Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story by : Hatake Aria

.

CHAPTER 4

.

.

Naruto mengambil sebuah boarding pass dari dalam tas kecilnya, kemudian Ia berlari kecil kearah sang boss yang berada beberapa langkah didepannya. Ia menatap boss nya yang sedang berdiri di dekat meja informasi, yang sedang menunggu dirinya melakukan check-in untuk penerbangan mereka dari Itami Airport menuju Haneda pagi ini. Pria itu sedikit menguap kecil, seperti nya boss nya masih mengantuk, wajar saja pikirnya mengingat mereka harus berangkat dari hotel jam 8 pagi karena hampir 1 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke airport dari hotel tempat mereka menginap.

Naruto kemudian menyerahkan boarding pass milik Sasuke sesaat setelah dirinya berada di hadapan sang boss.

"Pak, ini boarding pass milik anda, 30 menit lagi kita akan boarding, gate 5, ayo pak kita cepat kesana" ujar Naruto seraya mendorong koper kecil miliknya

Sasuke menatap sekretarisnya yang terlihat sangat bersemangat sekali pagi ini. Lihatlah sedari tadi sebuah senyuman selalu menghiasi wajahnya. Ia memperhatikan Naruto dari ujung kaki hingga kepala, saat ini gadis itu tengah menggunakan sebuah dress putih off shoulder berlengan pendek, dengan lace yang melapisi kain putih dari pinggang hingga lututnya. Bahkan roknya yang kembang itu melambai-lambai saat Naruto berlari kecil menuju waiting room yang berada di gate 5. Terlihat sangat .. manis.

Sasuke segera mengambil tempat duduk tepat disebelah Naruto yang telah duduk terlebih dahulu, Ia menatap sang sekretaris yang kini tampak serius menuliskan sesuatu di agenda miliknya.

"Apa yang sedang kau tulis?" tanya nya penasaran

Naruto kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sang boss yang duduk disamping kirinya.

"Ah, ini saya sedang menyusun jadwal hari ini pak" Naruto kemudian memperlihatkan catatan nya pada sang boss

"Pukul 10.00 - 11.15 ini penerbangan kita dari Itami ke Haneda, ah, semoga tidak delay, terus anggap saja kita bisa keluar dari bandara haneda pukul 11.40, kemudian perjalanan dari Haneda ke Cafe tempat kita akan meeting memakan waktu sekitar 1 jam, dan meeting akan dimulai pukul 13.30"

Naruto melingkari beberapa point pada buku agenda nya, sedangkan Sasuke hanya mengangguk pelan menanggapinya. Ah, rasanya Naruto ingin sekali memaki Sabaku Gaara, Direktur dari Sabaku Group tersebut yang dengan seenak nya merubah jadwal meeting yang seharusnya diadakan di hari rabu menjadi hari minggu ini. Tak tahu kah dia, kalau rasanya badan Naruto hampir remuk karena terlalu lelah, setelah 3 hari berada di Kyoto dengan agenda rapat yang juga tak kalah padatnya dan kini setelah melewati perjalan udara mereka harus langsung menghadiri rapat lagi. Well, rasanya Naruto ingin mengibarkan berdera putih tanda Ia sudah tak sanggup lagi.

"Ah, setidak nya aku masih sempat ke gereja nanti, lagi pula arah ke café nya juga searah" gumamnya pelan, namun sepertinya masih dapat didengar dengan samar oleh Sasuke

"Kau mengatakan apa Naruto?"

Naruto kembali menatap Sasuke yang kini sedang menatapnya dengan sedikit kernyitan di dahi nya.

"Ah, tidak apa-apa pak"

Sasuke hanya mendengus pelan mendengar jawaban Naruto, sepertinya sekretarisnya ini sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Ah, sayang saat ini dia terlalu lelah untuk berpikir. Sekali lagi Ia menguap kecil, bagaimana pun tidur hanya 3 jam tadi malam terasa belum cukup untuknya, dan tanpa permisi langsung saja Ia merebahkan kepalanya di pundak Naruto.

