Apa yang Akan Terjadi
Oleh : Honsuka Sara
I'm sittin' here all by myself
Just tryin' to think of something to do
Tryin' to think of something, anything
Just to keep me from thinking of you
But you know it's not working out
'cause you're all that's on my mind
One thought of you is all it takes
To leave the rest of the world behind
Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did
I'm sittin' here tryin' to convince myself
That you're not the one for me
But the more I think, the less I believe it
And the more I want you here with me
You know the holidays are coming up
I don't want to spend them alone
Memories of Christmas time with you
Will just kill me if I'm on my own
Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back
I know it's not the smartest thing to do
We just can't seem to get it right
But what I wouldn't give to have one more chance tonight
One more chance tonight
I'm sittin' here tryin' to entertain myself with this old guitar
But with all my inspiration gone it's not getting me very far
I look around my room and everything I see reminds me of you
Oh please, baby won't you take my hand
We've got nothing left to prove
Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did
And I didn't mean to meet you then
We were just kids
And I didn't mean to give you chills
The way that I kiss
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back but I know you did
Don't say you didn't love me back 'cause you know you did
No, you didn't mean to love me back
But you did
A Lonely September by Plain White T's
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku tidak ingat pernah mengundangmu untuk makan malam di sini," ucap Ai Haibara sinis saat mendapati Shinichi yang duduk manis di depan meja makan, mengamati pacarnya yang manis dan –mungkin- dirinya sendiri yang sedang memasak di depan konter dapur.
"Tentu saja aku mengundang diriku sendiri, Haibara. Dan Ran sekalian, berhubung kami berdua baru saja pulang dari Tropical Land bersama," jawab Shinichi, jelas-jelas mengabaikan nada sinis dalam kata-kata Ai yang kental. Malahan, kini ia mulai mencomot kue cokelat yang tersedia dalam toples besar di atas meja makan.
Melihat Shinichi yang seenaknya seperti biasa, gadis yang kini sedang memotong-motong wortel di atas talenan itu hanya mendengus keras. Hatinya masih sedikit sakit mengetahui bahwa mereka berdua baru saja pulang kencan di akhir pekan yang cerah ini, bukannya ia tidak bisa menebak sejak awal mereka berdua muncul di depan pintu rumah professor. Paling tidak, kini ia bisa menutupi perasaannya dengan baik. Dan tentu saja, ia sudah bebas menggoda Kudo-kunnya lagi. "Aku berani taruhan kau pasti bertemu mayat lagi di sana." Ai mengalihkan pandangannya pada Ran yang sedang mengaduk sup di dalam panci lalu menjatuhkan tatapan prihatin pada wanita itu. "Aku benar-benar kasihan padamu, Mouri-san. Kau harus terjebak dengan magnet mayat selama ini. Aku turut berduka cita."
Tampak Ran yang ingin membalas kata-kata Ai, tapi Shinichi memotongnya tanpa sadar. "Oi, oi. Siapa yang magnet mayat, hah?!"
"Kau."
"Kasus hanya menghampiri detektif hebat ini untuk diselesaikan, bukannya aku yang mengundang kasus, tahu! Sekarang ini, seluruh Jepang berterima kasih padaku karena aku telah menyelesaikan kasus-kasus mereka. Harusnya kau bangga bisa mengenal Detektif dari Timur secara personal, Haibara."
Mendengar Shinichi dan temperamennya yang sudah sangat ia kenal, Ai Haibara tersenyum kecil. Hobinya untuk menggoda Shinichi memang sangat sayang untuk ditinggalkan. Objek eksperimen kesayangannya ini memang sangat menggemaskan untuk digoda. Mungkin Ai bisa membuatnya marah sedikit lagi. "Asal tahu saja, aku sama sekali tidak sedang berterima kasih padamu saat ini," ucap Ai malas, membuat Shinichi semakin kesal saja. "Kecuali kalau kau mau membelikanku tas yang ada di cover majalah itu. Ya, majalah yang ada di sebelah toples itu." Melihat Shinichi yang langsung memelototi tas yang dimaksudnya, Ai menambahkan, "Di berita yang tayang di TV kemarin, rasanya aku melihat diskusi terbuka tentang detektif dari timur dan barat. Tokyo patut berbangga karena detektif dari timur kita punya pamor beberapa persen lebih tinggi dari pada detektif Osaka yang sudah mulai sibuk kuliah itu."
