Oh My Gaara
Chapter 4
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Drama, Hurt and Comfort, Romance
Rate : Teens
Main Cast : Haruno Sakura
Sabaku No Gaara
Warning : Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Pemain lain dapat kalian temukan di sini. Kemungkinan yang akan readers temui adalah typo(s), alurnya ngalur-ngidul, serta kejelekan lainnya. Berhubung otak author ini agak sedikit mesum, karena itu harap berhati-hohoho.
Preview :
"Aku sudah berusaha untuk menjadi suami.. tidak. Aku sudah berusaha untuk menjadi pacar yang baik untukmu dan kau masih merasa tertekan? Wah! Hebat sekali!" Sakura memijit-mijit pelipisnya.
"Lebih baik ceraikan aku sekarang. Jadi kita bisa pisah rumah." ucap Sakura tanpa ragu. Gaara mendekatkan wajahnya pada Sakura dan menatap sepasang mata hijau hutan itu lekat-lekat. Sakura yang ditatap seintens itu malah memundurkan kepalanya.
"Aku tidak akan menceraikanmu, Haruno Sakura." tegas Gaara sekali lagi.
"Kenapa? Apa alasannya?" tanya Sakura dengan nada parau.
"KENAPA KAU TIDAK MAU MENCERAIKANKU? APA ALASANNYA, BANGSAT?! KAU KIRA AKU INI WANITA MATA DUITAN YANG TERGILA-GILA DENGAN HARTA SAMPAHMU?! KAU KIRA AKU AKAN TERGODA DENGAN WAJAH PRIA BRENGSEK SOK TAMPAN SEPERTIMU? KAU KIRA AKU AKAN TAHLUK DENGAN SEMUA PERLAKUAN OMONG KOSONG DARIMU? PERSETAN DENGAN DIRIMU DAN SEMUA YANG KAU MILIKI! DAN SEMUA YANG KAU LAKUKAN! AKU TIDAK PEDULI DENGAN SEMUA ITU! YANG AKU INGINKAN HANYALAH HIDUP NORMAL SEPERTI REMAJA LAINNYA! JADI CERAIKAN AKU SEKARANG JUGA, KEPARAT! KAU MENGERTI APA MAUKU? AKU MAU BERCERAI, BANGSAT! CERAIKAN AK-"
Layaknya perawat yang menangkap pasien rumah sakit jiwa yang lepas dari penjagaan perawat, Gaara berhasil membungkam mulut Sakura yang berisik dengan cara yang tidak diduga-duga. Gaara memajukan kepalanya sehingga jarak yang memisahkan mereka hanya sebatas hidung yang saling bertabrakan. Namun tanpa aba-aba Gaara langsung menempelkan bibirnya ke bibir Sakura. Tidak hanya itu, dia juga melumatnya untuk menenangkan Sakura yang mengamuk seperti monster lepas.
Itu berarti⦠GAARA MENCIUM SAKURA!
Happy Reading!
Last Chapter
Sakura membulatkan kedua matanya tak percaya. Ia sangat sadar apa yang sedang dilakukan Gaara padanya. Laki-laki itu menempelkan bibirnya pada bibir Sakura. Tidak, dia tidak hanya menempelkannya, tetapi juga menyesapnya dengan menggigit-gigit kecil bibirnya agar Sakura mau membuka mulutnya. Namun, Sakura tidak meladeni pagutan itu. Ia menjauhkan dirinya dengan mendorong dada Gaara agar menjauh darinya. Dan dengan kekuatan Sakura, ciuman mereka terlepas.
Jika kalian berpikir bahwa Sakura akan mengamuk layaknya monster, kalian salah besar karena nyatanya Sakura hanya diam menatap Gaara. Kedua manik giok itu bertemu, saling tatap dengan harapan dapat memahami perasaan masing-masing hanya lewat kontak mata mereka. Tidak ada yang mau membuka mulut, mereka hanya terus hanyut dalam heningnya keadaan. Meskipun begitu, tidak ada satu pun yang berniat untuk melepaskan pandangannya.
Sampai akhirnya, Sakura menghela napas panjang. Ia mengalihkan pandangannya dari Gaara. Sekarang iris mata hijau hutannya ia alihkan untuk menatap keadaan luar dari kaca mobil. Pandangannya menerawang. Sinar matanya redup, tidak ada ekspresi yang bisa dibaca dari sana. Dia persis sekali dengan orang yang mengalami tekanan berat. Jelas saja, pasti banyak pertanyaan dan pernyataan yang ingin dia ajukan. Tetapi dia tak dapat mengungkapkan pikirannya. Entah karena dia tak mau berdebat atau memang sudah menyerah pada semuanya.
"Apa susahnya melepasku?" Sakura membuka topik pembicaraan dengan pandangan menerawangnya. Dari nada bicaranya, ia terdengar seperti orang putus asa yang siap loncat dari gedung tinggi untuk mengakhiri hidupnya.
"Apa salahku? Apa yang membuatku terlibat dengan masalah utang-piutang Ayahku? Kenapa harus aku yang dijadikan sebagai jaminan? Kenapa kau tidak membuatnya lebih sederhana seperti menyita rumah kami dan membiarkanku untuk hidup bebas meskipun jadi gelandangan? Apa yang membuatmu ingin menikahi gadis lusuh sepertiku?" Sakura bertanya-tanya dengan suara yang mulai bergetar karena ingin menangis. Gaara menghela napas lalu mengelus-elus pundak Sakura dengan lembut.
"Karena aku menyukaimu, Sakura." Gaara menjawab dengan singkat. Mendengar jawaban Gaara, Sakura langsung menolehkan kepalanya ke samping. Mereka kembali berpandangan. Dan hal itu membuat Gaara dapat melihat bahwa tetesan air bening mulai mengalir jatuh dari pelupuk mata Sakura.
