Disclaimer : I don't own Fairy Tail, the genius behind it is Hiro Mashima!
An Unexpected Curse
Rating : T
Genre: Adventure/ Friendship
Cerita sebelumnya,
"Lucy! Hari ini, bekerja samalah denganku!" pinta Sting yang tidak diduga oleh Lucy, dia meminta bantuan Lucy untuk mengalahkan Cerberus beserta majikannya. Lucy hanya tercengang mendengar bahwa White Dragon Slayer yang terdahulu menertawakan dirinya saat Naval Battle, sekarang meminta bantuannya. Lucy tersenyum dan melepaskan cambuk hitam serta mengulurnya, "Ah! Mari kita kalahkan mereka, Sting!" sepakat Lucy.
Kedua pasangan berambut pirang ini sepakat untuk mengalahkan perampok wanita beserta arwah suci, Canis Major, Cerberus, dengan menggabungkan sihir mereka berdua. Penyihir arwah suci berkolaborasi dengan White Dragon Slayer merupakan sesuatu yang hal yang tak terduga seumur hidup oleh Lucy dan Sting, mereka berasal dari guild yang berbeda, Lucy baru mengenal Sting saat Dai Matau Enbu begitupun Sting, dia baru mengenal Lucy. Ini akan pertama kalinya, Lucy bekerja sama dengan Dragon Slayer selain Natsu, Fire Dragon Slayer, sekaligus partner dan teman baik Lucy.
Inilah pertarungan Cerberus melawan Lucy dan Sting dan kolaborasi pertama kalinya antara Lucy Heartfilia, penyihir arwah suci dan Sting Eucliffe, White Dragon Slayer.
Chapter 4 : A strange collaboration – Two Blondie Mage Vs Dog
Suasana area pertarungan Lucy dan Sting terasa semakin mencengkam, tetesan keringat mulai keluar dari permukaan pori-pori baik dari Sting maupun Lucy seiring bersamaan napas mereka yang terenggah-enggah, kelelahan dalam menghadapi anjing raksasa berkepala tiga yang tampak bersemangat ingin mencabik-cabik daging segar di hadapannya. Sang penyihir sekaligus pemilik dari arwah suci, Cerberus, tertawa bahagia melihat kedua penyihir pirang di depannya menderita dan kelelahan.
"Bagaimana pemuda pirang? Menyerahkah?"
*Hosh...hosh...* "Berisik!" Bentak sting sambil menyeka keringat yang menggangu pandangannya. "Aku, Sting Euclifee, White Dragon Slayer terkuat generasi ketiga, tidak pernah bahkan tidak akan mengenal kata 'menyerah' dalam kamus pribadiku!" Kata Sting yang terlontar dengan rasa percaya diri bahwa ia akan mampu meruntuhkan musuh-musuh di hadapannya hanya seorang diri. Tangan kanan besar Cerberus mulai bergerak menyerang untuk melumatkan tubuh Sting. Pemuda pirang tersebut berhasil menghindar walaupun sebenarnya menahan nyeri akibat serangan Cerberus sebelumnya serta meluncurkan Hakuryū no Hōkō meski ia tahu jika sang anjing raksasa itu tidak akan terluka.
"Cih, pemuda keras kepala. Apa kau bodoh?! Cerberus tidak akan terluka dengan seranganmu!"
"Kuakui bahwa aku memang bodoh dan ...!" Akui Sting, berusaha menahan berat dari tangan seekor anjing yang hampir melumatkannya. "Ke-ras kepala. Tapi...tapi...!"
Sting tidak kuat lagi menahan beban lawan yang dua kali lebih berat darinya, White Dragon Slayer itu berhasil ditumbangkan. " STING!" Jerit Lucy. Suara tertawa bahagia terdengar begitu nyaring bahkan terdengar hingga radius jauh sekalipun. "HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! Kau benar - benar pria bodoh, pemuda pirang!"
'Bohong! Sting Eucliffe...rival Natsu berhasil dihancurkan oleh anjing raksasa itu. Bagaimana dengan nasibku?' Gumam Lucy dalam hati, risau bercampur khawatir. Manik coklatnya menatap ketakutan anjing raksasa dan pemiliknya secara bergantian, ia menelan ludah sembari mengambil posisi kuda-kuda dan menggenggam erat cambuk hitamnya. 'Akhh!Apa yang harus aku perbuat?!'