"Eh" Naruto refleks melirik kesamping kirinya saat dirasakannya kepala sang boss berada dipundaknya

"Sebentar saja, aku mengantuk"

Akhirnya Naruto hanya bisa pasrah, Ia harus merelakan pundaknya menjadi bantal buat sang boss. Sesekali Ia melirik wajah boss nya yang sedang tertidur di pundaknya, Ia tersenyum saat melihat wajah polos sang boss, 'semoga anda mendapatkan istri yang baik nanti nya' gumamnya dalam hati.

Naruto kembali menatap agenda kecil miliknya, sambil sesekali melirik orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka. Tak jarang para calon penumpang yang hilir mudik di depan mereka melemparkan senyuman saat melihat keduanya, Well bagaimanapun posisi mereka saat ini terlihat seperti sepasang kekasih. Namun sayangnya Naruto sama sekali tidak berfikir sampai kearah situ.

"Hoaamm" Naruto menguap kecil, tak bisa dipungkiri dirinya pun sama lelah nya dengan sang boss

Baru saja Ia ingin menutup kedua sapphire nya, namun harus Ia tunda saat panggilan boarding terdengar di telinganya.

"Pak, bangun, kita sudah harus boarding"

Naruto mencoba membangunkan sang boss yang tertidur di pundaknya, namun nihil, Uchiha Sasuke sama sekali tidak merespon.

"Pak, bangun" sekali lagi Naruto mencoba membangunkan sang boss, kali ini Ia menggunakan tangan kanannya untuk menepuk pelan pipi kiri sang boss

Sasuke memegang tangan Naruto yang berada di pipinya.

"Biarkan saja mereka mengantri duluan, kita belakangan saja" gumamnya tanpa membuka mata nya sedikit pun dan tentu, masih sambil memegang tangan kanan Naruto

Naruto hanya bisa menghela nafasnya pelan, kemudian Ia menarik pelan tangan kanannya dari genggaman Sasuke. Ia kemudian mengalihkan kedua sapphire nya menatap orang-orang yang tengah antri untuk boarding.

.

.

"English tea or Japanese tea?"

Naruto menatap seorang pramugari yang sedang menawarkan minuman kepadanya.

"English tea, please"

Sang pramugari mengangguk singkat, kemudian meletakkan secangkir Darjeeling tea dia atas meja lipat Naruto.

"And sugar?" tawar sang pramugari sekali lagi

"Yes, please"

Naruto tersenyum singkat kearah sang pramugari, ah, lagi-lagi Ia disangka bule karena rambut pirang dan mata birunya.

Setelah sang pramugari tersebut berlalu, Naruto segera melahap makanan yang tersaji di depannya, ah, rasanya dirinya benar-benar lapar sekali saat ini, padahal tadi pagi Ia sudah sarapan di hotel. Dan tak butuh waktu lama untuk seorang Namikaze Naruto menghabiskan makanannya, 10 menit, Ia cuma butuh waktu sesingkat itu untuk menghabiskan makanannya.

Kini kedua sapphire nya menatap ke arah boss nya yang duduk disamping jendela, sepertinya boss nya ini lebih tertarik untuk melihat gumpalan awan yang tersaji diluar jendela kaca pesawat daripada menatap makanan yang tersaji di depannya.

"Ano pak, anda tidak memakan makanan anda?"

Refleks Sasuke mengalihkan pandangannya, kini kedua oniks kelamnya menatap lurus kedua sapphire Naruto.

"Tidak, aku masih kenyang" jawabnya singkat

Naruto melirik makanan yang tampaknya memang belum tersentuh sedikit pun oleh Sasuke.

"Boleh untukku pak?" tanya nya dengan sebuah cengiran yang menghiasi wajahnya

Sasuke tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum saat melihat wajah Naruto yang terlihat sangat menggemaskan pikirnya. Ia segera mengambil nampan yang isi nya telah kosong dari meja lipat Naruto kemudian menggantinya dengan nampan miliknya. Ia pun kemudian meletakkan nampan milik Naruto diatas meja lipatnya.

"Makanlah" ujarnya seraya tersenyum simpul

Naruto mengangguk, tak lupa Ia membalas senyuman sang boss dengan cengiran tiga jarinya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, langsung saja Naruto mulai melahap satu persatu makanan dihadapannya, ah Ia juga tak habis pikir dengan nafsu makan nya yang meningkat drastis belakangan ini.

