Apa yang Akan Terjadi

Oleh : Honsuka Sara

I'm sittin' here all by myself
Just tryin' to think of something to do
Tryin' to think of something, anything
Just to keep me from thinking of you
But you know it's not working out
'cause you're all that's on my mind
One thought of you is all it takes
To leave the rest of the world behind

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did

I'm sittin' here tryin' to convince myself
That you're not the one for me
But the more I think, the less I believe it
And the more I want you here with me
You know the holidays are coming up
I don't want to spend them alone
Memories of Christmas time with you
Will just kill me if I'm on my own

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back

I know it's not the smartest thing to do
We just can't seem to get it right
But what I wouldn't give to have one more chance tonight
One more chance tonight

I'm sittin' here tryin' to entertain myself with this old guitar
But with all my inspiration gone it's not getting me very far
I look around my room and everything I see reminds me of you
Oh please, baby won't you take my hand
We've got nothing left to prove

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did

And I didn't mean to meet you then
We were just kids
And I didn't mean to give you chills
The way that I kiss
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back but I know you did
Don't say you didn't love me back 'cause you know you did
No, you didn't mean to love me back
But you did

A Lonely September by Plain White T's

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ai mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman sekelasnya dengan lesu.

Setelah kejadian kemarin, ia harap ia bisa tidur seharian di rumah hari ini. Tapi sepertinya bukan alasan yang bijak untuk berpura-pura sakit, berhubung grup detektif cilik pasti akan menjenguknya sehingga mereka dan Profesor Agasa bisa langsung tahu bahwa dia berbohong. Jadi, setelah malam panjang yang diisinya dengan tangis, satu-satunya hal yang dapat dilakukan Ai Haibara adalah menutupi mata sembab dan lingkaran hitam di bawah matanya dengan make up tipis sebelum berangkat sekolah. Bukan berarti dia bisa menghilangkan mood buruknya begitu saja, kan?

Dan di hari seperti inilah dia mendapat tugas piket yang menyebalkan dengan dua orang teman sekelasnya. Mereka juga sudah pulang beberapa saat lalu sementara Ai masih duduk manis di kelas mengutak-atik ponselnya tanpa hati. Dia benar-benar tidak ingin pulang dan melewati rumah Shinichi, lalu makan malam sendirian. Profesor Agasa sedang menginap di Tokyo untuk pertemuan para ilmuan sehingga Ai tidak bisa mengandalkan profesor tua itu untuk mengalihkan perhatiannya. Ia juga tidak bisa mengundang Ayumi untuk menginap di rumahnya karena gadis itu sedang kedatangan kerabatnya dari Yokohama.

Hari sudah hampir gelap saat akhirnya Ai memutuskan untuk keluar dari kelas dan pulang ke rumah. Mungkin dia aka mengambil jalur yang berbeda sehingga tidak melewati rumah Shinichi hari ini. Walau tetap saja akan kelihatan, setidaknya Ai akan berusaha untuk tidak melihat ke arah sana.

Ai berjalan di trotoar dengan pelan dan sedikit menunduk. Saat itulah dia mendengar suara amat familiar yang memanggilnya dari belakang,

"Oi, Haibara!"

Seketika, Ai langsung menengok ke belakang dan membulatkan matanya. Sial, kenapa dia harus bertemu dengan Shinichi saat ini dari sekian kali dia sedang berjalan sendirian?!

"Kau baru pulang sekolah? Apa memang sekolahmu pulang sesore ini?" Shinichi menghentikan sepedanya tepat di samping Ai yang mukanya tertutup topi dan baju kerah tinggi. Tapi dia tidak akan pernah bisa salah mengenali warna rambut pirang dan seringai sinis itu, kan?

"Piket," jawab Ai dingin.

"Loh, lalu kau pulang sendirian?" tanya Shinichi yang masih tidak peka akan perubahan mood Ai begitu melihatnya.

"Ya."

Shinichi tampak menimbang-nimbang, lalu akhirnya berkata, "Bagaimana kalau kuantar saja?"

Menatap Shinichi yang cengar-cengir tidak jelas, Ai pun semakin merapatkan topinya, menghalangi tatapan Shinichi langsung pada matanya yang sudah perih menahan air mata. "Kalau pacarmu tahu, dia bisa cemburu, lalu aku yang jadi sasarannya."

