupun drama," kata Luhan.

"Kau masih dalam kondisi yang labil," ujar Minseok. "Masih ada kemungkinan kau akan kembali padanya."

"Tak ada yang labil."

"Kau tak pernah tahu. Apa kau sudah menghapus nomornya dari ponselmu?"

"Sudah."

"Apa kau sudah mengembalikan semua barang yang ditinggalkannya dirumahmu?"

"Yixing tidak pernah punya kesempatan untuk meninggalkan barang apapun. Aku dan Jongin memiliki aturan: tidak boleh ada tamu yang menginap dirumah selama Sehun tinggal bersama kami."

"Jadi, saat Yixing mengunjungimu kesini, dimana kau dan dia..."

"Kami menginap dimotel atau hotel."

"Yah," ujar Minseok. "Aku rasa hubungan kalian benar-benar sudah berakhir. Apa kau yakin tidak akan menyesal? Normal saja jika kau merasa sedih setelah kehilangan sesuatu."

"Tidak ada yang hilang. Aku tidak pernah berpikir hubungan yang gagal hanya membuang-buang waktu. Kau selalu bisa mempelajari sesuatu."

"apa yang kau pelajari dari hubunganmu dengan Yixing?" tanya Minseok, tercengang oleh pernyataan Luhan.

"Aku pernah berpikir bahwa fakta kami tidak pernah bertengkar adalah sesuatu yang baik. Sekarang aku menyadari bahwa itu berarti kami tidak benar-benar terikat."

.

.

Sehun meminta waktu sehari lagi bersama dengan Gaho, dan Minseokpun membawa kembali Gaho untuk Sehun. Saat mereka mendekati rumah, Minseok melihat papan landai sudah terpasang ditangga depan rumah. Anjing berkepala besarnya menaiki papan tersebut dengan jauh lebih mudah daripada harus melompati satu demi satu anak tangga yang sempit dan tinggi. "Apa itu untuk memudahkan gaho?" tanya Minseok saat Luhan membuka pintu.

"Papan itu? Iya. Bagaimana menurutmu?"

"Sempurna." Minseok tersenyum penuh penghargaan, menyadari bahwa Luhan memperhatikan kesulitan Gaho saat harus menaiki tangga, dan mencari cara untuk memudahkan anjing tersebut saat keluar masuk rumah.

"Kau masih berusaha mencarikan rumah permanen untuknya?" tanya Luhan sambil menahan pintu saat mereka masuk ke rumah. Luhan menunduk untuk membelai dan menggaruk Gaho, yang mengangkat kepala untuk menatapnya dengan seringaian ompong dan lidah yang dijulurkan.

"Masih, tapi kami tidak beruntung," jawab Minseok. "Gaho punya terlalu banyak masalah. Memang tidak masalah jika mengeluarkan uang banyak untuk perawatan anjing yang lucu, tapi untuk anjing seperti gaho...tidak akan ada yang mau."

"Sebenarnya, jika kau tidak keberatan," ujar Luhan dengan perlahan. "Kami mau memeliharanya."

Minseok terperangah. "Maksudmu secara permanen?"

"Iya. Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu?"

"Dia bukan tipe anjingmu."

"Memangnya seperti apa tipe anjingku?"

"Yah, anjing yang normal. Jenis Labrador atau Springer. Yang bisa mengejarmu saat kau berlari."

"Aku akan memakaikan roda khusus untuk membantu Gaho berjalan. Kemarin sore, Jongin dan Sehun mengajari Gaho cara menggunaka papan luncur.

"Tapi..."

"kau keberatan aku menginginkan Gaho?"

"Tidak, hanya saja aku tidak mengerti kenapa kau menginginkannya."

"Gaho adalah teman yang baik. Dia pendiam. Jongin bilang Gaho pasti bisa berguna untuk menjaga kebun anggur. Dan yang paling penting adalah, Sehun menyukainya."

"Gaho butuh banyak perawatan, kau akan mendapat banyak sekali tagihan dokter hewan. Aku tidak yakin kau menyadari semua kesulitan yang akan kau hadapi ke depannya."

"Apapun itu, aku akan mengatasinya."

Minseok tidak memahami dirinya sendiri, ada sumbatan emosi yang mengganjal ditenggorokannya. Ia menundukkan tubuhnya untuk berjongkok disamping Gaho dan mulai membelai anjing itu, sambil mempertahankan agar wajahnya tidak terlihat sedih. "Gaho, sepertinya sekarang kau memiliki rumah permanen," ujarnya dengan suara serak.

Luhan berlutut disamping Minseok dan menangkup wajah Minseok dengan kedua tangan, memaksa Minseok untuk menatapnya. "Hei," ujar Luhan dengan lembut. "tidak apa-apa jika kau tidak mau melepasnya."

