Apa yang Akan Terjadi

Oleh : Honsuka Sara

I'm sittin' here all by myself
Just tryin' to think of something to do
Tryin' to think of something, anything
Just to keep me from thinking of you
But you know it's not working out
'cause you're all that's on my mind
One thought of you is all it takes
To leave the rest of the world behind

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did

I'm sittin' here tryin' to convince myself
That you're not the one for me
But the more I think, the less I believe it
And the more I want you here with me
You know the holidays are coming up
I don't want to spend them alone
Memories of Christmas time with you
Will just kill me if I'm on my own

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back

I know it's not the smartest thing to do
We just can't seem to get it right
But what I wouldn't give to have one more chance tonight
One more chance tonight

I'm sittin' here tryin' to entertain myself with this old guitar
But with all my inspiration gone it's not getting me very far
I look around my room and everything I see reminds me of you
Oh please, baby won't you take my hand
We've got nothing left to prove

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did

And I didn't mean to meet you then
We were just kids
And I didn't mean to give you chills
The way that I kiss
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back but I know you did
Don't say you didn't love me back 'cause you know you did
No, you didn't mean to love me back
But you did

A Lonely September by Plain White T's

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tepat dua minggu Shinichi Kudo mengurung dirinya di dalam rumah.

Bukannya tanpa alasan, namun apa yang telah dikatakannya pada Ran tempo hari benar-benar menjadi shock besar bahkan untuk dirinya sendiri. Jelas saja, ia langsung putus dengan Ran saat itu. Tapi, bukannya hal itu berarti ia bisa langsung datang pada Ai dan memintanya jadi pacar Shinichi, kan? Tidak, ia tidak sebodoh itu. Ai Haibara hanya menganggap seorang Shinichi Kudo sebagai objek eksperimen kesayangannya selama ini, tidak pernah lebih dari itu. Siapalah dia sampai perempuan hebat itu mau menerimanya? Tidak, tentu saja ia tidak sebodoh itu.

Lalu apa yang harus dilakukannya? Perasaannya pada Ai Haibara ternyata sudah sangat dalam, hanya saja rasa cintanya pada Ran menutupi itu selama ini. Ia menikmati hubungannya bersama Ran selama ini, tentu saja. Tapi hal itu jauh berbeda saat ia bersama-sama dengan Ai. Di depan Ran, Shinichi selalu berusaha untuk tampil keren dan menjaga image. Namun di depan Ai, Shinichi bisa bebas menjadi dirinya sendiri. Ia bisa menggoda Ai sepuasnya (dan digoda sepuasnya oleh Ai) tanpa takut Ai akan berpikir macam-macam mengenai dirinya setelahnya. Kalau dipikir-pikir lagi, dia memang lebih nyaman ada di dekat Ai selama ini.

Sekali lagi, lalu memangnya apa yang harus dilakukan oleh Shinichi? Ai Haibara tidak mungkin menganggapnya lebih dari teman. Setelah apa yang mereka lalui selama ini, terlebih janjinya kepada Ai tempo hari untuk selalu melindungi Ai, dia tidak bisa seenaknya saja meminta Ai jadi pacarnya, bukan? Belum lagi Shuichi Akai yang tampaknya selalu ingin mendominasi hidup Ai. Dengan masa cuti panjangnya yang entah kapan akan berakhir, pria itu sering sekali mengajak Ai pergi dengannya saat weekend. Melihat sikap Ai pada pria itu ditambah dengan panggilan kesayangan mereka terhadap satu sama lain, sepertinya Shuichi Akai memang punya tempat spesial di hati Ai Haibara.

Dan kau tahu apa yang terburuk? Ai Haibara bahkan baru berumur sepuluh tahun.

Shinichi sudah benar-benar kalah jika harus bertarung untuk mendapatkan Ai Haibara, kan? Dan dia bahkan mengurung dirinya di rumah karena takut bertemu Ai jika ia keluar. Konyol, tapi itulah Shinichi Kudo.

"Shinichi?" Tiba-tiba, terdengar suara Profesor Agasa dan ketukan pintu dari arah pintu depan. "Kau belum akan keluar juga?"