"Aku tidak suka melihatmu menangis." Gaara berkata sambil menghapus lelehan cairan asin itu dengan ibu jarinya. Sakura memejamkan matanya sembari menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya perlahan-lahan agar dirinya berhenti menangis.
"Aku ingin jawaban yang sesungguhnya." Sakura membantah dengan menyingkirkan tangan Gaara secara halus. Setelah itu dia mengusap kedua kelopak matanya yang masih berair.
"Itu jawabanku yang sesungguhnya." Sakura menggelengkan kepalanya tak percaya.
Karena aku menyukaimu? Apakah Gaara berpikir bahwa dia begitu bodoh sehingga ia dapat percaya dengan omongan Gaara? Lagipula bagaimana bisa kau menyukai seseorang yang sama sekali belum pernah kau temui? Karena takdir atau reinkarnasi? Apakah dia harus percaya dengan omong kosong itu? Tentu saja tidak. Wanita selalu berpikir realistis dengan logikanya.
"Aku membencimu, Gaara." ucap Sakura sebelum ia keluar dari mobil Gaara dan berjalan entah kemana. Melihat Sakura keluar dari mobilnya, Gaara turut keluar. Namun keberuntungan tak berpihak padanya karena saat ia ingin menahan Sakura, Sakura sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi yang kebetulan lewat.
"Sial!" Gaara mengumpat dengan wajah kesalnya.
Sedangkan Sakura yang ada di dalam taksi mulai menangis seengukan. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana kemudian menekan tombol-tombol yang ada di sana untuk membentuk suatu nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala. Kemudian ia menempelkan ponselnya ke telinga kanannya.
"I-Ino?" sapa Sakura dengan suara bergetar karena sedang menangis.
"Sakura? Kau menangis?" Ino yang ada di seberang sana bertanya dengan pelan dan hati-hati. Sakura tidak menjawab, namun isak tangis terdengar dari mulutnya.
"Kau.. benar-benar menangis?" Ino bertanya dengan nada tak percaya. Mendengar pertanyaan Ino, tangisan Sakura semakin keras.
"ASTAGA! SAKURA! ADA APA?! APA YANG TERJADI? JANGAN MENANGIS! HEI! CERITAKAN PADAKU APA YANG TERJADI SAMPAI KAU MENANGIS SEPERTI INI?!" Ino berteriak dengan histeris.
"Aku ingin menginap di rumahmu." ucap Sakura dengan suara super pelan.
"YA! DATANGLAH KE SINI SEKARANG! AKU AKAN PULANG LEBIH AWAL!" Ino menjawab dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Sakura!" Ino berseru dengan suara cemprengnya setelah ia membuka pintu kamar.
Di dalam kamar itu, terlihatlah Sakura yang sedang tidur dengan tenang. Ia nampak nyaman dengan posisi tidur memeluk bantal guling yang disembunyikannya di dalam selimut tebal itu. Dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan, Ino berjalan menuju ranjang itu. Kemudian ia menggoyang-goyangkan badan Sakura yang dibalut dengan selimut tebal berwarna ungu.
"Jangan ganggu aku, Ino." gumam Sakura dengan mata yang masih tertutup. Ya, saat ini Sakura sedang berusaha untuk tidur agar otak dan badannya dapat istirahat. Sekaligus untuk melepas penat dan melupakan masalahnya walau sejenak.
"Aku ingin bicara padamu, Sakura." bantah Ino dengan menarik selimut Sakura sampai setengah badannya tidak tertutupi lagi. Tetapi Sakura membalasnya dengan bergumam tidak jelas sambil menarik kembali selimutnya sehingga seluruh tubuh sampai lehernya terutup kembali.
"Aku serius, Sakura! Ini penting!" seru Ino dengan semangat berapi-api. Namun lagi-lagi, Sakura hanya membalasnya dengan gumaman asal-asalan. Kemudian Sakura menarik selimutnya ke atas lagi sehingga kepalanya juga tertutup oleh selimut.
"SAKURA!" Ino berteriak frustasi. Tanpa banyak bicara, Ino menduduki perut Sakura yang masih terutup oleh selimut. Sakura menyingkapkan selimutnya sehingga kepalanya kembali muncul ke permukaan.
"INO! INO! AKU TIDAK BERNAPAS! INO!" Sakura berseru dengan wajah megap-megap seperti ikan yang dilempar ke daratan. Tangannya terus berusaha mendorong Ino pergi dari perutnya. Iba dengan Sakura yang sepertinya sebentar lagi mereggang nyawa, Ino pun menyingkir dari perut Sakura. Ino mengerucutkan bibirnya ketika Sakura sudah bisa bernapas lega.
"Dasar idiot!" Sakura berteriak kesal sambil memakai selimutnya kembali. Dia kembali menutup matanya, berusaha untuk tidur.
Namun bukan Ino namanya kalau dia cepat menyerah. Dengan senyum setannya, Ino menyingkap selimut Sakura dan menarik kaki Sakura sehingga gadis berambut merah muda itu jatuh ke bawah. Mendapat gangguan dari Ino, Sakura berteriak frustasi karena terus-terusan diganggu oleh Ino. Menanggapi teriakan Sakura, Ino kembali memasang senyum iblisnya.
"Mungkin aku harus segera menyusun rencana untuk membunuhmu." Sakura berkata dengan senyum sinis dan wajah sebalnya. Tetapi Ino sama sekali tidak terlihat merasa bersalah atau takut akan rencana indah yang terlontar dari mulut Sakura. Dia hanya merespon ancaman itu dengan senyum manis. Melihat itu, Sakura merotasikan bola matanya pertanda bosan.
