Title : SQUAD (Secret Mission)

Author : arilalee

Cast : 2MIN ft Meanie and other

Genre : Fluff, school life, humor garing

Warning : YAOI/Boys love, Typo(s), OOC

.

.

.

.

.

.

Chat room : Squad MWHJ

[08.15 AM]

[Krystal Jung bergabung dengan obrolan]

[08.47 AM]

[Keybum bergabung dengan obrolan]

Krystal Jung : Grup apa ini? -_-

Lee Taemin : Squad kita J

Keybum : Nama grupnya -_-

Lee Taemin : Kau tak tanya apa artinya? ^^

Keybum : Rasanya aku sudah tahu -_-

Lee Taemin : Mau menebak? (0.0)

Lee Taemin : Ayo, kau tak bisa menebak 'kan?

Lee Taemin : Kau pasti sedang frustrasi karena berpikir. :v

Keybum : Sumpah Taemin, aku masih duduk di depanmu sekarang.

Lee Taemin : Hei, tadi Song Saem melirikmu. Simpan ponselmu, bodoh!

Keybum : Memang siapa yang lebih dulu membuka chat room? -_-

[09.23 AM]

[Kim KaiJong-nya Krystal bergabung dengan obrolan]

Keybum : Serius, mataku sakit melihat nama akunmu, hitam!

Kim KaiJong-nya Krystal : Aku tidak butuh komentarmu, Hyung.

Kim KaiJong-nya Krystal : Ini hakku untuk menentukan nama akun :p

Keybum : Dan hakku untuk bebas berpendapat dan menyampaikan ketidaknyamanan sebagai warga negara yang baik.

Lee Taemin : Hei, kalau kalian ingin bertengkar di personal chat saja.

Lee Taemin : Ini hanya untuk e-diskusi Squad MWHJ

Keybum : E-diskusi '-'

Kim KaiJong-nya Krystal : Bagus.

Kim KaiJong-nya Krystal : Jadi kita tidak perlu terlalu banyak bertemu.

Kim KaiJong-nya Krystal : *sticker Song Hye Kyo main trampolin*

Keybum : Bahkan kita baru dua kali diskusi

Kim KaiJong-nya Krystal : Aku sibuk jadi tak bisa terus-terusan bertemu kalian.

Keybum : Sibuk memutihkan kulit?

Keybum : Tentu saja tak akan bisa

Kim KaiJong-nya Krystal : Hei, aku ini 'kan sudah taken.

Kim KaiJong-nya Krystal : Jadi aku tidak punya banyak waktu luang seperti kalian.

Keybum : Serius, Taemin! Keluarkan si hitam ini dari grup!

Lee Taemin : Tak bisa.

Lee Taemin : Dia kan anggota resmi.

[09.58 AM]

Krystal Jung : Chagi..

Kim KaiJong-nya Krystal : Ya chagiyaa? :*

Keybum : Mataku panas (0.0)

Krystal Jung : Ini jam pelajaran

Krystal Jung : Matikan ponselmu sekarang!

Lee Taemin : Kau juga bermain ponsel, Soojung! -_-

Krystal Jung : Seo Saem sedang keluar :p

Lee Taemin : Kibum, Song Saem kembali melirikmu.

Lee Taemin : Jangan balas chat lagi!

Keybum : Kalau begitu tak perlu mengajakku mengobrol lagi!

Lee Taemin : Sudah kubilang jangan dibalas!

Lee Taemin : Song Saem menatap kita terus!

Keybum : Sudah..

Keybum : Matikan ponselmu, bodoh!

Lee Taemin : Omong-omong, mana Jongin?

Keybum : Mungkin sudah ketahuan gurunya

Keybum : Gawat!

Keybum : Song Saem berjalan kemari!

Lee Taemin : Tamat riwayatmu, Kibum!

Keybum : Matilah kau, Taemin!

[10.08 AM]

Krystal Jung : -_- bolehkah aku keluar dari grup ini?


"Ah.. aku dulu memang dekat dengan Wonwoo. Ya, dia cukup menarik. Kurasa sikapnya itu manis. Tapi kurasa dia hanya menunjukkan sisi manisnya di hadapanku. Aku pikir dia menyukaiku. Hehe.. Tapi setelah aku sadar akan itu, aku menjauhinya perlahan-lahan karena takut memberinya harapan. Aku hanya menganggapnya adikku saja. Lagipula aku sudah menyukai Jeonghan. Aku bahkan mengatakan ini pada Wonwoo secara gamblang. Ck, nasib orang berwajah tampan memang seperti ini."

"Ck, percaya diri sekali. Ah, tapi.. bagaimana cara kau mendekatinya? Maksudku.. apakah kalian kenal sebelumnya?"

"Kami satu sekolah saat SMP, jadi wajar saja kalau kami saling kenal. Tapi kami dekat sejak di SMA, saat aku masih anggota organisasi intra sekolah. Sebelum dikeluarkan, aku sempat mengospek kelas satu, jadi aku mengenalnya. Kalau kami tidak kenal sebelumnya, tidak mungkin kami dekat. Wonwoo tidak semudah itu menerima orang baru."

"Ah.. begitu. Lalu menurutmu, bagaimana tipe yang akan disukai Wonwoo?"

"Ck, kau menyukainya?"

"Bukan aku."

"Ah, sepupumu itu ya?"

"Kalau di sekolah dia bukan sepupuku."

"Hahaha.. ya, menurutku Wonwoo itu orang yang sulit didekati kalau dia tidak menyukai orang itu lebih dulu. Jadi, buatlah dia mencintaimu terlebih dahulu."

"Tapi bagaimana caranya?"

"Kau perhatikan saja aku setiap hari. Setidaknya kau harus mempesona seperti aku."

"Aku tidak mau memiliki betis besar sepertimu, maaf saja."

"Ck, sial. Tapi Minho, menurutku Wonwoo akan mudah jatuh cinta kalau kau terus menunjukkan cintamu padanya. Hatinya harus terus diasah agar tajam, tidak tumpul seperti sekarang. Semakin lama, dia pasti akan luluh juga padamu."

"Sudah kubilang bukan aku."

Taemin, Kibum, Jongin dan Soojung saling berpandangan. Mereka berempat sudah berada di perpustakaan dan baru saja mendengarkan rekaman yang dilakukan Minho secara sembunyi-sembunyi.

Kibum yang pertama melepaskan earphone-nya. "Rasanya sangat rumit."

"Eum.. jawaban Seungcheol Sunbae tidak terlalu membantu." Jongin ikut berkomentar sambil meletakkan earphone-nya di atas meja.

Taemin menganggukkan kepala. "Tapi kita harus berterimakasih pada Minho. Setidaknya kita bisa tahu kalau mereka benar-benar dekat meski tidak jadian."

Soojung menyahut, "Sebenarnya ini tidak perlu. Kalian hanya membuang waktu."

"Ck, kau ini masih trainee, Soojung. Bersikaplah baik agar kau benar-benar direkrut ke dalam squad." Seru Taemin gusar.

"Ssstt!" Beberapa orang di sekitar mereka sepertinya terganggu. Tak ada pilihan bagi Taemin selain meminta maaf.

Jongin kemudian mengeluarkan sebuah buku berisi rangkuman tentang Wonwoo hari ini. Ia membuka buku itu dan menyerahkannya pada Taemin. "Aku tidak pandai merangkum. Tadinya mau kurekam saja dari pagi sampai sore, tapi aku sayang memory handphone-ku."

Taemin menerima buku itu dan mencoba membaca poin-poin yang Jongin tuliskan dengan tulisan tidak rapi sama sekali. Bahkan Taemin harus beberapa kali mengeja untuk memastikan apa yang Jongin tulis di sana.

