Disclaimer : I do not own Fairy Tail or any of it's character.


An Unexpected Curse

Rating : T

Genre: Adventure/ Friendship


Chapter sebelumya,

Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan Lucy tanpa Natsu, Gray, dan Erza di sampingnya, Lucy ingin mencoba untuk berkarir seorang diri. Mirajane menawarkan sebuah request pada Lucy yakni, memecahkan misteri sebuah batu sihir yang misterius dengan bayaran 600.000 J. Lucy langsung menerima request itu tanpa harus berpikir ulang terlebih dahulu.

Keesokan harinya, Lucy telah mempersiapkan segala keperluannya dan meninggalkan rumah kontrakanya menuju ke stasiun Onibus untuk menjalankan misi solonya. Saat berada di dalam kereta, dia sama sekali tidak menemukan bangku kereta yang kosong di setiap gerbong kereta. Pada gerbong kereta terakhir, Lucy menemukan bangku kosong yang terletak di pojok belakang sendiri. Lucy langsung menghampiri bangku tersebut karena tidak ada yang menempatinya. Tetapi dugaannya salah, ada penumpang pria yang sudah menempati bangku itu sebelumnya. Karena dia sedang terbaring, Lucy mengira bangku itu kosong.

Dikarenakan semua bangku di kereta tidak ada yang kosong lagi, Lucy memberanikan untuk membangunkan penumpang itu dan meminta izin untuk menempati bangku kosong di depan penumpang itu. Penumpang itu tidak merespon Lucy untuk kedua kali sehingga kesabaran Lucy telah habis.

"Oi! ANDA DENGAR TIDAK ATAU ANDA PURA-PURA TULI ATAU BENARAN TULI?" sentak Lucy.

"Aku tidak tuli! Aku hanya tertidur karena kelelahan. Kamu tidak perlu menyentakku seperti..." Penumpang pria itu terbangun dengan sedikit kesal karena suara Lucy telah membangunkannya dan dia belum selesai bicara, pria itu terkejut duluan saat melihat wanita pirang yang pernah dikenalnya berdiri di depannya. Lucy sama terkejutnya sewaktu melihat penumpang pria yang tidak meresponnya itu adalah pria yang pernah dikenalnya di suatu tempat.

"Sting Eucliffe?!" kaget Lucy

"Lucy Heartfilia?!" kaget penumpang pria yang memiliki warna rambut yang sama dengan Lucy.


Chapter 2

Lucy sangat kaget melihat seorang pemuda berambut pirang berada di hadapannya. Pemuda berambut pirang itu mengenakan pakaian yang sama sewaktu pertandingan Dai Matou Enbu yang terakhir dan pemuda pirang itu bernama Sting Eucliffe, anggota Sabertooth. Sting juga dibuat kaget saat Lucy berdiri di depannya.

"Sting, sedang apa kamu di sini?" tanya Lucy.

"Aku...Hummph..." Sting belum selesai dengan kalimat, dia langsung beranjak dari bangkunya dan menuju ke jendela kereta untuk membukanya dengan lebar. Angin kencang dari luar jendela berlomba-lomba untuk masuk ke dalam ruangan kereta sehingga tak sengaja mengangkat sedikit rok pendek Lucy. Lucy sedikit terkejut dan berusaha menahan rok untuk tidak terangkat lebih ke atas sehingga tidak memamerkan kulit pahanya yang mulus atau celana dalamnya di depan umum.

Lucy memperhatikan Sting yang terlihat lemas tak berdaya, sesekali Sting kembali muntah ke luar jendela. Lucy baru menyadari bahwa Sting adalah Dragon Slayer sama seperti Natsu, Wendy, Gajeel, dan Laxus, sudah pasti mereka semua bermasalah dalam kendaraan. Lucy tidak mengira bahwa dibalik sifat arrogan Sting, ternyata dia memiliki kelemahan terbesar dalam hidupnya.

"Ne, bolehkah aku menempati bangku ini?" tanya Lucy seakan-akan tidak memperdulikan penderitaan Sting.

"Hm. Sila..." Lagi-lagi Sting tidak bisa melanjutkan kalimatnya, sebuah tekanan dari dalam tubuhnya membuat Sting sulit dalam berbicara dan kembali memuntahkan sesuatu dari dalam tubuhnya.

