Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning (s) : AU, OOC, Typo (s)

Chapter 4: Cheese cake.

.

.

.

Alasan kini uang gaji Naruto tidak terlalu cepat habis adalah: ia tidak harus membeli makan di luar, dengan harga yang mahal. Alasan lainnya karena ia tidak perlu membeli obat magh—obat magh dibutuhkan ketika ia lupa makan malam saja. Oh, mengerikan sekali. Kemungkinan terburuknya tentu saja ada. Ia harus mengunjungi klinik karena memiliki gangguan perut akibat salah membeli makanan.

Sudah hampir seminggu Sakura membantu kehidupannya. Baru ini Naruto bisa bernapas lega. Rasanya menyenangkan sekali hanya fokus pada pekerjaan tanpa terbebani urusan rumah tangga.

Oh, mengingat itu, ia melupakan ibunya. Apa ide yang buruk, bila baru memberitahu ia sudah memiliki pembantu sekarang?

"Hallo, ibu?" akhirnya Naruto memutuskan untuk menghubungi Kushina. Kebetulan saat Naruto mulai menyambungkan telepon, panggilannya langsung terjawab. Kelihatannya Kushina sedang santai.

"Naruto, ada apa?"

"Memangnya harus ada masalah untuk menelponmu?" Mata Naruto menyipit tidak suka dengan perkataan ibunya. Padahal kenyataannya memang jarang sekali ia menelpon.

Terdengar suara tawa dari seberang sana. Rasanya ia rindu sekali ekspresi tawa ibunya. "Tidak biasanya pagi-pagi menelpon. Belum berangkat kerja? Atau lagi kebingungan mencari sarapan?"

Naruto mengembangkan senyumnya. "Aku baru saja selesai sarapan. Hanya sepiring nasi yang dicampur dengan kornet dan jagung." Apa hal itu menjadi masalah? Mungkin tidak untuk sekarang. "Aku masih di dalam kamar, hari ini aku tidak ke kantor."

"Masak sendiri ya? Kedengarannya enak." Kushina sedikit membayangkan rupa sarapan Naruto. "Lalu kenapa tidak ke kantor?"

"Soalnya besok aku harus ke Suna untuk seminar. Ada banyak petani yang akan datang. Makanya hari ini aku sedang mempersiapkan diri."

"Oh, begitu, ibu doakan semoga seminarnya sukses ya?"

"Terimakasih, ibu." Naruto menyandarkan badannya di kursi. "Soal nasi daging tadi memang enak sekali, mana mungkin aku membuatnya sendiri."

"Jadi siapa? Pembantu?" Kushina tedengar semangat menanggapinya.

"Dia pintar masak, juga bertanggung jawab."

"Syukurlah, yang penting dia jujur dan benar-benar ingin bekerja." Kushina bernapas lega. Akhirnya Naruto memiliki pembantu. "Ibu harap masakan dia cocok di lidahmu."

"Soal itu, ibu tidak perlu khawatir."

"Eh?"

"Bahkan koki manapun tidak ada yang bisa mengganti posisinya."

.

.

.

Setelah Kushina mematikan sambungan teleponnya, ia hampir saja melompat gembira sehabis anak semata wayangnya menghubungi. Suaminya yang duduk di meja makan tak jauh dari tempat Kushina berdiri, melirik dengan tatapan penasaran.

"Ada apa, sayang?" tanyanya dengan koran yang masih terpegang.

Kushina berjalan mendekati suaminya. Wajahnya sumringah seperti baru menang lotre. "Aku akan segera ke Konoha."

"Bukankah kau sibuk sekali minggu ini."

Kushina tampak berfikir mengingat semua jadwalnya yang memang menyita waktu. Sebenarnya bukan urusan kerja. Hanya saja ada arisan yang kebetulan diadakan bersama teman-temannya minggu ini. Lalu, acara tour ke luar kota bersama teman-temannya pula.

"Tapi, aku harus melihat pembantu yang dipilih Naruto. Dia tidak bisa sembarangan memasukan orang luar."

Minato hampir menyemburkan kopi yang baru disesapnya. "Benar juga! Naruto kan selalu saja ceroboh."

"Mungkin setelah Naruto seminar saja aku ke sana ya?"

.

.

.

"Naruto! Kau terlambat!" Tenten melipat tangan di depan dada. Baru saja ia akan menelpon Naruto karena waktu keberangkatan pukul tujuh pagi, sedang dia baru muncul dengan cengiran khasnya pukul tujuh lewat lima belas. Untung saja Kakashi tidak ikut. Bisa-bisa mereka harus menunggu lebih lama lagi.