1. Target berangkat dengan bus.

2. Target datang lima belas menit sebelum masuk kelas.

3. Target langsung ke locker sebelum pergi ke kelas.

4. Target meminum 2 kotak susu stroberi selagi mengulang pelajaran di pagi hari.

5. Target pergi ke toilet saat istirahat pertama

6. Target makan sandwich dan susu stroberi bersama Jihoon dan Soonyoung di meja kantin paling pojok

7. Target akan menahan rasa kantuk sampai matanya berair di pelajaran sejarah.

8. Target membaca di perpustakaan sepanjang istirahat kedua

9. Aku tidak tahu lagi apa yang dilakukan karena aku tidur, maafkan aku.

10. Target akan segera keluar dari kelas setelah bell pulang berbunyi dan pergi ke studio fotografi.

Taemin melirik Jongin setelah selesai membaca tulisan Jongin – dengan kerja keras. "Banyak hal yang terlewatkan, Jongin."

"Itu saja aku sudah pusing." Jongin mencibir.

"Kau kurang menambahkan detail seperti apa kaos kaki favoritnya, makanan kesukaannya, warna kesukaannya, atau kalau perlu zodiac, shio, golongan darah dan hari lahirnya. Kita bisa membaca jodoh, sifat dan karakternya dari itu semua. Lalu.." Taemin mengoceh dan mendapatkan tatapan tajam lagi dari pengunjung perpustakaan yang lain.

"Apa Oppa percaya hal-hal seperti itu?" Soojung bertanya.

Kibum berdecak, "Kalau dia artis, kita cari saja di google."

"Sayangnya dia bukan." Sahut Jongin sambil menghela nafas. "Rasanya aku jadi ingin pindah kelas saja."

"Ck, baru seperti ini saja kau sudah menyerah." Taemin berdecak tak percaya. Ia pikir Jongin adalah orang yang bisa diandalkan dan tahan banting.

"Tapi kurasa hal ini juga tak berguna, Oppa." Soojung kembali menyela.

Taemin melirik tak suka padanya. "Yang tidak berguna itu Jongin-mu."

"Dia Jongin kita semua." Sahut Soojung seolah tak mau menyebut Jongin adalah Jongin-nya. Jongin mencebik mendengar itu. "Maksudku adalah kita tidak perlu membuang-buang waktu hanya untuk mencari informasi. Semakin lama kita bertindak, maka semakin kecil kemungkinan Mingyu akan meluluhkan hati Wonwoo. Justru kita harus bergerak cepat."

"Tapi bukankah semakin lama akan semakin terbiasa?" Itu suara Kibum yang menyela. "Seungcheol juga bilang begitu, 'kan? Target itu tidak suka dengan pembaharuan. Jadi kita harus membuatnya beradaptasi terlebih dahulu."

"Dan proses itu harus dimulai dari sekarang, Oppa." Soojung kembali menimpali. "Kalau kita terus menunggu, maka Wonwoo akan terbiasa untuk mengabaikan Mingyu. Dia bisa saja semakin kebal jika Mingyu tidak melakukan agresi dengan cepat."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Chagi?" Jongin bertanya dengan aksen diimut-imutkan yang membuat dua namja di sampingnya ingin muntah.

Soojung tersenyum penuh arti, "Buat mereka sering bertemu. Tapi dengan cara natural dan seolah takdir yang sedang mempersatukan mereka." Benar kata Taemin, Soojung benar-benar sensitif pada hal dramatis seperti ini.

Taemin memutar bola mata, "Lalu kau tahu caranya?"

"Tentu saja aku tahu." Soojung menyahut dengan percaya diri. Bahkan senyuman miring terulas di bibirnya.

"Jangan hanya bicara, Soojung-ah." Taemin masih meng-underestimate-kan Soojung.

Soojung mencondongkan tubuhnya ke arah tiga namja di depannya. Mencoba membagi idenya, dengan setengah berbisik agar orang lain tidak mendengarkan rencana mereka.

"WHOAAA!" Itu Jongin yang memekik sebelum mendapatkan lemparan high-heels milik Sunkyu di kepalanya. Jongin meringis dan meminta maaf pada orang-orang yang kaget karena ulahnya. Dia hanya sedang antusias dengan ide yang dibisikkan Soojung barusan.

Kibum ikut tersenyum cerah. "Dia lebih cocok jadi ketua dibanding kau, Taemin!"

Sementara Soojung tersenyum senang, Taemin mempout kesal.

"Ck, dia tetap masih trainee! Kalau rencana ini berhasil, baru kau kurekrut ke dalam squad." Ujar Taemin mempertahankan gengsinya.

Soojung menganggukkan kepala. "Aku mengerti, Oppa."

"Diskusi ditutup!" Taemin menggebrak meja dan hendak berdiri. Ia tentu saja kesal karena Soojung justru mendapatkan ide secemerlang itu. Tapi belum sempat Taemin berbalik, ia sudah mendapatkan lemparan high-heels serupa di wajahnya akibat menggebrak meja dengan keras.


Soonyoung tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang ia ingat, tadi ia ketiduran di kelas saat pelajaran Sejarah Korea. Lalu tiba-tiba ia dibangunkan oleh teman sekelasnya yang juga merupakan teman satu klubnya. Tapi bukan itu yang membuat Soonyoung heran, melainkan Jihoon dan Wonwoo yang sudah tak ada di tempatnya.

"Jadi sekarang sudah jam istirahat kedua?" Soonyoung belum bisa mengumpulkan seluruh nyawanya yang berserakan akibat insiden ketidurannya. Matanya saja masih sipit. Maksudnya, lebih sipit dari kesipitan matanya yang biasa.

"Sudah." Jongin, satu-satunya terdakwa yang bisa disalahkan atas kasus pembangunan paksa pada korban Kwon Soonyoung itu menjawab sambil memutar bola mata. "Maka dari itu, kau harus dengarkan aku karena aku tidak suka mengulang-ulang perkataanku. Lagipula aku lapar dan Soojung-ku sudah menunggu di kantin."

Soonyoung menguap lalu menatap Jongin dengan kesal. "Jadi?"

"Taemin menunjukmu menjadi utusan untuk dance competition tingkat Seoul." Ujar Jongin seraya bersilang dada. "Jadi, kau harus latihan non-stop setiap pulang sekolah sampai pukul sembilan malam. Dengar itu, Soonyoung. Wajib."

"A-apa?" Soonyoung melebarkan matanya. Meski masih terlihat sipit karena perubahan yang ia lakukan hanya nol koma lima milimeter. "Kenapa mendadak sekali?"

Jongin mengedikkan bahunya. "Karena Taemin juga baru mendapatkan kabar tentang kompetisi ini tadi malam."

"Tapi.. kenapa bukan kau? Ya, meskipun kemampuanku juga sangat bagus, biasanya kau yang akan diutus untuk mengikuti kompetisi semacam ini."

Bibir Jongin tersungging angkuh ketika mendengar sedikit pujian dari ungkapan Soonyoung. Ia berdehem sebelum menjawab, "Ya.. sepertinya Taemin sedang mencoba peruntungan lain. Atau bisa saja dia sedang bosan untuk menang."

Soonyoung mencibir menanggapi itu. Ia hampir meludahi wajah Jongin yang berkulit – sangat – lebih gelap darinya itu. Tapi Soonyoung mencoba menebak alasan lain. "Atau Taemin Hyung baru sadar kalau aku memang lebih hebat darimu, ya 'kan?"

