Title : SQUAD (Secret Mission)

Author : arilalee

Cast : 2MIN ft Meanie and other

Genre : Fluff, school life, humor garing

Warning : YAOI/Boys love, Typo(s), OOC

.

.

.

.

.

.

Sebuah ruang kelas yang letaknya berada di lantai satu itu diperuntukkan bagi siswa-siswa yang baru menginjak tingkat SMA. Jadi wajar saja kalau terkesan berisik karena isinya adalah anak-anak yang baru akan beranjak dewasa.

"Hoi, Dracula Prince!"

Mingyu sebenarnya tidak pernah tahu kalau yang dimaksud dengan 'pangeran drakula' adalah dirinya. Hanya inisiatifnya saja untuk menoleh, dan ternyata seruan Seokmin itu memang untuknya.

"Apa itu?" Tanya Mingyu menjurus pada panggilan aneh dari namja yang merupakan teman sebangkunya itu.

Seokmin, marganya Lee, dan memiliki senyum secerah matahari. Ia berbaik hati untuk membagikan senyuman secerah mataharinya pada Mingyu. "Entahlah, yang jelas mereka memanggilmu begitu di majalah."

"Majalah apa?" Mingyu masih tidak mengerti.

Lalu sebuah majalah dengan cover bergambar dirinya yang berlutut sambil menyerahkan bouquet bunga mawar pada Jeon Wonwoo kemarin itu terpampang di depan wajahnya. Memaksa Mingyu untuk kembali membuka lukanya.

Tapi tenang saja, Mingyu sudah tegar, kok. Berkat semangkuk sup rumput laut buatan Bibi Choi yang membuat Mingyu kembali menemukan semangat hidupnya.

Si tersangka yang membanting majalah di meja Mingyu itu menelengkan kepalanya. "Ck ck ck, kau akan menjadi populer karena hal ini, Mingyu." Dia Boo Seungkwan, hobi bernyanyi dan lahir di Jeju.

"Kalau aku, sih, lebih baik menyamar atau pindah sekolah daripada harus terkenal karena gagal confess." Seokmin tertawa lebar sebelum merasakan rusuknya disikut oleh Mingyu.

"Biarkan saja, aku tidak peduli." Mingyu menyingkirkan majalah itu. Ya, meskipun ia sedikit malu, tapi Mingyu harus tetap cool dalam menghadapi ini. Lama-lama juga berita seperti ini akan menguap dengan sendirinya. "Lagipula, itu memang benar, kan? Aku memang gagal melakukan confession."

"Si besar hati Kim Mingyu." Seungkwan mencibir.

"Tapi.. kau baik-baik saja, kan?" Itu suara Vernon Chwe. Dia keturunan New York tapi terlalu lancar berbahasa Korea. Jadi ia lebih suka dipanggil Choi Hansol.

"Kalau Mingyu tidak baik-baik saja, mungkin sekarang dia tidak masuk sekolah." Minghao yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. Ia bicara dengan wajah serius tapi terkesan menggemaskan. Mungkin itu yang membuat namja bermarga Xu yang berasal dari China ini jadi objek pembullyan saat SMP.

"Tapi serius, deh. Wonwoo Sunbae itu kejam sekali." Seungkwan kembali heboh. Dan Mingyu benar-benar ingin menenggelamkan Seungkwan di pantai Jeju karena ia mengingatkan lagi tentang kekejaman Wonwoo.

Minghao menganggukkan kepalanya, "Dia keterlaluan sampai membuat Mingyu pingsan."

"Mungkin saja Wonwoo Sunbae merasa malu." Hansol berpendapat.

Seokmin menyahut, "Menurutku, sih, tidak kejam-kejam amat." Seokmin menatap Mingyu dengan remeh, "Meski dia tampan, kemarin itu cara menyatakan perasaan yang norak. Mainstream!"

"Iya juga, sih." Seungkwan tiba-tiba pindah kubu, mengkhianati Mingyu.

Mingyu menghela nafas lalu tersenyum lagi. Membuat kedua taringnya yang tidak wajar itu melongok keluar. Mungkin kalau ada Minho, dia sudah mengatai Mingyu dracula terbakar. "Ya.. itu 'kan sudah kemarin. Aku sudah siap untuk menyongsong lembaran baru, jadi lupakan saja yang kemarin itu."

"Whooaa.. jadi kau tetap akan mengejar Wonwoo Sunbae?" Seungkwan si diva jadi-jadian berseru sampai semua orang menoleh.

Mingyu menganggukkan kepalanya mantap. "Tak ada kata menyerah dalam kamus hidupku."

"Whooaaa!" Kini giliran Seokmin yang memekik. "Jadi kau akan tetap berusaha sampai mendapatkan Wonwoo Sunbae?"

"Tentu saja!" Mingyu menyahut dengan percaya diri. "Akan kuperjuangkan sampai titik darah penghabisan!"

"Whoaaa.. you're rock, man!" Hansol mulai bicara kebarat-baratan. Ia mengajak Mingyu ber-high five.

"Yes! I'm man!" Jawab Mingyu asal. Yang penting ia bicara Bahasa Inggris.

Mereka beralih pada Minghao. Barangkali si bocah polos dan agak kalem itu akan ikut memekik seperti yang lainnya. Tapi yang ada Minghao hanya tersenyum sambil bertepuk tangan keras membuat suasana heboh mereka terganti dengan suara jangkrik bernyanyi.

.


.

Sekarang baru hari kedua Taemin dan lainnya menjadi kelas tiga. Tapi Kang Seonsaengnim terlalu tega karena sudah memberikan tugas pada siswa tingkat akhirnya itu. Dan sialnya lagi, mereka harus mencari referensi untuk materi secara individual di perpustakaan selama dua jam pelajaran.