"Tidak. Kau hanya membuatku terkejut, itu saja."

"kau tidak percaya kalau aku bisa berkomitmen, bahkan sekalipun ada masalah serius yang harus kuhadapi kedepannya?" ibu jari Luhan membelai pipi Minseok. "aku belajar untuk menerima hidup yang harus kuhadapi. Memiliki anjing seperti Gaho memang akan merepotkan, sulit, dan mahal. Tapi pantas diperjuangkan. Kau memang benar...ada sesuatu yang mulia dalam diri Gaho. Buruk rupa diluar, tapi penuh dengan kepercayaan diri. Dia anjing yang baik."

Minseok ingin tersenyum, tapi dagunya gemetar, dan luapan emosi nyaris menguasainya lagi. "Kau pria yang baik," cetusnya. "Aku berharap suatu hari nanti kau akan menemukan seseorang yang bisa menghargaimu."

"Aku juga berharap begitu." Kata-kata itu diakhiri dengan senyuman. "Bisakah kita bangun dari lantai sekarang?"

.

.

.

Saat Luhan bertanya apa rencana Minseok untuk akhir pekan besok. Minseok mengatakan akan pulang ke Busan karena ibunya akan berulang tahun saat itu.

Melihat Luhan yang terlihat kecewa Minseok pun bertanya. "Ada apa?"

"Sehun akan berulang tahun besok."

Minseok mengalami dilema, karena merasa seolah ia berusaha meraih sesuatu yang sudah ia putuskan tidak akan diambilnya. Menghabiskan hari ulang tahun Sehun akan menjadi keterlibatan yang terlalu dalam, kedekatan yang terlalu intens untuknya. "Ah, maafkan aku" ujar Minseok, sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Eommaku sangat menginginkan Makaroni keju kesukaannya disetiap ulang tahunnya yang hanya bisa kubuat karena sangat mirip yang dibuat Nenekku jadi aku harus mengantarkannya besok."

"Makaroni –keju," Luhan memberikan tatapan mendamba pada Minseok. "Apa kau akan membawa pulang sisanya?"

Minseok mulai tertawa. "Aku akan membuatkan makaroni-keju untukmu juga. Apa kau mau aku buatkan pai juga?"

"Kau mau membuatkannya untukku?"

"Pai apa? Labu...apel...lemon?"

"Kejutkan aku," jawab Luhan, kemudian mencuri ciuman dari Minseok, yang dilakukan dengan sangat cepat, sehingga Minseok tidak sempat bereaksi.

.

Sehari sebelum akhir pekan, Minseok menjemput Sehun dan membawa gadis kecil itu kerumahnya untuk memasak bersama.

"Apa aku juga diundang?" tanya Jongin, saat hendak pergi.

"Tidak, ini hanya untuk para gadis," sahut Sehun sambil terkikik.

"Bagaimana jika aku memakai wig? Bagaimana jika aku berbicara dengan suara melengking seperti seorang gadis?"

"Jongin samchon," seru Sehun dengan ceria, "Samchon akan menjadi gadis paling jelek yang pernah ada!"

"Dan kau adalah gadis tercantik yang pernah ada," ujar Jongin sambil mencium Sehun. "Baiklah, kau boleh pergi tanpa aku. Tapi sebaiknya kau pulang dengan membawa pai yang sangat besar."

Minseok membawa Sehun ke rumahnya, menyetel musik yang ceria dan memakaikan celemek ke tubuh Sehun. Minseok menunjukkan pada Sehun bagaimana cara menggunakan parutan keju yang berbentuk lonceng kuno, jenis parutan yang memiliki empat sisi. Meskipun Minseok akan menggunakan blender untuk sebagian besar kejunya, tapi ia ingin Sehun mendapatkan pengalaman bisa memarut keju dengan tangan. Rasanya sangat mengharukan saat bisa melihat kegembiraan Sehun didapur; menimbang, mengaduk, dan mencicipi masakan yang mereka buat bersama.

Tak hanya membuat pai, mereka memotong adonan kulit sisa untuk dibentuk menjadi kue yang lucu, ditaburi gula dan kayu manis, dan dipanggang dengan loyang.

"Eomma ku menyebut ini kue sampah." Ujar Minseok.

Sehun menatap kue yang dipanggang melalui jendela oven. "Apa eomma imo masih hidup?" tanyanya.

"Iya, masih. Sebenarnya besok adalah ulang tahun eommaku dan eomma imo menginginkan makaroni keju untuk hadiah ulang tahun, maafkan imo karena tak bisa ikut merayakan ulang tahun Sehun besok." Minseok menyingkirkan kayu penggiling adonan dan menghampiri Sehun. Ia berlutut disamping Sehun, meletakkan tangannya diseputar tubuh mungil gadis kecil itu, dan bersama-sama mereka menatap jendela oven. "Apa pernah membuat kue?" tanya Minseok.

