Disclaimer : I don't own Naruto.

Warning (s) : AU, OOC, Typo (s)

.

.

.

Papan yang bertuliskan nama Sakura Haruno masih berdiri di atas sebuah meja ruang kerja khusus. Meja itu tidak tersentuh sudah seminggu lebih dari pemiliknya. Sebenarnya rekan kerjanya heran, mengapa mendadak ia tidak ada kabar dan memutuskan segala kontak apapun dari tempatnya bekerja.

"Ini tidak bisa dibiarkan," Kabuto menduduki kursi kerja yang biasa Sakura gunakan dalam rumah sakit ini. "Bagaimana bisa ia tidak mengirim kabar apapun? Yang benar saja ia mengundurkan diri."

"Kami sudah menghubungi pihak keluarga, tetapi tidak ditanggapi. Lagipula orangtuanya juga kurang suka ia bekerja di rumah sakit." Balas bawahan Kabuto yang bernama Sasame.

Kabuto membuka laci meja itu. Hanya ada kertas-kertas yang sepertinya hanyalah bekas hard copy yang salah. "Selama ia bekerja, ia tidak pernah membocorkan resep masakannya?"

Sasame mengangguk mantap. "Ia selalu bekerja sendirian, Sakura-san hanya memberikan bumbu yang sudah jadi, tapi beliau tidak pernah memperlihatkan kami bagaimana meraciknya."

Kabuto mengerbak meja dengan emosi. Bagaimana bisa wanita yang sudah merubah kondisi rumah sakit menjadi sesuatu yang 'berbeda' mendadak hilang, seolah melarikan uji cobanya di rumah sakit itu. "Kemungkinan besar ia dikontrak oleh rumah sakit lain."

"Sayang sekali kalau itu benar terjadi."

.

.

.

Pagi ini tidurnya berasa sangat nyaman. Saking lelapnya, ia tidak tahu telah mimpi apa. Naruto membuka matanya, detik itu ia baru sadar masih berada di ruang tamu. Dari sini ia bisa mendengar suara berisik dari dalam dapur. Seseorang pasti ada di sana mengorek isi dapurnya, menimbulkan bau dari suatu makanan yang jarang diciumnya.

Naruto menggeser selimut sembari melihat arah jarum jam. Masih jam enam, ada setengah jam lagi sampai ia harus pergi ke kantor.

"Bagaimana kondisimu pagi ini?" si penggerak dapur menyadari Naruto bangun, ia sedikit mengintip dari balik pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tamu.

Naruto menoleh, ia mengerutkan dahi, "kau? Kenapa masih di sini?"

Sakura melangkah ke luar sepenuhnya dari dalam dapur. Apa-apaan ekspresi pria itu seolah tidak terima walau sebenarnya ia berhak. "Nanti saja aku jelaskan, bukankah kau akan ke kantor sebentar lagi?" Sakura menunggu respon dari Naruto yang masih kebingungan, tidak ada jawaban wanita berambut pink itu berkata lagi, "aku sudah buatkan sarapan, silahkan mandi dulu setelah itu makan dan kau bisa berangkat."

Naruto masih membatu mencerna setiap kata bahkan intonasi yang terdengar menyuruh. Apa-apaan wanita ini?

"Ayo, tunggu apa lagi?"

.

.

.

"Ini bubur daun bawang?"

Sakura melebarkan senyumnya. Ia sangat yakin Naruto menyukai masakannya. Bagaimana tidak? Beratus-ratus pasien di rumah sakit saja sangat menyukai masakannya. "Kulkasmu kosong, aku hanya bisa membuat dengan bahan yang ada. Kau suka?"

Naruto menyendok lagi bubur daun bawang di hadapannya. Setelah mandi pagi tadi, ia cukup kedinginan. Tapi, setelah sebagian bubur itu masuk ke dalam lambungnya, perutnya menghangat. Padahal rasanya hampir hambar tidak ada asinnya. Tapi, bubur itu membuat lidahnya penasaran untuk menelan lagi dan lagi, lidahnya mencari-cari rasa apa yang tengah ia sentuh. Naruto yakin rasa daun bawang tidak senikmat ini.

"Apa setelah aku makan ini aku bisa sampai kantor?"

Sakura mengerutkan alis tidak suka. "Kau kira aku akan meracunimu?"

