Oh My Gaara

Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Drama, Hurt and Comfort, Romance

Rate : Teens

Main Cast : Haruno Sakura

Sabaku No Gaara

Warning : Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Pemain lain dapat kalian temukan di sini. Kemungkinan yang akan readers temui adalah typo(s), alurnya ngalur-ngidul, serta kejelekan lainnya. Berhubung otak author ini agak sedikit mesum, karena itu harap berhati-hohoho.

Preview :

"Rasakan itu!" desis Sakura dengan berkacak pinggang.

Namun laki-laki itu tidak memberi reaksi apapun. Dia hanya menyingkap selimut yang menghantam wajahnya itu. Lalu kembali berdiri seperti semula. Matanya memandang Sakura dengan kepala yang miring.

"Apa kau sudah tidak sabar untuk malam pertama?" tanya laki-laki itu dengan wajah datarnya.

Sakura kembali menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi dadanya. Ia menundukkan kepalanya, melihat badannya dari atas sampai bawah. Dia tidak lagi mengenakan terusan hitamnya. Tetapi memakai kemeja putih yang jelas-jelas kebesaran untuknya, panjang kemeja itu menutupi setengah pahanya. Pastilah ini kemeja seorang laki-laki. Dan ia tak tahu ini kemeja siapa.

Tunggu… kemeja laki-laki? Sakura kembali melihat dirinya. Dia tidak mengenakan celana panjang atau apapun kecuali kemeja putih ini. Dan sekarang, laki-laki yang tak dikenalnya sedang menatapnya dengan pakaian yang seperti ini!

"MESUMMM!" Sakura berteriak dengan keras dengan mata terpejam dan wajah merah merona karena malu.

Kira-kira begitulah awal pertemuan Sakura dan Gaara.

Happy Reading!


Chapter 2

"HARUNO SAKURA!"

Seorang gadis berambut pirang yang mengenakan seragam pelayan kafe itu berteriak sampai bola mata aquamarine jernih itu tampak hendak melompat keluar dari tempatnya. Sedangkan Sakura yang diteriaki seperti itu hanya terpaku dengan mata yang terus terbuka. Badannya menegang seketika karena kaget akan suara cempreng yang sebesar halilintar itu.

"Kenapa kau jarang masuk ?" tanya gadis itu dengan tatapan yang mengintimidasi. Sebelum menjawab pertanyaan gadis di depannya ini, Sakura berkedip beberapa kali. Sakura menarik napas dan menjadi normal kembali, dia berdehem sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

"Astaga. Lihatlah gadis ini! Kau punya rahasia, eh?" tanya gadis itu dengan memicingkan matanya.

"Y-ya.. Ini memang rahasia." jawab Sakura dengan suara yang dibuat sepelan mungkin. Gadis berambut pirang itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura yang sedang menoleh ke kiri.

"Hei! Jauhkan wajahmu dariku!" Sakura mendorong gadis itu agar menjauh darinya. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Sakura lalu menatap Sakura dengan pandangan meneliti.

"YURI!" teriak Sakura dengan suara lantangnya.

"Aku memang yuri! Kau mau satu ciuman panjang?" tanya gadis itu dengan memonyongkan bibirnya.

"Dasar gila." umpat Sakura dengan kesal.

"WOHOOO! Kau mengalihkan pembicaraan, teman!" Sakura menghela napasnya.

"Cepat mengaku! Kenapa kau tidak masuk selama seminggu?!" tanya gadis itu dengan berkacak pinggang.

"Ino, ini sangat rahasia." Sakura memperingatkan. Gadis yang bernama Ino itu mendengus keras.

"Apa aku tidak pernah berbagi rahasia denganmu?"

"Oke. Aku akan memberitahumu."

Sakura menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan.

"Aku sudah menikah." Sakura mengaku dengan kepala tertunduk pasrah. Mendengar pengakuan Sakura, Ino membulatkan matanya tak percaya.

"Menikah? Haruno Sakura, teman baiknya yang sama sekali belum pernah pacaran sudah menikah? Apakah itu masuk akal?" Ino berkata dalam hati.

"HARUNO SAKURA!" bentak Ino dengan suara cemprengnya. Sakura yang tadinya menunduk, kini menegakkan kepalanya. Bahunya kembali menegang dengan tubuh yang kaku seperti patung.

"KAU SUDAH MENIKAH?" tanya Ino dengan menguncang-guncang bahu Sakura. Melihat keluakuan gadis berambut pirang itu, Sakura segera membekap mulut Ino dengan kedua tangannya.

"Kau sudah gila? Kau mau menyebarkan rahasiaku ini?" tanya Sakura dengan melihat sekitarnya. Untung saja gudang ini sedang sepi. Kalau mereka berbicara di dapur, mungkin pelanggan dapat terusik karena keributan yang ditimbulkan oleh si gadis berambut pirang ini.

Melihat itu, Ino langsung menjilati telapak tangan Sakura yang menutup mulutnya lalu dia menggigit kecil tangan itu. Sakura pun melepaskan kedua tangannya dan mengelap tangannya ke baju pelayan yang dipakainya.

"Si-siapa yang menikahimu?"

Sakura kembali menggaruk-garuk tengkuknya.

"Aku sudah menceritakannya lewat telepon kan?"

Ino mengerutkan keningnya.

"Maksudmu tentang kau diculik dan tiba-tiba bangun di kamar yang seluas rumahmu itu?" Sakura menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ino itu.

"Maksudmu si laki-laki mesum itu?" tanya Ino lagi. Sakura pun menganggukkan kepalanya lagi.