Kali ini Sasuke terlihat lebih memilih menatap Naruto yang sedang menikmati makanannya, sepertinya bagi dirinya hal ini lebih menarik ketimbang pemandangan yang tersaji diluar jendela pesawat. Bahkan sebuah senyuman terus terukir diwajah tampannya.

"Pelan-pelan saja makannya"

Naruto menatap Sasuke dengan mulutnya yang masih penuh dengan pudding jeruk, dan lagi Ia hanya membalas perkataan sang boss dengan cengirannya.

Perjalanan yang memakan waktu 1 jam 10 menit itu pun akhirnya berlalu. Saat ini kedua insan berbeda jenis kelamin itu sedang berjalan menuju terminal kedatangan di bandara Haneda. Naruto melirik ke arah Sasuke yang sedang mencoba menghubungi seseorang dari telpon pintar nya.

"Kakashi, kami sudah landing, aku tunggu di terminal kedatangan" ujar nya sesaat sebelum mematikan kembali smartphone nya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara nya.

Sasuke kemudian melirik Naruto yang tengah mengamati jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Kini keduanya telah berada di luar terminal kedatangan, menunggu Hatake Kakashi yang akan datang menjemput.

"Pak, kita masih ada waktu 1 jam setengah lagi sebelum meeting dimulai, saya permisi ke gereja sebentar yah pak, kita langsung bertemu di café tempat meeting saja nanti"

Naruto kemudian membungkuk singkat pada sang boss, kemudian menyetop sebuah taxi yang lewat.

"Hei, Naruto, ini waktu nya sudah mepet"

Naruto tidak mempedulikan perkataan sang boss, jemarinya dengan tergesa-gesa membuka pintu taxi tersebut.

"Tenang pak, aku di Katedral Santa Maria, itu searah dengan café tempat meeting, Jaa ne" ujar nya seraya melambaikan tangan kearah sang boss

Hampir saja Sasuke ikut masuk kedalam taxi yang ditumpangi Naruto jika saja dirinya tidak mendengar panggilan itu.

"Uchiha-san"

Sasuke kemudian mengalihkan pandangan kearah sumber suara, tampak di netra nya seorang Hatake Kakashi yang tengah berlari kecil menghampirinya, dan saat pandangannya kembali kearah taxi Naruto, Taxi itu telah berjalan pelan meninggalkan dirinya.

"Cih," Sasuke mendecih pelan

Sasuke menatap geram kearah Kakashi, Kakashi yang ditatap seperti itu pun menjadi serba salah.

"Pak, ayo mobilnya ada disana" ujar Kakashi menunjuk sebuah Audi putih yang terparkir tak jauh dari tempat keduanya berdiri.

Sasuke langsung mengambil tempat duduk di kursi penumpang, sedangkan Kakashi tanpa menunggu lagi dirinya langsung duduk di kursi pengemudi.

"Kita ke Katedral Santa Maria" ujar Sasuke

Kakashi sedikit mengernyitkan dahinya, bukannya mereka seharusnya pergi ke Higashi Café di daerah Ikebukuro?

"Bukan nya seharunya kita ke Higashi Café?" ujarnya kemudian

"Hm, tapi aku ingin ke gereja itu sebentar"

Lagi, Hatake Kakashi kembali mengernyitkan dahinya.

"Aku baru tahu anda cukup religius juga ternyata"

Sasuke mendecih pelan, memang diakuinya Ia bukan lah orang yang selalu pergi ke gereja di hari minggu.

"Sudahlah, turuti saja perkataan ku"

Tanpa berpikir jauh lagi, langsung saja Kakashi mengemudikan mobilnya menuju Katedaral Santa Maria.

Sementara itu di dalam taxi yang dikendarai Naruto, sedari tadi wanita bersurai pirang itu melirik ke arah jam tangannya, sudah setengah jam Ia berada di dalam taxi ini. Jika melihat cara sang driver mengendarai dan padatnya jalanan bisa-bisa Ia baru sampai di Katedral setengah jam lebih.