"Tas itu sudah akan ada di kamarmu besok, Haibara, lihat saja," ucap Shinichi sambil menyeringai, tidak menyadari senyum kecil Ai yang licik.
Kau belum menyadari berapa harga tas itu, Kudo-kun. Kupastikan aku akan menemukanmu di kamarku sedang menangis sambil memangku tas itu besok. Lihat saja.
"Kau menghabiskan kue cokelatku," seru Ai tidak suka, menatap toples yang tadinya terisi penuh kini tinggal setengah.
"Tapi ini enak sekali!" bantah Shinichi, masih sambil mengunyah, tangannya merogoh kembali ke dalam toples. "Kau harus belajar mencobanya, Ran. Ini enak sekali! Atau mungkin kau harus belajar membuatnya dari Haibara."
Lagi-lagi, saat Ran memutuskan untuk menjawab, Shinichi memotongnya tanpa sadar.
"Omong-omong, kau sendirian lagi? Mana Profesor Agasa?" tanya Shinichi setelah beberapa saat.
"Yokohama. Katanya ia mau mendiskusikan sesuatu dengan teman sesama profesornya." Ai menghela napas panjang. Rasanya, ia jadi merindukan Profesor Agasa yang sering pergi menginap di luar akhir-akhir ini. "Profesor akhir-akhir ini sibuk sekali. Ia selalu mengurung diri di laboratorium kalau sedang di rumah. Tapi tak jarang juga ia pergi keluar untuk membahas penelitiannya."
Memang, sudah lama sekali Ai Haibara tidak menyentuh laboratoriumnya yang dulu di ruang bawah tanah. Sejak selesai dengan prototype itu, tepatnya. Ia ingin mengulang hidupnya. Dan itu berarti, dia bukan lagi Sherry atau Shiho Miyano yang senang berkutat di lab. Sejak tiga tahun lalu, dia adalah Ai Haibara, seorang siswi SD biasa yang punya kehidupan normal –senormal yang bisa dialami seorang mantan anggota organisasi berdarah dingin, tentu saja. Kembali ke masalah professor, jadi laboratorium di ruang bawah tanah itu kembali jadi hak milik Profesor Agasa dan Ai tidak pernah menengoknya satu kalipun.
"Kau tidak mengajak Ayumi atau temanmu yang lain untuk menginap?" Ai menggeleng, fokus pada blender yang sedang dioperasikannya. "Apa aku saja yang menginap di sini dan menemanimu?"
"Tidak usah," jawab Ai ringan. "Aku sudah janji akan menginap di apartemen Rye. Dia akan menjemputku setelah aku menyelesaikan tugas sekolah untuk besok."
"Kenapa kau harus menginap di tempatnya?" tanya Shinichi dengan nada tidak suka yang terlalu kentara. "Kan lebih praktis kalau aku yang menginap di sini."
"Aku kangen sekali pada Miya-chan. Dia anak yang sangat pintar, kau tahu? Dia bahkan sudah bisa membaca dengan lancar walupun masih agak cadel." Senyum manis Ai terkembang mengingat keponakannya yang manis, dan kini, sudah jadi lebih hangat karena Ai sering membawa teman-temannya untuk menemui Miya.
Melihat senyum Ai yang begitu tulus, entah kenapa membuat kedua pipi Shinichi terasa panas. Rasa kesalnya karena Ai harus menginap di apartemen pria FBI itu tersingkir sejenak. "Bukankah umurnya baru tiga tahun lebih?"
"Tiga tahun delapan bulan. Tapi tidak heran, karena setahuku Rye itu jenius dan kakakku juga bagian dari keluarga miyano, yang semuanya merupakan ilmuan," ucap Ai bangga.
"Terima kasih atas pujiannya, Bibi Sherry."
Tiga pasang mata segera melotot kaget ke arah pintu ruang makan. Entah sejak kapan, Miya dan Shuichi Akai sudah berdiri di sana.
"Kupikir, menjemputmu lebih cepat lebih baik. Namun rupanya kau sedang kedatangan tamu, ya?" ucap Shuichi, lalu dengan santainya duduk di depan meja makan juga, di sisi terjauh dari kursi Shinichi.
"Miya-chan! Kapan kau datang? Bibi tidak mendengarmu," Ai langsung memeluk Miya erat. Wajah anak itu berseri-seri dan ia balas memeluk bibinya erat.