"Sambung ceritamu! Aku harus mendengar semuanya!" seru Ino dengan mengguncang-guncang bahu Sakura dengan kencang.

"Kau membuatku pusing, Ino." keluh Sakura sambil melepaskan kedua tangan Ino yang mencengkram erat lengannya.

"Ceritakan saja, Sakura!" rengek Ino. Sakura menghela napasnya.

Sakura menarik napas panjang lalu berkata "Baiklah. Aku akan menyambung ceritaku."


"Kau sudah selesai?" tanya Gaara yang duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah buku tebal yang berhubungan dengan bisnis.

"Aku sudah selesai."

Sakura keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk putih. Kemeja putih milik laki-laki yang membalut tubuh Sakura kini telah berganti menjadi kaos berlengan pendek berwarna merah polos dan celana jeans biru tua sebagai bawahannya. Suatu pakaian yang nyaman dilihat dan nampak sederhana sekali.

"Apa kau ini wanita?"

Pertanyaan yang diajukan dengan nada menyindir itu membuat Sakura tersenyum paksa. Ia menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya dan meletakkan handuk yang dipegangnya di atas meja dekat ranjang. Lalu tanpa menjawab, Sakura menarik kursi di hadapan Gaara lalu duduk dengan wajah kesalnya.

"Ya! Aku bukan wanita!" Sakura menjawab dengan berteriak kesal. Gaara mengangguk-angukkan kepalanya.

"Pantas saja. Apa kau seorang waria?" tanya Gaara dengan melihat Sakura dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Apa matamu buta?" Sakura membalas dengan senyum sinis andalannya. Melihat wajah Gaara yang tidak mengeluarkan ekspresi apapun, dia melemparkan bantal yang ada di dekatnya ke arah wajah Gaara karena kesal. Tanpa ekspresi, Gaara menangkap bantal itu dan meletakannya kembali, kemudian menghela napasnya.

"Ganti." ucap Gaara dengan wajah datarnya.

"Apa yang salah dengan ini? Ini nyaman dipakai!" Sakura membalas dengan nada setengah berteriak. Namun Gaara menggelengkan kepalanya sekali, menyatakan bahwa dia sama sekali tidak setuju dengan pernyataan yang keluar dari mulut Sakura.

"Aku tidak mau menggantinya." Sakura memutuskan dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Apa kau ingin baju baru?" Gaara bertanya dengan melirik lemari pakaian yang ada di sudut ruangan.

"Apa itu pertanyaan andalanmu? Berhenti mengatakan itu, idiot!" teriak Sakura dengan meremas rambutnya.

"Kalau begitu apa? Apa harus aku yang menggantikannya untukmu?" tanya Gaara dengan wajah datarnya. Mendengar itu Sakura kembali melotot tak setuju. Dia langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Dasar mesum!" Sakura berteriak dengan melempari Gaara dengan bantal-bantal yang ada di ranjang dengan sekuat tenaga. Lagi-lagi Gaara hanya menghindar dan menangkap semua bantal yang dilempar Sakura.

"Semua laki-laki memang mesum. Ada yang menunjukkannya dan ada yang menyembunyikannya. Dan biasanya, orang yang menyembunyikannya itu lebih mesum daripada yang menunjukkannya!" Gaara mengoceh panjang lebar. Sakura hanya tersenyum paksa.

"Hentikan ocehanmu. Mungkin aku sudah bisa dikatakan gila sekarang." ujar Sakura sambil beranjak dari tepi ranjang.

"Jadi kau sudah jatuh cinta padaku sampai kau merasa gila?"

Sakura membalikkan badan lalu menatap Gaara dengan tatapan tajamnya.

"Sudah kubilang berhenti, bodoh! Aku muak mendengarmu!" bentak Sakura dengan wajah sinis. Setelah itu dia mengambil handuknya lalu mengambil beragam macam pakaian dari lemari itu. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Melihat itu, Gaara hanya tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, Sakura muncul dengan pakaian yang baru. Dia memakai kemeja tangan pendek berwarna biru dongker dengan motif daun-daun musim semi yang berguguran dan celana hitam panjang sebagai bawahannya.

"Kau ingin melamar kerja?" tanya Gaara dengan menatap Sakura yang sedang merotasikan kedua bola matanya.

Tanpa menjawab pertanyaan Gaara yang jelas-jelas hinaan itu, Sakura kembali masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian ia keluar dengan kaos hijau polos lengan pendek yang dipasangkan dengan rok putih bermotif bunga-bunga. Gaara memandangi Sakura dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu dia mengangguk-angukkan kepalanya.

"Itu bagus." komentar Gaara dengan beranjak dari kursinya. Ia pun berjalan mendekati lemari pakaian dan berdiri di sana.

Sakura hanya mendengus sebal lalu kembali ke dalam kamar mandi untuk mengambil semua pakaian yang ingin dicobanya. Dengan bibir yang selalu mengumandangkan umpatan, Sakura keluar dan menyusun semua pakaian yang diambilnya ke dalam lemari pakaian itu. Selesai dengan itu, Sakura mengambil flat shoes putih dan memakainya.

"Kau puas?" tanya Sakura dengan nada sarkastiknya.

"Sedikit." Gaara menjawab dengan menyatukan jari telunjuk dengan jari jempolnya. Namun ia masih menyisakan sedikit jarak di antara kedua jarinya itu.

"Ayo. Kita bisa pergi sekarang." Gaara berkata dengan menarik tangan Sakura dan berjalan keluar dari kamar ini. Sakura yang tangannya digenggam seperti itu hanya mengikuti kemana Gaara pergi tanpa banyak protes.

