Title : SQUAD (Secret Mission)

Author : arilalee

Cast : 2MIN ft Meanie and other

Genre : Fluff, school life, humor garing

Warning : YAOI/Boys love, Typo(s), OOC

.

.

.

.

.

.

Malam ini keluarga Choi – yang hanya terdiri dari Eomma Choi, Minho dan Mingyu karena Appa Choi masih dalam perjalanan bisnis – menikmati makan malam bersama. Di luar sedang hujan deras, jadi Eomma Choi membuat sup daging yang bisa menghangatkan tubuh mereka.

"Mau sup Mingyu-ya?"

Minho mencibir mendengar pertanyaan sang Eomma. Bahkan ia yang notabene sebagai anaknya tidak ditanya dengan aksen semanis itu. "Kurasa Eomma juga tidak sebaik ini pada Minseok Hyung."

"Jangan kekanakan." Eomma Choi menanggapi lalu memukulkan sendok sayur ke punggung tangan Minho.

Sementara Minho mengerucutkan bibirnya. Terlepas dari Taemin kini Ibunya ikut hobi pukul. "Eomma tega sekali. Aku mau sup bukan mau pukul."

"Kalau kau mau 'kan bisa ambil sendiri."

Minho semakin mempout bibirnya. Ia melirik Mingyu yang tertawa di tempatnya. "Yak taring! Jangan menertawaiku."

"Hahaha.. Rasakan, Hyung!" Mingyu menjulurkan taring. Eh, maksudnya lidah.

"Kurasa nama depanmu itu bukan Kim tetapi 'Dracula gosong menyebalkan' Mingyu!" Mingyu hanya terkekeh bersama Eomma Choi. Memang asyik melihat Minho merajuk seperti ini. Berbeda dengan kepribadiannya saat di sekolah.

"Mingyu-ya, kau sudah memutuskan untuk mengikuti klub apa di sekolah?" Eomma Choi kembali mengajak Mingyu bicara.

"Ya, Bibi. Aku ikut basket seperti Minho Hyung." Jawab Mingyu setelah menelan daging dari supnya.

Minho mencibir, "Kau jangan terlalu optimis. Aku belum tentu menerimamu di klub."

"Kenapa begitu?" Mingyu membolakan matanya. "Seungcheol Hyung mengatakan tidak ada seleksi untuk anggota baru. Lagipula, aku juga sudah menguasai teknik basket. Aku sudah menjadi tim inti saat Junior School."

"Ck, cerewet sekali." Minho berpura-pura menekap telinganya. "Yak, aku ini kaptennya. Jadi aku yang menentukan siapa yang boleh masuk tim."

"Kau sudah harus lengser, Hyung. Kau sudah kelas tiga. Harus fokus pada ujian agar bisa lulus tanpa menyogok kepala sekolah."

"Ck, junior yang kurangajar." Minho memakan kembali supnya dan mengabaikan tatapan kesal Mingyu.

"Minho-ya, tetapi Mingyu bertubuh tinggi. Dia cocok menjadi atlet basket." Eomma Choi berpihak kepada keponakannya.

"Eomma... aku merasa dikhianati."

"Kau sudah kelas tiga, sebaiknya kau cepat fokus pada ujianmu." Eomma Choi menambahkan.

Minho menganga. "Eomma..."

KNOCK KNOCK KNOCK

Dua Choi dan satu Kim itu menoleh ketika ada suara ketukan pintu. Minho kembali fokus pada supnya. Ia tahu Eomma Choi sedang menatapnya dengan isyarat 'cepat buka pintunya'.

"Hei Mingyu-ya, kau tidak dengar pintunya diketuk?" Minho mengalihkan pandangan pada Mingyu. Tetapi ia mendapatkan hadiah pukulan manis di kepala dari sepasang sumpit stainless Eomma Choi. "Eomma.."

"Cepat, Minho!"

Minho pun bangkit dengan malas. Ia merasa bahwa sekarang ia-lah yang menumpang. Menyebalkan.

CKLEK

"Selamat mal– eo.. TAEMIN!"


"Sudah lebih hangat Taemin?" Eomma Choi melongokkan kepalanya ke ruang tengah dimana ada Taemin yang sudah mandi dan berbalut kaos serta celana Minho yang kebesaran.

"Ya, Eomma. Terimakasih." Taemin menyahut.

Bagus. Dua anak pungut yang merebut perhatian Eomma sudah cukup membuat Minho kesal.

Tadi Taemin datang dengan badan basah kuyup dan bibir menggigil ternyata dia pergi ke minimarket atas perintah Eomma Lee dan hujan turun tiba-tiba saat Taemin masih berbelanja. Menunggu dua puluh menit membuat Taemin nekat menerjang hujan deras yang tidak pernah ia kira akan sedingin ini. Jadi memutuskan untuk berteduh di rumah Minho adalah pilihan terbaik menurutnya. Menurut Taemin tentu saja, bukan menurut Minho.

"Ini supnya, Hyung." Mingyu datang dengan senampan sup daging yang dihangatkan oleh Eomma Choi.

"Thanks, Mingyu." Taemin tersenyum manis.

Minho datang dengan sehelai handuk di tangannya. "Lihatlah. Kau kembali membasahi bajumu dengan rambutmu."

Taemin melirik bahunya yang agak basah karena tetesan air dari rambutnya. "Aku sudah mengeringkannya." Taemin beralasan.

Minho berdecak, "Nyatanya itu masih basah. Kemari!" Ia mulai mengeringkan rambut Taemin secara sukarela. Sementara Taemin hanya mengerucutkan bibirnya tanpa berkomentar apapun.

Mingyu yang masih berdiri dengan nampan itu berdesis. "Ck, apa kalian sebenarnya berpacaran?"

"Jangan bicara omong kosong!" Minho mendengus.

Mingyu mengedikkan bahu dan meletakkan nampan sup itu di meja. "Belanjaanmu jadi basah, Hyung. Bibi sedang mengamankan beberapa bahan yang bisa diselamatkan."

Minho meninggalkan handuk itu di bahu Taemin setelah ia selesai membersihkan rambut Taemin. Lalu Taemin tersenyum pada Mingyu. "Thanks lagi, Mingyu."

"Hmm.." Mingyu berdengung mendengarnya.

"Makan sup-mu." Minho sudah duduk di sebelah Taemin dan menyuruh namja berkulit putih itu.

"Iya, cerewet." Taemin mendengus tapi ia segera menuruti peritah Minho. Dengan perlahan ia mulai meniupi sup hangat itu.

Mingyu ikut duduk di sisi Taemin yang lain. Ia masih betah melihat bagaimana Taemin memakan supnya dan Minho yang senang sesekali mengganggunya.

"Setelah sup-mu habis, aku akan mengantarmu pulang." Minho berdengung.

Taemin menoleh pada Minho dengan pout di bibirnya, "Apa tidak boleh menginap? Lagipula masih hujan deras. Kau tega sekali mengusirku!"

"Aku sedang tidak ingin berbagi kamar." Minho beralasan.

"Kalau begitu aku tidur dengan Mingyu saja." Taemin beralih menatap Mingyu. "Boleh, 'kan Mingyu?"

"Tidak!" Itu bukan suara Mingyu tapi suara Minho. "Kubilang kau harus pulang. Pasti Eomma dan Appa Lee mencarimu."

"Ish, aku tidak mau Minho!" Taemin bersikeras. Ia bahkan melupakan supnya. "Aku hanya perlu menelepon Eomma dan mereka tak akan khawatir kalau tahu aku di sini."

"Tidak. Aku akan mengatakan pada Taesun Hyung untuk menjemputmu dengan mobil."

"Aku sedang bertengkar dengan Taesun Hyung."

