Oh My Gaara
Chapter 3
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Drama, Hurt and Comfort, Romance
Rate : Teens
Main Cast : Haruno Sakura
Sabaku No Gaara
Warning : Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Pemain lain dapat kalian temukan di sini. Kemungkinan yang akan readers temui adalah typo(s), alurnya ngalur-ngidul, serta kejelekan lainnya. Berhubung otak author ini agak sedikit mesum, karena itu harap berhati-hohoho.
Preview :
"Jadi kita akan kemana?" tanya Gaara yang sudah bersiap untuk melajukan mobilnya.
"Pasar tradisinonal! Dasar orang tua! Begitu saja sudah lupa." Sungut Sakura dengan nada ketus. Gaara tidak mengindahkan rutukan Sakura, dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Mari berbelanja, Nyonya Sabaku."
Gaara tersenyum tipis kemudian menginjak pedal gasnya. Mobil itu melaju menyusuri jalan raya, meninggalkan halte sehingga bus yang ada di belakang mobil Gaara dapat berhenti tepat di depan halte. Sedangkan Sakura hanya diam sambil memandangi tepi jalan dari jendela mobil yang ada di sampingnya.
"Semoga ini bukan hari sial untukku." gumam Sakura dengan memejamkan matanya.
Dia pun melepas penat dengan menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Sekilas ia memandang Gaara yang sedang menyetir. Seulas senyum tipis terpatri di wajah laki-laki yang biasanya datar seperti papan tulis. Melihat senyum tipis itu, Sakura kembali membuang wajahnya. Ia lebih memilih untuk beristirahat dengan menatap jendela di sampingnya. Daripada dia menatap wajah Gaara yang membuat darahnya mendidih karena tingkah lakunya yang membuat Sakura kesal, lebih baik dia tertidur dengan memandangi bangunan yang ada di tepi jalan!
Happy Reading!
Chapter 3
Suasana di dalam mobil Gaara dapat disamakan dengan kuburan lama karena atmosfer keheningan melingkupi mereka berdua. Gaara masih fokus dengan menyetir, sedangkan Sakura masih sibuk menatap bangunan-bangunan di tepi jalan melalui kaca jendela. Tidak ada yang mau mengalah untuk membuka topik pembicaraan. Keduanya masih bertahan dengan ego masing-masing. Sakura yang masih kesal dengan Gaara yang muncul tiba-tiba memilih untuk tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sedangkan Gaara yang sadar kalau dialah penyebab kekesalan Sakura memilih untuk menahan dirinya karena takut Sakura akan bertambah kesal jika ia bicara.
"Bagaimana kalau kau berhenti kerja?" Gaara menyerah. Akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya untuk membuat satu topik pembicaraan agar keheningan di antara mereka musnah.
"Tidak mau." Sakura menjawab dengan nada ketusnya. Kepalanya tetap dia arahkan pada kaca jendela yang ada di sebelahnya. Tak sedikit pun ada niat untuk memandang wajah Gaara yang mengajaknya untuk berdiskusi.
"Aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu." Decakan sebal langsung berkumandang dari Sakura. Terlihat jelas sekali kalau mood Sakura sudah bertambah buruk dari yang sebelumnya.
"Aku tahu." balas Sakura sekenannya. Gaara menghela napas pendek.
"Sakura.."
"Dengar. Aku tahu kau bisa memenuhi semua kebutuhanku. Tidak, bahkan semua permintaanku. Sekalipun aku minta tujuh kilogram batang emas, kau pasti bisa memberinya. Karena apa? Karena kau adalah orang kaya! Kau direktur sebuah perusahaan hebat! Aku tahu itu dengan sangat baik. Kau tidak perlu mengatakannya padaku!" potong Sakura dengan seruan kesal. Kini dia menatap Gaara yang duduk menyetir di sampingnya. Sesekali, Gaara curi-curi pandang untuk melihat bagaimana ekspresi Sakura. Siapapun yang melihat wajah Sakura dalam sekali lihat pasti tahu bahwa gadis itu sedang marah dan kesal. Bukannya merasa menyesal ataupun merasa bersalah, senyuman tipis malah terukir di wajah Gaara.
"Kalau begitu kenapa kau tidak mau berhenti kerja?" tanya Gaara dengan tenang.
Dia seakan kembali ke Gaara yang sebelumnya. Dia kembali bertingkah seperti air yang tenang, susah sekali untuk ditebak. Entah apa yang ada di pikirannya, kita tidak tahu. Apa yang dia inginkan, kita tidak bisa menebaknya. Wajar saja, dia adalah orang dewasa yang memang terbiasa untuk berpikir dengan kepala dingin. Untuk menghadapi semua masalah pastilah dia bersikap tenang dan santai. Berbeda sekali dengan Sakura yang masih anak-anak. Apapun yang dia pikirkan, semua tercetak jelas melalui wajah dan ekspresinya. Ditambah lagi dengan gestur badannya, kita bisa tahu semuanya.