"Pak, bisa lebih cepat sedikit tidak?" Naruto menggerutu pada sang supir taxi yang diketahui bernama Kakuzu sesuai apa yang dibacanya di tanda pengenal driver pada taxi yang ditumpanginya itu

"Nona, jalanan didepan cukup padat, aku harus sedikit hati-hati agar taxi ku tidak lecet"

Lagi, Naruto hanya bisa mendengus pelan mendengar jawaban sang driver taxi.

"Aku akan membayar 2 kali lipat dari argo nya jika anda bisa sampai di Katedral Santa Maria dalam waktu 15 menit"

"As you wish lady"

Naruto sedikit terlonjak kebelakang saat sang driver tiba-tiba menambah kecepatannya, melihat cara sang driver membawa taxi Ia jadi sedikit menyesal telah menyuruh sang driver untuk lebih cepat, namun sayang sepertinya Ia sudah terlambat. Saat ini Ia hanya bisa merapalkan doa meminta keselamatan agar Ia bisa sampai di gereja dengan selamat.

.

.

Ino melirik kearah pria yang sedang berdiri disampingnya. Tak bisa dipungkiri jika pria disamping nya ini tampak sedikit err .. gugup.

"Kau tidak apa-apa Sai?"

Sai melirik kearah Ino yang kini sedang menatap dengan cemas ke arahnya.

"Ah, aku tidak apa-apa Ino" ujarnya seraya mengalihkan pandangannya dari sahabat sejak kecilnya itu

"Kau yakin?"

Sekali lagi Sai melirik Ino yang berdiri disamping nya, sepertinya Ia memang tidak bisa menyembunyikan kegugupannya dihadapan Ino.

"Arrghh, sial, aku memang sedikit gugup Ino" ujarnya sedikit frustasi seraya mengacak rambutnya

"Hey, kau tahu butuh waktu lama untuk menata rambutmu itu tadi" ujar Ino seraya menyingkirkan tangan Sai dari rambutnya, perlahan gadis itu kembali merapikan rambut pria berkulit putih pucat itu.

Sai menarik nafas kemudian membuangnya perlahan, Ia melakukan hal itu berkali-kali sampai akhirnya Ia menjadi sedikit lebih tenang.

"Baiklah, aku sudah lebih tenang sekarang, karena semua ini terasa terburu-buru makanya aku jadi sedikit gugup"

Ino tersenyum kecil, akhirnya Ia bisa bernafas lega saat melihat Sai yang kini tampak lebih baik dari sebelumnya.

"Baiklah, kau bisa berjalan kedepan, tadi Naruto menghubungiku, sebentar lagi dia akan sampai, aku akan menunggunya diluar bersama Namikaze-san"

Sai mengangguk seraya menatap Ino, perlahan Ia berjalan kedepan. Ia sempat melirik sekilas ke arah wanita paruh baya bersurai merah yang tengah duduk bersampingan dengan kakeknya, Shimura Danzo. Wanita itu tersenyum lembut ke arahnya yang dibalasnya dengan senyuman juga.

Ino segera melangkahkan kakinya keluar dari gedung, Ia berlari kecil menghampiri pria paruh baya bersurai pirang.

Sesaat kedua netra mereka teralih memandang sebuah taxi yang berhenti tak jauh dari keduanya berdiri. Tampak seorang wanita bersurai pirang keluar dari taxi tersebut, sepertinya Ia sedikit beragumen dengan sang driver taxi.

"Hey, kau hampir saja membuat ku mati muda pak!" ujar Naruto seraya mengeluarkan beberapa lembar ribuan yen dari dalam dompetnya

"Nona, sesuai keinginanmu kita sampai di gereja bahkan sebelum 15 menit"

Naruto hanya mendengus pelan, kemudian memberikan uang itu kepada sang driver. Tak lama taxi tersebut pun berlalu dari hadapannya. Ia kemudian membalikkan badannya dan mendapati Yamanaka Ino yang berlari kecil kearahnya.

"Kau hampir terlambat Naruto" ujarnya yang hanya dibalas cengiran oleh Naruto.

Ino segera mengambil koper kecil dan tas milik Naruto, kemudian Ia memakaikan sebuah veil putih dengan flower crown di surai pirang Naruto. Ino juga memberikan sebuah buket mawar putih kepada Naruto untuk dipegangnya

"Setidaknya kau sedikit terlihat seperti pengantin saat ini"

Lagi, Naruto hanya menyengir kecil mendengar perkataan Ino.