"Baru saja. Ayah bilang membunyikan bel atau mengetuk pintu hanya akan menyusahkan bibi, jadi kami langsung masuk dengan kunci serep," jawab Miya polos.
Ai mendudukkan Miya di sebelah Shuichi sambil memberi glare pada Shuichi. Yang dipelototi hanya mengangkat bahunya santai.
"Aku agen FBI. Tidak mungkin aku tidak punya kunci rumahmu."
Melihat interaksi mereka berdua, ditambah dengan adanya Miya di antara Ai dan Shuichi, entah kenapa membuat Shinichi merasa kesal dan ingin marah-marah. "Hei, kau tahu yang namanya privasi? Aku tidak peduli kau agen FBI atau apa, tapi kau kan tidak bisa seenaknya menduplikat kunci rumah seseorang. Apalagi seseorang itu adalah seorang gadis kecil yang sering ada di rumah sendirian!"
"Memangnya kau pikir apa yang akan kulakukan pada Sherry? Masuk diam-diam ke rumahnya pada malam hari saat dia sedang sendirian?" Shnichi menggeram kesal mendengar jawaban Shuichi yang terkesan sangat santai, ditambah seringainya yang seolah-olah mengejek Shinichi. "Sebenarnya, baru saja kulakukan. Sayang sekali ternyata dia tidak sendirian."
Mendengar ini, Shinichi bangkit dengan kasar dari kursinya dan membuat gestur hendak menyerang Shuichi. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Ai berdiri di antara mereka berdua dengan wajah kesal. "Diam, kalian berdua."
"Tapi dia…"
Shuichi tidak mengizinkan Shinichi menyelesaikan kalimatnya dan segera memotong, "Apa? Aku sudah berjanji untuk melindungi Sherry dari orang-orang yang hanya bisa menghabiskan waktunya untuk hal-hal tidak penting. Lagipula, kini dia sosok ibu bagi anakku. Sudah sewajarnya aku melindunginya."
"Kau!" Mendengar kata sosok ibu bagi anakku benar-benar membuat Shinichi panas. Bagaimana bisa Ai menjadi sosok ibu bagi Miya yang bahkan hanya berbeda umur tujuh tahun dengannya? Oke, sebenarnya memang tujuh belas tahun, tapi kan…
Bukannya lebih cocok kalau Ai Haibara menjadi sosok ibu dari anak-anaknya kelak?
Tunggu, apa barusan yang dia pikirkan?
"Hentikan kalian berdua!" Jerit Ai Haibara dengan aura hitam menguar di belakangnya. "Duduk dan diam."
Melihat aura hitam yang benar-benar mengerikan itu, kedua pria yang sedari tadi bertengkar duduk diam di kursi mereka masing-masing. Entah sejak kapan, mereka tunduk pada Ai Haibara.
Melihat interaksi orang-orang itu, Ran makin merapatkan dirinya ke pojokan ruangan sambil mengumpulkan piring dan sendok. Ia merasa salah tempat. Ia merasa benar-benar salah tempat.
Saat tadi sore Shinichi mengajaknya mampir di sini, ia merasa bahwa Shinichilah yang akan mengalami percakapan awkward dengan Ai, dan berhubung mereka bertetangga, mungkin Shinichi ingin meminta bantuan Ran untuk mengakrabkan diri dengan Ai Haibara. Tapi sedari tadi, ialah yang merasa awkward. Baru tiga bulan semenjak Shinichi kembali, tapi sepertinya ia sudah akrab sekali dengan Ai, beda dengan Ran yang perlu waktu lama untuk bisa akrab dengan anak perempuan yang ternyata sangat dewasa itu.
Sedari mereka sampai tadi, Ran sudah tidak bisa masuk ke dalam percakapan mereka berdua. Shinichi dan Ai seolah memiliki dunia milik mereka berdua dan Ran tidak bisa masuk ke dalamnya. Mereka terdengar seperti sedang bertengkar, tapi juga terdengar seperti saling menggoda satu sama lain. Dan apa itu tadi tentang Ai yang minta dibelikan tas? Apa mereka sudah sedekat itu hingga sudah sampai pada basis minta dibelikan tas bermerk? Ran tahu tas macam apa yang ada di cover majalah itu. Harganya tidak murah, dan Shinichi dengan cepat langsung bilang bahwa ia akan membelikannya. Sementara untuk Ran sendiri, memangnya Shinichi pernah memberikan apa? Rasanya tidak pernah ada sesuatu yang spesial. Dan semudah itukah Shinichi bisa masuk ke kamar Ai untuk menaruh tasnya di sana? Apa-apaan pula kue cokelat itu? Seenaknya saja Shinichi memintanya untuk belajar membuat kue cokelat sederhana macam itu kepada seorang anak SD. Ran yakin bahwa dia bisa membuat yang jauh lebih enak daripada itu.