"Kekanakan sekali." Minho mencibir.

"Minho..." Taemin merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Minho yang terdekat dengannya. "Kau tahu, malam ini kau terlihat tampan. Bajumu sangat pas. Kau keren."

"Tidak mempan."

"Terserah kau saja!" Taemin memekik. "Aku akan tetap menginap. Eomma Choi juga pasti mau berbagi kamar denganku."

"YAK! Kau mau dihajar Appa?"

"Appa Choi tidak akan menghajarku. Dia 'kan menyayangiku." Taemin menjulurkan lidahnya.

"Ah, jinjja!" Minho menggeram.

Mingyu yang merasa tidak disadari keberadaannya pun memutuskan untuk bangkit. "Eum.. Hyung-deul, sepertinya aku harus mengerjakan tugas."

"Eo, Mingyu ini sudah malam. Kau masih mau belajar?" Taemin menatap Mingyu dengan bola mata cokelatnya. "Kau rajin sekali."

"Jangan mencoba merayunya, jamur beracun!" Minho memukul kepala Taemin dengan mesranya. "Mingyu, sebaiknya kau kembali ke kamar dan kunci pintunya."

"MINHO-YA!" Taemin memekik kesal bahkan ia menghentakan kaki di atas lantai.

Melihat Taemin mulai menarik rambut Minho, Mingyu jadi ngeri. Ia langsung berlari ke kamarnya. Ia tidak mau menodai mata, dengan melihat perkelahian antara Taemin dan Minho.


Mingyu sedang bersiap memakai sepatunya. Sepeda Minho sedang dipakai Minho untuk mengantar Taemin pulang sebentar mengambil buku pelajaran. Ternyata stok seragam Taemin di rumah Minho sudah tersedia, jadi pantas saja Taemin tidak ambil pusing kalau harus menginap. Lagipula jarak rumah mereka terlalu dekat.

Mingyu menggaruk tengkuknya ketika melihat Minho dan Taemin datang dengan sepeda masing-masing. Sesekali mereka saling menendang ban sepeda tapi tertawa setelahnya. Mingyu tahu sejak lama Taemin dan Minho sudah bersahabat. Pertama kali Mingyu bertemu dengan Taemin adalah saat ia masih TK dan Taemin serta Minho sudah kelas dua SD.

Saat itu Taemin yang lebih besar dari Mingyu suka sekali menggendongi Mingyu. Sampai-sampai Minho merajuk dan mengadu pada Eomma-nya karena ia diabaikan. Lalu Minho memukul Taemin dan Taemin membalasnya. Jadilah mereka berdua menangis. Ternyata sejak kecil Mingyu sudah melihat persahabatan brutal macam itu.

Dan Mingyu masih ingat jelas saat semalam mereka berkelahi di depan matanya. Tapi ternyata pagi tadi Mingyu mendapati mereka masih tertidur di sofa dengan posisi setengah duduk. Mingyu menggelengkan kepalanya. Sepertinya Minho maupun Taemin lebih dekat satu sama lain dibandingkan dengan kakak masing-masing.

"Mingyu-ya! Ayo!" Mingyu bangkit dan mengambil alih sepeda Minho. Sempat-sempatnya ia melihat Mingyu yang menarik kerah belakang Taemin agar duduk di jok belakang. Tapi Mingyu mencoba untuk tidak peduli dan fokus mengendarai Miranda.


"Aku sudah memutuskan." Taemin sudah duduk di kursinya bersama Minho. Di depannya ada Jinki dan Kibum seperti biasa.

"Memutuskan apa?" Kibum yang memang memegang predikat miss eung.. maksudnya mister kepo seantero sekolah itu bertanya dengan penasaran.

Taemin menggaruk pangkal alisnya. Ia saja belum mengatakan pada Minho, tapi bocah itu sudah lebih dulu menodongnya. "Aku ingin membuat tim rahasia untuk membantu Mingyu mendapatkan Wonwoo."

"Apa?" Kibum dan Jinki berseru. Mereka memang dua sejoli. Sudah tidak diragukan lagi.

Taemin beralih pada Minho yang masih tak bereaksi. Taemin memastikan kalau Minho tidak ketiduran atau semacamnya. "Dengan atau tanpa bantuanmu, aku akan melakukannya, Minho. Jadi jangan mencoba melarangku atau ikut campur kalau kau tak mau membantuku."

"Ck, aku bukannya tidak mau membantu." Minho menopang kepalanya dengan malas. Mengabaikan tatapan intens dari dua makhluk di depannya yang mencuri dengar perbincangannya dengan Taemin. "Nilaimu itu bahkan sangat buruk sampai membuat orang diare melihatnya, jadi jangan buat dirimu sibuk dengan hal-hal tidak penting seperti ini. Kau ingin mengecewakan orang tuamu? Bukankah Taesun Hyung adalah peraih nilai ujian tertinggi saat High School dulu?"

"Kalau Jinki yang mengatakan itu, terdengar sangat wajar. Tapi kau? Kau bahkan bukan orang yang concern pada nilai-nilai, Minho. Kau tidak pernah peduli saat matematika-mu mendapat nilai 0,5 dari 100." Taemin mendengus.

"Itu nilaimu."

"Kau tidak peduli, makanya kau lupa kau pernah mendapatkan nilai itu."

"Aku tidak pernah. Nilai terendahku itu 2,25. Kalau 0,5 itu nilaimu."

"Itu nilaimu, Minho. Kau salah mencontek pada Jinki saat itu."

"Oh ayolah, teman-teman. Apa perlu kalian memperdebatkan itu? Kalian bahkan hampir membongkar aib." Jinki melerai sebelum ada perdebatan lebih lanjut. Bukan apa-apa, ia takut mereka saling membuka aib masing-masing lebih dalam seperti Taemin yang sering mengumpulkan potongan kukunya di bawah tempat tidur atau Minho yang jarang mencuci celana dalam.

"Tapi Taemin, kau serius akan membantu anak kelas satu itu?" Kibum ternyata lebih tertarik pada poin penting perdebatan Minho dan Taemin. Matanya yang runcing seperti milik kucing itu sampai membola menatap Taemin. Itu tanda kalau dia antusias, by the way.

Taemin menganggukkan kepalanya mantap. "Aku serius, Kibum. Aku akan melakukannya bersama Jongin."

"Benarkah?" Kibum memekik. "Aku jadi tertarik. Apa aku boleh bergabung?"

"Eung.." Taemin menggaruk kepalanya. "Aku bukannya tidak ingin kau bergabung, hanya saja.."

"Aku akan menjadi Kim Kibum, bukan Key yang suka menulis berita saat membantumu. Jadi kalau ada rahasia apapun, aku menjamin hal itu tidak akan jadi materi." Kibum mengatakannya dengan yakin.

Tapi keyakinan itu membuat Taemin berpikir lagi. Kibum itu pembicara yang baik. Taemin kembali menggaruk kepalanya. Padahal seingatnya ia sudah memakai shampoo anti ketombe milik Minho tadi pagi. "Tapi.."

"Ayolah, Taem. Aku janji."

Ya, sebenarnya sih semakin banyak yang mau membantu Taemin akan semakin mudah. Apalagi Kibum adalah orang yang sangat mudah mendapatkan informasi. "Baiklah. Tapi kau harus janji padaku, misi ini adalah misi rahasia."

Minho berdecak, "Astaga. Apa kalian seserius ini pada bocah bertaring itu? Dia hanya sedang mengalami cinta monyet. Aku yakin kalian juga pasti pernah merasakannya. Jadi tak perlu dipaksakan. Kalian mau membuat Wonwoo tidak nyaman dengan apa yang kalian lakukan?"