"Ehehhe, maaf. Tadi aku sibuk sarapan jadi lupa untuk mengecek jam." Naruto menggaruk belakang lehernya merasa tidak enak.

"Ayo, masuk mobil!" Tenten mendahuluinya, masuk ke bagian mobil belakang sekali.

Sedangkan Naruto mengekorinya. Duduk di belakang pengemudi. Semua rekan kerja Naruto dan beberapa bawahannya sudah berada di dalam mobil. Naruto melirik ke arah Sai yang sedang memegang sebuah map besar di kursi samping pengemudi. Kali ini ternyata Chouji yang mengemudi. Ah, bisa dibayangkan mobil ini akan sampai dengan cepat sekali, mengingat Chouji sangat suka mengendarai mobil dengan kecepatan fantastic.

"Oh iya, Sai. Kau sudah mengecek barang sample yang akan kita promosikan?" Naruto membuka suara saat mobil sudah mulai berjalan.

"Ya, itu sudah kulakukan jam enam tadi."

"Pagi sekali."

"Kau saja yang terlambat, Naruto. Bagaimana mungkin atasan kita ini bisa terlambat." Tenten memecah tawa mengejeknya. Sekertaris Naruto yang terkesan tomboi itu memang blak-blakan. Naruto tidak pernah ambil pusing soal itu. hal itu malah membuatnya menampung banyak masukan dari sikepala cepol dua.

"Ya, lain kali aku akan lebih pagi." Naruto mencibir.

"Oh ya, Naruto." Chouji membuka suara. "Apa kau sudah sarapan? Kebetulan aku membawa nasi kepal. Kutaruh di belakang sekali." Biasanya kalau ada jadwal keluar kota Naruto selalu saja melewatkan sarapannya. Chouji sangat hapal dengan sikap itu. Makanya ia sedikit lebih banyak membawa sarapan untuk dimakan bersama.

"Wah, kebetulan aku lapar!" Tenten langsung menarik tas Chouji yang ternyata ada di samping tempat duduknya. "Aku minta yaaa?" Sekertaris bawel itu membuka tas Chouji lalu menemukan kotak bento dan mengeluarkan isinya. "Enak sekali!"

"Ibuku membuatnya sendiri," sahut Chouji.

"Kau mau Naruto?" Tenten menyodorkan kotak bento ke depan.

"Tidak, terimakasih. Mungkin Sai saja."

"Aku juga belum ingin makan. Bagaimana dengan rekan baru kita, Shino?"

Semua penghuni dalam mobil itu yang sangat berisik melirik ke arah Shino. Bahkan kehadirannya yang ternyata duduk di samping Naruto tidak ketahuan. Benar-benar pendiam sekali.

"Aku sudah sarapan." Hanya itu yang keluar dari mulut pria bermantel kerah tinggi itu. bahkan Naruto tidak menyangka. Bawahannya ada yang seperti ini.

.

.

.

Setelah Sakura selesai menjemur pakaian di lantai atap. Ia memutuskan untuk kembali ke dalam apartemen. Rencananya ia akan tidur sebentar mungkin sekitar setengah atau sampai sejam. Hari ini Naruto tidak akan pulang sampai besok lusa. Mungkin kesempatan ini akan dimanfaatkannya untuk berjalan keluar hanya sekedar berkeliling Konoha.

Soalnya bagaimanapun juga baru kali ini ia tinggal di kota ini. Sedikit penasaran tentu ada mengenai kota ini. Mungkin ada kuliner asing yang ingin ia cicip. Lalu membuat uji coba di dalam apartemen dengan resep yang lebih sehat tentunya.

"Selamat pagi." Seseorang yang kebetulan akan melintas ke atas membungkuk pada Sakura.

Sakura hanya membalas bungkuk juga. Kalau tidak salah wanita ini adalah pemilik apartemen ini. "Selamat pagi, Shizuka-san."

"Benar, padahal aku belum memperkenalkan diri."

Sakura menarik senyum. "Naruto yang memberitahu. Soalnya kemarin aku lihat anda berbicara padanya."

"Oh, iya. Apa kau pembantunya Naruto?"

Sebenarnya Sakura sedikit tidak suka kalau ia ternyata adalah pembantu Naruto. Ingat Sakura. Kau harus balas budi. Jadi, apapun yang bisa dilakukan. Ya lakukan saja. "Iya, begitulah."