"Kau tidak mengerti juga?" Sakura balik bertanya dengan sudut bibir yang terangkat. Dia menghembuskan napas. Sedangkan Gaara belum memberi respon, dia tetap diam untuk menunggu Sakura mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Aku tidak mau bergantung padamu, bodoh!" Sakura berteriak kesal sampai wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Gaara kembali tersenyum tipis.
"Kalau begitu, pisah rumah saja."
Sakura membelalakkan matanya tak percaya. Pisah rumah? Bukannya itu merupakan satu langkah menuju perceraian? Bukannya waktu itu pria dewasa ini menyobekkan kertas formulir saat Sakura menyerahkan formulir untuk bercerai? Sekarang dia minta untuk pisah rumah? Sakura benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki ini dan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Gaara.
Berbagai macam pertanyaan mulai menghantui pikiran Sakura. Tapi yang paling menggangu adalah, apa tujuan Gaara menikahinya? Kalau dipikir-pikir lagi, bukannya dia bisa meminta Ayahnya melunasi hutang itu dengan tambahan bunga yang mencekik leher? Atau menyita semua perabotan rumah sebagai jaminan kalau dia tidak bisa melunasi hutang agar dia bertambah kaya? Tetapi kenapa harus Sakura yang jadi jaminannya?
Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang menyarankan dirinya sebagai jaminan? Ayahnya sendiri? Tidak mungkin. Ayahnya tidak mungkin setega itu untuk menyerahkan putri semata wayangnya demi melunasi hutangnya. Lalu… Gaara? Kalau itu Gaara, apa motif Gaara untuk meminta dirinya sebagai jaminan?
Sebenarnya Sakura sudah sangat sadar. Dia sadar bahwa dirinya memang jelek. Rambut merah muda sebahunya yang kusam dan gersang selalu diikat berantakan. Dia punya kening yang lebarnya seluas lapangan parkir. Badannya juga pendek, untung tidak sependek kurcaci dalam dongeng. Yang dapat mengurangi sedikit kadar kejelekannya adalah kulitnya lumayan putih. Hanya itu saja yang dapat dilihat dari dirinya. Intinya adalah dia adalah orang yang jelek!
Jadi apa alasan Gaara untuk menikah dengan orang jelek sepertinya? Perlu ditambahkan juga bahwa dia juga anak orang miskin. Padahal Gaara bisa mendapatkan perempuan yang lebih cantik plus seksi yang hartanya tidak habis delapan turunan. Atau jangan-jangan Gaara menikahinya justru untuk menghindar dari perjodohan yang harusnya terjadi?
"Bagaimana kalau kita bercerai?" tantang Sakura dengan memperhatikan wajah Gaara. Sakura sudah tidak tahan lagi dengan segala pertanyaan yang menonjok benaknya sehingga kepalanya terasa sakit. Jadi untuk lebih jelasnya, dia akan memancing Gaara. Namun untuk merespon usulan Sakura, Gaara hanya mengangkat sudut bibir membentuk seringain iblis.
"Kenapa kau ingin bercerai?"
"Kenapa kau ingin pisah rumah?"
Sakura menampilkan senyum sarkastiknya. Dia pandai menjawab pertanyaan karena kodrat perempuan adalah menang dari semua debat dengan pria. Itu memang sudah hukum alam. Gaara mendengus kesal. Mungkin dia tidak terima karena Sakura dengan gampang menjawab pertanyaannya.
"Kau menyebalkan Sakura."
Komentar Gaara yang disampaikan dengan wajah datar dan nada dingin itu sukses menohoknya dengan keras. Dia menyebalkan? Memang! Sakura memang anak yang menyebalkan. Terima kasih pada Gaara yang berhasil membuat Sakura terbakar dalam api emosinya.
"Kalau begitu ceraikan saja aku! Supaya kau tidak bisa bertemu dengan orang menyebalkan sepertiku setiap harinya!" balas Sakura dengan melepaskan safe belt yang mengekang dirinya dengan kasar.
"Aku sudah bilang kan? Aku tidak akan menceraikanmu."
Sakura menarik napas lalu menghembuskan napasnya perlahan-lahan. Rasanya darahnya benar-benar mendidih dan ingin segera keluar dari ubun-ubunnya menuju permukaan. Dia benar-benar merasakan bahwa dirinya kepanasan karena terbakar api kasat mata bernama emosi. Dan untuk memadamkan api itu, rasanya sekarang dia harus mencakar wajah Gaara yang mulus itu sampai benar-benar rusak!
"Hentikan mobilmu. Turunkan aku." ucap Sakura saat dia melihat halte bus.
"Aku tidak mau." balas Gaara dengan menambah laju kecepatan mobilnya sehingga halte bus itu terlewati begitu saja. Sakura menggeram kesal. Dia menghempaskan punggungnya pada jok mobil itu dengan keras.