"Tapi bagaimana kalau mereka jodoh tetapi tidak menyadarinya?" Kibum menyela.

Jinki menyahut, "Kalau mereka jodoh, maka tanpa dipersatukan pun mereka akan bersatu."

"Dan cara bersatunya itu melalui kami." Taemin menimpali.

"Kau mulai gila, Taemin." Minho berkomentar.

Taemin menganggukkan kepalanya. "Anggap saja begitu, Tuan Choi."

Kibum beralih pada Jinki, "Kau tidak mau membantuku, Jinki?"

"Tidak." Jinki menjawab dengan cepat dan tegas. Bahkan sampai beberapa liurnya terciprat ke wajah Kibum saking yakinnya. Minho mengajak Jinki untuk berhigh-five dan itu membuat Kibum dan Taemin menatap mereka dengan kesal.

"Mereka memang tidak asyik, Bum." Taemin menyindir Jinki dan Minho.

Kibum menganggukan kepalanya. "Ya, mereka itu menyebalkan."

"Tak apa, Kibum. Tim kita ini sudah cukup kuat meski hanya beranggotakan tiga orang. Jongin bisa mengawasi Wonwoo saat di kelas dan kau bisa mengamatinya saat di klub. Sementara aku akan mengawasi Mingyu." Taemin menjabat tangan Kibum dan menggoyangkannya seolah sedang menyetujui sebuah perjanjian besar. Mereka juga menyempatkan diri untuk tersenyum lebar dan berpose seolah ada kamera yang memotret perjanjian mereka.

Minho melepaskan tautan tangan Taemin dan Kibum secara paksa. "Aku tidak yakin kalau Jongin mau ikut dengan hal konyol ini."

"Nyatanya dia mau. Siang ini di jam istirahat, aku akan mengadakan diskusi pertama dengan Jongin." Taemin mencibir pada Minho. "Dan karena sekarang kau bergabung, maka nanti kau harus datang, Kibum."

"Ay ay, captain!" Kibum memberi hormat pada Taemin yang langsung tertawa sengit pada Minho.

Sementara Minho dan Jinki hanya saling berpandangan lalu menghela nafas masing-masing.


"Kapan kita mulai, Taemin?" Kibum mengangkat wajahnya dengan malas. Ia sudah kenyang, tapi ia tidak bisa segera pergi dari kantin karena janji diskusi dengan Taemin dan Jongin. Ia bahkan merelakan Jinki pergi ke kelas lebih dulu. Tapi sampai jam istirahat hampir habis, rencana diskusi itu belum terlaksana sama sekali.

Taemin yang sama bosannya dengan Kibum menjawab dengan seadanya. "Saat Jongin datang."

Dan seolah ucapan Taemin adalah mantra pemanggil Kim Jongin, lelaki itu muncul dengan senyuman – sangat – innocent di wajahnya. Dasar, ia bahkan tidak merasa berdosa karena membuat Taemin dan Kibum hampir berlumut.

"Kalau saja tidak ada pasal yang mengatur hak asasi manusia dan kejahatan berat genosida, aku pasti sudah memutilasimu dan membuangmu ke Antartika, hitam!" Kibum mengomel dari lubuk hati yang terdalam. Nampaknya ia harus memberi peringatan, Warning : Galak mode on.

Jongin menyengir, "Maaf, Hyung. Ada hal penting yang harus kuurus." Ia mendudukkan tubuhnya di hadapan Taemin.

"Urusan sepenting apa yang diurus oleh seorang Kkamjong?" Taemin mencibir.

"Urusanku dengan alam." Jongin menjawab dengan ambigu. Melihat kebingungan di wajah Kibum dan Taemin, Jongin menambahkan. "Toilet."

"Ewww..." Kibum menjauhkan tubuhnya dari Jongin saat ia baru tahu apa yang Jongin maksud.

"Baiklah, kita langsung mulai saja diskusinya. Aku tidak mau bertele-tele." Taemin akhirnya membuka diskusi mereka seperti seorang moderator. Bahkan kedua tangannya tertangkup jadi satu di depan tubuhnya yang tegak. "Aku selaku ketua dari Squad 'Mingyu Wonwoo Harus Jadian'–"

"Tunggu!" Jongin menyela. "Kenapa nama squad kita aneh sekali?"

"Itu sudah bagus, karena sudah menjelaskan apa yang menjadi misi kita." Taemin memberi alasan.

Kibum menimpali, "Dan kenapa kau yang menjadi ketua?"

"Itu karena aku adalah anggota pertama squad ini!" Taemin hampir memekik menjawabnya. Lalu ia bergumam, "Lagipula aku yang mendirikan squad ini."

"Baiklah-baiklah, lanjutkan.." Itu suara Jongin.

Taemin menarik nafas sebelum memulai bicara, "Baiklah, mulai saat ini, selama diskusi kita akan menyebut Wonwoo dengan sebutan target, sementara Mingyu kita sebut dengan eksekutor."

"Ah, ini keren." Komentar Jongin antusias.

"Tolong jangan mengintrupsi, Jongin-ssi." Sepertinya Taemin benar-benar serius kali ini. "Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menentukan tema–"

"Memangnya kita sedang membuat puisi? Ayolah, Taemin. Kau terlalu teoritis." Kini Kibum yang menyela.

Taemin mengeraskan rahangnya sembari meremas pinggiran meja. Rasanya, ia jadi lapar lagi meski sudah menghabiskan tiga porsi tteokpokki. "Tema yang kumaksud adalah konsep yang harus kita terapkan pada proses pendekatan pada target. Apakah dengan cara terang-terangan, sembunyi-sembunyi, melalui kejutan besar, atau mungkin pembiasaan. Kita harus melihat dari karakter target tersebut."

Jongin mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti sedang menjawab quiz dari Mr. Park di pelajaran Bahasa Inggris. "Menurutku, karena target adalah orang yang serius, datar, lurus dan sangat membosankan, kita bisa menggunakan cara to the point, Taemin-ssi." Jongin mulai terbawa serius.

Sementara Kibum masih bergidik mendengar kedua orang itu mulai bicara dengan formal. "Tapi nyatanya, cara to the point yang dilakukan oleh bocah bertaring itu ditolak mentah-mentah."

Taemin menganggukkan kepalanya setuju. "Ya, Jongin-ssi. Apa yang dikatakan oleh Kibum-ssi benar. Cara itu sudah dilakukan oleh eksekutor dan gagal total. Maka dari itu, kita harus mencari metode yang lebih tepat dan–"

"Ck, rahangku pegal mendengar kalian bicara seperti ini." Kibum menopang dahi dan mulai memijat dagunya sendiri.

"Lalu.. cara apa yang harus kita lakukan, Taemin-ssi?" Jongin mengabaikan desisan Kibum.

Taemin nampak berpikir. Dua bola matanya menatap ke sudut kanan atas, itu cirinya sedang berpikir. "Emm... aku juga belum tahu. Aku belum tahu banyak tentang target. Apakah di antara kalian ada yang ingin mengemukakan pendapat?"

"Mungkin kita bisa melihat cara yang dilakukan oleh mantan kekasihnya. Itupun kalau dia punya." Ujar Kibum dengan mengedikan bahu tanda ia hanya asal bicara.

"YAK! Itu benar sekali! Ide yang brilliant, Kibum-ssi!" Taemin berseru hingga beberapa orang menoleh ke arah mereka. "Jongin-ssi, kau sudah sekelas dengan target sejak kelas satu. Mungkin saja kau tahu siapa orang yang pernah dekat dengannya?"

"Entahlah." Jongin nampak berpikir. "Setahuku, target hanya dekat dengan dua hal. Pertama buku, kedua adalah bayangannya."