Lucy menyadari kalau Sting terbaring tadi bukan karena kelelahan tapi karena dia tidak ingin memperlihatkan kelemahan seorang Dragon Slayer yang sungguh memalukan yakni mabuk perjalanan di depan orang. Setiap kereta berguncang di atas rel, Sting kembali memuntahkan sesuatu dari mulutnya.

"Ne, Exceedmu dan partnermu kemana? Mereka tidak ikut denganmu?" tanya Lucy.

"Rogue, Fr-Frosch, dan Le-Lector tidak iku...Hummph.." Sting berusaha menjawab tapi lagi-lagi kereta berguncang dan berbelok sehingga dia muntah lagi "Mereka tidak aku izinkan untuk..Hummph...ikut denganku," lanjutnya.

"Hm~ kenapa?"

Meski sangat sulit untuk menjelaskan alasan kenapa Rogue, Frosch dan Lector tidak ikut bersama Sting, Sting tetap menjawab pertanyaan Lucy walaupun terhenti-henti karena Sting kembali mual dan muntah. Pemuda pirang itu menjelaskan bahwa dia ingin mencoba berkarir solo tanpa Rogue dan Frosch sedangkan Lector, Exceednya, tertidur pulas karena kebanyakan makan sehingga Sting tidak tega membangunkannya. Mulut Lucy membentuk huruf 'O' setelah mendengarkan cerita Sting.

"Lalu kamu sen..Hummph..sendiri kenapa tidak bersama Natsu-san dan yang lainnya?" tanya Sting sambil menoleh ke arah Lucy.

"Aku? Hmm..." Lucy terdiam, kedua matanya tidak memandang Sting lagi. Lucy tertunduk dan kedua mata gadis pirang itu memandangi kedua kakinya "Aku tidak mungkin menyusahkan Natsu, Gray dan Erza untuk selamanya dan bersembunyi terus di belakang mereka, Aku harus kuat. Mereka selalu baik padaku, selalu mendukungku dan selalu datang menolongku jika aku dalam bahaya. Aku ingin menjadi lebih kuat. Suatu saat nanti, giliranku yang akan menolong mereka..." Lucy kembali diam dan tertunduk sedih.

Sting memperhatikan Lucy yang sedang tertunduk sedih dan berhenti menjelaskan. Sting mengingat kembali dimana gadis pirang yang berada di hadapannya, sudah dua kali terluka dalam pertandingan Dai Matou Enbu. Pertama, saat pertarungannya dengan Corona Flare, penyihir wanita dari Raven Tail dan kedua, dia terluka parah saat Naval battle karena mendapatkan serangan berkali-kali dari Minerva, anak perempuan dari Master Sabertooth. Jika harus dibandingkan dengan teman-teman timnya yang terpilih, hanya Lucy yang gagal membawa kemenangan untuk timnya.

Sting sedikit memahami perasaan Lucy yang menginginkan dirinya menjadi kuat. Sting ikut tertunduk sedih mengingat dirinya juga lemah, dia dan Rogue mengalami kekalahan melawan Natsu dan Gajeel sehingga membuatnya tidak bisa melindungi Lector dari Jiemma, Master Sabertooth. Sejak saat itu, Sting ingin menjadi kuat sehingga dia tidak ingin kehilangan Lector, Exceed miliknya untuk kedua kalinya. Kedua pasangan berambut pirang ini memiliki tujuan yang sama yakni, ingin menjadi kuat untuk melindungi orang yang berharga bagi mereka.

"Gawat! Aku tidak boleh bersedih! Aku harus menjadi kuat seperti mereka bertiga! Aku tidak boleh kalah dari mereka! Karena aku juga-..." Lucy menatap Sting sehingga kedua mata mereka saling bertatapan "Aku adalah seorang penyihir," kata Lucy sembari tersenyum lebar.

