Disclaimer : Masashi Kishimoto

Bab 2 dari House of Nutrient.

.

.

.

Saat baru tiba di kota yang dipilihnya secara acak untuk melarikan diri hari itu, Sakura sedikit kebingungan akan pergi kemana setelah benar-benar menginjakkan kaki kemari. Perjalanan menggunakan kereta tengah malam dan baru sampai siang ini, membuatnya sedikit kebingungan dengan pemandangan asing yang tersedia di depannya.

Ia tersenyum lega karena sempat terpikir untuk membawa surat ijazah S1 kedokterannya. Sehingga ia tidak perlu susah-susah mencari kerja di sini. Di dalam dompetnya pula ada sejumlah uang untuk menunjang kehidupannya sampai tiga bulan kedepan, plus untuk uang sewa apartemen yang cukup baik tentunya.

Sakura sudah memikirkan itu cukup matang. Untuk kabur tidak hanya perlu keberanian, think smart and planning adalah salah satu langkah yang disiapkan untuk sampai sejauh ini. Mengingat itu Sakura terkekeh sendiri. Ia bahkan tidak jauh berbeda seperti putri berambut panjang yang kabur dari menara tinggi, bedanya rambut merah muda itu tidak sepanjang milik sang putri.

Baiklah, untuk langkah awal ia akan menemukan tempat tinggal dulu, kemudian esoknya ia harus mencari kerja untuk menunjang kehidupannya. Baru setelah itu, kehidupan yang baru sudah menunggu. Ada semangat baru yang dimilikinya saat ini. Setidaknya ia punya hal baru yang akan dikerjakannya untuk ke depannya.

Setelah membeli koran, membacanya sebentar sembari makan siang. Sakura langsung menuju ke lokasi apartemen yang ditujunya. Ia sudah memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen yang katanya tidak jauh dari statiun (dia mengetahuinya dari bertanya kepada orang sekitar) ia juga telah menelpon pemilik apartemen yang memuat iklan di koran itu.

Ternyata, tujuannya itu tertunda karena ia tersesat. Ia baru pertama kali menginjak kota ini, wajar saja ia cukup kesulitan untuk menemukannya. Sudah berpuluh-puluh orang di hampirinya untuk bertanya. Sayangnya tidak ada taxi di sekitar sana, ia tidak bisa menggunakan taxi untuk memakai jasanya.

"Permisi saya ingin bertanya." Sakura sudah memutuskan untuk bertanya kembali kepada pria yang di hadapannya ini, pria itu adalah orang terakhir yang ingin dimintainya informasi tentang apartemen ini. Jika masih tidak ketemu, mungkin mencari hotel saja dulu untuk beristirahat. Oh, badannya benar-benar sudah lengket dengan keringat. Hasratnya sudah ingin segera untuk berendam di dalam bak air hangat.

"Ya, boleh." Seorang laki-laki yang tengah berdiri di depan lorong kecil yang dilewatinya menyahut. Sakura melihat orang itu bertampang cukup datar. Cukup banyak tindikkan di sekitar wajahnya. Tapi harus Sakura akui, ia sedikit tampan, mungkin?

Sakura sempat melirik jam tangannya. Hari sudah jam setengah delapan malam. Sekali lagi Sakura menyeka keringatnya. Bahkan aktifitas ini melupakannya untuk makan malam. Ia juga merasa lelah. Ternyata sesulit ini mencari alamat di tempat baru.

"Aku sedang mencari alamat ini," Sakura menyodorkan koran yang dipegangnya dari tadi. Koran itu sudah lusuh karena dipegang terus.

"Mencari apartemen?"

Sakura mengangguk, "aku sudah berkeliling kota ini hampir seharian." Sayangnya ia terlalu jujur dan membuat pria itu bisa menebak ia bukan orang asli sini.

"Baiklah, anda hanya masuk ke dalam lorong ini, di ujung sana tempatnya." Pemuda itu menunjuk dengan jempol pada lorong di belakangnya.