"Dan jangan lupakan dua manusia aneh, Kwon Soonyoung dan Lee Jihoon." Kibum menambahkan.

"Benar juga. Dia sepertinya sangat introvert." Taemin menilai.

"Ini sedikit menyusahkan karena aku juga tidak terlalu dekat dengan Jihoon maupun Soonyoung. Padahal, Soonyoung itu anggota klub dance juga." Jongin menopang dagunya.

Kibum berseloroh, "Tentu saja. Memangnya siapa yang mau berteman denganmu, hitam?"

"Ck, sebenarnya apa kegunaan orang ini di sini, sih, Taemin?" Jongin menunjuk wajah Kibum dengan sedotan banana milk milik Taemin.

Kibum tentu saja tidak terima dan ia memelototkan matanya pada Jongin. "Kau bicara apa?"

"Aku bilang kau tidak berguna!"

"YAK! Hoobae kurangajar!"

"Itu karena kau selalu mengejekku." Jongin kembali menunjuk wajah Kibum. Tapi kali ini Kibum langsung menggigit jari Jongin sampai si empunya memekik kesakitan. "AAAAARRGGHH! Yak! Yak! Yak! H-hyung.. sakit sakit!"

Taemin menggelengkan kepalanya dan memilih untuk menjatuhkan dahi ke atas meja kantin. Mencoba mengabaikan teriakan Jongin dan umpatan beberapa orang di sekitar mereka yang terganggu.

Setelah Kibum puas ia melepaskan gigitannya. Jongin sudah hampir menangis, meski jarinya tidak berdarah tapi rasanya seperti ia hampir memutuskan jari telunjuknya itu.

"Kenapa ada kanibal di sekolah?" Jongin bergumam sambil mengusap jarinya yang sakit. Ia jadi takut pada Kibum yang bisa berubah buas dalam satu detik.

"Ck, bisakah kalian serius? Ini adalah diskusi perdana kita." Taemin mendongak dengan rambut berantakan.

Jongin dan Kibum menundukkan kepala. Bukannya takut, mereka menahan tawa melihat rambut Taemin yang seperti terkena badai tornado.

Setelah suasana sedikit kondusif, Taemin melanjutkan diskusi. "Baiklah. Jongin, apakah kau benar-benar tidak tahu sedikit pun tentang orang yang dekat dengan target?" Taemin mulai malas untuk bicara formal. Ia bahkan bertanya sambil menaikan kaki ke atas meja.

Jongin mencoba mengingat-ingat. Lalu seperti ada sebuah bohlam di atas kepalanya, ia berseru. "AAAAAHHAAAA! Aku ingat!"

"Ingat kalau kau belum menggosok gigi?" Kibum menyela sambil menutup hidungnya. "Jangan membuka mulut lebar-lebar!"

Jongin mengatupkan mulut mendengar itu. Tapi ia melanjutkan, "Ini hanya gossip, sih. Tapi saat awal kelas satu dulu, target dikabarkan dekat dengan Seungcheol Sunbae."

"APAAA?!" Kini Kibum yang berseru. Setelah ini penjaga kantin harus membersihkan meja dari liurnya. "Maksudmu, Choi Seungcheol? Siswa kelas 3 C, anggota klub basket, dengan betis dan pahanya yang besar itu? Yang beberapa lalu melakukan big confession pada Yoon Jeonghan itu?" Kibum mencondongkan tubuhnya pada Jongin. Matanya menyala-nyala, antusias.

Jongin mengangguk takut-takut. Peristiwa 'digigit' yang menimpanya tadi membuatnya sedikit trauma pada namja bermarga Kim itu. Dan dengan hati-hati, Jongin menjauhkan kepala Kibum dengan sendok. Barangkali Kibum akan menggigit lagi, maka tangannya akan selamat.

BRAK!

Kibum menggebrak meja dan melompat sebelum duduk kembali. "Kenapa aku tidak pernah mendengar kabar ini? Oh, astaga!" Beberapa orang mulai menoleh kembali dan tak sedikit yang mulai melempari meja diskusi Squad Mingyu Wonwoo Harus Jadian dengan tteokpokki mereka.

"Bisakah kau tenang, Kibum?" Taemin mulai jengah. Ia selaku ketua menegur Kibum plus memberikannya sebuah tatapan tajam.

"Ah, maafkan aku. Karena melewatkan berita, jiwa jurnalisisilogy ku tiba-tiba berkobar." Kibum kembali duduk dengan tenang. Ia menumpukan satu kakinya dengan elegan. "Silahkan lanjutkan."

Taemin menghela nafas dan beralih pada Jongin. "Kau yakin kalau mereka dekat?"

"Tidak juga, sih." Jongin menjawab dengan mengecewakan. "Tapi aku pernah dengar dari Soojung kalau ia mendengar Jihoon yang marah-marah dan memaki-maki Seungcheol Sunbae di depan target yang menangis, sesaat setelah Seungcheol Sunbae melakukan confess itu. Meski aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana wajah datar itu menangis, tapi aku percaya pada Soojung."

Taemin mengerutkan dahinya. "Kalau sampai confess kemarin target masih menyukai Seungcheol, itu bisa berarti target menolak eksekutor karena ia masih menyimpan hati pada Seungcheol?"

"Itu bisa saja terjadi. Meski aku juga tidak tahu sedekat apa hubungan target dengan Seungcheol Sunbae, tapi aku sering melihat Seungcheol Sunbae makan siang bersama target serta Jihoon dan Soonyoung saat kelas satu dulu. Tapi sejak Seungcheol Sunbae mulai dekat dengan Jeonghan Sunbae, target sudah tidak pernah makan bersama Seungcheol Sunbae lagi." Jongin menjelaskan.

"Kalau ini memang benar, kemungkinan targert masih belum bisa move on sangat besar." Kibum angkat bicara.

"Ya, tapi yang harus kita pastikan pertama kali adalah, apakah hubungan target dan Seungcheol yang sebenarnya." Taemin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hei Jongin, tapi kira-kira bagaimana cara Seungcheol dan target bisa dekat? Apakah kau tahu pertama kali mereka terlihat bersama?"

Jongin cengengesan, "Aku tidak tahu, sih."

Kibum memutar bola mata, "Hei, Taemin. Apakah kau yakin orang ini bisa dipercaya? Kau tahu kalau aku Almighty, kan? Aku saja tidak pernah mendengar kalau target dekat dengan Seungcheol."

Jongin merengut mendengar itu, "Hyung, aku sudah menyampaikan apa yang kuingat dan ku ketahui. Tidak seperti kau yang hanya bisa mengomentari dan menggigit jariku. Dasar kucing betina!"

"APA?!" Kibum memekik mendengar Jongin mengejeknya. "Siapa yang kau sebut kucing betina?"

"Tentu saja kau, Kim "Key" Kibum, Hyung! Memangnya siapa lagi?"

"YAK! Dasar kau kedelai hitam!"

"Kucing betina!"

"Kedelai hitam!"

"Kucing betina!"

"Kedelai hitam!"

Taemin menjambak rambutnya sendiri. Kepalanya benar-benar berdenyut. Dengan kekuatan yang tersisa, ia bangkit dan menggebrak meja. "Diskusi ditutup!" Ujarnya sambil meninggalkan meja diskusi mereka yang porak poranda.


Bell pulang sekolah sudah bergema sejak beberapa jam yang lalu. Tapi suasana sekolah masih ramai karena kegiatan klub para siswanya. Seluruh ruangan ekskul dan lapangan dipenuhi oleh anggota klub yang sedang berlatih. Termasuk lapangan basket outdoor yang didominasi dengan suara pantulan bola dan teriakan pemainnya. Saat ini giliran siswa kelas satu yang berlatih di lapangan.

