Disclaimer : I don't own Fairy Tail, the genius behind it is Hiro Mashima!


An Unexpected Curse

Rating : T

Genre: Adventure/ Friendship


Cerita sebelumnya,

Kereta yang dinaiki oleh Sting dan Lucy telah diserang oleh segerombolan perampok tak dikenal, Sting, sang Dragon Slayer, harapan Lucy untuk membantunya keluar dari masalah ini malah pingsan karena mabuk perjalanan dan sewaktu Lucy dalam bahaya, Sting terbangun dan menolong Lucy serta mereka berdua berhasil menumbangkan seluruh perampok kereta. Lucy dan Sting belum bernapas lega sebab, gerombolan perampok itu memiliki seorang pemimpin. Pemimpin mereka adalah seorang perempuan genit, dia tertarik pada Sting saat pandangan pertama karena wajah dan perawakan Sting telah memikat perempuan itu. Sting menolak dan membuat perempuan itu menjadi geram dan berhasrat untuk membunuh Sting.

Lucy dan Sting merasakan aura yang berbeda dari pemimpin perampok itu, firasat Sting dan Lucy akhirnya terjawab. Pemimpin wanita dari gerombolan itu adalah seorang penyihir, sama seperti mereka berdua. Terlebih lagi, perempuan itu adalah seorang penyihir arwah suci dan dia memanggil arwah suci yang berasal dari klan rasi bintang Canis Major. Lucy mengira bahwa arwah suci klan rasi bintang Canis Major sama dengan Canis Minor milik Lucy, Plue, hanya saja pasti ukuran mereka berbeda, Major berarti besar sedangkan Minor berarti kecil, sedangkan Canis itu sendiri adalah Anjing. Jika digabungkan, Canis Major berarti anjing besar.

Sayang sekali, perkiraan Lucy meleset seratus persen sebab Canis Major dalam bayangkan Lucy adalah Plue versi raksasa dan kenyataannya adalah..,

"BOHONG?! INI BUKAN PLUE VERSI RAKSASA TAPI INI ANJING SETAN, CERBERUS?!" teriak Lucy yang bergema.

Lucy tidak habis percaya bahwa, ada lagi kunci perak arwah suci yang kuat selain Ophiuchus, milik Yukino dan Caelum, milik Angel. Di depan mata Lucy, telah berdiri arwah suci berupa anjing hitam raksasa berkepala tiga, berantaikan perak di setiap leher mereka dan bermata merah dan siap menghancurkan dirinya. Lucy ragu, 'Apakah misi yang diambilnya ini termasuk misi untuk pemula? Padahal dirinya belum sampai ke tempat tujuan tapi harus melawan musuh kuat seperti ini?'


Chapter 3 : Arwah Suci Canis Major : Cerberus.

Suasana mencengkam, langit-langit berwarna kelabu berputar-putar mengelilingi area itu seakan-akan menambah ketegangan dan ketakutan. Tetesan keringat dingin mulai membasahi permukaan kulit wajah Lucy dan seluruh tubuh Lucy bergemetar. Bagaimana tidak, ada sosok mengerikan tengah berdiri di hadapannya yakni, anjing hitam berukuran raksasa dan memiliki tiga kepala kembar serta rantai perak menghiasi leher mereka. Tiga sepasang mata berwarna merah mengawasi Lucy dan Sting dan memamerkan deretan gigi mereka yang tajam, sang pemilik arwah suci itu tertawa bahagia.

"Lihat, inilah arwah suci terkuat yang pernah aku miliki! Canis Major, Cerberus!" bangga perampok wanita itu.

Para bawahan dari perampok wanita itu bersorak bahagia, pemimpin mereka telah datang membantu membalaskan sakit mereka terhadap kedua penyihir berambut pirang. Para penumpang yang berada di dalam kereta ikut ketakutan meski tidak berada dekat dengan cerberus. Beberapa dari mereka, berdoa agar mimpi buruk ini lekas berakhir dan berharap kedua penyihir pirang itu dapat mengalahkan monster itu. Lucy bersiaga untuk bertarung melawan Cerberus itu, tangannya memegang saku kecil yang tergantung di ikat pinggangnya sedangkan Sting tersenyum sinis dan tidak menunjukkan rasa takut terhadap makhluk besar di hadapannya.