"Baguslah, aku juga kasian padanya karena begitu sibuk. Syukurlah sekarang ada seseorang yang mengurusnya."

Sakura tersenyum. "Aku harap begitu."

.

.

.

Hampir empat jam tim Naruto masih berada dalam perjalanan. Kali ini sang pengemudi sudah digantikan oleh Sai. Cara mengemudi Sai tentu berbeda dari Chouji. Sedikit tenang dan tidak suka menikung mobil lain. Hanya saja dalam kondisi ini terkadang membuat perut bertambah lapar. Sementar snack-snack yang dibawa hanya tinggal plastiknya saja. Nasi kepal Chouji juga sudah habis.

"Aku lapar," Tenten mendadak merengek. "Bagaimana kalau kita berhenti di restoran saja?"

"Tidak bisa, Tenten. Kita akan terlambat. Nanti malam kita harus pertemuan dengan perusahaan pemasaran. Besok langsung seminar." Sahut Sai.

"Aku juga lapar, sebenarnya." Chouji membuka suara. Rasanya bosan sekali tanpa makanan di dalam mobil. "Bagaimana kalau kita mampir ke mini market saja? Hanya sekedar membeli snack, tentu tidak akan lama."

Mendengar itu Naruto langsung mem-pause game offline yang sedari tadi mengisi waktunya. Ia baru teringat sesuatu. Di dalam tasnya kan ada kotak bekal yang dibawakan Sakura. Karena terburu-buru ia lupa mengeceknya.

Naruto mengambil tasnya dan memeriksa ini bento tersebut. Ternyata hanya cheese cake yang biasanya dibekukan dalam freezer. Ia tidak tahu kapan Sakura membuat itu. Kelihatannya cheese cake ini juga tidak terlalu beku lagi. "Oh ya, aku baru ingat punya makanan. Kalian mau?" Naruto menyodorkan kotak bentonya. "Tapi, sudah dingin."

"Wah, cheese cake beku!"

Tenten dan diikuti oleh Chouji mencomot sebagian kue tersebut. Sai hanya meliriknya dari kaca spion. Sementara Shino hanya memandang ke luar kaca mobil.

"Kau beli dimana ini? Pesan via online ya?"

Naruto menoleh ke arah Tenten. "Temanku yang membuatnya." Naruto tidak tega mengatakan Sakura sebagai pembantunya.

"Teman mana Naruto? Aku dengar kau mempunyai pembantu ya? Apa pembantumu itu?" tanya Chouji. "Ini enak sekali. Benar-benar lembut di mulut. Seperti es krim."

"Benar, ini memang adonan es krim." Tenten mematung. "Memakan ini aku jadi teringat sesuatu."

"Ia memang pandai memasak. Maksudku teman membantu pekerjaan rumah tangga." Naruto meluruskan penjelasannya.

"Ngomong-ngomong apa yang kau ingat, Tenten?" Sai mengambil dengan sendek sebagian kue itu pula—dengan tangan yang tidak sedang memegang kendali lalu mencicipnya. "Sepertinya aku kenal rasa ini."

"Benar, kan!" Tenten mulai menggali ingatan rasa itu.

"Apa yang kalian bicarakan?" Naruto masih tidak mengerti.

"Ini seperti kue yang aku makan saat menjengukmu kemarin di rumah sakit umum Hokaido, kan?" Sai akhirnya mengingatkan Tenten.

"Benar! Aku hampir lupa. Ya ampun, aku benar-benar merindukan rasa ini. Aku hampir ingin membeli masakannya. Sayang sekali tidak diperjual belikan selain untuk pasien."

Naruto mengingat saat Tenten mengambil cuti karena mendadak bawahannya itu terkena penyakit demam yang sangat tinggi, saat akan mengadakan seminar di Hokaido—akibat tidak tahan dengan cuaca di kota baru, Tenten harus absen dari pekerjaannya dan menikmati menginap di rumah sakit yang sangat berbeda dari rumah sakit sebelumnya. Padahal baru sehari di Hokaido ia sudah harus masuk rumah sakit.

"Oh waktu itu. Bukankah itu sudah lama sekali?"

"Yah, begitulah. Tapi aku masih ingat rasa makanan di sana."

Naruto menyipit. Ia tidak menyangka Tenten begitu suka makan. Padahal badannya tidak segemuk Chouji. "Memang seenak apa sih? Sayang sekali kemarin aku tidak sempat melihatmu di rumah sakit karena tidak memiliki sekertaris pengganti."