"Hei! Sebelah sini!" Itu suara Hansol yang sedang menanti bola dari rekannya.

Mingyu yang juga satu tim dengan Hansol langsung berlari ke dekat ring untuk menerima umpan dan melakukan tembakan. Ia sudah mengangkat tangan tinggi-tinggi agar bisa meraih bola yang akan dilemparkan oleh teman sekelasnya itu. Keuntungan bagi Mingyu yang bertubuh tinggi sehingga hadangan yang dilakukan tim lawan belum berarti apa-apa.

Mingyu masih menunggu bola dari Hansol yang harus melewati beberapa pemain lawan, ketika Mingyu tak sengaja menangkap pemandangan yang menyita perhatiannya. Di jendela besar ruangan ke tiga di lantai dua, seorang namja berkacamata terlihat sedang membidik sesuatu dengan kameranya. Dan seolah itu adalah pemandangan yang sangat indah, Mingyu terpaku begitu saja. Seluruh dunianya tersedot ke arah namja itu. Jeon Wonwoo.

Mata Mingyu membesar dan ia tak bisa menahan senyuman lebar sampai kedua taringnya keluar. Rasanya dada Mingyu hampir meledak karena jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya. Mingyu bahkan tidak yakin kalau ia masih menapakkan kaki di tanah.

Dan seolah sadar sedang dipandangi, Wonwoo melirikkan mata dibalik kacamatanya sampai bertemu dengan manik milik Mingyu. Membuat Mingyu semakin merasa gemetar karena tatapan tajam tetapi polos dan meneduhkan itu. Rasanya Mingyu hampir meleleh saat itu juga.

"Mingyu! Kim Mingyu!" Samar-samar Mingyu mendengar suara Hansol memanggilnya. Dan sebelum kesadaran Mingyu kembali, sebuah hantaman keras mendarat di pelipisnya. Mingyu menghitung dari satu sampai tiga, dan semuanya menjadi gelap.


"Oh! Apa dia pingsan?" Seorang gadis yang berdiri di dekat jendela studio fotografi itu memekik membuat Wonwoo menoleh padanya. "Wonwoo-ya.. lihat itu."

Wonwoo bukan orang yang kepo, tapi apa salahnya melihat apa yang dimaksud oleh temannya sendiri. Dan matanya langsung melihat seorang lelaki yang sedang tergeletak di lapangan basket sambil memejamkan mata dan tersenyum. Wonwoo meringis, ternyata orang gila itu.

"Tadi sepertinya dia terus menatapimu, Wonwoo." Gadis di sebelahnya kembali bersuara.

Wonwoo menoleh padanya, "Abaikan saja." Ia kembali sibuk dengan kameranya. Sesekali membidik pemandangan langit yang hampir berubah oranye. Apakah sudah sesore itu?

"Ck, apa kau tidak kasihan padanya?" Gadis itu kembali bertanya. Kali ini sambil memasukan kameranya ke dalam tas khusus. "Sepertinya dia benar-benar gila padamu."

"Dia memang gila." Komentar Wonwoo tak tertarik.

"Kau masih Wonwoo yang sama." Gadis itu memutar bola mata jengah. "Aku pulang duluan, ya."

"Eum, hati-hati Soojung."

"Ya!"

Wonwoo menghela nafas setelah teman satu klub-nya itu pergi dari studio. Sekarang ini hanya tersisa beberapa orang saja di dalam studio, yang lainnya sudah banyak yang pulang. Tapi Wonwoo rasanya malas untuk pergi.

Tangan Wonwoo bergerak menutup lensa kameranya. Lalu tiba-tiba terbersit di pikirannya tentang lelaki bodoh yang tadi pingsan di lapangan. Dengan – sangat – sedikit – rasa penasaran, Wonwoo melirik ke arah lapangan basket. Dan ia tidak menemukan Mingyu di sana. Apa dia pingsan sungguhan? Wonwoo jadi ingat anak itu juga pingsan setelah menyatakan perasaan padanya.

"Ck, dasar bodoh." Desisnya lalu pergi dari studio dengan membawa serta tas dan kameranya.


"Baiklah, kita sudahi latihan hari ini. Selamat sore!"

Taemin langsung melesat ke arah tasnya setelah Yunho menutup sesi latihan hari ini. Dengan cekatan Taemin mengganti sepatunya seraya menatap ke sekeliling ruangan. Dimana Jongin? Kenapa dia pergi cepat sekali?

"Hei Taemin, bantu aku gulung kabelnya dan angkat radio tape itu ke tempat semula." Itu suara si pelatih, siapa lagi kalau bukan Yunho?

Taemin enggan menoleh pada Yunho yang ia yakini sedang sibuk juga. "Aku ada urusan, Hyung. Aku duluan!" Taemin segera pergi dari studio dance tanpa menggubris pekikan Yunho yang memanggil namanya.

Taemin berlari di koridor dan berdesis ketika melihat punggung Jongin yang sedang berjalan di koridor. Jongin tidak sendiri, ada Soojung di sampingnya, mereka berjalan beriringan.

"Ck, jadi ini yang membuatmu sangat cepat pergi dari studio, Kkamjong?" Taemin bergumam sambil mengejar temannya itu. Setelah cukup dekat, Taemin langsung memukul kepala Jongin dengan botol air mineral yang dibawanya.

"Aw!" Tentu saja Jongin memekik karena ia terkejut. Soojung saja sampai membolakan matanya saat menemukan kepala Taemin sudah berada di antara Soojung dan Jongin. "Ck, apa yang kau lakukan, Taemin?"

"Aku ingin bicara sebentar, kenapa kau pergi cepat sekali?" Taemin mengomeli Jongin persis seorang nenek yang memarahi cucu nakalnya.

"Ck, kau tidak lihat? Aku ada janji dengan Soojung." Jongin berdecak malas.

"Hanya sebentar." Taemin tak peduli saat Jongin bersiap menggigit tangannya. Taemin beralih pada Soojung. "Soojung-ah, kau duluan saja. Aku ingin bicara dengan anak ini."

"Oppa, kau mengganggu saja." Soojung mengerucut. "Jangan lama-lama, aku tunggu di lapangan basket."

"Iya iya. Cepat pergi!" Taemin yang tak berperikemanusiaan mendorong tubuh Soojung agar cepat pergi.

Tersisalah Jongin yang masih berpout ria. "Ck, kenapa kau terus saja merusak kencanku, sih? Kalau kau juga ingin berkencan denganku, 'kan tinggal katakan saja."

"Dalam mimpimu!" Taemin bergidik ketika membayangkan ia akan berkencan dengan Jongin. Seperti mimpi buruk saja. "Sudahlah, jangan merengut begitu. Aku hanya akan bicara sebentar."

"Kalau hanya sebentar, kenapa Soojung harus diusir?"

"Karena ini bersifat rahasia."

"Serahasia apa?"

"Tentang squad."

Jongin berdecak, seharusnya ia ingat kalau sekarang dirinya masih terikat dengan squad Mingyu Wonwoo harus jadian.

"Aku hanya akan mengatakannya sekali." Taemin menoleh ke kanan dan kiri, berusaha memastikan tidak ada orang yang akan mencuri dengar pembicaraan mereka. "Mulai besok, kau harus memperhatikan gerak-gerik target di kelas. Aku ingin kau membuat rangkuman beberapa poin penting tentangnya. Sementara aku akan mencari informasi dari Seungcheol, dan Kibum sudah kuperintahkan untuk mencari informasi dari buku jurnalistiknya. Kau mengerti?"