Gaara melepaskan genggamannya pada tangan Sakura ketika mereka sampai di ruang tengah di rumah ini. Gaara mendudukkan diri di sofa empuknya. Melihat Gaara duduk, Sakura juga ikut duduk di hadapan Gaara.

"Aku rasa kau belum mengenalku." Gaara membuka topik pembicaraan. Mendengar pernyataan Gaara, Sakura langsung merespon dengan menampilkan wajah sinisnya.

"Memangnya kau siapa sehingga aku harus mengenalmu? Artis? Atlet?" Merasa masih kesal dengan sikap Gaara, Sakura membalas dengan nada sinisnya. Ia memalingkan wajahnya, berpura-pura menatap interior rumah mewah ini.

"Aku Sabaku No Gaara." Gaara memperkenalkan dirinya dengan menatap lurus ke arah Sakura yang sekarang sedang menatapnya juga. Ia manggut-manggut.

"Kau pernah dengar namaku?" tanya Gaara dengan nada hati-hati. Dengan cepat Sakura menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku tidak pernah dengar." jawab Sakura dengan polosnya.

"Kau pernah lihat aku sebelumnya?" tanya Gaara lagi. Sakura memandang Gaara dari berbagai macam sudut. Ia meneliti Gaara dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian dia menganggukkan kepalanya.

"Aku yakin.." Sakura menggantung kalimatnya.

"Kau pernah melihatku?" tanya Gaara penasaran.

"Aku yakin. Aku sama sekali tidak pernah melihatmu." Sakura menjawab dengan wajah datarnya. Gaara mengangguk dengan menghela napasnya.

"Kau tidak pernah menonton atau membaca koran atau melihat-lihat majalah?" tanya Gaara.

"Itu membosankan." Sakura menjawab cepat.

"Pantas saja kau tidak mengenalku." Gaara bergumam pelan, namun Sakura masih dapat mendengarnya. Hanya saja, dia pura-pura tidak tahu. Gaara kembali menghela napasnya.

"Berhubung kau bodoh, aku harus mengenalkan diriku sendiri."

Bodoh?

Kening Sakura mengerut. Dalam hati, Sakura mengumpat kesal. Sakura sangat sadar, dia memang tidak pintar. Dan dari caranya bicara, Gaara itu terlihat pintar. Tetapi dia tidak bisa dikatakan bodoh! Lagipula siapa yang mau dipanggil dengan sebutan bodoh? Ayahnya saja tidak pernah memanggilnya dengan sebutan bodoh.

Saat Sakura ingin membuka mulut untuk membalas ocehan Gaara, Gaara sudah lebih dulu membuka mulutnya untuk bicara.

"Aku Sabaku No Gaara. Direktur perusahaan, tempat Ayahmu bekerja."

Sakura yang tadinya kesal dan tidak terlalu peduli dengan kemana arah pembicaraan ini langsung melebarkan matanya. Napasnya tercekat seketika. Dia menatap Gaara dengan pandangan tak percaya.

"Ka-kau direkturnya?!" tanya Sakura dengan tatapan tak percayanya. Gaara menganggukkan kepalanya dengan tenang.

"Be-berarti orang yang mau menikah denganku itu adalah kau?!" Sakura bertanya lagi dengan menunjuk Gaara yang bertahan pada ekspresi datarnya itu.

"Ya. Aku akan menikahimu." jawab Gaara dengan mantap.

"Kita bisa menikah besok kalau kau mau." timpalnya tanpa keraguan sedikit pun.

Mendengar semua itu, Sakura hanya bisa cengo di tempat seperti orang bodoh. Sedangkan Gaara tersenyum tipis, atau bisa dikatakan sebagai seringaian.

"Be-besok?" Sakura membeo dengan tatapan tak percaya. Untuk merespon pertanyaan Sakura, Gaara hanya menganggukkan kepalanya.


"Dan kami melaksanakan pernikahan itu beberapa hari yang lalu. Karena itulah, aku tidak masuk kerja akhir-akhir ini." Sakura mengakhiri ceritanya. Ino manggut-manggut seolah mengerti.

"Hmm.. Aku mengerti, pasti berat untukmu." Ino menanggapi sembari menepuk-nepuk pundak Sakura.

"Aku bersyukur punya teman yang pengertian sepertimu, Ino." Sakura membalas dengan menepukkan tangannya beberapa kali pada bahu Ino.

"Jadi.. Sudah berapa kali kau melakukan itu dengannya? Karena dia pria yang mesum, pasti kau kewalahan menghadapinya." ucap Ino yang menatap Sakura dengan pandangan yang menggoda. Mendengar pertanyaan Ino, Sakura langsung melepaskan tangannya yang bertengger di bahu Ino.

"Apa maksudmu dengan melakukan itu?! Kau kira aku ini wanita mesum? Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan itu dengannya!" jawab Sakura dengan berseru marah.

"WOHOOO! Aku tahu bagaimana dirimu Sakura!" Ino membantah dengan senyum yang tak dapat Sakura mengerti apa artinya.

"A-apa? Kau yang mesum! Apa yang kau pikirkan? Dasar idiot! Apa tidak ada hal lain yang ada di otakmu selain hal-hal mesum?" Sakura berseru dengan berkacak pinggang. Jika ini adalah sebuah kartun, mungkin sekarang sebuah persimpangan sudah muncul di pelipis Sakura. Ino hanya terkekeh saja.