"Haaahh.. aku bahkan belum membaca judul materinya." Kibum mengeluh sambil terduduk di lantai perpustakaan karena lelah mencari-cari buku.

"Kau sangat gencar mencari materi untuk majalah, tapi seperti ini saja sudah mengeluh." Taemin mencibir.

Jinki yang masih giat mencari referensi menoleh sekilas pada Kibum, "Kau duduk saja, biar aku yang carikan."

"Carikan juga untukku, Jinki!" Taemin berseru membuat beberapa orang menoleh dan memberi kode agar ia diam.

Jinki mendengus kasar. "Iya, iya. Kalian tunggu saja di meja baca."

Kibum segera menggandeng lengan Taemin dan menyeretnya ke salah satu meja baca yang kosong. Sebenarnya tidak benar-benar kosong karena ada Minho yang tertidur di atas tumpukan buku.

"Aku penasaran, apakah Mingyu juga suka tertidur di kelas seperti ini?" Taemin bersilang dada.

Kibum mengedik, "Kenapa kau penasaran?"

"Mereka – Mingyu, Minho dan Jongin – sama-sama memiliki kulit gelap dan tubuh tinggi. Mungkin tidur di kelas menjadi salah satu faktor penyebab itu semua." Ujar Taemin sambil mengingat bahwa Jongin juga tidur di kelas tadi pagi.

Kibum mengedik lagi, sepertinya ia tidak mau menjawab. "Hei, Taemin. Bukankah itu Jeon Wonwoo?"

Taemin menolehkan kepalanya dan matanya berbinar ketika objek yang ditunjuk oleh Kibum memang benar-benar Jeon Wonwoo. Lelaki berkacamata itu nampak membawa tumpukan buku yang tidak terlalu tebal ke arah meja penjaga perpustakaan. Wonwoo tidak sendiri, di belakangnya ada namja berambut blonde bernama Soonyoung – Taemin kenal karena Soonyoung adalah anggota klub dance. Sepertinya mereka ditugaskan mengambil buku paket pinjaman untuk teman-teman sekelasnya.

"Dia benar-benar terlihat seperti kutubuku, ya?" Kibum mengomentari.

Taemin mengangguk setuju. Memang benar kalau Wonwoo itu terlihat nerd dari luar. Penampilannya yang itu-itu saja dan membosankan itu semakin diperkuat dengan keeksisan kacamata bulat yang selalu membingkai mata sipitnya. Tapi setelah Taemin melihat wajah Wonwoo tanpa kacamata, Taemin jadi bisa menyimpulkan kalau Wonwoo itu cukup keren.

"Dia terlihat seperti rockstar gagal." Komentar Kibum lagi.

"Kibum-ah, klub jurnalistik dan fotografi kan memiliki studio yang berdampingan, 'kan Apakah kau pernah melihat bagaimana Wonwoo saat klub?" Tanya Taemin seraya menatap Kibum dengan mata berbinar.

Kibum mengalihkan pandangan pada Taemin yang serius. Tidak biasanya. "Aku tidak terlalu mengenalnya. Lagipula, dia sepertinya antisosial."

"Tapi dia sering kulihat bersama teman-temannya." Taemin menyanggah.

"Yang kulihat, sih, temannya itu hanya Kwon Soonyoung dan Lee Jihoon." Timpal Kibum. "Memangnya kenapa? Kau terlihat penasaran."

"Ya, aku penasaran. Bagaimana bisa dia membuat Mingyu menjadi tergila-gila." Taemin menopang kepalanya dengan sebelah tangan.

Kibum nampak tertarik dengan ucapan Taemin barusan. "Tergila-gila? Apakah Mingyu belum menyerah meski sudah ditolak olehnya?"

Taemin memutar bola mata. Kalau Kibum sudah kepo mode on, ini pasti akan berakhir menjadi materi majalah minggu depan. Taemin kasihan pada Mingyu, jadi ia tidak akan memberitahu Kibum.

"Yang jelas, Mingyu itu masih menyukai Wonwoo." Pungkas Taemin tanpa mau ditanya lagi.

Jinki datang dengan empat buah buku di tangannya. "Kuharap ini buku yang benar." Ia meletakkan tumpukan buku itu di atas meja dengan kasar. Tapi anehnya tidur Minho tidak terusik sama sekali.

"Kami sih percaya saja padamu, Jinki." Taemin menyengir sambil mengambil dua buah buku. Satu untuknya dan satu untuk Minho.

Kibum juga ikut mengambil buku bagiannya. "Sekarang sudah jam istirahat, kan? Aku lapar sekali." Ia memegangi perutnya. "Bagaimana kalau kita ke kantin saja?"

"Hm, boleh." Jinki menyahut.

Taemin mengangguk antusias tapi ia melirik pada Minho yang masih pulas. "Ah, kalian duluan saja, deh. Aku akan menunggu si tukang tidur ini terbangun."

Kibum berdesis, "Rasanya kalau dia akan mati, kau juga akan menungguinya sampai terbangun. Dasar dua sejoli."

"Sebaiknya kau bercermin." Cibir Taemin tak terima.

Kibum tak peduli. Ia tetap menarik lengan Jinki untuk segera pergi dari perpustakaan yang bagai neraka untuknya. "Terserah kau saja, Taemin. Dikepung oleh ribuan buku seperti ini membuatku pusing." Lalu Kibum benar-benar menyeret Jinki – yang pasrah saja – untuk keluar dari perpustakaan itu.

Taemin beralih pada Minho yang masih memejamkan mata. Sebagian besar teman sekelasnya yang juga mendapatkan tugas mencari referensi sudah pergi, sepertinya juga ke kantin. Dan Taemin juga sudah benar-benar lapar. Jadi tak ada pilihan lain selain membangunkan si tukang tidur.

"Minho-ya.." Taemin menggoyangkan lengan Minho. Sedikit kencang agar Minho langsung terbangun. Dan usahanya tak sia-sia.