"Turunkan aku!" bentak Sakura dengan suara yang sengaja dia cempreng-cemprengkan. Ia harap kepala Gaara akan sakit karena suara kaleng recehnya dan mengalah padanya. Namun sepertinya, laki-laki itu sudah sengaja membuat indra pendengaran tidak berfungsi lagi. Dia membuat telinganya menjadi tuli akan teriakan Sakura yang berkali-kali minta untuk diturunkan.
"Hentikan mobilmu! Turunkan aku sekarang!" seru Sakura kesal dengan menarik-narik lengan kemeja Gaara. Tetapi Gaara sama sekali tidak merasa terganggu, dengan santainya dia melepas tangan kanannya yang ditarik-tarik Sakura dari stir mobil.
"Silahkan bermanja-manja dengan tangan kananku."
Gaara menoleh ke arah Sakura dengan mengedipkan sebelah matanya. Ia menyodorkan tangan kanannya pada Sakura. Saat dia kembali fokus kepada jalan yang ada di depan, tangan kanan Gaara mencari tangan kiri Sakura lalu menggenggamnya.
Apakah Gaara memang seperti ini? Sewaktu mereka asyik berdebat, Gaara seperti pria dewasa yang tenang dalam menghadapi segala masalah. Wajahnya terlihat datar dan serius. Tetapi sekarang, dia mulai bertingkah seperti Gaara yang selalu mengganggunya sehingga kepalanya pusing untuk meladeninya. Apakah Gaara memiliki kepribadian ganda? Atau dia memang seorang bipolar? Sakura tidak mengerti.
"Lepaskan tanganku, bipolar!" Sakura pun melepaskan tangan Gaara dengan hentakan kasar. Tetapi dengan cepat Gaara kembali meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Karena kesal, Sakura kembali membuang wajahnya pada kaca mobil.
Keberuntungan untuk Gaara, lampu lalu lintas menampilkan warna merah. Gaara segera mengentikan laju mobilnya tepat di belakang garis yang sudah ditentukan. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melihat wajah Sakura. Sayangnya gadis bersurai pink itu sedang menoleh ke jendela mobilnya.
"Aku rasa debat kita belum selesai, nona." ucap Gaara dengan menarik tangan kiri Sakura yang digenggamnya dengan erat. Perbuatan Gaara itu sukses membuat kepala Sakura terbentur dengan lengan Gaara karena kaget dan tidak punya persiapan. Karena perbuatan Gaara itu, Sakura langsung menatap wajah Gaara dan memberikan tatapannya yang setajam leser.
"Apa kau sudah gila?!" bentak Sakura dengan mengetuk kepala Gaara dengan keras sebagai pembalasan atas perbuatan Gaara yang kurang ajar. Bukannya marah atau kesal, Gaara malah tersenyum seakan dia memang menunggu Sakura untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Aku senang kau marah." Sakura malah mendengus sebal. Dia kembali membuang wajahnya, namun beberapa detik kemudian dia kembali menatap Gaara.
"Tidak ada lagi yang harus dibicarakan!" ketus Sakura dengan melepaskan tangan Gaara yang sedari tadi menggenggam tangannya. Tetapi dengan cepat, Gaara kembali meraih tangan Sakura.
"Kita harus bicara sampai selesai." balas Gaara dengan tenang.
"Kau ingin pisah rumah kan? Kenapa tidak langsung bercerai saja? Pisah rumah adalah hal yang tanggung. Kenapa tidak bercerai sekalian biar semuanya benar-benar selesai?" tanya Sakura dengan wajah sebalnya. Namun dari nada bicaranya, dia sama sekali tidak bercanda.
"Sakura.."
TINNNN!
Kalimat Gaara terpotong karena suara klakson mobil yang menganggu. Gaara kembali melihat ke depan, ternyata lampu sudah berubah warna menjadi hijau. Tak mau mendengar suara klakson itu lebih lama, Gaara segera memasukkan perseneling dan menginjak pedal gas dengan kencang. Sedangkan Sakura kembali melirik kaca jendela dengan menghela napas berat. Ia memejamkan matanya untuk menjernihkan pikirannya. Dia terus-terusan menarik napas lalu menghembuskannya perlahan-lahan untuk menenangkan hatinya yang bergejolak karena Gaara yang menyebalkan. Sampai akhirnya, Sakura malah jatuh tertidur.
Gaara menghentikan mobilnya tepat di lapangan parkir terdekat dari pasar tradisional. Ia melepas safe belt hendak turun dari mobil, namun niatnya urung saat ia menyadari bahwa perempuan yang ada di sampingnya sama sekali tidak bergeming. Manik pale green itu menghangat ketika ia melihat bahwa Sakura tertidur dengan wajah damainya.
Gaara tersenyum tipis saat melihat Sakura yang sepertinya tenang sekali. Ternyata Sakura berbeda sekali waktu tidur. Biasanya mulut Sakura akan terus berteriak dan bicara seenaknya. Atau dia akan menampilkan senyum sinis plus wajah sebalnya saat Gaara mengucapkan hal-hal yang membuatnya kesal. Tetapi kini, bibir itu terkatup rapat. Tak ada dengkuran yang terdengar darinya. Yang terlihat hanya dadanya yang naik-turun dengan irama yang teratur.