"Hey, pengantin wanita akan segera masuk" ujar Ino melalui Bluetooth Handsfree di telinga kanannya.

Naruto kemudian menggandeng lengan Minato sang ayah. Minato memandang penuh arti sang putri tunggal. Perlahan pria paruh baya itu menghela nafasnya.

"Naruto, kenapa semuanya menjadi diluar rencana seperti ini sayang?"

Naruto melirik sekilas sang ayah, kemudian Ia tersenyum kecil.

"Yang penting aku menikah kan? Bukan nya ayah dan Ibu juga sudah ingin menimang cucu?"

Minato mendengus pelan mendengar jawaban putrinya. ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah pintu berwarna putih didepannya, dengan mantap Ia melangkahkan kakinya dengan Naruto yang berada diampingnya yang tengah menggandeng lengannya. Perlahan pintu itu terbuka, keduanya kini bisa melihat Sai dengan tuxedo hitamnya yang tengah berdiri di depan altar bersama sang pendeta.

Sai tersenyum kecil saat dilihatnya Naruto sedang berjalan menuju dirinya, wanita nya terlihat sangat cantik walau hanya dengan dress putih yang terkesan sederhana tersebut. Padahal sebelumnya Ia sudah memesan gaun pengantin rancangan Vera Wang untuk dikenakan sang mempelai, tapi sudahlah, Naruto nya tetap cantik memakai apapun.

Minato berjalan pelan menuju altar, mengantarkan sang putri kepada mempelai pria nya. Terdengar sebuah lantunan suara piano yang dimainkan mengiri perjalanan keduanya.

"Ayah, tak bisakah kau berjalan lebih cepat lagi?" bisik Naruto

Minato sedikit mengernyitkan dahinya melihat sang putri tunggal yang sedikit tampak gelisah menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

Naruto sedikit mempercepat jalannya, yang mau tak mau Minato pun mengikuti ritme jalan Naruto. Akhirnya sampailah mereka berdua, Minato pun perlahan melepaskan genggamannya dari tangan putrinya dan menyerahkannya kepada pria bersurai hitam yang tengah tersenyum menatap dirinya.

"Kuserahkan putri ku kepada mu Sai"

Sai tersenyum sembari meraih tangan Naruto.

"Arigatou, Ji-san"

Minato tersenyum.

"Mulai sekarang, kau bisa memanggilku Tou-san"

Minato pun segera berjalan meninggalkan kedua mempelai, kemudian mengambil tempat duduk tepat disamping Kushina.

"Akhirnya putri kita menikah Minato-kun"

Minato tersenyum menatap sang istri, kemudian kedua nya kembali memfokuskan pandangan ke arah kedua mempelai yang kini berdiri dihadapan pendeta.

"Sesuai Titah Tuhan, Bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Dan firman Nya .." Sang pendeta mulai membacakan pidato pernikahan, namun belum sempat Ia menyelesaikan pidatonya, sang mempelai wanita sudah menginterupsi dirinya

"Pak pendeta bisakah langsung saja ke janji pernikahan, aku tidak punya banyak waktu saat ini, ah dan juga janji pernikahannya yang singkat saja, jangan yang terlalu panjang"

Sai mengeryitkan dahinya menatap sang kekasih, sedangkan pendeta tersebut hanya bisa menghela nafasnya pelan mendengar perkataan sang mempelai wanita.

"Shimura Sai, apakah anda mengakui di hadapan Tuhan bahwa anda bersedia dan mau menerima Namikaze Naruto sebagai istri anda satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup, dan mengasihinya sama seperti anda mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama anda berdua hidup, serta bersedia menjaga kesucian perkawinan anda ini sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?"

"Ya saya bersedia" dengan mantap Sai menjawabnya

Kali ini sang pendeta menatap Naruto.

"Namikaze Naruto, apakah anda mengakui di hadapan Tuhan bahwa anda bersedia dan mau menerima Shimura Sai sebagai suami anda satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup, dan .."