Bola mata berwarna ungu melirik tajam ke arah Lucy, senyuman licik mulai tersirat di paras penyihir wanita berumur 28 tahun itu. "Wanita pirang, kekasihmu telah tiada. Sekarang kau hanya seorang diri. Ohh..kucing betina yang malang. Jadwal kencan harus kalian batalkan karena Cerberus."
"A-Aku sudah bilang berapa kali! Dia bukan kekasihku!"
"Ah! Tega sekali, wanita pirang jelek itu! Pemuda pirang itu berjuang untuk melindungimu dari Cerberus tapi kau tidak mengakuinya. Kasihan pemuda pirang itu. Arwahnya pasti tidak akan tenang di alam sana."
Guratan-guratan siku bermunculan di kening Lucy yang kemudian merambat ke kedua pipinya, tangannya dikepalkan secara kuat-kuat. "A-aku sudah bilang bahwa aku bukan kekasihnya," gumam pelan penyihir bintang dari guild Fairy Tail, menahan marah.
"De, apa yang akan kau perbuat sekarang, pirang?"
"Hmm! Tentu saja. Aku akan mengalahkanmu..tidak...kalian berdua," kata Lucy, berusaha tidak takut dengan tantangan pemilik cerberus itu. 'Tenang, Lucy. Kau harus tenang. Kau pasti bisa mengalahkannya.' Mata coklat nan bulatnya mengamati daerah di sekitarnya untuk membantu dirinya atau memanggil kawan arwahnya yang hanya dipanggil secara khusus jika terdapat elemen yang sama dengan arwah tersebut. Akhirnya, ia menemukan ide untuk memutuskan kunci mana yang akan ia panggil. Tanpa ragu, ia menarik salah satu kuncinya yang berlapis emas berbentuk kendi kemudian ia letakkan di atas permukaan genangan air yang membasahi rimpunan rumput yang hijau itu serta memanggilnya, "Terbukalah gerbang emas guci air, Aquarius!"
Lingkaran sihir berwarna keemasan diiringi dengan lantunan bel datang ke dunia manusia. Sosok wanita duyung berwarna serba biru laut ini yang memegang kendi perak kebiruan muncul secara anggun ke hadapan semua orang.
"Aquarius, habisi anjing jelek beserta pemiliknya itu!" Perintah penyihir Fairy Tail berambut pirang sambil menunjuk ke arah objek yang akan menjadi sasaran kemarahan Aquarius. Akan tetapi, arwah putri duyung itu tidak melaksanakan perintah dari majikannya, ia sibuk mengendus-endus parfum baru yang melekat di tubuhnya barusan saat ia dipanggil.
"Aquarius?"
"Lucy...Beraninya kamu!"
Majikan Aquarius tersentak ketakutan saat ia melihat aura hitam menyelimuti arwah mermaid itu disertai dengan tatapan tajam dan membunuh. Ini lebih menakutkan daripada Cerberus, itulah yang ada di pikiran Lucy saat itu juga. "A-Aquarius maaf...!"
"Beraninya kau memanggil diriku dengan genangan air kotor! Aku tidak akan memaafkan dirimu!" Geram Aquarius, diangkatnya kendi air kemudian diayunkannya. Secercah cahaya sihir terlihat dari kegelapan kendi Aquarius. Sebuah pusaran air keluar dari kendi berwarna perak kebiruan, kencang dan kuat bagaikan bencana tsunami menerjang siapa saja yang berada di sana tanpa peduli teman maupun lawan. Sang majikan kunci arwah berlambangkan dua garis gelombang ikut terpental disebabkan oleh serangan Aquarius. Amukan putri duyung berhasil meluluh lantakkan semua manusia yang berada dekat dengannya termasuk majikannya .
"Hm!" Puas Aquarius sambil berkacak pinggang.
"Uhhukk…" Lucy terbatuk-batuk, memuntahkan seluruh air yang tidak sengaja masuk saat terkena serangan teman arwahnya itu. "Aquarius!Tega sekali kau!"
"Lu-cy..."
"Hiiiik!" Amarah Lucy menciut seketika, manik berwarna coklat milik penyihir pirang itu bergetar takut mendapati tatapan tajam dari arwah putri duyung yang seharusnya ia bertingkah anggun.