Tenten melebarkan cengirannya. "Pokoknya kau akan betah di sana. Kita seperti tinggal di hotel yang benar-benar akan sehat saat keluar dari sana!"

Oh, benarkah?

.

.

.

"Iya, sebentaaar!" Sakura langsung berlari ke arah depan untuk memnyambut seseorang yang sudah memencet bel apartemen ini. Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tidak mungkin saja Naruto mendadak pulang dari Sunna begitu cepat. "Err.. selamat pagi." Sapa Sakura pada seorang tamu wanita yang berdiri manis di depan pintu.

Wanita berambut hitam panjang itu tampak sedikit gugup dan juga heran. Ah, ia mungkin tidak tahu kalau sekarang Naruto tidak sendiri di rumah.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sakura karena wanita itu sedari tadi hanya diam menatapnya dengan kikuk.

"A-apa ada Naruto-kun?"

Ah, tentu saja ia adalah tamu Naruto. Sakura hampir melupakan itu. Oh, satu lagi, di luar ternyata sedang hujan. Sakura tidak mungkin setega itu untuk menelantarkannya di depan apartemen walau pekerjaannya saat ini tidak sedang ingin diganggu. "Masuklah dulu, di luar anginnya sangat kencang." Sakura melirik bahu wanita itu agaknya sedikit basah.

Wanita itu mengangguk dan masuk ke dalam menuju ruang tamu.

"Duduklah aku buatkan minum dulu." Sakura segera menuju dapur. Mungkin memberikannya sebuah teh madu sedikit membuatnya lebih hangat dan bersemangat. Karena dari raut wajah wanita itu tidak ada semangat sedikitpun.

Sakura sesekali melirik ke dalam ruang tamu. Melihat gerak-gerik tamu wanita yang dibiarkannya duduk sendiri. Sakura sedikit menebak mungkin saja ia pacar Naruto atau rekan kerja. Tapi, lebih masuk akal kalau ia adalah pacar Naruto.

"Silahkan diminum," ujar Sakura setelah ia kembali ke ruang tengah dengan segelas teh madu yang dibuatnya agak lama. Kalau saja ia punya persediaan air hagat di dalam termos. Mungkin tidak akan memakan waktu.

"Terimakasih," ujar wanita itu segera menyesap tehnya. Cairan teh itu masuk menyentuh lidahnya, kemudian berangsur masuk ke dalam kerongkongan. Begitu hangat saat melewati dada dan bermuara di dalam perut. Rasanya jauh lebih baik kegugupannya untuk saat ini.

"Anda pasti temannya Naruto, kan?"

Wanita itu langsung menatap Sakura. Sedikit ekspresi terkejut di keluarkannya walau agak berlebihan di mata Sakura. "I-iya, begitulah."

"Kalau ingin menemuinya, biasanya pada malam hari, tapi untuk dua hari ini ia ada seminar di Suna. Mungkin lebih baik hari minggu saja kau berkunjung kemari lagi."

Wanita itu mengangguk. "Iya aku tahu kalau saat malam saja dia ada di rumah."

Sakura hampir saja emosi mendengar itu. Kalau ia tahu lantas mengapa berkunjung pada pagi hari? "Baiklah, namamu siapa? Nanti aku sampaikan padanya kalau ada yang ingin menemuinya."

"Tidak usah diberitahu. Nanti aku akan menemuinya langsung saja!"

"Eh?" Sakura sedikit terkejut karena Hinata sedikit menaikan nada bicaranya.

"Maaf," ujar Hinata menyadari nada bicaranya. "Kedatanganku kemari karena merindukan apartemennya saja. Aku tidak terlalu berharap untuk bertemu dengannya sekarang. Aku sengaja memencet bel. Karena aku yakin tidak akan ada yang membuka." Hinata mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak berani menatap Sakura.

Sakura tidak tahu alasan mengapa Hinata melakukan itu. Yang jelas ia tahu pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Jangan ikut campur Sakura! Cukup jadi penjaga rumah yang baik saja. "Ya, baiklah aku tidak akan mengatakan padanya."

"Terima kasih. Ngomong-ngomong kau siapanya?"

Aku pembantunya.

Rasanya sangat berat mengatakan itu. Kembali lagi pada kebaikan pemuda itu yang sudah membantunya untuk bertahan hidup.

