Apa yang Akan Terjadi

Oleh : Honsuka Sara

I'm sittin' here all by myself
Just tryin' to think of something to do
Tryin' to think of something, anything
Just to keep me from thinking of you
But you know it's not working out
'cause you're all that's on my mind
One thought of you is all it takes
To leave the rest of the world behind

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did

I'm sittin' here tryin' to convince myself
That you're not the one for me
But the more I think, the less I believe it
And the more I want you here with me
You know the holidays are coming up
I don't want to spend them alone
Memories of Christmas time with you
Will just kill me if I'm on my own

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back

I know it's not the smartest thing to do
We just can't seem to get it right
But what I wouldn't give to have one more chance tonight
One more chance tonight

I'm sittin' here tryin' to entertain myself with this old guitar
But with all my inspiration gone it's not getting me very far
I look around my room and everything I see reminds me of you
Oh please, baby won't you take my hand
We've got nothing left to prove

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did

And I didn't mean to meet you then
We were just kids
And I didn't mean to give you chills
The way that I kiss
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back but I know you did
Don't say you didn't love me back 'cause you know you did
No, you didn't mean to love me back
But you did

A Lonely September by Plain White T's

"Kau ini senang sekali mengerjaiku, ya?" ucap Conan kesal.

Sepuluh menit lalu, ia yang sedang asyik makan malam berdua dengan Ran tiba-tiba ditelepon oleh suara panik Ai yang tidak biasa. Memangnya sejak kapan ratu pengantuk yang sinis itu bisa sepanik itu, kan? Oleh karena itulah, secepat kilat, ia segera melesat dengan skatboardnya menuju rumah Profesor Agasa, sebisa mungkin menghindari tatapan sedih dan bingung Ran yang ditinggal sendiri saat makan malam. Memang, Kogoro akhir-akhir ini semakin sering mabuk-mabukan di luar membuat gadis SMA itu merasa kesepian di rumah.

Mengabaikan wajah Conan yang sudah seperti iblis dari neraka, Ai Haibara malah tersenyum lebar, yang anehnya, tampak lebih mengerikan dari wajah Conan barusan. "Terlalu menyenangkan bagimu bila hal ini kusampaikan baik-baik. Jadi setidaknya, kau harus benar-benar merasa kesal dulu."

"Apa ada kabar baik?" tanya Conan akhirnya, dengan amarah yang sudah lumayan mereda, digantikan rasa takut terhadap senyuman Ai yang lgi-lagi muncul dengan mengerikan.

Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, gadis yang terperangkap dalam tubuh kecilnya itu merogoh pelan saku jas lab yang kini dia kenakan. Sebuah botol berisi satu pil berwarna putih adalah satu-satunya benda di dalam botol itu.

Tentu saja, itu adalah kabar terbaik yang pernah Conan ketahui sejak pertemuannya dengan Organisasi Hitam di Tropical Land dulu sekali. "Apakah itu…"

"Menurutmu kabar baik apa lagi yang bisa kusampaikan untukmu?" Namun, sebelum Conan sempat mengambil botol itu, Ai menarik tangannya kembali. "Apa aku bilang aku akan memberikannya padamu sekarang?"

"Eh?"

Gadis kecil itu menghela napas panjang, prihatin dengan sifat agresif detektif muda di hadapannya. "Rye menemuiku kemarin. FBI akhirnya berhasil menemukan markas utama organisasi di New York dan karena kau sudah bisa kembali ke wujud aslimu, mereka ingin kau ikut dalam penyerbuan."

"Benarkah?" Mata itu berbinar-binar seolah mendapat jackpot, tak luput dari Ai. Tanpa sedikit pun keraguan bahwa penyerbuan itu akan gagal. Tanpa sedikit pun keraguan bahwa ia tak akan lagi kembali ke kehidupannya semula bahkan setelah berubah menjadi Shinichi Kudo. "Tunggu dulu. Rye? Siapa itu Rye?"

"Shuichi Akai, bodoh. Kau kira aku tidak tahu bahwa selama ini tetangga sebelah adalah mantan pacar kakakku?" Conan tampak kaget setengah mati dan mulutnya terbuka lebar, membuat Ai jadi sedikit tersenyum puas dalam hati melihat ekspresinya yang itu. "Kode namanya Rye. Kode nama… saat dia masih menyusup ke organisasi."

Conan masih melongo dengan wajah super bodoh, jadilah Ai memutuskan untuk pergi dari sana.

"Buatlah pesta perpisahan yang meriah. Anak-anak itu pasti akan menangis kencang."

Dengan kata-kata terakhir itu, Ai berbalik dan berjalan pelan menuju kamarnya. Ditutupnya pintu kayu yang membatasi ruangan lalu bersender di baliknya.

Ia memikirkan Conan Edogawa dan Shinichi Kudo.

Ia memikirkan Organisasi Hitam yang sebentar lagi mungkin musnah.

Ia memikirkan kehidupan Shinichi Kudo yang sempurna sebagai detektif, dengan seorang Ran Mouri yang sempurna di sisinya.

Sampai akhirnya, ia memikirkan tentang dirinya sendiri yang terpaksa menjadi Ai Haibara selamanya. Entah apa yang sudah terpapar padanya selama berkutat di laboratorium organisasi, tapi prototype permanen itu sudah kebal di tubuhnya.

Air matanya mulai menetes dan tubuhnya merosot di lantai. Di saat air matanya mulai mongering dan kesadarannya mulai hilang, gadis itu mulai memikirkan hatinya, yang sebentar lagi akan patah bahkan sebelum bersemi indah.