Mata Sting terangkat yang menunjukkan ekspresi terkejut serta terpana melihat senyuman lebar Lucy yang menghangatkan dirinya bahkan lebih hangat daripada selendang sinar matahari. Sting merasa panas tubuhnya meninggi secara tak diundang padahal jendela kereta di depannya terbuka lebar sehingga tidak mungkin dia kepanasan. Tetapi, Sting merasa beda, jika dia merasakan kepanasan karena suhu ruangan, dia akan berkeringat membasahi tubuhnya sedangkan ini, dibalik wajah pucat pasi karena mabuk, terdapat siratan garis berwarna merah di wajahnya dan entah kenapa, jantung Sting berdebar-debar kencang tak terkendali.

Sting bertanya-tanya, 'Ada apa dengannya? Kenapa dia berdebar-debar hanya karena sebuah senyuman dari Lucy? Apa dia telah jatuh cinta pada wanita pirang itu?'. Tentu saja, Sting membantah pemikiran bahwa dia telah jatuh cinta pada penyihir dari Fairy Tail dengan menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menyingkirkan pemikiran yang tidak masuk akal itu. Kereta berguncang-guncang di atas rel, Sting kembali dibuat tak berdaya dan muntah ke luar jendela. Sting mengutuk dirinya sendiri, kenapa seorang Dragon Slayer kuat seperti dia, harus memiliki kelemahan yang memalukan seperti ini. Sting tidak akan berhenti muntah selama kereta masih bergerak, sesekali dia mengangkat wajahnya untuk menghirup udara segar kemudian kembali mual dan muntah. Lucy merasa bersalah karena sudah membangunkan Sting saat itu. Lucy berdiri dari bangkunya dan berjalan mendekati Sting serta mengelus punggung pemuda pirang itu dengan lembut. Sting terheran-heran pada Lucy, 'Apa yang sedang dilakukan oleh gadis penyihir Fairy Tail padanya?'. Sting ingin protes bahwa dia tidak butuh belas kasihan dari siapapun sebab dia adalah Dragon Slayer tetapi sayangnya, guncangan kereta membuatnya mengurung niatnya itu. Lucy hanya tersenyum kecil dan tetap mengelus punggung Sting.

Beberapa menit kemudian,

Lucy dan Sting mendengar suara ChheessssSSSShhhhh..., suara roda kereta yang terhenti secara mendadak sehingga menimbulkan suara decitan roda kereta yang bergesek di atas rel. Dikarenakan kereta berhenti tiba-tiba, para awak penumpang yang berada di dalamnya seperti terkena gaya gravitasi yang memberatkan mereka untuk berdiri atau gaya tarik dari sebuah magnet raksasa. Lucy, penyihir arwah ini, semula berdiri di belakang Sting, kini tubuhnya menimpa Sting seakan-akan Lucy memeluk erat Sting dari belakang. Bagi Lucy, untung saja di depannya, ada tubuh Sting sehingga dia terhindar dari luka akibat ketatap jendela kereta sedangkan bagi Sting, ini akhir dunia. Sting tidak kuat lagi dengan penderitaannya ditambah mendapatkan guncangan mendadak dan dorongan tubuh Lucy, pemuda itu pingsan terlentang tak berdaya dengan posisi setengah badan berada di luar jendela dan wajahnya mencium tubuh luar kereta. Kereta Onibus yang ditumpangi oleh Lucy dan Sting tidak terlihat tanda-tanda akan kembali bergerak seperti semula.

"Aduh...Kenapa berhenti tiba-tiba?" gumam Lucy. Lucy, gadis penyihir Fairy Tail ini kaget saat melihat Sting pingsan tak berdaya tertimpa tubuhnya itu, "Sting?!" kaget Lucy, dia mengangkat tubuh Sting masuk ke dalam kereta dan membaringkan tubuh Sting yang terkampar lemas di bangku kereta.

Lucy ingin ketawa melihat ekspresi wajah Sting yang pingsan dan tak berdaya, gadis pirang itu menghentikan niat jeleknya karena dia tidak mungkin menertawakan penderitaan orang lain. Lucy harus membangunkan Sting sebab dia tidak mungkin membiarkan Sting seperti itu selamanya atau Lucy bisa dituduh telah meracuni penumpang muda itu.

"Sting, bangun!" suruh Lucy sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya "Ayo, bangun!"

"Hmm..."

"Sting Eucliffe, bangun! Oi, bangun, pemalas!" bentak lucy kembali menggoyangkan tubuh anggota Sabertooth itu.