Pikiran Naruto teralihkan oleh rasa laparnya untuk memasukannya kembali ke dalam mulut. "Soalnya kau tidak makan juga."

"Baiklah..." Sakura mengambil mangkuk. Mengambil bubur dari dalam panci dan memasukannya ke dalam mangkuknya. Lalu ia mulai makan juga. "Sebenarnya aku harus izin dulu memakan barangmu. Karena kau takut ada racun di dalamnya. Ini aku makan."

Sakura langsung menandaskan isinya. Membuat Naruto tersenyum geli. Ia kembali memakan bubur miliknya. "Jadi, kau sudah putuskan akan tinggal dimana?"

Sakura menggeleng, masih sibuk merasakan masakannya sendiri.

Naruto tampak berpikir sebentar. "Kalau kau mau merapikan sedikit rumahku, lalu mencuci pakaianku. Hari ini masih kuizinkan kau tinggal."

Sakura langsung mengalihkan pandangannya ke Naruto dengan wajah berbinar. "Benarkah?"

Naruto mengangguk. Kini buburnya sudah habis. "Tapi, hanya sebelum kau menemukan tempat tinggal ya? Aku tidak mau memberimu tumpangan berlama-lama."

"Baik!" seru Sakura dengan semangat. "Aku juga akan berusaha membayar hutangku, tenang saja."

Naruto bergegas menyambar sebuah tas hitam yang sudah dipersiapkan di samping kursinya. "Oh ya, satu lagi." Ujar Naruto seraya berdiri dari kursinya. "Pastikan semua barang dalam apartemenku aman, tidak ada satupun yang hilang. Bisa?"

.

.

.

Mebuki menyesap tehnya sambil memandangi halaman di belakang rumah. Teh dengan irisan kayu manis di dalamnya, biasanya ia nikmati bersama Sakura setiap pagi. Untuk saat ini, ia tak bisa menyesap teh yang biasa dibuat oleh putri kebanggaannya.

Sebenarnya ia cukup tertekan melihat kabar jika anak semata wayangnya kabur melarikan diri. Ini sudah hari kedua ia kehilangan seorang putri. Entahlah putrinya itu pergi kemana.

Sakura memang selalu menentangnya. Selalu menjawab setiap perintahnya. Tapi, ujung-ujungnya Sakura akan menurut. Beda untuk kali ini. Sakura sudah diluar batas. Ia benar-benar sudah menjadi putri yang durhaka kepada seorang ibu.

"Bagaimana, belum ada kabar apapun?" Mebuki menaruh gelas tehnya hati-hati ke atas tatakan gelas itu.

Sekertaris Mebuki yang biasa disapa Ayame membungkuk sesaat. "Saya rasa Sakura-sama sudah berada di luar Hokaido."

Mebuki memiringkan kepala, tampak berpikir. "Menurutmu kota apa yang bisa dalam jangkauannya?"

"Sakura-sama memang sering menggunjungi kota-kota di Jepang. Ada banyak kemungkinan ia menetap di suatu tempat. Bisa di Suna, Tokyo, Osaka atau Konoha."

Mebuki memutar otak lagi. Dalam kondisi seperti ini sang suami tidak bisa membantunya ikut berpikir. Suaminya masih sangat sibuk berada di dalam kantor mengurusi bisnis turun menurun itu. Sebenarnya Kizashi pun tertekan mengetahui hal ini. Hanya saja ia lebih menyibukan diri agar tidak berdebat dengan istrinya.

Mengingat kesibukan Kizashi dengan pekerjaannya, Mebuki selalu tidak habis pikir dan selalu ingin marah kepada Sakura. Kenapa ia bersikeras menjadi dokter? Kenapa tidak menjadi seorang pembisnis saja? Dalam hati Mebuki selalu merutuki putri semata wayangnya itu.

"Kurasa Sakura tidak pernah ke Konoha. Tidak mungkin ia kesana."

Ayame hanya terdiam. "Apa kita perlu mengirim orang ke sana juga?"

"Mungkin akan menjadi tempat tujuan terakhir..."

.

.

.