Minho mengerjapkan mata lalu menguap selebar mulut kuda nil. Sebenarnya tidak selebar itu, sih, tapi Taemin sering mengatainya begitu. "Apa?"

"Ayo ke kantin. Aku lapar." Taemin merengek seperti meminta permen pada Ayahnya.

Minho menguap lagi, sepertinya tidurnya belum cukup. "Ck, apa sudah istirahat?"

"Bahkan sudah hampir masuk." Taemin memang suka melebih-lebihkan.

Menguap untuk ketiga kalinya, Minho sampai mengeluarkan air mata. "Ya ya ya, sebentar. Aku harus menyesuaikan diri dengan.. hoaamm.." Itu tadi yang keempat.

Taemin merengut lalu menopang dagunya sambil menunggu kesadaran Minho kembali. "Hei, ayo cepat. Aku tidak mau kehabisan banana milk."

"Kau ingin aku berjalan seperti zombie? Tunggu sebentar." Minho memang menyebalkan.

Taemin pun memilih diam dan menunggu Minho benar-benar siap untuk bangun dari kursinya. Minho merenggangkan otot-otot punggungnya yang pegal karena tertidur dalam posisi menelungkup ke atas meja.

Tiba-tiba mengingatkan Taemin pada sesuatu. "Aku tadi melihat Wonwoo."

"Heung.." Minho berdengung menjawabnya. Atau mungkin ia tidak bermaksud menjawab, hanya berdengung tidak jelas.

"Kau tahu tidak, Minho? Dia imut sekali." Ujar Taemin sambil mengingat-ingat Wonwoo di kelasnya.

Minho melirikkan matanya yang masih agak tertutup itu. "Kau harus periksa mata besok."

"Aku seirus, Minho."

"Kenapa? Sekarang kau juga menyukainya?"

"Bukan begitu." Taemin memukul kepala Minho. "Aku jadi mendukung Mingyu untuk mendapatkannya."

"Mendapatkan apa?"

"Wonwoo."

"Kenapa?"

Taemin benar-benar kesal. Sepertinya kesadaran Minho memang belum pulih. "Setelah melihatnya sendiri, aku jadi mengerti sisi menggemaskan dari Wonwoo yang Mingyu maksudkan. Dan sepertinya kita harus membantu Mingyu untuk menyatukan mereka."

"Kita?" Kini Minho tertawa meremehkan. Taemin yakin kalau nyawa Minho sudah kembali.

"Tentu saja kita. Kau dan aku. Taemin dan Minho." Taemin mempertegas.

Minho menggelengkan kepalanya seiring dengan telunjuknya yang bergerak ke kanan dan kiri. "Tidak tidak tidak, Lee Taemin. Kita ini sudah kelas tiga, jadi seharusnya kita fokus pada ujian bukan urusan cinta bocah ingusan seperti Kim Mingyu. Kau hanya terpengaruh oleh sihir menjengkelkan Mingyu, sama seperti Eomma-ku yang tiba-tiba luluh dan tidak marah ketika melihat Mingyu menjatuhkan cangkir kesayangan Appa."

Taemin memutar bola mata karena Minho tiba-tiba curhat padanya. "Kau tidak melihat kesungguhan Mingyu?"

"Dia hanya remaja labil yang sedang mengalami cinta monyet. Tak ada kesungguhan yang benar-benar sungguh dalam cinta monyet." Minho menolak mentah-mentah.

"Kau terdengar seperti seorang kakek-kakek yang peduli pada masa depan cucunya." Taemin tidak sedang memuji. Ia menyindir.

Minho berdecak, "Ayolah Taemin. Sebaiknya jangan merepotkan diri sendiri untuk hal-hal seperti ini."

"Aku tidak mau melihat Mingyu pingsan lagi seperti kemarin." Taemin bersikeras pada pendiriannya.

"Kau kenapa, sih? Kenapa jadi sangat protective pada Mingyu?"

"Karena dia adalah saudaraku juga. Saudaramu adalah saudaraku."

"Kau berbicara di luar konteks, Taemin."

"Aku serius. Bukankah memang tugas kita sebagai kakak Mingyu untuk membantunya?"

"Kau bahkan bukan siapa-siapa dan mengaku kakak Mingyu." Minho tertawa mendengus.

Taemin memukul kepala Minho lagi. "Dasar tidak berperasaan."

Minho memegangi kepalanya sambil mengaduh. "Kalau kau memang ingin membantunya, bantu saja sendiri."

"Kalau kau memang tidak ingin membantunya, ya sudah. Aku akan melakukannya sendiri." Taemin meninggikan suara.

"Kalau kalian ingin bertengkar, sebaiknya keluar dari sini."

Minho dan Taemin sama-sama menoleh ketika mendengar suara lain yang ikut bergabung dengan mereka. Dan itu adalah Lee Sunkyu, si petugas perpustakaan yang bertubuh serta berambut pendek.

Membuat Taemin dan Minho harus memasang cengiran sepolos-polosnya agar tidak mendapatkan pukulan rotan seperti yang dilakukan penjaga perpustakaan dalam serial kartun Malaysia. Itu loh, yang tokohnya si kembar berkepala botak.

"Sunkyu Noona.." Taemin cengengesan.

Minho menambahkan, "Cuaca hari ini indah, ya?"

"Sangat indah. Mungkin akan menyenangkan kalau aku menendang dua bokong orang yang berteriak dalam perpustakaan. Dan kuingatkan pada kalian, panggil aku Sunny!"

Sebelum Sunkyu selesai dengan kata-katanya, Taemin dan Minho sudah berlari secepat siput yang menunggangi kereta api express.

.


.