Belum lag tawaran Shinichi untuk menginap menemani Ai yang sedang sendirian di sini. Apa hal itu tidak terlalu berlebihan? Astaga, hanya akan ada mereka berdua di sini dan Ran sama sekali tidak peduli dengan fakta bahwa Ai Haibara hanyalah seoran anak kelas 4 SD! Tadinya, Ran akan merasa lebih aman kalau Ai Haibara menginap dengan kakak iparnya itu. Tapi setelah fakta bahwa kakak iparnya itu diam-diam menduplikat kunci rumah Ai dan masuk dengan seenaknya, Ran jadi takut juga. Memang, orang dengan perawakan seram itu adalah agen FBI, tapi apa tindakan itu tidak terlalu ekstrim? Dan apa-apaan pembicaraan tentang sosok ibu itu? Masa bodoh dengan fakta bahwa gadis kecil itu adalah keponakan Ai. Demi Tuhan, umur mereka hanya berselang tujuh tahun! Mana bisa Ai dianggap sosok ibu? Agen FBI itu benar-benar sudah gila. Mungkin itu akibatnya kini ia diberi cuti panjang.
Tapi yang paling menyakitkan hati Ran adalah fakta bahwa ia tidak bisa bicara sepatah katapun dari tadi. Selalu ada yang memotongnya saat ia akan bicara dan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Sekali lagi, ia merasa salah tempat. Ini bukan dunianya. Ini bukan dunia di mana ada dia dan Shnichi di dalamnya.
~HS~
Esoknya, Ran benar-benar tidak tenang dan menemui Shinichi di rumahnya. Setelah berpikir semalaman, ia merasa bodoh sudah cemburu pada Ai yang seorang anak SD. Walaupun begitu, ia tetap merasa harus menemui Shinichi dan memastikan perasaan Shinichi padanya.
"Shinichi, kau mencintaiku, kan?" tanya Ran sambil tersenyum manis.
Mereka berdua sedang duduk di teras rumah Shinichi sambil ditemani seteko teh dan setoples kue cokelat versi Ran yang dibuatnya tadi pagi.
Shinichi mengerutkan keningnya setelah menggigit sepotong kue cokelat, entah karena rasanya atau pertanyaan Ran. Ia meletakkan potongan kue cokelat itu lalu menjawab pertanyaan Ran. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Ran? Jujur saja kau aneh sekali hari ini."
"Aku hanya ingin memastikan, Shinichi. Kau tahu aku benar-benar sangat mencintaimu," jawab Ran manja.
Melihat sikap Ran yang tidak biasa itu, lagi-lagi Shinichi mengerutkan keningnya heran. "Ya, ya. Tentu saja aku mencintaimu. Memangnya ada apa, sih?"
Mendengar pernyataan Shinichi, Ran merasa lega. Ia pun memutuskan untuk menceritakan unek-uneknya saja pada Shinichi. "Kemarin, kau benar-benar membuatku kesal, Shinichi."
"Oh ya? Memangnya apa yang kulakukan?"
Ran menghela napas. Sulit memang, mempunyai pacar yang tidak peka macam Shinichi. "Kau akrab sekali dengan Ai, sampai-sampai saat kalian berdua mengobrol, aku tidak bisa menyela."
"Hmm, benar juga. Kalau kuingat-ingat kau memang tidak banyak bicara di rumah professor kemarin. Baiklah, aku minta maaf," jawab Shinichi sambil tersenyum membuat hati Ran bertambah lega.
"Shinichi…"
"Ya?"
Ran meneguk tehnya, menimbang perkataannya sejenak, lalu memutuskan untuk mengatakannya pada Shinichi. Dia adalah pacar Shinichi bukan? "Aku tidak mau kau terlalu dekat lagi dengan Ai."