Sting tidak memperlihatkan tanda-tanda akan membuka matanya dan terbangun.

Bersamaan dengan itu, pintu masuk gerbong kereta terlepas secara paksa sehingga menimbulkan suara yang mengejutkan semua penumpang termasuk Lucy. Enam pria bersenjata memasuki ruangan dan menyuruh semua penumpang untuk angkat tangan dan ikut keluar bersama mereka. Lucy panik setelah mengetahui alasan 'kenapa kereta berhenti mendadak 'dan segera membangunkan Sting sebelum keberadaan mereka diketahui oleh keenam perampok kereta itu. Sting tetap tertidur lelap dan tidak ingin menghentikan dunia mimpinya saat itu.

"Kalian! Pasangan kekasih berambut pirang! Angkat tanganmu, cewek!" perintah salah satu dari keenam perampok yang mengetahui keberadaan Lucy dan Sting dengan menodongkan senjata apinya. Lucy menoleh ke arah perampok itu.

Akhirnya, Lucy menuruti perintah perampok itu daripada mengambil resikonya. Perampok itu menanyakan, 'Ada apa dengan pria pirang itu?' sambil tetap menodongkan senjata apinya ke Lucy. Lucy menjawab pertanyaan perampok itu, dia menjawab bahwa Sting pingsan karena mabuk perjalanan. Perampok itu malah tertawa terpingkal-pingkal, pria berwajah oval dengan dua gigi yang maju ke depan menertawakan Sting karena di usia dewasa seperti ini masih mabuk perjalanan. Lucy berpikir memang ada benarnya, soalnya dilihat dari sisi manapun, Sting sudah beranjak dewasa bukan anak kecil lagi sehingga kelihatan tidak wajar, jika di usia segitu masih mabuk perjalanan. Namun, perampok itu tidak mengetahui alasan utama Sting mabuk perjalanan meski telah dewasa dan tidak mengetahui bahwa di depannya itu adalah seorang penyihir White Dragon Slayer.

"Wow! Gadis ini seksi sekali!" kagum salah satu dari mereka yang baru datang menghampiri kawannya, 'Perampok tonggos' julukan yang diberikan oleh Lucy. Kali ini, seorang perampok yang berbadan kecil dan kurus kering sehingga Lucy memberikan julukan 'Perampok gizi buruk'.

'Perampok gizi buruk' mengamati Lucy dari atas hingga bawah, sesekali pria itu mengulurkan lidahnya dan menjilati bibirnya dengan penuh nafsu seakan-akan Lucy adalah makanan yang lezat. Lucy menatap marah pria kecil dan mesum itu, tangan Lucy menyentuh saku kecil berisikan kunci-kunci arwah sucinya yang melekat di ikat pinggangnya dan menarik acak serta memanggil salah satu dari mereka untuk melawan para perampok itu sendirian. Lucy sadar bahwa dia tidak mungkin bisa mengalahkan sekaligus seperti Erza, Natsu atau Gray tapi dia percaya pada kekuatannya, lebih baik mencoba daripada tidak. Saat Lucy akan mengeluarkan kunci arwah suci secara acak, 'Perampok tonggos' itu menyadari tindakan Lucy, dia menodongkan senjata apinya ke pipi Lucy dan memperingatkan gadis itu, 'Jika dia berbuat macam-macam, para kawanannya tidak akan segan lagi, menembak penumpang kereta satu persatu'. Lucy menghentikan usahanya sebab dia tidak mungkin mengorbankan penumpang yang tidak berdosa itu. Lucy menyalahkan dirinya sendiri, 'kenapa dia lemah sekali? Kenapa dia tidak bisa seperti Natsu, Gray dan Erza, seandainya dia adalah salah satu dari timnya, pasti dengan mudah mengalahkan mereka sekaligus dan menyelamatkan penumpang kereta?'.

Harapan satu-satunya Lucy adalah Sting Eucliffe, White Dragon Slayer, meski sulit untuk mempercayai bahwa saat ini, gadis pirang itu mengandalkan penyihir Dragon Slayer dari Sabertooth yang masih belum membukakan kedua matanya itu.

"Kau ikut kami!" kata 'Perampok tonggos' sambil menarik lengan Lucy.