Jongin menggaruk kepalanya yang gatal tiba-tiba, setelah Taemin bicara panjang lebar. "Kau ingin aku dihukum? Di kelas seharusnya kita memperhatikan guru bukan memperhatikan kutubuku seperti Wonwoo."

"Ssstt! Jangan sebut namanya!" Taemin membekap mulut Jongin dengan kesal. "Lagipula aku yakin kau hanya tertidur di kelas. Ingat, kau hanya beruntung masuk ke dalam kelas A."

"Apa-apaan? Aku tidak mau."

"Hei! Kau mau aku buat kau putus dengan Soojung?"

"YAK YAK YAK!" Jongin memekik heboh. Kenapa harus membawa-bawa Soojung? "Baiklah, aku akan merangkum apapun yang Wonwoo lakukan. Puas?!"

"Jangan sebut namanya! Bodoh!"

Jongin memutar bola matanya. "Ya, maksudku target."

"Bagus." Taemin tersenyum miring sambil mengatakannya. "Besok jangan terlambat di diskusi kedua. Di perpustakaan sepulang sekolah." Ujar Taemin serius, selaku ketua. "Oh ya, aku akan membuat grup chat khusus diskusi kita di Line, pastikan Line-mu aktif."

"Iya!"

"Anak manis." Taemin tersenyum lebar sambil mengusak rambut Jongin, seperti ia mengusak bulu Eve, anjingnya. Lalu tanpa menunggu reaksi dari Jongin, Taemin segera berjalan mendahului juniornya yang lebih tinggi darinya itu.

Jongin berdesis, "Dasar menyebalkan." Lalu ia mengejar Taemin dan mereka berjalan beriringan menuju lapangan basket outdoor.


Soojung duduk manis di sisi lapangan basket. Ia sama sekali tak mengerti dengan permainan basket, yang ia tahu hanya beberapa lelaki bertubuh tinggi yang sedang memperebutkan bola oranye di lapangan dengan keringat mengucur. Sesekali gadis itu mengipas tubuhnya dengan tangan.

"Ck, seharusnya mereka memperebutkan gadis secantik aku, bukan memperebutkan bola oranye berbintik seperti itu." Soojung bergumam.

"Sebentar bukan?" Taemin tiba-tiba melompat ke hadapan Soojung yang menanggapinya dengan tatapan datar.

"Ck, ya, sebentar sekali sampai matahari hampir terbenam." Soojung menyahut dengan kesal. "Memangnya apa yang kalian bicarakan?"

"Rahasia!" Taemin menyahut cepat. "Ini adalah perbincangan antar pria."

Soojung merasa mual mendengarnya. Lalu ia segera berdiri setelah Jongin muncul. Dengan tanpa permisi, Jongin menarik tangan Soojung dengan tangannya. Tapi Soojung segera menepisnya.

"K-kenapa, chagi?" Jongin menatap Soojung dengan nanar.

Soojung mengedik, "Tidak ada berpegangan hari ini."

"Tapi kenapa?"

"Hukuman karena membuatku menunggu." Soojung langsung berjalan meninggalkan Jongin yang masih shock di tempat. Jongin jadi kapok karena membuat wanita menunggu.

Taemin terkikik sendiri saat ia mendapatkan tatapan membunuh dari Jongin. Ia tidak peduli dan terus tertawa. Sangat menghibur ketika melihat Jongin mengejar Soojung yang sudah tak terlihat lagi.

"Langkah Soojung cepat juga, aku tidak tahu kalau dia punya keturunan superhero." Taemin masih terkikik bahkan sambil memegangi perutnya.

"Kau habis terbentur, ya?" Minho yang entah sejak kapan sudah berada di dekat Taemin, menjulurkan tangan untuk menyentuh dahi Taemin. Memastikan suhu sahabatnya itu.

Taemin menepis tangan Minho. "Singkirkan tanganmu! Kau bau!"

"Kupikir kau sudah gila karena tertawa sendirian." Minho merebut air mineral di tangan Taemin dan menenggaknya sampai habis.

Taemin tak menggubris. Karena ini sudah biasa. Ia melihat ke kanan dan kiri, sepertinya ada yang kurang. "Dimana Mingyu?"

"Masih dikompres oleh Coach Yoon." Minho menunjuk arah ruang olahraga dengan dagunya.

"Apa yang terjadi? Dia demam?"

"Dia melamun saat bertanding jadi kepalanya terkena lemparan bola. Ini kedua kalinya dia mempermalukanku dengan cara yang sama. Pingsan di tengah lapangan basket." Minho menambahkan umpatan untuk sepupunya itu di dalam hati.

"Melamun?" Taemin mengerutkan dahi.

Minho menjawab dengan malas, "Iya. Dia terus saja memandangi jendela studio fotografi." Minho lalu melirik Taemin dengan penuh arti, "Kau pasti tahu alasannya."

"Aaaahh!" Taemin langsung berseru senang. "Lihatlah Minho, mereka manis sekali, bukan? Wonwoo sampai mengalihkan dunia Mingyu."

"Bukan manis, tapi bodoh." Minho berdecak sebal. "Ck, kenapa aku dikelilingi orang-orang gila?"

"Hei, cinta memang membuat orang menjadi bodoh, bukan?"

"Bicaralah dengan pantat Eve!" Minho tak peduli dan segera beranjak ke arah parkiran. Menunggu Mingyu selesai dikompres, Minho lebih baik duduk bersamaMiranda daripada harus mendengar ocehan Taemin.


Hari ini ada quiz fisika untuk kelas 3 B – kelas Taemin – bersama Park Saem. Masih beruntung Park Saem yang keseluruhan rambutnya sudah terkena kutukan Princess Elsa – alias berwarna putih ; uban – itu memberikan warning di hari sebelumnya. Biasanya quiz laknat itu akan dilaksanakan secara mendadak. Mungkin Park Saem juga ingin meminimalisir korban yang berjatuhan jika diadakan quiz mendadak.

Minho masih mencoba memahami beberapa rumus yang berpangkat dua, berpangkat tiga, bervariabel dan berakar serabut – karena memiliki banyak cabang dan cara yang rumit – di buku cetak yang dipinjamkan sekolah. Meski sudah tahu akan ada quiz, Minho lebih suka bermain Winning Eleven semalam. Niatnya sih, refreshing, tapi keterusan.

Dan sekarang ini, sudah tinggal dua puluh menit terakhir sebelum bell tanda neraka dunia – alias masuk kelas – dimulai. Minho sedikit mengumpat pada Seungcheol yang tadi menyita waktu sepuluh menitnya yang berharga hanya untuk membicarakan penyeleksian kapten tim basket yang baru.

"Minho.."

Suara Taemin yang menguar di telinga kanan Minho itu bagaikan palu yang memecahkan konsentrasi Minho. Meskipun Minho tidak benar-benar konsentrasi karena ia akan lebih banyak melamun dibanding membaca deretan huruf dan angka di bukunya.

"Minho-ya.."

Minho mencoba mengabaikan panggilan Taemin yang semakin lama semakin dekat ke telinganya. Bahkan Minho bisa merasakan daun telinganya tertusuk hidung mancung Taemin.

"Choi Minho..."

"Huft..." Tak ada pilihan lain. Minho menolehkan kepala dengan ekspresi datar. "Apa?"

"Aku ingin tanya sesuatu padamu."

"Kau tidak lihat aku sedang menghafal rumus?" Tanya Minho dengan acuh lalu kembali menatap bukunya. Sebenarnya matanya sudah hampir terbakar, tapi ia tetap harus berusaha belajar. Kalau sedang eksekusi, tergantung nanti. Kalau tiba-tiba blank, baru Minho akan menendang kursi Jinki yang duduk tepat di depannya. Yang penting usahanya, bukan?