Sakura mengembangkan senyumnya. Akhirnya ia bisa segera beristirahat. "Terimakasih." Tanpa keraguan Sakura memasuki lorong tersebut. Dari depan memang ada pencahayaan. Ketika semakin masuk ke dalam lorongnya mulai sepi. Sakura mulai ketakutan tapi di cobanya untuk tetap berani.

"Tempat pembuangan sampah?" Sakura membaca tulisan yang berada di dinding tersebut. Saat ia mulai melangkah maju lagi, ternyata jalannya buntu. Seketika ia melebarkan matanya.

Tidak butuh waktu lama saat tas yang berada di bahunya mendadak sudah diambil alih oleh dua orang pemuda, dan salah satunya adalah pemuda yang berada di depan lorong tadi. Sakura sedikit meringis karena pergelangan lengan atasnya tersentak bekas rampasan tasnya.

Apa-apaan orang itu telah membohonginya. "Kembalikan taskuuu!" ia berteriak frustasi. Mendadak pula kecemasan mendatanginya. Kakinya seperti menginjak lumpur yang mampu membuatnya merosot kapan saja.

"Diam! Kalau kau tidak berteriak aku akan pergi baik-baik!" pemuda itu mengancamnya dengan mengeluarkan sebuah pistol.

Tangan Sakura gemetar sambil menutup mulutnya. Selagi ia terkejut, kedua orang itu berlari. Sakura berusaha mengejarnya. Tapi seingatnya ia tidak pernah bisa mencapai keluar lorong tersebut, dan hal yang diingatnya hanya kesedihan serta kegelapan yang menyelimuti.

.

.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.

.

Bau khas rumah sakit selalu familiar di setiap indranya. Udara rumah sakit selalu terasa sejuk. Tidak ada rasa bosan saat berada di sana. Setiap dokter akan menghadapi bermacam-macam pasien, menemukan jalan keluar dan membuat mereka sembuh. Itulah mengapa ia sangat menyukai bekerja di sana.

Menjadi seorang ahli gizi di salah satu rumah sakit ternama di Hokaido adalah kebanggannya. Tidak terasa ia sudah dua tahun mengabdi di sana, ada begitu banyak pengalaman dan perubahan yang di kembangkannya. Itu sangat menyenangkan.

Sudah seminggu ini ia meninggalkan rumah sakit—secara tidak terhormat mengundurkan diri diam-diam untuk melepas semua cengkraman di sekitarnya. Ia pikir bisa menjadi bulu halus yang dapat terbang bebas jika sudah lepas dari tangkai? Sayang sekali, ia salah besar.

Sakura membuka mata mengakhiri segala mimpi yang dilaluinya hari itu, ruangan rumah sakit, selang infus bahkan tirai putih yang menghalangi cahaya matahari yang masuk. Sejak kapan ia terbaring di sini?

"Syukurlah akhirnya kau siuman," sebuah suara bariton menyuruh matanya mencari jejak itu. Ia mendapati seorang pria tengah tersenyum di samping ranjangnya. Pria itu bukanlah pria yang diajaknya bicara semalam.

"Kau siapa?" tanyanya pelan.

Naruto menggaruk belakang lehernya. Tidak mungkin wanita ini sedang lupa ingatan. Jelas wanita berambut pink ini tidak tahu dengannya. "Engh, baiklah. Seharusnya aku meminta izin dulu dengan keluargamu untuk mengantarmu ke rumah sakit. Tapi, karena kita sama-sama saling tidak mengenal aku akan mengurusnya nanti."

Sakura hanya memandang Naruto lemah, saat ini kondisi fisiknya benar-benar tidak kuat. "Kau menolongku semalam?" hanya itu yang terlintas di pikiran Sakura tentang kejadian semalam.