"Aku sudah bilang kepadamu, jangan memanggilku dengan air kotor! Apa kau lupa, HUH?!"
"Ampun!"
"Cih! Kali ini aku mengampunimu. Jika kau mengulangi lagi, aku akan menghabisimu!"
"Baik!" Dengan tegap dan sigap, Lucy menyahutnya.
"Bagus! Aku kembali ke dunia spirit!"
"Eh?! Bagaimana dengan aku?! Bagaimana aku bisa mengalahkan mereka?!"
"Itu urusanmu! Aku ada kencan hari ini dan besok karena itu, jangan memanggilku selama dua hari."
"Eh?! Tapi..."
"Bye...Bye Lucy. Aku pergi kencan dulu dengan kekasihku. Kekasihku."
"Kau tidak perlu mengucapkan dua kali!" Geram Lucy, sedikit tersinggung dan cemburu dengan ucapan sang pemilik sihir yang sama dengan Juvia itu. Cahaya emas memudar kemudian menghilang dari hadapan Lucy.
Gadis pirang itu hanya menghela napas, lelah rasanya jika harus berhadapan dengan teman arwahnya yang satu itu. "Ah. Semua bajuku basah semua. Hastyu!" Lucy bersin karena udara dingin mulai menusuk permukaan pori-pori kulitnya yang basah belum ditambah seluruh pakaiannya basah kuyup.
"Kurang ajar kau, pirang! Kalian berdua, pasangan pirang yang menyebalkan! Cerberus!" Marah pemimpin perampok itu, make up di wajahnya luntur terhapus air dan penampilannya yang sempurna berubah menjadi kusut seketika. Anjing Raksasa berwarna hitam legam itu walau terkena oleh kekuatan sihir Aquarius, ia masih tidak beranjak sedikitpun dari tempat awal ia berpijak. Ketiga kepala anjing raksasa tersebut sibuk mengeringkan badannya dari cipratan air yang menempel dan mengganggu.
"Kau akan bernasib sama dengan kekasih tercintamu!"
"Sting bukan kekasihku! Hah.. Aku capek membalasmu."
"Aku juga begitu! Aku tidak mungkin punya kekasih cerewet dan lemah seperti dia!" Sebuah suara terdengar semu di gendang telinga Lucy dan wanita pemimpin perampok itu. Suara yang tidak asing di telinga mereka.
"Sting!"
"Bohong!"
"Ini kenyataan, tante menor! Aku tidak mungkin ditumbangkan dengan mudah oleh makhluk raksasa INI!" Cahaya sinar putih yang Sting pusatkan pada lengannya berhasil mendorong mundur dari dirinya. Badan Cerberus yang bisa diperkirakan sama beratnya dengan lebih dari dua hewan gajah ini terpental mundur menghancurkan beberapa pohon di belakangnya.
Sting, pemuda berambutkan jabrik pirang kembali tampil ke hadapan mereka walaupun ada beberapa noda coklat kehitaman menghiasi wajahnya. White Dragon Slayer ini berusaha menyeimbangkan napasnya yang terenggah-engah.
"Bohong! Seharusnya Cerberus membuat dirimu lumat bagaikan kue pancake. Kenapa? Kenapa kau masih hidup?" Heran bercampur tidak percaya, itu yang dirasakan oleh penyihir perampok itu.
"Asalkan kau tahu, tante menor. Berat Cerberus belum sebanding dengan berat Weisslogia!" Jawab Sting sambil menyeka keringat dan noda tanah yang menempel di wajahnya.
"Cih! Cerberus!"
Anjing Raksasa tersebut kembali bangkit kemudian menyerang Sting dengan cepat tanpa memberikan waktu buat pemuda pirang itu istirahat sebentar. Meskipun rasa lelah masih melekat pada diri pemuda itu, ia berhasil menghindar segala serangan Cerberus. Sting mefokuskan sebagian kekuatan magicnya di dalam mulutnya. Gumpalan sinar keputihan lebih besar dari sebelumnya tampak di sekitar mulut Sting.
"Aku bantu! Terbukalah gerbang pemanah emas, Sagitarius!"
"Hai...Moshi-moshi! Seorang pria berpakaian cosplay kuda dengan busur panah di tangannya dan anak panah yang tertata rapi di punggungnya, muncul. "Serang dia, Sagitarius!" Perintah Lucy sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Cerberus.