"Aku sama sekali tidak takut." balas Ino dengan senyum manisnya. Sakura mendengus sebal sambil bangkit berdiri dan duduk di tepi ranjang. Ino juga melakukan hal yang sama sehingga mereka duduk bersebelahan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sakura to the point. Wajahnya masih saja terlihat sebal dengan nada bicara datar yang memperlihatkan kalau dia sama sekali tidak mood untuk bicara.
"Ini masalahmu dengan Gaara." jawab Ino dengan volume suara yang sangat kecil. Begitu mendengar nama Gaara keluar dari mulut Ino, raut wajah Sakura berubah. Rahangnya mengeras, sorot mata tajam ia perlihatkan ketika ia memandang Ino.
"Aku sudah bilang kan? Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya." Sakura membalas sambil meremas kuat ujung sprei di dekatnya. Ino menghela napas panjang.
"Kalian belum menemukan penyelesaian, Sakura." bantah Ino dengan menepuk pundak Sakura. Sakura menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju.
"Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya." jawab Sakura tanpa keraguan sedikit pun. Ino kembali menghela napas.
"Kau tidak bisa terus-terusan lari. Kau harus menyelesaikan masalahmu dengannya." Sakura kembali menggeleng keras.
"Aku tidak mau." tolak Sakura dengan tegas.
"Terserah saja." balas Ino dengan acuh.
Ino pun beranjak dari tepi ranjang. Dia berjalan menuju pintu kamar yang masih terbuka lebar. Lalu dia menarik lengan seseorang untuk menampilkan diri di depan Sakura. Ino hanya tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Aku serahkan padamu." Ino berbisik dengan menepuk bahu laki-laki itu dengan penuh keyakinan. Lalu dengan santainya, Ino mendorongnya lalu menutup pintu kamar itu. Tak lupa ia mengunci pintu kamar itu dari luar.
Mata Sakura masih terpaku pada laki-laki itu. Rasanya sudah lama ia tidak melihat rambut merah darah itu. Sudah lama ia tidak berpandangan dengan manik giok yang serupa dengan matanya itu. Bagaimana rupa dan postur laki-laki itu, Sakura sudah melupakannya. Tidak, dia sama sekali tidak mau mengingatnya.
"Lama tak berjumpa, Sakura."
Dia menyapa dengan suara beratnya. Sakura tidak mengatakan apapun. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik laki-laki itu. Sakura tidak juga bergeming meski laki-laki itu berjalan ke arahnya dan duduk di hadapannya. Mata Sakura tetap tertuju pada laki-laki itu. Namun tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Sakura masih bertahan dengan wajah datarnya. Rahangnya masih mengeras dengan sorot mata yang tajam bagaikan mesin laser yang siap membunuh siapa saja. Sprei yang diremasnya terlihat makin kusut karena genggamannya terlalu kuat.
"Jangan marah pada Ino. Aku yang meneleponnya untuk membantuku agar bisa bertemu denganmu." Laki-laki itu membuka topik pembicaraan. Namun raut wajah Sakura sama sekali tak berubah.
"Pergilah." Sakura berkata dengan volume suara yang hampir setara dengan bisikan. Laki-laki itu hanya diam.
"Pergilah, Gaara." ulang Sakura dengan nada rendahnya. Gaara menggelengkan kepalanya sekali.
"Aku akan pergi setelah aku meluruskan semuanya." jawab Gaara dengan tenang. Sakura menghela napasnya.
"Aku tidak mau berurusan denganmu." balas Sakura dengan kesal.
"Aku mohon, Sakura." pinta Gaara dengan menggenggam tangan Sakura yang masih meremas sprei.
"Berikan aku kesempatan untuk bicara." tambah Gaara dengan nada memohon. Sakura menghembuskan napas panjang lalu melepaskan tangan Gaara yang menggenggam tangannya.
"Aku akan menjelaskan semuanya. Mengapa aku ingin menikahimu? Mengapa kau dijadikan jaminan untuk utang Ayahmu? Aku akan menjawab semuanya." Sakura hanya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Setelah kau mendengar semuanya, kau bisa memutuskan untuk bercerai atau melakukan apa yang kau mau." Gaara tersenyum. Sedangkan Sakura hanya merotasikan kedua bola matanya.
"Aku rasa aku harus menceritakan ini padamu." Gaara menampilkan senyum setannya.
"Saku! Ayah pulang!"
Mendengar seruan dari suara baritone yang tak asing lagi, seorang gadis kecil bersurai pink keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan gelak tawa riang, ia berlari menuju pintu rumahnya. Saat ia mendekat terdengar ada langkah kaki yang semakin mendekat, kaki kecilnya berusaha untuk berlari lebih cepat. Tujuannya hanya satu yaitu menyambut kedatangan Ayahnya yang tercinta.
"AYAHHH!" teriak gadis itu ketika ia mendapati Ayahnya berdiri di depan rak sepatu yang ada di samping pintu rumah. Sang Ayah meresponnya dengan senyuman lembut yang menenangkan hati. Gadis kecil bernama Saku itu tertawa lalu membawa tas kerja Ayahnya yang diletakkan di sebelah rak sepatu.
"Saku belum tidur?" tanya sang Ayah sambil menggendong gadis kecilnya itu. Saku yang ditanya hanya memamerkan senyuman polosnya. Ia menatap kedua mata giok sang Ayah yang persis sama dengannya.
"Saku menunggu Ayah pulang!" jawabnya dengan antuasias. Sang Ayah kembali tersenyum lembut. Begitu mereka memasuki ruang keluarga, Ayahnya mendudukkan Saku di atas kursi. Saku yang duduk di atas kursi, duduk dengan mengayun-ayunkan kakinya sambil menatap Ayahnya yang sedang melepaskan dasi yang mengekang lehernya.