"Aku Sakura Haruno. Hanya pengurus rumahnya," ujar Sakura pada akhirnya. Apa bedanya perkataan itu dari seorang pembantu?

Diam-diam wanita itu bernapas lega. "Aku Hinata Hyuuga. A-aku..."

Sakura hanya menunggu lanjutan kalimatnya.

"Aku mantan kekasihnya."

.

.

.

Sai merenggangkan tangannya ke atas. Seolah ia baru saja terlepas dari ikatan yang begitu kuat. Sampai-sampai bunyi 'krek' cukup terdengar lega di perasaannya. Sementara Tenten masih sibuk mengelola data dan review yang masuk saat seminar pemasaran alat kerja penggiling padi selesai setengah jam yang lalu.

"Aku tidak menyangka review yang masuk hampir semuanya positive." Tenten bersuara pada akhirnya.

Naruto yang sedang tiduran di atas kasur hotel yang besar itu hanya melirik sekertarisnya dari sudut mata. "Lagipula produk dari perusahaan kita sudah ada di sini sejak lama."

"Iya, sebelum perusahaan lain membangun perusahaan yang sama di sini." Sai berjalan mendekat ke arah Tenten dan melihat grafik di layar laptop itu.

"Atasan bilang akan membuka cabang di sini?" Chouji datang dari luar dengan sekantong penuh snack. "Siapa yang mau dipindahkan ke sini kalau begitu?"

"Aku tidak masalah dipindahkan di sini, jika atasan sudah membuka cabang." Shino akhirnya bersuara. Ia sedari tadi hanya memandangi pemandangan di luar kaca kamar hotel ini. Dari lantai sepuluh keadaan kota Suna sangat begitu terlihat.

"Baiklah, sebentar lagi makan siang. Apa kalian tidak berniat untuk mencari oleh-oleh?" Tenten sudah menyelesaikan tugasnya dan menutup laptop.

"Bukankah kita harus segera berberes setelah ini?" Naruto memperingatkan.

"Ya ampun, Naruto. Kau bilang saja masih ada beberapa yang harus kita urus pada presedir. Sayang sekali kan, kita sudah ada di sini tapi tidak sempat belanja?"

Naruto hanya menyipitkan matanya. Kalau begini kepulangannya berarti ditunda. Jujur saja dia sedikit merasa... ehem, rindu masakan Sakura. "Aku sudah bilang padanya akan pulang malam nanti."

"Bilang dengan siapa?" tanya Sai.

"Pengurus rumahku."

"Tidak masalah, lagipula dia bukan ibumu. Dan kurasa dia akan senang kalau kau memberikannya sesuatu dari sini." Tenten berdiri dari kursinya. "Sudah ah, aku mau kembali ke kamarku saja. Aku mau keluar. Terserah kalian. Kita berangkat besok pagi saja yaaa?"

"Baiklah, Tenten. Aku rasa aku ingin menemanimu." Sai berjalan menuju ke tasnya yang berada di samping tempat tidur.

"Baiklah, aku tunggu di bawah kalau begitu." Kali ini tatapan Tenten mengarah ke Naruto. "Bagaimana kau mau ikut kami?"

"Aku ingin makan siang di kamar saja."

"Terserah." Lalu, bunyi pintu tertutup pun terdengar.

.

.

.

Setelah Sai dan Tenten pergi, Chouji memutuskan untuk menyusul mereka, setelah semua snack habis tentunya. Shino pergi entah kemana. Kalau Naruto mengintrogasinya. Pemuda itu akan menjawab dengan sangat dingin. Paling-paling hanya hunting mencari serangga untuk dijadikan koleksi. Setahu Naruto sih begitu, laki-laki itu cukup maniak terhadap serangga.

Setelah makan siang yang cukup mewah di dalam kamar, Naruto kembali tiduran di atas ranjang hotel itu. Makanan yang tersedia di hotel ini memang lezat. Tapi, kalau banyak-banyak ia kadang akan mual mengunyahnya. Disaat seperti ini ia malah ingin makan masakan sederhana yang dibuat oleh pengurus rumahnya.

Seharusnya jam-jam sekarang mereka sudah berbenah untuk segera kembali ke Konoha. Untung saja presdir mereka mengizinkan untuk sedikit mengundur kepulangan—walau pekerjaan di kantor sudah menunggu untuk keesokan harinya. Dan Naruto sudah bisa menebak, Tenten pasti minta libur besok dengan alasan lelah karena malakukan perjalanan yang jauh.