"Ah iya, sebenarnya itulah yang ingin aku katakan. Kau pingsan semalam di dalam lorong, tubuhmu kotor dan kau sangat kedinginan. Aku tidak sengaja menemukanmu. Tidak mungkin aku membiarkanmu saja tertidur di sana."

Sakura mengerti. Dengan ini jelas sudah kejadian semalam bukan hanya mimpi. Jadi, benar ia kehilangan tasnya, hanya itu? Syukurnya hanya itu. "Maafkan aku telah merepotkanmu."

"Tidak masalah." Naruto merogoh ponselnya dalam saku celana. "Aku hanya punya waktu setengah jam lagi untuk kembali ke kantor. Jadi, ada keluargamu yang bisa kuhubungi?"

Sesaat Sakura hanya memandang Naruto dengan tatapan bingung. Benar juga, siapa yang akan bertanggung jawab dengan biaya rumah sakitnya kalau sudah begini. Mendadak Sakura melemas, kepalanya tertunduk. "Maafkan aku," lirihnya sedih. "Tidak ada yang bisa kita hubungi."

"Maksudmu?"

"Aku tidak punya keluarga."

Naruto mengernyit bingung. Ya ampun, apakah satu masalah lagi yang akan menghampirinya untuk sekarang? "Bisa kau jelaskan kau berasal darimana?"

Sakura tahu, Naruto bertanya begitu untuk meyakinkannya ada pihak keluarga yang harus mempertanggung jawabkan dirinya. Selain soal biaya, Sakura sudah mengerti kondisinya. Sedih rasanya melihat seluruh harta yang sempat dibawanya itu sudah hilang. "Semalam aku dirampok. Semua uangku ada di dalam sana, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tahu aku harus membayar biaya penggobatanku sekarang. Lalu, aku juga harus membayar semua kebaikanku. Tapi sepertinya—"

Naruto langsung menyelanya dengan nada tidak suka. "Maksudmu aku harus mempertanggung jawabkan ini?"

Tidak ada pilihan selain mengangguk. Takut-takut Sakura memandang muka pria berambut pirang itu. "Aku tidak menyangka aku masih hidup pagi ini. Dan semua ini berkat kau. Aku rasa kata terimakasih tidak cukup aku ucapkan." Sakura kini berusaha berani menatap Naruto.

"Baiklah, aku baru tahu kalau kau dirampok atau apalah. Tapi, kau yakin tidak memiliki keluarga?" Naruto mengulangi pertanyaannya untuk meyakinkan. Pekerjaannya sudah cukup banyak dan ia sebenarnya tidak mau merelakan gaji bulanannya untuk bertanggung jawab pada wanita misterius yang mendadak merepotkannya. Sebersit penyesalan menolong wanita itu.

"Aku dibuang dari keluargaku!" jawab Sakura asal. Hanya itu yang terlintas dari benaknya. "Tidak ada lagi keluarga yang peduli padaku. Makanya kita tidak bisa menghubungi siapapun sekarang. Maafkan aku."

Naruto berdesis, wanita di depannya ini benar-benar musibah. Siapa dia—yang mendadak mengambil waktu berharga beserta perhatiannya. Sakura sadar akan sikap Naruto itu. Dalam hati sebenarnya ia merasa tidak enak.

Tanpa bicara apapun Naruto berdiri dan keluar dari sana. Sakura ingin memanggilnya tetapi lidahnya kelu untuk menyerukan namanya. Pasti pria itu sangat kesal sekali, pikir Sakura dalam hati.

Oh, biar saja dulu Sakura menebalkan mukanya. Kalau pria itu tidak kembali juga sampai kapanpun karena menyesal telah menolongnya—jadi tukang bersih-bersih di rumah sakit ini kelihatannya tidak buruk.

"Dia tidak memberitahu namanya."

.

.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.

.