"Harusnya Saku tidur saja. Tidak usah menunggu Ayah pulang," Ayah Saku berkata dengan mengusap-usap pucuk kepalanya. Saku hanya duduk dengan kepala yang sedikit tertunduk.
"Tapi Saku ingin menyambut Ayah pulang." gumamnya dengan suara yang sepelan mungkin. Namun semua perkataannya masih terdengar jelas oleh Ayahnya. Ayah pun menggendong Saku dan mendudukkan Saku di atas pangkuannya.
"Tapi Saku masih kecil. Saku tidak boleh tidur malam-malam. Saku.."
Ting.. Tong.. Ting.. Tong..
Suara bel rumah yang ditekan beberapa kali itu membuat Ayah Saku harus memotong semua nasihatnya untuk Saku. Saku yang mengerti langsung beranjak dari pangkuan Ayahnya ke kursi yang ada di sebelahnya. Begitu Saku turun dari pangkuannya, Ayahnya berjalan menuju pintu rumah untuk menyapa orang yang menekan bel rumah mereka. Namun Saku yang selalu ingin bersama dengan Ayahnya menyusul di belakang sehingga ia juga melihat siapa tamu mereka.
Ternyata tamu mereka seorang anak laki-laki yang kemungkinan beda lima tahun dengan Saku. Hebatnya dalam sekali lihat, mungkin kalian akan berpikir bahwa anak ini sudah dewasa karena sikapnya. Sebagai anak-anak, dia terlihat sangat tenang dan terlalu datar. Tidak seperti Saku yang riang, bahkan terlalu ekspresif. Matanya yang serupa dengan pasangan Ayah-anak ini juga tak memancarkan sinar apapun.
"Selamat malam." Ia menyapa dengan menundukkan kepalanya sebentar. Ayah Saku terkekeh pelan.
"Kamu anaknya Karura?" tanya Ayah Saku dengan berjongkok di depan anak itu sehingga tinggi mereka sekarang sama. Anak laki-laki itu hanya diam saja.
"Berarti anda adalah Paman Haruno?" Anak kecil itu balas bertanya dengan wajah dingin tanpa ekspresinya. Ayah Saku mengangguk dengan semangat. Ia menggenggam tangan anak laki-laki itu agar masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu rumahnya dan menguncinya rapat-rapat.
"Di luar dingin sekali. Lebih baik kamu di dalam," ucap Ayah Saku sambil berjalan ke ruang keluarga. Sedangkan sedari tadi, Saku hanya mengekori Ayahnya dari belakang. Ketika mereka duduk, Saku pun ikut duduk. Ia mengambil tempat di sebelah anak asing itu.
"Pasti Ibumu sibuk sekali." komentar Ayah Sakura sambil membuka toples berisi bola-bola coklat. Ayah Saku pun memberi dua buah coklat pada anak asing itu. Dengan gerakan sopan, ia menerima dua buah bola coklat itu.
"Ibu harus bertemu dengan beberapa pemegang saham. Ini rapat penting, Paman Haruno." Anak kecil itu menjawab dengan wajah seriusnya. Melihat itu, Ayah Saku hanya tertawa ringan.
"Kau memang lebih pintar dari yang kudengar." ucap Ayah Saku sebelum dia membuka bola coklat yang baru. Saku yang tak mengerti apa-apa hanya bisa mendengar sambil menikmati coklatnya.
"Sebuah kehormatan jika paman berkata seperti itu." balas anak itu dengan formal. Saku hanya dapat memiring-miringkan kepalanya, berusaha mencerna semua obrolan antara Ayah dengan anak itu. Sang Ayah yang melihat tingkah anaknya mengusap-usap pucuk kepala Saku dengan lembut.
"Kau harus mengenalnya. Ini adalah putriku. Namanya Sakura," Sang Ayah mendorong Saku sehingga ia berdekatan dengan si anak asing itu. Bahkan lengan mereka saling bersentuhan yang berarti tidak ada jarak yang memisahkan mereka.
"Kau bisa memanggilnya Saku." tambah Ayah Saku dengan mengedipkan sebelah matanya. Anak itu menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Ayah Saku beranjak dari kursi bersama tas kerjanya.
"Ini sudah malam, lebih baik kalian tidur."
Mendengar ucapan Ayahnya, Saku langsung berdiri. Ia melepaskan semua bola coklat yang belum ia sentuh ke dalam tempat asalnya lalu mendekat ke samping Ayahnya. Mengerti akan maksud Saku, sang Ayah pun menggenggam tangan Saku dengan erat. Anak laki-laki itu tak bergeming dari tempatnya, namun matanya tetap memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Ayah-anak itu.
"Untuk sementara ini, kau tidur bersama Saku saja." putus Ayah Saku sambil memutar knop pintu kamar yang paling dekat dengan ruang keluarga. Tanpa disuruh, anak itu berdiri dari tempatnya dan masuk ke dalam kamar yang sudah dibuka.
"Aku harap kalian bisa akrab." ujar Ayah Saku dengan menekan sakelar lampu sehingga kamar itu terang.
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ayah Saku mengusap kepala kedua anak kecil itu. Kemudian ia memberikan satu kecupan khusus pada kening putri kecilnya itu. Setelah itu, dia masuk ke dalam kamar yang berada tepat di depan kamar Saku.
Melihat bahwa Ayahnya sudah masuk, Saku pun turut masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan anak laki-laki itu hanya mengekori Saku lalu menutup pintu kamar. Begitu anak laki-laki itu menginjakkan kakinya ke dalam kamar Saku, bola mata hijau itu mulai bergerak ke sana kemari untuk memperhatikan isi kamar Saku.