Naruto mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja samping ranjang. Ia menggeser layar sentuhnya untuk mencari sebuah kontak nomor telepon apartemen.

"Hallo?" setelah nada panggilan ketiga akhirnya telepon tersebut diangkat dari seberang.

"Hallo, Naruto? Ah, kau jadi pulang nanti malam? Aduh aku belum belanja. Kau ingin makan apa nanti?"

Naruto hanya tersenyum menanggapi itu. "Mungkin aku akan sampai sekitar jam satu siang besok."

"Oh, kepulangannya ditunda ya?"

"Iya, begitulah." Tergambar wajah Tenten yang menyebalkan di benaknya. "Aku lupa memeriksa laci, kemarin aku meninggalkan uang tidak ya?"

"Tenang saja, masih ada sisa yang kemarin."

"Baguslah kalau begitu. Maksudku sisa yang kemarin itu untukmu kalau ingin membeli sesuatu."

Terdengar suara tawa dari seberang telepon. "Tidak perlu, aku tidak ingin membeli apapun."

"Biasanya seorang wanita sangat menyukai membeli sesuatu. Mungkin saja ada satu atau dua lembar pakaian yang ingin kau beli lagi."

"Memangnya aku sering berpergian keluar?"

"Tidak masalah kalau kau menginginkannya." Jeda beberapa saat entah apa yang tengah mereka Pikirkan. Terbersit kejadian minggu lalu di benak Naruto. "Oh, ya Sakura, jaga dirimu selama kau sendirian di apartemen," terdengar nada posesif dari suara bariton itu.

"Baiklah, aku berjanji akan baik-baik saja."

"Hm, baiklah kalau begitu, aku hanya ingin mengatakan itu, sampai bertemu besok." Setelah itu Naruto mematikan sambungan teleponnya. Naruto tidak tahu hal apa yang membuat mereka berbicara sangat dekat dan nyaman seperti ini. Walau nyatanya Sakura tidak pernah berkata lembut padanya tapi, menerima wanita itu di dalam rumah merupakan salah satu hal yang cukup gila.

.

.

.

Setelah mematikan sambungan telepon dari sang majikan Sakura memutuskan untuk berbelanja. Diliriknya laci di dapur yang biasanya tempat Naruto meninggalkan uang untuk keperluan rumah. Ternyata pria itu memang sempat meninggalkan uang. Jumlahnya cukup banyak, berarti untuk menyambutnya ketika besok pulang, Sakura mungkin akan memasakan sesuatu yang cukup spesial.

Dari beberapa hari ke belakang Sakura hanya mau berbelanja di mini market dekat rumah saja. Sejauh ini ia tidak pernah melangkah keluar dengan menggunakan transportasi kereta atau taxi karena ia masih merasa sedikit trauma dengan kejadian kemarin.

Sakura juga berniat membeli pewangi ruangan untuk di dalam dan di ruang tamu apartemen Naruto, agar tempat tinggalnya itu tidak seperti bangunan tua yang tidak ada kesejukan sedikit pun. Wewangian sangat disukai Sakura—tidak, bukan hanya dirinya saja. Tapi, ibunya yang mengajarkannya menjadi seorang gadis yang anggun, cinta kebersihan dan hidup sehat. Itulah alasan mengapa namanya diambil dari sebuah nama bunga khas dari Jepang itu.

Sakura melirik koran yang dipajang di sebuah rak dalam mini market tempat langganannya itu. Ada beberapa lowongan kerja di sana. Sedikit ide nekat melintas di kepalanya untuk membaca tiap lowongan kerja itu. Mungkin ia butuh untuk membawa salah satu koran-koran itu.

.

.

.

Tenten, Sai dan Chouji sudah kembali ke kamar mereka masing-masing, dengan beberapa kantung belanjaan yang terisi penuh. Mereka membeli barang dan beberapa makanan khas dari Suna. Di Suna sangat terkenal dengan hiasan meja berupa jam pasir. Di sini kerajinan itu merupakan simbol kota ini.

"Jadi, sedari tadi kau hanya bermalas-malasan di kamar? Menyedihkan sekali." Chouji duduk di pinggiran kasur Naruto. Niatnya ingin memasukan sebagian belanjaan ke dalam tasnya.

"Banyak sekali yang kau beli!" ujar Naruto tak percaya dengan dua kantong yang dibawa temannya.

"Ini, aku beri satu untukmu." Chouji memberikan sebuah kotak plastik berisi jam pasir berwarna pink.