"Jangan bermimpi." Jongin menepuk dahi Soonyoung. "Oh ya, satu lagi. Kau temui saja Taemin di studio sepulang sekolah nanti. Jangan pernah tanyakan hal ini pada Yunho Hyung terlebih dahulu, karena semuanya Taemin yang mengurus. Taemin ingin membuat sebuah kejutan untuk Yunho Hyung. Mungkin nanti kau akan diberi bimbingan oleh Taemin sendiri. Sudah, ya. Aku hanya diminta untuk mengatakan ini padamu."

"T-tunggu.." Soonyoung menahan Jongin yang sudah hampir berbalik. Seperti dalam adegan drama The Heirs, ketika Kim Tan menahan tangan Cha Eun Sang yang akan meninggalkannya. "Tapi bukankah kompetisinya empat bulan lagi? Kenapa harus berlatih dari sekarang?"

Jongin menggaruk dahinya. "Eung.. a-aku tidak tahu. Aku hanya menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Taemin."

Soonyoung menyipitkan matanya. Kelihatannya sih seperti ia sedang memejamkan matanya. "Tapi Yunho Sunbae tidak mengatakan apa-apa pada kami kemarin. Lagipula, bukankah seharusnya ada tiga orang lain yang berlatih bersamaku untuk kompetisi ini?"

"Ck.." Jongin berdecak keras. "Kau datangi saja Taemin secara langsung. Tanya semuanya padanya. Jangan tanya aku!" Jongin langsung berbalik dan pergi dari hadapan Soonyoung. Mengabaikan panggilan Soonyoung dan memilih mempercepat langkahnya.

Setelah Jongin merasa ia cukup jauh dari kelasnya, Jongin mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi chat Line-nya. Ia mengetikkan sesuatu di sana sambil tersenyum miring.

"Mission 1A complete."


Wonwoo merapikan buku yang baru saja digunakan di kelasnya ke rak di perpustakaan seorang diri. Biasanya ia akan ditemani oleh Jihoon dan Soonyoung. Tapi seolah keberuntungan tak berpihak padanya, Jihoon justru dipanggil ke studio musik sementara Soonyoung masih terlelap di kelas.

Tangan Wonwoo secara lihai merapikan buku-buku berhalaman tebal itu saat ia mengendus aroma tak asing dengan hidungnya. Meski baru beberapa kali berdekatan dengan si pemilik bau, Wonwoo sudah cukup aware dengan aroma macam ini.

Tanpa menoleh pun Wonwoo sudah tahu, kalau lelaki bertubuh tiang listrik dengan rambut yang disisir ke belakang itu berdiri di belakangnya. Wonwoo bisa merasakannya karena bayangan lelaki itu menutupi tubuhnya yang lebih pendek beberapa centimeter.

"Butuh bantuan?" Suara yang menambah kemuakkan Wonwoo.

Rasanya Wonwoo tak menjawab sama sekali, tapi lelaki itu sudah lebih dulu mengambil alih sisa buku yang semula Wonwoo tumpuk di dekat kakinya. Dan tak ada pilihan lain untuk Wonwoo melirik padanya.

"Enyahlah." Ujarnya datar.

Dan sebuah senyuman diiringi juluran taring itu muncul di wajah Mingyu. "Aku suka mendengar suaramu, Sunbae."

"Tutup mulutmu." Wonwoo mempertajam tatapannya. Biasanya, siswa lain akan pergi dengan wajah pucat jika mendapatkan tatapan semacam ini darinya. Tapi ternyata itu tidak berlaku pada lelaki ini.

Mingyu justru melebarkan senyumannya sampai pipinya terangkat sedemikan rupa. "Kalau dengan aku mengajakmu bicara maka kau akan terus bersuara, maka aku tidak akan menutup mulutku."

Wonwoo menghela nafasnya kasar. Ia berdecak sebelum berbalik untuk meninggalkan Mingyu yang kini ikut merapikan buku-buku ke dalam rak. Tapi belum sempat Wonwoo melangkah, ia merasakan tangannya ditahan oleh tangan Mingyu yang ternyata lebih besar dari tangannya.

Wonwoo menoleh dan menatap tangannya yang dipegang oleh si junior kurangajar itu. "Lepaskan."

"Lakukan saja sendiri." Mingyu mengerling dan justru mengeratkan pegangannya, tapi tidak mencengkramnya.

Wonwoo menatap wajah memuakkan itu dengan datar. "Kurangajar."

"Aku tahu." Mingyu menyahut.

"Lepaskan aku."

"Tidak."

"Lepaskan kubilang."

"Kubilang, tidak."

"Menyingkirlah."

"Kalau aku tidak mau?"

"Apa maumu?"

"Kau, Sunbae."

"Gila."

"Itu karenamu, Sunbae."

Wonwoo menghela nafasnya lagi. Kesabarannya benar-benar diuji dalam menghadapi bocah bertaring di hadapannya. Setelah Wonwoo merasa kalau ia tak bisa bertoleransi lagi, ia langsung membanting tangannya hingga pegangan Mingyu terlepas.

Mingyu menoleh. Ia cukup terkesiap karena kekuatan Wonwoo cukup besar. Kalau tahu begini, Mingyu akan mengoleskan lem super dulu di tangannya sebelum memegang tangan Wonwoo yang kurus itu.

"Lihat? Kalau kau membantingnya sedari tadi, maka aku tidak akan memegangnya selama ini, 'kan? Itu kenapa aku bilang, lakukan saja sendiri." Mingyu kembali menggoda Wonwoo yang masih memasang wajah flat. Sama flat-nya dengan sepatu teplek tua milik Eomma Choi yang berumur puluhan tahun itu.

Wonwoo menaikkan sebelah alisnya dan langsung berlalu pergi tanpa berniat membalas ucapan Mingyu lagi. Ia berjalan cukup cepat untuk Mingyu kejar. Jadi Mingyu memutuskan untuk tetap diam sambil menatapi punggung ramping Wonwoo menjauh.

Mingyu masih bertahan di sana sampai sosok Wonwoo tak nampak lagi di sekitar perpustakaan. Dan tepat setelah itu, Mingyu melompat dengan tiba-tiba. Tak lupa menambahkannya dengan teriakan histeris layaknya seorang fanboy yang mendapat tiket konser gratis.

"Woooaaaahh! Aku memegang tangannya! Oh astaga astaga! Aku tak akan mencuci tanganku! Aku harus meminta perban dari UKS untuk menjaga aromanya tetap terjaga di tanganku! WHOAA – Ouch!" Teriakan histeris Mingyu terintrupsi. Kini ia justru meringis kesakitan memegangi hidungnya yang berdenyut.

Sebuah sepatu teplek baru saja mendarat dengan mulus ke hidung mancungnya. Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Lee Sunkyu alias Sunny alias penjaga perpustakaan? Masih bagus bukan high heels seperti yang dirasakan Taemin dan Jongin.


"Kibum! Ada yang mencarimu!" Itu Park Chanyeol yang selalu menjadi pembawa berita di ambang pintu kelas.

Kibum pun segera berdiri dari duduknya dan menghampiri orang yang dimaksud. Namja bertubuh lebih pendek darinya sudah menunggu di luar kelas. Dia siswa kelas sebelah, sekelas dengan Seungcheol dan Jeonghan. Dia ketua klub musik. Golongan darahnya AB. Namanya Kim Jonghyun.

"Bagaimana?" Kibum langsung menyerbu Jonghyun dengan pertanyaannya yang heboh.

Jonghyun tersenyum miring. "All is done."

"Ck, kau yakin? Coba katakan padaku apa yang sudah kau katakan pada bocah itu?" Kibum bersilang dada seperti seorang Ibu yang meminta jawaban dari anaknya yang diberikan amanat membeli gula di warung.