"Ya, saya bersedia" Naruto dengan mantap menjawab pertanyaan pendeta yang bahkan belum selesai itu, toh Ia tadi sudah mendengar pertanyaan yang pastinya sama seperti saat pendeta bertanya kepada Sai

Lagi, sang pendeta hanya bisa menghela nafas pelan melihat tingkah tak biasa seorang mempelai wanita, baru kali ini Ia melihat pengantin wanita seperti Naruto.

"Shimura Sai, sekarang ucapkan janji nikah anda dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan" lanjut sang pendeta seraya memandang lekat kearah Sai

"Saya, Shimura Sai menerima engkau, Namikaze Naruto menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepada Nya, kuucapkan janji setiaku kepadamu"

Kali ini pandangan sang pendeta beralih ke wanita bersurai pirang tersebut.

"Saya, Namikaze Naruto menerima engkau, Shimura Sai menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepada Nya, kuucapkan janji setiaku kepadamu"

"Saudara Shimura Sai masukkan cincin pada jari manis tangan kanan Saudari Namikaze Naruto sebagai tanda kasih saudara kepadanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur, dan anda Saudari Namikaze Naruto masukkan cincin pada jari manis tangan kanan Saudara Shimura Sai sebagai tanda kasih saudara kepadanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur" lanjut sang pendeta

Kedua nya mengangguk pelan, Ayame asisten Ino menghampiri kedua mempelai itu dan memberikan sebuah kotak perhiasan yang didalamnya terdapat sepasang cicin.

Sai dan Naruto perlahan mengambil cincin tersebut dan memakaikan nya di jari manis masing-masing secara bergantian.

"Dengan demikian, Saya Hidan sebagai Hamba Tuhan menyatakan dihadapan Tuhan dan Jemaat Nya bahwa Saudara Shimura Sai dan Saudari Namikaze Naruto resmi dan sah sebagai suami istri di hadapan Tuhan"

Naruto menghela nafasnya lega, 'akhirnya selesai juga' pikirnya. Ia kemudian melirik jam tangan nya.

"Uh, sedikit lagi" batinnya gusar

"Baiklah, sekarang anda boleh mencium pasangan anda" lanjut sang pendeta

Naruto yang mendengar perkataan sang pendeta langsung menarik kepala Sai yang kini telah resmi menjadi suaminya dengan kedua tanggannya walau sedikit kesusahan karena satu tangannya masih memegang buket mawar putih, Ia sedikit berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan sang suami, mempertemukan bibirnya dengan bibir Sai, Ia mencium lembut sang suami yang langsung menuai suara riuh di dalam katedral tersebut, bahkan sang pendeta hanya bisa membelalakkan mata nya melihat tingkah Naruto.

"Tak kusangka, ternyata putrimu cukup agresif Namikaze-san" ujar Danzo seraya tersenyum melihat pemandangan didepan mereka

Minato hanya bisa menyengir, Ia juga tidak habis pikir bahwa putrinya bisa melakukan hal itu.

Sai membulatkan kedua irisnya saat Naruto mencium dan melumat bibirnya, hey, seharusnya dia yang melakukan hal ini, lagi, Naruto mengambil perannya. Baru saja Ia ingin memejamkan kedua matanya dan membalas ciuman Naruto, namun sebuah suara mencegahnya melakukan hal tersebut.

.

.

Sasuke tampak sedikit tergesa-gesa membuka pintu mobilnya, Ia kemudian membanting cukup keras pintu mobilnya yang ditanggapi kernyitan di dahi Hatake Kakashi. Ia kemudian berlari kecil ke arah pintu berwarna putih tersebut, membuka nya dengan kasar. Oniks kelamnya berusaha mencari sosok bersurai pirang di dalam katedral tersebut, dirinya berusaha memanggil sang wanita.

"Naru … to" suaranya seakan hilang, saat melihat wanita yang sedari tadi dicarinya tengah mencium mesra seorang pria didepan altar

Naruto yang mendengar suara Sasuke langsung meyudahi ciumannya dengan Sai, Ia kemudian menoleh ke arah pria yang sedang berdiri mematung di depan pintu.

"Ah, pak, anda sudah datang" ujarnya dengan nada riangnya, yang ditanggapi kernyitan dahi oleh Sai.