Salah satu meja kantin diisi oleh tiga orang namja. Satu orang menikmati sandwich-nya, satu orang sibuk menutupi telinga, dan satu lagi sibuk heboh berbicara. Yang sedang menutup telinga itu Lee Jihoon dan yang sibuk berbicara sudah pasti si Kwon – cerewet – Soonyoung. Sementara Jeon Wonwoo tentu yang seolah memiliki dunia sendiri, hanya berisi dirinya dan sandwich di tangannya.

"Jangan menyingkirkan sayurannya, Jihoonie. Kau harus makan agar cepat tumbuh tinggi." Soonyoung benar-benar seperti seorang babysitter over protective.

Jihoon mendengus. "Kau tak suka aku pendek?"

Soonyoung menggelengkan kepalanya kencang-kencang. Sepertinya ia juga pusing sendiri karena itu. "Aku tentu saja suka dengan Jihoonie apa adanya. Aku 'kan mencintai Jihoonie sepenuh hati. Tapi sayuran akan membuatmu sehat, Jihoonie."

"Maksudmu aku penyakitan?"

"B-bukan begitu."

Jihoon sudah menutup telinga, tapi ia terus meladeni ucapan Soonyoung. "Kau saja yang makan sayurnya."

"Aku sudah memakan sayuranku, baby Jihoonie."

"Kalau begitu makan juga punyaku."

"Ah~ tapi yang perlu sayuran itu kau, Jihoonie. Bukan aku."

"Tapi aku maunya kau yang memakannya, Soonyoungie." Jihoon menyodorkan piringnya yang berisi selada, timun dan tomat yang ia sisihkan dari dalam sandwich-nya kepada Soonyoung.

Kalau Jihoon sudah memanggilnya dengan semanis ini, tak ada yang bisa Soonyoung lakukan. Soonyoung menggaruk kepalanya. "Baiklah, kalau Jihoonie memaksa."

Dan perdebatan itu diakhiri dengan Soonyoung yang disuapi sayuran oleh Jihoon. Membuat Wonwoo mendengus melihat mereka karena Soonyoung-lah yang pasti akan berakhir kalah.

Wonwoo meletakkan sandwich-nya yang tinggal setengah lalu meminum susu kotak rasa stroberi. Tapi ternyata susunya itu sudah habis. Wonwoo meletakkan kembali kotak susu kosong tersebut di atas mejanya. Sampai tiba-tiba ada sebuah kotak susu stroberi lagi yang diletakkan tepat di mejanya, di samping kotak susu kosong itu.

Wonwoo mendongak untuk melihat siapa yang melakukannya, begitupun Soonyoung dan Jihoon yang harus menunda adegan suap-suapan mereka. Dan ternyata tersangkanya adalah si junior tak tahu malu yang sama dengan yang mengotori lapangan basket menggunakan bunga mawar.

Kim Mingyu.

Mingyu yang sepertinya baru akan makan siang itu kembali melanjutkan langkahnya dengan nampan berisi makanannya setelah meletakkan susu kotak itu di meja Wonwoo, tanpa sepatah kata apapun. Kalau Wonwoo adalah seorang gadis, mungkin sekarang ia akan fangirling karena apa yang dilakukan Mingyu benar-benar keren.

"Dia yang kemarin itu, 'kan?" Soonyoung yang memang cerewet tak bisa menahan suaranya. Ia bahkan melupakan sendok berisi selada yang sudah disodorkan Jihoon ke depan mulutnya. "Itu.. apa maksudnya?" Ia menunjuk susu stroberi di depan Wonwoo. "Dia membelikanmu? Bagaimana dia tahu kau menyukai susu stroberi?"

"Ternyata dia belum jera." Jihoon ikut menyahut. Ia bahkan sampai memutar tubuhnya untuk melihat Mingyu yang duduk bersama teman-teman sekelasnya di meja lain. "Dia ingin berperan seperti seorang tsundere dalam dorama Jepang."

"Sayangnya, Wonwoo lebih tsundere." Cetus Soonyoung membuat Wonwoo mendelik padanya.

"Apa maksudmu? Aku memang sungguh-sungguh menolaknya." Wonwoo yang tak terima akhirnya bicara. Suaranya yang berat itu sampai terdengar di telinga Mingyu yang memang tak jauh dari tempatnya. Wonwoo sendiri sudah tahu kalau suaranya pasti akan didengar oleh Mingyu, bahkan ia sengaja.

Soonyong cengengesan. Ia agak merinding kalau Wonwoo sudah mendelik seperti itu. "Hei hei, tapi kau jangan meminumnya. Bisa saja dia memberikan mantra jatuh cinta di dalamnya. Kau bisa kena sihir."

Jihoon memukul kepala Soonyoung dengan sendok karena perkataan melanturnya. "Sepertinya kau yang melakukan itu padaku, ya? Kenapa aku mau menjadi pacarmu?"

Soonyoung yang mendengar itu langsung melebarkan mata sipitnya. "Kenapa kau menuduhku, Jihoonie? Kau 'kan memang mencintaiku. Karena aku tampan, bukan karena aku menyihirmu."

"Kau itu cerewet, bukan tampan." Jihoon mendorong wajah Soonyoung menjauh darinya. Lalu ia kembali fokus pada Wonwoo yang sudah asyik lagi dengan sandwich-nya. "Wonwoo-ya, sepertinya anak itu tidak akan menyerah."

"Biarkan saja. Aku tak peduli." Wonwoo menyahut dengan dingin.

"Aahh.. Tapi kau jangan terlalu jahat padanya, Wonwoo-ya. Kudengar, hukum karma itu masih berlaku." Kini Soonyoung yang memperingatkannya.

Jihoon menganggukkan kepalanya. "Jangan sampai kau menyakitinya. Dia hanya anak kelas satu, pasti dia baru merasakan cinta pertama."

"Whooaa.. seperti kita, iya 'kan, Jihoonie?" Soonyoung tiba-tiba berseru sambil menaik-turunkan alisnya.