Conan Edogawa, lebih-lebih Shnichi Kudo, memang tidak pernah ditakdirkan menjadi miliknya.

"Ceritakan lagi alasan kenapa kau tidak bisa kembali menjadi berumur delapan belas." Shinichi yang sedang duduk di sofa di rumah Profesor Agasa mengurut pangkal hidungnya.

"Sudahlah, Shinichi. Jangan ganggu Ai-kun lagi," tegur Profesor Agasa dari sofa di hadapan Shinichi. Walaupun baru beberapa bulan, Ai sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Melihat Ai yang selalu memaksakan senyum sejak melihat Shinichi yang telah kembali ke wujud aslinya tentu saja sangat menyakitkan hati pria tua itu. "Ai-kun sudah mengusahakan yang terbaik untukmu dan bukannya berterima kasih, kau malah terus-terusan mengganggunya."

"Aku tidak…"

"Tentu saja kau menggangguku," potong Ai terhadap kalimat Shinichi dengan nada datar. Ia bersender di salah satu sofa juga, matanya tak lepas dari majalah fashion edisi minggu ini. "Jadi jika kau sudah mulai merasa bersalah padaku, majalah ini punya beberapa model tas yang benar-benar bagus," lanjut Ai, kali ini dengan nada khasnya saat memeras Shinichi.

"Oi, oi, aku kan baru membelikanmu dompet bermotif aneh yang sangat mahal itu minggu kemarin!" protes Shinichi, tak terima uangnya ludes dengan begitu cepat.

Kini berdecak dengan nada mengejek, Ai mulai mengalihkan tatapannya ke arah Shnichi. "Coba ingat lagi, apa alasanmu membelikanku dompet bermotif ginkgo itu."

"Tentu saja tanda terima kasih karena akhirnya kau berhasil membuat prototype permanen untukku!"

"Bingo." Ai tersenyum puas dan mulai berjalan ke arah Shinichi dengan majalah fashion di tangan kanan. "Lihat tas berwarna putih ini? Aku akan memakainya saat mengantarkanmu ke bandara lusa nanti."

Gadis kecil yang kini telah menginjak kelas 4 Sekolah Dasar itu tersenyum sedih memandang pigura yang menghiasi meja belajarnya. Lima orang anggota Grup Detektif Cilik berpose di sana. Genta yang menunjukkan wajah garang, Mistuhiko dengan wajah serius yang terlihat pintar, Ayumi yang bergaya-gaya detektif perempuan manis seperti serial di TV, Ai sendiri yang setengah menguap, serta dia.

Dia, yang dengan wajah malasnya tetap saja terlihat keren luar biasa.

Jika kalian semua mau tahu, hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa membuat Ai Haibara, si putri pengantuk yang sinis, out of character, meskipun hanya dalam hati. Dan orang itu, tidak lain tidak bukan, adalah seorang Conan Edogawa.

Oh, Shinichi Kudo sekarang.

Pertempuran hebat selama tiga tahun melawan organisasi akhirnya berujung manis. Organisasi itu lenyap sudah kini. Petinggi-petingginya, termasuk Anokata, Gin, dan Vermouth telah tiada, sedangkan bawahan-bawahan kelas rendah sudah mendapat penanganan khusus dari FBI.

Mengingat kemenangan besar itu, mau tak mau membuat Ai menghela napas berat. Bukan salahnya kalau dia terus menerus seperti ini. Dadanya terasa sesak seperti mau pecah. Air matanya sering kali merembet keluar, dan usahanya untuk menahan butir-butir bening itu berakhir dengan sesak napas yang menyakitkan.

Bukan salahnya jika ia seperti ini. Salahkan Conan Edogawa yang telah merebut hatinya, lalu membuangnya begitu saja seakan itu sudah waktunya. Dan memang, sudah waktunya Holmes zaman Heisei itu kembali ke tubuh aslinya dan pergi ke teman masa kecilnya yang sempurna itu.

Memangnya siapa seorang Ai Haibara sampai-sampai bisa berharap menyaingi seorang Ran Mouri?

Jangan bercanda.

Tadi pagi, saat Shinichi datang dan mampir sebentar untuk sarapan berhubung rumahnya masih kosong, kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak ada yang tidak mengenai Ran Mouri. Ran ini, Ran itu, dan terus begitu sampai Ai harus pura-pura diet dan pergi ke kamarnya di basement rumah Profesor Agasa cepat-cepat. Sekarang, pasti sang Tuan Detektif sudah menyatakan perasaannya yang selama ini tak tersampaikan pada wanita yang selalu dicintainya itu.

Benar. wanita yang selalu dicintainya.

Suara pintu kamarnya yang terbuka mengagetkan Ai dan begitu ia menoleh, sebuah seringai menyambutnya dari balik pintu. "Miss me, Sherry?"

Balasan review^^

Olga : ShinichiShiho yaa, soalnya Sara memang suka banget sama pair ini.

AN : Akhirnya chapter satu sudah jadi! Sara benar-benar senang chapter ini bisa Sara selesaikan di tengah kesibukan Sara di kampus, huhu T.T

Sara capek banget habis nggak tidur semalaman untuk ngerjain tugas. Jadilah dua hari satu malam kerja terus-terusan tanpa istirahat bikin Sara rada ngedrop. Tapi Sara nggak mau upload lama-lama berhubung prolognya memang pendek banget. So, inilah chapter satu buat kalian yang sudah baca prolog!

Karena Sara butuh feedback, makin banyak review kalian, makin cepat Sara update.

Akhir kata, terima kasih sudah membaca dan selamat berkomentar!