"Aku katakan pada Jihoon kalau dia harus mengaransemen beberapa lagu pilihanku untuk ditampilkan saat disnatalis sekolah. Dan semuanya harus dikerjakan mulai sore ini dengan deadline satu bulan." Ujar Jonghyun dengan lancar. Lalu ia mengedipkan sebelah matanya pada Kibum. "Benar, 'kan?"

"Jenius." Kibum mengacungkan ibu jarinya. "Terimakasih, Jonghyun. Kau memang bisa diandalkan."

"Tentu saja." Jonghyun berujar bangga. Lalu ia berdehem sebelum melanjutkan ucapannya, "Tapi.. kejeniusanku itu tidak gratis, Bum-ah."

"Apa maksudmu?" Kibum mengerutkan dahi curiga.

Jonghyun terkekeh sendiri. Bahkan hoobae yang tak sengaja lewat dekat mereka menyempatkan diri untuk menengok padanya. Barangkali Sunbae mereka terkena gangguan jiwa atau semacamnya. "Kau bisa memilih. Popcorn or steak?"

Mata serigala Kibum melebar. "Ck, aku tidak membayar ini dengan diriku sendiri."

"Kalau begitu, aku bisa katakan pada Jihoon kalau– "

"Oh, astaga!" Kibum menyela dengan cepat. "Baiklah! Minggu. Jemput aku jam tujuh. Kita pergi ke bioskop. Aku yang pilih filmnya."

"Deal." Jonghyun tersenyum lebar penuh kemenangan. "Kalau begitu, sampai jumpa Minggu ini, Bum-ah." Ia melambaikan tangan sebelum pergi dari kelas Kibum.

Kibum berdecak saat ia berbalik dan menemukan Jinki di ambang pintu. Chanyeol sudah tak ada di sana. Persetan dengan lelaki jangkung itu.

"Oh? Kau sudah selesai membaca buku Tokenomi-mu itu?" Tanya Kibum dengan biasa.

"Taxonomy." Koreksi Jinki.

"Ah iya, Tekonomi maksudnya."

"Aku tidak tahu kalau kau suka pergi menonton film." Jinki bersilang dada. "Sepertinya ada satu hobi baru yang tidak kuketahui."

"Ini hanya imbalan karena Jonghyun mau membantuku dalam misi rahasia Squad." Jelas Kibum. Sekarang ia tahu kenapa wajah Jinki jadi sedatar ini, meski tidak sedatar Wonwoo. "Kurasa pergi dinner lebih buruk daripada menonton film. Hanya ada dua pilihan."

"Memangnya hanya dia yang bisa kau mintai pertolongan?" Tanya Jinki lagi dengan nada lebih menyebalkan.

Kibum menghela nafasnya mencoba sabar. Ia tersenyum untuk meredam emosi. "Dia itu ketua, dan itu lebih meyakinkan."

"Ah... kuingatkan padamu kalau aku adalah ketua departemen ekstrakurikuler sekolah dalam OSIS." Ujar Jinki lagi. "Aku bisa lebih meyakinkan karena ketua klub berada di bawah kuasaku."

Kibum mulai terpancing emosi. Jinki memang sahabat terbaiknya, tapi dia juga bisa menyebalkan seperti sekarang ini. "Memangnya siapa yang menolak untuk membantuku sejak awal? Aku tidak mau merepotkanmu, Jinki. Aku tahu, kau tidak sama sekali tertarik dengan Squad ini."

"Jonghyun juga tidak."

"Buktinya dia mau membantu."

"Itu karena dia tertarik padamu."

Kibum tak membalas. Itu karena ia tahu. Beberapa bulan lalu, Jonghyun memang menyatakan perasaan pada Kibum tapi Kibum menolaknya. Dan kini memang terkesan agak murahan ketika Kibum justru meminta pertolongan padanya. Terlebih dengan memberikan imbalan berupa dirinya sendiri. Kira-kira seperti itulah maksud Jinki saat ini.

"Lalu sekarang apa yang harus kulakukan? Aku harus tetap pergi karena aku sudah berucap." Kibum memilih untuk menelan kembali emosinya. Ia tak mau bertengkar dengan Jinki hanya karena masalah seperti ini. Padahal Kibum sudah tak meminta tolong pada Jinki agar lelaki itu tidak terganggu dengan misinya bersama Squad MWHJ. "Kalau kau mau ikut, ikut saja."

Jinki tak menjawab. Ia memilih untuk berbalik dan masuk ke kelas lebih dulu. Meninggalkan Kibum yang hanya menghela nafas karena kesal. Kibum juga akan masuk ke kelasnya tapi ponselnya bergetar. Ada notifikasi dari grup chat Squad MWHJ.

[12.09 PM]

Kim KaiJong-nya Krystal : Mission 1A, complete

Kibum pun ikut menuliskan balasan untuk Jongin.

[12.49 PM]

Keybum : Mission 1B, complete.

Lee Taemin : Bagus.

Lee Taemin : Di sini aku melihat eksekutor memegang tangan target

Keybum : Kau yakin itu memegang? Aku tak yakin -_-

Keybum : Apakah setelahnya eksekutor patah tulang? (0.0)

Lee Taemin : Tidak. Dia mengalami bengkak hidung :v

Krystal Jung : Bukankah dengan membiarkan target selalu sendirian membuat eksekutor lebih mudah mendekatinya?

Kim KaiJong-nya Krystal : My baby, kau memang hebat!

Lee Taemin : Iya iya Jung-_-

Lee Taemin : Setelah ini giliranmu, Jung.

Krystal Jung : Tenang saja, Oppa.

Kim KaiJong-nya Krystal : Hwaiting my baby! :* :* :*

Lee Taemin : Ingatlah, kau masih trainee Soojung.

Krystal Jung : Aku tahu -_-

Krystal Jung : Sudah kau katakan puluhan kali, Oppa.

[12.52 PM]

Krystal Jung : Kibum Oppa..

Krystal Jung : Bagaimana?

Krystal Jung : Kau sudah katakan pada Sungkyu Oppa?

Keybum : Sudah.

Keybum : Tenang saja.

Krystal Jung : Terimakasih ^^

Kim KaiJong-nya Krystal : Chagii.. T^T

Kim KaiJong-nya Krystal : Aku cemburu...

Keybum : Enyahlah kau, Kkam!

Krystal Jung : -_-

Lee Taemin : Wahahaha..

Keybum : Sepertinya kita tahu bagaimana mereka bisa berpacaran.

Kim KaiJong-nya Krystal : Sial!

Krystal Jung : Kau mengutukku? TT_TT

Kim KaiJong-nya Krystal : Tidak chagii.. tapi mereka T^T

Keybum : Apakah besok kalian ganti status? :v

Lee Taemin : Ini akan seru :v

Kim KaiJong-nya Krystal : Diam kalian berdua keparat!

[13.02 PM]

Kim KaiJong-nya Krystal : Dan aku ditinggal sendirian TT_TT

[13.29 PM]

Kim KaiJong-nya Krystal : Kenapa kalian tega sekali padaku? :'(

[13.42 PM]

Kim KaiJong-nya Krystal : Rasanya aku jadi ingin menangis saja

Kim KaiJong-nya Krystal : Read by 3 -_-

Kim KaiJong-nya Krystal : *Sticker Song Hye Kyo menangis*

Krystal Jung : Sudah bell.

Krystal Jung : Matikan ponselmu.

Lee Taemin : Wahahaahahahahahaha lol xD

[13. 52 PM]

Keybum : Hei, dari mana kau dapatkan sticker itu?