"Arwah suci 'kah? Cerberus? Hitam? Apa monster ini, pengguna sihir hitam? Berarti, dia sama dengan Rogue. Aku sudah lama mengenal Rogue, jadi..." Tanpa pikir panjang, Sting berlari mendekati Cerberus dengan sinar putih yang berkumpul di mulutnya dan siap untuk dikeluarkan. "AKU AKAN MENGHANCURKANMU, SECEPATNYA!"

"Tu-tunggu dulu, Sting...!" henti Lucy.

Sting sama sekali tidak mendengarkan Lucy, dia mengeluarkan Hakuryū no Hōkō ke arah Cerberus. Sebuah cahaya laser melesat lurus menuju Cerberus, Keenam mata Cerberus mulai menyala terang terlihat seakan ada bola lampu berwarna merah sedang menyala di dalam mata mereka. Hakuryū no Hōkō milik Sting berhenti melesat seperti ada sesuatu yang menahannya untuk menyentuh Cerberus kemudian Hakuryū no Hōkō itu memantul berbalik menyerang tuannya, Sting. Penyihir Sabertooth itu sempat dibuat terkejut dan segera menghindar serangannya sendiri. Hakuryū no Hōkō Sting menghantam pohon di belakang Sting.

"Ti-tidak mu-mungkin! Hakuryū no Hōkō miliku berhasil ditangkis dan berbalik menyerangku!"

Tidak hanya Sting, Lucy juga tidak habis berpikir bahwa makhluk sebesar dan seberat dia, bisa menghalau serta membalikkan kekuatan Hakuryū no Hōkō milik Sting. Lucy mulai menaruh curiga dibalik kekuatan Cerberus. Sting kembali menyerang, Kali ini, dia menggunakan Hakuryū no Hōrī Buresu, sihir Sting yang hampir sama dengan Hakuryū no Hōkō tetapi lebih berpotensi bahkan, serangan ini berhasil menghancurkan sebagian Domus Flau's arena sewaktu di Dai Matou Enbu. Kali ini, Sting yakin bahwa makhluk besar itu tidak akan bisa menghalau ataupun membalikkan serangannya. Sebuah ledakan terjadi di daerah sekitar Cerberus. Asap hitam muncul seakan melahap Cerberus dan pemiliknya beserta anak buah si pemilik Cerberus. Sting tersenyum bahagia karena dia berhasil mengalahkan makhluk besar itu. Seluruh penumpang itu kembali bersorak gembira, akhirnya mereka terbebas dari mimpi buruk. Tampaknya, mereka semua tidak dapat bernapas lega terlalu lama. Tiba-tiba, Lucy merasakan firasat tidak enak.

"Fu..fu..fu." Dari balik asap hitam, terdengar suara seseorang tertawa cekikan, "Serang, dia!". Firasat buruk Lucy akhirnya terjawab, sebuah tangan besar sebelah kiri berkuku runcing di setiap jarinya muncul dan menyerang Sting. Lucy melihat tubuh pemuda Sabertooth, berambut pirang sama seperti dia terlempar dan menghantam tubuh kereta dengan lumayan keras. "Sting!" panggil Lucy. Seluruh penumpang di dalam kereta tersentak kaget saat Sting terlempar masuk ke dalam kereta, tubuhnya menghantam salah satu meja dan kursi kafe kereta sehingga piring dan gelas di atas meja tersebut terjatuh dan pecah berkeping-keping. Sisa makanan maupun minuman yang terhidang di atas meja, jatuh berhamburan dan sedikit tumpah mengenai pakaian penyihir Dragon Slayer itu. Sting mengerang kesakitan dan berusaha bangkit, 'Sial! Sial! Kenapa aku, Dragon Slayer terkuat, bisa kalah dari makhluk seperti dia?!'. Awan gelap yang menyelimuti Cerberus lama-kelamaan menghilang, Lucy tersentak kaget, anjing besar berwarna hitam itu sama sekali tidak terluka akibat Hakuryū no Hōrī Buresu.