Gaara menyandarkan kepalanya kepada stir mobilnya. Ia menghadap ke arah Sakura. Dengan posisi seperti ini, Gaara dapat memandangi wajah Sakura secara detail. Di mata Gaara, Sakura sangat manis saat tidur. Gaara menyukai guratan damai yang terdapat dalam wajah tertidur Sakura. Entah apa yang dimimpikan gadis itu sehingga dia tersenyum. Yang jelas hal itu membuat Sakura menjadi maha karya paling indah di mata Gaara.
Sakura memang cantik walaupun rambut pink itu tidak pernah ia gerai begitu saja. Dia punya kening yang lebar dan hidung kecil yang mancung. Pipinya tirus, mungkin itu karena perempuan di sampingnya ini tidak hobi makan. Dan yang penting adalah bibir ranum itu nampak menggoda dengan warna merah cerah. Bentuknya sempurna dan ukurannya yang mungil menambah kesempurnaan karya Tuhan ini.
Melihat Sakura yang seperti ini, Gaara sama sekali tidak tega untuk membangunkan Sakura. Rasanya ia ingin waktu membeku seketika sehingga dia dapat terus menatap wajah Sakura yang kalem seperti ini. Kalaupun mereka harus terjebak di dalam mobil selama dua hari, Gaara sangat rela, asalkan dia bisa menatap wajah Sakura yang seperti ini.
Beepbeep.. Beepbeep..
Suara yang berasal dari ponsel Sakura yang bergetar itu membuat Sakura menggeliat tak nyaman. Tak lama dari itu, Sakura membuka matanya setelah berkedip beberapa kali. Dia langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya siang-siang begini.
Sakura mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat dia mengetahui siapa yang meneleponnya. Giginya saling bergemelatukan, seketika itu juga rahangnya mengeras. Dengan kasar, Sakura meletakkan ponselnya di atas dashboard, membiarkan benda canggih itu terus bergetar dan mengeluarkan bunyi.
"Kau tidak mau angkat teleponnya?" Gaara bertanya sambil berusaha untuk melihat siapa nama orang yang menghubungi Sakura itu.
"Bukan urusanmu!" jawab Sakura dengan ketus sambil melepaskan safe belt yang mengekang dirinya.
"Kau tidak mau membawa ponselmu?" tanya Gaara lagi saat Sakura menggerakkan tangannya untuk membuka pintu mobil.
Sakura menoleh ke arah Gaara. Saat pandangan mereka bertemu, Gaara dapat melihat dengan jelas bahwa emerald itu memancarkan kebencian yang mendalam. Namun terselip juga sebuah kesedihan di dalam sana. Mungkin saja orang itu adalah orang yang dulunya penting di hidup Sakura. Mungkin saja itu mantan pacarnya?
"Tentu saja tidak." Sakura menjawab dengan nada penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Sakura pun keluar dari mobil. Melihat Sakura yang sudah turun, Gaara buru-buru melepas safe belt dan menyusul Sakura. Tentu saja setelah dia memasukkan ponsel Sakura ke dalam saku celananya.
Latar tempat kembali berganti. Kini pasangan baru itu berada di pasar tradisional.
Tempat dimana setiap penjual sibuk memamerkan dagangannya untuk mencari nafkah. Di tengah hiruk pikuk transaksi antara penjual dan pembeli, di antara gerombolan orang-orang yang sibuk mencari kebutuhannya masing-masing, Sakura dan Gaara baru saja masuk ke dalam area pasar yang ramainya bukan main. Padahal ini adalah hari kerja, namun pasar ini tetap saja padat akan pengunjung. Tak mau berlama-lama di pasar, Sakura mulai bergerak untuk mencari semua bahan yang ada di daftar belanjaannya. Ia mengeluarkan catatannya dan membaca semuanya. Dia harus membeli tiga kilogram udang, lima kilogram cumi-cumi, dan sepuluh ikat kangkung.
"Kita bisa membeli semua itu di supermarket." komentar Gaara saat dia membaca semua bahan yang tertera di dalam memo itu. Sebelum menghiraukan Gaara, Sakura memasukkan memo itu ke dalam saku celananya.
"Pulang sana!" ketus Sakura dengan nada sinis.
"Sepertinya lebih baik kau tidur saja." Gaara menjawab dengan senyum yang jelas-jelas tujuannya mengejek Sakura. Sakura juga balas tersenyum, senyum sinis tentunya. Lalu dia berjalan duluan meninggalkan Gaara.
Berbagai macam aroma mulai menyapa indra penciuman Sakura ketika ia melangkah masuk lebih jauh. Bau ikan segar, bau darah ayam yang baru saja dipotong, dan bau-bau tajam lainnya. Namun Sakura menghiraukannya. Dengan menyelip di antara orang-orang yang berlalu-lalang, Sakura mulai mencari bahan yang diperlukan. Ia menorehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menatap semua barang dagangan yang disediakan oleh penjual. Manik giok itu nampak berbinar-binar ketika ia melihat ikan-ikan yang masih hidup bergerak di air yang disediakan oleh penjual. Melihat ikan yang berusaha melarikan diri mungkin merupakan hiburan yang lumayan untuk Sakura yang hatinya masih diliputi oleh rasa kesal akan Gaara yang banyak tanya dan sang penelepon yang menyebalkan itu.