Bunyi vacum cleaner membuat suara telpon rumah yang berbunyi tidak kedengaran. Belum lagi posisi Sakura berada di dalam kamar pribadi Naruto. Sakura bergerak ke sana kemari menyedot semua debu yang ada. Memungut pakaian kotor Naruto, bahkan pakaian kotor itu juga ada di bawah ranjang. Benar-benar pria sibuk yang pemalas. Sakura sempat-sempatnya menggerutu.

Sakura tidak biasa membersihkan satu apartemen. Kalau disuruh memilih, ia lebih suka berjam-jam berada di dapur. Tapi, tak apa. Jadi tukang bersih-bersih tidak seburuk yang ada di pikirannya.

Suara telepon menggema lagi (entah sudah yang keberapa kali) dari ruang tamu. Kali ini Sakura baru menyadari. Bergegas ia berlari mendekat ke sana.

"Moshi-moshi?"

"Kenapa lama sekali mengangkat telepon?" terdengar suara seorang pria yang sedikit berteriak.

"Maaf, anda siapa?"

Dari seberang sedikit berdehem.

"Ah, Naruto, kan?!" tebak Sakura sebelum pria itu membongkar identitasnya. "Ada apa?"

"Bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?" Sakura kebingungan.

"Apa barang-barangku masih aman?"

Sakura sedikit kesal dengan pertanyaan itu. Wanita berambut merah muda itu melempar pandangan matanya ke sekeliling daerah itu untuk meneliti setiap benda yang berdiri di sana. Baik, tidak ada yang bernilai tinggi di sini. "Dari kau pergi bekerja tadi sampai jam..." Sakura sedikit melirik jarum jam. "Jam dua siang ini aku sibuk mengurus kebersihan apartemenmu. Perlu kau ketahui. Tempat ini seperti sudah lama tidak dihuni. Baju kotormu berserakan, dan aku harus menggosok cangkirmu agar tidak terlihat kuning. Itu saja pekerjaanku masih belum selesai! Aku harus membersihkan kulkasmu, lalu tempat sayurnya. Mengapa banyak sekali tanah di sana? Kau tidak pernah mencuci sayur sebelum memasukannya ke dalam kulkas?"

"Jadi, kau terlambat mengangkat telpon karena sibuk?"

Apa-apaan nada pria itu, penuh dengan semua tuduhannya. Kalau saja Sakura tidak ingat ia adalah orang yang berjasa untuknya. Mungkin kata-kata kotor, hal-hal yang berada di dalam kebun binatang sudah ia lontarkan. Ah, bahkan ibunya saja sering ia bentak.

"Baiklah, kau bisa mengecek semua barangmu setelah pulang nanti. Semua masih pada tempatnya. Aku yang bertanggung jawab."

Naruto terdengar melepas tawa pelan. Mungkin ia merasa terlalu berlebihan. Tentu saja, ia kan tidak boleh langsung percaya pada orang yang baru dikenal. "Aku akan pulang lebih cepat hari ini. Mungkin jam lima. Oh ya, ada uang di dalam lemari dapur. Kalau kau punya waktu pergilah ke mini market yang kita lewati semalam. Kau tidak akan tersesat kan hanya karena kesana?"

Sebentar. Pemuda ini, apa sedang menyuruhnya? Ok, baiklah ini memang ia pantas dapatkan. Dan soal uang yang berada di laci, sebenarnya Sakura sudah mengetahui keberadaannya. Padahal tadi Sakura ingin memakai uang itu lalu membeli beberapa sayur dan ikan untuk memasak makan siang. Karena sedikit ragu, ia hanya bisa memakan mie ramen instan punya Naruto—berharap pria itu mengikhlaskannya. Iya, bersih-bersih itu butuh makan juga.

"Baiklah, aku akan berbelanja." Sakura berusaha melembut. "Kau ingin makan apa? Nanti akan kumasakkan sesuatu."

"Aku suka semua masakan. Yaaah, asal tidak beracun saja."

Mata Sakura menyipit. Ternyata pria itu masih belum mempercayainya. "Baiklah kalau begitu, oh ya, terimakasih sudah mempercayakan tugas ini padaku."

.

.

.

"Jadi, semua pasien mengeluh karena mendadak makanan di rumah sakit ini berbeda?" salah satu perawat yang jaga siang itu berkomentar. Di dada sebelah kanannya ada name tag bertulis: Misumi.