"Jangan menghianati dirimu sendiri, teman. Kau juga orang yang mesum sepertiku. Kau kira aku tidak pernah melihat foto laki-laki bertelanjang dada di ponselmu? Kau kira aku tidak pernah memeriksa betapa mesumnya history browser-mu?"

Mendengar semua celotehan Ino, Sakura hanya bisa menjambak rambutnya karena frustasi. Tiba-tiba saja darahnya mendidih seperti ingin keluar dari ubun-ubunnya. Dan ini semua karena ocehan Ino yang sama sekali tak bermutu untuk didengar. Mungkin hasrat untuk menonjok Ino sudah ada di level tertinggi sekarang. Namun Sakura menahannya dengan menghembuskan napas perlahan. Sedangkan Ino menampilkan senyum mengejeknya seolah mengatakan 'aku-benar-kan?'

"FOTO YANG KAU LIHAT ITU ADALAH FOTO ARTIS FAVORITKU! DAN ITU HANYA SATU! KARENA KAU YANG MENYIMPANNYA! DAN HISTORY BROWSER? KAU SERING MEMINJAM PONSELKU UNTUK MELIHAT SEMUA ANIME HENTAI KESUKAANMU, TEMAN! DASAR KAU WANITA MESUM!" teriak Sakura dengan napas terengah-engah karena dia berteriak sekuat tenaga. Ino yang mendengar semua itu hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

"Hei! Sakura! Ino! Apa aku membayar kalian untuk mengobrol?" tanya seorang wanita berambut pirang yang dikuncir dua. Tiba-tiba saja dia muncul di ambang pintu gudang. Mata coklat muda itu berkilat marah saat ia melihat Ino dan Sakura.

"Maafkan kami." ucap Ino dan Sakura dengan membungkukkan badan mereka dalam-dalam. Namun wanita itu hanya bergumam tidak jelas.

"Kembali bekerja!" perintahnya dengan tegas.

Setelah menyelesaikan kalimat perintahnya, wanita itu berlalu meninggalkan Sakura dan Ino. Melihat bahwa wanita cantik itu sudah pergi, Sakura dan Ino menghembuskan napas lega.

"Ayo. Kita harus kembali bekerja." ucap Ino dengan menggandeng Sakura untuk keluar dari gudang.

Begitu keluar dari gudang, Sakura dan Ino langsung mengambil tugas masing-masing. Ino segera berdiri dengan senyum manisnya di antara meja-meja yang penuh dengan pengunjung untuk mencatat semua pesanan mereka. Sedangkan Sakura langsung berdiri di depan wastafel. Seperti hari-hari sebelumnya, ia berkutat denga peralatan dapur yang kotor. Melihat tumpukan piring kotor yang menggunung di depannya, Sakura hanya menghela napas. Ia memakai sarung tangannya lalu mulai mencuci piring.

"Haruno Sakura!" suara seruan itu membuat Sakura menghentikan kegiatannya. Dia segera melepaskan piring kotor yang dipegangnya. Kemudian dia pergi ke sumber suara, yaitu dapur.

"Y-ya? Apa ada yang memanggilku?" tanya Sakura dengan tersenyum ramah. Seorang gadis berambut merah yang berantakan langsung berdiri di depan Sakura. Ia memberikan wajan besar yang penuh dengan noda serta beberapa alat masak lain yang diletakkan di dalamnya.

"Tolong cucikan ini lebih dulu. Para pelanggan mulai menggila." Setelah menyelesaikan penjelasannya, wanita itu membenarkan letak kacamatanya. Sakura mengangguk mengerti lalu kembali ke tempat kekuasaannya, wastafel.

Dengan cekatan, Sakura keluar ruangan. Luar ialah tempat untuk mencuci dengan leluasa. Berhubung di luar cukup luas, siapapun dapat duduk dan mencuci wajan yang besar dengan nyaman. Sakura segera membersihkan semua noda yang lengket dengan sapuan spons miliknya. Begitu juga dengan semua peralatan masak yang diletakkan dalam wajan itu. Kemudian ia membasuhnya dengan air lalu mencelupkannya ke dalam ember besar. Setelah itu, Sakura kembali cepat-cepat masuk ke dalam untuk mengembalikan semua peralatan itu ke tangan juru masak.

"Semuanya sudah selesai." ucap Sakura saat dia menyerahkan semua peralatan masak itu pada gadis berambut merah.

"Maaf. Aku tak sempat mengelapnya." Sakura menimpali saat sang gadis menerima semua peralatan masak dan mulai menyusunnya ke dalam dapur. Dengan cekatakan, ia meletakkan wajan di atas kompor. Lalu dia membesarkan api yang menyala pada kompor itu sehingga sisa-sisa air berubah menjadi uap dengan cepat.

"Tak apa. Setelah selesai dengan pekerjaanmu, tolong berbelanja. Kita kehabisan beberapa bahan." ujar wanita itu sambil memotong-motong daging dengan terampil.

"Baiklah." jawab Sakura sebelum dia undur diri.

"Daftar belanjanya sudah kutempel di kulkas. Dan uangnya bisa kau minta dari kasir." tambah gadis itu dengan menuangkan minyak ke dalam wajan. Sakura hanya tertawa kecil.

"Aku mengerti, Karin. Selamat bekerja!" balas Sakura lalu berlalu dari dapur.