Gaara yang tertinggal di belakang segera menyusul Sakura yang sudah jauh di depan. Berulang kali dia menerobos kerumunan orang dengan menundukkan kepalanya dan menggumamkan kata maaf. Sampai ia melihat gadis bersurai merah muda yang mengenakan seragam pelayan itu berhenti, Gaara bernapas lega.
Langkah Sakura terhenti saat dia berdiri tepat di depan seorang Kakek yang menjual cumi-cumi. Di dalam kotak besar, cumi-cumi itu dijajakan dengan rapi. Sang penjual tersenyum. Karena itu, Sakura juga balas tersenyum.
"Cumi-cumi ini masih segar, nak! Mereka baru saja diantar tadi pagi." tawar sang Kakek. Sakura menganggukkan kepalanya. Ia memandang cumi-cumi itu dengan teliti kemudian memegangnya, bahkan dia mendekatkan wajahnya untuk mencium bau yang keluar dari cumi-cumi itu. Cumi-cumi itu memang nampak baik dengan kulit yang berwarna cerah dan bersih tanpa ada koyakan pada kulitnya.
"Tolong bungkuskan lima kilo untuk saya."
Sang Kakek langsung memasukkan cumi-cumi ke dalam satu kantong plastik dan sesekali menimbangnya. Sampai berat jarum timbangan itu benar-benar berhenti di angka lima, Kakek itu memberikan kantong plastiknya pada Sakura. Bertepatan dengan menerima kantong plastik itu, Sakura memberi dua lembar uang seratus ribuan.
"Terima kasih, Kek."
Pamit Sakura untuk meninggalkan Kakek itu. Begitu mendapat satu anggukan kepalanya, Sakura lanjut berjalan dengan menjinjing kantong plastik yang berat itu. Melihat Sakura yang berjalan sangat lambat, Gaara langsung mengambil alih kantong plastik itu dari tangan Sakura. Sakura pun menoleh ke arah Gaara yang sedang tersenyum.
"Aku saja yang bawa." Gaara tersenyum manis. Dengan raut wajah kesalnya, Sakura memberi kantong plastik itu dan kembali berjalan untuk mencari bahan selanjutnya. Gaara pun langsung mensejajarkan dirinya dengan Sakura yang berjalan cepat.
Ya, kira-kira begitulah acara berbelanja Sakura dan Gaara. Setiap Sakura mendapatkan bahan yang dia perlukan, Gaara akan membawakannya. Sampai semua bahan yang ada di daftar terpenuhi, akhirnya Sakura hanya membawa badan untuk menuntun Gaara keluar dari pasar tanpa tersesat.
Mereka kembali ke lapangan parkir tanpa tersesat, semuanya berkat Sakura yang menuntunnya ke jalan yang benar. Sesampainya di lapangan parkir, Gaara segera memasukkan semua belanjaan Sakura ke bagasi mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Sakura.
Gaara langsung memakai safe belt-nya. Kemudian ia menoleh ke samping dan mendekatkan dirinya pada Sakura untuk memakaikan safe belt pada Sakura. Tetapi dengan cepat, Sakura menarik sabuk itu dari tempatnya lalu memakainya. Gaara menghela napas dengan kembali duduk seperti semula. Setelah itu Gaara menghidupkan mesin mobilnya, memasukkan perseneling dan menginjak pedal gas.
Keadaan kembali seperti semula. Dimana mereka berdua kembali dinaungi oleh atmosfer hening sehingga suasanya menjadi sepi seperti di bandara lama yang tidak dipakai lagi. Sakura yang masih dirasuki oleh amarahnya kembali memilih untuk mengunci rapat bibirnya. Sementara Gaara yang menjadi sumber masalah juga diam karena takut salah bicara.
Tetapi sama seperti tadi, bibir Gaara seakan terasa gatal karena tidak bicara. Dia pun mulai membuka mulutnya untuk mengeluarkan deheman dengan harapan Sakura akan mengalihkan pandangannya dari kaca jendela. Tetapi gadis itu tetap bertahan pada posisinya.
"Sakura." panggilnya dengan lembut.
Ia menoleh sekilas untuk memandang Sakura yang masih saja menatap kaca mobilnya. Gaara pun mengambil inisiatif. Ia kembali menggenggam tangan kiri Sakura yang terkulai begitu saja. Saat Gaara memegang pergelangan tangannya, gadis itu sama sekali tidak menolak atau berontak. Dia tetap mengatupkan bibirnya.
"Kau marah padaku?" tanya Gaara dengan nada hati-hati. Namun Sakura masih diam seribu bahasa. Seakan tidak peduli dengan apapun yang Gaara bicarakan.