Kim KaiJong-nya Krystal : -_-


Bell pulang sekolah sudah berbunyi nyaring. Soojung langsung melesat keluar dari kelas dengan membawa serta kamera putih dan ponsel di tangannya yang berbeda. Sekarang adalah gilirannya menjalankan misi setelah dua misi sebelumnya selesai, yaitu membuat Wonwoo sendirian selama beberapa waktu ke depan.

Soojung berjalan dengan agak cepat ke arah studio fotografi dan tersenyum kecil melihat Kibum yang berdiri di ambang pintu studio jurnalistik juga menatapnya. Studio mereka memang bersebelahan. Wajar saja kalau Kibum ada di sana.

Saat akan masuk ke dalam studio, Soojung kembali menatap Kibum dan mengedipkan sebelah mata padanya. Sementara Kibum mengacungkan ibu jarinya secara sembunyi-sembunyi pada Soojung.

Soojung duduk di gerombolan anggota klub fotografi wanita lainnya. Dia ini anak yang supel, jadi semua orang seolah-olah adalah teman dekatnya. Dia bisa bicara dan tertawa bersama siapa saja. Baik senior, teman seangkatan, junior, guru-guru, bahkan dengan nyamuk yang suka mengganggu siswa di pelajaran sejarah yang membosankan.

Di sela obrolannya, Soojung melirik ke arah sudut studio fotografi yang biasanya digunakan oleh Wonwoo. Tapi sudut itu masih kosong. Soojung sedikit gelisah karena biasanya Wonwoo akan datang sangat awal di klub.

"Hei, tidak biasanya Wonwoo belum datang." Soojung pura-pura berbasa-basi sambil membersihkan lensa kameranya.

Jinri yang duduk di sampingnya menoleh pada Soojung. "Tadi sih kulihat dia sedang bicara dengan Jung Saem." Ujar Jinri menjawab. "Dan dia panjang umur."

Soojung menoleh ke arah pintu dan benar saja, Wonwoo muncul dari sana. Membuat senyuman tertarik di bibir Soojung begitu saja.

Wonwoo masuk seperti biasa. Sendirian, hening, beraura abu-abu, tanpa menyapa siapapun, dan hanya berjalan lurus ke arah spot ternyaman menurutnya. Dan tepat setelah Wonwoo mendaratkan tubuhnya di lantai parket studio, Sungkyu, si ketua klub masuk membuat semua anggota berubah hening.

Sungkyu berdiri di hadapan seluruh anggotanya. "Selamat sore semuanya."

"Sore!"

"Hmm.. sebenarnya ada sesuatu yang akan kusampaikan pada kalian. Semacam pengumuman." Ujar Sungkyu to the point. Tipe ketua yang tidak suka bicara panjang lebar, ya seperti Sungkyu ini. Bahkan sangking tak suka bicaranya, ia selalu meminta orang lain untuk memimpin rapat atau semacamnya. "Tadi aku bicara dengan salah satu anggota klub sebelah. Mereka sedang membuat project untuk menerbitkan sebuah majalah special edition. Kalau biasanya berisi tentang gossip yang beredar di kalangan sekolah, kini mereka diminta membuat observasi..."

"Maaf, tapi kami sama sekali tidak pernah mengangkat gossip. Kami bicara soal fakta. No gossip." Seseorang yang berdiri di samping Sungkyu tiba-tiba menyela. Dia adalah Kim Kibum, dengan segala aura diva yang melingkupinya.

"Ah? Maafkan aku. Maksudnya, fakta, no gossip." Sungkyu mengutip kata-kata Kibum sebelum melanjutkan kembali. "Edisi majalah yang diminta adalah seputar kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Dan selain hasil wawancara berbobot, mereka diminta untuk menyediakan gambar yang juga bagus dalam project mereka. Katanya, kalau project ini berhasil, mereka akan diberikan kewenangan untuk menerbitkan majalah ke luar sekolah. Itu artinya, majalah akan diperjualbelikan secara luas."

"Lalu apa hubungannya dengan kami?" Suara Sungjong kini giliran mengintrupsi. Dia kelas 3 B juga.

"Mereka meminta bantuan kami untuk bekerjasama. Semacam kolaborasi. Dan kita bisa kecipratan hasil penjualannya..." Ujar Sungkyu pada akhirnya.

"Wah! Sayang sekali, aku sedang sibuk akhir-akhir ini." Dan nyatanya, Dongwoo tak mau kalah dalam memotong ucapan ketua mereka.

Sungkyu mengeraskan rahangnya dan berusaha menenangkan dirinya. Ia sampai harus menghela nafas berkali-kali agar tidak berubah marah. "Kalau begitu, kuserahkan saja pada Kibum-ssi. Dia adalah perwakilan dari klub jurnalistik. Silahkan."

Kibum tersenyum. Dan bukan Kibum namanya kalau senyumnya tidak terlihat angkuh. Apalagi kalau tatapan matanya setajam serigala seperti itu. "Baiklah, aku tidak mau berbasa-basi. Jadi aku ingin meminta bantuan dari kalian para professional untuk membantu kami tim jurnalistik yang tidak bisa apa-apa. Aku meminta bantuan dari setiap anggota untuk mendampingi setiap satu anggota klub jurnalistik. Dan aku sudah membagi kalian di kertas ini." Kibum mengangkat kertas yang sedari tadi ada di tangannya.

Ia kemudian menyerahkan kertas itu pada Sungkyu untuk ditempel di tembok. Membuat mereka tak perlu repot-repot membacakan karena para anggota bisa membacanya sendiri. Dan seperti semut-semut yang melihat tumpahan gula, para anggota segera menyerbu kertas itu setelah ditempel. Tentu saja setelah Kibum dan Sungkyu mengamankan diri ke sudut ruangan.

Di kertas yang ditempel itu terdapat sebuah tabel berisi empat kolom. Kolom pertama berisi nomor urutan, kedua adalah nama anggota klub jurnalistik, ketiga nama anggota klub fotografi yang menjadi pasangannya, dan keempat adalah target pemotretan plus wawancara yang harus ditangani.

Soojung berdiri tepat di depan kertas yang ditempel itu. Ia tidak terlalu mempermasalahkan dirinya yang harus berpasangan dengan seseorang bernama Woohyun dari klub jurnalistik dan harus memotret klub taekwondo kelas dua. Soojung justru tersenyum lebar ketika melihat nama Jeon Wonwoo yang berpasangan dengan Kim Kibum dengan target klub basket kelas satu. Tentu saja ini kerjaan Kim Kibum.

Kepala Soojung berputar untuk mencari keberadaan Wonwoo. Apakah namja emo itu sudah melihat kertas ini? Dan jawabannya adalah pasti belum, karena bocah itu justru berdiri tenang di belakang kerumunan sambil mengangkat kameranya tinggi-tinggi, takut tersenggol orang-orang di sekitarnya.

Soojung menghela nafas kesal sebelum kemudian berinisiatif membacakan apa yang tertulis untuk Wonwoo. "Wonwoo-ya! Lihat ini!"

Wonwoo tak bisa menolak untuk menoleh pada Soojung yang berseru seperti di pasar Insadong. Bahkan kalau gadis itu benar-benar berteriak di Insadong juga akan menjadi pusat perhatian.

"Kau pasti sulit kemari, biar aku yang bacakan untukmu!" Soojung melanjutkan.

Wonwoo mengedik, terserah sajalah. Toh, Wonwoo tidak menyuruhnya.

"Kau berpasangan dengan Kim Kibum Oppa dan bertugas memotret klub basket kelas satu!"