Taemin mengerucutkan bibirnya. "Salah sendiri tidak belajar tadi malam."

"Memangnya kau belajar?"

"Tentu saja... tidak!" Taemin cengengesan membuat Minho ingin membenturkan kepala ke jendela. "Belajar atau tidak, saat melihat soal nanti aku pasti akan bingung juga. Daripada buang-buang waktu lebih baik tidak belajar."

"Daripada buang-buang waktu, lebih baik kau diam. Aku sedang tidak ingin membicarakan hal tidak penting. Aku ingin berusaha menghafal setidaknya satu atau dua rumus." Minho kembali memfokuskan bola matanya pada rumus – yang entah untuk mencari apa – di bukunya. Dahinya sampai berkerut-kerut saking seriusnya.

Taemin mendesah kesal, "Aku hanya ingin bicara sebentar, Minho. Lagipula ada Jinki nanti."

Minho ikut mendesah. Taemin itu memang keras kepala dan mau menang sendiri. Kalau tidak dituruti, maka ada dua kemungkinan yang akan Taemin lakukan. Pertama, terus mengganggu Minho dengan ocehan-ocehan yang melukai telinga Minho, dan kemungkinan kedua adalah Taemin akan marah dan mendiami Minho sampai jangka waktu yang tidak ditentukan.

"Baiklah, lima menit." Minho meletakkan bukunya yang terbuka ke atas meja dengan keadaan menelungkup.

Melihat kesempatan yang diberikan, Taemin langsung menegakkan punggungnya dan mulai membuka mulut dengan antusias. "Kulihat kau cukup dekat dengan Choi Seungcheol."

Minho menyipitkan matanya. Entah perasaan Minho saja atau Taemin sekarang jadi suka sekali mengurusi urusan orang lain. "Kenapa? Kau suka padanya? Dia sudah punya Jeonghan."

"Bukan begitu." Inilah sisi yang tidak Taemin sukai dari Minho. Sok tahu. "Karena kau cukup dekat dengannya, apakah dia sering curhat padamu?"

Minho memutar bola mata, "Dia itu Choi Seungcheol, bukan Kim Kibum, jadi tidak ada curhat atau apapun itu." Jawab Minho yang tak menggubris lemparan penghapus dari Kibum yang duduk di meja depan.

"Tapi setidaknya kau tahu tidak orang-orang yang dekat dengannya? Seperti mantan kekasihnya atau mantan PDKT-an nya, atau semacamnya lah. Kalian 'kan satu klub sejak kelas satu."

Minho benar-benar jengah dengan Taemin yang tertular kepoology milik Kibum. "Aku baru tahu kau benar-benar concern padanya sekarang."

"Bukan itu!" Taemin gemas sampai menggigit kepalan tangannya sendiri. "Aku dengar dia pernah dekat dengan Wonwoo."

Ternyata masalah ini. Minho menyesal karena telah merelakan waktunya yang berharga. Ia langsung meraih bukunya dan mengabaikan Taemin yang bersiap memukulnya dengan kursi. "Ck, aku tidak tahu."

"Masa tidak tahu?"

"Lagipula itu privacy, Taemin."

Taemin menghela nafas kasar. "Kau sepertinya benar-benar tidak mau membantuku, ya, Minho? Padahal kupikir kau hanya pura-pura tak peduli padaku seperti biasanya."

"Jangan dramatis." Minho membalik bukunya ke halaman sebelumnya. Bagus, satu rumus sudah ia lupakan lagi karena ocehan aneh Taemin.

"Akan sangat aneh kalau tiba-tiba aku bertanya padanya, Minho. Kibum yang anggota klub jurnalistik saja tidak bisa mendapatkan beritanya. Dia tidak mau diwawancarai padahal Kibum sudah berkamuflase."

"Kibum bisa berubah warna?"

"Tidak lucu!" Taemin memekik. "Kibum sudah berpura-pura akan mewawancarai seputar basket, tapi dia malah menyuruh Kibum mewawancaraimu karena kau kapten."

"Itu bukan urusanku, Taemin. Aku sudah bilang aku tidak akan ikut campur dalam hal bodoh seperti−"

"Satu video games terbaru gratis jika berhasil. Aku janji."

Minho meletakkan kembali bukunya. Kali ini dengan keadaan tertutup. "Lalu kau mau aku melakukan apa?"

Taemin memutar bola mata, seharusnya ia melakukan ini dari kemarin. Dan kalau sudah begini, Taemin harus mencari cara untuk mencuri tabungan kakaknya lagi. "Eum.. menanyakan saja tentang ini. Kalau kau yang tanya pasti dia tidak akan curiga."

"Kapan aku mendapatkan video games-nya?"

"Setelah kau berhasil mendapatkan informasinya." Taemin menatap Minho dengan kesal. Kalau begini saja, Minho selalu terburu-buru.

"Kau tidak membodohiku, 'kan?"

"Tidak."

"Baiklah. Akan kutanyakan istirahat nanti. Atau.. sekarang?"

Taemin berdecak. Minho memang benar-benar menyebalkan.


Wonwoo biasa datang lima belas menit sebelum bell masuk dibunyikan. Sama seperti sekarang ini. Seharusnya semuanya biasa saja andai ia tidak menemukan setangkai mawar dan sekotak susu stroberi yang ditempel di pintu locker-nya.

Stalker, eh? Atau admirer?

Kalau saja Wonwoo wanita, mungkin dia akan senang menerima bunga seperti ini. Tapi sayangnya, Wonwoo lebih menyukai buku baru atau kartu perpustakaan seumur hidup.

Wonwoo berpikir sejenak tentang siapa pelakunya, tapi melihat tipe bunga mawar hampir layu yang menempel secara vertikal di locker-nya, membuatnya ingat pada ribuan mawar di lapangan basket tempo hari. Si bocah itu.

"Wow! Sepertinya dia benar-benar belum menyerah, Wonwoo." Suara Soonyoung sama sekali tidak membuat Wonwoo senang. Namja itu selalu saja heboh dalam menanggapi sesuatu.

"Aku akan membuangnya." Wonwoo segera mencabut bunga itu dari pintu locker-nya dan akan membuangnya ke tong sampah andai saja Soonyoung tidak segera merebutnya.

"Lumayan untuk Jihoonie. Dia tidak akan tahu kalau ini sebenarnya punyamu." Soonyoung menyengir lima jari sebelum berjalan meninggalkan Wonwoo.

Wonwoo mendengus. Setidaknya, Wonwoo tidak harus merasa bersalah karena membuang bunga itu ke tong sampah. Wonwoo lebih suka membuangnya ke wajah si pelaku sekalian. Agar dia kapok. Meski kelihatannya, si namja bertaring itu tidak akan kapok juga.

Tangan Wonwoo segera bergerak membuka pintu locker-nya yang masih terkunci. Mengambil beberapa buku dan memasukkannya ke tas sebelum menguncinya kembali. Saat sedang mengunci pintu, punggung tangan Wonwoo sempat menyentuh kotak susu stroberi yang tertempel di sana. Membuat Wonwoo menatapnya dengan kerjapan mata.

"Maaf, aku menyukaimu susu stroberi. Tapi aku tidak menyukai orang yang menempelkanmu di sini." Wonwoo berdialog dengan minuman kesukaannya itu. Lalu ia berbalik hendak berjalan ke kelas sebelum menemukan sosok tinggi bak tiang listrik yang sedang bersandar di tembok koridor.

Senyuman plus taring yang menjulur keluar itu tentu saja ciri khas seorang Kim Mingyu. Si bocah bodoh yang menjadi tersangka penempelan bunga mawar dan susu kotak di pintu locker Wonwoo.