"Baik. Moshi-moshi!" Pria cosplay kuda tersebut langsung menarik kuat-kuat panahnya sebelum ia menemukan titik celah untuk menyerang. "Yes!Moshi-moshi!" Sagitarius melepaskan anak panah yang terlontar cepat bagaikan roket mulai menghampiri Cerberus. Bersamaan dengan itu, sinar putih pun terlontar dari mulut Sting. Bukannya, kedua serangan itu melukai anjing hitam raksasa malahan kedua serangan mengalami penggabungan. Hakuryū no Hōkō milik White Dragon Slayer itu terseret oleh daya tarik yang dihasilkan anak panah sihir milik Sagitarius sehingga terjadi penggabungan lingkaran dua sihir sementara anak panah tersebut justru memantul ke atas setelah penggabungan tersebut.
"Eh?" Lucy dan Sting hanya terbengong meyaksikan kedua sihirnya pergi kabur ke hamparan biru langit tanpa melukai musuh mereka.
"Apa yang kau lakukan, Lucy Heartfilia?!"
"Aku hanya membantu!"
"Kau cukup membantu kalau diam di sana!"
"Tapi kau sendiri yang memintaku untuk bekerja sama denganmu. Apa kau lupa?!"
"Akh..I-itu...Akhhh!Kontrak kita batal! Kau tidak berguna sama sekali."
"Apa Katamu?!"
"Kita menyerang secara Individu."
"Sialan kau, Sting! Siapa yang kau sebut tidak berguna?! Aku, penyihir bintang dari Fairy tail, Luc-" Belum menyelesaikan kalimat terakhirnya, sting memotong perkataan Lucy.
"Lucy Heartfilia,kan? Aku sudah tahu bosan mendengarnya berulang kali. Kenapa Fairy Tail mau menerima penyihir lemah sepertimu. Yukino jauh lebih bermanfaat daripada dirimu," kata Sting dengan nada malas dan meremehkan.
"Mooo! Aku tarik kembali ucapanku! Kau tetap pemuda arrogan dan sombong!"
"Kau khawatir padaku? Simpan saja untuk teman-teman arwahmu itu."
'Grrr! Pria ini percaya diri banget!' Kesal Lucy dalam hati. Sagitarius hanya bisa berdiam diri dan terbengong mengamati pertengkaran mulut antara pemuda pirang dengan majikannya serta tidak tahu harus berbuat apa untuk melerai mereka.
Ketika Lucy ingin membalas sindiran untuk menjatuhkan kearrogan Sting, sebuah lingkaran sihir yang besar dan berwarna putih keemasan hadir di atas di antara lukisan pantai langit. Seluruh mata terpaku pada lingkaran tersebut sambil sedikit menyipitkan mata, sinar putih yang melapisi lingkaran keemasan sangat menyilaukan mata.
"Apa itu?"
Beberapa anak panah berukuran kecil seperti jarum yang berwarna menyilaukan itu turun perlahan dari sirkuit sihir tersebut. Sepuluh...Dua puluh...Lima puluh bahkan seratus anak panah yang kecil sedari terjun bebas tak terkendali. Ratusan anak panah kecil dan bercahaya itu mulai menghujati tubuh raksasa dari anjing hitam legam itu, penyihir perampok begitu pun para bawahannya. Walaupun mereka berukuran kecil tapi jika mereka menyerang secara berkelompok dalam jumlah besar, musuh raksasa sekalipun seperti Cerberus bisa rubuh karena tak kuat menahan sakit dari ledakan kecil lantaran dampak kedua dari anak -anak panah itu bila tertanam pada permukaan kulit makhluk hidup.
"Ouww...Ouww. Hentikan!" rintih mereka, menangis kesakitan serta berharap hujan ratusan anak panah bercahaya itu segera berhenti.
Lucy dan Sting tercenung dan saling bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi? Berasal darimanakah hujan ratusan anak panah itu?
"Hebat. Bagaimana bisa? Cerberus itu kalah tak berkutik hanya dengan serangan seperti itu," kagum Lucy, masih sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi?
"Lucy-san, apa kau lupa dengan penggabungan sihir Sagitarius dengan dragon slayer itu?" Sosok pria muda yang berjalan ke samping Lucy, membantu wanita penyihir berambut pirang dalam menjawab kebingungannya.