Sakura kembali ke rutinitasnya, yaitu mencuci piring yang menumpuk seperti gunung. Tanpa mengeluh, Sakura mulai melakukan pekerjaannya. Ia mencuci piring, gelas, mangkuk, dan yang lainnya dengan sapuan spon yang sudah dicelupkan ke dalam air yang sudah dia campur dengan cairan pembersih. Setengah jam kemudian, Sakura berhasil menyelesaikannya. Rasanya badannya pegal, terutama kakinya karena dia harus terus berdiri.

Berbagai peralatan makan sudah bersih dan dapat langsung dipakai lagi. Semuanya sudah dia susun rapi dalam rak. Teringat akan pesan dari Karin, Sakura buru-buru melepaskan sarung tangan yang dipakainya. Lalu dia segera masuk ke dapur dan berdiri di depan kulkas.

Di pintu kulkas, sudah tertempel secarik kertas yang berisi daftar bahan belanjaan yang harus ia beli. Melihat itu, Sakura pun melepaskan magnet yang mengapit kertas itu kemudian memasukkan kertas itu ke dalam saku celananya. Setelah itu, dia segera berjalan menuju kasir untuk menagih uang belanja.

"Minta uang belanja."

Sakura meletakkan telapak tangannya di hadapan seorang laki-laki berambut coklat jabrik yang sedang asyik menghitung uang. Mendengar suara Sakura, laki-laki dengan tato segitiga merah di kedua pipinya itu tersenyum lebar sehingga barisan gigi-gigi tajamnya terlihat.

"Wah, magang kita mempunyai banyak tugas rupanya." Laki-laki itu berkata sambil mengacak-acak rambut Sakura yang diikat satu sehingga berantakan.

"Dasar gila!" umpat Sakura dengan tawa kecil. Ia menyingkirkan tangan laki-laki itu dari kepalanya.

"Aku serius, Kiba! Aku perlu uang belanjanya. Karin bisa mengomel kalau aku belum belanja juga!" Laki-laki bernama Kiba itu hanya terkekeh lalu memberikan jatah uang belanja pada Sakura.

"Kau pergi dengan siapa?"

"Sendirian." Sakura menjawab sambil memasukkan uang belanja itu ke dalam saku celananya. Selesai menghitung uang, Kiba memasukkan uang itu ke dalam mesin penyimpan uang.

"Haruskah aku menemanimu?" tanya Kiba dengan mengambil jaketnya yang dia simpan di bawah meja. Sakura hanya terkekeh kemudian menggelengkan kepalanya.

"Aku bisa melakukannya sendiri. Tenang saja, Kiba!" jawab Sakura dengan menepuk-nepukkan lengan kiri yang dia tekuknya.

"Hati-hati di jalan." Kiba kembali mengacak-acak rambut Sakura. Sakura hanya mendengus sinis sambil merapikan rambutnya.

"Aku akan segera kembali." Sakura pun pergi meninggalkan Kiba.

Setelah mendapat daftar belanjaan dan uang untuk berbelanja, Sakura segera melangkah keluar dari restoran lewat pintu belakang. Sambil berjalan menuju jalan raya untuk mencari kendaraan umum, Sakura menguncir ulang rambutnya dan sedikit merapikan pakaiannya. Begitu dia sampai di bagian depan restoran yang bertepatan di tepi jalan raya, Sakura berdiri di samping halte untuk menunggu bus yang akan membawanya ke pasar.

Sembari menunggu, tiba-tiba saja sebuah mobil berjalan lambat ke arahnya. Saat posisinya tepat di depan Sakura, mobil mewah itu benar-benar berhenti. Sakura yang matanya sibuk memandangi bus mulai mengumpati sang pengemudi karena berhenti di jalur bus. Melihat bahwa bus yang akan dinaikinya melaju untuk berhenti ke halte, Sakura cepat-cepat mengetuk kaca mobil itu.

"Hei! Jangan parkir di sini! Bus itu mau berhenti di depan halte ini!" teriak Sakura sambil menggedor-gedor kaca mobil itu. Tanpa diduga-duga, sang pengemudi membuka kaca mobil yang diketuk-ketuk Sakura.

Emerald Sakura menatap pengemudi itu. Dia mengenakan kemeja coklat polos dengan celana hitam panjang. Dan saat Sakura menatap wajah sang pengemudi itu, Sakura membulatkan kedua matanya. Pengemudi ini adalah laki-laki berambut merah yang selalu setia memasang wajah datarnya. Sekarang manik emerald miliknya sedang beradu dengan iris pale green sang pengemudi. Sakura menghela napas panjang.

"Singkirkan mobilmu, Gaara." Sakura berkata dengan nada memerintah. Namun Gaara masih setia menatap Sakura yang sepertinya mulai terbakar dengan api emosi.

"Aku tidak mau." balas Gaara dengan nada datarnya.

"Kau menghalangi bus! Pergilah!" seru Sakura dengan mata yang masih fokus menatap bus yang hendak berhenti di depan halte dimana dia berdiri.

"Masuklah ke dalam." perintah Gaara dengan nada penuh penekanan. Sakura hanya berdecak sebal.

"Lebih baik kau bekerja." balas Sakura dengan wajah sinisnya.

"Aku sudah memberitahumu kan?" Sakura mengerutkan kening lebarnya.

"Kau ini bicara apa sih?" Sakura balik bertanya dengan gusar. Gaara menghela napas.

"Waktu kita bangun tidur!" jawab Gaara dengan kesal. Sakura pun mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan tadi pagi dan kemarin malam.