"Seingatku eomma tidak pernah membuat kue," jawab Sehun setelah berpikir sejenak. "Tapi eomma suka membuat Dalgona." (caramel yang tao beli dishowtime itu loh pas jalan-jalan)

Minseok tahu, akan sangat membantu jika kita bisa membicarakan orang yang sudah tiada. Rasanya menyenangkan saat mengingatnya. Dan mereka terus berbicara sambil memanggang kue, bukan percakapan yang panjang, tapi percakapan santai tentang ini-itu, sambil menikmati aroma kue yang lezat dan hangat.

Minseok mengantarkan Sehun malam itu, Sehun sudah mendapatkan hadiah ulang tahun dari Minseok berupa boneka panda yang sangat besar, melebihi badannya sendiri. Saat Minseok akan pulang Sehun melingkarkan lengan diseputar pinggangnya dan memeluknya untuk waktu yang cukup lama.

Wajah Sehun teredam dibagian depan mantel Minseok. "Apa imo tidak bisa merayakan ulang tahun Sehuniedisini besok?"

Tatapan Minseok beralih ke Luhan, yang berdiri didekat mereka.

"Minseok imo tidak bisa, Hunie," ujar Luhan dengan lembut. "Keluarganya membutuhkannya besok."

Rasa bersalah dan ke khawatiran mulai menggantikan kegembiraan yang dirasakan Minseok sepanjang sore tadi. Saat ia melihat dari atas kepala Sehun dan bertemu pandang dengan tatapan bersimpati Luhan, ia mengerti betapa mudahnya untuk jatuh cinta pada mereka berdua. Dan betapa besar ia akan merasa kehilangan nantinya, lebih dari yang sanggup ditanggungnya. Tapi jika ia bisa terus mencegah dirinya terlibat terlalu dalam dengan mereka, maka tidak ada risiko ia akan mengalami patah hati tanpa ada harapan untuk bisa pulih kembali.

Minseok menepuk kepala Sehun dengan lembut dan secara perlahan melepaskan diri dari pelukan erat gadis kecil itu. "Aku benar-benar harus pulang ke Busan besok," ujar Minseok dengan sedih. "Bye, Sehunie. Hari ini sangat menyenangkan." Minseok menunduk dan mencium pipi Sehun, yang terasa seperti gula dan bubuk kayu manis. "Selamat ulang tahun Sehun."

.

.

.

Pada pagi aat Minseok akan menghidupkan dan memundurkan mobilnya untuk berangkat ponselnya berbunyi, ia mematikan mesin mobil dan merogoh ke dalam tasnya.

"Halo?"

"Imo?"

"Sehun," sapa Minseok dengan sedikit khawatir. "bagaimana kabarmu?"

"Baik," jawab gadis kecil itu dengan suara ceria.

Minseok tersenyum, sedikit santai. "Ada apa Sehun?"

"Aku membiarkan Gaho keluar ke kamar mandi, kemudian dia kembali, dan aku menuangkan makannya ke mangkuk, lalu aku memberinya air."

"Aku yakin kau sudah merawatnya dengan baik."

"Tapi kemudian Luhan samchon meminta kami berdua meninggalkan dapur, sementara mereka membersihkan asap."

"Asap?" senyuman Minseok memudar. "Kenapa ada asap didapur?"

"Jongin samchon akan memasakan daging panggang untukku karena aku menginginkannya. Tapi Junmyeon samchon melepaskan pintu oven."

Minseok mengerutkan kening. Kenapa Junmyeon melepaskan pintu oven? "Sehun...dimana Luhan samchon?"

"Dia sedang mencari kacamata pengamannya."

"Kenapa dia membutuhkan kacamata pengaman?"

"Karena dia membantu Jongin samchon memasak daging panggangnya dibelakang."

"oh begitu." Minseok melihat jam tangannya. Jika ia bergegas, masih ada cukup waktu untuk mampir kerumah Luhan dan mengejar waktu untuk naik kapal. "Sehun, aku akan mampir kerumahmu dulu sebelum pergi ke terminal feri."

"bagus!" terdengar jawaban riang Sehun. "tapi jangan bilang aku yang menelpon Imo ya, aku akan mendapatkan masalah."

"Aku tidak akan bilang," ujar Minseok meyakinkan Sehun.

Sebelum Sehun bisa menimpali, terdengar suara pria yang bertanya, "Sehun kau berbicara dengan siapa?"

Minseok berkata. "Katakan padanya ini polling opini."

"Seorang wanita sedang melakukan polling opini," Minseok mendengar Sehun berkata demikian.