"Loki."
"Panah sihir Sagitarius memiliki elemen sihir istimewa untuk menyedot elemen sihir yang berbeda seperti Hakuryū no Hōkō. Apabila kedua elemen sihir diluncurkan secara bersamaan. Panah sihir Sagitarius akan menghisapnya dan bergabung menjadi satu sehingga menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Akan tetapi, Sting-kun melepaskan Hakuryū no Hōkō dengan mefokuskan kekuatan sihirnya pada serangan itu sehingga membuat anak panah itu terpental ke atas karena tidak kuat menahan besarnya kekuatan yang ia hisap."
"Begitu kah? Lalu Cerberus? Kenapa ia bisa tumbang sekarang padahal semua serangan Sting tidak mempan?"
"Oh. Cerberus hanya memiliki perisai yang melindunginya dari tembakan lurus di segala arah kecuali jika kau menyerangnya dari atas. Karena mereka kesulitan menengok ke atas dengan kondisi seperti itu"
Tangan besar seorang pemuda yang diketahui bahwa ia adalah Loki, sang kunci arwah berlambangkan singa itu, memegang erat kedua tangan majikannya dan tatapan lembut tampak di kedua matanya. "Lucy-san, maafkan aku karena tidak bisa melindungimu dari anjing setan itu. Hukumlah aku dengan cintamu."
"Tapi Cerberus berhasil terkena serangan Aquarius tanpa mencelat sedikit pun," kata Lucy sembari melepaskan tangannya.
"Ah..Kalau itu, aku sendiri tidak tahu . Hanya saja, kekuatan amarah seorang wanita itu memang sangat menakutkan. Seberapa kuat perisai yang membentengi musuh, semua akan hancur oleh kekuatan seorang wanita yang sedang marah."
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Loki?"
Gadis pirang bermatakan coklat ini hanya menghela napas lelah kemudian ia teringat akan sesuatu. "Tunggu, Loki. Sejak kapan kau keluar?"
"Sejak dari awal semenjak Lucy-san dan Sting-kun bertarung melawan Cerberus." Jawabnya, tersenyum polos.
"Kenapa kau tidak segera menolongku jika kau tahu kalau aku dalam bahaya?!"
"Awalnya aku berpikiran seperti itu, bertindak layaknya pangeran kuda putih menolong sang putri dari malapetaka. Akan tetapi, niatku berubah saat meyaksikan Lucy-san bertarung. Kau terlihat begitu seksi dan cantik, Lucy-san," gumam Loki sambil mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum lebar yang memperlihatkan gigi - gigi putihnya.
'Ah. Dia sama mesumnya dengan Taurus.'
"Baiklah kalau begitu, kalian boleh kembali. Terima kasih kalian berdua," ucap Lucy sambil mengayunkan kedua kunci yang berlambangkan Pemanah dan singa dalam posisi berlawanan dari posisi saat mereka dipanggil.
"Akh, Lucy-san. Aku lupa memberitahukan sesuatu padamu." Pemuda berambut orange dan berpenampilan rapi itu, membisikkan sesuatu ke telinga Lucy.
Butiran manik berwarna coklat kepunyaan Lucy melebar sesaat Loki membisikan beberapa kalimat yang tampaknya sedikit mengejutkan penyihir arwah itu. "Benarkah itu, Loki?"
Loki mengangguk-anggukan kepalanya yang bertanda jawaban 'iya' atas pertanyaan majikannya, "Kapan aku pernah berbohong pada majikan cantik sepertimu, Lucy-san. Itu sedikit informasi yang aku dapat dan semoga bermanfaat bagimu, Lucy-san. Selamat tinggal."
Lima belas menit kemudian, anggota kepolisian sihir datang menangkap gerombolan perampok kereta beserta pemimpinnya. Lahar, pemimpin tertinggi dari anggota kepolisian sihir tersebut berjalan menghampiri Lucy dan Sting.
"Lucy-san dari Fairy Tail dan Sting-kun dari Sabertooth, sudah lama tidak bertemu semenjak Dai Matou Enbu. Bagaimana kabar kalian?"
"Akh. Lahar-san. Kabar saya baik-baik saja. Anda sendiri bagaimana?" Kata Lucy sembari menggulung kembali tali cambuknya.