"Lepaskan aku! Singkirkan tangan kotormu itu!" berontak Lucy yang bersikeras tidak bersedia ikut bersama mereka. Lucy melirik ke arah Sting dan berharap pria pirang itu terbangun dari alam mimpinya.

'Perampok tonggos' itu menyeret Lucy untuk keluar bersama mereka, Lucy tetap tidak mau. Tenaga seorang pria sangat berbeda dengan tenaga seorang wanita, meski Lucy mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mencegahnya terbawa oleh pria asing itu, tetap saja berhasil terseret olehnya. Lucy menoleh ke belakang dan berteriak manggil: "Stingggg!"

"Buat apa kamu berteriak pada pemuda lemah seperti dia?" kata 'Perampok tonggos' semakin kuat menarik Lucy,"Sial, cewek ini kuat sekali dan keras kepala. Oi! Bantu aku!"

'Perampok gizi buruk' itu membantu 'Perampok tonggos', Lucy tetap tidak berkeinginan terbawa oleh mereka. Lucy menutup matanya sekuat mungkin dan memohon dalam hati, berharap akan ada seseorang yang menolongnya "Natsu, tolong aku!" jerit Lucy dalam hati.

"Lucy, merunduklah!" kata seseorang.

"Natsu.." Lucy langsung mematuhi perintah orang itu tanpa membuka matanya, dia merunduk segera meski kedua tangannya dipegang oleh perampok kereta itu. Orang itu melompat di atas Lucy dan memukul kedua perampok itu.

"..." Kedua perampok kereta itu melepaskan genggamannya pada tangan Lucy, mereka berdua terhempas jauh dari Lucy kemudian terpental keluar kereta akibat tidak kuat menahan serangan orang yang menolong Lucy. Salah satu gigi depannya dari 'Perampok tonggos' itu tanggal dari gusinya sedangkan 'Perampok gizi buruk' itu pingsan dengan mata melotot serta bulatan besar berwarna merah kebiruan menghiasi pipi mereka.

Saat lucy membuka kedua matanya, dia sangat terkejut melihat kedua perampok kasar itu telah terpental keluar menjauhi kereta. Bagian langit-langit kereta rusak dan berlubang karena pentalan mereka. Bukan hanya Lucy yang terkejut, seluruh penumpang di sekitar gerbong itu, dibuat takjub pada orang yang berhasil mengalahkan mereka dengan sekali serangan.

"Terima kasih, Nat.."

Lucy terdiam tak menduga bahwa sosok pahlawannya hari ini adalah seorang pemuda berambut pirang dan memiliki bekas luka di atas matanya berdiri di depannya "Sting!"

"Kamu mengira aku Natsu-san. Sayang sekali, Lucy!" gumam Sting sambil membantu Lucy berdiri.

"Berisik!" sentak Lucy kemudian Lucy menjelaskan bahwa seluruh penumpang kereta ini dalam bahaya, sekelompok perampok menyerang dan membajak kereta. Para perampok itu melihat salah satu kawannya terluka dan diserang, mereka beramai-ramai, berlarian menyerbu gerbong Lucy dan Sting.

Lucy meminta bantuan Sting untuk berkerja sama untuk menumpas seluruh komplotan perampok, Sting menolak. Seperti biasa, Sting sangat percaya diri dan arrogan, dia bilang akan menumbangkan semua komplotan perampok itu. Lucy sedikit kesal, sifat Sting sama sekali tidak berubah walau Lucy berpikir Sting berubah menjadi lembut dan peduli saat dia menolong Lucy. Akhirnya, lucy menarik kembali kata-katanya itu. Sting melompat keluar dari jendela tempat duduk mereka yang terbuka lebar dan mulai menyerang satu persatu sekaligus dengan menggunakan Hakuryū no Hōkō (White Dragon's Roar), sebuah semburan cahaya dari mulutnya yang terlihat seperti cahaya laser jika disemburkan. Satu deretan perampok yang berjumlah 8 orang tehempas sekaligus, hanya sekali serangan kemudian Sting mendekati para perampok yang tidak terkena serangannya dan menghajar mereka satu persatu tanpa menggunakan sihir apapun.