Setelah pengarahan singkat dari Luhan, Sehun berkata dengan serius. "Samchon ku bilang kami tidak memiliki opini." Sehun terdiam, lalu mendapatkan pengarahan lagi. "Dan," tambahnya dengan serius, "Kami termasuk kedalam daftar orang yang sebaiknya tidak ditelepon."

Minseok menyeringai. "yah, kalau begitu, aku akan langsung datang saja."

"Oke, bye!"

Saat Minseok sampai, ada mobil didepan rumah Luhan, yang terlihat mewah. Tidak diragukan lagi mobil itu pasti milik Junmyeon, adik Luhan yang belum pernah ditemui Minseok. Minseok merasa seperti orang asing yang mengganggu acara keluarga, tapi kekhawatirannya mengalahkan segalanya.

Minseok segera memarkirkan mobilnya dan berlari menaiki tangga, Sehun sudah menunggunya didepan pintu. "Imo!" seru Sehun sambil melompat-lompat, dan mereka berpelukan. Gaho datang menghampiri mereka, terengah-engah senang.

"Dimana para samchonmu?" tanya Minseok.

"Junmyeon samchon ada didapur. Aku dan Gaho membantunya. Aku tidak tahu dimana yang lain."

Bau masakan gosong samar-samar tercium oleh Minseok, dan terasa semakin kuat saat mereka masuk dapur. Seorang pria sedang berdiri didepan oven yang kacau balau, dengan obeng ditangan dan kotak peralatan disampingnya.

Junmyeon tampak lebih lembut dan necis dibandingkan saudara-saudaranya. Wajahnya tampan tapi terkesan menjaga jarak. Junmyeon lebih mirip Luhan dari pada Jongin. Walau pakaiannya yang dikenakannya terlihat santai, tapi terkesan mahal dan berkelas.

"Halo," sapa Junmyeon. "Siapa ini, Sehun?"

"Ini Minseok imo."

"Aku tidak ingin mengganggu," ujar Minseok dengan terburu-buru, saat Jumyeon meletakkan obengnya dan akan membersihkan tangannya. "Kau terlihat sibuk sekali...mengerjakan sesuatu. Boleh aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi?"

"Jongin memasukkan makanan ke oven dan tak sengaja menekan tombol pembersihan otomatis, bukannya tombil memanggang. Oven membuat makanan didalamnya gosong dan pintunya terkunci otomatis, jadi mereka tidak bisa membukanya untuk mengeluarkan makanan darisana."

"Biasanya pintu oven otomatis terbuka jika temperatur didalamnya turun ke kisaran dua ratus enam puluh sampai tiga ratus dua puluk derajat."

Junmyeon menggelengkan kepalanya. "Oven ini sudah dingin, tapi pintunya tetap tidak mau terbuka. Ini oven baru, dan ini kali pertama tombol pembersihannya digunakan. Tampaknya mekanisme pengunciannya rusak, jadi aku harus membongkarnya."

Sebelum Minseok bisa mengajukan pertanyaan lain, ia dikejutkan oleh nyala api, kemudian ledakan keras dari arah pintu belakang yang diikuti kepulan asap hitam. Secara insting, Minseok membalikkan badan untuk melindungi Sehun dan menundukkan kepalanya sambil terkesiap. "Oh Tuhan. Apa itu?"

Jumyeon menatap pintu belakang, wajahnya tidak berekspresi.

.

.

.

Pintu belakang terbuka, dan seseorang masuk bersama kepulan asap. Itu Luhan mengenakan kacamata pengaman, lengannya tertutup sarung tangan besar hingga ke siku. Luhan berjalan ke wastafel, mengulurkan tangan keatas lemari dan mengambil tabung pemadam api.

"Apa yang terjadi, Hyung?" tanya Junmyeon.

"Dagingnya tiba-tiba meledak saat kami menaruhnya di pembakar."

"sebenarnya apa yang kalian lakukan pada dagingnya sampai bisa seperti itu?" Minseok bertanya.

"Aku tidak tahu karena itu tugas Jongin..." kata-kata Luhan langsung berhenti. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Lupakan soal itu, apa Jongin baik-baik saja?"

"Untuk sekarang, iya. Tapi dia tidak akan baik-baik saja setelah aku menghajarnya. Daging sapi Korea yang mahal sia-sia gara-gara dirinya."

Ledakan lain terdengar dari luar, diikuti oleh suara makian.

"Keluarlah dan Selamatkan dia, hyung!"

Luhan menatap adiknya dengan jengkel. "Selamatkan Jongin atau dagingnya?" Luhan bergegas keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Minseoklah yang pertama kali berbicara. "Ini metode masak terbaru...melibatkan pasukan berpakaian pelindung..."