Menghela napas, Shinichi bangkit dari sofa ruang tamu dan berdiri tegak di depan pintu tanpa berniat untuk membukanya sedikit pun. "Pergilah, Profesor. Aku belum bisa keluar."

"Kau bertengkar dengan Ran, ya? Sebaiknya bicara baik-baiklah padanya, Shinichi. Tidak baik hanya mengurung diri di rumah begini dan tidak berbuat apa-apa," sahut Profesor Agasa dari balik pintu.

Tampaknya, Ran belum menceritakan apa-apa pada professor. Apalagi tentang dia yang mencintai Ai. Kalau Ran sudah menceritakannya, Shinichi bisa jamin Profesor Agasa tidak akan setenang ini. Profesor sudah lama menganggap Ai sebagai anaknya sendiri, tentulah ia akan bersifat protektif pada Ai jika tahu perasaan Shinichi.

"Pergilah, Profesor," sahut Shinichi lagi. Ia benar-benar tidak ingin bicara pada siapa pun. Bukannya dia berniat untuk mengurung diri di rumah selamanya, kan? Mungkin dia akan keluar dua tiga hari lagi jika bahan makanan di kulkasnya sudah habis.

"Shinichi, kau yakin tidak mau keluar sekarang?" Profesor Agasa menggantung kata-katanya. "Ada seseorang yang mau menemuimu."

Ran? Orang tuanya? Shuichi Akai? Ai Haibara? Entahlah, Shinichi benar-benar tidak mau menemui siapa pun sekarang.

Lebih-lebih Ai Haibara, orang yang memang dihindarinya karena sudah membuat hatinya tercampur aduk memualkan. Tidak, dia tidak mau menemui Ai Haibara.

"Profesor, aku mohon pergilah." Tanpa menunggu tanggapan Profesor Agasa lagi, Shinichi segera pergi menuju kamarnya untuk memejamkan mata sejenak dan mengusir Ai Haibara dari pikirannya yang kini terasa sempit.

Pergilah dulu, Haibara. Jangan ganggu aku.

~HS~

Shinichi terbangun karena aroma masakan hangat dan lezat yang menyapu lubang hidungnya. Mungkin dia masih bermimpi, tapi setelah dua minggu mengonsumsi makanan instan, aroma seperti ini serasa bisa membuatnya terbang menuju dapur.

Masih sambil setengah memejamkan mata, Shinichi turun dari kamarnya di lantai dua menuju dapur, dibimbing oleh aroma yang memuaskan lubang hidungnya. Sesampainya di dapur, ia duduk di depan meja makan dan membuka matanya perlahan, menyapu pemandangan di atas meja makan yang dipenuhi piring-piring penuh makanan lezat yang familiar baginya.

Mimpi ini sungguh indah, batin Shinichi.

Ia baru saja akan mencomot sepotong tempura dari atas piring bermotif abstrak di depannya saat sesuatu menyenggol tangannya. Lebih tepat lagi, seseorang menyenggol tangannya agar dia tidak mengambil tempura itu sembarangan dengan tangan.

Shinichi mendongak untuk melihat siapa orang itu. Dan dia menyesal karena mimpi indahnya seketika berubah menjadi mimpi buruk karena di depannya hadir seseorang yang sanggup menyiksa hari-harinya seterusnya. "Ha… Haibara?"

Namun, itu bukannya benar-benar Ai Haibara.

Gadis yang berdiri di hadapannya bukanlah Ai Haibara, sosok gadis yang familiar di mata Shinichi. Rambutnya masih pirang kecokelatan, kulitnya masih putih bersinar, dan bibirnya masih menyunggingkan senyum yang biasa, tapi dia jelas-jelas bukan Ai Haibara.

"Ai Haibara sudah dijemput orang tuanya dan pulang ke Inggris dua hari lalu, Shinichi Kudo," ucap gadis yang kini sibuk menata piring dan sendok ke depan Shinichi. "Namaku Shiho Miyano, salam kenal."

Gadis itu kini menatap lurus ke matanya dan tersenyum.