Untuk kamar seorang perempuan yang masih kecil, kamar Saku cukup sederhana dan polos. Hanya ada satu ranjang berukuran sedang dimana tidak ada satu pun boneka yang berserakan di atasnya. Lalu ada satu lemari pakaian dan meja belajar yang dilengkapi dengan rak-rak kecil yang berisi buku-buku pelajaran. Kemudian ada satu jendela kecil di sudut ruangan.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Saku berjalan ke arah ranjangnya. Ia menunduk dan menarik ranjang yang tersembunyi di bawah kolong ranjang besarnya. Anak laki-laki itu langsung menghampiri Saku. Ia menggenggam tangan Saku dan menarik ranjang tersembunyi itu secara bersama-sama. Sampai tidak ada permukaan ranjang yang tersembunyi, Saku duduk di atas ranjang itu dengan napas ngos-ngosan.
"Kamu mau tidur di atas atau di bawah?" tanya Saku yang masih berusaha mengatur jalan pernapasannya agar normal kembali.
"Terserah kamu saja." jawab anak itu dengan singkat. Raut wajah Saku langsung berubah menjadi cemberut. Ia mengerucutkan bibirnya serta melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya anak itu dengan wajah datarnya. Saku menggelengkan kepalanya.
"Kamu terlalu pendiam!" jawab Saku dengan wajah sebalnya. Anak itu memiringkan kepalanya seolah berkata 'apa-maksudmu?'. Saku menghela napasnya.
"Harusnya kamu menanyakan namaku!" seru Saku kesal. Anak itu menganggukkan kepalanya seolah mengerti.
"Namamu Sakura. Aku sudah tahu itu." Anak laki-laki itu menjawab dengan tenang. Wajah Sakura memerah karena kesal.
"Bukan seperti itu! Harusnya kita kenalan!" seru Sakura dengan menarik tangan anak laki-laki itu kemudian menjabat tangannya.
"Namaku Sakura. Dan namamu?"
"Harusnya kau berkata seperti itu!"
Anak laki-laki itu hanya diam saja melihat tingkah Sakura yang seperti monster lepas. Ia hanya menatap Sakura yang ngos-ngosan karena baru saja berteriak-teriak sampai wajahnya semerah kepiting rebus. Anak itu masih diam, menunggu Sakura dapat bernapas normal lagi.
"Gaa." ucap anak laki-laki itu dengan menjabat tangan Sakura.
"Gaa?" Sakura membeo dengan wajah kebingungan.
"Panggil saja begitu." Gaa memamerkan senyum tipis yang membuat wajahnya terlihat manis.
Tiba-tiba saja, rona kemerahan menjalar pada pipi Sakura sehingg wajah makin merona. Sakura melepaskan tangannya dari Gaa lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Melihat Sakura yang salah tingkah, Gaa hanya terkekeh.
"Perkenalan seperti itu kan yang kamu mau?" tanya Gaa dengan wajah super manisnya. Sakura menggaruk-garuk cerukan lehernya yang sama sekali tidak gatal.
"A-aku mau tidur saja!" Sakura bersuara dengan merangkak naik ke kasur yang lebih tinggi. Dengan buru-buru ia merebahkan dirinya dan memejamkan matanya erat-erat.
"Biasakan untuk pakai selimut." Gaa berkata seraya membuka lipatan selimut berwarna ungu yang dipijak oleh kaki Sakura.
Begitu selimut itu terbentang luas, Gaa memakaikannya pada Sakura sehingga hanya kepalanya saja yang tidak tertutup. Selesai dengan perbuatannya, Gaa membaringkan tubuhnya pada ranjang yang baru saja dikeluarkan. Sakura yang dengan wajah yang masih memerah, memandang Gaa yang menatap langi-langit kamar.
"Apa kamu akan tinggal di sini?" tanya Sakura dengan mata yang tertuju pada Gaa. Merasa diajak bicara, kini Gaa menghadapkan badannya ke kanan agar dia dapat menatap wajah Sakura yang tak lagi memerah.
"Kelihatannya begitu. Apa kamu tidak senang?" Sakura menggelengkan kepalanya.
"Aku senang kalau kamu bisa tinggal lebih lama." jawab Sakura dengan senyum manis. Gaa menaikkan alisnya.
"Kenapa? Biasanya orang asing itu dibenci."
Sekali lagi, Sakura menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum manis. Sedangkan Gaa masih menatap Sakura, menunggu gadis kecil itu untuk memberi alasan untuk jawaban yang terlontar dari mulutnya.
"Karena kamu baik. Saku bisa merasakan bagaimana rasanya punya kakak kalau kamu ada di sini." Sakura menjawab dengan polosnya. Gaa manggut-manggut mengerti.
"Kenapa tidak sekalian menganggap aku ini sebagai suami?" tanya Gaa dengan senyum setannya. Sakura hanya mengerutkan keningnya karena bingung.
"Suami? Saku tidak mengerti." Sakura menjawab dengan wajah polosnya.
"Itu tentang pernikahan." balas Gaa dengan harapan Sakura akan langsung mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Sayangnya, Sakura masih memasang wajah bodohnya yang berarti bahwa dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang Gaa bicarakan.
"Pernikahan? Acara yang orangnya pakai baju putih itu ya?" tanya Sakura yang sangat pensaran akan topik pembicaraan dari Gaa. Gaa mengangguk dengan semangat.
"Jadi suami itu apa?"
"Suami itu laki-laki yang pakai baju putih saat acara itu."
Sakura manggut-manggut pertanda mengerti.
"Jadi ada apa dengan suami?" Sakura bertanya dengan wajah polos yang sama sekali tidak mengerti apa-apa.