"Aku tahu." Junmyeon menggosokkan matanya. Junmyeon terlihat seperti orang yang tidak tidur untuk waktu yang lama.

Saat menoleh ke jam dinding, Minseok menyadari jika ia pergi sekarang, maka tidak mungkin ia sempat mengejar feri yang hendak dinaikinya.

Minseok memikirkan ibunya yang mungkin kecewa karena ketidak hadirannya. Tapi ibunya masih punya adik dan kakak-kakaknya juga keponakannya yang akan menyibukkan ibunya sehingga takkan sempat merasa kesepian. Ia tidak begitu dibutuhkan disana, tapi jelas sekali dibutuhkan disini. Ia menunduk dan menepuk punggung Sehun dengan sikap menenangkan.

Minseok beranjak ke kulkas, membuka pintunya dan melihat bahwa didalamnya penuh dengan susu,sayuran, buah—semua makanan sehat yang Sehun butuhkan—Kue tart untuk ulang tahun Sehun dan pai yang mereka buat bersama dengan makaroni keju disampingnya. Mereka memiliki semua yang dibutuhkan untuk memasak kecuali daging yang sekarang membawa bencana. Hanya saja, mereka tidak tahu bagaimana cara menyiapkannya.

"Sehun," kata Minseok. "Ayo ambil jaketmu. Kau akan ikut denganku."

"Kita mau kemana?"

"Imo akan mengabulkan keinginanmu hari ini."

Sehun berlari kekamarnya untuk mengambil jaket, Minseok berkata pada Junmyeon. "Aku akan mengembalikan Sehun."

"Aku mungkin sudah tidak ada disini begitu kau kembali. Aku sudah memberi Sehun kado jadi aku akan pulang setelah membetulkan oven ini." Kata Junmyeon.

"Kau akan menghabiskan akhir pekan ini bersama istrimu?"

"Tidak, istriku sedang di Jepang bersama keluarganya. Kami akan bercerai. Aku ingin minum di bar menghabiskan akhir pekanku."

"Aku turut bersedih," kata Minseok dengan tulus. "Tetaplah disini aku akan memasakkan masakan yang spesial untuk kalian hari ini."

"Aku tidak janji."

Sehun sudah kembali dengan membawa jaketnya.

"Sebelum kau pergi, bisakah kau melakukan sesuatu dengan anjing itu?" pinta Junmyeon sambil menatap dengan sorot gelisah kearah Gaho, yang sedang duduk santai didekat mereka.

"Apa dia mengganggumu?"

"Melihatnya mengamatiku dengan mata yang aneh itu membuatku ingin memvaksinasi diriku sendiri."

"Begitulah cara Gaho mengamati orang, Junmyeon samchon," kata Sehun. "Itu berarti dia menyukai samchon."

Sambil menggandeng tangan Sehun, Minseok pergi meninggalkan rumah dan menekan tombol diponselnya dalam perjalanan menuju ke mobil. Teleponnya langsung diangkat.

"Halo, sayang," Minseok mendengar seruan ayahnya.

Minseok tersenyum saat suara latar belakang yang tidak asing, suara adiknya, Sohee yang dimarahi ibunya, seruan kakak-kakak lelakinya yang Minseok tebak sedang main game, suara piring yang berdenting, dan tangisan dari ponakannya.

"halo Appa."

"Kau masih dikapal sekarang?"

"ehm, sebenarnya tidak. Aku sedang bertanya-tanya...apa menurut Appa, Eomma akan memaafkanku karena tidak bisa pulang untuk merayakan ulang tahun dan memberi kado untuknya?"

"Tergantung. Memangnya apa yang terjadi sampai kau tidak bisa pulang?"

"Aku ingin menemani gadis kecil yang sedang ulangtahun juga hari ini?"

"Apa gadis kecil itu keponakan dari temanmu yang pernah kau ceritakan pada Appa?" tebak Ayah Minseok yang memang selalu menjadi teman curhat Minseok.

Minseok tersenyum malu. "Sepertinya aku terlalu banyak bercerita pada Appa."

Ayahnya tergelak. "Nikmati harimu dan telepon appa nanti. Appa sebenarnya sangat menunggu makaroni keju dan pai darimu, bisakah kau menyimpannya dikulkas dan membawakannya untuk kami untuk kunjunganmu berikutnya. Appa akan menyakinkan bahwa istriku tersayang akan memaafkanmu."

"Terima kasih appa. Berikan ciumku untuk eomma. Dan terima kasih karena sudah sangat pengertian."

"Kau terdengar bahagia, sayang." Kata ayah Minseok. "Itu membuatku bersyukur lebih dari apapun."