Lucy agak sedikit terkagum-kagum pada Sting, meski Sting kalah dari Natsu, pemuda pirang itu tidak bisa dianggap remeh. Lucy menggelengkan kepalanya, dia juga ikut melompat dari jendela sama seperti Sting dan membantu pemuda pirang dari Sabertooth sebab Lucy tidak ingin Sting terlihat keren seorang diri di depan umum.

"Bukalah gerbang emas sapi, Taurus!" ucap lucy sambil mengayunkan kunci arwah suci yang berwarna emas.

Muncullah seekor sapi jantan berotot dengan membawa kapak besar di samping Lucy, "Moo~ Lucy-san, tetap seksi seperti biasanya!" mesum sapi jantan itu. Lucy hanya menghela napas menanggapi ucapan Taurus kemudian dia menyuruh arwah suci itu menghabisi para perampok itu. Sapi jantan langsung melaksanakan perintah tuannya yang seksi itu, dia mengayunkan kapak besarnya ke arah perampok itu dan 5 perampok itu terlempar dan terluka. Sting masih sibuk menghajar para perampok yang terus berdatangan menghampirinya begitupun Lucy dengan bantuan Taurus berhasil mengurangi jumlah kawanan perampok itu.

15 menit kemudian,

Para perampok yang semula berdiri tegak menodongkan senjata apinya kini terbaring babak beluk dalam dua bagian yakni bagian Sting dan Lucy. Setelah pertarungan selesai, arwah suci, Taurus, menghilang dan kembali ke dunianya. Seperti biasa, Lucy tak lupa mengucapkan terima kasih pada temannya itu.

"Lihat'kan? Kalau kita berkerja sama, pasti cepat selesai!" gumam Lucy sambil berkacak pinggang dan menyeringai ke arah Sting. Sting tidak berkata apa-apapun serta membuang muka. Para penumpang bersorak-sorai melihat kawanan perampok itu telah terkampar babak beluk dan mereka bertepuk tangan dengan bahagia kepada kedua penyihir berambut pirang itu karena berkat kedua penyihir itu, hidup mereka terselamatkan.

"Oh~ aku tidak menyangka bisa bertemu dengan seorang penyihir di sini," kata seseorang dari balik kegelapan hutan.

Lucy dan Sting menoleh ke arah sumber suara itu. "Bos!" seru salah satu dari kawanan perampok yang terluka. Lucy dan Sting melirik dan sedikit terkejut mendengar bahwa sosok di balik kegelapan hutan itu adalah pimpinan mereka kemudian kembali fokus pada sosok yang berjalan dari kegelapan hutan. Kedua penyihir berambut pirang mengawasi pimpinan perampok itu dan waspada padanya sebab mereka merasakan aura yang berbeda dari pimpinan itu.

Sosok dari balik kegelapan, lama-kelamaan terlihat di hadapan mereka semua. Seorang wanita dengan berpakaian gaun ketat berwarna hitam dengan belahan tinggi di sebelah kiri sehingga memperlihatkan kulit pahanya yang mulus dan bermake up ala gothic berdiri di hadapan Lucy dan Sting dengan tersenyum sinis.

"Perempuan?" heran Lucy dan Sting secara serentak, mereka tidak menyangka bahwa pemimpin para komplotan perampok adalah seorang perempuan.

"Jangan kalian anggap remeh diriku,..."

Pemimpin wanita itu tidak melanjutkan perkataannya, dia malahan mendekati Sting dan mengelus pipi Sting dengan lembut, itu membuat bulu roma Sting berdiri dan dia bergemetaran. "Ah~ Baru kali ini, aku menemukan pria tampan seperti dia. Hem~ Kau merupakan tipeku, anak muda," gumamnya sembari menyentuh perut Sting yang terlihat berotot itu dengan mesum.

"Ne, apa kamu bosan dengan wanita pirang di sebelahmu itu? Daripada dia, lebih baik kamu memilih diriku yang sudah berpengalaman dalam bercinta!" rayu wanita gothic itu tetap menggoda Sting.

"Tu-tunggu se-sebentar..!" bantah Lucy, seakan-akan Lucy adalah kekasih Sting dan memaksa Sting melupakan Lucy.

"Ne?" kata wanita itu sambil akan mencium Sting.