Membuat Jihoon mengalihkan pandangan dengan malas dan kembali memakan sandwich tanpa sayurannya.

Sementara itu, Wonwoo masih terdiam. Sandwich-nya sudah habis dan ia hanya memandangi susu stroberi pemberian Mingyu. Sebenarnya ia haus, tapi Wonwoo juga agak percaya dengan sihir yang dimaksud oleh Soonyoung. Bagaimana kalau ternyata ada mantra hipnotis di dalam minuman itu? Ah, kenapa Wonwoo jadi tidak masuk akal seperti Soonyoung?

Dan tanpa disadari oleh Wonwoo, Jihoon dan Soonyoung, Mingyu terus memperhatikan mereka dari sebuah cermin – yang dicurinya dari tempat pensil Seungkwan – yang diposisikan agar ia bisa melihat Wonwoo yang posisinya berada di belakangnya.

Mingyu menghela nafas ketika susu pemberiannya tidak disentuh sama sekali. Tapi ia tak akan menyerah.

.


.

"Kau masih marah padaku?" Minho bertanya pada Taemin yang berjalan beriringan dengannya. Meskipun mereka masih selalu bersama, tapi sejak istirahat tadi Taemin tidak secerewet biasanya. Minho tahu Taemin masih kesal padanya. "Ck, kenapa kau membesar-besarkan masalah?"

Taemin mendelik tajam pada Minho. "Membesar-besarkan masalah? Aku 'kan sudah bilang kalau aku akan membantu Mingyu sendiri."

Minho mendengus, "Kalau kau memang akan melakukannya, maka kau tidak akan mendiamiku seperti ini."

"Aku tidak mendiamimu, aku masih menjawab ucapanmu 'kan?" Suara Taemin ketus sekali.

Minho berdecak, "Tapi nada suaramu ketus sekali. Kau seperti bicara dengan seseorang yang baru saja merebut pacarmu."

Taemin mengeraskan rahangnya sebelum memberikan pukulan bertubi pada tubuh Minho. Sebenarnya tidak terlalu keras, tapi karena terus-terusan, Minho merasa sakit juga.

"Hei, sakit sakit. Aww.. Taemin-ah.. kau gila? Aww.." Minho menjauhkan tangan Taemin dengan mencengkram keduanya. Mengangkat tangan Taemin yang terkunci ke atas kepalanya tinggi-tinggi. "Ish, kenapa kau nakal sekali, sih?"

"Itu karena aku kesal padamu." Taemin mendengus. Lalu ia menarik tangannya dengan paksa.

"Kau bilang kau sudah tak kesal lagi padaku. Dasar labil."

"Apa kau bilang?"

"Kubilang kau labil!"

"Apa?"

"Kau itu tuli atau apa?"

"YAK!" Taemin kembali mengeraskan rahangnya. Tapi ia tidak memukul Minho seperti tadi, ia hanya melompat. Ya, melompat lalu mendarat di atas sebelah kaki Minho.

"YAK!" Minho memekik secara spontan. "Awww! Astaga! Kakiku.. Yak Lee Taemin!" Minho sudah terlambat, karena Taemin sudah berlari kencang ke arah studio dance yang ada di koridor kiri. Minho memegangi kakinya yang berdenyut. "Lee – sialan – Taemin." Desisnya.

.


.

Taemin masuk ke dalam studio dance dengan bibir mengerucut. Ia bisa melihat Jongin menyapanya, tapi Taemin tidak berselera untuk membalasnya. Ia mendudukkan tubuh di sudut studio dan menyandarkan tubuhnya di cermin besar.

"Oh, kau sedang PMS-ing?" Jongin memang menyebalkan.

Taemin memilih bungkam. Jongin itu setipe dengan Minho. Sama-sama gila bola, sama-sama gila games, sama-sama tukang tidur. Pokoknya Jongin dan Minho itu sama. Sama-sama menyebalkan.

"Lihatlah bibirmu sampai hampir menyaingi melonnya Sunkyu Noona, Taemin." Jongin berseloroh. Ia memang sudah terlalu dekat dengan Taemin sampai enggan menyebutnya dengan embel-embel Hyung apalagi Sunbae.

Taemin memberikan hadiah berupa lemparan botol minum berisi penuh untuk kepala Jongin yang berpikiran kotor. "Tak bisakah pikiramu itu dibersihkan, Jonginie? Oh, jinjja."

"Ck, habisnya kau terlihat buruk sekali dengan bibir seperti itu." Jongin cengengesan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Ia sudah biasa dengan sikap anarkis Taemin, tapi tetap saja ia tak bisa menahan rasa sakitnya. Jongin duduk di depan Taemin lalu menyerahkan sebendel formulir pada si ketua. "Peminatnya membludak. Apa kita harus melakukan seleksi?"

Taemin menerima tumpukan formulir itu dan membacanya sekilas. "Seharusnya memang begitu. Aku tidak mau klub dance berubah jadi organisasi aktivis yang anggotanya hampir satu sekolah."

Jongin menganggukkan kepalanya setuju. "Kapan kita harus melakukannya?"

"Secepatnya, Jongin." Taemin meletakkan formulir itu di pangkuannya. "Kau saja yang mengurus waktunya. Kalau sudah ada waktu yang tepat, kabari aku."

"Ish, kau 'kan masih ketuanya. Kenapa melimpahkan semuanya padaku?" Jongin mencibir.

Taemin mendorong dahi Jongin dengan telunjuknya. Bocah satu ini suka sekali bermain kepala orang lain. "Aku sudah kelas tiga."

"Aku tahu, sajang-nim." Jongin kembali mencibir.

Taemin merengut karena Jongin kembali membuatnya kesal. Ia jadi ingat dengan Minho yang menolak membantu Taemin untuk menyatukan Mingyu dan Wonwoo. Eo, bicara soal Wonwoo..