Aku memang bahagia, Minseok menyadarinya saat menutup ponsel. Ia merasa...ringan. ia membawa Sehun masuk dan membungkuk untuk memakaikan sabuk pengaman didada dan pengkuan gadis kecil itu. Saat ia menyesuaikan talinya, pikirannya kembali ke api dan asap yang tampak melalui jendela dekat pintu belakang, dan ia tidak bisa mencegah dirinya tergelak.

"Apa imo tertawa karena samchonku bisa meledakkan daging?" tanya Sehun.

Minseok mengangguk, tidak berhasil menahan tawanya yang berikutnya.

Sehun mulai terkikik. Tatapannya bertemu dengan Minseok, gadis kecil itu berkata dengan polos. "Aku juga baru tahu daging bisa meledak."

Komentar itu membuat tawa mereka pecah seketika, dan mereka saling berpelukan, tertawa, sampai Minseok harus menyeka sudut matanya.

.

.

.

Pada saat Minseok dan Sehun kembali, Luhan dan Jongin sudah membersihkan bencana yang terjadi dihalaman belakang. Saat melihat Minseok, Luhan langsung datang menghampiri untuk membawakan benda berat ditangannya. Sehun mengekor dengan membawa kaleng saus.

"Dari mana semua ini berasal?" tanya Luhan, sambil meletakkan barang bawaan Minseok.

Minseok tersenyum. "Taeyeon bercerita membuat banyak steak kemarin, aku ingin membeli sebagian dari dirinya tapi saat aku bilang Sehun menginginkan daging sapi panggang dihari ulang tahunnya dia langsung memberikan steaknya dengan cuma-cuma. Disupermarket sedang kehabisan stok daging dan Sehun bilang tak apa dengan steaknya"

Luhan menopangkan sebelah tangan di konter, Luhan menunduk untuk menatap Minseok. Luhan terlihat segar setelah selesai mandi, aroma harum masuk ke hidung Minseok.

Suara lembut Luhan membuat jari kaki Minseok menggulung didalam sepatunya. "Kenapa kau tidak ke rumah orang tuamu?"

"Aku berubah pikiran."

"Kau baik sekali pada Sehun."

Luhan menurunkan wajahnya ke arah Minseok, mencium dengan tekanan lembut dan menggoda, yang membuat wajah Minseok merona dan menyedot seluruh kekuatan lututnya sambil mengerjapkan mata, Minseok menyadari bahwa Luhan menciumnya didepan keluarga Kim. Ia mengerutkan kening pada Luhan dan menoleh ke sekeliling dari atas bahu pria itu, untuk melihat apakah yang lain menyaksikan ciuman mereka, tapi tampaknya Jongin terlaru larut dengan tugasnya mengupas kentang, dan Junmyeon yang tidak jadi pulang menyibukkan diri dengan mulai menumis sayuran diteflon yang panas. Sementara Sehun sedang berada dilantai bersama dengan Gaho, membiarkan anjing itu menjilat penutup kaleng saus.

"Sehun," kata Minseok, "Pastikan kau membuang penutup kaleng itu begitu Gaho selesai. Jangan letakkan lagi diatas kalengnya"

"Baiklah. Tapi temanku, Namie, bilang mulut anjing lebih bersih daripada mulut manusia."

"Tanya Luhan samchon-mu," ujar Jongin, "apakah dia lebih suka mencium Minseok atau Gaho."

"kamjong," tegur Luhan dengan nada mengingatkan, tapi adiknya itu hanya menyeringai.

Sambil terkikik, Sehun menarik penutup kaleng dari mulut Gaho dan membuangnya ke tempat sampah.

Dengan pengarahan dari Minseok, Kim bersaudara berhasil menyiapkan makanan dan juga kue yang sudah dibuat dan menaruhnya dimeja. Mungkin ini sudah terlambat karena hadiah sudah mereka berikan pada Sehun sedangkan sekarang baru dilakukan tiup lilin.

Jongin membuka sebotol wine merah dan menuangkannya ke gelas untuk semua orang dewasa sementara Sehun diberikan gelas yang berisi jus anggur. Saat para orang dewasa saling menyentuhkan gelas. Minseok kebetulan menoleh kearah Sehun, yang sedang menggoyang-goyang dan mengendus jus anggurnya, dengan gaya yang sama persis dengan Jongin saat mencicipi wine. Minseok melihat bahwa Luhan juga memperhatikan sambil menahan senyumnya. Pemandangan itu juga membuat Junmyeon yang biasanya murung ikut tersenyum.

Sampai dimalam hari, Minseok masih disana, mereka menikmati pai dan kopi, sementara Sehun diberikan susu. Sambil menonton televisi, Sehun bergelung disofa dan langsung tertidur karena kenyang. Minseok menyelimuti tubuh mungil Sehun dengan selimut dan duduk disamping Luhan diujung sofa yang lain, gaho pergi ke tempat tidur khususnya disudut dan memejamkan mata dengan puas.