"Kita harus bicara, Sakura." ujar Gaara dengan mengusap-usap punggung tangan Sakura dengan harapan Sakura akan memberikan respon.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan." jawab Sakura dengan datar.
"Tapi kita belum selesai bicara." bantah Gaara dengan halus. Sakura hanya mendengus sebal. Kini dia menatap Gaara yang masih fokus menyetir. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan senyum sarkastiknya.
"Kau ingin pisah rumah kan? Ya sudah. Ayo lakukan." Gaara menatap Sakura sebentar. Air muka Sakura menunjukkan bahwa dia sedang tidak baik. Berbagai perasaan yang campur aduk terpancar jelas dari emerald redupnya.
"Aku tidak serius mengatakannya."
"Oh ya?"
"Aku tidak ingin pisah rumah."
Sakura hanya tertawa paksa. Kemudian seulas senyum sinis muncul menghiasi wajah datarnya. Matanya sama sekali tak bercahaya lagi. Air mukanya menunjukkan kalau dia sama sekali tidak percaya dengan celotehan Gaara yang tidak bermutu.
"Mari hentikan semua omong kosong ini. Semua ini sama sekali tidak berguna. Lebih baik kita bercerai dan benar-benar pisah rumah. Jadi kau bisa urus urusanmu dan aku dengan urusanku."
Gaara memandang jalanan depan. Ia tahu jalanan ini, di dekat sini ada sebuah taman. Entah taman itu ramai atau tidak. Tetapi itu adalah tempat yang lumayan bagus untuk bicara. Dan seingatnya, taman itu ada bila mereka belok kiri di lorong pertama. Gaara pun segera membelokkan mobilnya ke kiri dan berhenti di sana. Ingatannya masih berfungsi dengan baik.
Melihat bahwa situasi sepi, Gaara mulai menghadap ke samping. Menatap Sakura yang juga menatapnya. Iris pale green itu bertemu dengan emerald milik Sakura. Wajah mereka berdua sama-sama datar.
"Jadi kau benar-benar ingin bercerai?" tanya Gaara dengan menatap kedua mata Sakura dalam-dalam. Sakura mengangguk pasti.
"Bukannya aku sudah pernah memintamu untuk bercerai?" Sakura menjawab dengan memberi pertanyaan baru. Gaara pun mengangguk.
"Kau benar-benar membenciku?" Sakura menghela napasnya.
"Apa kita harus membahas ini?" tanya Sakura dengan wajah lelah.
"Kita harus selesaikan pembicaraan kita." jawab Gaara dengan tegas.
"Ini masih jam kerjaku, Gaara. Kau menghabiskan banyak waktuku." Sakura beralasan. Gaara mengeluarkan ponselnya dan ponsel Sakura.
"Kau ingin aku membeli tempat kerjamu?" tanya Gaara dengan mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang lalu menempelkan ponsel itu pada telinga kanannya.
"Halo?"
Sakura pun merebut ponsel itu dari telinga Gaara. Lalu dia segera memutuskan sambungan teleponnya. Kemudian dia memasukkan ponsel Gaara ke dalam saku celananya. Setelah itu dia kembali menatap Gaara dengan tatapan serius. Gaara balas menatap Sakura dengan pandangan yang mengatakan 'kenapa-kau-menatapku-begitu?'
"Apa kau harus melakukan itu?" Sakura mendengus sebal. Garaa hanya memandang Sakura dengan tatapan yang mengatakan 'kau-yang-memaksaku-melakukan-itu'
"Lebih baik aku turun di sini." putus Sakura dengan melepas safe belt dari dirinya. Gaara berdecak sebal lalu menahan tangan Sakura sehingga Sakura tidak bergeming dari tempatnya.
"Kita belum selesai."
"Aku sudah bilang kan? Tidak ada yang mau kubicarakan. Jika kau punya, silahkan bicara. Aku akan mendengarkanmu." Gaara menghembuskan napas panjang.
"Aku tidak mau pisah rumah apalagi bercerai darimu." tegas Gaara dengan suara beratnya. Kini ganti Sakura yang menghela napas. Dia memejamkan matanya sebentar lalu membuka matanya lagi. Ia menatap Gaara.
"Aku tidak membencimu. Aku masih seorang remaja. Remaja yang identik dengan kebebasan dan hidup tanpa tekanan. Aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang pendamping hidup. Aku masih ingin bebas, Gaara. Jadi hentikanlah omong kosong ini. Kau hanya membuat dirimu lelah karena berhadapan dengan anak kecil sepertiku." jawab Sakura panjang lebar. Dari nada bicaranya, Sakura nampak sangat serius dan sama sekali tidak bercanda. Begitu pula dengan Gaara yang sekarang memasang tampang datarnya.
"Aku sudah berusaha untuk menjadi suami.. tidak. Aku sudah berusaha untuk menjadi pacar yang baik untukmu dan kau masih merasa tertekan? Wah! Hebat sekali!" Sakura memijit-mijit pelipisnya.