Seorang suster mengantarkan makan malam ke ruang rawat Sakura. Wanita berambut merah muda itu berterimakasih lalu dengan semangat langsung membuka menu apa yang di dapatnya hari ini. Hanya sepotong roti, secentong bubur beras merah dan sup udang yang rasanya hambar. Tidak ada makanan lain selain makanan yang di hadapannya ini. Daripada ia harus menahan lapar, ia makan saja semua itu.

Sembari mengunyah itu Sakura teringat akan pekerjaannya di Hokaido. Ia sangat senang ketika pasien-pasiennya dapat makan dengan lahap tanpa rasa hambar dengan ramuan racikannya. Sakura dapat meracik penyedap rasa yang tidak berbahaya untuk dikonsumsi. Dan itu hanya bisa ia lakukan di laboratorium pribadinya di rumah sakit umum Hokaido. Terbersit rasa rindu yang melayang pada kota tua itu.

Masih ada setengah piring, seseorang membuka pintunya. Sementara Sakura harus menghentikan makan malamnya. Melihat orang yang masuk, wajah Sakura seperti ada kekuatan lagi, ternyata dugaannya salah. Sang penolongnya kemarin malam datang dan tidak melarikan diri.

"Kau harus pulang malam ini."

.

.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.

.

Setelah Naruto melunasi administrasi inap Sakura (bahkan Sakura tidak percaya), mengurus kepulangannya—yang nyatanya tidak ada selembar pakaianpun barang yang dimilikinya kecuali bajunya saat ini. Hanya semakin membuat hati Sakura merasa tidak enak.

Apakah saat ini adalah balasan dari Tuhan karena berani menentang ibunya? Ah, tapi, ibunya sudah keterlaluan, jadi wajar saja ia melawan. Sakura ingin sekali membenturkan kepalanya di dinding saat ini juga.

"Berapa biaya rumah sakit?" Sakura membuka obrolan pertama saat ia masuk ke dalam mobil Naruto. Pria itu sedari tadi menekuk wajanya dan tidak bicara walau sepatah katapun. Wanita itu tahu, pasti Naruto kesal harus menanggung semua itu.

Awalnya Naruto tidak mau menjawab. Tapi saat mobilnya keluar parkiran rumah sakit ia membuka suara. "Hampir seperempat gajiku."

Sakura benar-benar menyesal detik itu. "Aku akan menggantinya setelah aku mendapatkan gaji."

"Jika memang benar kau tidak memiliki keluarga, aku tidak akan memaksamu."

"Maksudmu, aku berbohong?" Sakura merasa janggal dengan perkataan Naruto.

"Siapa yang tahu?" Jawab Naruto terkesan acuh.

Baiklah, sekarang wanita itu memang tidak memiliki apapun untuk ditinggalinya sebagai barang bukti yang cukup berharga untuk ia berikan—sebagai kepercayaan Naruto untuk identitas dirinya bahwa memang ia sekarang sendiri. Tentunya tidak dengan cerita yang sebenarnya.

"Kalau saja aku memakai cincin, atau kalung, aku akan meninggalkan itu padamu untuk sementara." Sayangnya ia tidak suka mengenakan itu dan itu membuatnya tambah merutuki dirinya sendiri. "Aku berjanji akan mengembalikannya dan membalas budi. Ah, terimakasih sekali lagi atas kebaikanmu." Kini Sakura menghadap Naruto.

Sementara pria itu tetap menghadap ke jalan, berkonsentrasi dengan laju kemudi. "Lalu, sekarang kemana kau akan pulang?"

Sebenarnya itu salah satu yang dipikirkan Sakura dari tadi. Mungkin menyewa apartemen dulu tanpa uang muka, berharap kalau ada seseorang yang berbaik hati yang mau membantunya. "Maafkan aku, aku tidak tahu."

Naruto langsung membanting stir mobil ke pinggir dan mengeremnya dengan mendadak, membuat Sakura harus memekik karena terkejut dengan aksi Naruto yang cukup berbahaya.