Tiba-tiba, mulut Sting bercahaya dan mengeluarkan Hakuryū no Hōkō pada wanita itu, tapi sayangnya wanita itu berhasil menghindari dengan gesit. Lucy dan Sting merasa tidak percaya bahwa wanita itu berhasil menghindari Hakuryū no Hōkō milik Sting padahal waktu pertarungan Dai Matou Enbu, Natsu dan Gajeel terluka tapi wanita itu...

"Oh ~ Dragon Slayer. Aku tidak mengira dapat bertemu dengan seorang penyihir bertipe Dragon Slayer yang tidak sopan sepertimu, Apa orang tua nagamu tidak pernah mengajarkan tata krama, bagaimana cara berbicara dan memperlakukan seorang wanita dengan baik?" kata wanita berambut panjang dan terikat ke atas (Ponytail), "Ha...ha..ha.. Menarik! Sungguh menarik! Aku semakin berhasrat untuk... Membunuhmu, pemuda pirang!" geram wanita itu, dikeluarkannya sesuatu dari saku gaun ketatnya itu.

"Kunci arwah suci! Wanita itu, Penyihir arwah suci?!" kejut Lucy saat melihat di tangan wanita itu sedang memegang sebuah kunci berwarna perak. Walaupun kunci arwah suci wanita itu berwarna perak, Lucy merasakan sesuatu yang tidak beres akan terjadi pada mereka.

"Akan kutunjukkan kekuatan sihirku! Terbukalah gerbang perak Canis Major,..."

Lucy mendengar perempuan itu akan membuka gerbang Canis Major, yang dimana levelnya agak berbeda dengan Canis Minor Lucy, Plue dan membayangkan bagaimana bentuk sosok arwah suci dari klan rasi bintang Canis Major, 'Apakah sama dengan Plue? Canis Major, berarti anjing besar? Bentuknya mungkin sama dengan Plue hanya saja ukurannya berbeda?'. Lucy sedikit tertawa dengan imajinasinya yang membayangkan bentuk arwah Canis Major, Plue versi raksasa.

"CERBERUS!"

"EH?!"

Setelah wanita itu menyebutkan nama dari klan Canis Major, Lingkaran sihir berwarna emas muncul bersamaan dengan suara bel pintu yang berbunyi menandakan bahwa arwah suci datang bertamu ke dunia manusia. Secara tiba-tiba, langit-langit yang cerah berubah menjadi kelabu dan suram sehingga menutupi sinar matahari yang menyinari bumi dan semua terlihat gelap kelabu. Dari balik kegelapan yang menyelimuti tempat itu, ada sepasang mata bukan tiga sepasang mata berwarna merah sedang mengawasi Lucy dan Sting. Dengan satu raungannya, dia menghembuskan asap hitam yang menari-nari di sekitarnya dan menampakan sosok asli dari tiga sepasang mata merah itu.

"BOHONG?! INI BUKAN PLUE VERSI RAKSASA TAPI INI ANJING SETAN, CERBERUS?!" teriak Lucy yang bergema.

"Hahaha... Ini adalah kunci arwahku yang paling kuat, Cerberus!"

Lucy tidak habis percaya bahwa, ada lagi kunci perak arwah suci yang kuat selain Ophiuchus, milik Yukino dan Caelum, milik Angel. Di depan mata Lucy, telah berdiri arwah suci berupa anjing hitam raksasa berkepala tiga, berantaikan perak di setiap leher mereka dan bermata merah dan siap menghancurkan dirinya. Lucy ragu, 'Apakah misi yang diambilnya ini termasuk misi untuk pemula? Padahal dirinya belum sampai ke tempat tujuan tapi harus melawan musuh kuat seperti ini?'

Bagaimanakah Lucy dan Sting menghancurkan Cerberus dan apakah Lucy mendapatkan kunci arwah suci yang baru dalam perjalanan?

Bersambung...


Terima kasih untuk semuanya yang telah membaca cerita ini dan mereviewsnya.

Buat Novi Eucliffe dan Joker-nyan, aku sudah menjawab kekuranganku yang di chapter awal soalnya aku ingin membuat kalian penasaran.

Lagi-lagi ini cerita kacau balau, tapi aku harap kalian menyukainya.

Reviews, Please!