Sebenarnya itu tak masalah, tapi Wonwoo tak bisa menahan kerutan di dahinya. Klub basket? Kelas satu? Rasanya Wonwoo ingin mengumpat saat itu juga. Tapi sebelum niat buruknya itu terlaksana, Wonwoo justru dikejutkan dengan sebuah tepukan misterius di bahunya.

Tidak, itu bukan ulah hantu toilet sekolah yang Jongin pikir merasuki Taemin atau semacamnya. Itu ulah Kibum yang entah sejak kapan sudah beranjak dari sudut ruangan. Bahkan Sungkyu sudah tidak ada di studio.

"Jeon Wonwoo, 'kan?" Kibum menunjuk wajah Wonwoo yang didominasi dengan kacamata itu. "Kita partner kalau tidak salah." Wonwoo menganggukkan kepalanya dan membungkuk sebatas formalitas. "Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik, ya."

"Ya, Sunbae." Wonwoo menyahut dengan suara beratnya.

Kibum berdecak, "Hyung saja. Merasa tua sebelum waktunya kalau dipanggil seperti itu."

"Ya, Hyung." Wonwoo berubah menjadi penurut. Ia hanya malas mendebat atau memperlama intensitas mengobrol dengan orang lain. Jadi, turuti saja kemauan seniornya itu.

Kibum kemudian melirik ke arah Soojung yang masih berada di tengah kerumunan. Gadis itu mengedipkan mata pada Kibum sebelum kemudian terseret-seret kerumunan. Kibum sih malas membantu Soojung, persetan meski dia adalah wanita. Kalau Kibum nekat membantu, bisa-bisa ia ikut terseret dalam keganasan kerumunan anggota klub fotografi yang berebut membaca kertas yang ditempel itu.

Dan Wonwoo hanya bisa mengangkat tinggi-tinggi kamera kesayangannya agar tidak ikut tersenggol kerumunan rusuh itu. Kalau sampai jatuh 'kan sayang. Jadi ia memutuskan naik ke atas kursi. Dan semuanya akan aman.


Taemin memajukan bibirnya sampai rasanya Minho ingin mengikatnya dengan tali rafia. Tapi bagaimana tidak memajukan bibir? Taemin sangat kesal pada Minho yang menariknya secara paksa untuk membolos dari klub sementara ia seharusnya mengurus Soonyoung. Kalau bocah itu justru kabur dari klub dan membuat rencana squad berantakan bagaimana?

Tapi bukan hanya itu yang membuat Taemin kesal, melainkan karena Minho memaksanya untuk pergi ke toko games langganannya. Sudah bisa ditebak, 'kan? Minho menagih video games-nya, ternyata.

"Aku akan dimarahi Yunho Hyung besok!" Taemin berteriak sambil memukuli punggung Minho. Ia tak peduli kalau Minho akan kehilangan konsentrasi saat mengayuh sepeda dan membuat mereka berdua jatuh ke lumpur. Yang penting Taemin bisa menghentikan Minho untuk menguras dompetnya.

Minho menoleh sekilas ke belakang. Padahal ia belum melihat wajah Taemin sama sekali. "Tenang saja. Kita mampir ke klinik Kyuhyun Hyung nanti."

Taemin kembali mengerucut. Memang, sih, membolos itu menyenangkan. Tapi timing-nya tidak pas. Dan bicara soal Kyuhyun, dia adalah sepupu Minho tetapi bukan sepupu Mingyu. Kalau Mingyu sepupu Minho dari Eomma Choi, sementara Kyuhyun dari Appa Choi. Kyuhyun itu membuka klinik khusus perawatan dan pengobatan gigi. Orang-orang sih menyebutnya Tukang Gigi, padahal Kyuhyun tidak menjual gigi sama sekali.

Biasanya, kalau Minho atau Taemin atau keduanya membolos, maka Kyuhyun-lah yang berperan besar membuat surat palsu untuk izin kedua adik – anggap saja begitu – nya itu. Tapi tentu saja dengan sogokan informasi soal Lee Sungmin – kakak sepupu Taemin yang Kyuhyun taksir sejak SMP – agar ia tidak mengadu pada Eomma Choi.

Wajah Taemin masih sama kusutnya saat Minho menghentikan sepeda kuning Taemin di depan sebuah toko games yang menjadi langganannya. Tapi Taemin tetap turun dari sepedanya tanpa diminta. Mereka sudah sering pergi ke toko ini, sampai si pemilik toko yang berasal dari Thailand itu hafal pada mereka.

"Whoaa.. kali ini taruhan apalagi yang kau menangkan, Minho-ya?" Nichkhun melepas kacamata ala Harry Potter-nya saat melihat Minho masuk diekori Taemin yang mengerucutkan bibir.

Minho terkekeh mengejek, "Kali ini bukan taruhan. Aku hanya menagih janji."

"Jangan berbasa-basi, brengsek! Lakukan dengan cepat! Dan ingat, hanya SATU!" Taemin menyela dan menambahkan penekanan dalam kata terakhirnya. Dengan bersungut-sungut ia mendekat ke arah kasir untuk duduk di kursi yang disediakan dan menopang kepala di atas konter.

Nichkhun melirik Taemin yang ada di sebelahnya. Rasanya agak tidak tega, bagaimanapun wajah menggemaskan Taemin jadi sangat menggoyahkan kalau sedang merajuk seperti ini. "Kalau kau tahu akan berakhir seperti ini, jangan pernah menjanjikan apa-apa pada si maniak itu, bodoh."

Taemin melirik Nichkhun dengan tidak santai. "Bukan urusanmu, dasar gajah putih!"

"Hei!" Nichkhun memilih untuk mengomeli Taemin dalam hati. Ia bahkan sudah gemetar ketika Taemin menambahkan ketajaman dalam tatapan matanya. Kalau secara harfiah, sekarang Nichkhun sudah berdarah-darah.

"Hyung, ini impor?" Teriakan Minho dari rak kaset video games berlabel 'new entries' itu membuat Nichkhun menoleh.

"Iya! Fresh from China! Baru sampai semalam, bro!"

"Whoaaa.."

"Jangan yang mahal-mahal, kodok!" Taemin kembali menyambar. Nichkhun terkesiap sampai ingin melompat rasanya. Untung ia sudah berpegangan ke meja kasir.

Nichkhun kemudian mengambil kemocengnya dan mulai membersihkan debu di atas tumpukan kaset yang ada di hadapannya. Itu adalah beberapa kaset best-seller. Jadi harus diperlakukan dengan baik agar semakin best-seller dan menghasilkan best-profit juga untuknya.

Taemin mendengus. Ia memandang malas keluar dari dinding kaca yang melingkupi toko ber-AC ini. Lalu saat ia menatap Minho, bocah itu justru terlihat memiliki dunia sendiri. Kalau sudah begini pasti akan lama. Sama seperti menunggui siput menyeberang jalan saja.

"Kau mau minum, Taemin?" Nichkhun kembali mengajaknya bicara.

Taemin menggelengkan kepala sambil berdiri. "Minho!"

Tak ada sahutan.

"Minho, aku tunggu di luar, ya!"

"Awas saja kalau kau mencoba kabur, jamur beracun!" Dan ternyata Minho mendengarnya.

Taemin berdecak kesal. "Aku tidak akan kabur." Taemin pun melengos pergi setelah menyempatkan diri mengacak-acak kaset yang sedang dirapikan Nichkhun. Taemin tak peduli saat Nichkhun memakinya dalam bahasa Thailand.

Duduk di beranda toko rasanya lebih menyenangkan dibandingkan harus dikepung ribuan keping kaset games yang tidak Taemin kenal. Kaki Taemin berselonjor ke trotoar. Beruntung masih sepi karena belum banyak yang pulang sekolah di jam-jam seperti ini.