"Kamu harus menikah dulu. Baru kamu bisa mengerti." Gaa membalas dengan tawa kecil. Sakura hanya mengerucutkan bibirnya.
"Jadi Saku harus menikah dengan Gaa dulu?" Gaa tertawa pelan. Ia duduk bersimpuh menghadap Sakura. Kemudian Gaa mengusap-usap pucuk kepala Sakura dengan lembut. Senyum simpul terpatri menghiasi wajahnya.
"Kalau Saku ingin menikah denganku, aku akan memberitahu Ibu." Sakura hanya menganggukkan kepalanya.
"Lebih baik Saku tidur."
Sakura memejamkan kedua matanya. Gaa mendekatkan badannya pada Sakura yang tidur di tepi ranjang. Kemudian ia mengecup kening Sakura. Merasa ada yang mengusik tidurnya, Sakura kembali membuka matanya. Ia melihat Gaa tengah menatapnya.
"Kenapa Gaara melakukan itu?"
"Karena itu kewajiban untuk suami." Gaa menjawab dengan senyum simpul.
"Anak laki-laki itu sangat dekat dengan Saku. Dia menjadi teman bermain Saku setiap harinya. Dia kerap membantu Saku saat kesusahaan mengerjakan tugasnya. Membujuk Saku ketika ia sedang marah dan tidak mood untuk bermain di halaman rumah. Menyuapinya saat dia sedang tidak nafsu makan. Mengantar dan menjemputnya di hari sekolah. Melakukan piknik bersama seperti keluarga bahagia. Dan tidur dalam satu kamar yang sama." Sakura masih diam mendengarkan cerita Gaara.
"Sampai akhirnya, mereka berpisah. Anak laki-laki itu pindah ke Jepang, mengikuti Ibunya. Sayangnya anak laki-laki itu sama sekali tidak memberi kabar ataupun mengucapkan selamat tinggal pada Saku. Dia pergi begitu saja. Menghilang seperti ditelan bumi." Gaara melanjutkan ceritanya. Sakura berdehem dengan memegang lehernya.
"Lanjutkan ceritamu."
"Anak laki-laki itu berpikir bahwa dia tidak bisa bertemu lagi dengan Saku. Tetapi keberuntungan berpihak pada anak laki-laki itu. Saat pulang kerja, dia melihat Saku tengah menyemangati Ayahnya yang terlihat murung. Anak laki-laki itu mengenali siluet itu. Dia tahu bahwa itu adalah Saku. Sayangnya, dia tidak mempunyai nyali untuk menyapa Saku."
"Akhirnya dia tahu bahwa Ayah Saku adalah salah satu pegawai di perusahaannya. Ternyata sang Ayah tengah dililit hutang yang tidak bisa dibayarnya. Anak laki-laki itu datang menghampiri sang Ayah. Kemudian ia menolongnya. Sayangnya, beberapa hari kemudian sang Ayah meninggal dunia. Menyisakan Saku sendirian di rumahnya." Gaara pun mengakhiri ceritanya.
Sakura terpaku dengan mulut terbuka lebar membentuk huruf O. Matanya membulat tak percaya. Jika ini adalah kartun, mungkin mata Sakura akan keluar dari tempatnya. Ia sangat sadar bahwa Saku dan anak laki-laki yang diceritakannya itu adalah Gaa dan Saku. Itu adalah dirinya!
Berulang kali, Sakura memandang Gaara dari berbagai sisi seolah meragukan apa yang diceritakan oleh Gaara.
"Apa kau sedang mengarang?" tanya Sakura dengan senyum sinisnya. Gaara menggelengkan kepalanya dengan wajah serius.
"Aku menceritakan kisahmu dan Gaa. Aku sama sekali tidak mengarang." jawab Gaara dengan serius. Sakura mengerutkan keningnya.
"Gaa.. ra? Maksudmu Gaa adalah Gaara?!" Sakura bertanya dengan nada setengah berseru. Gaara mengangguk pelan. Sakura berdiri tegak di depan Gaara dengan sorot mata tajamnya.
"IDIOT! KENAPA BARU MEMBERITAHUKU SEKARANG? APA YANG KAU LAKUKAN SELAMA DI JEPANG SAMPAI TIDAK BISA MENGABARIKU? KAU IDIOT! IDOT! BODOH! BRENGSEK!"
Sakura mengamuk dengan mencengkram kerah kemeja Gaara sampai badan Gaara berguncang. Meskipun begitu, Gaara sama sekali tidak marah. Seulas senyum malah muncul menghiasi wajahnya yang biasanya tidak berkespresi.
"Apa maksudmu?! Kau sengaja melakukan semua ini? Dan apa maksudmu? Kau tidak punya nyali untuk menyapaku? Alasan macam apa itu? Dasar laki-laki pengecut!" seru Sakura sebelum melepaskan tangannya dari kerah kemeja Gaara. Gaara hanya tersenyum lalu memajukan kursinya sehingga jarak yang memisahkan mereka tipis sekali.
"Aku melakukan ini semua karena aku menyukaimu." balas Gaara dengan senyum setannya.
"Tidak. Aku mencintaimu." ralat Gaara dengan menggenggam kedua tangan Sakura yang bertengger di atas sprei. Sakura hanya mendengus pelan.
"Omong kosong." Sakura tersenyum sinis.
"Kalau kau benar-benar menyukaiku.. Tidak. Maksudku, mencintaiku. Harusnya kau berani menyapaku. Kemudian kita dekat lagi sehingga kau bisa melamarku dengan baik-baik, bahkan lamaran yang romantis. Maksudku, untuk apa mengambil jalan yang sulit? Kau tahu? Level kekesalanku sudah mencapai batas maksimum untukmu! Karena apa? Karena kau lebih menyebalkan dariku! Dan apa? Aku membenci semua tingkahmu! Aku benci wajah sok kerenmu! Pokoknya aku benci semua tentangmu! Dan.."