"Hah?" Heran dengan pertanyaan Ran, Shinichi merasa pendengarannya barusan salah.
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya. Sepertinya dia sedang berusaha menggodamu, Shinichi," Ran menegaskan ucapannya pada Shinichi.
"Kau bicara apa, sih, Ran? Kau tidak bisa melarangku dekat dengan Haibara seenakmu begitu saja." Apa maksudnya Ran bicara begini? Tentu saja dia tidak bisa menjauhkan Ai Haibara dari Shinichi.
"Tentu saja aku bisa! Aku ini pacarmu, Shinichi! Dan aku tidak suka kau dekat-dekat dengan wanita lain selain aku!" Ran mulai emosi. Kepalanya panas mendengar bantahan Shinichi akan permintaannya.
"Tetap saja kau tidak bisa melarangku untuk berada di dekat Haibara! Dia adalah orang yang paling mengenalku di dunia ini, mana mungkin aku menjauh darinya begitu saja. Aku sangat menyayanginya, Ran."
"Jadi kau lebih memilih dia daripada aku?!" Ran benar-benar kaget mendengar jawaban Shinichi. Sepenting itukah seorang Ai Haibara bagi pacarnya? Air matanya mulai menetes deras, jawaban Shinichi benar-benar menusuk hatinya.
"Maksudku…"
"Jadi suatu hari kau akan meninggalkanku untuknya?!"
"Ran…"
"Kau bisa meninggalkanku tapi kau tidak bisa meninggalkannya?!"
"Ya!" Jerit Shinichi kesal. Ran sudah membuat kesabarannya habis. "Aku punya janji untuk selalu melindunginya apapun yang terjadi dan aku tidak akan pernah meninggalkannya walaupun kau yang memintaku. Kalau kau seperti ini, justru aku malah ingin menjauh dulu darimu," lanjut Shinichi dingin.
"Shinichi, kau…" Ucapan Ran terputus. Tangisnya sudah terisak. "Apa kau mencintainya?"
Shinichi terdiam. Ia sama sekali tidak mengharapkan pertanyaan semacam itu keluar dari mulut Ran, orang yang selama ini dicintainya. Shinichi memejamkan matanya, memutar kembali memorinya saat menjadi Conan Edogawa, menyaksikan saat di mana ia melihat Ai menangis untuk pertama dan terakhir kalinya, bagaimana Ai membantunya dalam setiap kasus, penawar sementara yang dikonsumsinya sebagai buah hasil dari Ai yang begadang hampir setiap malam dan ia malah menyebut Ai putri pengantuk yang sinis. Ia mengingat lagi tentang ekspresi Ai saat hanya dirinyalah yang bisa kembali sebagai Shinichi Kudo. Ai pasti merasa ditinggalkan di antara anak-anak kecil sungguhan itu. Padahal dia sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Ai sendirian, tapi ia malah pergi selama tiga tahun. Bukannya ia tidak merindukan Ai selama di New York, justru sebaliknya ia sering sekali memikirkan gadis kecil itu. Dan begitu ia kembali, secara tidak sadar ia benar-benar lega saat hubungan mereka kembali baik setelah obrolan panjang di sepeda itu.
Shinichi tidak menghendaki semuanya berjalan sejauh ini. Sejak awal, Shinichi tidak pernah bermaksud untuk menjalin hubungan akrab dengan Ai sampai mereka berdua senyaman ini terhadap satu sama lain.
Shinichi tidak bermaksud untuk jatuh cinta kepada Ai Haibara, tapi ia sudah terlanjur melakukannya dan tidak bisa bangkit kembali.
"Ya. Aku mencintainya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Balasan review^^
Aoko : bukaan, masih ada lanjutannya kok. Ciee, penasaran apa nih sama mereka berdua? Ini udah lanjut yaa, makasih atas reviewnyaa, jangan lupa review lagi, hehehe
AN : chapter 4 sudah Sara update, hehehe. Mudah-mudahan satu chapter lagi bisa tamat yaa. Sara bener-bener minta maaf buat yang udah nungguin karena kali ini Sara updatenya lama banget. Seperti yang udah Sara bilang, Sara udah mulai ngampus lagi dan langsung super sibuk gitu, karena ada tambahan osjur dan ngader dan setumpuk tugas. Makasih bagi yang udah mau review yaa. Silent reader please review jugaa, Sara juga ingin tau apa pendapat kalian^^