"Kenapa warna pink?" protes Naruto.

"Karena itu adalah bonus yang didapatnya." Sahut Sai kemudian badannya menghilang dari balik pintu kamar mandi.

"Jadi kalau bonus baru kau berikan padaku?" mata Naruto menyipit.

"Seharusnya kau berterima kasih. Harganya cukup mahal. Lagipula di Konoha tidak ada jualnya."

"Memangnya kalau dapat bonus harus beli berapa buah?"

"Beli tiga."

"Untuk apa kau membeli sebanyak itu?!" Naruto langsung duduk melihat ketiga benda—jam pasir yang dibeli oleh Chouji. Ada tiga jam pasir dengan warna berbeda.

"Mungkin yang warna hijau akan kuberikan ibuku. Lalu warna coklat akan kutaruh di atas meja kerjaku. Dan satunya. Aku akan memberikan kepada seseorang."

Naruto berdehem. Mendengar kata seseorang ia langsung tertarik. Tidak salah lagi ia pasti menyukai gadis magang yang ada di perusahaannya. "Seleramu benar-benar bagus. Tapi, terimakasih jamnya. Akan sangat menyenangkan kalau salah satu snack yang kau beli juga kau berikan kepa—sakiiit!"

Cih. Tentunya Chouji lebih suka menjitak Naruto ketimbang memberinya snack.

.

.

.

Sakura memutuskan untuk mencicipi salah satu kedai sushi yang tidak jauh dari apartemen Naruto. Beruntung sekali ia masih memiliki sisa dari uang belanjanya. Dipakai untuk makan di luar juga tidak masalah. Sakura malah mengingat kebiasaannya di Hokaido dulu. Hunting makanan sana-sini adalah kegiatan rutin setiap minggu bersama rekan kerja.

Ah, sudah hampir sepuluh hari ia pergi dari Hokaido. Rasanya hal itu sudah lama sekali.

Sakura membuka menu dari kedai kecil sushi itu. Tempatnya tidak terlalu luas, sehingga ada beberapa orang yang disuruh untuk bergabung di mejanya. Sakura mau tak mau memperbolehkannya. Kalau saja orang yang bergabung dalam mejanya dari awal membuka topi dan kacamata hitam itu. Tanpa ragu Sakura akan pergi dari sana untuk menghindari orang tersebut.

"Gaara!" mata Sakura melebar tidak percaya.

Orang yang duduk di depannya menaruh kaca mata dan juga topinya. "Kukira kau tidak akan mengenaliku."

Sakura mengatur napasnya yang mendadak tercekat. Di hadapanyna ini bukanlah seorang teman atau orang biasa. Ingat, ia seorang detektif! "Bagaimana mungkin kau sampai kemari?" Sakura benar-benar penasaran. Padahal ia sudah lama tidak berjumpa dengan Gaara. Terakhir kali sebelum ia menjalin hubungan dengan Sasuke. "Kau disuruh ibuku?" Sakura langsung mengitari pandangannya ke setiap sudut kedai ini, kalau-kalau ada ibunya atau bawahannya di sini.

"Tenang saja, mereka tidak ada di sini. Aku hanya ingin makan malam saja. Jangan memasang wajah ketakutan seperti itu," ujar Gaara datar dan santai seperti biasa.

Gaara mengambil alih daftar menu di tangan Sakura. "Kebetulan sekali aku sedang ingin makan sushi. Kau mau pesan apa?"

Bisa-bisanya Gaara memasang wajah datar seperti biasa. Padahal hampir saja jantung Sakura akan berpindah tempat dari rongga dadanya sebelah kiri. "Aku sudah tidak nafsu makan lagi."

"Kau ingin pulang?"

"Itu kau tahu, aku harap setelah pertemuan ini kau tidak akan mencampuri urusan keluargaku." Sakura akan berdiri keluar, tapi tangan Gaara mencegahnya.

"Duduk dan tenanglah, atau aku menelpon ibumu sekarang?"

Sakura mengerutkan alisnya. Berarti dengan perkataannya barusan ibunya belum mengetahui ia berada di sini. Akhirnya Sakura memutuskan untuk duduk dan menurut untuk memesan makanan.

"Aku sudah tahu kau tinggal tidak jauh dari sini semenjak tiga hari yang lalu, beberapa hari ini aku hanya mengintaimu saja. Soalnya kau jarang keluar," ujar Gaara setelah semua pesanan mereka sudah tersedia di atas meja.