'Bohong?! Bagaimana bisa?!' itulah yang ada di dalam pikiran Lucy. Sting berdiri menatap Cerberus, anjing besar itu membalas tatapan Sting bahkan memberikan tanda 'kemarilah!' dan memancing amarah Sting untuk segera menghajarnya lagi. Sting terpancing umpan Cerberus, dengan amarah yang memuncak dan harga diri yang tinggi, Sting mulai beranjak keluar dari kereta. Sesaat langkah Sting terhenti, dia menginjak sesuatu hingga remuk. Pemuda pirang itu mengamati sesuatu yang telah remuk oleh kakinya kemudian sebuah ide terlintas di pikirannya. Sting mengumpulkan sesuatu yang sama bentuk dengan remukan itu.

"Bagaimana, pemuda pirang? Kamu sudah bisa melihat kekuatanku? Apa kamu mulai tertarik denganku? Lupakan saja, wanita pirang itu!" gumam wanita perampok itu. "Tunggu dulu! A-pa ma-maksudmu?! Aku bu-bukan ke-keka..!" Lucy belum selesai protes, Sting telah memotongnya. "Oi, Lucy! Makhluk itu anjing 'kan?" tanya Sting.

"Huh? Kamu bisa lihat sendiri, kalau dari sisi manapun, dia adalah seekor anjing!" jawab Lucy dengan sedikit kesal, 'apa pria itu buta atau bodoh? Sudah tahu, makhluk di depan mata itu adalah seekor anjing, masih bertanya!' kesal Lucy dalam hati. "Tante muka menor!" teriak Sting, dia memanggil wanita perampok itu dengan sebutan 'Tante muka menor'. Lucy sedikit tertawa mendengarnya, wanita itu memang terlihat menor, make-upnya terlalu tebal terutama pada bagian mata dan bibirnya dan terlebih lagi tampaknya wanita itu sudah tidak muda lagi, mungkin sekitar 28 tahunan usianya.

"Siapa yang kau sebut 'Tante muka menor'?!" bantah wanita itu, perampok wanita itu memang tidak sadar kalau dirinya berdandan menor hari ini atau memang dari dulu, dia berdandan seperti itu. Jari telunjuk Sting menunjuk perampok wanita itu dan tersenyum sinis. Warna merah tomat mulai terlihat menghiasi wajahnya, alis matanya yang mengerut ke bawah dan memperlihatkan raut marahnya yang menakutkan sama menakutkannya dengan topeng iblis.

"Berani sekali, kau, bocah! Apa kamu tidak sadar dengan keadaanmu sekarang? Aku akan memerintahkan Cerberus untuk menghabisi dirimu!" amuk wanita itu.

"Ha! Aku tidak takut! Sebab, aku sudah punya senjata pemungkas yang ampuh untuk menumbangkan anjing besar itu!" kata Sting dengan tatapan meremehkan.

"APA KATAMU?!"

'Eh? Sting menemukan senjata pemungkas untuk menumbangkan anjing besar itu?' Lucy bertanya-tanya dalam hati. Sting turun dari kereta dan berjalan mendekati Cerberus dengan senjata yang 'katanya mampu menumbangkan Cerberus'. Cerberus yang mengetahui bahwa Sting yakin jika senjatanya dapat mengalahkan dia, berjalan mundur sedikit khawatir. Sting menyengir lebar menyaksikan anjing besar itu berjalan mundur dan berlari sambil akan mengeluarkan jurus pemungkas yang akan mengalahkan anjing hitam besar itu, "Rasakanlah! Senjata pemungkas Dra-..bukan..maksudku, sihir rahasia Dog Slayer...!".

'EH? Dog Slayer? Huffmm... Sejak kapan, dia berubah aliran sihir dari Dragon Slayer menjadi Dog Slayer?' Lucy tertawa sendiri mendengar Sting berubah aliran sihir menjadi Dog Slayer. "Shiroūinu no Hōkō!" teriak Sting. Sesuatu yang berwarna putih terlempar ke arah Cerberus, "RASAKAN! SENJATA RAHASIA, LEMPARAN TULANG AYAM, TULANG KAMBING, TULANG DOMBA, DAN... AHH...AKU LUPA TANYA! POKOKNYA, RASAKAN!" teriak Sting sambil terus-menerus melemparkan senjatanya ke arah cerberus. Semua yang berada di sekitar sana hanya dibuat tercengang dengan mulut terbuka lebar, begitupun Lucy dan para gerombolan perampok itu, Cerberus juga ikut tercengang, sesekali mereka bertiga mengedipkan mata seakan tidak percaya dengan itu semua.