Kesal dengan ocehan Sakura yang sangat panjang, Gaara mencengkram rahang Sakura sehingga Sakura berhenti mengoceh karena kesusahan untuk membuka mulut. Kemudian Gaara memajukan wajahnya dan kembali mengecup bibir Sakura dengan lembut. Setelah itu, Gaara melepaskan ciumannya lalu menjauhkan wajahnya.
"Kau tidak mau bercerai kan?" Gaara memotong semua rutuk sebal Sakura. Dengan malu-malu, Sakura menggelengkan kepalanya. Gaara mengedipkan sebelah matanya. Lalu ia kembali memajukan bibirnya pada bibir Sakura dengan memegang kedua pipi Sakura.
"Misi berhasil!" ucap Ino yang mengintip dari jendela kamar yang ada di samping.
Ino pun menghentikan acara mengintipnya. Dia mendudukkan dirinya lalu bersandar pada dinding di bawah jendela itu. Ino pun tersenyum senang. Sementara Sakura yang ada di dalam sana kelabakan dan mulai megap-megap seperti ikan yang dilemparkan ke daratan. Sayangnya, Gaara sama sekali tidak perduli. Dia malah memajukan tengkuk Sakura dan memperdalam ciuman mereka.
THE END.
HALO SEMUANYA!
Maafkan Author yang membuat kalian menunggu lama yaa. Pokoknya, sebelumnya, Author ucapkan selamat datang kembali. Makasih loh ngerepotin udah mampir buat liat chap ini. Mungkin kalian udah lumutan karna ff ini lama banget update nya. Sekalinya update malah last chap wkwkwk.. Tolong maafkanlah Author yang nista ini. Maafkan Author kalau kalian nggak suka sama akhirnya. Maafkan Author karena kenyataannya adalah ini semua sudah Author rencanakan sejak awal. Author nggak mau buat konflik yang ribet dan pengen cepet end, jadi gini hasilnya hehehe..
Pokoknya semua pertanyaan udah terjawab ya? Umurnya Gaara udah Author kasih tau kan? Yang jelas Gaara itu tetep aja tingkahnya kayak anak sebaya Sakura wkwk.. Dasar Sakura aja yang hobi ngatain Gaara orang tua.
Balik lagi ke topik awal. Kalau misalkan kalian kurang suka sama endingnya, Author minta maaf banget. Kalau kalian mau komen, silahkan kok. Author sangat menerima semua komentar yang masuk lewat kotak review. Semua komentar kalian dalam bentuk apapun, Author terima semua, karena Author memang butuh masukan dari kalian semua. Author sangat menunggu semua komentar kalian semua hehehe.. Yang jelas, Author merasa lega karena Author berhasil update dan menyelesaikan FF pertama ini. Rasanya Author sangat bahagia lohh
Jadi chap terkahir ini, Author akan membalas semua review yang masuk untuk chap terakhir yaa..
Bubble : Ini dia lanjutannya. Ini dia last chapnya. Author harap kita bisa berjumpa lagi yaa! Makasih buat kamu yang udah mau mampir buat baca ff amatir ini:)
Hinamori Hikari : Setelah memutuskan ending yang seperti ini, kayaknya Author harus merombak keterangan yang ada di ff ini yaa. Jadi di sini anggep aja Sakura itu anak nakal yang ga peduli sama sekolahnya. Karna dia emang bodo amat masalah sekolah. Yang ada di otak Sakura itu cuman Ayah dan kerja. Udah itu aja wkwkwk.. Btw, makasih loh udah berkunjung. Semoga next time, kita bisa ketemu lagi yahhh:) /dipeluk Author/
Serizawa Natsu : EHHH? KOK KITA SAMA SIH? KOK? KOK? KOK? APAKAH KITA JODOH? /ditendang reader/ Author juga gitu loh. Dulunya seneng banget sama SasuSaku, tapi setelah dipikir-pikir lagi kok kayaknya bosen ya? Dan biasanya Gaara itu selalu dijadiin pihak ketiga. Jadi tercetuslah ide untuk membuat pairing GaaSaku. Soalnya Author liat jarang banget ada pairing ini. Kalo ItaSaku sih nggak ya, soalnya keinget sama Sasuke lagi deh wkwkwk.. Kalo SasoSaku? Itu mah cocoknya jadi kakak-adek(zone)! Mereka super cute! Tapi intinya, author juga jadi Sakura centric. Pokoknya Sakura itu jadi pemeran utamanya. Udah itu aja wkwkwk.. Makasih lohhh yaaa.. Semoga aja bisa ketemu kamu lagi! See ya!:)
YurChan Nyan : Jangan gitu, kasian Sakura itu. Dia itu sebenernya bersyukur banget punya laki kayak Gaara. Dasaran dia agak tsundere dikit aja kok. Dia kan belum dewasa, jadi yahh gitulah /ngomong apa sih/ Ini dia update terkahir untuk ff ini. Makasih yaa udah nyempetin diri buat mampir. Author harap kita bisa bertemu lagi yaa:)
Guest : Udahlah, Gaara itu emang gitu. Rada bipolar, tapi dia nggak bipolar kok. Dia itu cuman suka mood-unmood aja /koplak/ Sebenernya, Author ini emang jago lohh buat anak orang baper. Tapi sayang, masih ngejomblo aja /pundung di pojokan/ Ini dia, update terakhir untuk ff ini. Semoga kita bisa ketemu lagi yahh:)