Kaki Taemin bergoyang-goyang. Lama-lama bosan kembali menyapanya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan membuka notifikasi dari grup chat Squad MWHJ.

[14.47 PM]

Kim KaiJong-nya Krystal : Sumpah LEE DAMN TAEMIN!

Kim KaiJong-nya Krystal : Karena kau aku dimarahi Yunho Hyung!

Kim KaiJong-nya Krystal : Dan kenapa kau melepaskan tanggungjawabmu dari Soonyoung?

Kim KaiJong-nya Krystal : Bocah ini jadi bertanya terus padaku!

Kim KaiJong-nya Krystal : kemari kau brengsek!

[14.58 PM]

Keybum : Shisus!

Keybum : Jongin, personal chat saja! Mengotori notifikasi!

Kim KaiJong-nya Krystal : Tak ada balasan

Kim KaiJong-nya Krystal : dibaca saja tidak.

Keybum : Yang jelas sih pasti dengan Minho.

Krystal Jung : INFO!

Keybum : Seperti kau tidak tahu Taemin saja.

Krystal Jung : TARGET BARU SAJA IZIN DARI KLUB

Kim KaiJong-nya Krystal : Izin? Apa dia sakit, Chagi?

Keybum : Dia tidak terlihat sakit barusan.

Dahi Taemin mengerut ketika membaca pesan-pesan dari squad-nya. Tapi yang menjadi fokus baginya adalah info dari Soojung. Wonwoo izin dari klub? Apa yang terjadi?

Sebenarnya Taemin ingin sekali menahan diri untuk tak membalas chat itu. Ia ingin meyakinkan Jongin kalau ia sakit jadi tidak bisa ikut klub, tapi tangannya sudah gatal. Sepertinya jempol tangannya bergerak sendiri. Yang ingin pertama ia lakukan adalah meminta Jongin mengizinkannya pada Yunho. Lalu selanjutnya tentu saja bertanya soal Wonwoo yang tiba-tib izin.

Di tengah-tengah kesibukannya, Taemin terganggu dengan siluet samar-samar seseorang yang berdiri di halte seberang jalan. Awalnya Taemin tidak peduli andai ia tidak sadar kalau orang itu memakai jaket kulit. Bicara soal jaket kulit.. itu 'kan... JEON WONWOO?!

[15.08 PM]

Lee Taemin : Oh, hei hei hei!

Lee Taemin : Tebak apa yang aku lihat?

Kim KaiJong-nya Krystal : Apa? orang gila?

Keybum : Dan tidak berbusana?

Krystal Jung : Ewh!

Lee Taemin : BUKAN, BODOH!

Lee Taemin : (Sent a picture)

Lee Taemin : JEON WONWOO!

[15.13 PM]

Kim KaiJong-nya Krystal : Eo? Halte?

Keybum : Lihat jaket kulitnya -_- itu tidak cocok sama sekali untuk dipakai di halte -_-

Lee Taemin : Apakah menurutmu hal itu pantas dibicarakan sekarang, Bum?

Krystal Jung : OPPA! Cepat awasi target!

Lee Taemin : Kenapa kau terkesan seperti ketua, Jung?

Taemin memasukkan ponselnya ke dalam saku lagi. Ia ingin lebih fokus dalam memperhatikan Wonwoo. Kalau dilihat-lihat, dia tidak terlihat seperti orang sakit. Dan tidak terlihat gelisah atau sedih atau apapun. Lalu, kenapa dia harus izin dengan tiba-tiba begitu?

Dengusan keluar dari mulut Taemin saat melihat benda balok beroda datang dan berhenti di halte. Tanpa menunggu lama, Taemin langsung memotret benda bernama bus itu dengan ponselnya. Ia beberapa kali menekan zoom in untuk memperjelas gambar plat nomor bus itu di ponselnya.

Serasa belum cukup, Taemin langsung bangkit dan meraih sepeda kuningnya. Niatnya sih ingin mengejar bus itu. Barangkali bisa mengikuti Wonwoo sampai rumah dan tahu kenapa Wonwoo harus izin dari klub seperti ini.

Tapi sebuah tangan besar mencekal kerah belakang seragam Taemin membuatnya tercekik dan gagal mengayuh sepeda. Seharusnya Taemin ingat kalau ia sedang dalam masa penagihan oleh Choi Minho. Tidak bisa pergi begitu saja.

"Kau mau kabur, ya?" Minho kalau bicara memang tidak pernah bertanya dulu. Suka menuduh yang tidak-tidak.

Taemin menggoyangkan tubuhnya yang fleksibel agar terlepas dari cengkraman Minho di kerahnya. Padahal, Minho memang sudah akan melepaskannya tanpa harus ia bergoyang-goyang seperti itu. "Bukan kabur. Aku hanya ingin mengurus sesuatu."

"Apa?" Minho menyatukan alisnya. "Ah, aku tahu. Kau ingin ke kamar kecil?"

Taemin berdecak, "Bukan urusan itu. Tapi sama gentingnya dengan itu."

"Aku tak percaya. Kau pikir kau bisa pergi begitu saja dan meninggalkanku di sini? Apalagi tidak ada Miranda." Minho kemudian menarik tangan Taemin untuk ikut kembali ke dalam toko games. "Aku sudah memilih, ayo bayar cepat!"

Dengusan kasar tak bisa Taemin tahan lagi, ia seharusnya ingat kalau ia tak bisa melawan Minho. "Iya-iya. Jangan tarik-tarik, kodok! Aku bukan kambing!"

Mungkin dengan berbekal foto bus lengkap dengan plat dan knalpot-nya, bisa memudahkan Taemin dan squad dalam mengupas Wonwoo lagi. Setidaknya, besok harus diadakan diskusi lagi.


"Aku pulang..!"

Suara Mingyu menggema begitu saja di ruang tamu rumah keluarga Choi. Dahinya sedikit berkerut, biasanya akan ada sahutan dari wanita satu-satunya di rumah itu saat Mingyu pulang, tapi kenapa sekarang tidak ada?

Satu-satunya sumber suara yang bisa Mingyu dengar berasal dari ruang tengah. Dan Mingyu hanya berdecis ketika menyadari suara itu berasal dari video games yang sedang membuat Minho melupakan keeksisan dunia.

"Mana Bibi?" Mingyu bertanya sambil mengambil air mineral di dalam lemari es. Ia kehausan setelah berlatih basket sampai petang begini.

Minho yang masih setia menekuni layar televisi dan stik games di tangannya menyahut tak antusias. "Incheon."

"Kenapa Bibi ke Incheon?"

"Arisan keluarga."

"Kapan pulangnya?"

"Tiga hari lagi."

"Kenapa lama sekali?"

"Ck! YAK! Dasar bodoh!" Minho membanting stiknya ke atas bantal sofa yang berserakan di atas karpet tempatnya duduk. Ia masih menyayangi stiknya untuk membantingnya ke lantai. Masalahnya, Eomma-nya pasti tidak akan dengan cuma-cuma menggantinya.

"Bukannya menjawab, malah memaki." Mingyu bergumam sembari menududukkan tubuh tingginya di sofa. Ingin segera mandi sebenarnya, tapi agak malas naik ke lantai dua. Jadi duduk saja dulu.

"Eo? Kau sudah pulang?" Like an idiot. Minho menoleh dengan matanya yang membola. "Kapan?"

Mingyu menepuk dahinya yang lebar. Benar kata Taemin, Minho itu maniak.

"Oh ya, Eomma pergi arisan ke Incheon. Tiga hari lagi baru pulang. Sekalian menunggu Appa pulang dari bisnisnya, jadi bisa kembali ke sini bersama-sama. Dasar orang tua tidak tahu diri, seperti remaja puber saja." Minho menjelaskannya seperti Mingyu belum tahu apa-apa.