"... ... ... ... ... ..." Whuzzzzzz, hembusan angin dingin datang menyapa pada mereka dan pergi berlalu begitu saja. Hening, Hening dan hening... Semua manusia yang berada di sana selain Sting seperti disihir menjadi batu atau membeku seakan terkena sihir Gray, mereka tidak percaya bahwa pemuda pirang itu menjadikan tulang-tulang dari sisa hidangan para penumpang kereta sebagai senjata pemungkas untuk mengalahkan Cerberus. 'Dia serius atau sedang melucu di depan umum?'. Lucy berlari mendekati Sting, dia menendang pria itu 'Tendangan Lucy', Sting menghentikan serangannya atau maksudnya, menghentikan lelucon basinya. Tulang-tulang sisa makanan penumpang berserakan di rerumputan yang hijau, Sting tersungkur di atas kasur rumput.

"APA YANG KAMU LAKUKAN, LUCY HEARTFILIA?!" marah Sting sambil mengelus lengan kirinya yang berasa nyeri.

"JUSTRU AKU YANG BERTANYA PADAMU! APA YANG KAMU LAKUKAN, STING?!" balas tanya Lucy.

Sting berdiri, "MENGALAHKAN MAKHLUK BESAR ITU! KENAPA? KAMU TIDAK TERIMA JIKA SABERTOOTH BERHASIL DULUAN DARIPADA FAIRY TAIL!" teriak Sting.

"MENGALAHKAN?! JUSTRU KAMU SEDANG MELUCU DI HADAPAN KAMI!" balas teriak Lucy.

"MELUCU?! APA MAKSUDMU,HUH?! DIA 'KAN ANJING! ANJING SANGAT SUKA TULANG 'KAN?!"

"DASAR BODOH! DIA MEMANG ANJING TAPI DIA ARWAH SUCI. MANA ADA ARWAH SUCI YANG BAKAL TERPANCING JEBAKAN SEPERTI ITU, TERLEBIH DIA BERBEDA LEVEL DENGAN ARWAH SUCI KUNCI PERAK LAINNYA?!" Lucy tidak habis berpikir, 'kenapa para Dragon Slayer dewasa itu selalu emosional dan sangat bodoh dalam membaca suasana?'

"KALAU BEGITU, BAGAIMANA CARANYA!?"

Lucy terdiam berpikir kemudian sebuah ide cemerlang keluar dari benaknya, "Aku tahu!" Lucy menarik kunci arwahnya yang berwarna perak, "Terbukalah gerbang perak, Canis Minor, Nicolas!" panggil Lucy, sebuah bel pintu terdengar untuk kedua kalinya.

'Oh ~ wanita pirang itu juga pemanggil arwah suci! Canis Minor?' kata wanita perampok itu dalam hati dan sangat menantikan arwah suci milik Lucy yang dipanggil. Puff...arwah suci milik Lucy telah menampakkan diri. Seekor anjing kecil seluruh tubuhnya berwarna putih, berhidungkan panjang seperti Pinokio dan selalu bergemetar ini muncul di hadapan mereka semua.

"APA-APAAN INI?!" teriak Sting sambil menunjuk-nunjuk ke arah anjing kecil milik Lucy.

"Jangan kau remehkan, Plue! Aku punya ide bagus, lihat saja!" ide Lucy yang terlihat sangat percaya diri akan berhasil. "Plue, beri salam pada kerabatmu!" perintah Lucy, anjing putih kecil dan selalu bergemetar itu, mendekati anjing hitam yang ukurannya berpuluh-puluh lipat dari dirinya. Plue mulai mencoba memberikan salam pada anjing hitam besar itu, Cerberus terdiam tidak merespon malah dia terlihat bosan.

"Pl..Plu..Plue..Plue!" Plue bersikeras untuk berkenalan dengan kerabat jauhnya, meski orang yang bersangkutan tidak merespon. Cerberus ingin mengakhiri kebosanannya, dia mengeluarkan suara raungan yang sangat keras ke arah Plue. Plue menjadi ketakutan dan kembali ke dunia arwah tanpa sepatah katapun pada tuannya. "Plue!" seru Lucy.