Moegi teman lawan bicaranya langsung menampakan ekspresi kecewa. Bahkan Sakura yang sering dipujanya tidak meninggalkan kata perpisahan apapun. Ia sangat menyesal mengetahui ini. "Iya, bahkan ada seorang pasien yang membuang wadah makanan ke dalam bak sampah. Ia bilang, untuk apa memakannya?" Moegi mengetahui apa yang sudah terjadi hari ini. Begitu banyak makanan yang terbuang seminggu terakhir. Semua ini terjadi ketika kepala bagian gizi tidak ikut campur tangan. "Aku harap Sakura-san segera kembali."

Misumi menepuk bahu Moegi, "bukankah ilmunya pernah dibaginya padamu. Kenapa tidak kau saja mengambil alih pengawasan dapur dan bumbu kesehatan?"

Moegi mengangkat wajahnya. "Jangan bercanda. Bahkan ibuku tidak mau memakan masakanku."

"Itu karena kau selalu memberi lada pada masakan apapun." sindir Misumi yang membuat Moegi menyipitkan matanya.

"Aku dengar sekarang Kabuto-san yang menjadi pengawasan dapur. Apa itu benar?"

Misumi memiringkan kepalanya. "Wajar saja banyak yang protes ya?"

.

.

.

Sebenarnya Sakura sangat kelelahan sore ini. Bagaimana tidak, sepulang dari rawat inap di salah satu rumah sakit Konoha, kini ia sudah hampir menyerupai seorang pembantu. Membersihkan satu apartemen, menguras bak mandi, lalu menyikat kamar mandi, mencuci (untung saja pria pirang itu memiliki mesin cuci) lalu terakhir berbelanja dan masak. Ia bersyukur, tepat setengah lima ia sudah menyelesaikan semuanya.

Dalam waktu setengah jam sampai pemilik apartemen itu pulang, ia akan mencuri waktu untuk tertidur. Semalam rasanya ia hanya terlelap selama empat jam. Oh, kalau begini ia bisa kembali merepotkan sang pemilik rumah untuk mengantarkannya ke rumah sakit lagi.

Baru lima belas menit Sakura merebahkan badan di atas sofa, ia merasakan bunyi bel apartemen ini berdenting. Dengan malas-malasan Sakura berdiri membuka pintu. Rasa kantuknya harus ia usir sesegera mungkin atau mendapati sang tuan rumah akan mencurigainya lagi.

"Selamat datang." Ternyata benar, sang pemilik apartemen yang pulang. Sakura langsung masuk menuju dapur setelah menyambut kepulangan pria itu.

Ia langsung saja menuju kulkas, mengambil sebuah gelas berisi cairan coklat yang sudah dibuatnya sekitar satu jam yang lalu.

"Apa itu?" sembari mengendorkan dasi, Naruto melirik sebuah gelas yang diletakan di hadapannya. "Susu coklat?" kini ia menatap Sakura menunggu kepastiannya.

"Engh, sebenarnya itu bukan susu coklat biasa."

"Minuman ini biasa aku berikan untuk pasien yang emosian atau sering mencurigai dan tidak percaya pada dokter yang menanganinya."

"Bukan susu coklat yang biasa? Kau ingin—"

Sakura langsung memotong perkataan Naruto yang sudah jelas tidak enak masuk ke dalam pendengarannya. "Walau ada racun, susu akan menetralisirnya. Tidak ada obat yang bisa melawan susu." Sakura mengambil posisi duduk di hadapan Naruto. "Minumlah, ini bisa membuatmu lebih segar setelahnya." Sakura memberikan senyuman kepercayaan.

Karena itu Naruto mulai meneguknya. "Ada rasa kelapa."

"Iya, hanya air kelapa yang dicampur dengan susu coklat. Apa kau suka?"

Naruto meneguk lagi, hingga gelasnya kosong. Kelihatan jelas dari ekspresi wajah pria itu, ia menyukainya. Padahal seharusnya ini bukan minuman untuk pria yang berusia hampir kepala tiga. "Baru kali ini aku meminumnya."

Sakura tersenyum puas. "Baiklah, aku juga sudah menyiapkan air hangat untukmu."

.

.

.