"SAKURA! APA KAU SUDAH GILA? BANGUN SEKARANG! BANGUN! AYAH SUDAH SIAP BEKERJA SEDANGKAN KAU MASIH TIDUR? BANGUNLAH SAKURA! AYAH MAU PERGI KERJA! SEDANGKAN KAU HARUS KE SEKOLAH! AYO, BANGUN! PUTRI AYAH TIDAK BOLEH MALAS-MALASAN BEGINI! APA KAU MAU KEBERUNTUNGANMU DICURI OLEH AYAM? KAU MAU? SAKURA! JAWAB AYAH! SAKURA!"

Mendengar suara berat yang tak asing di telinganya itu, Sakura membuka matanya sebagian. Ia terbangun dengan kesadaran yang baru menyala sebagian. Itu adalah suara teriakan Ayahnya yang berusaha membangunkannya di pagi hari. Sebenarnya waktu itu, Sakura sudah bangun, namun dia pura-pura tertidur sehingga dia bisa merekam suara Ayahnya untuk membangunkannya. Sejak saat itu, Sakura selalu memasang rekaman itu sebagai alarm paginya.

Dengan mata yang setengah terbuka, Sakura sibuk menggerakkan tangannya untuk meraba-raba meja yang diletakkan di samping ranjangnya itu. Ia berusaha untuk menggapai ponselnya yang mengeluarkan suara Ayahnya sebagai alarm untuk membangunkannya. Setelah mendapat ponselnya, Sakura langsung mematikan alarm itu lalu kembali menutup matanya.

"Sekarang rumahku dekat dengan sekolah. Jadi aku akan tidur setengah jam lagi, Ayah." Sakura bergumam sambil merubah posisi tidurnya jadi menyamping, yaitu badannya menghadap ke kanan. Saat Sakura memejamkan matanya untuk kembali tidur, ia merasa ada sepasang tangan yang melingkari pinggangnya. Dan tangan itu menariknya untuk lebih dekat ke sisi kiri ranjang. Sakura yang masih ingin tidur, tak menghiraukan tangan itu. Ia hanya menutup matanya lalu kembali terlelap menuju dunia mimpi yang menyenangkan.

"Kau tidak sekolah?"

Karena belum benar-benar terlelap, suara berat yang terdengar seksi itu terdengar jelas di gendang telinga Sakura. Ia bahkan merasakan ada desah napas di sekitar lehernya sehingga dia menggeliat kegelian. Ia berusaha untuk menjauhkan dirinya agar tak terkena hembusan napas itu, namun ia malah ditarik lebih dekat.

"Ini saatnya liburan, Yah." jawab Sakura yang masih setengah sadar. Bahkan saat ia menjawab pertanyaan itu, matanya masih terpejam.

"Berarti kau kosong?" tanyanya lagi. Kini dia menenggelamkan kepalanya di cerukan leher Sakura. Sakura hanya bergumam tidak jelas untuk menjawab pertanyaan itu.

"Aku tidak akan ke kantor hari ini."

"Ayah tidak boleh bolos."

"Aku akan bolos karena aku direkturnya."

Mendengar pernyataan itu, Sakura langsung memutar badannya sehingga ia menghadap ke kiri. Dia membuka matanya. Sekarang dia sudah sadar sepenuhnya.

Rambut merah.

Iris mata hijau.

Sakura membulatkan kedua matanya.

"GAARA?! APA YANG KAU LAKUKAN? DASAR MESUM!" Sakura berteriak histeris dengan melepaskan kedua tangan Gaara yang memeluk pinggangnya dengan erat. Sakura segera menyingkapkan selimutnya lalu turun dari ranjang. Dia sedang membuat jarak aman sejauh mungkin dari Gaara.

"Apa kau sedang menggodaku?" tanya Gaara yang sekarang duduk bersandar pada bantal. Ia menarik selimutnya dan menatap wajah Sakura yang merahnya seperti udang rebus. Entah dia sedang demam, malu, atau marah. Gaara tidak dapat membedakannya.

Sakura menatap dirinya sendiri. Sekarang dia sedang mengenakan kaos hitam yang kebesaran di tubuhnya. Panjang kaos itu sampai setengah pahanya. Sebenarnya di balik kaosnya itu, Sakura masih memakai celana pendek. Namun karena kaos itu kebesaran, dia terlihat tidak memakai apapun di bawah kaos itu.

"Ka-kau! Dasar gila! Bagaimana kau bisa masuk ke sini saat aku mengunci pintu dan jendela rapat-rapat?!" tanya Sakura dengan melihat jendela dan pintu yang masih tertutup rapat.

"Aku punya kunci cadangan." Gaara menjawab dengan menunjukkan kunci yang dia ambil dari atas meja yang ada di dekat ranjang. Sakura menghela napasnya.

"Dasar gila! Keluar dari kamar ini sekarang juga!" teriak Sakura dengan berkacak pinggang. Gaara menggelengkan kepalanya.

"Tidak mau." Mendengar balasan Gaara itu, Sakura hanya menghela napas sambil memijit-mijit pelipisnya yang berdenyut sakita karena kegilaan yang diciptakan Gaara.

"Kau pusing? Aku bisa memijatmu. Kalau mau ada plus plus-nya juga boleh." Gaara tersenyum mesum. Sakura pun bergidik ngeri sambil mengusap-usap kedua lengannya.

"Tidak! Dipijat olehmu adalah hal mengerikan!" bentak Sakura kesal.

"Mengerikan bagaimana? Kita kan sudah sah sebagai suami-isteri." balas Gaara dengan terkekeh pelan.

Sakura kembali menghela napas. Dia memutuskan untuk tidak menghiraukan Gaara yang menurutnya menjadi lebih agresif dari sebelumnya. Dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil celana panjang lalu memakainya.