"Lalu bagaimana? Kau mau kuturunkan di sini?!" akhirnya emosi Naruto sudah pada batasnya. Walau harus ia akui, wanita di hadapannya ini cantik, tentu tidak bisa membuatnya menurut saja, setelah apa yang diperbuatnya.

Beberapa detik Sakura ternganga. Ia mengerjab bingung karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain menurut. "Ba-Baiklah," Sakura mengerti. Mungkin jadi gelandangan tidaklah lebih buruk dari tukang bersih-bersih rumah sakit. Tangannya melepas sabuk pengaman pada badannya dengan pasrah. "Setidaknya beritahu namamu, karena suatu hari nanti aku akan mengembalikan uangmu."

"Namaku Naruto, Naruto Uzumaki. Kau bisa mencariku di kantor Rutan Konoha."

"Namaku Sakura." Wanita itu tidak berani menyebutkan marganya. Karena kalau ia memakai marga itu, berarti ia masih bernaung di bawah kendali ibunya. Dan untuk sekarang, marganya tidak memiliki kekuatan apapun

"Sekali lagi aku berterima kasih. Anda begitu baik hati." Sebelum Sakura memutar badan untuk keluar mobil, ia mendapati keringat jagung di pelipis Naruto—padahal malam ini begitu dingin. Dan keringat itu terlalu janggal di mata seorang dokter.

Sebagai seorang dokter ia mengetahui sikap itu. Ada sesuatu yang terjadi dalam diri pria itu entah apa. Sesuatu itu tentunya bukanlah hal yang wajar.

"Apa anda baik-baik saja?" Sakura meyakinkan.

Naruto menoleh dan menyuguhkan muka pucat dan gemetaran, padahal beberapa detik yang lalu ia baik-baik saja. Ah, mungkin juga tidak, karena Sakura cukup membuatnya takut. Mungkin saja wanita itu mau memerasnya, atau membuat tindakan anarki lainnya?

"Aku baik-baik saja," jawab Naruto meyakinkan. Ia ingin secepatnya Sakura keluar dalam mobilnya. Kalau saja Sakura adalah seorang laki-laki, mungkin satu tendangan akan dilayangkannya.

"Apa kau salah makan hari ini?" selidik Sakura. "Ah, kelihatannya begitu. Sekitar beberapa jam ke depan atau tengah malam, aku yakin kau akan muntah-muntah, aku dengar kau tadi bersendawa beberapa kali dalam mobil. Kemungkinan kau sedikit keracunan makanan." Sakura mengamati lagi dengan kedua iris emarld-nya, "atau minuman?"

Naruto memperhatikan wajah wanita yang menyebalkan itu, wajahnya sangat serius. Tahu apa dia tentangnya? Wanita bersurai merah muda itu benar, sejujurnya dari tadi ia bersendawa terus, seperti ada gas yang selalu ingin keluar dari dalam perutnya.

Sakura melirik botol soft drink di laci pintu pada posisi Naruto. Tanpa perintah ia mengulurkan tangan untuk mengambilnya dan langsung mencari tanggal kadaluarsa. Naruto tampak kebingungan melihat itu.

"Tadi kau minum ini?"

Naruto masih bingung, ia hanya mengangguk.

"Minggu depan masa kadaluarsanya habis." Sakura membuka jendela kaca mobil lalu membuang botol itu ke pinggir jalan. Kalau sudah begini, naluri kedokterannya langsung keluar. "Pindahlah ke kursi belakang biar aku yang menyetir."

Naruto masih bergeming. Kepalanya mendadak sakit. Mungkin benar soft drink yang diminumnya cukup berbahaya. "Kenapa diam saja? Cepat pindah!" perintah Sakura. "Setelah sampai di rumah nanti, aku akan memberikan pertolongan pertama sebelum kau benar-benar keracunan."

Karena rasa pusing dan lelah yang kuat, Naruto pindah ke belakang dengan ragu. Sementara Sakura mengambil alih mengemudi. "Apartemenmu di komplek Konohagakure II, kan?"

.

.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.

.