"Jongin, kau satu kelas dengan Jeon Wonwoo, 'kan?" Tanya Taemin dengan mata berbinar.

Jongin memicing pada Taemin. Heran dengan perubahan ekspresi yang Taemin lakukan dengan sangat cepat. "Kenapa?"

"Hehe.. kau tahu kemarin dia menolak anak kelas satu itu, 'kan?"

"Bahkan supir taksi online yang selalu menjemput Soojung saja sudah tahu." Ujar Jongin asal.

Taemin berdecak, "Soojung 'kan memang bermulut besar, jadi tentu saja dia akan menceritakan itu pada siapa saja."

"Hei, jangan mengejek Soojung-ku." Omong-omong, Soojung itu kekasih Jongin sejak dua bulan yang lalu. Marganya Jung, kelas 2 B.

Taemin mengangkat tangan tanda ia ingin berdamai dengan Jongin. Ia masih membutuhkan informasi dari Jongin tentang Wonwoo. "Kau tahu kalau anak kelas satu itu adalah sepupu Minho?"

"Ya, di majalah 'kan sudah ditegaskan seperti itu. Bahkan penulisnya membuat nama Minho Hyung dalam mode bold, italic dan underlind." Jongin menjawab dengan detail. "Lagipula aku juga melihat kalian bertiga berangkat bersama tadi pagi dan kemarin."

"Hmm.. ya, begitulah." Taemin mengedikkan bahunya. "Aku ingin meminta pendapatmu tentang Mingyu dan Wonwoo. Menurutmu mereka cocok tidak?"

Jongin mengerutkan dahi. "Aku baru tahu kau berpassion dalam bidang kepoology."

"Jawab saja, Kkamjong!" Taemin hampir memukul kepala Jongin lagi, tapi bocah itu menghindar dengan cepat.

"Ya.. aku tidak tahu sih. Wajah anak kelas satu itu cukup tampan. Tapi Wonwoo juga cukup tampan meskipun dia nerd. Kalau kulihat, mungkin anak kelas satu itu yang akan berperan banyak dan cukup agresif kalau mereka berhubungan." Jongin mengomentari dengan serius, seperti seorang juri di acara Korea's got talent.

"Jadi menurutmu mereka cocok?" Tanya Taemin seraya mendekatkan wajahnya. Membuat Jongin mengerjap karena sekarang wajah mereka benar-benar dekat. Jongin tidak gugup, ia hanya takut. Wajah Taemin terlihat menyeramkan kalau berada di jarak sedekat ini.

"Eum.. ya, mungkin awalnya agak aneh. Wonwoo 'kan dingin dan terlihat kejam. Sementara bocah itu terlalu stylish. Rambutnya saja seperti rambut milik model yang sering dipasang di salon khusus pria." Jongin menjauhkan kepala Taemin dengan jempol kakinya.

"Ya, itu berarti kau setuju!" Taemin berseru semangat. Menghiraukan tatapan beberapa teman dan juniornya yang berada di studio itu. "Aku juga berpikir kalau mereka benar-benar serasi. Mingyu yang berpenampilan keren dan gentle itu sebenarnya berhati lembut dan penyayang, sementara Wonwoo yang terlihat sangar dan dingin itu sangat imut dan pintar. Mereka akan jadi perpaduan yang cocok."

Jongin menyahut dalam hati, 'Cocok dari mana?'. Tapi ia hanya meringis melihat ada bunga-bunga mekar di sekitar Taemin. Bukan bunga betulan, sih. Hanya kelihatannya saja. "Kenapa kau jadi peduli pada mereka?"

"Karena aku kasihan pada Mingyu. Aku yakin, Wonwoo juga tidak benar-benar menolak Mingyu." Ujar Taemin yakin.

Jongin menaikan sebelah alisnya. "Aku sudah sekelas dengan Wonwoo sejak kelas satu. Dan setahuku dia selalu bersungguh-sungguh dalam mengatakan sesuatu. Dia bahkan benar-benar meledakkan tabung reaksi saat penelitian."

Taemin terdiam sebentar. Tapi kemudian ia kembali berkeras pada keyakinannya. "Apa salahnya mencoba, ya 'kan?"

"Tunggu.." Jongin mengangkat tangannya dan membekap mulut Taemin. "Apa maksudmu dengan mencoba? Kau... ingin menjadi cupid untuk mereka?"

Kepala Taemin mengangguk lucu. Seperti Jjanggu, anjing Jongin di rumah. "Kau yakin?"

Taemin memutar bola matanya.

"Jawab aku, Hyung! Apa kau yakin?"

Taemin menendang tubuh Jongin sampai pria itu terjungkal. Agak risih mendengar panggilan 'Hyung' dari bocah itu. "Bagaimana bisa menjawab? Kau membekapku, bodoh."

"Hehe.. sorry." Jongin yang kini memposisikan diri bertiarap di depan Taemin itu kembali menatap Taemin penasaran. "Katakan.. kau tidak sedang merencanakan sesuatu, 'kan?"

"Lebih tepatnya belum." Taemin tersenyum lebar. "Maka dari itu, Jongin-ah, aku ingin kau membantuku." Ia berkedip-kedip lucu sebagai mantra untuk membuat Jongin lebih cepat menurut padanya.

Di sisi lain, Jongin sudah memejamkan mata erat-erat. "Tidak, Lee Taemin. Jangan memasang wajah seperti itu!"

"Jongin-ah..." Taemin mengeluarkan rengekan andalan yang tidak akan terbantahkan itu.

"Tidak, Taemin." Jongin masih berusaha menolak kepalanya untuk mengangguk. Bahkan ia harus menenggelamkan wajah di lantai parket studio agar Taemin tidak mempengaruhinya.