"Ran?" Di sela-sela topi dan poninya, Ai bisa melihat pipi Shinichi yang memerah dan senyumnya yang melebar. "Mana mungkin dia cemburu padamu. Kau kan hanya anak SMP biasa yang baru berkenalan denganku di pesta kemarin."

Ya. Di mata mereka, Ai Haibara hanyalah anak SMP biasa. Maka biarlah dia menjadi anak SMP biasa yang tidak mengganggu kisah hidup pria di hadapannya yang sempurna.

"Oke, kalau begitu."

Ai duduk di boncengan sepeda Shinichi dengan gugup. Jantungnya berdetak dengan sangat keras dan berisik saat akhirnya, ia bisa bertemu lagi dengan Shinichi sedekat ini setelah saat pertama Shinichi pulang dan dia terlalu kaget untuk bisa merasakan hal ini lagi. Konyol memang, tapi selama tiga tahun terakhir menunggu orang di depannya, sesekali Ai berkhayal tentang Ran yang sudah mempunyai pacar lain atau Shinichi yang entah kenapa memilihnya disbanding wanita itu. Sekali lagi, semua itu memang konyol, berhubung Ran selalu setia menunggu Shinichi, sementara Shinichi hanya menganggapnya sebagai pencipta racun dan penyembuh yang memutar balik hidupnya.

"Haibara?"

"Ya?" tanya Ai gugup, takut kalau-kalau Shinichi mendengar detak jantungnya yang mulai menyakiti rongga dada.

"Kemarin, saat pesta di rumahku, kenapa kau keluar begitu saja?"

Tubuh Ai langsung menegang seketika saat Shinichi menyuguhinya dengan pertanyaan itu. Memangnya apa yang harus dia jawab?

"Memangnya apa yang kau harapkan dari seorang anak SD yang terjebak di pesta sekelompok mahasiswa?" Ai terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada mencemooh, "Oh, aku lupa. Sang pusat pesta bahkan belum lulus SMA."

"Oi, oi," protes Shinichi. "Enak saja kau ini bicara begitu. Aku sudah lulus SMA, tahu! Aku ikut paket ujian khusus di New York dan sekarang sedang memilih akan melanjutkan studi ke universitas mana." Shinichi terdengar kesal, sama sekali lupa dengan pertanyaannya yang belum terjawab oleh Ai. "Omong-omong soal itu, apa kau mau menyarankan universitas yang bagus untukku?"

"Bagaimana dengan akademi kepolisian? Kurasa itu cocok untukmu, lagipula kau sudah mengenal hampir semua polisi dari divisi satu sekarang, kan?" saran Ai. Ia menghela napas lega setelah topik yang dihindarinya sudah terlewat.

"Bagus juga. Kurasa kasus pembunuhan memang selalu membutuhkan detektif dari timur ini," ucap Shinichi yang diikuti dengan suara tawa bangga.

"Terserahlah," tandasnya setengah hati, namun tawa Shinichi dengan segera menularinya.

Semua jadi hening setelahnya. Mereka bersepeda dengan kecepatan lambat yang menenangkan. Matahari sore yang besar serta langit oranye senja mengiringi putaran roda yang membawa mereka semakin dekat ke rumah. Sejak hari di mana terjadi kasus pencurian bohongan di kediaman pemilik boneka putri kenalan Ayumi, ia makin mengagumi matahari senja ini. Menurutnya, hal ini adalah harta karun mata bagi segala yang menyempatkan diri untuk mengaguminya. Tak hanya sekedar indah, tapi juga penuh makna. Dia penutup mata sang mentari. Pencabut nyawa matahari dari siang dan membawa bumi menuju malam. Harapan Ai hari itu, bahwa suatu hari jika sudah saatnya ia menutup mata untuk yang terakhir kali, hal terakhir yang dilihatnya adalah Shinichi berlatar belakang matahari senja, sedang tersenyum ke arahnya.

Tapi itu tidak mungkin, kan? Penjahat sepertinya selalu ditakdirkan untuk mati di sel gelap berdebu. Selamanya selalu seperti itu.

"Kudo-kun, aku juga anggota organisasi. Kenapa FBI tidak menangkapku? " tanya Ai memecah keheningan.

"Mantan," desis Shinichi. "Kau mantan anggota."