Sai pun menolehkan kepalanya untuk melihat pria yang baru saja disapa istrinya ini. Kedua oniks kelam mereka pun saling bersibobrok.

Naruto kembali mendaratkan sebuah ciuman di pipi Sai, sebelum pergi dirinya sempat membisikkan sesuatu di telinga sang suami.

"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, sampai jumpa nanti malam sayang"

Naruto tersenyum kepada sang suami, sebelum akhirnya Ia berlari ke arah Sasuke yang berdiri di ambang pintu. Sontak, tingkahnya ini mendapat perhatian dari seluruh tamu yang berada di dalam katedral. Sekali lagi, Naruto melambaikan tangannya kearah sang suami yang dibalas dengan lambaian tangan oleh Sai, walau masih sangat jelas terlihat wajah setengah shock milik Sai. Bagaimana Ia tidak cukup shock, baru saja beberapa menit yang lalu upacara pemberkatan mereka selesai, kini sang mempelai wanita malah pergi meninggalkan dirinya.

Naruto kembali berlari kecil kearah Sasuke.

"Pak, tangkap ini" ujar nya seraya melemparkan buket mawar putih tersebut kearah sang boss, refleks Sasuke pun menangkap buket tersebut

"Semoga anda segera menyusul" lanjutnya lagi dengan setengah berteriak

Sasuke sedikit mengernyitkan dahinya menatap buket yang kini berada di tangan kanannya, sedangkan beberapa wanita tampak menatapnya dengan tatapan mereka yang terlihat err, menggoda.

Sebelum menghampiri Sasuke, Naruto terlebih dahulu menghampiri Ino yang berdiri tidak jauh dari Sasuke, Ia kemudian melepas veil dengan flower crown tersebut dari surai pirangnya, memberikannya kepada Ino dan mengambil tas kecil nya yang sedari tadi dipegang Ino.

"Yamanaka-san, terima kasih telah membantu ku, kamu memang teman yang baik" ujar Naruto seraya memeluk Ino yang tampak masih shock melihat tingkah istri teman semasa kecilnya itu

"Ah, Iya"

Naruto segera menghampiri Sasuke, dan dengan seenaknya Ia menarik lengan sang boss.

"Pak, ayo, meeting kita akan dimulai 20 menit lagi"

Sasuke mengerjapkan matanya tak percaya, sungguh Ia masih terlalu terkejut dengan semua yang baru saja di alaminya. Ia baru saja ditinggal menikah oleh seorang wanita yang disukainya. Akhirnya Ia hanya bisa pasrah saat lengannya ditarik paksa oleh Naruto, bahkan Ia sedikit kewalahan saat harus menyamakan ritme langkahnya dengan sang sekretaris.

Sedangkan Naruto, jangan ditanya lagi. Ia terlihat sangat bahagia karena akhirnya Ia pun resmi menyandang gelar Nyonya Shimura.

.

######

.

.

OMAKE

.

Sasuke memijit pangkal hidungnya, kejadian kemarin sungguh masih sulit untuk diterimanya, sampai-sampai Ia hanya tertidur selama 2 jam tadi malam. Bahkan Ia datang sedikit terlambat di senin pagi ini karena sebelum menuju kantor nya, Ia menyempatkan diri untuk singgah ke gerai kopi yang tak jauh dari kantornya.

Sasuke berjalan perlahan seraya menyesap Americano miliknya, oniks kelamnya menangkap 2 sosok sekretarisnya yang terlihat sedang berbincang di meja Naruto, yah untuk masuk keruangannya Ia harus melewati ruangan sekretarisnya itu. Dan tampaknya kedua sekretarisnya itu terlalu serius hingga tidak menyadari kedatangannya.