"A… A… A…" Shinichi tidak sanggup mengeluarkan suaranya. Mimpi macam apa ini? pikirnya. Sosok di depannya benar-benar terasa nyata, tapi itu tidak mungkin, kan? Ai sendiri yang bilang bahwa dia tidak bisa kembali menjadi Shiho Miyano tiga tahun lalu. Ini tidak nyata, kan? Kalau Ai sudah kembali jadi Shiho begini, Shinichi akan semakin sulit menahan godaan untuk tidak mendekatinya dan menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa. Err, atau hubungan yang lebih dari sekedar ilmuan-obek eksperimen biasa.

"Aku berhutang seumur hidup pada professor, Kudo-kun. Ternyata selama ini dia menyelidiki lagi prototype itu tanpa sepengetahuanku dengan sisa-sisa penelitian yang kutinggalkan di lab ruang bawah tanah. " Ai Haibara, atau kini, Shiho Miyano, duduk di hadapan Shinichi dan memandangnya intens, dengan senyum paling tulus dan bahagia yang pernah dilihat Shinichi selama ia mengenal gadis itu. "Aku tahu aku bilang aku bahagia bisa mengulang masa kecilku, tapi begitu aku kembali menjadi Shiho, aku baru menyadari bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. Secara tidak sadar, mungkin aku sedikit berbohong pada kalian setelah membohongi diriku sendiri. Tapi, di sinilah aku sekarang, sebagai seorang Shiho Miyano lagi."

"Hai… bara?"

"Ya? Apa kau begitu senangnya melihatku sampai tidak sanggup bicara?" Shiho masih tersenyum lebar, dan mau tidak mau, Shinichi hanyut dalam senyum itu. Dalam pesona Shiho Miyanonya.

Bangkit dari kursinya, Shinichi menghampiri Shiho. Ia memeluk Shiho dengan erat, seerat yang dia bisa, lalu menangis di bahu gadis itu.

"Kudo-kun, apa yang terjadi padamu?"

Air matanya makin deras dan tenggorokannya masih terasa kering, tapi Shinichi berusaha untuk mengatakannya. Ia harus mengatakannya. "Kau mau dengar sesuatu yang menyedihkan, Haibara?" Sekali lagi, Shinichi menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya. "Aku akan menceritakan kisah tentang seorang pria bodoh yang mencintai seorang gadis bernama Ai Haibara."

~HS~

Epilog

Enam tahun kemudian

"Miya-chan, apa kau sudah selesai sarapan?" tanya Shiho pada keponakannya yang tadi malam baru saja menginap di rumah keluarga Kudo. Tentu saja, akibat sang ayah yang lagi-lagi mendapat tugas FBI di luar negeri.

Meneguk susunya hingga habis, Miya menjawab pertanyaan bibinya itu. "Sudah, Bibi Sherry. Aku sudah siap berangkat sekolah."

"Bagus," sahut Shiho pelan sambil tersenyum dan mengacak pelan rambut Miya yang sudah disisir rapi. "Shinichi, apa kau sudah selesai? Miya menunggumu!" jerit Shiho pada Shinichi yang masih saja ada di kamar mereka. Suaminya itu memang bukang morning person sedari dulu.

"Sebentar, Shiho, sebentar," ucap Shinichi sambil terburu-buru menuruni tangga. Dasinya belum terpasang dengan benar dan wajahnya menampakkan ia masih kesal karena baru mendapat sedikit tidur setelah laporan kasus yang dibuatnya semalam.

Begitu sampai di depan meja makan, Shiho segera menghampiri Shinichi dan merapikan dasinya, diam-diam tersenyum manis melihat wajah sang suami yang terlihat mengantuk dan kesal setengah mati. "Kau antarkan Miya ke sekolah dengan selamat, oke? Aku sudah siapkan bekal agar kau bisa sarapan di kantor."

"Tentu saja aku akan mengantar anak itu dengan selamat, Shiho. Bisa berlubang kepalaku jika ayahnya pulang nanti dan menemukan putrinya celaka di tanganku," tawa Shinichi sambil mengedip ke arah Miya, tangannya membentuk pistol yang pelatuknya ditarik.