Setelah berendam sampai jam enam sore, Naruto benar-benar merasa kembali hidup. Biasanya jam segini ia masih berkeliaran mencari sesuatu sebagai makan malamnya. Kini semua itu akan lebih praktis karena ada Sakura. Yah, sedikit banyaknya wanita itu sudah membantu kegiatannya.

Rasa capeknya yang selalu duduk di depan komputer sedikit lenyap. Semuanya begitu menyenangkan sore ini. Ia tidak menyangka hidup sendirian seperti kemarin begitu menyebalkan.

"Kenapa ikannya tidak dimakan?"

Sedari tadi suasana makan malam hanya berisi dengan kesunyian—Naruto terlalu hanyut menyesapi makanan sederhana yang sangat berbeda di hadapannya. Hanya ikan tuna yang di bumbu kecap asin dan cabai, lalu sayur labu berisi jagung dan udang, rasanya manis tapi juga ada sedikit rasa asin. Apa ada kata lain selain lezat untuk menggambarkan rasa sayur labu itu? Hanya labu putih loh, kenapa bisa masuk ke dalam kerongkongannya? Selama ini ia jarang sekali menyantap itu.

"Sebenarnya aku tidak suka ikan." Ujar Naruto akhirnya, setelah ia menelan semua makanan yang sempat masuk ke dalam mulutnya.

"Ikan sangat baik untuk matamu. Bukankah di kantor selalu mengahadap layar komputer?" Sakura memasukan lagi nasi ke dalam mulutnya.

"Baiklah kalau begitu." Ragu-ragu Naruto mengambil sedikit bagian ikan dengan sumpitnya dan memasukannya ke dalam mulut. Tidak ada amis. Yang Naruto takutkan dari ikan laut adalah rasa amisnya.

"Ada apa?" Sakura melirik ekspresi Naruto yang tercengang sesaat.

"Mengapa tidak amis?"

"Oh, kau benci amis?" Sakura bisa menarik kesimpulan dari ucapan Naruto

Naruto hanya mengangguk kemudian dimasukannya lagi ikan itu ke dalam mulutnya. Ia tidak pernah merasa senikmat ini memakan ikan. Rasanya sama seperti ayam. "Bagaimana bisa tidak ada amis?"

Sakura sedikit tertawa. "Apa aku harus membuka rahasia dapurku?"

Naruto tampak menunggu.

"Kurasa tidak semudah itu."

Mata Naruto langsung menyipit. "Baiklah, sepertinya kau seorang koki?"

"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?" kini isi mangkuk Sakura sudah kandas duluan. Ia mengakhiri makan malamnya dengan segelas air putih hangat.

"Karena sepertinya kau pandai sekali masak."

"Aku tidak pandai memasak."

"Yah, sebenarnya tugasku hanya meracik bumbu sehat dan mengecek setiap nilai gizi makanan yang berada di rumah sakit."

"Lalu semua ini apa? Ini makanan sederhana yang sangat enak." Naruto tentunya tidak akan bilang masakan ibunya bahkan kalah dari Sakura.

"Semua wanita harus bisa memasak, kan? Kalau urusan pandai aku belum termasuk. Dan yah, bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Sakura langsung mengalihkan percakapan mereka.

"Hari ini tidak banyak yang aku kerjakan. Mungkin besok akan ada mobilisasi unit. Lalu minggu depan aku akan kembali ke luar kota."

"Kau suka berpergian?" Sakura melirik—ternyata mangkuk Naruto sudah kosong rupanya. Lebih baik sambil bercerita ia membereskannya.

"Begitulah, aku ditempatkan pada pemasaran di perusahaan Rutan, setiap ada alat baru yang dikeluarkan oleh perusahaan, maka divisiku harus keluar kota untuk promosi. Kadang juga kami langsung terjun ke sawah untuk mengecek alat."

"Oh, alat apa saja memangnya?"

"Seperti alat pengering padi, atau alat pembajak sawah. Lalu masih banyak lagi."

"Oh, kukira pekerjaanmu hanya di dalam ruangan." Semua piring di atas meja kini sudah dipindahkan Sakura ke atas pencucian. "Sepertinya menyenangkan."

"Kadang aku juga berpikir seperti itu. Kadang juga ini sangat melelahkan."

"Tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan." Sakura memulai mencuci piring-piring itu.

"Yah, tapi aku menyukai pekerjaanku." Jelas Naruto. "Ngomong-ngomong kau tidur dimana semalam?"