"Kenapa pakai celana panjang? Aku lebih suka melihatmu dengan penampilan yang tadi." Gaara berkomentar. Sakura hanya menatap sinis Gaara lalu mendengus kesal.

"Turun dari ranjang." perintah Sakura dengan nada penuh penekanan.

"Kau mau bermain di tempat lain?" tanya Gaara dengan nada menggoda. Sakura hanya tersenyum paksa.

"Aku mau membereskan tempat tidur. Jadi jangan bermimpi, idiot!"

Meskipun Gaara tidak bergerak turun, Sakura sudah mulai membereskan ranjangnya. Ia menyusun bantal-bantal. Kemudian menarik selimut yang dipakai Gaara secara paksa dan melipatnya. Melihat Sakura yang sepertinya sudah jengkel setengah mati, Gaara pun beranjak dari ranjang. Dia membuka pintu lalu keluar dari kamar itu, membiarkan Sakura meredam kemarahannya dengan cara membereskan tempat tidur.


"Masuklah. Kau membuat supir bus itu jengkel." bujuk Gaara dengan melihat ke belakang. Bus itu sudah semakin dekat dengan mobil Gaara. Kalau supir bus itu tidak sabar akan tingkah pasangan suami-istri ini, mungkin dia akan menabrakkan busnya sehingga mobil Gaara hancur.

"Aku mau ke pasar." kata Sakura dengan pendek.

Geram dengan Sakura yang keras kepala, Gaara pun keluar dari mobilnya. Ia membukakan pintu mobil untuk Sakura dan mendorong Sakura untuk masuke ke dalamnya. Kalah dengan tenaga Gaara, akhirnya secara paksa Sakura duduk di dalam. Begitu Sakura duduk manis di kursi penumpang, Gaara segera menutup pintu. Setelah itu, Gaara kembali ke kursi kemudinya. Ia menutup pintu mobil lalu memakai safe belt.

"Kau harus pakai safe belt." Gaara pun memiringkan badannya untuk mendekat ke arah Sakura. Dia mengulurkan tangannya untuk menarik sabuk itu dan memakaikan safe belt itu untuk Sakura. Tetapi Sakura tak menunjukkan reaksi apapun. Mungkin saja dia masih kesal dengan Gaara karena itu Sakura tidak merasakan apapun.

"Jadi kita akan kemana?" tanya Gaara yang sudah bersiap untuk melajukan mobilnya.

"Pasar tradisinonal!" Sakura menjawab dengan nada ketus. Gaara menganggukkan kepalanya.

"Mari berbelanja, Nyonya Sabaku."

Gaara tersenyum tipis kemudian menginjak pedal gasnya. Mobil itu melaju menyusuri jalan raya, meninggalkan halte sehingga bus yang ada di belakang mobil Gaara dapat berhenti tepat di depan halte. Sedangkan Sakura hanya diam sambil memandangi tepi jalan dari jendela mobil yang ada di sampingnya.

"Semoga ini bukan hari sial untukku." gumam Sakura dengan memejamkan matanya.

Dia pun melepas penat dengan menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Sekilas ia menandang Gaara yang sedang menyetir. Seulas senyum tipis terpatri di wajah laki-laki yang biasanya datar seperti papan tulis. Melihat senyum tipis itu, Sakura kembali membuang wajahnya. Ia lebih memilih untuk beristirahat dengan menatap jendela di sampingnya. Daripada dia menatap wajah Gaara yang membuat darahnya mendidih karena tingkah lakunya yang membuat Sakura kesal, lebih baik dia tertidur dengan memandangi bangunan yang ada di tepi jalan!


To Be Continue

HALLO SEMUANYA! AKHIRNYA SAYA BISA KEMBALI KE SINI DENGAN SEHAT DAN SELAMAT SENTOSA! DAN KALIAN DAPAT BERTEMU DENGAN AUTHOR LAGI DI CERITA INDAH DARI AUTHOR YANG LUMUTAN INI! SELAMAT DATANG KEMBALI SEMUANYA! AUTHOR BAHAGIA BANGET KARENA TERNYATA ADA YANG MINAT BACA FIC AMATIR DARI AUTHOR LUMUTAN INI. RASANYA TU YAAA ULALAAAA!^^ #GAKBISASELO #TERHURA #TERLALUBAHAGIA

Oke deh, sekarang kalian semua telah author invite ke BA yaitu Bacot Area! Kekeke... Sekali lagi, author ucapkan selamat datang! Sebelum kita masuk ke acara pembalasan review, author mau ngomong dikit aja. Bentar aja kok, nggak banyak hehehe.

Jadi gini, author minta maaf banget karena mungkin ini adalah update tercepat untuk fic ini. Kalau misalkan author mulai sekolah lagi, mungkin update-nya sekitar dua minggu setelah update terakhir. Pokoknya untuk urusan update, author minta maaf yang sebesar-besarnya. Karena kalo untuk urusan yang satu ini, pasti lelet mulu. Kagak pernah cepet. Karena kurikulum 2013 yang cantik jelita ini, author jadi kayak sibuk banget. Kayak yaa… Tugas presentasi, PR, latihan, catatan, banyaknya nggak ketolongan lagi. Mana kita ada ekskul, nambah lelah hayati. Warning ini sengaja author kasih dengan harapan kalian semua bisa memaklumi author sedikit. Dan semoga aja kalian nggak lumutan nunggu update dari fic amatir ini.

Hmm.. Okelah. Kita langsung lanjut aja ke acara berikutnya. Apalagi kalau bukan pembalasan review! #tepuktangan

Cekidot!