"Saya sehat selalu, Lucy-san. Ngomong-ngomong saya tidak melihat Natsu-kun, Erza-san dan Gray-kun beserta Sabertooth lainnya?" Tanya pemuda berambut panjang yang terikat rapi ke belakang sambil melirik kanan - kiri.
"Hari ini saya pergi misi tanpa mereka."
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin pergi misi seorang diri."
"Kalau Sting-kun?"
"Aku sama dengan Lucy."
"Apa kalian sengaja pergi misi sendirian? Jangan-jangan... Apa kalian sedang kencan? Kalau begitu, saya akan pergi." Lahar bertanya dengan polos kepada kedua penyihir berambut pirang serta mengambil posisi untuk meninggalkan mereka. Lucy dan Sting saling bertukar pandang kemudian membantah pertanyaan pemimpin kepolisian yang bertampangkan lembut dan tenang.
"Kami hanya kebetulan bertemu di kereta."
"Oh. Begitu. Saya kira kalian sedang berkencan."
"Lahar-san, aku tidak sudi jika anda memasangkan aku dengan wanita cerewet ini. Mendingan aku mati jika harus berpacaran dengan wanita pirang seperti dia. Aku akan selalu dibuat kerepotan olehnya."
"Oh. Aku juga berpikiran sama denganmu, Sting. Aku bisa pusing tujuh keliling jika aku terus-menerus beradu mulut dengan pria arrogan dan keras kepala sepertimu! Aku lebih tertarik pria elegan dan kalem...Hm contohnya, dari tim Sabertooth, Rogue Cheney."
"Rogue? Apa kau tidak salah milih, Lucy? Dia mana tertarik dengan wanita sepertimu."
"Itu cuma perumpaman!"
"Asal kau tahu saja. Rogue itu sosok pria yang sangat bahkan super dingin, kaku dan cuek pada wanita!"
"Apa kau sedang menjelekkan kawanmu sendiri?"
"Itu benar. Beberapa hari yang lalu, aku melihat ia menolak delapan wanita di hari yang sama. Entah apa yang sedang dipikirkan Rogue saat itu? Kenapa ia begitu tenang menolak wanita-wanita yang cantik dan anggun seperti mereka? Kenapa semua wanita tertarik pada Rogue? Padahal dia itu sangat dingin, cuek dan tidak tertarik dengan wanita."
"Eh? Benarkah? Apa dia homo?"
"HUH? Mana aku tahu soal itu!"
"Masalahnya, dia selalu bersama dirimu lagipula di Sabertooth, penyihir wanita hanya Minerva dan Yukino. Terlebih lagi, dia sangat terobsesi dengan Gajeel."
"Apa kau suka pada Rogue?"
"Eh?!" Lucy tersentak kaget dengan ucapan Sting yang langsung to the point begitu saja tanpa berpikir terlebih dahulu. "Ma-mana mungkin aku suka dengan pria yang belum aku kenal!"
"Hmm...Berjuanglah walaupun itu mustahil bagimu."
"Apa maksudmu, Sting?!" Marah Lucy sembari berusaha menghujatkan pukulan kepada pemuda berambut pirang meski pukulannya selalu ditangkis oleh Sting.
Lahar, kapten muda dari anggota kepolisian hanya bisa tersenyum-senyum sendiri menonton kedua penyihir pirang bertingkah kekanak-kanakan
"Ma, Lucy-san. Sting-kun. Berhentilah bertingkah seperti anak kecil."
"Hm!" Duo pirang itu masih jengkel satu sama lain, mereka enggan untuk saling bertatapan.
"S-sting-kun dan Lucy-san, kemana arah kalian pergi misi kali ini?" tanya Lahar, mengesampingkan permasalahan di antara duo pirang yang sama-sama keras kepala.
"Aku akan pergi ke sebuah pulau Quartz," sahut Lucy dan Sting secara bersamaan. Kedua penyihir muda yang menjadi peserta Dai Matou Enbu ini langsung saling bertatap tidak percaya bahwa mereka pergi misi ke tempat yang sama.
"Lucy, kau akan pergi ke pulau Quartz?"
"Iya. Apa dirimu juga, Sting?"