"Tapi aku sudah membuat banyak orang menderita, kan? Kau bahkan tidak tahu berapa orang yang sudah kubunuh." Kata-kata itu terlontar keluar begitu saja, tapi Ai menyadari bahwa semua itu benar. Detektif dan pembunuh benar-benar tidak cocok.

"Apa kau tidak dengar dari tadi aku memanggilmu Haibara? Kau bukan lagi Shiho Miyano atau Sherry. Kau bukan lagi dirimu yang dulu! Kau sekarang Ai Haibara, siswi kelas 4 SD Teitan dan anggota grup detektif cilik. Kau bukan pembunuh!"

Ai tidak tahu lagi apa yang terjadi. Yang jelas, air matanya langsung tumpah di punggung Shinichi. Tangannya menggenggam erat kaus di kedua sisi tubuh Shinichi yang lembab karena keringat. Sesuatu di dalam dadanya membuncah.

Setelah sekian lama, setelah organisasi hitam tiada dan meninggalkan legenda, bahagia sekali rasanya mendengar seseorang mengatakan bahwa kau bukan pembunuh. Bahwa kau benar-benar hanya seorang anak kecil biasa yang normal. Bahagia sekali mendengar seseorang meyakinkanmu bahwa kau benar-benar seorang Ai Haibara.

"Haibara, kau sudah tidak apa-apa?" tanya Shinichi saat ia sudah tidak mendengar suara isakan Ai lagi. Punggungnya basah dan lengket, dan kepala dengan rambut-rambut tajam yang menusuk kulit punggungnya itu masih bersandar di sana. "Apa kau sudah lega?"

"Ya." Ai terdiam sejenak. "Maaf kausmu jadi basah."

"Tidak apa-apa."

Angin sorenya mengeringkan air mata di kedua pipinya. Namun dengan satu tangan masih berpegangan di kaus bagian pinggang kanan Shinichi, Ai merogoh saku roknya untuk mengeluarkan sapu tangan, membersihkan sisa-sisa air mata yang lengket di sana. Dia memang sangat beruntung bisa mengenal seoran Shinichi Kudo di dalam hidupnya.

"Haibara…." Setelah beberapa saat, Shinichi menggantung kalimatnya. "Selama tiga tahun ini di New York, aku sebenarnya sering memikirkanmu."

"Lalu?"

"Aku ingin tanya apa aku bersikap egois dengan memutuskan untuk kembali jadi Shinichi sementara kau tetap terjebak di tubuh kecilmu," ucap Shnichi pelan. Suaranya tidak hanya terdengar penuh penyesalan dan kepedihan, namun juga tekad, seolah butuh waktu lama sekali baginya untuk bisa mengatakan ini kepada wanita di belakangnya. Ini sebabnya ia tidak mau menghubungi Ai Haibara selama di New York. Bukan, bukannya tidak mau. Dia tidak berani.

"Tidak. Aku yang menciptakan APTX4869. Tanggung jawabku untuk membuat prototype dan mengembalikanmu seperti semula."

Itu benar, kan? Dia memang hanyalah seorang pendosa yang ingin menebus kesalahannya di masa lampau. Mungkin Tuhan hanya sedang berbaik hati memberikan kesempatan kedua untuknya. Bukan berarti dia bisa mengacaukan hidup sempurna Shinichi dengan menariknya ke dalam kehidupannya.

Oh, ayolah, Ai Haibara, jangan bermimpi.

"Tapi, kau benar tidak apa-apa?"

"Setidaknya aku menikmati kehidupanku di sini. Apa itu cukup?"

Hening sejenak, tapi Shinichi akhirnya melanjutkan, "Walaupun begini, aku akan terus menjagamu selamanya, Haibara. Kau mungkin tidak ingat dengan janjiku untuk tidak meninggalkanmu sendirian bersama anak-anak kecil itu, tapi aku ingat. Aku akan menemanimu walau dalam wujud Shinichi Kudo. Kalau kau butuh bantuan apa pun, kalau kau punya masalah apa pun, ingat saja bahwa kau punya Shinichi Kudo di balik punggungmu." Shinichi menghentikan sepedanya dan berbalik menatap Ai. "Aku nggak akan kemana-mana."

"Janji?"

"Janji."

Saat itu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, di bawah matahari senja yang sempurna, Ai Haibara dan Shinichi Kudo saling tersenyum dengan tulus. Walaupun hanya sebagai teman, pria di hadapannya sudah janji untuk tidak pergi dari sisinya.