"Selamat pagi, Sunbae-nim." Mingyu masih tersenyum lebar bahkan saat Wonwoo memutar bola mata dan mengacuhkannya sambil beranjak pergi.

Setidaknya, bertatap muka dengan Wonwoo saja sudah membuat Mingyu senang bukan kepalang. Meskipun Mingyu melihat dengan jelas bagaimana Wonwoo akan melempar bunga mawarnya ke tong sampah sebelum direbut oleh Soonyoung tadi.


"Haaahh.. rasanya kepalaku berasap!" Taemin menjatuhkan kepala ke atas meja kantin sampai terdengar bunyi 'thud' yang keras. Melewati quiz fisika dengan berbagai tekanan dan ke-shock-an tak terduga di setiap kata dalam soal, membuat kepalanya berdenyut-denyut.

Kibum yang sudah lebih dulu menenggelamkan kepala dalam lipatan tangan itu mendongak seidkit. "Bahkan kepalaku hampir meledak."

"Dan kepalaku sudah luluh lantak." Minho menyahut. Ia sudah berbaring di kursi kantin yang panjang.

Hanya Jinki yang terlihat tenang dengan senyuman semanis madu di wajahnya. Bahkan ia terlihat sangat lega seperti ibu hamil yang baru saja melahirkan. "Sudahlah, lupakan soal-soal tadi dan cepat pesan makanan. Kalian harus mendapatkan nutrisi yang baik setelah bekerja keras. Masih bagus kalian tidak pingsan seperti Chanyeol."

"Aku belum bisa mengangkat kepala.." Taemin merengek sesedih-sedihnya.

"Kepalaku masih menempel di meja." Kibum menambahkan.

Tapi Minho bukan orang yang suka memberi kode, jadi dia bicara to the point. "Cepat pesankan makanan untuk kami, Jinki. Hanya kau yang masih bugar."

Senyuman Jinki pudar. Seharusnya dia ingat kalau teman-temannya itu kurangajar. "Baiklah baiklah! Anggap saja aku baik karena kalian tidak mencontek padaku."

"Kami mau mencontek, tapi kau membuat tembok dengan kamus-kamus tebal di sekitar lembar jawabmu. Bagaimana kita bisa melihat?" Taemin berseloroh sambil melemparkan sumpit ke arah Jinki yang siap menghindar.

Jinki tertawa kecil, "Iya. Aku akan pesankan. Tteokpokki saja tidak apa-apa?"

"Ya, apapun itu!" Minho menyahut.

"Cepat cepat!" Kibum mendorong tubuh Jinki yang duduk di sampingnya, sehingga Jinki segera beranjak untuk memesan makanan.

Sepeninggal Jinki, meja Taemin, Kibum dan Minho terasa hening. Mereka masih berusaha menyusun kembali syaraf-syaraf otak yang tercecer dan saling bertabrakan. Minho bahkan harus mengecek hidungnya, ia merasa ada darah mengalir dari sana.

"Ouch, bau apa ini? Seperti bau terbakar."

Taemin enggan mengangkat kepalanya, jadi ia hanya mengintip dan mendapati seorang gadis yang sudah duduk di samping Kibum. Gadis itu nampak tak asing, tentu saja, itu Soojung.

"Ck, jangan mengejek!" Taemin akan melempar sumpit keduanya andai ia tidak ingat kalau Soojung adalah wanita.

Soojung menopang dagunya lalu menatap ketiga seniornya secara prihatin. "Oppa.. apa sekarang fisika atau kimia?"

"Fisika!" Taemin menyahut dengan gusar.

"Heum.. pantas saja." Soojung terkekeh. "Aku ingin bicara denganmu, Taemin Oppa."

"Bicara saja!"

"Aku ingin bergabung dengan squad Mingyu Wonwoo harus jadian!"

Taemin langsung membuka kedua matanya yang semula sangat sulit terbuka itu. Mulutnya menganga dengan tatapan heran pada satu-satunya gadis di meja mereka.

"K-kau.. tahu dari mana?"

"Jongin." Soojung menyahut. "Ayolah.. jangan bertele-tele."

"Tapi aku tidak bisa merekrut sembarangan orang ke dalam squad-ku." Taemin sudah duduk biasa dan melupakan kejadian kebakaran otaknya.

"Aku bukan orang sembarangan. Kalau kau ingin tahu, aku sangat mudah dekat dengan Wonwoo karena kita satu klub." Ujar Soojung dengan senyum percaya dirinya.

Taemin mengedik, "Tidak semudah itu, Soojung. Lagipula, kau wanita."

"Memangnya kenapa?"

"Aku tidak bisa menjamin kau akan menjaga rahasia squad kami. Kuingatkan, ini adalah misi rahasia." Taemin mulai serius. Sebagai ketua, ia harus mempertahankan harga diri squad-nya.

Soojung berdecak. "Kau bahkan bisa percaya pada Key Oppa."

Kibum melirik ketika namanya disebut. Tapi ia masih terlalu lemah untuk mengomeli Soojung. By the way, yang tahu penname-nya 'kan hanya Jinki, Taemin dan Minho, kenapa Soojung bisa tahu? Ah, persetan.

Soojung kemudian mencondongkan tubuhnya pada Taemin. "Aku cukup berpengalaman dalam hal-hal seperti ini. Kalau kau mau tahu, aku yang membuat ide untuk confess-nya Seungcheol Oppa."

Taemin mengernyit, "Kau mengenalnya?"

"Siapa yang tidak mengenal Jung Soojung?" Soojung merentangkan tangan dengan angkuh. Membuat Taemin ingin menyemburkan saos cabai ke wajahnya yang cantik.

Taemin melirik Kibum yang masih belum bisa memberi komentar apa-apa. Ia hanya menangkap kode 'terima saja' dari tatapan nanar Kibum. Jika dipikir-pikir, posisi Soojung memang agak menguntungkan. Dia populer dan sangat supel, jadi pasti mudah dalam mendapatkan informasi. Dan dia itu wanita, pasti lebih sensitif pada hal-hal romantis yang harus diaplikasikan dalam pendekatan Mingyu pada Wonwoo. Tapi Taemin tidak suka berurusan dengan makhluk bernama wanita karena mereka sangat suka bergossip. Kerahasiaan belum bisa terjamin sepenuhnya.

"Aku harus memikirkannya." Taemin memutuskan.

Rolling eyes dilakukan Soojung dengan jengah, "Hati-hati, Oppa. Jangan terlalu banyak berpikir, kau bisa meledakkan otakmu." Dan setelah mendapatkan tatapan tajam dari Taemin, Soojung langsung pergi dari dengan langkahnya yang tidak anggun sama sekali.

Tepat setelah itu, Jinki datang dengan nampan berisi empat porsi tteokpokki dan minuman dingin. Ia meletakkannya di atas meja dan membagi-bagikan pada ketiga temannya.

"Makan dulu, kalian bisa membayarnya nanti. Plus bunga sepuluh persen untuk aku yang lelah mengantre." Ujar Jinki seraya membuka minuman dinginnya.

Taemin berdecak, "Jinki yang penuh perhitungan."

"Seperak pun, tetap hutang, 'kan?" Jinki tersenyum sampai matanya hilang. Ia tak peduli ketika yang lainnya memprotes biaya yang ditetapkan olehnya.

TBC

Wahahahaha.. ini adalah third chapter-nya guys. *tebar kiss* :p
Terimakasih ya buat semuanya yang udah review. Entah itu dari kalangan 2minshipper maupun Meanieshipper weheheheh.. Well, aku masih butuh kritik dan saran loh buat gaya penulisanku yang masih meraba-raba (?)

Next chap bakal dilanjut kalau review-nya lebih banyak dari prev chapter hehe.. Love you all :*

arilalee