"Aku hanya mengambil acak dari papan request dan aku tidak menyangka kita mengambil misi di tempat yang sama."
"Aku pun begitu."
"Pulau Quartz?" Lahar bergumam sendiri sembari meletakkan jari telunjuknya ke dagunya dan berusaha mengingat sebuah informasi yang ia dapat dua hari yang lalu dari atasannya.
"Ada apa, Lahar-san? Anda kelihatan sangat serius."
"Tidak. Hanya saja aku mendengar gosip mengerikan mengenai pulau Quartz semenjak dua hari yang lalu."
"Gosip mengerikan?"
"Menurut gosip, pulau Quartz yang dulu terkenal dengan keindahan dan kecantikan taman wisatanya berubah seketika menjadi pulau yang mengerikan dan terkutuk semenjak pulau tersebut kejatuhan sebuah batu meteor yang misterius. Banyak penyihir yang telah terdaftar hilang tanpa kabar saat misi di pulau itu. Terdengar gosip juga, bahwa jika kau berhasil menginjakkan kaki di sana maka kau akan mustahil untuk berhasil keluar dari labirin sihir pulau itu. Tidak ada tanda kehidupan lagi di sana bahkan kemunculan pulau itu pun bagaikan hantu."
Lucy dan Sting menelan ludah mendengar penjelasan dari kapten muda dari keanggotaan polisi sihir mengenai info kepulauan Quartz.
"Kini banyak penduduk yang menyebut pulau Quartz adalah pulau hantu."
"Pulau hantu?"
"Aku tidak tahu apa gosip itu benar atau hanya gosip belaka? Hanya saja, para nelayan yang pernah melihat pulau tersebut. Dia bercerita bahwa dia mendengar raungan keras dan rintihan wanita yang melengking dari pulau itu."
"Apa itu benar, Lahar-san?" tanya Lucy, sedikit takut dan merinding.
"Entahlah."
"Ayo, Lucy!"
"Eh?! Sting, kau tidak takut?
"Justru aku tambah semangat. Apa yang kau takutin, Lucy? Di dunia ini tidak ada yang namanya hantu! Jika kau takut, untuk apa kau mengambil misi ini?"
"A-aku tidak takut. Aku hanya ingin melatih kekuatanku agar lebih kuat lagi dan lagi sehingga aku tidak perlu menyusahkan Natsu, Erza, Gray dan anggota Fairy Tail."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi! kita berangkat!" Ujar Sting, bersiap menarik langkah untuk meninggalkan Lahar.
"Tunggu, Sting!" Seru Lucy, meletakkan tas ranselnya yang berwarna sama dengan warna pakaiannya.
"Lucy-san."
"Ada apa, Lahar-san?"
Di keluarkannya sebuah kunci berwarna keperakan dari saku celananya kemudian ia perlihatkan kepada Lucy. "Ambilah! Aku tidak tahu apakah kunci arwah bintang ini, kuat atau lemah. Tapi kunci ini akan sedikit membantumu dalam misi."
"Lahar-san. Itu..."
"Ambilah! Kau pantas menerimanya, Lucy-san. Sebagai hadiah dari kami karena kalian berhasil menangkap perampok kereta yang sudah lama menjadi buronan kami."
"Lucy!" panggil Sting, ia bosan menunggu wanita pirang dari Fairy Tail itu.
"Baik! Lahar-san, terima kasih!" Tanpa ragu lagi, Lucy mengambil kunci perak pemberian dari Lahar. Ia membungkuk pelan ke pemuda yang merupakan rekan kerja Dobolt itu kemudian menghampiri Sting.
"Berhati-hatilah, Lucy-san. Sting-kun. Tuhan akan selalu melindungi kalian," doa Lahar kepada keduo pirang yang telah pergi jauh dan memasuki kedalaman gelapnya hutan Yzarile. Lahar tidak bisa menghentikan Sting dan Lucy karena misi tetaplah misi, seberapa susahnya misi yang didapat, seorang penyihir harus menyelesaikan misi secara terhormat walaupun nyawa adalah taruhannya.
Bagaimanakah nasib Lucy dan Sting selanjutnya? Kunci perak seperti apakah yang akan menjadi teman baru Lucy dan Sting? Misteri apa yang tersembunyi di pulau Quartz?
Bersambung...
Akhirnya Selesai juga! See You in The Next Chapter