Azuma Sarafine : Hallo! Ini udah dilanjutin loh, jangan ga dibaca. Kayaknya pairing buat fic ini Gaasaku terus deh, tapi kayaknya lohh… Tapi pantau terus aja ya, jadi author harap kita bisa bertemu lagi di chap selanjutnya! Sebelumnya makasih loh karena udah mau singgah dan meninggalkan jejak;)

Guest : Hohoho.. author bersyukur kalau kamu suka sama fic Gaasaku ini, rasanya terharu denger kamu ngomong gitu #baper Btw, ini udah di update yaaa.. Jangan lupa di baca loh, kalau bisa sih di review juga ehehehe… Oh ya, makasih loh karna mau mampir plus ngasih review. Semoga kamu muncul lagi ya di chap selanjutnya:)

Yuinee5 : Amin aja ya, semoga aja akan lucu sehingga kamu dan readers yang lain juga terhibur pas baca fic ini. Sejujurnya sih author sama sekali nggak merasa kalau ada humornya di sini. Kalau author baca ulang fic ini, author emang senyum-senyum karna ngebayangi cowok mesum kayak Gaaara –ups! #ketauanmesumnya Ahahaha.. pokoknya sampai jumpa di chap selanjutnya! Jangan lupa mampir lagi ya! Untuk kehadiran dan reviewnya, author ucapkan terima kasih:)

Arum Junnie : Ini dia update-an dari author lumutan! Maafkan author karna ini ga cepat. Bener banget! Remaja itu masa dimana kita lagi pengen hidup sebebas-bebasnya, tanpa aturan dan tanpa tekanan. Sayangnya, Sakura yang malah malah terkekang karena sudah tidak lajang lagi. Ya.. author sengaja buat pertemuan pertama yang mengesankan seperti itu. Maksud author sih supaya Sakura nggak cepet lupa sama Gaara, biar susah move on gitu ceritanya. Kalau masalah rate, author masih bimbang. Author ngasih rate T karena author nggak bakal masukin adegan ranjang. Tapi kayaknya fic ini justru menjurus ke rate M ya? #bingungsendiri See u in da next chap! Btw, makasih loh udah nyempetin baca dan review fic ini:)

Shionna Akasuna : Hmm.. dibuat rate M, ya? Kembali lagi dengan masalah rate. Author itu bingung banget buat nentuin rate buat fic yang beginian. Author sih pengennya fic ini rate T terus ya, soalnya kan ini masih bahas kehidupan remajanya Sakura walaupun dia udah nikah sama Gaara. Sebenernya rate T ini author pakek sebagai reminder juga. Maksudnya supaya dalam fic ini gak ada adegan ranjang dan kata-kata yang vulgar. Tapi kalau misalkan rate M, sejujurnya author kayaknya nggak sanggup deh. Tapi nggak tahu juga sih, soalnya ini baru pertama kalinya dan otak author kan sedikit mesum juga #mengakulagi #kembalibingung #dilandakeraguan #galau Tapi, makasih banyak untuk sarannya. Author bakal pikirin lagi masalah rate ini! Sampai jumpa di chap selanjutnya ya! Karena udah mampir dan ninggalin review, author ucapkan terima kasih:)

Jamurlumutan462 : Haiiii! Loh kok nama kita sama?! Jangan-jangan kita jodoh karena pikiran kita untuk buat pen-name ini sama?! (?) #ngayal Tapi mungkin aja gender kita sama hehehe.. Di sini Gaasaku kiyutt ya? Gemes liatnya, jadi pengen latihan tinju deh sama Gaara! (?) Umur Gaara ya? Tebakan kamu berapa? Kamu maunya berapa? Masalah umur Gaara… itu rahasia! Hohoho… ikutin ceritanya terus yaa! Makasih karna udah mau nunggu, buat kehadiran dan review di chap kemaren, makasih juga ya!:)

Rina227 : Author kembali bersyukur karena ada lagi yang bilang kalau dia suka sama fic ini #sujudsyukur Tulisannya juga rapi? Author kembali bersyukur. Syukur deh kalau ada yang bilang rapi, author jadi semangat buat nerusin fic pertama ini hehehe.. Author juga suka sama Gaasaku, mereka kiyut kan di sini? Ciee nanyain umur Gaara juga. Kalau tebakan kamu gimana? Kira-kira di sini umurnya Gaara berapa? Buat umur Gaara, itu masih rahasia ya! Hohoho... Kalau masalah konflik sih, author juga nggak pengen yang berat-berat. Karena konflik yang ribet itu bisa aja buat rambut author botak..

Luca Marvell : Yahh.. yang kamu liat sendiri. Gaara emang si direktur mudanya dan dia author pasangin sama Sakura yang masih bocah banget pikirannya. Tapi gapapa kan? They look so cute together #sokinggris Oh ya, makasih ya karena udah nyempetin berkunjung dan ninggalin review. Sampai jumpa di chap selanjutnya:)

Okeh, author rasa sekian dulu untuk sesi pembalasan review-nya. Tapi author juga makasih loh buat readers lainnya yang belum muncul. Author seneng karna kalian udah luangin waktu buat baca fic ini. Buat yang nge-follow dan nge-favorit, author juga mengucapkan makasih loh! Pokoknya author hanya bisa berterima kasih sama kalian semua. Karna kalian semua, author ngerasa bahagia dan seneng banget! Sekali lagi, makasih semuanya! Sampai jumpa di chapter selanjutnya, ya? Papaiiiii!