Sakura menaruh piring itu ke dalam rak yang berdiri di samping pencucian piring. "Aku tidur di kursi sampingmu."

"Jadi, kau tidur duduk?"

"Tidak ada pilihan, lagipula tidak buruk."

"Kalau begitu..."

.

.

.

Apartemen itu masih memiliki satu kamar kosong yang tidak terpakai. Biasanya kamar itu hanya berfungsi untuk menaruh beberapa sepatu, beberapa tumpukan baju kering, atau sebagai tempat jemuran baju yang masih lembab. Memang tidak terlihat seperti gudang sepenuhnya. Tapi, tidak buruk jika dipakai untuk tidur.

Naruto memindahkan beberapa barang dan pakaian yang masih bergantung ke ruangannya. Ada beberapa benda juga yang sepertinya lebih baik dibuang. Sakura ingin membantunya untuk membereskannya tetapi Naruto melarangnya. Ia tahu, Sakura pasti lelah.

"Kau bisa tidur di kamar ini. Kemarin aku sempat memelihara kucing dan ini kamarnya. Tapi, sudah aku bersihkan sebelumnya."

Sakura masuk, mengedarkan pandangan pada ruang berukuran tiga kali empat itu. Dengan ini berarti ia diizinkan tinggal di sini. "Apa tidak masalah kau memberiku tumpangan?"

Benar juga, mengapa detik ini ia malah memberikan sebuah kamar? "Err.. bukankah kau bilang kau tidak memiliki siapa-siapa? Kupikir kau bisa membantu kehidupanku dan aku akan memberikanmu tempat tinggal."

"Yah, aku memang tidak memiliki siapapun untuk sekarang ini. Tapi, sepertinya kau membuatku menambah hutangku lagi?"

Tidak, untuk semua hal yang dilakukan Sakura hari ini. Mengurus rumahnya, menyediakannya makanan, lalu membuat sedikit kepalanya lebih fresh. Ia sangat membantu intinya. "Soal hutangmu aku akan melupakannya dulu. Kau bisa bayar kapan saja."

"Hm, aku akan mencari pekerjaan secepatnya..." gumam Sakura sedikit malu karena mengingat kejadian di rumah sakit kemarin.

Naruto mendadak canggung. Baru detik ini ia sadar, bagaimana bisa ia mengizinkan seseorang yang asing memasuki apartemennya. Tapi, ia malah teringat sesuatu. "Kebetulan aku membutuhkan seorang pembantu rumah tangga." Naruto berkata hati-hati. "Kau bisa memasuki posisi itu kalau kau mau."

Sakura tidak menyangka detik ini ia mendengar kalimat itu. Sebenarnya pekerjaan ini tidak pernah diinginkannya. Bagaimana lagi, tidak ada pilihan yang ia bisa lakukan. "Kalau begitu terimakasih, sudah mempercayakanku pada pekerjaan itu." Sakura membungkukan badannya. Akhirnya ia tidak perlu ambil pusing untuk mencari tempat tinggal dan juga pekerjaan.

.

.

.

Tsudzuku

.

.

.

PS : Semua makanan yang dimasak Sakura belum tentu enak di dunia nyata. Semuanya hanya ngarang, dan cerita ini hanyalah sebuah karangan yang hanya hidup di dalam ketikan ini oTL.

Terimakasih untuk yang me-review : Hikikaze naoe, Hyperblack hole, Shanarooo, Mchsyafii, Ae Hatake, Kainan, Anonim18 (Iyaa ini udah, sip), guessst (Sipsip. Oke, udah diapdet ya?), .indohackz, Natsu489, Guest (Iya iya, asal gak malas nulis revies gakapapa wakakka xD), elle ns (Makasih, hahaha semoga chapter ini juga tetep suka ya XD), Galura no Baka Lucky22, Gw Guest (ini guest ya *herp mode on* hahah amai mau buat cerita secara logika aja, masa Naru mau langsung main bantuin dia aja?), Guest (sudah imouto, iya gakapa gak login, asal review, sip. Salam hangat juga), Sai Akuto, and Arata Aurora.

Okesip, jangan lupa review ya readers. Amai terima semua masukan, opini, bahkan amukan (?)

Sampai jumpa di chapter empat!