Junmyeon muncul diambang pintu "Aku akan pergi sekarang," katanya.

"Menginaplah disini, ada kamar tamu yang selalu bersih disini." Ujar Jongin.

"Kami butuh bantuan untuk menghabiskan makanan sisa," tambah Luhan.

Junmyeon menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, tapi aku sudah cukup menjalani waktu keluarga. Senang bertemu denganmu, Minseok."

"Aku juga senang bertemu denganmu."

.

Mereka menikmati acara tv dan tanpa sadar, Minseok mendapati dirinya bersandar dilengkungan lengan Luhan. Tubuh Luhan terasa hangat, bahu Luhan menopang kepala Minseok dengan sempurna. Minseok hanya setengah memperhatikan karena tampaknya layar televisi menjadi buyar saat ia menyerap perasaan berada begitu dekat dengan Luhan.

"Makaroni-kejunya," kata Luhan. "Bahkan lebih lezat daripada yang aku bayangkan."

"Ada bahan rahasia didalamnya"

"Apa itu?"

"Aku tidak akan mengatakan rahasiaku padamu, jika kau tidak mengatakan rahasiamu padaku."

Ada kesan tawa pada suara Luhan. "Kau duluan."

"Aku mencampurkan beberapa tetes minyak jamur kedalam sausnya. Sekarang katakan padaku apa yang kau campurkan ke kopimu."

"Sedikit gula maple." Luhan sudah menggenggam tangan Minseok. Sensualitas dari sentuhan Luhan mengirimkan getaran yang dahsyat dan dalam ke sekujur tubuh Minseok. Ia merasakan kenikmatan dan keputusasaan dengan komposisi yang sama, dalam hati menyadari bahwa untuk ukuran seorang wanita yang sudah memutuskan untuk tidak terlibat, belakangan ini ia telah membuat banyak sekali keputusan yang meragukan.

Apa yang pernah dikatakan oleh Taeyeon..? saat rasanya sudah tidak lagi seperti menggoda, maka itu baru masalah. Dan mustahil bagi Minseok untuk menyangkal bahwa apa yang terjadi sudah melewati tahap menggoda, jauh melewatinya. Ia mungkin sudah mencintai Luhan, jika ia membiarkan hal ini terjadi. Mungkin Minseok akan hancur semakin dalam.

Luhan adalah perangkap, dan Minseok sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menghindarinya.

"Aku harus pergi," bisik Minseok.

"Nanti dulu, tetaplah disini." Luhan menatap ke dalam mata Minseok, dan apapun yang dilihatnya disana, membuatnya mengangkat tangan ke pipi Minseok dengan belaian yang sangat lembut. "Ada apa?" gumam Luhan.

Minseok menggelengkan kepalanya dan memaksakan diri untuk tersenyum, mendorong dirinya sendiri menjauh dari Luhan. Setiap ototnya berteriak protes, saat ia meninggalkan kehangatan yang nyaman dari tubuh Luhan. Minseok menghampiri Sehun, yang masih tertidur pulas, dan menunduk untuk mencium gadis kecil itu.

"Apa kau akan pergi?" tanya Jongin, bangkit dari sofa

"Kau tak perlu bangun," ujar Minseok, tapi Jongin sudah berjalan ke arahnya dan meletakkan lengan diseputar tubuhnya untuk memberikan pelukan seorang kakak.

"Kau tahu," ujar Jongin dengan nada bergurau. "Jika kau sudah tidak tertarik pada kakakku, aku adalah alternatif yang menyenangkan."

Minseok tertawa dan menggelengkan kepalanya.

.

.

Saat mengantar Minseok keluar, Luhan dipenuhi oleh gairah, kebutuhan dan simpati, semua berbaur menjadi satu, mengancam akan membuatnya frustasi. Luhan memahami konflik batin yang dialami oleh Minseok, mungkin lebih baik daripada yang dipikirkan oleh Minseok. Dan Luhan mendapati dirinya berada dalam posisi yang membuatnya harus mendorong Minseok, dengan hati-hati, ke dalam sesuatu yang menurut Minseok belum siap untuk dihadapi oleh wanita itu. Jika hanya masalah kesabaran, Luhan akan memberikan semua kesabaran yang dimilikinya didunia ini pada Minseok tapi itu masih belum cukup untuk membuat Minseok mengatasi ketakutannya.

Luhan menghentikan Minseok diteras depan, ingin berbicara sebentar sebelum mereka keluar menembus malam yang dingin.

"Apa kau akan bekerja ditoko besok?" tanya Luhan.

Minseok mengangguk, tidak mau menatap mata Luhan. "Toko akan sangat ramai mulai sekarang sampai Natal."

"Bagaimana jika kita makan malam lusa?"