Setelah meyakinkan Naruto kalau dia sedikit keracunan minuman soda, Naruto mengizinkannya masuk ke dalam apartemennya. Sakura bersyukur Naruto tidak tinggal bersama orangtuanya. Kalau begitu, orangtuanya pasti akan tahu karena menolong wanita yang tidak jelas asal usulnya.

Sakura membiarkan Naruto memuntahkan isi perutnya karena dilihatnya dari tadi pria itu bersendawa terus. Setelah itu, Sakura memberikannya susu hangat untuk menetralisir racunnya.

"Lain kali kalau beli produk instan harus dicek dulu tanggal kadaluarsanya," Sakura memperingatkan sembari menunggu gelas susu itu kandas dari dalam wadahnya.

Naruto mengulurkan tangan untuk dipegangi cangkir bekas susu itu. kemudian ia menyandarkan badannya ke sofa ruang tamunya. "Sebenarnya aku tidak apa-apa."

Sakura menggeleng, "jangan remehkan hal sekecil apapun. Bisa saja dari semua ini akan memicu kanker lambung."

Naruto bergidik ngeri mendengar itu.

"Sepertinya kau punya riwayat magh juga ya?" Sakura memastikan.

"Entahlah, kurasa semua orang hampir memiliki penyakit itu."

Sakura menghela nafas, tidak disangka baru sehari semalam ia berada di Konoha, sudah cukup banyak hal yang terjadi. "Ya, kau benar. Oh ya, karena kau tadi sudah mengeluarkan semua isi perut, kau pasti sudah kehilangan semua makan malammu hari ini. Mungkin aku akan membuatkan bubur."

Saat ini perut Naruto mendadak kosong. Ia memang butuh sesuatu untuk menganjalnya. "Baiklah, aku akan menunggu."

Dengan jawaban singkat Naruto, Sakura berdiri bergegas menuju dapur membuat bubur untuknya.

.

.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.

.

Sakura melirik jam di dinding dapur. Hari sudah menunjukkan jam sebelas malam. Ia mengambil waktu yang panjang untuk menyiapkan semangkuk bubur. Jelas saja, karena waktunya terbuang cukup lama mengingat ia tidak tahu letak peralatan panci dan sebagainya dalam dapur milik pria itu.

Dengan semangat Sakura kembali ke ruang tamu untuk menyajikan bubur daun bawang yang masih mengepul panas. Sakura hanya bisa meletakkan mangkuk itu di atas meja dengan perlahan. Setidaknya ia sudah berusaha berguna bagi pria yang berbaik hati itu walau nyatanya bubur itu sia-sia tidak akan termakan.

"Mungkin aku terlalu lama memasak bubur." Sakura bergumam sembari mencari sebuah kamar dan memasukinya. Tak lama kemudian. Ia keluar dengan selembar selimut yang didapatnya dari dalam sana, lalu menaruhnya di atas badan Naruto.

"Sepertinya malam ini aku menumpang di sini dulu ya, Naruto." Sakura berbicara kepada Naruto yang tengah terlelap, pria itu nampak sangat lelah. Wajahnya tenang, seolah tidak merasa terbebani seperti saat ia marah-marah di dalam mobil tadi. "Aku berjanji akan membayar semuanya."

.

.

.

Tsudzuku

.

.

.

Author POV balas review non login:

Guest : Kenapa banyak review yang non login make nama ini? Amai kadang bingung medainya XD makasih atas reviewnya. Soal kualitas selalu terjaga loh *yakin banget*

Mao-chan : Selain Sakura stress putus dari Sasuke karena udah terlalu kecewa, dia stress gara-gara ibunya. Makasih ya.

Elle Ns: err, maksud aku gak lantai 15 sih, hanya pengandaian. Makasih untuk semangat ya Ell, :D

Makasih juga buat yang mereview, fave or follow. Makasih ya.

Ok, sampai jumpa di chapter tiga! Dadah dadah!