Sebagai detektif swasta yang hebat, temannya itu memang akan sangat mudah menemukannya. Tidak heran dengan kejeniusan yang di atas rata-rata itu.

"Kemarin aku sempat meragukan analisismu. Tapi, sekarang harus kuakui, kau benar-benar hebat dapat menemukanku secepat ini."

"Tentu saja," ujar Gaara bangga. "Lagipula aku bekerja untuk ibumu bukan karena imbalan uang."

Ternyata benar dugaan Sakura. Gaara mencarinya pasti atas permintaan ibunya. Dasar ibunya itu merepotkan sekali. "Lalu apa, kau ingin membuatku menurut padanya?" walau sushi itu sangat enak. Bagi Sakura saat ini tidak ada rasa sama sekali. Ia hanya makan-makan saja, mengunyah dengan sedikit geram. Setelah ini apa? Ia sedikit membayangkan ibunya menyeretnya kembali ke Hokaido.

"Sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu. Aku bisa menemukanmu karena di kepolisian ada sebuah tas merah yang ditemukan. Saat aku cek, ternyata ada sebuah ijazah dan juga dompet yang sudah kosong, yang ternyata itu milikmu."

Sakura mengingat kejadian sepuluh hari yang lalu. Ah benar. Pasti orang yang merampoknya kemarin akan membuang tas dan beserta ijazah. Lalu seseorang yang menemukannya melaporkan kepada yang berwajib. Benar-benar diluar rencana.

"Mungkin dari situlah kau yakin aku ada di kota ini?"

"Yaaa, walau awalnya aku meragukanmu kau masih hidup atau tidak."

Sakura hanya membuang muka mendengar itu.

"Aku tahu kau wanita yang tangguh. Tidak usah cemberut." Gaara meneguk habis ocha yang dipesannya. "Soal aku bekerja dengan ibumu, aku tidak akan memberitahukannya jika kau memintaku..."

Sakura langsung menghadap Gaara dengan cepat. Ada sebuah titik harapan di wajah pria itu. "Benarkah?"

Gaara hanya mengedikan bahu. "Tapi, untuk saat ini aku rasa kau tidak bisa membayarku."

"Dasar!" umpat Sakura. "Saat ini aku bukanlah apa-apa, nanti kalau aku sudah melunasi hutangku pada seseorang yang sudah berjasa membantuku bertahan hidup. Aku berjanji akan membayarmu juga."

"Wah, kau serius sekali, Sakura." Gaara menyeringai. "Apa aku terlihat suka uang?"

"Kurasa kau bisa berkaca sendiri." Nada Sakura tak kalah sengit. "Jangan lupa, kembalikan ijazahku. Aku ingin mengumpulkan uang untukmu."

Garaa menaruh sumpitnya di samping piring sushi. Ternyata Sakura saat ini sudah tidak mengerti keinginannya. Akalnya begitu pendek, sehingga ia bisa senekat itu kabur dari Hokaido.

"Maksudku, aku akan merahasiakan keberadaanmu, kalau kau mau berkencan denganku."

.

.

.

Tsudzuku

.

.

.

Ps: Berhubung amai cukup sibuk dalam beberapa bulan kedepan, amai akan apdet fanfic yang udah selesai diketik aja yaaa, dan yang satunya kemungkinan dipending dulu (sekarang lagi kena WB)

Well, soal air kelapa tambah susu coklat ternyata gak buruk. Bisa kalian coba loh, apalagi kalo ditambah batu es xD

Terimakasih untuk : pururukuru, Namefrenz (siiip), Sai Akuto, edelweis (yang bener? *pingsan saking Grnya, haha karakternya OOC makanya beda. Okay, makasih ya?), Ae Hatake, puterateluan1, mikaze9930, Guest (Iya karangan, tapi tentunya masuk akal heheh), lutfisyharizal, Arata Aurora, ohssarang, elle NS (hahah entahlah, apakah Hinata bisa dikatakan orang ketiga? Tapi, perannya gak bakal banyak), Guest (susu coklat + air dogan, enak banget serius), SR not Author, Mao-chan (Hallo Mao, my new readers, hahah iyaa, masih awal jadi masih datar. Makasih), Guest (hahahah semua profesi yang menyangkut Naruto adalah tanggung jawab Saku, bener tuh sampe ibu dari anak-anaknya xD *ngayal duluan* salam hangat kembali)

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa review ya :D