Gadis berumur sembilan tahun itu tertawa kecil mendengar candaan pamannya, lalu membalas dengan lelucon yang sama kejamnya, "Lho, Paman Shinichi belum tahu kalau aku juga sudah punya pistol pribadi? Paman pikir apa hadiah dari ayah saat ulang tahunku kemarin?" Melihat Shinichi yang memucat, Miya malah melanjutkan, "Dan aku juga punya hak imunitas sebagai anggota keluarga inti dari expert agent FBI, yang artinya, tidak akan ada yang menyalahkanku seandainya aku menembak kepala seseorang."

Shiho tertawa kecil mendengarnya, lebih-lebih karena ia tahu hadiah Shuichi pada Miya adalah biola, dan bukannya pistol seperti yang diceritakan gadis itu. Pada akhirnya, sebanyak apa pun pendekatan yang dilakukan grup detektif cilik pada Miya, gadis itu tetaplah anak dari seorang Shuichi Akai. Semirip apa pun Miya dengan kakaknya, dia tetaplah mewarisi gen Shuichi Akai. "Jangan keterlaluan pada pamanmu, Miya-chan. Dia bahkan langsung lupa bahwa sebagai polisi dia juga punya pistol."

"Maafkan aku, Bibi Sherry. Seperti kata ayah, Paman Shinichi memang asyik untuk diganggu," jawab Miya sambil tersenyum geli. "Ayo, Paman. Aku bisa terlambat ke sekolah dan paman bisa dimarahi Inspektur Sato jika terlambat mengumpulkan laporan di kantor."

Shinichi dan Shiho melihat Miya yang sudah berjalan santai keluar dari dapur dengan senyum maklum. Anak itu benar-benar mirip dengan Shuichi Akai.

"Miya selalu mengingatkanku akan betapa menyebalkannya kakak iparmu, Shiho."

"Tapi dia sangat manis, kan? Aku ingin gadis kecil kita nanti juga semanis dirinya," sahut Shiho sambil mengusap perut besarnya. Bulan ini, kandungannya sudah memasuki sembilan bulan sehingga pekerjaannya sebagai dosen di Universitas Tokyo harus berhenti sejenak.

"Gadis kecil kita akan jadi anak termanis yang pernah ada, Shiho," sambung Shinichi. "Aku pergi dulu sebelum anak itu benar-benar membunuhku. Kudengar dia sudah lulus tes menembak tingkat dua bulan kemarin. Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Shinichi."

Shiho melambaikan tangannya pada Shinichi dan Miya sambil mengelus perutnya yang buncit. Enam tahun lalu, dia memang nyaris pingsan saat suaminya bilang bahwa dia mencintai Shiho. Dia tidak menyangka bahwa semuanya telah berjalan sejauh ini. Pertemuan pertama mereka memang bukan suatu masa yang menyenangkan untuk diingat, mengingat tubuh kecil dan posisi mereka yang ada di jalan bersebrangan.

Shiho tidak bermaksud untuk berjalan sejauh ini bersama Shinichi. Shiho tidak bermaksud untuk bisa ada sedekat ini, bahkan membagi semua perasaannya pada Shinichi. Shiho tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta padanya, tapi dia melakukannya.

Dan Shinichi tidak pernah pula bermaksud untuk jatuh cinta balik kepada Shiho, tapi Shiho tahu Shinichi melakukannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

~Tamat~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Balasan review^^

Olga : ini dia chapter terakhir, gimana? Gimana?

Yuzuki Fukui : haloo, mantan silent reader yang akhirnya memberanikan diri untuk merivew fic Sara. Terima kasih banyak, Yuzuki-san 3 ini chapter terakhir, tapi Sara udah rencana bikin fic lagi dalam waktu dekat kok, walau belum tau bakal di fandom apa atau pairnya siapa. Tetep review yaa!

AN : Haloo semuaaa^^ Akhirnya fic pertama Sara tamat juga dan Sara bahagiaaaa~

Oiya, mohon maaf juga karena mungkin endingnya tidak sesuai keinginan kalian. Sebenarnya Sara niat mau bikin beberapa konflik dan drama lagi sebelum benar-benar tamat, tapi berhubung Sara sibuk dan sudah bisa dipastikan jarang update, jadi Sara selesaikan di sini.

Terima kasih untuk semua yang sudah review, follow, maupun fav, Sara senaaaaang sekali. Tunggu fic2 Sara selanjutnya yaaa!