Sudah cukup. Untuk seseorang sepertinya, itu semua sudah cukup.

~HS~

"Sherry?" tanya Shuichi kaget saat membuka pintu apartemennya. Kekesalan karena bel apartemennya dibunyikan berkali-kali pun memudar seketika. "Sedang apa kau di sini?"

"Apa kau tidak mau mempersilakan kami masuk dulu?" tanya Ai dengan manis yang mengehrankan Shuichi.

"Selamat sore!" sahut tiga suara berbeda di belakang Ai. Barulah Shuichi sadar alasan dibalik sikap manis Ai. Ia membawa tiga orang temannya yang terlihat berisik. Seorang lelaki berbadan besar yang tampak kuat, seorang lelaki lain yang terlihat pintar, serta perempuan manis dengan bando putih dan wajah berseri-seri. Tanpa suara, Shuichi segera membuka pintunya lebih lebar dan mengisyaratkan mereka untuk masuk. Mereka segera masuk ke ruang tengah dan duduk di karpet di depan televisi yang tidak menyala, menghampiri seorang bocah kecil yang sedang menatap serius buku dongeng penuh gambar.

"Ah, Rye, Miya-chan, perkenalkan, ini Genta Kojima, Mitsuhiko Tsuburaya, dan Ayumi Yoshida, teman-temanku dari grup detektif cilik. Teman-teman, ini Shuichi Akai, kakak iparku, dan Miya, anaknya."

"Salam kenal!"

Semua saling berkenalan, lalu anak-anak itu sibuk dengan Miya yang sangat imut, sementara Ai akhirnya dapat bicara berdua dengan Shuichi.

"Jadi, mau apa kau kemari?"

"Memangnya siapa yang bilang minta dikunjungi, huh?" senyum Ai sinis.

Shuichi membalas senyumnya, lalu menatap anak perempuannya yang tampak senang dikelilingi banyak orang. "Kurasa belum terlambat mengubah sifatnya jadi seperti kakakmu, ya?"

Melihat pemandangan di hadapannya, Ai mendengus. "Kau kira karena siapa aku jadi bisa tersenyum begini?"

"Kukira karena detektif bodoh itu."

"Dia janji untuk menjagaku. Dia masih memegang janjinya."

"Aku juga berjanji untuk menjagamu, Sherry," balas Shuichi tidak terima.

"Baguslah aku punya dua pengawal."

Glare Shuichi mengikuti setelah Ai menyelesaikan kalimatnya, namun Ai tidak menghiraukannya. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Kalau sudah waktunya kau kembali ke pekerjaanmu, aku bisa mengurus Miya dan seseorang masih akan menjagaku."

"Tapi dia…"

"Cukup aku saja yang menanggung semuanya. Dia tidak perlu tahu sejauh apa aku membutuhkannya."

"Apa kau yakin. Sherry?"

"Aku selalu yakin dengan kata-kataku, Rye."

Keheningan panjang menyelimuti setelah itu. Shinichi Kudo sudah membuat kerusakan permanen pada Sherrynya, dan Shuichi tidak akan membiarkannya begitu saja.

Tentu saja, tidak peduli Sherry berkata apa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Balasan review^^

Olga : haloo olgaa, akhirnya Sara update juga ya. Gimana chapter ini? Sara juga rada kesel kalau jadi Ai. Hiks T.T

Aptx : Sara sudah update^^ makasih yaa atas pendapatnyaa~ jangan lupa review lagii

AN : chapter 3 update, yahuuu! Wah nggak kerasa udah chapter 3 aja yaaa. Akhirnya kepanitiaan macam-macam dan acara di kampus udah kelar, jadi Sara bisa buka laptop dan nulis fic ini buat kalian. Sebenernya udah niat nulis dari kemarin-kemarin kok, tapi kalau berangkat jam 3 pagi dan pulang jam 11 malem kapan nulisnyaa T.T Kabar buruk, Sara besok udah mulai masuk kuliah! Jadi mungkin update kalau akhir pekan atau pas nggak lagi banyak tugas. Duh, Sara jadi kebanyakan curcol nih yaa, maafkan deh, wkwk. Makasih banyak yang udah review, follow, fav. Sara masih author baru yang punya banyak kekurangan dan butuh dukungan untuk menulis di sela-sela kesibukan!

Sekali lagi, selamat membaca dan dilanjutkan dengan mereview!