Tapi Mingyu tak ambil pusing. Moodnya tidak terlalu baik hari ini. "Kenapa kau tidak latihan, Hyung?"

"Aku sudah kelas tiga." Minho menyahut. Ia kemudian merebut air mineral di tangan Mingyu dan menenggaknya sampai habis.

Mingyu mengerucut sebal, "Kalau tahu boleh tidak latihan, aku juga malas latihan. Apalagi hari ini hanya diisi dengan latihan membosankan. Ditambah lagi tak ada Wonwoo Sunbae. Rasanya hariku sangat hampa. Tiga jam itu terasa delapan puluh ribu tahun bagiku."

Minho menahan diri untuk tidak melempar wajah Mingyu dengan stik games-nya. Bukan apa-apa, ia tidak mau stik-nya tergores taring Mingyu. Alasan yang sama, Eomma-nya tidak akan membelikannya yang baru dengan cuma-cuma.

"Memangnya siapa yang menyuruhmu menjadi anggota klub basket?" Minho malah menyalahkan Mingyu.

Mingyu berdecak kesal. Sepupunya yang satu ini memang tidak pernah mendukungnya sama sekali. "Kau seperti tidak pernah jatuh cinta saja! Munafik!"

"Kau itu masih kecil, mana tahu soal cinta?"

"Aku sudah hampir 190 centimeter, Hyung!"

"Bukan itu bodoh!" Minho menggaruk bantal sofa sampai isinya keluar. Gemasnya menghadapi adik sepupunya yang sangat tamparable ini. "Tapi otakmu yang masih kecil!"

"Tapi aku tampan."

"Apa hubungannya?"

"Aku juga tidak tahu." Mingyu menggaruk alisnya. Bingung sendiri dengan ucapannya. Mungkin karena unmood, syaraf-syaraf otaknya jadi berbelit-belit. "Yang penting aku jadi model majalah special edition, Hyung. Hebat, 'kan?"

Minho mengernyit tak percaya, "Maksudmu kalender sekolah?"

"Ck, bilang saja kau iri." Mingyu mencibir.

Minho menggelengkan kepala sambil terkekeh mengejek. "Sebaiknya kau mandi dan istirahatkan tubuhmu. Atau kompres kepalamu, sepertinya kau terlempar bola lagi tadi."

"Aku serius, Hyung. Kibum Hyung yang sekelas denganmu itu tadi menemuiku. Katanya aku diminta menjadi modelnya sebagai perwakilan dari kelas satu." Ujar Mingyu berubah antusias. Bisa dilihat dari taring abnormalnya yang mulai menjulur keluar. Minho bergidik melihatnya. Jadi ingat dengan serial Handsome-handsome Wolf yang sudah tamat beberapa waktu lalu.

"Kibum?" Alis Minho naik sebelah. Awalnya Minho heran tapi ia ingat akan squad bodoh yang Taemin pelopori bersama Kibum. Minho jadi tertawa mengejek.

Mingyu tak menanggapi tawa Minho karena tiba-tiba lambungnya memanggil-manggil namanya. Sudah kelebihan asam di lambung karena tidak menyantap makanan sejak siang tadi. "Apa Bibi meninggalkan makanan, Hyung?"

"Tidak tahu. Aku langsung bermain games." Jawab Minho acuh. Tapi kemudian ia memegangi perutnya. "Aku juga lapar, coba kau cek di dapur."

Mingyu berdecak tapi ia menuruti perintah kakak sepupunya. Dengan langkah gontai tubuh Mingyu berpindah dari ruang tengah ke dapur dengan konter tinggi itu. Tangannya membuka lemari penyimpanan makanan dengan secercah harapan. Tapi wajah suramnya yang menoleh pada Minho tidak menandakan ada kabar baik. "Tidak ada."

Minho mendengus, "Telepon pizza saja, atau nasi ayam. Aku sudah sangat lapar."

"NO!" Mingyu memekik histeris. Kedua tangannya sampai membuat silang di depan dada.

"Kau ini kenapa?"

"Tidak boleh makan junk food! Aku sedang menjaga keproporsionalan tubuhku, Hyung. Lagipula aku juga harus tampil sempurna di majalah besok." Mingyu memberikan cengiran plus bonus sepasang taring.

Minho menahan dirinya untuk tidak membenturkan kepala ke dinding. "Ck, lalu kau mau apa? Jangan bilang kalau kau mau memas–

"Coba kita lihat bahan apa saja yang kita punya di sini?" Mingyu menyela ucapan Minho. Ia sudah membuka lemari es dan mengeluarkan beberapa bahan mentah yang ada di sana. Tak lupa tangannya meraih celemek merah muda dan memakaikan di tubuh penuh keringatnya.

"Hei! Kau menyebarkan virus di celemek Eomma!" Minho bangkit dari sofa dan menghampiri Mingyu dengan gusar. "Kau mau apa?"

Mingyu menatap Minho sebelum memutar bola matanya jengah. "Menurutmu aku mau apa? Berlatih Taekwondo?"

"Kalau kau membenciku dan berniat membunuhku, setidaknya jangan terang-terangan begini. Cari cara lain, bodoh!"

"Sebaiknya kau duduk dan jangan banyak bicara, Hyung. Aku harus berkonsentrasi di dapur."

"Bocah sialan ini!" Minho menatap horror pada brokoli yang dipotong oleh Mingyu tanpa dicuci terlebih dahulu. "Sepertinya aku harus menelepon ambulance."

Mingyu menimpali, "Jangan berlebihan, Hyung. Siapa yang tahu kalau masakanku ternyata enak?"

"Tentu saja tak akan ada yang tahu karena tak ada yang mau mencicipinya." Minho kemudian berjalan ke arah telepon rumah yang terletak di dekat meja makan.

Melihat Minho akan menelepon, Mingyu mengerutkan dahinya bingung. "Kau benar-benar akan menelepon ambulance, Hyung?"

"Bukan, tapi rumah sakit jiwa."

"Kenapa?"

"Karena ada pasiennya yang lepas dan sedang memakai celemek merah muda milik Eomma-ku sekarang."

Mingyu mengedikkan bahunya dan melanjutkan acara memasaknya tanpa mempedulikan Minho. Ia yakin, masakannya akan enak nantinya. Yakin seyakin-yakinnya. Seyakin cintanya pada Wonwoo.

TBC

Haaaiiii! This is the forth gaes _ Jujur chapter ini diketik selama berhari-hari karena sempat hilang ide :v Tapi si ide kembali lagi ke jalan yang benar setelah aku baca beberapa fic Meanie dan 2MIN lagi kkkk~

Hmmm.. tapi alurnya kerasa lambat nggak sih? Dan berbelit-belit? Mianhae~ wkwk, soalnya aku pengen kisahnya kayak cerita sehari-hari aja yang ringan. Tapi emang kurang fokus ke Squad sama Mission-nya sih, terlalu banyak scene aneh ya? Padahal udah aku pangkas-pangkas yang nggak penting, tapi hasilnya jadi kayak gini.

Tapi makasih banyak buat yang udah review dari awal hehe.. ^^ Keep review yaaa~

By the way, aku lagi butuh 2MIN moment terbaru nih TT_TT haus banget sama 2MIN moment yang biasanya bisa bikin diabetes. Dan aku seneng banget akhirnya Wonu bisa kembali lagi (0.0) . Terus malah gantian Mingyu yang sakit kan kemaren, tapi untungnya mereka ada moment di konser (0.0)

Kan malah jadi curhat :v

arilalee