Taemin mengangkat kepala Jongin dan menghadapkan wajah itu padanya. "Jongin-ah... atau kau tidak ingin kuwariskan jabatan ketua klub?"

"Aku tidak bisa memegang kata-katamu." Jongin kini menutupi wajahnya dengan topi. "Aku tidak akan percaya begitu saja."

"Aaahh.. kalau begitu aku katakan saja pada Soojung kalau kau masih berhubungan dengan Do Kyungsoo yang bermata bulat dan bertubuh mungil. Tipe Jongin sekali." Taemin meraih ponselnya dan mencari-cari nama Soojung di kontaknya.

Jongin menggigit bibir sampai rasanya akan memutuskan bibirnya begitu saja. Soojung-nya itu sangat sensitif tentang Kyungsoo. Padahal 'kan hubungan Jongin dan Kyungsoo sudah berakhir. Kalau Taemin benar-benar mengatakannya pada Soojung, maka habislah riwayatnya. "Aahh! Kau curang!" Jongin membanting topinya dan menatap Taemin dengan kesal. "Geurae! Aku akan membantumu."

"Yihaaaa!" Taemin melompat kegirangan. "Terimakasih, kkamjongie.."

"Hentikan suara menjijikkanmu. Ini kulakukan demi Soojung." Desis Jongin lalu pergi dari hadapan Taemin untuk berlatih. Berada di dekat seniornya itu dalam waktu yang lama membuat otak Jongin tertekan dan selalu terpengaruh. Menyebalkan.

Sementara itu Taemin tersenyum senang karena akhirnya ia mendapatkan satu komplotan. Setidaknya, ia bisa mewujudkan niatannya untuk menyatukan Mingyu dan Wonwoo meski Minho tak mau membantunya.

Sebenarnya Taemin yakin Minho juga akan membantunya pada akhirnya. Minho memang seperti itu, tidak pernah mendukung Taemin di awal tapi akan membantunya nanti. Tapi apa salahnya mendapatkan satu komplotan untuk memperkuat squadnya? Ya, squad. Dan Taemin sudah memutuskan memberi nama squadnya, 'Mingyu Wonwoo harus jadian'.

.


.

"Ya! Chanyeol! Ke sini ke sini!"

"Seungcheol awasi Minho!"

"Jeonghan! Yak Jeonghan-ah!"

"Minho Hyung awas!"

"Brengsek kau Jisoo!"

"Sehun! Di belakangmu!"

Mingyu terduduk di sisi lapangan basket sambil menekuk lututnya. Ia menikmati permainan yang dilakukan oleh para seniornya – lebih tepatnya permainan yang berisi umpatan. Sebenarnya anggota klub basket sudah selesai berlatih sejak beberapa menit yang lalu. Tapi para kelas tiga – Minho, Seungcheol, Jeonghan, Jisoo dan Chanyeol – serta Sehun – kelas dua – masih asyik bermain.

Tadinya Mingyu bersama Hansol dan Minghao. Tapi setelah Minghao ditelepon untuk cepat pulang dan Hansol diseret Seungkwan pergi, Mingyu tinggal sendirian di sana. Ia menghabiskan air mineral yang tinggal seperempat bagian itu. Ia dan Hansol sudah mendaftarkan diri menjadi anggota klub basket, tapi ia dan anak kelas satu lainnya baru akan berlatih mulai besok.

"Kau masih menunggu. Kupikir sudah pulang."

Mingyu menoleh dan menemukan Taemin yang penuh peluh. Sahabat sepupunya itu sudah melepas seragamnya, menyisakan kaos hitam yang basah karena keringat.

"Pertandingannya sedang seru." Mingyu merujuk pada permainan tiga lawan tiga di tengah lapangan. "Kau baru selesai, Hyung?"

"Ya, begitulah." Taemin meluruskan kakinya di samping Mingyu. "Kau sudah mendaftar ekstrakurikuler?"

"Sudah. Aku akan bergabung mulai besok." Ujar Mingyu sambil kembali menatap permainan basket para seniornya.

Taemin melirik jam tangannya, "Heuh, mereka kalau sudah bermain tidak tahu waktu."

"Itu namanya passion, Hyung." Mingyu menyahut.

Taemin mencibir, "Iya, jangan menasihatiku."

Mingyu pun memilih bungkam setelah Taemin mengatakan itu. Ia memainkan botol air mineral kosong di tangannya. Sambil sesekali berseru 'wow' atau 'whoo' saat ada bola basket yang masuk ke dalam ring.

"Bagaimana hari ini?" Tiba-tiba Taemin berbasa-basi.. Memaksa Mingyu menoleh padanya.

"Bagaimana apanya?"

"Harimu."

"Menyenangkan." Mingyu menjawab sambil mengingat-ingat ia mengerjai guru matematika bersama Seokmin dan Seungkwan. Lalu ia dihukum melakukan sikap melilin selama satu jam pelajaran olahraga karena tidak serius dalam pemanasan.

Taemin menganggukan kepalanya. "Kau tahu tidak? Tadi siang aku melihat Wonwoo di perpustakaan."

Mendengar nama pujaan hatinya disebut, Mingyu menoleh dengan antusias. "Apa yang dilakukannya, Hyung? Bagaimana? Ceritakan padaku!"

Taemin terkekeh melihat semangat Mingyu yang berapi-api. "Dia membawa banyak buku. Sepertinya buku sejarah."

"Kasihan sekali, andai ada aku, aku pasti akan membantunya." Mingyu mulai berkhayal.

"Kau tahu tidak, aku sudah menemukan sisi menggemaskan dari Wonwoo seperti katamu." Taemin bicara dengan suara hampir berbisik. "Dia imut sekali, seleramu tidak buruk Mingyu-ya."