"Lebih baik ceraikan aku sekarang. Jadi kita bisa pisah rumah." ucap Sakura tanpa ragu. Gaara mendekatkan wajahnya pada Sakura dan menatap sepasang mata hijau hutan itu lekat-lekat. Sakura yang ditatap seintens itu malah memundurkan kepalanya.
"Aku tidak akan menceraikanmu, Haruno Sakura." tegas Gaara sekali lagi.
"Kenapa? Apa alasannya?" tanya Sakura dengan nada parau.
"KENAPA KAU TIDAK MAU MENCERAIKANKU? APA ALASANNYA, BANGSAT?! KAU KIRA AKU INI WANITA MATA DUITAN YANG TERGILA-GILA DENGAN HARTA SAMPAHMU?! KAU KIRA AKU AKAN TERGODA DENGAN WAJAH PRIA BRENGSEK SOK TAMPAN SEPERTIMU? KAU KIRA AKU AKAN TAHLUK DENGAN SEMUA PERLAKUAN OMONG KOSONG DARIMU? PERSETAN DENGAN DIRIMU DAN SEMUA YANG KAU MILIKI! DAN SEMUA YANG KAU LAKUKAN! AKU TIDAK PEDULI DENGAN SEMUA ITU! YANG AKU INGINKAN HANYALAH HIDUP NORMAL SEPERTI REMAJA LAINNYA! JADI CERAIKAN AKU SEKARANG JUGA, KEPARAT! KAU MENGERTI APA MAUKU? AKU MAU BERCERAI, BANGSAT! CERAIKAN AK-"
Layaknya perawat yang menangkap pasien rumah sakit jiwa yang lepas dari penjagaan perawat, Gaara berhasil membungkam mulut Sakura yang berisik dengan cara yang tidak diduga-duga. Gaara memajukan kepalanya sehingga jarak yang memisahkan mereka hanya sebatas hidung yang saling bertabrakan. Namun tanpa aba-aba Gaara langsung menempelkan bibirnya ke bibir Sakura. Tidak hanya itu, dia juga melumatnya untuk menenangkan Sakura yang mengamuk seperti monster lepas.
Itu berarti… GAARA MENCIUM SAKURA!
To Be Continue
HALOHALOHAI SEMUANYA HAHAHA (udahsikatgigibro:v)
Author senang sekali bisa kembali ke dunia menyenangkan bernama fanfiction ini. Author minta maaf sekali karena udpate nya lama banget. Maafkanlah author nista ini, para readers #nangisbombay Sebenernya sih author pengen update lebih cepet karena author tahu, mau bagaimana pun menunggu itu emang nggak enak #curhat
Yaa.. sesuai dengan apa yang author sampaikan di chapter kemaren, author masih berkutat dengan semua tugas sekolah dan tugas ekskul yang banyaknya setinggi gunung Fuji. Perasaan tiap naik kelas, semua tugas dan pelajaran susah banget dimengerti sama kayak doi yang sama sekali nggak peka #curhat #apahubungannya #lupakan #abaikan Lagi-lagi karena semua itu, author baru sempet update sekarang
Oke deh, author nggak mau bercuap-cuap basi lagi. Sekarang author invite kalian semua untuk masuk ke dalam BA! #tepuktanganyangmeriah
Kita kembali ke dalam segmen yang ditunggu-tunggu yaitu Bacot Area dalam rangka membalas semua review yang masuk untuk chapter kemarin! Semuanya beri tepuk tangan yang meriah! #maksa
Ya udahlah ya, mendingan kita masuk langsung ke acara penting ini.
One.
Two..
Three…
CEKIDOTT!