"Ehh, Naruto, bukannya masih terlalu cepat kau mencari nama untuk anakmu, kamu juga baru kemarin kan menikah nya" ujar Sakura saat melihat Naruto yang tengah mem-browsing nama-nama anak yang bagus di layar PC nya

"Ah, tidak juga, 7 bulan setengah lagi anakku juga akan lahir" ujarnya seraya bersenandung kecil

"Upss" Naruto langsung menutup mulutnya dengan kedua tanggannya, Ia baru sadar kalau Ia keceplosan mengatakannya pada Sakura, namun sayang tampaknya bukan hanya Sakura saja yang terkejut. Lihatlah sang boss kita bahkan sampai menyemburkan Americano yang tadi diteguk nya, sehingga membuatnya sedikit tersedak

"Uhukk, uhukk" Sasuke terbatuk dengan tidak elitnya

Naruto dan Sakura yang telah menyadari kehadiran boss mereka langsung berlari kearah sang boss. Sakura segera mengambil kopi yang tadi dipegang Sasuke, sedangkan Naruto, Ia kemudian menyerahkan beberapa lembar tissue kepada Sasuke seraya menepuk pelan tengkuk Sasuke.

Ohh, poor Sasuke.

Drrtt ..

Naruto segera berlari kecil menghampiri smartphone nya yang bergetar, perlahan jemarinya membuka pesan yang dikirim oleh sang suami.

'Jangan lupa minum susu mu sayang, dan jaga kesehatan mu dan anak kita :)'

Naruto tersenyum kecil membaca pesan sang suami, ah, rasanya Ia jadi tak sabar menunggu 7 bulan setengah lagi.

.

######

.

FIN

.

Fyuuhh, akhirnya selesai juga fic gaje ku ini (peres keringat)

Terimakasih buat semua yang telah membaca fic ini, juga buat yang udah fav dan follow fic ini, sekali lagi saya Hatake Aria mengucapkan terimakasih (bungkuk 90 derajat)

Buat yang mendukung pairing SaiNaru, selamat keinginan kalian tercapai, karna saat mau buat chap 3, disitu aku udah putusin bahwa endingnya ini Naru sama Sai, toh di fic tetangga udah banyak kan Naru sama Sasuke (hahahha)

Walau saat mengetik adegan SasuNaru saat dibandara dan di dalam pesawat aku sempat merasa kasihan dan bersalah sama Sasuke, bahkan aku sampai meminta maaf pada PVC Uchiha Sasuke yang tepajang rapi di meja belajarku (okeh fix, gue udah mulai gila sekarang)

Dan untuk scene pernikahan nya, berhubung aku bukan Katolik atau Kristen jadi ucapan pendeta itu aku comot dari hasil googling, maafkan saya kalau ternyata tidak sesuai yah :( (Sesungguhnya kesalahan adalah milik manusia, dan kesempurnaan adalah milik Tuhan YME) :D

Nah, udah jelas yah di chap ini kenapa Naru tetep ngotot buat nikah secepatnya sama Sai, yah karna .. itu. Dan Naru baru bilang ke Sai hal itu dimalam harinya setelah pernikahan mereka.

Well, buat para komentator :

TheB1gBoy : Well, sejujurnya aku tidak terlalu suka konflik (hehehe) sejak awal udah diputuskan kalau fic ini hanya berchapter pendek saja, cukup susah membuat fic dengan chapter panjang dan alur lambat sebenarnya, karena kalau terlalu dipaksakan malah jalan ceritanya jadi aneh dan pembaca jadi bosen dengan cerita nya, tapi semoga suka dengan endingnya ini yah :)

kitsu-snl : Makasih, nih final chap nya udah dipanjangin

Nesia Dirgantara : Sankyuu, yoshh .. ini udah dilanjut

Taomio : Hahahaha, ini udah dipanjangin yah, semoga suka dengan endingnya, udah kejawab yah pertanyaannya

Uzumaki Yun : Makasih udah suka, udah kejawab yah pertanyaan nya :)

yuunhi : Upss, di fic ini aku nggak ada mau bashing chara, jadi nggak ada mau buat konflik (hehehe) semoga suka dengan ending nya yah

itakun : Oke, udah seneng yah karna ending nya Naru sama Sai

DoD Orange : Hahahaha, udah jangan jengkel lagi sama Sasuke dong, tenang, keinginan anda terkabul, tidak ada perselingkuhan disini

chanchan : Emang dasarnya bawaan si Sai itu tenang, jadinya doi pun ngadepin nya dengan kalem, kan sebelumnya Sai belum tahu kalau ternyata Naru sudah hamil anaknya, makanya doi tenang-tenang aja kalaupun pernikahannya harus dipending 6 bulan lagi