"Hehe...tampaknya gagal," kata Lucy sambil tersenyum malu karena usahanya gagal. " BUKAN HEHEHE..! IDE BAGUS APANYA?! MENGELUARKAN MAKHLUK LEMAH SEPERTI ITU, TIDAK ADA GUNANYA!" marah Sting.

"APA?! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN JIKA KAMU MENGHINA TEMANKU! MASIH MENDING DARIPADA DIRIMU. MANA MUNGKIN CERBERUS BISA TERPANCING DENGAN TULANG!" bantah Lucy, dia tidak terima jika Sting menghina Plue, meski anjing putih miliknya lemah tapi dia selalu ada menemani Lucy dan menjadi teman curhatnya.

Kedua penyihir berambut pirang saling beradu mulut, seakan-akan mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang bertengkar di depan umum. Lucy dan Sting tidak memperdulikan bahwa mereka berdua berada di tempat yang salah jika ingin bertengkar. Urat nadi marah perampok wanita itu terlihat, dia sedikit marah kepada kedua penyihir berambut pirang itu. 'Apa mereka sengaja mempermainkanku atau keduanya memang sangat bodoh?'.

"Ano.. kalian berdua, pertarungannya belum selesa..." Penyihir sekaligus perampok wanita itu, belum selesai dengan kalimatnya, Sting dan Lucy langsung memotong kalimatnya, " BERISIK! TANTE MUKA MENOR!" teriak Lucy dan Sting secara serentak. Kesabaran perampok wanita itu telah habis, "BERANINYA KALIAN BERDUA! CERBERUS HABISI MEREKA!" perintahnya. Anjing besar raksasa itu mematuhi perintah tuannya, dia mulai mengayunkan tangannya yang besar untuk menghempaskan kedua penyihir pirang itu. Sayang sekali, kali ini Cerberus harus berakhir kecewa, Lucy dan Sting berhasil menghindar serangannya tersebut.

"Lucy! Hari ini, bekerja samalah denganku!" pinta Sting yang tidak diduga oleh Lucy, dia meminta bantuan Lucy untuk mengalahkan Cerberus beserta majikannya. Lucy hanya tercengang mendengar bahwa White Dragon Slayer yang terdahulu menertawakan dirinya saat Naval Battle, sekarang meminta bantuannya. Lucy tersenyum dan melepaskan cambuk hitam serta mengulurnya, "Ah! Mari kita kalahkan mereka, Sting!" sepakat Lucy.

Kedua pasangan berambut pirang ini sepakat untuk mengalahkan perampok wanita beserta arwah suci, Canis Major, Cerberus, dengan menggabungkan sihir mereka berdua. Penyihir arwah suci berkolaborasi dengan White Dragon Slayer merupakan sesuatu yang hal yang tak terduga seumur hidup oleh Lucy dan Sting, mereka berasal dari guild yang berbeda, Lucy baru mengenal Sting saat Dai Matau Enbu begitupun Sting, dia baru mengenal Lucy. Ini akan pertama kalinya, Lucy bekerja sama dengan Dragon Slayer selain Natsu, Fire Dragon Slayer, sekaligus partner dan teman baik Lucy.

Dari balik kegelapan hutan, ada seseorang selain perampok wanita itu, sedang mengamati pertarungan Lucy dan Sting selanjutnya. Siapakah orang tersebut? Seperti apakah kolaborasi Sting Eucliffe dan Lucy Heartfilia? Apakah Lucy akan mendapatkan kunci baru dari Canis Major itu?.

Bersambung...


Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Novi Eucliffe dan Tohko Ohmiya telah memberikan inspirasi untukku, aku sudah menemukan ide ceritaku yang akan berkolaborasi dengan imajinasi kalian. Jadi, tunggu saja tanggal mainnya! Terima kasih banyak, kalian berdua!

Maaf, ya jika humorku kurang bermutu! Sebab, tiba-tiba imajinasi ngedown lagi, nich! Lagi-lagi, ini cerita kacau balau tapi aku berharap kalian suka.

Terima kasih sudah baca ceritaku! Aku sangat mengucapkan terima kasih pada reviewer's dan para reader telah membaca dan memberikan komentar padaku.

Review's Please!