Lmlsn : Udahlahh, cewek mana sih yang nggak baper kalo digodain terus? Apalagi sama cogan kayak Gaara ehehehe.. Mungkin Sakura masih sok jual mahal gitu, jadinya dia agak tsundere tsundere gitu lohh.. #apaapaanini Hamlilahh bisa diupdate ya ini fic, jadi ini dia lanjutan yang kamu tunggu-tunggu. Silahkan dibaca dan dinikmati.. Btw, makasih loh buat kehadiran dan reviewnya. Author masih menunggu kehadiran kamu di chapter depan, see u again yoo!:)
Guest : Ehehehe.. author juga suka kok sama sifat Gaara di sini. Sengaja author kasih peran yang kayak gini, soalnya ini fantasi author dari dulu hehehe.. Dan author perhatiin sifat Gaara yang kayak gini itu jarang banget ditampilin.. EH? Kok author malah curhat sih #pelupa Pokoknya makasih ya buat review dan kehadirannya, ditambah dengan semangatnya juga ehehehe.. Pokoknya author harus liat kamu di chapter selanjutnya! Lopppyuuu:)
Yurchan Nyan : Sebenernya sih penname author ini sengaja dibuat dengan nama lumutan, soalnya sekalian jadi reminder n warning juga sih #sesijujur Untuk update chap yang ini aja, author harus menyingkirkan semua tugas dulu #curhatlagi Tapi makasih ya karna udah suka sama fic pertama author yang abal-abal ini, author jadi terhura dehh. Berasa kayak dapet oscar award gitu.. #lebay Makasih loh karna udah mampir dan nyempetin buat kasih review. Di next chap, author harap kamu muncul lagi yaa:)
Cherry : Hmm.. sejujurnya author juga suka sasusaku, tapi author sudah mulai bosan dengan pairing mereka. Rasanya tu kayak udah biasa gitu, apalagi di sana ada Gaara yang biasanya jadi cowok yang suka mendem perasaaan. Kan kasian liatnya:( Jadi author yang ngebet banget buat ff ini memutuskan untuk menjadikan Gaara sebagai pemeran utama! #tepuktangan #wajahgembira Maafkan author yang lama banget updatenya, semoga aja kamu nggak marah lalu kesal dan meninggalkan author #ngomongoposindok Btw, buat review dan kunjungannya makasih yaa.. Kalau bisa, muncul lagi ya di chapter selanjutnya:)
Shionna Akasuna : Kalo masalah itu sih, kita liat nanti aja yaaa.. Sebenernya tergantung sama Sakura nya juga. Kalo dia cepet luluh, mungkin bisa ya. Tapi kalo kepalanya tetep kayak batu, author nggak tahu juga. Author sih juga ngarepin ending yang menyenangkan dalam artian happy ending, tapi itu masih ngarep lohh.. Jadi pantengin terus fic abal-abal ini yaa.. Makasih karna sudah berkunjung dan reviewnya.. Kita harus ketemu lagi ya di next chap nya:)
Rina227 : Yaampunnn.. makasih lohh. Author bahagia deh kalo kamu ngasih semangat buat author sampe ngajak-ngajak Lee segala. Kenapa kamu nggak sekalian ngajak warga kampung Konoha aja?:) Author kan mengharapkan kedatangan Shikamaru:( #elukenapawoy Nggak nggak, itu becanda doang. Abaikan aja nggak papa. Makanya kamu staytune dongg, kalau bisa si difollow sekalian difavorit juga nggak papa. Maksudnya itu supaya kamu nggak ketinggal gitu #senyummalaikat Tapi author sangat bahagia loh kalau kamu melakukan itu hehehe #kodekeras Btw, makasih yaa buat review dan kehadirannya. Awas aja kalo kamu nggak muncul di next chap! #sokgalak #ngesok Udahlah lupain:)
Hinamori Hikari : Hamlilah yaaa.. author seneng bacanya. Iya, author juga sukak kok Gaara yang mesum seperti ini. Kayak kata Gaara, orang yang mesumnya ditunjukin itu lebih mendingan daripada orang yang mesumnya diem-diem hehehehe... Ini ya lanjutannya, semoga kamu bahagia membaca ini. Makasih loh udah mau mampir buat baca fic author ini, buat reviewnya juga ya. Semoga kita bisa ketemu lagi di da next chap!:)
Arni-chan : Kok kamu komennya sama kayak promosi air mineral sih? Bedanya cuman dia manis-manis gimana gitu, kalo kamu lucu-lucu gimana gitu #apaansihauthor #ngayalaja Hamlilah kalau kamu bilang cerita ini seru dan suka sama ceritanya seru, author jadi bahagia deh bacanya ehehehe.. Oh ya, makasih loh karna udah mau mampir dan review yang kamu tinggalin. Untuk chapter selanjutnya muncul lagi yahh:)
Ayong Tata : Pertanyaan kamu sudah dijawab ya? Jadi pertanyaan selanjutnya bisa kamu kirimkan kembali ke kotak review #lah #lupikiriniapaan #plak #ditamparreaders Intinya author tunggu kehadiran kamu di chapter selanjutnya! Untuk review dan kehadirannya, author ucapkan terima kasih!:)
Arum Junnie : Hmm.. Boleh juga sih ya, saran kamu. Tapi setelah mendapat pencerahan, hidayah, dan keinginan serta tekad yang kuat, author memutuskan untuk tetap bertahan pada rate T. Soalnya author memutuskan untuk tidak bertindak lebih jauh lagi.. Ya.. Tapi.. Ya.. Berhubung otak authornya ini mesum, jadi kalian tahulah apa yang akan terjadi dalam fic ini eheheh #smirk Oke deh, makasih buat kehadiran dan reviewnya. Author harap kita bisa berjumpa lagi di chapter selanjutnya:)
Okehhh.. Author rasa cukup sekian dulu pembalasan review di chapter ini. Author harap, peminat fic ini bisa lebih banyak lagi. Sekali lagi author ucapkan pada readers yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca sampai memberi review bahkan nge-follow dan nge-favorit story ini. Untuk semuanya author ucapkan terima kasih sudah buat author bahagia dengan semua ini. Pokoknya author tunggu readers lainnya untuk muncul ke permukaan. Dengan begitu, author pamit undur diri dulu! Dadahhhh! #kissbyealay #bubar