Bang Kise Ganteng : Alhamdulillah yahh kalo ceritanya lucu dan kamu menjadi senang:) Kamu senang, Author senang:))
Nurulita as Lisa-san : Makasih lohh:)
Guest : Udahlah, Sakura itu emang gitu. Dia itu selalu melawan apa kata hatinya. Padahal udah Author bilangin, tapi dia masih aja gitu. /maknya Sakura/ Dia itu nggak bisa kalau nggak teriak-teriak. Rasanya kurang klop kalo nggak teriak, karena teriak-teriak itu adalah kebiasaannya /ngaco banget sih thor/ Cerita dari Author itu memang selalu dibumbui dengan satu ton gula, jadi manis banget hasilnya hehehe /menyombongkan diri/ Nggaklah, canda ae kok wkwk.. Pokoknya sampai jumpa yahh:)
Hasegawa592 : Maapkan Author yaa, tapi sekarang Author sudah meyakinkan diri. Author akan merubah rate ini jadi M! /warning udah dicantumkan/ tapi, Author sama sekali nggak masukin adegan lemon karena di pikiran Author, itu sedikit menggelikan:) Yahh makasih lohh, Author juga sudah mulai lelah dengan pairing SasuSaku, jadi buat Gaa-Saku aja hehe.. Supaya fresh gituuu.. Author bersyukur kalau kamunya suka, sayangnya ini adalah last chapter. Doain aja supaya kita bisa bertemu lagi yahh:)
Guest : Hehehe.. Menggantung cerita adalah salah satu keahlian Author amatir ini wkwk.. Maapkan Author yaa, Author emang suka ngegantungin agar kalian dapat merasakan sensasinya /korban digantungin/ Gaara nggak bipolar, dia cuman selalu berpanutan pada mood aja kok (?) Makasih udah berkunjung yahhh:)
Jamurlumutan462 : Hai, saudara kembar! Akhirnya kamu muncul lagi. Iya dong, mereka lucu karena mereka memang ditakdirkan untuk bersama /ngomong apa sih/ Ini dia last update untuk ff pertama ini, semoga saja kamu menyukainya yahh.. Makasih lohh karna udah mau mampir:)
Guest : Nggak papa, yang penting kamu masih baca. Itu aja udah buat Author seneng banget kok. Yahh, Author sudah meyakinkan diri untuk merubah rate ff ini jadi M berhubung Author sudah memberi warning wkwkwk.. Sudahlah, otak Author juga mesum kok. Dan Author dengan sangat bangga, mengakuinya:)
Shionna Akasuna : Mereka berdua tu nggak bakal cerai, mereka berdua itu cuman ngomong doang kok hehehe.. Emang kayak gitu. Gaara nya sweet, Saku nya keras kepala. Dengan begitu mereka bisa jadi cute copule kan? *wink Sayangnya, masalahnya nggak bakal rumit karena ini adalah da last chap:( Btw, makasih lohh karna udah mampir:)
Rina227 : Yaampunn, aku terhura membacanya. Mungkin hati kamu udah sangat terhubung dengan ff ini ya, makanya bisa gitu wkwkwk.. Btw, Author update lama gini karna menyambut junior baru juga lohh.. Sayangnya, Author bukan osis wkwk.. Pokoknya makasih ya karena udah nyempetin diri untuk log in dalam rangka membaca ff amatir ini. Lopp yuu:)
Yuukikiraina : Siapa sih yang nggak mau dibungkam sama Gaara dengan ciuman mautnya? Siapa nak? Siapa?! /bipolar/ Ini dia last update untuk ff amatir ini. Sampai jumpa lagi yahh:)
Lmlsn : Author juga mau sebenernya, emang dasar Sakura nya aja yang sok sok nolak. Dia itu sok jual mahal gitu sama Gaara /penggosip/ Nggak ding! Yahh.. pokoknya inilah update terakhir untuk ff ini. Author ucapkan makasih untuk kamu yang terus menunggu:)
YAHHH! BERAKHIR SUDAH PEMBALASAN REVIEW TERAKHIR.
AUTHOR HARAP KITA BISA BERTEMU LAGI.
AUTHOR HARAP KALIAN MENYUKAI ENDING INI.
AUTHOR HARAP KALIAN BISA MENYUKAI PAIRING INI.
MAAFKAN AUTHOR YANG NISTA INI.
AUTHOR UCAPKAN TERIMA KASIH UNTUK SEMUA READERS YANG SETIA MENUNGGU AUTHOR INI SAMPE LUMUTAN.
UNTUK YANG NGEFOLLOW ATAU NGEFAVORIT FF MAUPUN AUTHORNYA, AUTHOR MENGUCAPKAN TERIMA KASIH BANYAK.
SEKIAN DARI AUTHOR LAKNAT INI,
AUTHOR PAMIT.
UNDUR DIRI.
SPESIAL THANKS TO :
ARNI-CHAN, BANG KISE GANTENG, CHINTYA XIAUMIYUE, HASEGAWA592, KISE SAKURA, LMLSN, MARIA YEREMIA WATZON, MIN CHAN X, NEKOASTRAL09, REI HANNA, SERIZAWA NATSU, SHIONNA AKASUNA, TIKACHANPM, YURACHAN NYAN, YUUKIKIRAINA, INNERENE, KUUDEREGIRL3, LINNAP, NARIEZKA, YULIYURA, XIU CRISSEL, NURULITA AS LITA-SAN, MISS DIVANIA CHERRY, HINAMORI HIKARI, HIMENATLYSCHIFFER, GUEST, JAMURLUMUTAN462, RINA227, BUBBLE, CHERRY, AYONG TATA, ARUM JUNNIE, AZUMA SARAFINE, YUINEE5, LUCA MARVELL.