Pertanyaan itu membuat Minseok menatap Luhan. Mata Minseok terlihat lembut dan gelap, mulutnya tampak melankolis. "Luhan, aku..." Minseok terdiam dan menelan dengan susah payah, terlihat begitu tersiksa sehingga secara insting Luhan langsung meraihnya. Minseok menegang, menekuk lengannya diantara tubuh mereka, tapi Luhan terus memeluknya. Napas mereka menyatu menjadi kepulan uap.

"Kenapa Jongin boleh memelukmu," bisik Luhan, "Sementara aku tidak boleh?"

"Karena Jongin memberikan pelukan yang berbeda," jelas Minseok.

Luhan menundukkan keningnya ke kening Minseok. "Itu karena kau menyukaiku." Gumam Luhan.

Minseok tidak menyangkalnya.

Waktu berlalu cukup lama, dan Minseok menarik lengannya untuk dilingkarkan ke seputar tubuh Luhan "Aku bukanlah yang kau butuhkan," kata Minseok, dengan suara teredam sweater Luhan. "Kau membutuhkan seseorang yang bisa membuat komitmen padamu dan Sehun. Seseorang yang bisa menjadi bagian dari keluargamu."

"Kau telah memberikan kesan itu hari ini. Kau sungguh seperti ibu bagi Sehun."

"Aku telah memberimu sinyal yang campur aduk. Aku tahu itu. Aku minta maaf." Minseok menghela napas, dan nada suaranya berubah sedih. "Tampaknya kau menjadi godaan yang terlalu besar untuk aku abaikan."

"Seharusnya kau menyerah saja," kata Luhan dengan lembut.

Luhan merasakan getaran tawa disekujur tubuh Minseok. Tapi saat Minseok menatap Luhan, napasnya tertahan oleh tawa berikutnya, dan Luhan melihat bahwa mata Minseok tampak berkilau oleh air mata yang tertahan.

"Oh Tuhan, Minseok jangan lakukan itu," bisik Luhan. Setetes air mata mengalir ke pipi Minseok, dan Luhan menyekanya dengan ibu jarinya. "Minseok, jika kau tidak berhenti, aku akan memaksamu bercinta diteras yang dingin ini."

Minseok mengubur wajahnya didada Luhan, menarik napas beberapa kali, dan menengadah untuk menatap Luhan lagi. "Aku mungkin terlihat seperti pengecut," ujar Minseok. "Tapi aku tahu batasan yang kumiliki. Kau tidak tahu apa yang sudah kulalui, saat menyaksikan suamiku mati secara perlahan selama lebih dari satu tahun. Itu nyaris membunuhku juga. Aku tidak akan bisa melaluinya lagi, selamanya. Aku hanya mampu melaluinya sekali seumur hidupku."

"Pernikahanmu berakhir saat kau akan memulainya," kata Luhan, sarat dengan rasa mendamba, menyukai rasa Minseok didalam dekapannya. "Pernikahanmu tidak memiliki kesempatan untuk berkembang. Kau belum pernah memiliki anak, memelihara anjing dan bertengkar mengenai siapa yang mendapatkan giliran berikutnya untuk mencuci." Saat melihat lekukan lembut bibir bawah Minseok, Luhan tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk mencium Minseok, dengan keras dan terlalu singkat untuk bisa mereguk kenikmatan secara utuh. "Jangan menangis lagi, kumohon. Aku akan mengantarmu ke mobil."

Mereka berdua membisu, saat Luhan menemani Minseok menuju ke mobilnya. Minseok berbalik untuk menghadap Luhan, dan Luhan menangkup wajah Minseok dengan kedua tangannya untuk mencium wanita itu lagi, kali ini ia membiarkan mulutnya bertahan lebih lama disana, sampai Minseok mengeluarkan erangan lembut dan mulai membalas ciumannya.

Saat mengangkat kepalanya, Luhan merapikan ikal rambut Minseok yang berantakan dan berbicara dengan suara yang parau dan sarat perasaan cinta "Sendirian tidak berarti aman, Minseok, Sendirian hanya berarti sendirian." Dan setelah Minseok naik ke dalam mobil, Luhan menutup pintu dengan hati-hati, kemudian menyaksikan mobil Minseok melaju menjauh.

.

.

.

TBC

.

.

Ada yang komplain nah sekarang udah aku ganti moga gk melenceng dari cerita...aku berat banget kalo harus mikir tapi ini udah aku maksimalin ngeremakenya. Semoga kalian menikmatinya. Next chap end ya /hah akhirnya/

Dichap ini gk bisa balas review dulu tapi udah aku baca semua /pasti/ thanks ya itu penyemangat banget, lagi cuapek pake banget ni tubuh soalnya duh.

See u next chapter ^^