"Tentu saja. Seorang Kim Mingyu hanya akan menyukai orang berkualitas tinggi!" Mingyu menepuk dadanya sendiri. Taemin memutar bola mata karena kepercayaan diri Mingyu yang berlebih itu sudah mulai nampak.

"Aku sebenarnya penasaran, kenapa kau bisa menyukainya?" Taemin menekuk kakinya seperti Mingyu. Ia meletakkan kepalanya di atas lutut sambil memperhatikan wajah tampan adik kelasnya itu.

Mingyu menghela nafas lalu menatap langit yang hampir berubah oranye. "Aku percaya pada cinta pada pandangan pertama, Hyung." Ujar Mingyu sambil tersenyum manis. "Di hari kedua orientasiku, aku diminta oleh Seohyun Sunbae untuk membawakan buku-buku ke perpustakaan. Lalu aku melihat Wonwoo Sunbae yang sedang berdiri di antara rak buku di dekat jendela. Saat itu cuaca sedang cerah sehingga sinar matahari langsung menerpa kulit Wonwoo Sunbae yang seputih kapas. Lalu angin berhembus membuat tirai putih di belakang Wonwoo Sunbae berkibar. Saat itu aku seperti melihat ada seorang malaikat yang turun ke bumi."

Taemin ikut tersenyum mendengar cerita Mingyu. "Lalu?"

"Lalu Wonwoo Sunbae melepas kacamatanya. Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke matanya sehingga ia mengerjapkan mata dan mengusaknya beberapa kali. Saat itu Wonwoo Sunbae imut sekali, Hyung." Mingyu melompat-lompat sambil berjongkok. Ia jadi seperti seorang fanboy. "Aku gemas sampai rasanya ingin menelan rak-rak buku di sampingku."

"Kau rakus juga." Taemin bicara garing.

Tapi Mingyu masih meneruskan ceritanya. "Lalu aku mendekat padanya utuk meletakkan buku. Dan ada Jihoon Sunbae yang datang memanggilnya. Sejak itu aku tahu namanya. Dan aku jadi mendengar suaranya yang sexy itu. Ya.. meskipun awalnya aku terkejut karena ternyata suaranya tidak seimut kelihatannya, tapi itu menambah poin lebih untuknya, Hyung."

Taemin terkekeh. "Kau benar-benar menyukainya, ya? Aku bisa mendengar suara detak jantungmu tahu."

"Ah, aku jadi malu." Mingyu memegangi dadanya. "Ya.. aku sangat menyukainya."

"Kalau begitu, kau harus berusaha mendapatkannya, Mingyu. Meskipun dia belum menyukaimu, tapi buat dia menyukaimu. Ingat, batu yang keras kalau terus menerus ditetesi air akan luluh juga. Begitu pun Wonwoo."

Mingyu menatap Taemin dengan mata berbinar. Kalau digambarkan dalam manga, pasti ada bintang-bintang di matanya dan banyak api berkobar di sekitarnya. "Terimakasih, Hyung. Kau memberikan semangat padaku."

Taemin mencoba menarik tangannya yang entah sejak kapan sudah Mingyu remas kuat-kuat. Bukan apa-apa, Taemin masih menyayangi tangannya itu. Ia tidak rela kalau Mingyu akan membuat tangannya keriting karena ulahnya. "Ya ya ya, terus berjuanglah, Mingyu."

"Tentu Hyung!"

"Ck, jadi karena ditolak Wonwoo kau beralih pada berandalan ini, Gyu?" Terdengar suara Minho yang begitu dekat di telinga Mingyu dan Taemin. Dan saat keduanya menoleh, mereka mendapati wajah Minho yang begitu dekat.

"Ish.. kenapa kau lama sekali?" Taemin mengabaikan ucapan Minho dan memukul kepala Minho setelah tangannya terbebas dari Mingyu.

"Aww! Kenapa kau suka sekali memukulku, sih? Preman!" Minho mengomel.

"Itu karena kau tidak tahu waktu." Taemin balas mengomel.

"Kalau kau memang ingin pulang, kenapa tak memanggilku saja?"

"Memangnya kau akan mendengarku kalau aku memanggilmu."

"Yak!"

"Kenapa membentakku?"

"Karena aku kesal padamu."

"Hei, aku sudah berniat berbaikan denganmu, tapi kau memancing emosiku lagi."

"Kau saja yang pemarah. Dasar jamur beracun."

"Kau kodok sawah!"

"Kau ulat sagu!"

"Kau ingus gajah!"

Mingyu mengedikkan bahu dan berdiri lebih dulu. Meninggalkan sepupunya bersama sahabat sepupunya yang hanya akan saling memaki jika sudah bersama.

Mingyu sudah berjalan cukup jauh saat tiba-tiba Taemin mendahuluinya. Mingyu melotot melihat keadaan Taemin dengan rambut hitamnya yang berantakan. Ada beberapa helai rambut rontok yang bersarang di bahu Taemin. Mingyu ngeri melihatnya.

Lalu Minho ikut mendahului Mingyu. Dan ternyata keadaan rambutnya ternyata lebih parah dari Taemin. Mingyu bahkan bisa melihat ada kulit kepala yang hampir terlepas dan menyebabkan Minho hampir pitak.

Mingyu bergidik. Ternyata perkelahian Minho dan Taemin seanarkis itu.

TBC


Wehehehehe (dateng2 ketawa, wkwk)

Ini dia chapter duanya. Maaf buat segala macam typo dan bahasa rancu yang bikin dahi berkerut :v aku masih nyoba bikin genre ringan kayak gini, biasanya bikin yang sinetron nangis lebay soalnya :v Dan karena ini debut aku bareng Meanie, jadi dimaklumi ya kalau feelnya masih cetek :D

Reviewnya sangat ditunggu dan diharapkan :D Dan terimakasih banyak buat yang udah review di chapter satunya :D *tebar ciuman mesra(?)

arilalee